Pages

Jumat, 21 Mei 2010

Chapter 10

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam. Pagi hari.
Deok Man membuka matanya perlahan. Bangun, menarik nafas dalam-dalam dan merenggangkan tubuhnya. Di sisinya, Bi Dam mengamatinya dengan penuh kasih sayang. "selamat pagi"sapa Bi Dam. "selamat pagi juga" Deok Man tersenyum. "apa kegiatanmu hari ini?"tanya Deok Man. "aku tak tahu. Seharusnya setelah tugasku di Benteng Utara selesai, aku kembali ke tugasku sebagai Perdana Menteri"jawab Bi Dam sambil duduk berpikir. "hmmm..baiklah.."Deok Man sedang berpikir. Tiba-tiba perut mereka berdua berbunyi. Mereka pun tertawa bersama."bayi kita mulai sepertimu..Ia suka lapar di pagi hari.."ujar Deok Man. "hahaha benarkah?..ayo kita makan"jawab Bi Dam sambil mengusap perut Deok Man. Mereka pun mengenakan pakaian mereka dan berjalan keluar kamar menuju ruang makan. Setelah sarapan, mereka mandi bersama.
"aku ingin berjalan-jalan di taman. maukah kau menemaniku, Bi Dam?tanya Deok Man sambil merapikan pakaiannya. "tentu, dengan senang hati"jawab Bi Dam.
Mereka berjalan keluar menuju taman. Lalu tiba-tiba seorang kasim datang menghampiri mereka. "maaf Tuan dan Nyonya, Kapten Pengawal Raja datang ingin bertemu dengan Tuan dan Nyonya. Sekarang beliau sedang menunggu di depan gerbang."kata kasim sambil memberi hormat.
"persilahkan ia duduk di ruang tamu, kami akan segera menemuinya."jawab Bi Dam. "dan siapkan teh untuk kami bertiga."tambah Deok Man. "baik"hormat kasim. Deok Man dan Bi Dam bertukar pandang memikirkan apa yang Alcheon akan bicarakan dengan mereka berdua.
Lalu Deok Man dan Bi Dam berjalan menuju ruang tamu.
Alcheon menunduk memberi hormat. Deok Man menarik kursinya untuk duduk "silahkan duduk Alcheon." Alcheon duduk dan mulai membaca gulungan surat perintah dari kerajaan "saya ingin menyampaikan 2 titah Raja. Yang pertama bahwa mulai hari ini tugas dan wewenang sebagai Perdana Menteri akan dikembalikan kepada Bangsawan Bi Dam. Yang kedua, Perdana Menteri Bi Dam dan Putri Deok Man dengan hormat diundang ke perjamuan Istana sore ini bersama Raja, Pejabat Istana, dan Panglima Yushin serta para Jenderal yang bertugas dalam pertempuran melawan Ryugu."tambah Alcheon. "Panglima Yu Shin sudah tiba?"tanya Bi Dam. "ya Beliau tiba tak lama setelah Perdana Menteri Bi Dam pulang.Rupanya beliau juga memperoleh informasi mengenai penyerangan Soeraboel diam-diam dari prajurit Ryugu yang berhasil ditangkap. Pertempuran di timur dan utara hanya sebagai pengalih perhatian saja. Rencananya Soeraboel akan diserang nanti malam. Namun entah kenapa mereka jadi memajukan dari rencana semula."lapor Alcheon. "mungkin karena kekalahan pasukan Ryugu di Utara di luar rencana mereka.." sahut Deok Man. "ya mungkin saja, Raja dan Panglima juga berpikir demikian"jawab Alcheon. Setelah meminum tehnya, Alcheon undur diri kembali ke

Istana.
"nampaknya aku tahu apa yang harus kita lakukan sekarang"tukas Deok Man sambil tersenyum. Lalu Deok Man menarik tangan Bi Dam yang berwajah penasaran menuju kamar mereka. Kemudian Deok Man mengeluarkan 2 buah kotak berukuran sedang dan memberikan salah satunya kepada Bi Dam. "apa isinya, Deok Man?tanya Bi Dam sambil menggocang-goncangkan kotak itu. "bukalah, aku harap kau menyukainya."jawab Deok Man. "baiklah, aku buka."Bi Dam membuka kotaknya. Ternyata sebuah 1 setel pakaian baru. Pakaiannya berwarna hitam, warna favorit Bi Dam, dan ungu tua dibordir emas dengan celana panjang hitam. Lalu Bi Dam mencobanya. Ia nampak gagah dan elegan dengan pakaian itu, ukurannya pas. "ukurannya pas, kau membuatnya sendiri?"tanya Bi Dam yang masih mengagumi pakaiannya. "ya, ketika aku sedang berada di toko kain, aku melihat kain-kain ini sangat bagus jika aku jadikan pakaian untukmu dan untukku jadi aku memutuskan untuk membuat pakaian untuk kita..kau menyukainya?"tanya Deok Man sambil tersenyum. "sangat..terima kasih Deok Man."jawab Bi Dam mengecup pipi Deok Man. "aku senang kau menyukainya..bisa kau lepas dulu? ada beberapa bagian yang belum kurapikan.."ujar Deok Man sambil tersenyum. "baiklah..setelah ini aku akan pergi ke Istana..aku harus memeriksa laporan mengenai kerusakan akibat perang kemarin..nanti siang aku pulang."kata Bi Dam sambil mengenakan pakaian kerjanya. "kalau begitu hari ini kita makan siang bersama di rumah.hati-hati yaa.."jawab Deok Man yang sedang menjahit.
"aku pergi"seru Bi Dam yang berjalan keluar.

Ruang Kerja Perdana Menteri di Istana.
"gerbang masuk dan tembok Soeraboel rusak, beberapa atap rumah penduduk rusak..berapa korban jiwa dari pasukan dan penduduk sipil?"tanya Bi Dam kepada salah satu pejabat sambil membaca laporan. "20 prajurit tewas, 25 luka parah, 90 luka ringan..tak ada korban dari penduduk sipil, Tuan Perdana Menteri.."lapor pejabat tersebut. "aku ingin segala fasilitas yang rusak dan rumah penduduk yang rusak harus sudah beres besok pagi. Berikan pemakaman yang layak bagi prajurit yang meninggal dan santunan bagi keluarga mereka dan perawatan untuk prajurit yang terluka hingga mereka sembuh total."perintah Bi Dam. "baik Perdana Menteri.."jawab para pejabat sambil memberi hormat lalu keluar dari ruangan. Bi Dam memeriksa laporan tersebut sekali lagi dan setelah selesai, ia berjalan untuk pulang. Di tengah perjalanan pulang, Bi Dam melihat sebuah kalung mutiara cantik sedang dipajang di sebuah toko. "Deok Man pasti akan menyukainya."pikir Bi Dam. Bi Dam meminta tandunya berhenti, ia pun memasuki toko itu untuk membeli kalung yang ia lihat tadi lalu pulang.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
"aku pulang"seru Bi Dam.
"selamat datang..ayo kita makan..makan siangnya baru saja siap.."jawab Deok Man yang berdiri di samping pintu masuk. Mereka berdua berjalan bersama menuju ruang makan.
Setelah selesai makan, Deok Man pergi ke kamar mandi untuk berendam sementara Bi Dam merapikan laporan di ruang kerjanya. Setelah Deok Man selesai, kini giliran Bi Dam yang berendam. Deok Man berada di kamarnya sibuk mengeringkan dan menata rambutnya. Bi Dam yang baru saja selesai mandi berjalan masuk ke kamar. Lalu ia mengenakan pakaian hitam ungu barunya yang sudah disiapkan istrinya. Deok Man sendiri juga mengenakan pakaian baru yang ia buat 1 setel pakaian berwarna oranye dan kuning dibordir emas. Simpel dan anggun. Ia nampak semakin cantik dan menarik dalam balutan pakaiannya. Bi Dam terdiam melihat kecantikan istrinya. "aku akan meninju setiap laki-laki yang mendekatimu"canda Bi Dam. "aku sudah menjadi milikmu, Bi Dam" tukas Deok Man tersenyum. "sedangkan aku hanya bisa cemburu melihat kau didekati para wanita cantik."ujar Deok Man. "aku akan bilang pada mereka bahwa aku sudah menjadi milik wanita terbaik dan tercantik sedunia dan anak yang kucintai."kata Bi Dam sambil mencium pipi istrinya dan mengusap perutnya dari belakang. Deok Man tersenyum bahagia. Ketika Deok Man sedang bercermin, Bi Dam berdiri di belakangnya dan mengalungkan kalung mutiara yang baru saja ia beli di leher istrinya. Deok Man kaget. "kau menyukainya?kau cantik sekali.."tanya Bi Dam. "suka sekali..terima kasih Bi Dam."jawab Deok Man. Setelah persiapan beres, mereka berjalan menuju tandu yang akan membawa mereka ke Istana.

Ruang Perjamuan Istana.
"Perdana Menteri Bi Dam dan Putri Deok Man memasuki ruangan."seru penjaga pintu. Para pejabat memberi hormat dan salam serta ucapan selamat atas kemenangannya kepada Bi Dam dan Deok Man. Panglima Yushin menjabat tangan Bi Dam dan memeluknya "Shilla sangat beruntung memiliki Perdana Menteri sepertimu, Bi Dam."puji Yushin. "dan memiliki Panglima Perang hebat sepertimu, Yushin."balas Bi Dam sambil tertawa. Lalu mereka bertiga mengobrol berbagi cerita.
"Yang Mulia Raja telah tiba.."seru penjaga. Seluruh tamu di dalam ruangan memberi hormat "hormat kami Yang Mulia."
Lalu Raja mempersilahkan para tamunya duduk. Bi Dam dan Deok Man duduk berdampingan dekat Raja. "perjamuan sore ini adalah untuk merayakan kemenangan Shilla atas Ryugu di timur,utara, dan Soeraboel..ayo kita bersulang."ujar Raja. Semua tamu mengangkat gelas araknya lalu meminumnya terkecuali Deok Man yang tidak meminumnya. Ia tahu arak tidak baik untuk kesehatan bayinya. Raja dan para tamu mulai menyantap hidangan yang tersedia. "Kita patut berterima kasih kepada Panglima Yushin, Perdana Menteri Bi Dam,dan para Jenderal sekalian. Terutama berkaitan dengan penyerangan ke ibukota yang berhasil diigagalkan."puji Raja. Semua pejabat bertepuk tangan.
Di tengah perjamuan tersebut diselingi oleh beberapa tarian dan atraksi. Perjamuan telah selesai, para pejabat dan Jenderal masih asyik melihat pertunjukan. Bi Dam melihat di sisinya wajah Deok Man yang terlihat lelah. "kau terlihat lelah Deok Man..ayo kita pulang d an beristirahat."ajak Bi Dam sambil menggenggam tangan Deok Man. "ya..baiklah."jawab Deok Man. Lalu mereka berdua menghadap Raja untuk pamit undur diri. "hormat kami Yang Mulia..tanpa mengurangi rasa hormat kepada Yang Mulia Raja dan para tamu, kami memohon izin untuk undur diri dahulu.."hormat Bi Dam dan Deok Man. Raja juga melihat bahwa wajah Deok Man nampak lelah. "tampaknya kau kelelahan Putri Deok Man..pulanglah dan beristirahat." "terima kasih Yang Mulia."jawab Bi Dam.
Lalu Bi Dam dan Deok Man berjalan keluar meninggalkan ruang perjamuan untuk pulang.
Setibanya di rumah, mereka segera masuk ke kamar mereka dan berganti pakaian tidur. "tidurlah yang nyenyak, Deok Man"bisik Bi Dam yang berbaring di sisi istrinya. "ya kau juga Bi Dam."bisik Deok Man menutup matanya dan memeluk lengan Bi Dam erat-erat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar