Pages

Senin, 31 Mei 2010

Chapter 29 part. 1: How Can I not be Sad If I Must Live Without You

Keesokan harinya
Deok Man membuka matanya. Ia berdiri di padang rumput yang luas. Ia menoleh ke sekelilingnya, tak ada siapa-siapa. "dimana aku?" gumamnya. Dan ketika menatap kembali ke depan. Bi Dam berdiri tak jauh darinya di hadapannya. Ia memakai pakaian putih seperti akan menghadiri pemakaman. "Bi Dam.." panggil Deok Man seraya berjalan ke arah tempat suaminya berdiri. Bi Dam tersenyum "jangan bersedih Deok Man.. sekalipun kau tak bisa melihatku.. ingatlah selalu bahwa aku selalu mencintaimu Deok Man..dan anak kita.. jagalah dirimu dan anak kita baik-baik..selamat tinggal.." ujarnya sambil tersenyum. Lalu ia membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Deok Man. "Bi Dam.. Bi Dam.. kau tak boleh pergi.." Deok Man berjalan cepat mengejarnya dan berusaha meraihnya namun tiba-tiba Bi Dam menghilang. Deok Man menoleh kebingungan ke segala arah "Bi Dam!" teriaknya. Lalu ia jatuh duduk di tanah dan menangis. "Bi Dam.." isaknya. Kemudian pandangannya berubah menjadi gelap.
"Tuan Putri.. Tuan Putri.." panggil Soo Hye berulang-ulang yang berdiri di samping tempat tidur Deok Man. Deok Man membuka matanya yang basah perlahan. "apakah Tuan Putri baik-baik saja?sejak tadi Tuan Putri terus mengingau.." tanya Soo Hye khawatir. "ternyata hanya mimpi.. Bi Dam.." gumamnya sambil menutup matanya dengan telapak tangannya. Air matanya kembali menetes. "Tuan Putri? Tuan Putri baik-baik saja?" panggil Soo Hye takut-takut. Deok Man pun menghapus air matanya dan duduk di tempat tidurnya. "aku baik-baik saja Soo Hye.." jawab Deok Man tersenyum lemah. "maafkan saya Tuan Putri jika saya lancang membangunkan Tuan Putri..saya khawatir Tuan Putri menderita demam karena sejak tadi terus mengigau..tolong jangan hukum saya Tuan Putri.." ujar Soo Hye takut-takut sambil menundukkan kepala. "aku tak akan menghukummu Soo Hye.. justru aku mau berterima kasih karena kau sudah mengkhawatirkanku.." jawab Deok Man ramah. "saya sudah menyiapkan bubur ayam jamur dan teh hangat di atas meja Tuan Putri.." ujar Soo Hye. "terima kasih Soo Hye..letakkan saja di sana nanti akan kumakan" jawab Deok Man tersenyum lemah. Lalu Deok Man bersandar pada dinding di belakangnya dan memejamkan mata "Soo Hye.." panggilnya. "ya Tuan Putri.." "tolong tinggalkan aku sendiri..." ujar Deok Man yang masih memejamkan matanya. "ta..tapi Tuan Putri.." jawab Soo Hye. "aku sangat ingin sendirian hari ini.." sela Deok Man. "ba..baik Tuan Putri.. saya hanya akan menemui Tuan Putri saat mengantar makan siang nanti..permisi.." jawab Soo Hye lalu memberi hormat dan berjalan keluar kamar.
Karena memikirkan kesehatan bayinya, Deok Man membuka matanya dan bangun dari tempat tidurnya. Lalu ia duduk di meja bundar dan mulai menyantap buburnya. Deok Man menunduk dan mengusap perutnya "kamu pasti lapar ya.." gumamnya. Dan ketika ia akan menyantap buburnya, Bi Dam hadir duduk di hadapannya tersenyum kepadanya "selamat makan.." katanya sambil memamerkan gigi-giginya yang putih dari balik senyumnya. "Bi Dam..kau sudah.." Lalu ia bergerak bangun berusaha menyentuh wajah Bi Dam di hadapannya dengan tangannya. Namun tiba-tiba Bi Dam menghilang. "..pulang.." ujarnya. Tangan Deok Man hanya menyentuh udara kosong. Deok Man shock dan kembali duduk di kursinya, air mata kembali mengalir membasahi pipinya. "Bi Dam..bagaimana aku bisa tidak bersedih jika aku harus hidup tanpamu.." isaknya putus asa sambil membenamkan wajahnya kedalam kedua telapak tangannya .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar