Pages


Senin, 31 Mei 2010

fanfic bideok raining............. (SCANE 12 BAG 2)

Lee han - 3 des 07 - pusan.
"ayo lah, sebentar saja..." aku menarik paksa tangan yo won menuju tenda peramal.
"tidak mau...." yo won balas menarik tangan ku ke arah sebaliknya. Kami tampak konyol, saling menarik dan berteriak tidak jelas. Orang-orang yang lewat hanya menatap kami dengan tatapan aneh, bahkan sebagian mengira kami sedang bertengkar.
"lee han, ikut aku!" tiba-tiba ada yang melepaskan tangan kami dengan kasar lalu menarik ku.
Ternyata park dong si, kenapa dia besikap seperti itu?. "hei, mau kemana?" tanya ku bingung.
"SUDAH IKUT SAJA!!" bentak dong si, saat ini aku merasa sebagai seorang gadis manis yang dimaki oleh pacarnya, sial .
"kak! Mau kemana?" teriak yo won bingung,
"kau duluan saja, aku ada urusan sebentar. Tunggu aku disana, jangan kemana-mana!"pinta ku sebelum menghilang diantara keramaian.
Lee yo won - 03 desember 2007-pusan.
"permisi.." aku memasuki tenda peramal dengan jengkel, tega sekali meninggal kan aku sendirian?. Awas saja kalau tidak kembali lagi, akan ku buat perhitungan dengan nya.
"silahkan duduk" sapa peramal itu ramah,
"mau diramal apa?" tanya nya lalu menggerak-gerakkan jari nya diatas sebuah bola kristal.
"jodoh?" jawab ku sambil menahan tawa, aku merasa konyol. Ramalan?, zaman sekarang percaya ramalan?.
"maksud anda pasangan takdir?" tanya nya lagi, membuat ku semakin geli.
"iya, maksud ku pasangan takdir." jelasku, berusaha berSikap sopan sebaik mungkin.
Ia mulai, awalnya ekspresi nya biasa saja. Namun lama kelamaan keringatnya bercucuran, wajah nya pucat pasih, seperti melihat hantu. "nona, tolong perlihatkan telapak tangan mu." pinta nya tiba-tiba dengan ekspresi serius, seakan-akan ini detik kematian ku.
"takdir mu, apa kau ingin tahu masa lalu mu?" tawaran nya sesaat setelah melihat telapak tangan ku,
"oh boleh" tanggapku datar.
"dulu, jauh dikehidupan mu sebelumnya. kau adalah seorang wanita yang berkuasa. Seorang ratu di kerajaan silla, ratu seondoek." jelasnya saat memperhatikan garis-garis ditelapak tangan ku lebih jelas, sumpah aku sangat geli mendengarnya. Ratu seondoek?, aku?, namun sebisa mungkin kutahan. Apakah mungkin, seorang ratu yang melegenda adalah aku?. Jadi selama ini aku mempelajari diriku sendiri dalam pelajaran sejarah?, sangat lucu.
"pada beberapa kehidupan mu sebelumnya, kau tidak bisa bersatu dengan pasangan takdir mu. Namun, pada akhirnya kau dan dia bersatu."jelasnya lagi, kali ini aku memperhatikan lebih seksama.
"tapi__"ia terdiam.
"tapi apa?," tanya ku penasaran.
"tapi untuk kehidupan mu sekarang, sepertinya takdir membuat kesalahan."jelasnya ragu.
"apa kau pernah secara tiba-tiba merasakan kilasan aneh?, berapa kali?" ia menanyakan sesuatu yang sama sekali tidak ku mengerti.
"tidak__" jawab ku bingung.
"kilasan apa?, kapan aku akan merasa kan nya? Dan Apa maksud nya takdir membuat kesalahan?" tanyaku berantai, aku mulai tertarik dengan semua ini. Entah lah. memang konyol, tapi perasaan ku mengatakan ini benar.
"seharusnya kan sudah terjadi?" peramal itu bicara sendiri dengan seriusnya, lalu terdiam. ia malah balik tanya? membuat ku yang bingung jadi semakin dan semakin bingung. "APAKAH MUNGKIN?"peramal itu mengejutkan ku, ia yang tadi nya diam dalam keheningan. tiba-tiba bicara sekencang itu, rasa nya semua gigi ku mau rontok.
"maaf-maaf" ujar nya saat sadar kalau aku sangat terkejut.
"maaf, aku tidak mengerti apa yang sejak tadi anda katakan. Bisa diperjelas?" pinta ku ragu.
Lee han-03 des 07-pusan
"ryu im ah?, eh ad min ra juga?." aku terkejut saat sampai di belakang salah satu tenda, ada im ah dan min ra.
"Dong si, kenapa kau menyeret aku kesini?" tanya ku sangat bingung.
"dasar bodoh!!" dong si & min ra menjitak kepalaku lalu memaki ku habis-habisan.
"sudah-sudah!!, hei hentikan!" relai im ah, menyelamatkan ku dari amukan hewan ternak.
"iya, apa sieh salah ku?. Kenapa kalian bersikap seperti ini?" sekali lagi, aku mencoba mencari penjelasan.
"kau!!" dong si memasang tampang terseram yang pernah tercipta.
"dong si cu..kup.." isak nya, im ah menangis dan lari dengan cepat menghilang diantara keramaian.
"ini semua gara-gara kau lee han, puas??" maki dong si, lalu dengan cepat mengejar im ah.
"ia melihat saat kau dan pacar mu itu bermesraan, kau itu bodoh ya?. Masa' kau tidak tahu kalau im ah menyukai mu?" jelas min ra menyadarkan ku, dan berlalu menyusuri jejak im ah.
Suka pada ku?, bermesraan dengan pacar ku?.
Yoemjong - 03 des 07-seoul
"dasar keparat!, kakak ku mati gara-gara kau. Ku bunuh kau!!!" erang nya lalu melemparkan sepatu hak tingginya kepada ku tapi meleset, aku sedang malas melayani anak ingusan sepertinya. Selalu seperti ini setiap kali bertemu, menyusahkan saja.
"au__" sesuatu dilempar tepat mengenai kepala ku, saat berbalik semua perabotan berterbangan kearah ku, aku sangat terkejut. Tapi dengan cepat ku hindari satu-persatu,BERSAMBUNG

Chapter 29 part. 1: How Can I not be Sad If I Must Live Without You

Keesokan harinya
Deok Man membuka matanya. Ia berdiri di padang rumput yang luas. Ia menoleh ke sekelilingnya, tak ada siapa-siapa. "dimana aku?" gumamnya. Dan ketika menatap kembali ke depan. Bi Dam berdiri tak jauh darinya di hadapannya. Ia memakai pakaian putih seperti akan menghadiri pemakaman. "Bi Dam.." panggil Deok Man seraya berjalan ke arah tempat suaminya berdiri. Bi Dam tersenyum "jangan bersedih Deok Man.. sekalipun kau tak bisa melihatku.. ingatlah selalu bahwa aku selalu mencintaimu Deok Man..dan anak kita.. jagalah dirimu dan anak kita baik-baik..selamat tinggal.." ujarnya sambil tersenyum. Lalu ia membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Deok Man. "Bi Dam.. Bi Dam.. kau tak boleh pergi.." Deok Man berjalan cepat mengejarnya dan berusaha meraihnya namun tiba-tiba Bi Dam menghilang. Deok Man menoleh kebingungan ke segala arah "Bi Dam!" teriaknya. Lalu ia jatuh duduk di tanah dan menangis. "Bi Dam.." isaknya. Kemudian pandangannya berubah menjadi gelap.
"Tuan Putri.. Tuan Putri.." panggil Soo Hye berulang-ulang yang berdiri di samping tempat tidur Deok Man. Deok Man membuka matanya yang basah perlahan. "apakah Tuan Putri baik-baik saja?sejak tadi Tuan Putri terus mengingau.." tanya Soo Hye khawatir. "ternyata hanya mimpi.. Bi Dam.." gumamnya sambil menutup matanya dengan telapak tangannya. Air matanya kembali menetes. "Tuan Putri? Tuan Putri baik-baik saja?" panggil Soo Hye takut-takut. Deok Man pun menghapus air matanya dan duduk di tempat tidurnya. "aku baik-baik saja Soo Hye.." jawab Deok Man tersenyum lemah. "maafkan saya Tuan Putri jika saya lancang membangunkan Tuan Putri..saya khawatir Tuan Putri menderita demam karena sejak tadi terus mengigau..tolong jangan hukum saya Tuan Putri.." ujar Soo Hye takut-takut sambil menundukkan kepala. "aku tak akan menghukummu Soo Hye.. justru aku mau berterima kasih karena kau sudah mengkhawatirkanku.." jawab Deok Man ramah. "saya sudah menyiapkan bubur ayam jamur dan teh hangat di atas meja Tuan Putri.." ujar Soo Hye. "terima kasih Soo Hye..letakkan saja di sana nanti akan kumakan" jawab Deok Man tersenyum lemah. Lalu Deok Man bersandar pada dinding di belakangnya dan memejamkan mata "Soo Hye.." panggilnya. "ya Tuan Putri.." "tolong tinggalkan aku sendiri..." ujar Deok Man yang masih memejamkan matanya. "ta..tapi Tuan Putri.." jawab Soo Hye. "aku sangat ingin sendirian hari ini.." sela Deok Man. "ba..baik Tuan Putri.. saya hanya akan menemui Tuan Putri saat mengantar makan siang nanti..permisi.." jawab Soo Hye lalu memberi hormat dan berjalan keluar kamar.
Karena memikirkan kesehatan bayinya, Deok Man membuka matanya dan bangun dari tempat tidurnya. Lalu ia duduk di meja bundar dan mulai menyantap buburnya. Deok Man menunduk dan mengusap perutnya "kamu pasti lapar ya.." gumamnya. Dan ketika ia akan menyantap buburnya, Bi Dam hadir duduk di hadapannya tersenyum kepadanya "selamat makan.." katanya sambil memamerkan gigi-giginya yang putih dari balik senyumnya. "Bi Dam..kau sudah.." Lalu ia bergerak bangun berusaha menyentuh wajah Bi Dam di hadapannya dengan tangannya. Namun tiba-tiba Bi Dam menghilang. "..pulang.." ujarnya. Tangan Deok Man hanya menyentuh udara kosong. Deok Man shock dan kembali duduk di kursinya, air mata kembali mengalir membasahi pipinya. "Bi Dam..bagaimana aku bisa tidak bersedih jika aku harus hidup tanpamu.." isaknya putus asa sambil membenamkan wajahnya kedalam kedua telapak tangannya .

Senin, 24 Mei 2010

fanfic bideok raining (scane 12 bagian 1)

SCANE 12 (BAG 1)lee yo won- 03 desember 2007 - pusan."iya, jam 8 kan?. Baik, sampai bertemu disana dah.."ku tutup tlp dengan wajah berseri-seri.Kak ye jin dan chunchu menatap ku dengan pandangan aneh, "tlp dari siapa kak?" selidik chunchu."dari pangeran nya, it tuh.. Sang wook tersayang" goda kak ye jin, lalu mereka berdua tertawa sampai puas.Bulu roma ku langsung berdiri mendengar nama sang wook, "enak saja, ini dari rin young. Nanti malam aku mau pergi melihat pameran dengan nya, pameran atau apa ya? semacam itu lah." jelasku."ayo semua bersiap" tiba-tiba mama masuk."mau kemana ma?, yo won tidak ikut ah. Ada janji dengan rin young." tolak ku.Mama terlihat kecewa, "ya sudah kalau begitu, ayo ye jin seung ho cepat."ajak nya, lalu menutup pintu kamar."hati-hati dan tidak boleh pulang larut malam" tiba-tiba mama masuk kamar kembali. Membuatku kaget saja, mama selalu memperhatikan ku seolah aku adalah anak kandung nya. Sikap nya itu membuat aku sedih, aku merindukan mama.setelah berjalan sendirian akhirnya aku sampai ke tempat kami bertiga janjian , tempat menginap rin young berbeda dengan ku. Lagi pula yang hafal tempat ini hanya kak lee han, Jadi kami janjian tidak jauh dari penginapan."loh kak lee han sendirian?, Mana rin young?" tanya ku kaget.Ia tersenyum, "jangan panggil kakak, kita kan seumuran?. Kau membuatku terlihat tua" protesnya. "ayo cepat, kita tidak mau ketinggalan pesta kembang api kan?" ajaknya penuh semangat.Aku masih penasaran, pertanyaanku belum dijawab. "ayo cepat." sentaknya, membuat ku terkejut apalagi tiba-tiba ia menarik tangan ku."ei . . . Pelan-pelan kak" tangan ku menjadi merah, wajar saja ditarik sepanjang jalan. Kak lee han malah tertawa mendengar keluhanku, untung saja sudah sampai."nah ambil" kak lee han membelikan aku sebungkus es."trimakasih, rin young mana?"tanya ku kembali, sambil membuka bungkus es.Ia melirik kearah ku lalu tersenyum, "oh iya lupa, rin young tidak bisa ikut. Katanya sieh mau bertemu teman nya." jelasnya, lalu mulai menjilati es nya."ya , sayang sekali" ujar ku kecewa, masih menjilati es."memangnya kenapa.?" tanyanya, lalu membuang bungkus es nya.Aku kaget, "wah sudah habis?, hebat" decak ku kagum.Kak lee han tesenyum lebar, membuat sederetan gigi putihnya tampak jelas. "itu biasa saja, aku bisa menghabiskan 30 bungkus dalam 5 menit"pamernya.Aku tertawa, tidak ku sangka seorang anak jenius mempunyai selera humor yang bagus. "kalau begitu ayo buktikan?"tantang ku.Wajah nya berubah serius, "boleh, ayo" ucapnya dengan penuh keyakinan, lalu menarikku sekali lagi ke tempat penjual es.-6 menit kemudian-"aduh . . , perutku" keluh kak lee han.Perut ku sakit, sejak tadi menahan tawa,"habis sieh habis, tapi__" aku tertawa lantang, dan tidak bisa menahan tawa ku. Bicara pun tidak bisa, aku tidak bisa berhenti tertawa."lee han?" sapa sesorang."eh min ra, aduh . . " balas kak lee han, tapi terdiam lagi saat ia merasa mules. Kak lee han sudah 5 kali keluar masuk WC."lee han kenapa?" tanya teman perempuan kak lee han, dengan wajah yang khawatir."oh itu, kak lee han bilang bisa menghabiskan 30es dalam 5 menit. Jadi aku tantang dia, dan . . Dan . . " aku tidak tahan meneruskan nya, lucu sekali."ah , lega. Aku tidak apa-apa, ayo yo won kita keliling lagi." tanya nya, setelah keluar dari WC."tapi perut kakak kan sakit?, kita pulang saja ya?"jawab ku, aku kasihan dengan nya. Ia begitu baik padaku,"Aku kan sudah janji, min ra mau ikut kami?"ajak nya, tapi gadis itu menolak. Katanya mau berkeliling dengan temannya, tapi kelihatannya ia tidak menyukaiku. Apa ada yang salah dengan ku?, atau dia itu,"hei, melamun terus. Mikirin apa yo won?, mau pulang y?"kak lee han mengejutkan ku."tidak ah, ehm . . Yo won boleh tanya?" izin ku,kak lee han terlihat bingung, "boleh, kau ini aneh" ujarnya."apa kakak punya pacar?"tanya ku ragu.Kak lee han menaikkan salah satu alisnya, oh tuhan aku salah menyampaikan. Cara aku bertanya tadi seolah-olah aku menyukai nya, aduh gawat. Padahal aku hanya ingin tahu mengapa gadis itu melihat ku dengan sinis, aku pikir ia pacar kak lee han dan ia cemburu pada ku."maksud ku bukan begitu, bukan nya aku bertanya karena suka dengan kakak."jelasku, upz . . . Aku salah ngomong lagi, itu sama saja dengan ah . . . . . Kenapa aku bodoh sekali?Kak lee han tersenyum melihat aku gelisah, "belum, memangnya kenapa?" ia balik tanya.Aku menyerah, lebih baik bertanya secara langsung. "apa teman yang tadi itu pacar kakak?, sepertinya dia cemburu" ungkap ku, perasaan ku jadi lega."bukan, tapi bagus lah kalau dia berfikir kau pacar ku. Ayo kita kesana" kak lee han menanggapinya dengan santai."ya sudah lah, aku tidak akan membahasnya lagi. Itu kan masalah pribadi kakak. Kesana?" tunjukku."iya, ke peramal. Siapa tahu kita adalah pasangan takdir, seperti di film-film."goda nya."ehm . . . kakak pasangan takdirku?" aku tertawa, tangan ku ditarik kak lee han masuk ke tenda peramal.

bersambung

Jumat, 21 Mei 2010

Chapter 27

Siang hari. Kowon.
Setelah menempuh 2 hari lebih perjalanan, Godo dan pasukannya tiba di Kowon. Mereka datang menyamar sebagai pedagang dan orang biasa agar tidak terlihat mencolok.
"lapor Kolonel, menurut informasi yang saya dapat, kita dapat berlayar hari ini karena cuaca buruk sudah mereda.."kata salah seorang pasukan melapor kepada Godo. "baiklah ayo kita berangkat"lalu mereka berjalan cepat menuju pantai untuk berlayar.

Istana.
"Panglima memasuki ruangan" teriak penjaga pintu. Yushin berjalan memasuki ruang kerja Raja lalu memberi hormat kepada Raja yang sedang duduk di kursinya. "Yang Mulia memanggil saya?"tanyanya.
"ya..duduklah, Panglima.."jawab Raja. "apakah sudah ada kabar dari Kowon?"tanya Kim Seo Hyun yang juga hadir di ruangan itu. Hadir pula Kim Yong Chun dan Putri Man Myeong. "belum..butuh waktu 2 hari perjalanan untuk mencapai Kowon..mungkin sekarang mereka sedang melakukan pencarian.."jawab Yushin. "maaf bukannya saya bermaksud buruk tapi jika Perdana Menteri Bi Dam tetap ditemukan, apa yang akan Panglima lakukan?"tanya Kim Yong Chun. Yushin terdiam. Raja menghela napas dalam-dalam "jika kemungkinan terburuk itu terjadi..sesuai hukum yang berlaku, kita akan melaksanakan prosesi pemakaman tanpa jasad Perdana Menteri...Perdana Menteri dianggap sudah gugur dalam melaksanakan tugas negara..akan tetapi kita harus berdoa semoga kemungkinan itu tidak terjadi.." "tentu saja kita tidak mau itu terjadi..malang sekali nasib Putri Deok Man..di saat sedang menanti kelahiran anak pertamanya, harus mengalami ini.."kata Putri Man Myeong ikut sedih. "bagaimana keadaan Tuan Putri sekarang?saya tidak melihatnya di Istana.."tanya Yushin. "Putri Deok Man memutuskan untuk kembali ke kediamannya sendiri..kata Permaisuri "kondisinya sudah sehat kembali.." "syukurlah.."ucap Yushin dan Putri Man Myeong hampir bersamaan.

Sore hari. Kowon.
Godo dan pasukannya berlayar mendekati lokasi tempat Bi Dam jatuh. Karena cuaca baik, mereka bisa berlayar lebih dekat meskipun tak bisa ke lokasinya langsung karena ombaknya besar dan banyak batu karang besar. "Kolonel, ada sesuatu terapung di tengah laut sana"tunjuk salah satu prajurit. Godo melihatnya "kau berenang dan bawa itu ke sini."perintahnya pada prajurit di sebelahnya. Prajurit itu kemudian melompat dari perahu lalu berenang ke arah benda itu dan mengambilnya kemudian berenang kembali ke arah perahu dan menyerahkan benda yang ia temukan kepada Godo. Godo terkejut begitu melihatnya "ini..ini ikat kepala Perdana Menteri..berarti beliau ada di dekat sini..ayo dayung perahu ini..kita cari di sekitar sini" seru Godo.
Namun hingga matahari terbenam, Godo tidak menemukan apa-apa. Karena hari sudah mulai gelap dan seluruh tempat sudah mereka jelajahi, Godo memerintahkan anak buahnya untuk kembali ke pantai.
Di pantai, anak buah Godo yang lain sudah menunggu. Mereka segera menghampiri Godo yang baru turun dari kapal dan memberi hormat. "bagaimana?apakah kalian menemukannya?" tanya Godo. Mereka menggelengkan kepalanya "kami sudah mencarinya kemana-mana, seluruh desa nelayan dan laut sekitar tapi tidak menemukannya"jawabnya. Lalu salah satu anak buah di belakang Godo nyeletuk "jangan-jangan Perdana Menteri Bi Dam sudah tenggelam di tengah laut..ikat kepalanya saja terbawa sampai sejauh itu" Godo menoleh dan memelototinya, anak buahnya langsung menundukkan kepala takut. Raut wajah Godo menjadi muram. Ia memikirkan kata-kata anak buahnya itu dan laporan anak buahnya yang lain. Ia berjalan lunglai lalu duduk di atas sebuah batu besar. Hatinya terasa sangat berat harus menerima kenyataan bahwa Bi Dam sudah meninggal tenggelam di laut, namun begitulah kenyataan yang ia dan anak buahnya temukan. Bi Dam tidak ditemukan dimana-mana, apakah itu bukannya berarti ia sudah meninggal tenggelam di dasar laut, itulah kesimpulannya. Lalu teringat olehnya perintah dari Yushin yakni agar ia harus segera kembali ke Soeraboel setelah melakukan pencarian ke seluruh tempat meskipun harus pulang dengan tangan kosong. "Perdana Menteri.."isak Godo. Godo jadi teringat hari-harinya di masa lalu, ketika ia, Jukbang, Yushin, dan Bi Dam bersama Deok Man berjuang agar Deok Man bisa naik takhta dan melawan Mi Shil, meskipun ia tidak begitu akrab dengan Bi Dam tapi ia sangat mengaggumi kegigihan dan kemampuan bela diri Bi Dam. Ia ingat saat mereka sedang berganti pakaian sebelum mereka pergi menolong Yushin, Bi Dam meminta mereka untuk lebih mengutamakan keselamatan Yushin sekalipun nanti ia sendiri disandera. Usaha menolongnya baru dilakukan setelah Yushin bebas dan aman lebih dahulu. Karena itu perintah, terpaksa ia melakukannya. Membiarkan Bi Dam disandera sendirian. Baginya baik Yushin maupun Bi Dam adalah panutan hidupnya. Setelah merenung cukup lama, Godo menghapus air matanya dan berdiri menghadap para prajuritnya "baiklah..kita sudah mencarinya ke semua tempat dan tetap tidak menemukannya, sesuai perintah Panglima kita harus segera kembali kembali ke Soeraboel..bersiaplah" ujarnya. "siap.." jawab seluruh pasukan bergerak untuk bersiap-siap.
Chapter 26: Bi Dam, Do You Still Alive Right?

Pagi hari. Istana.
Ditemani Soo Hye yang duduk di dekatnya, Deok Man menyantap sarapan di kamarnya. Meskipun sebenarnya ia sedang tidak begitu ingin makan, tetapi demi kesehatan bayinya, ia tetap menyantapnya. "Soo Hye.."panggilnya. "Ya Tuan Putri?" Soo Hye yang sedang merapikan piring dan mangkuk menoleh. Deok Man meletakkan serbetnya "setelah selesai dari kuil, aku benar-benar ingin pulang ke kediamanku Soo Hye..lagipula aku sudah nampak sehat kan?.."katanya. Soo Hye hanya bisa mengangguk dan tersenyum "baiklah Tuan Putri.."
"Yang Mulia Permaisuri memasuki ruangan"teriak penjaga pintu. Yang Mulia Permaisuri berjalan memasuki kamar Deok Man. Deok Man dan Soo Hye berdiri memberi hormat. "aku senang melihat Putri sudah pulih.."kata Permaisuri. Deok Man menundukan kepala "saya sangat berterima kasih atas kebaikan dan perhatian Yang Mulia.."katanya. Permaisuri tersenyum "saya masih bagian dari keluargamu, Putri Deok Man jadi wajar bila saya dan Yang Mulia memperhatikan Putri..apa rencanamu hari ini, Putri Deok Man?"katanya. "hari ini saya akan kuil lalu akan pulang ke kediaman saya.."jawab Deok Man. Permaisuri meminum teh yang disuguhkan Soo Hye "tinggalah di sini saja Putri..tinggalah sampai..sampai Perdana Menteri kembali.."kata Permaisuri. Deok Man tersenyum "terima kasih atas kebaikan hati Permaisuri..tetapi saya akan menunggu Perdana Menteri kembali di kediamannya..saya sudah berjanji akan menunggunya pulang di sana"jawabnya. Mendengar itu, Permaisuri hanya bisa diam tanpa kata. Permaisuri dapat mengerti bagaimana perasaan Deok Man sekarang. Lalu Permaisuri bangun dari kursinya "baiklah jika demikian..akan tetapi jika Putri Deok Man membutuhkan sesuatu janganlah ragu untuk memintanya kepada saya atau Yang Mulia Raja.."katanya. Deok Man berdiri dan memberi hormat "terima kasih Yang Mulia" katanya. Permaisuri tersenyum lalu berjalan keluar kamar. Deok Man menoleh ke arah Soo Hye "kita berangkat ke kuil sekarang, Soo Hye.." katanya lalu berjalan keluar kamar, Soo Hye hanya menunduk dan mengikutinya.

Pelataran Istana.
Deok Man yang ditemani Soo Hye berjalan melewati pelataran Istana menuju kuil. "menurut kalian, adakah kemungkinan Perdana Menteri Bi Dam masih hidup?"terdengar suara seseorang. Mendengar itu, Deok Man menghentikan langkahnya dan melihat ke arah datangnya suara. Ternyata suara itu berasal dari 3 orang pejabat tingkat rendah yang sedang berjalan tak jauh dari situ. "aku rasa kemungkinannya kecil untuk hidup, memang jasadnya belum ditemukan tapi bisa saja jasadnya sudah tenggelam ke dasar laut atau dimakan hiu mungkin sehingga tidak akan bisa ditemukan.." jawab santai seorang pejabat yang terlihat membawa kipas lalu pejabat yang berdiri di tengah bertanya kembali "kira-kira bagaimana ya tanggapan Yang Mulia Raja atas ini apakah beliau percaya Perdana Menteri masih hidup?" "sesuai hukum yang berlaku, selama jasad Perdana Menteri belum ditemukan atau dinyatakan meninggal karena alasan-alasan khusus, Yang Mulia tetap yakin Perdana Menteri masih hidup dan untuk sementara ini Yang Mulia mungkin mengangkat Bangsawan Kim Yong Chun menjadi Perdana Menteri sementara waktu." jawab Pejabat yang berjalan di sebelahnya. Lalu ketiga pejabat itu berjalan semakin jauh dan menghilang dari pandangan. Deok Man hanya berdiri terdiam, "aku rasa kemungkinannya kecil untuk hidup, memang jasadnya belum ditemukan tapi mungkin saja jasadnya sudah tenggelam ke dasar laut atau dimakan ikan hiu.." kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran Deok Man. Tangannya pun gemetar begitu membayangkan hal-hal mengerikan seperti menimpa suaminya. "tidak..tidak mungkin.." gumamnya. Soo Hye melihatnya dengan takut-takut menggenggam tangan Deok Man "kata-kata itu jangan dipikirkan Tuan Putri..saya percaya Tuan Perdana Menteri masih hidup.." Deok Man menoleh ke arah Soo Hye tersenyum tegar mengangguk dan mereka kembali berjalan menuju kuil.

Sore hari. Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
"aku pulang.." kata Deok Man berjalan turun dari tandu. Yang ada hanya beberapa pelayan yang menunduk memberi hormat kepadanya. Deok Man menatap ke arah pintu masuk. Berharap ada suara ucapan selamat datang dan senyum hangat yang biasanya muncul menyambutnya pulang dari pintu itu namun yang ada hanyalah kesunyian. "Tuan Putri?" tanya Soo Hye. Deok Man pun tersadar dari lamunannya Lalu melangkahkan kakinya masuk ke kediamannya.

Malam hari. Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
"tidurlah yang nyenyak Tuan Putri.."kata Soo Hye seraya merapikan selimut Deok Man. "ya..kau juga Soo Hye"kata Deok Man yang duduk di tempat tidurnya. Lalu Soo Hye menunduk memberi hormat lalu berjalan keluar kamar. Lalu Deok Man mengambil pakaian Sangdaedeung Bi Dam yang terlipat di atas meja di dekatnya dan memeluknya erat-erat. "kau masih hidup kan Bi Dam?"gumamnya. Tetesan air mata berjatuhan ke atas pakaian Bi Dam itu.
Chapter 25: Please, Take Care of Yourself and Our Child, Deok Man. I Leave

2 hari kemudian. Pagi hari.
Yushin berpakaian baju perang lengkap sedang berdiri memandangi deburan ombak laut di atas anjungan kapal. Wolya datang berdiri di sampingnya dan memberi hormat. Yushin hanya menoleh diam saja lalu kembali menatap ke depan dengan wajah serius. Wolya tahu bahwa sahabatnya itu sedang memikirkan sesuatu "bagaimana keadaan luka-lukamu?"tanyanya. Yushin menoleh " sudah membaik..lenganku sudah tidak sakit lagi meski masih sulit menggerakannya untuk menggunakan pedang"jawabnya sambil menunjukkan lengannya. Wolya hanya menggelengkan kepala "bersabarlah, jangan paksakan dirimu..lagipula tabib bilang semua luka-lukamu akan pulih seperti sedia kala tapi butuh waktu untuk itu"katanya. Yushin hanya mengangguk. Melihat tingkah sahabatnya itu, Wolya semakin ingin tahu apa yang sedang dipikirnya sahabatnya itu "sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan, Yushin?"tanyanya. "hmm.. yang kupikirkan bagaimana harus menyampaikan ini kepada Yang Mulia Raja..terlebih lagi kepada Tuan Putri.. aku tak tahu harus bagaimana menyampaikan berita ini.."jawab Yushin sambil menghela napas dalam-dalam dengan wajah kusut. Wolya hanya bisa terdiam, ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Mereka hanya diam memandang laut lepas yang akan dilewati kapal mereka.

Siang hari. di Kuil.
Ditemani Soo Hye, Deok Man berjalan menuju kuil. Setibanya di sana, Deok Man membakar dupa, lalu duduk dan berdoa. "kumohon lindungilah Bi Dam agar ia bisa pulang dengan selamat, jauhkanlah ia dari segala marabahaya.."doanya berulang-ulang. Setelah berdoa cukup lama, Deok Man berdiri dan keluar dari kuil. Dalam perjalanan pulang, Deok Man melihat adanya kerumunan di halaman depan Istana, ia menghentikan langkahnya dan bertanya kepada Soo Hye yang juga melihatnya "apa yang sedang terjadi di depan Istana?"tanyanya. Soo Hye sendiri bingung, lalu ia melihat sekeliling dan menemukan pengawal berdiri di dekat situ. Ia berlari menghampirinya dan bertanya "ada apa ramai-ramai di depan Istana?" Pengawal itu menoleh dan menjawab "yang aku dengar katanya Yang Mulia Raja sedang menyambut kepulangan Panglima Yushin.." Soo Hye terkejut "apakah Tuan Perdana Menteri Bi Dam juga bersamanya?"tanyanya lagi. "mengenai hal itu aku tidak tahu.."jawab pengawal. Soo Hye mengucapkan terima kasih lalu segera berlari menghadap Deok Man. "apa katanya, Soo Hye?"tanyanya penasaran, Soo Hye masih terengah-engah setelah berlari "katanya Yang Mulia Raja sedang menyambut kepulangan Tuan Panglima Yushin.."jawabnya Deok Man terkejut lalu memegang kedua bahu Soo Hye "benarkah?apakah Bi Dam, ah maksudku Perdana Menteri ada bersama mereka?"tanyanya. " mengenai itu pengawal itu juga tidak tahu..mungkin Tuan Perdana Menteri berada di barisan paling belakang jadi tidak kelihatan.."jawab Soo Hye. Deok Man segera menarik tangan Soo Hye dan berjalan secepat ia bisa menuju halaman depan Istana. Soo Hye pun terseret "jangan cepat-cepat Tuan Putri" ujar Soo Hye. Deok Man berjalan dengan wajah penuh harap dan kebahagiaan "akhirnya kau pulang Bi Dam.."pikirnya.

Halaman depan Istana.
Yang Mulia Raja ditemani Alcheon, pejabat Istana, kasim, dan dayangnya berjalan menuruni tangga Istana. Di hadapannya Yushin beserta rombogan berlutut memberi hormat, Raja menyambut mereka "selamat datang kembali, Panglima..aku senang kau kembali dengan selamat.."katanya gembira. "terima kasih Yang Mulia"jawab Yushin. Setelah melihat para anggota rombongan Yushin dengan seksama, Raja merasa tidak melihat kehadiran Bi Dam dalam rombongan itu "dimanakah Perdana Menteri Bi Dam?aku tidak melihatnya dalam rombongan" Wolya dan Godo menengok ke arah Yushin, Yushin pun menjawab "mengenai keberadaan Perdana Menteri Bi Dam, dengan sangat berat hati, saya harus menyampaikan..."
"aah, akhirnya sampai juga..anda baik-baik saja Tuan Putri?"tanya Soo Hye terengah-engah. Ia dan Deok Man berdiri tidak jauh dari tempat Raja dan Yushin. Deok Man berusaha melihat Bi Dam dari jauh namun karena prajurit-prajurit yang di depan itu besar-besar sekali, ia hanya bisa melihat kepala Yushin saja. Lalu ia dan Soo Hye berjalan mendekat agar bisa melihat lebih jelas. Yushin menjawab "mengenai keberadaan Perdana Menteri Bi Dam, dengan sangat berat hati, saya harus menyampaikan bahwa dalam pertempuran duel melawan musuh, Perdana Menteri Bi Dam terjatuh dari tebing di tepi Laut Kowon..dan sampai sekarang kami belum bisa menemukannya..kami tidak tahu bagaimana keadaan beliau, tapi saya akan segera mengirim orang untuk mencarinya di sana.."
Mendengar itu, Deok Man sangat shock. Soo Hye pun juga terkejut mendengarnya. "dalam pertempuran melawan musuh, Perdana Menteri Bi Dam terjatuh dari tebing di tepi Laut Kowon..dan sampai sekarang kami belum bisa menemukannya..kami tidak tahu bagaimana keadaan beliau" kata-kata Yushin itu terngiang-ngiang terus dalam pikiran Deok Man. Tanpa sadar air matanya mengalir tak hentin-hentinya membasahi pipinya "tidak..tidak mungkin..Bi Dam.."gumamnya gemetar. Pemandangan di depan matanya perlahan mulai kabur dan menjadi gelap, rasanya seketika itu juga kedua kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Deok Man jatuh pingsan. "TUAN PUTRI..."teriak Soo Hye sambil menahan tubuh Deok Man. Semua orang yang ada di situ, baik Yang Mulia Raja maupun Yushin menoleh ke arah suara teriakan Soo Hye dan segera berlari menghampirinya.

Kamar Putri Deok Man. Istana.
Deok Man membuka matanya di hadapannya, Bi Dam yang berpakaian baju perang lengkap sedang menggenggam kedua tangannya dan menatap dirinya penuh kasih sayang "jaga baik-baik dirimu dan anak kita, Deok Man.."katanya lalu mengecup keningnya. "aku pergi..."katanya. "jangan pergi Bi Dam..jangan.."seru Deok Man dalam hatinya, lalu Bi Dam melepaskan genggaman tangannya dan membalikkan badannya. "Bi Dam..Bi Dam.." panggil Deok Man berulang-ulang. Namun Bi Dam tidak menoleh dan terus berjalan meninggalkannya semakin jauh dan menghilang. "Tuan Putri?Tuan Putri?.." terdengar suara memanggilnya dari belakang
Deok Man membuka matanya perlahan. "di..dimana aku?apa yang terjadi.."gumamnya lirih. Deok Man terbaring di tempat tidurnya dalam kamarnya di Istana. "di kamar Tuan Putri di Istana"jawab Soo Hye berlutut di sisi tempat tidur Deok Man. Di sebelahnya, seorang tabib Istana memberi hormat kepada Deok Man "anda baru saja pingsan Tuan Putri.. hamba rasa anda terlalu banyak pikiran Tuan Putri dan kelelahan..tapi syukurlah kondisi badan anda dan kondisi bayi anda baik-baik saja.. hamba sarankan agar Tuan Putri tetap tenang dan beristirahat sementara waktu.."saran tabib. Deok Man mengangguk lemah. Ia mengusap perutnya "syukurlah kamu baik-baik saja, maafkan ibu ya.."gumamnya pelan lalu ia merasakan bayinya bergerak dalam perutnya. Lalu tabib itu menunduk memberi hormat dan pergi. Deok Man menoleh ke arah Soo Hye "Soo Hye, tolong panggilkan Panglima Yushin ke sini..aku ingin bertemu dengannya sekarang"katanya. Soo Hye tak berani menolak "ba..baik..Tuan Putri.." Soo Hye menunduk lalu keluar. "Bi Dam.."gumamnya. Air matanya kembali menetes.
"Panglima Yushin memasuki ruangan" kata penjaga pintu. Sambil membawa sebuah kotak berukuran cukup besar, Yushin berjalan masuk lalu menunduk kepada Deok Man yang duduk di meja bundar. "duduklah Panglima Yushin.." Deok Man mempersilahkan Yushin duduk di kursi yang ada di hadapannya. "bagaimana keadaan anda Tuan Putri?"tanya Yushin. Deok Man tersenyum "aku baik-baik saja Panglima..nah ceritakan padaku semuanya..apa yang terjadi padanya di sana.." jawab Deok Man. Yushin menatap wajah Deok Man yang tegar, ia dapat melihat adanya bekas air mata di pipinya, matanya yang memerah. Ada kesedihan yang mendalam di balik ketegarannya. Yushin menggelengkan kepala "bukannya saya bermaksud melawan perintah Tuan Putri, tapi bukankah lebih baik sekarang Tuan Putri beristirahat..hamba berjanji akan menceritakannya setelah Tuan Putri pulih benar.." "ini perintah Kerajaan Panglima, lagipula aku sangat berhak mengetahuinya..aku ini istrinya.."jawab Deok Man tegas. Ia sudah mempersiapkan hatinya untuk mendengar semuanya, baik itu kabar baik maupun buruk namun tentu saja ia sangat tidak mengharapkan Yushin akan membawa yang terakhir. Yushin pun tak bisa menolak lagi, dengan berat hati ia menceritakan semuanya "baiklah Tuan Putri, akan saya ceritakan..."
Deok Man mendengarkan cerita itu dengan penuh ketegaraan, menahan tangannya yang terus gemetar.

"...sampai pencarian terakhir, kami belum dapat menemukan beliau, tapi saya sudah mengirim 1 kelompok dipimpin Kolonel Godo ke sana untuk melanjutkan pencarian..dan di bekas tempat Perdana Menteri disekap..kami menemukan ini..dan saya yakin ini milik Perdana Menteri.."kata Yushin sambil membuka kotak yang dibawanya dan memberikannya kepada Deok Man. Melihat isi kotak itu, mata Deok Man berkaca-kaca "ini..ini baju perang Bi Dam.."gumamnya. Lalu tiba-tiba Yushin berlutut di depan Deok Man "hukumlah saya Tuan Putri..ini semua salah saya, jika saja saya tidak bodoh hingga bisa ditawan musuh tentu tak akan seperti ini jadinya "kata Yushin penuh penyesalan. Deok Man menggeleng "bangunlah Panglima..ini bukan kesalahanmu dan terima kasih Panglima atas bantuanmu..sekarang tolong tinggalkan aku sendirian.."katanya. Deok Man mengusap matanya dengan punggung tangannya, seketika itu punggung tangannya basah oleh air matanya. Yushin merasa sedih melihat kesedihan Deok Man "saya akan berusaha semaksimal mungkin mencari Perdana Menteri.." Lalu Yushin berdiri dan menunduk, lalu berjalan keluar. Dengan berat hati ia meninggalkan Deok Man sendirian. "Bi Dam.."gumam Deok Man menangis memeluk pakaian perang suaminya.
Di luar kamar Deok Man, Alcheon dan Soo Hye berdiri menunggu, mereka menunduk memberi hormat kepada Yushin. Yushin berjalan menghampiri mereka. "besarkah kemungkinan Perdana Menteri masih hidup?"tanya Alcheon. Soo Hye mengangguk. "aku juga tidak tahu..tapi aku yakin Perdana Menteri masih hidup selama kita belum menemukan jasadnya"jawab Yushin. Mereka diam semua. "saya akan menjenguk Tuan Putri,permisi.."kata Soo Hye memcah keheningan berjalan melewati Yushin. Yushin menahannya "Tuan Putri meminta untuk ditinggalkan sendiri..biarkanlah sebentar lagi.."katanya. Soo Hye mengurungkan niatnya, ia ikut sedih memikirkan kondisi Deok Man "kuatkan hati anda Tuan Putri.."gumamnya.

Malam hari. Kamar Putri Deok Man, Istana.
Soo Hye membuka pintu kamar tuan putrinya itu pelan-pelan. Deok Man nampak tertidur lelap. Lalu Soo Hye jalan perlahan-lahan untuk membawakan makan malam. Deok Man terbangun membuka matanya "Soo Hye..."panggilnya. Soo Hye menoleh dan memberi hormat "ya Tuan Putri?"jawabnya. "aku ingin pulang ke kediamanku malam ini..."gumam Deok Man. Soo Hye berjalan mendekat dan berlutut di samping ranjang Deok Man "kondisi anda masih lemah Tuan Putri ..Yang Mulia Raja meminta agar Tuan Putri untuk tinggal di Istana untuk malam ini agar Tuan Putri bisa beristirahat dan segera pulih..dan Yang Mulia Permaisuri mengirimkan sup ayam jamur agar Tuan Putri cepat sehat.. Yang Mulia Raja dan Permaisuri sangat mengkhawatirkan kondisi Tuan Putri.. dan.. sa..saya pun juga demikian.."katanya. Deok Man tersenyum lemah "terima kasih Soo Hye.." katanya. Soo Hye tersenyum "nah sekarang Tuan Putri harus makan..sup ayam jamur ini sangat enak dan bergizi lho.."katanya dengan nada semangat. Deok Man tertawa kecil melihat mimik wajah Soo Hye "baiklah..aku akan memakannya"katanya. Deok Man pun bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju meja bundar di tengah kamar. Ditemani Soo Hye, ia menyantap sup itu.
Chapter 24 : I Can See You're Smiling at Me eventhough You're Not Here Beside Me

Keesokan harinya. Kowon.

Pagi-pagi buta, Yushin sudah mengadakan apel pagi . Hanya saja pada apel kali ini, Yushin dan para prajurit lainnya memakai pakaian rakyat biasa agar tidak menarik perhatian. Dari 30 prajurit yang berangkat bertempur, tinggal 15 orang yang sehat, 8 orang terluka parah dan 7 orang meninggal. Untuk mengenang jasa mereka yang telah meninggal, Yushin ikut turun tangan memakamkan mereka. Pada apel pagi kali ini, Yushin memilih 12 pasukan yang sehat yang akan mencari Bi Dam sedangkan 3 orang lainnya bertugas merawat yang terluka. 12 orang tersebut dibagi menjadi 3 kelompok yang dipimpin Wolya, Godo, dan Yushin sendiri, dibantu mata-mata Kerajaan, ketiga kelompok itu berpencar mencari Bi Dam.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Deok Man melihat Bi Dam berpakaian perang lengkap berdiri di hadapannya menggegam kedua tangannya lalu mengecup keningnya "jaga anak kita baik-baik, Deok Man.." bisiknya. "Bi Dam?" Deok Man membuka matanya perlahan. Ia menoleh ke sampingnya yang kosong, tempat suaminya biasa berbaring menyambutnya di pagi hari. "kami menunggumu di sini Bi Dam..cepatlah pulang.." gumamnya. Lalu ia duduk dan mengusap perutnya yang berbunyi. "hmm..lapar ya?sebentar ya.." katanya tersenyum sambil mengusap perutnya. Ketika Deok Man akan turun dari tempat tidurnya, terdengar suara dari balik pintu "Tuan Putri?apakah Tuan Putri sudah bangun?hamba membawakan sarapan untuk Tuan Putri.."kata Soo Hye "masuklah"jawab Deok Man. Soo Hye berjalan hati-hati, kedua tangannya membawa nampan. Diletakannya nampan itu di atas meja, dan satu persatu mangkuk yang dibawanya dibuka. Deok Man bangun dari tempat tidurnya dan duduk di depan meja. Deok Man mengambil sendoknya dan bersiap makan "hmmm..bubur ayam jamur dan sayur daging"gumamnya. Soo Hye berdiri memeluk nampannya tersenyum senang melihat kondisi Tuan Putrinya sudah membaik. Deok Man memperhatikan tingkah dayangnya itu "kenapa Soo Hye?apa ada yang aneh?"tanyanya heran. "ah saya hanya senang melihat Tuan Putri menyantap masakan saya dengan lahap..oh ya Tuan Putri apakah hari ini Tuan Putri ingin belajar bermain sitar?Tuan Suk Ho menanyakannya..lagipula senar sitar yang putus sudah saya ganti" jawab Soo Hye. "tentu saja aku mau..beritahu guru bahwa hari ini aku akan belajar dengannya.."jawab Deok Man semangat. "baik Tuan Putri"jawab Soo Hye.

Sore hari. Kowon.
Wolya berjalan menghampiri Yushin. Mereka sedang berada di salah satu desa nelayan di tepi Pantai Kowon. Yushin menoleh ke arah Wolya "Bagaimana apa kau berhasil menemukannya?"tanyanya Wolya menggeleng "kami sudah berusaha berlayar mendekati lokasi tempat Bi Dam jatuh, namun ombak dan anginnya sangat besar, kapal kami nyaris karam.."katanya. Yushin menunduk memasang wajah muram "aku juga sama..kata nelayan di sini, mereka tidak melihat mayat atau tubuh yang hanyut kemarin..aku harap Godo akan membawa berita baik.."katanya. Tak lama kemudian, Godo muncul. Wajahnya nampak muram. Ia menunduk memberi hormat kepada Yushin dan Wolya "hasilnya nihil Panglima, kami sudah bertanya ke berbagai tempat tapi tak satupun orang yang menemukan orang hanyut dari pantai..apa jangan-jangan kata mereka itu benar?"katanya muram. "apa itu?"tanya Wolya. "kata nelayan yang di pantai tadi, jika tubuhnya tidak terdampar di pantai, berarti orang itu sudah mati tenggelam di tengah laut apalagi di saat cuaca buruk seperti ini.." air mata Godo menetes. "tapi aku tidak mau mempercayai katanya.."teriaknya lalu ia berusaha menghapus air matanya. Yushin menepuk-nepuk bahu Godo. "apa rencanamu selanjutnya Yushin?kau harus segera pulang..kau harus mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi.." Mendengar itu, Godo berang terhadap Wolya "Jenderal, mengapa kau berkata demikian? Perdana Menteri belum ditemukan..kita tak boleh meninggalkannya..apa Jenderal tidak peduli dengannya?"katanya sambil maju menggertak Wolya namun Yushin berhasil menahannya. Wolya diam berjalan tenang mendekat, tiba-tiba membentak Godo"kau kira aku tak peduli dengannya hah?!aku juga peduli..tapi kepentingan Shilla lebih penting..bagaimana jika Goguryo dan Bakje tiba-tiba menyerang Shilla di saat pemimpin perangnya tidak ada?apa kau pikirkan itu?Tentu Perdana Menteri mengerti itu... kau ingat kan perintah terakhirnya apa?"bentaknya. Godo hanya terdiam. Wolya menoleh ke arah Yushin "jadi Panglima apa keputusanmu?" Yushin menghela napas, berat baginya untuk membuat keputusan ini. "aku tahu ini sangat berat bagimu Godo, Wolya..aku pun juga merasa sangat berat melakukan ini.." Godo mengangguk sambil menyeka air matanya dengan lengan bajunya. " tapi kita harus bergerak sesuai rencana awal..dan kita akan lakukan pencarian terakhir hari ini dan bersiap pulang..Wolya, Godo, persiapkan pasukan"katanya. "baik" kata Godo dan Wolya menunduk memberi hormat. Yushin segera menaiki kudanya dan memandang laut yang terbentang di hadapannya "maafkan aku Bi Dam.."pikirnya. Lalu ia memacu kudanya pergi.

Malam hari Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Deok Man duduk di tempat tidurnya, membaca puisi karya suaminya itu berulang kali. Setelah selesai, ia memasukannya kembali ke dalam amplopnya dan menyimpannya dalam kotak di lemarinya, lalu berbaring di tempat tidurnya dan memejamkan matanya. "meskipun kau tak bisa melihatku..kuharap kau tahu bahwa aku juga selalu mencintaimu, Bi Dam” gumamnya dalam hati. Dalam angannya ia dapat melihat Bi Dam tersenyum kepadanya dan mendengarnya memanggil namanya "Deok Man..Deok Manku.."panggilnya. Deok Man tersenyum “selamat tidur, Bi Dam.."gumamnya sebelum tidur.
Chapter 22: BI DAM!!

Keesokan harinya. Pagi hari.
"kau yang membunuh adikku bukan?"bentak seorang bertubuh tegap dengan pakaian perang. "jika iya memangnya kenapa? aku hanya melindungiku negaraku, harusnya kau melarang adikmu itu ikut perang jika tak mau ia terbunuh.."jawab Bi Dam yang berlutut terikat acuh tak acuh. Sekujur badannya penuh luka bekas cambuk dan di wajahnya banyak lebam bekas pukulan. Lalu Bi Dam pun dipukul oleh prajurit di sebelahnya. "beraninya kau menjawab demikian kepada Jenderal." Lalu orang yang dipanggil Jenderal tersebut menghunuskan pedangnya bersiap menebas Bi Dam dan...
"Bi Dam.. Bi Daam.."teriak Deok Man. Deok Man terbangun dari tidurnya dengan napas tersenggal-senggal. Soo Hye yang tertidur di atas meja dekat Deok Man kaget dan terbangun, lalu menghampiri Deok Man. "ada apa Tuan Putri?apa anda bermimpi buruk?silahkan minum air dulu Tuan Putri.. "ujar Soo Hye sambil berusaha menenangkan dan membawakan Deok Man minum. Deok Man mencoba untuk tenang lalu minum. "mimpi buruk itu lagi.."gumamnya. "tenanglah Tuan Putri itu hanya mimpi.."Soo Hye menenangkan Deok Man. Deok Man mengangguk "aku harap juga begitu Soo Hye..hari ini aku akan ke kuil..tolong beritahu guru bahwa beliau tak perlu mengajar hari ini.."pintanya. "baik Tuan Putri"jawab Soo Hye. Lalu ia memberi hormat dan berjalan keluar kamar. Deok Man menghela napas menutup wajahnya dengan satu tangannya "Bi Dam.."gumamnya gemetar.

Hutan di timur Kowon.
Yong Li menghunus pedangnya lalu menebaskan pedangnya di depan wajah Bi Dam. "aku akan mengakhiri hidupmu hari ini."katanya. Bi Dam hanya diam saja. Tangannya sedang mencoba mengambil sesuatu dari belakang pinggangnya.

Penginapan di Kowon.
Di luar penginapan, Wolya, Godo, dan Yushin sudah berpakaian perang lengkap dan duduk di atas kuda mereka, di hadapan mereka 30 orang pasukan sudah siap bertempur. "Kita berangkat"teriak Wolya. Lalu mereka semua berangkat ke hutan tempat Bi Dam berada.

Hutan di timur Kowon.
"lapor Jenderal, ada 3 kelompok pasukan menuju kemari.."lapor seorang prajurit kepada Yong Li. Yong Li geram "apa?pasukan siapa?siapa yang memimpin mereka?"bentaknya. Prajurit itu gemetar "jika saya tidak salah, mereka itu pasukan Shilla..mereka dipimpin oleh 3 orang yang kita buang kemarin..nampaknya mereka itu memang pimpinan mereka karena bajunya berbeda dari pasukan biasa"jawabnya. Yong Li semakin geram "bunuh mereka jangan sampai mereka membebaskan dia"bentaknya sambil menunjuk Bi Dam. Lalu Yong Li berdiri di hadapan Bi Dam "rupanya mereka bukan hanya pengawal biasa ya?"tanyanya geram. Bi Dam hanya tersenyum lemah dan menatap Yong Li "aku ingin pulang..lepaskan aku.."jawabnya. Yong Li naik pitam lalu menghajar Bi Dam dengan gagang pedangnya hingga ia pingsan. "bawa dia ke tempat eksekusi.."teriak Yong Li pada salah seorang pasukan.

Istana.
Deok Man ditemani Soo Hye berjalan menuju kuil. Di persimpangan jalan, mereka bertemu Alcheon. Alcheon menunduk memberi hormat "maaf Tuan Putri bukan saya bermaksud lancang, bukankah Yang Mulia Permaisuri meminta anda untuk tidak bekerja sementara ini?"tanyanya sopan. "aku hanya mau pergi ke kuil, Alcheon.." Deok Man tersenyum lalu kembali berjalan. Alcheon menunduk "baiklah Tuan Putri, saya permisi dulu Tuan Putri"lalu Alcheon berjalan. Tiba-tiba Deok Man berhenti "Alcheon?" Alcheon menoleh "Ya Tuan Putri.."jawabnya. "apakah sudah ada kabar tentang Panglima Yushin atau Perdana Menteri?"tanya Deok Man. "belum Tuan Putri..jika ada kabar, saya akan segera menyampaikannya pada Tuan Putri"jawab Alcheon. Deok Man tersenyum "terima kasih Alcheon" lalu kembali berjalan.

Hutan di timur Kowon.
"serang mereka"teriak Wolya. Pasukannya segera bergerak menuju markas Yong Li. Pasukan Yong Li juga tidak tinggal diam. Mereka menyerang balas pasukan Shilla. Pertempuran dimulai.
Dengan 2 anak panah sekaligus, Wolya memanah musuh dari atas kudanya. Godo dengan gada besarnya menghempaskan para prajurit Yong Li. Meski bahu kanannya terluka, Yushin tetap piawai memainkan pedang dengan tangan kirinya. "dimana Bi Dam dan Yong Li?"pikirnya, lalu ia memacu kudanya menuju bangunan tempat ia dulu pernah disekap. Setelah mengalahkan beberapa prajurit musuh, Yushin mendobrak masuk "braaak" namun kosong tak ada siapa-siapa. Tak lama kemudian, Wolya muncul "Bi Dam tak ada di sini"katanya terengah-engah. Yushin geram lalu mengacungkan pedangnya di leher prajurit yang masih hidup "dimana Bi Dam?jawaab!!"gertaknya. Prajurit itu gemetar "aa..ampun Tuan, setahu saya, tawanan itu dibawa Jenderal ke tempat eksekusi, yakni tebing di utara sini." Yushin bertukar pandang dengan Wolya, lalu mereka segera berlari keluar dan menunggangi kuda mereka menuju utara.

Menjelang siang. di Kuil
Deok Man duduk, membakar dupa, dan berdoa."kumohon lindungilah Bi Dam, jangan biarkan bahaya mengancam hidupnya..bimbinglah ia agar bisa menolong Yushin dan pulang ke sini dengan selamat.."gumamnya berulang. Setelah berdoa cukup lama, Deok Man berdiri dan berjalan keluar dimana Soo Hye sudah menunggunya.

Tebing tempat eksekusi
"byuur" Bi Dam yang pingsan diguyur seember air oleh bawahan Yong Li. "dimana ini?"gumamnya sambil melihat sekeliling. Ia terikat di sebuah kursi di tepi tebing dan jauh dibawahnya laut yang luas dengan ombak besar menantinya, hanya ada dia, Yong Li dan 25 orang pasukan jika dia tak salah menghitung. "di tempat dimana hidupmu akan berakhir"kata Yong Li yang berdiri di hadapan Bi Dam. Yong Li menghunus pedangnya lalu memain-mainkannya. "aku akan membagi kepalamu jadi dua, dan menendang mayatmu ke laut..dengan begitu adikku akan bahagia di Surga.."katanya. Bi Dam menoleh "adikmu masuk Surga?huh..tidak mungkin.."jawabnya sambil membuang ludah bercampur darah ke tanah. Yong Li geram dan emosi lalu menebas pedangnya tepat di atas kepala Bi Dam "mati kau!!"teriaknya.
Yushin dan Wolya memacu kudanya secepat mungkin. "ayo..cepat..cepat.."kata Yushin memacu kudanya. "itu mereka.."kata Wolya sambil menunjuk ke depan. Lalu Wolya menyiapkan 3 anak panahnya untuk ditembakkan. "sraaat" Bi Dam menahan pedang itu dengan mengapitnya kedua telapak tangannya lalu menendang Yong Li hingga ia jatuh. "kau!!"katanya geram. Bi Dam mengalungkan Soyopdo di lehernya "pelindung dari istriku.." katanya sambil memamerkan giginya yang putih. Tiba-tiba 3 anak panah melesat mengenai 2 pasukan Yong Li, disusul bunyi derap kuda. "Bi Dam"teriak Yushin. "hei aku di sini"teriak Bi Dam sambil melambaikan kedua tangannya. Yong Li semakin geram "bunuh mereka berdua..aku akan membunuh dia"perintahnya. "baik Jenderal"jawab pasukan. Lalu pasukan itu menyerang Yushin dan Wolya. Yong Li menghunus pedang miliknya yang lain, Bi Dam sudah bersiap dengan pedang yang ia rebut. "haiik.."teriak Yong Li maju menyerang Bi Dam, "traaang" Bi Dam menahan serangannya. Duel pedang dimulai.
Karena diserang bergerombol dan kondisi badan belum pulih, Yushin terjatuh dari kudanya. "Yushin"teriak Wolya. Yushin pun bangun. Ia bersama Wolya melawan pasukan Yong Li yang tersisa.
"bruuk"Bi Dam terjatuh. Yong Li berusaha menikam Bi Dam. Bi Dam berguling menghindar dan bangun lalu menyerang balik. Yong Li menahan serangan Bi Dam "traaank" pedang Bi Dam dan Yong Li patah bersamaan. Karena patah, mereka membuang pedangnya dan berkelahi dengan tangan kosong. Yong Li meninju Bi Dam dengan tangan kirinya, Bi Dam menghindar ke kiri dan menahan tangan kiri Yong Li lalu menendang perutnya dengan lutut kanannya. Bi Dam terus menyerang Yong Li bertubi-tubi hingga ke ujung tebing. Yong Li berusaha membalas tapi sia-sia. Lalu dengan satu pukulan Bi Dam, Yong Li hilang keseimbangan dan terjatuh dari tebing. Bi Dam menepuk kedua tangannya lalu membalik badannya. Dilihatnya Wolya dan Yushin sudah hampir selesai dengan kesibukan mereka. "hei, kalian butuh bantuanku tidak?aku sudah selesai.."teriak Bi Dam sambil melambaikan tangan. "bruuk"musuh terakhir berhasil dijatuhkan Yushin. Lalu ia dan Wolya berjalan ke arah Bi Dam. "kami juga sudah"jawab Yushin.
Bi Dam melangkahkan kakinya berjalan menuju Yushin, namun muncul tangan dari arah tebing menarik kakinya kuat-kuat. Yong Li masih hidup berpijak di celah-celah tebing. Bi Dam kehilangan keseimbangan dan jatuh terseret menuju tebing "aargh.."erangnya. "kau akan ikut ke neraka bersamaku Bi Dam hahaha"teriak Yong Li karena batu pijakannya rapuh, ia pun jatuh dengan tangannya masih menarik Bi Dam. Bi Dam ikut terseret jatuh.
"Bi Daam!!"teriak Wolya dan Yushin. Mereka melompat, menjatuhkan diri, dan mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Bi Dam di ujung.
Namun terlambat. Bi Dam ikut jatuh ke laut bersama Yong Li.
"BI DAAM"teriak Yushin melihat Bi Dam hilang disapu ombak besar.

halaman Istana.
"DUG" Deok Man menghentikan langkahnya, wajahnya mengernyit, tangan kanannya menahan sakit begitu hebat yang tiba-tiba muncul di dadanya, tangan kirinya menarik lengan baju Soo Hye yang berdiri di sampingnya. "sesuatu yang buruk terjadi...Bi Dam.."gumamnya gemetar. "a..ada apa Tuan Putri?dada anda sakit?anda merasa sesak?"tanya Soo Hye sambil berusaha menuntun Deok Man duduk di gazebo halaman Istana dekat situ. Deok Man duduk bersandar di kursi. Lalu ia menarik napas dan membuangnya perlahan, mencoba untuk tenang "itu hanya perasaanku..Bi Dam pasti baik-baik saja..hanya perasaanku.."pikirnya berulang-ulang. "Tuan Putri?"tanya Soo Hyee. Deok Man menoleh "aku baik-baik saja Soo Hye..ayo kita pulang.." Soo Hye melihat tangan Deok Man masih gemetar "Tuan Putri, tangan anda gemetar.." Deok Man mengepalkan tangannya yang gemetar menahan perasaan yang tercampur aduk ketakutan, kesedihan, dan khawatir dalam hatinya. Deok Man berusaha bangun dari duduknya "tak apa-apa..ayo kita pulang". Lalu mereka berjalan perlahan keluar dari gazebo.
Chapter 21: Are you alright, Bidam?

Keesokan harinya. Wonsan.
Bi Dam, Wolya, dan Godo bangun pagi-pagi buta dan bersiap-siap berangkat. "semua sudah siap?"tanya Bi Dam. Wolya dan Godo mengangguk. Bi Dam menaiki kudanya "bagus.. kita berangkat sekarang.." Wolya dan Godo juga menaiki kuda mereka masing-masing. Lalu mereka bersama-sama berangkat ke Kowon.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Deok Man sedang menikmati sarapannya di ruang makan. Dengan lahap, ia menyantap itu semua. Selesainya makan, Deok Man menunduk dan mengusap perutnya "kau memang mirip ayahmu ya dalam hal makan."katanya sambil tersenyum. Lalu Soo Hye masuk ke ruang makan dan menunduk memberi hormat. Deok Man menoleh ke arah Soo Hye dan bertanya "ada apa Soo Hye?" "maaf Tuan Putri.. Guru Sitar Tuan Putri sudah datang.."jawab Soo Hye. "oh ya, persilahkan ia menunggu di gazebo..aku ingin belajar di sana..dan tolong persiapkan sitarku di sana ya.."kata Deok Man. "baik Tuan Putri..hamba laksanakan"Soo Hye tersenyum memamerkan giginya. Deok Man bangkit dari duduknya keluar ruangan menuju gazebo.

Gazebo.
Deok Man berjalan memasuki gazebo. Seorang pria setengah baya dengan rambut dan janggut hampir memutih semua sudah menunggunya. Guru sitarnya menunduk memberi hormat dan memperkenalkan dirinya
"selamat pagi Tuan Putri, nama saya Suk Ho..saya akan berusaha semaksimal mungkin mengajar Tuan Putri..mungkin bisa kita mulai sekarang Tuan Putri?" Deok Man juga menunduk memberi hormat pada guru barunya "ya guru.." Lalu Suk Ho mengajarkan Deok Man mengenai posisi jari kedua tangan, nada-nada dasar, dan teknik bermain dasar. Deok Man memperhatikan petunjuk gurunya dengan sungguh-sungguh. "nanti aku akan bermain sitar menemanimu bermain seruling, Bi Dam.."pikirnya.

Siang hari. di Kowon.
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, Bi Dam, Wolya, dan Godo tiba di Kowon. Kowon adalah kota kecil yang terletak di atas bukit tepi laut. Sama seperti Wonsan, Kowon juga kota perdagangan sehingga kota itu dipenuhi para pedagang. Bi Dam, Wolya, dan Godo berdiri di depan gerbang kota sambil menuntun kuda mereka"mungkin lebih baik kita singgah di kedai dekat sini dulu sambil memikirkan rencana berikutnya."ujar Wolya. "ya.."kata Bi Dam. Lalu mereka berjalan menuntun kuda mereka menuju kedai terdekat. Di belakang mereka, 3 orang mengawasi mereka.
Setelah menambatkan kuda mereka. Mereka memasuki kedai itu. Kedai itu cukup ramai dipenuhi para pedagang yang singgah. "lebih baik kita mulai rencananya sekarang..aku merasa ada yang mengikuti kita..ingat sandi kita"bisik Bi Dam. Mereka mengangguk. Lalu mereka memilih duduk di antara kumpulan pedagang Timur Tengah yang ramai. Penguntit mereka bertiga kesulitan mendekati mereka bertiga namun masih bisa mendengarkan percakapan mereka. Bi Dam duduk mengangkat kedua kakinya. "Wolya.."panggilnya. "siap Tuan"jawab Wolya. "belikan aku pelindung bahu..yang terbaik"perintahnya. Lalu Wolya menunduk memberi hormat dan pergi. "Godo"panggil Bi Dam. "siap Tuan"jawab Godo. "belikan aku sepatu baru..ingat yang terbaik.."perintah Bi Dam. "baik Tuan"jawab Godo. Lalu Godo memberi hormat dan pergi. Bi Dam menyandarkan kepalanya di kursi sambil menegak minuman. Tak jauh darinya, 3 penguntit yang menyamar itu berunding. "kau awasi yang bernama Wolya dan kau awasi yang bernama Godo, aku akan mengawasi Bi Dam ini"kata salah satu dari mereka. "baik"jawab 2 lainnya.

Tengah hari. Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
"luar biasa Tuan Putri..luar biasa..belum pernah ada murid baru yang mampu menguasai teknik dasar secepat ini"puji Suk Ho. "ini semua berkat bimbingan guru"jawab Deok Man merendah. Lalu Soo Hye datang ke gazebo menunduk memberi hormat "maaf Tuan Putri, makan siang sudah siap.."katanya. "baiklah.."jawab Deok Man. Deok Man menoleh ke arah gurunya "Guru bisakah kita melanjutkan pelajaran setelah kita makan siang?" Suk Ho"apakah Tuan Putri tidak merasa lelah?jika Tuan Putri masih ingin dan sanggup melanjutkan, tentu dengan senang hati saya mengajarkan." "saya belum merasa lelah guru..saya ingin melanjutkan pelajaran ini.."jawab Deok Man. "baiklah..mungkin 4 kali latihan lagi cukup untuk hari..anda tidak boleh terlalu lelah Tuan Putri"jawab Suk Ho. "terima kasih guru..mari guru ikut saya..kita makan siang bersama"ajak Deok Man. Suk Ho menunduk "terima kasih Tuan Putri" Lalu Deok Man dan Suk Ho berjalan meninggalkan gazebo menuju ruang makan.

Kowon.
Wolya disusul Godo sudah kembali membawakan pesanan Bi Dam. Para penguntit mereka juga sudah kembali. Orang yang menguntit Wolya melapor "saya tidak menemukan ada yang aneh dari tingkah Wolya. Ia hanya pergi membeli sepasang pelindung bahu, memakan apel, dan tak sengaja menabrak pedagang Timur Tengah saat berjalan kemari..saya rasa ia memang seorang bawahan biasa saja"tak lama kemudian orang yang menguntit Godo tiba dan melapor "tak ada yang aneh dengan Godo...ia hanya membeli sepatu dan menonton atraksi api di pasar sebentar" "hmm..begitu..aku juga sama..tak ada yang aneh dengan Bi Dam..kau laporkan ini pada Jenderal"perintah orang yang menguntit Bi Dam. "baik"kata orang yang menguntit Godo. Lalu 2 penguntit lainnya kembali mengawasi Bi Dam, Wolya, dan Godo yang sedang menikmati minuman mereka.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Setelah makan siang, Deok Man dan Suk Ho kembali melanjutkan pelajaran mereka. Latihan keempat pun selesai, lalu Suk Ho merapikan sitarnya. Deok Man sendiri masih duduk memainkan sitarnya lalu ia mencoba memainkan lagu karya Bi Dam dengan sitarnya, meskipun ada nada-nada yang salah ia tidak menyerah. Suk Ho berhenti merapikan sejenak dan mendengarkan "lagu apa itu Tuan Putri?melodinya sangat indah" Deok Man menoleh "ah ini lagu yang diciptakan Perdana Menteri Bi Dam..ia bisa memainkannya jauh lebih baik dariku dengan serulingnya"jawab Deok Man. "melodinya sangat indah..nah Tuan Putri, sekarang saya pamit undur diri..pelajaran bisa kita lanjutkan besok..jangan lupa untuk beristirahat Tuan Putri..saya permisi dulu"kata Suk Ho sambil memberi hormat. Deok Man juga menunduk "terima kasih guru"katanya. Lalu Deok Man kembali mencoba memainkan lagu itu lagi.

Hutan di timur Kowon.
Orang yang menguntit Godo melapor "lapor Jenderal, musuh sudah tiba..ia ke sini ditemani 2 bawahannya..kami sudah memata-matainya dan tidak ada yang mencurigakan.." Jenderal Yong Li bangkit dari duduknya "bagus..waktunya hampir tiba..pasukan persiapkan semuanya.."perintahnya. "baik Jenderal"jawab pasukan. Lalu Jenderal Yong Li berjalan ke arah bawah pohon. Di sana, Yushin yang sudah babak belur dan tak sadarkan diri terikat. Jenderal Yong Li berlutut di depan Yushin lalu menjambak rambutnya "nampaknya mengumpankan dirimu berhasil..kalau kau mau menyalahkan orang atas luka-lukamu ini..salahkan orang yang bernama Bi Dam..ia yang menyebabkanku berbuat demikian padamu" lalu Jenderal Yong Li tertawa puas.

Sore hari. Kowon.
Bi Dam, Wolya dan Godo bangkit berdiri dari duduknya. Godo memanggil pelayan, membayar minuman mereka, dan meminta pelayan meminjamkan ruangan kosong untuk mereka. Lalu pelayan itu menunjukan ruang kosong dan meninggalkan mereka. Mereka bertiga masuk ke ruangan itu. Di dalam mereka berganti pakaian menjadi baju perang. "Wolya, Godo? Wolya dan Godo menoleh "ya?"jawab mereka. Lalu Bi Dam membisikkan sesuatu pada mereja. "kalian mengerti?"tanya Bi Dam sambil mengikat ikat pinggangnya, "baik.."jawab Wolya dan Godo enggan. Para penguntit berusaha mendengarkan dari balik namun tak ada suara. Ketika ada suara kaki mendekat, mereka pergi. Bi Dam, Wolya, dan Godo sudah berganti pakaian. Bi Dam dengan baju perangnya yang berwarna hitam legam, sedangkan Wolya dan Godo mengenakan pakaian pengawal biasa. Para pedagang dan tamu di kedai itu memandang mereka aneh dan heran pakaian mereka. Lalu mereka bertiga keluar dari kedai itu dan menaiki kuda mereka menuju hutan di timur Kowon.

Hutan Timur Kowon.
Hutan Timur Kowon terletak di tepi bukit dekat laut yang tidak jauh dari kota Kowon. Bi Dam, Wolya, dan Godo berjalan memasuki hutan. Sunyi sekali suasananya.
Matahari hampir tenggelam. Mereka sudah hampir memasuki tengah hutan. "kami ingin membebaskan Panglima Yushin..keluarlah"teriak Godo. Tak ada balasan suara. Hanya suara langkah mereka. Godo berteriak lagi berulang-ulang sambil berjalan. Ketika mereka sedang berjalan di sebuah pohon besar, tiba-tiba sebuah jaring rantai jatuh ke atas mereka dan menjerat mereka, lalu sekelompok orang berpakaian hitam memukuli mereka dengan kayu hingga pingsan. Orang berpakaian hitam itu mengikat mereka lalu membawa mereka.

Tempat persembunyian Jenderal Yong Li.
"byuuur" Bi Dam, Godo, dan Wolya terbangun karena disiram air oleh salah seorang bawahan Yong Li. Mereka duduk sebelah menyebelah di atas kursi yang berbeda dengan tangan dan kaki terikat. Di hadapan mereka, Yong Li yang tersenyum licik duduk di hadapan mereka. Lalu Yong Li bangkit dari duduknya, berjalan dan berdiri di depan Bi Dam. Lalu ia mengacungkan pedangnya "kau itu bodoh ya?atau tak bisa membaca?aku memintamu datang sendiri!kenapa kau bawa mereka.."bentaknya. Bi Dam tak memandang Yong Li, ia hanya menatap ke depan "kau kah yang bernama Yong Li? aku butuh mereka untuk membawa Panglima Yushin..sekarang dimana dia?bebaskan dia.."jawabnya datar. Yong Li menampar Bi Dam dan membentaknya "berani sekali kau memerintahku..Yushin ya?dia ada di sana.."tunjuknya. Wolya dan Godo melihat ke arah yang ditunjuk. Mereka bertiga terperangah melihat kondisi Yushin dan Godo berteriak "Panglima Yushin!" lalu salah seorang penjaga memukul Godo. Yushin yang setengah sadar menoleh ke arah suara yang dikenalnya. Ia melihat Bi Dam, Wolya, dan Godo. "Godo...Wolya..Bi Dam..."rintihnya. "Yushin!" teriak Bi Dam, segera Yong Li memukul wajah Bi Dam dengan gagang pedangnya. Bi Dam menatap Yong Li "bebaskan mereka..mereka tak ada kaitannya"katanya. Dan Yong Li meninju perut Bi Dam.
Malam hari.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Deok Man sedang membaca bukunya ditemani Soo Hye di ruang baca, namun yang dilakukan Deok Man hanya membolak-balik halaman dengan tatapan tak tertuju ke buku dihadapnya. "ada apa Tuan Putri?anda baik-baik saja?" tanya Soo Hye khawatir melihat tingkah laku Deok Man.
"aku tak tahu Soo Hye..dari tadi sore, aku terus merasa gelisah, tidak bisa tenang dan perasaan gelisah ini semakin menjadi-jadi.."jawabnya sambil mengelus dada. Soo Hye menenangkan Deok Man "tenang Tuan Putri.. Tenang..tarik napas..hembuskan"katanya. Deok Man mengikuti instruksinya. Lalu ia menjadi tenang. Soo Hye lalu mengambilkan sitar "bagaimana jika Tuan Putri memainkan 1-2 lagu yang tadi Tuan Putri pelajari..dengan begitu Tuan Putri akan merasa lebih baik.."hiburnya. "hmm baiklah.."jawab Deok Man berusaha tersenyum. Lalu Deok Man mencoba memainkan lagu Baramggoc lagi.

Hutan di timur Kowon.
Bi Dam menoleh dan kembali menatap Yong Li "bebaskan Yushin dan mereka berdua..mereka tidak ada sangkut pautnya."katanya. Meskipun ia berbicara dengan suara datar, mata Bi Dam penuh dengan amarah. Yong Li membalikan badannya dan memainkan pedangnya. Dan tiba-tiba, ia memukul Bi Dam tepat di perutnya. "aargh"erang Bi Dam. "baiklah..karena aku sedang senang hari ini, akan aku bebaskan mereka..tentu dengan caraku.."kata Yong Li. Lalu ia menjentikkan jarinya. Lalu Para bawahan Yong Li memukuli Godo dan Wolya hingga pingsan. Kemudian mereka membawa Yushin, Godo, dan Wolya keluar dari sana. Yong Li menatap Bi Dam lagi "nah aku sudah mengabulkan permohonan terakhirmu.."katanya. Lalu ia berbalik badan "pasukan!tanggalkan pakaiannya..aku ingin menyiksanya sampai puas"bentaknya. Lalu beberapa orang menanggalkan pakaian Bi dengan paksa, dan Yong Li sudah berancang-ancang menggunakan cambuknya. "taaash"suara cambuk terdengar.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
"taaash"suara senar sitar putus. "aduuh" Deok Man mengernyit menahan sakit di jari telunjuknya kanannya. Soo Hye segera menggenggam jari telunjuk Deok Man "apakah jari Tuan Putri terluka?sini hamba lihat" Jari telunjuk kanan Deok Man memerah tapi tak berdarah. Deok Man tersenyum melihat tingkah dayangnya ini "hanya merah Soo Hye..tidak berdarah.." Lalu Soo Hye memeriksa seksama sitarnya "aneh..sepertinya senarnya masih bagus"katanya heran. Lalu ia menatap ke arah Deok Man. Muncul perasaan tidak enak lebih dari sekedar gelisah di hati Deok Man. Rasanya sesak sekali hatinya ini. Namun ia mencoba untuk tetap tenang dan tegar "Bi Dam.."gumamnya pelan. menahan dadanya dengan tangannya. Soo Hye menghampiri Deok Man lebih dekat "ada apa Tuan Putri?anda baik-baik saja? "tanyanya khawatir. "aku baik-baik saja Soo Hye. hanya saja tiba-tiba perasaanku sangat tidak enak Soo Hye..rasanya seperti dihantam batu besar..."gumam Deok Man. Tangan Deok Man gemetar. Soo Hye tahu apa yang sedang dipikirkan Deok Man dan berusaha menenangkannya "anda kelelahan Tuan Putri..tenanglah Tuan Putri..tidak baik untuk kesehatan bayi anda jika terlalu cemas.." Mengingat kesehatan bayinya, Deok Man berusaha untuk tenang. "nah sekarang istirahatlah Tuan Putri..berbaringlah di tempat tidur anda..anda kelelahan Tuan Putri.."Soo Hye menyarankan. Deok Man menoleh ke arah Soo Hye "aku baik-baik saja Soo Hye mungkin memang aku agak lelah..sekarang tolong buatkan teh untukku Soo Hye"sambil tersenyum. "ba..baik Tuan Putri" Soo Hye lalu pergi keluar kamar untuk membuat teh. Deok Man mencium cincin yang melingkar di jari tengahnya "aku harap kau baik-baik saja, Bi Dam"gumamnya.
Kowon.
Wolya, Godo, dan Yushin yang pingsan ditinggalkan tergeletak di jalan jauh dari hutan. "ugh..dimana ini?" erang Wolya yang baru sadar sambil memegang luka. Lalu sekelompok orang berpenampilan pedagang dan rakyat biasa datang menghampiri mereka. Mereka adalah prajurit Shilla yang menyamar untuk melaksanakan misi ini. "Jenderal.."kata salah seorang dari mereka. Lalu orang itu dipukul oleh teman di sebelahnya "sst..jangan panggil Jenderal..dia Wolya.." Wolya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. Tak lama kemudian Godo pun sadar. Lalu mereka memutuskan membawa Yushin ke penginapan terdekat untuk dirawat.

Penginapan di Kowon.
Seorang tabib sedang memeriksa dan mengobati Yushin yang masih tak sadarkan diri. Wolya dan Godo berdiri mengawasinya. Setelah pemeriksaan selesai, Tabib berbicara dengan mereka "luka-lukanya cukup parah dan bahu kanannya cedera cukup parah..beruntung semuanya bisa pulih,
tak ada organ dalam yang terluka dan semuanya sudah diobati..ini ramuan obat..diminum 3x sehari" katanya seraya memberikan ramuan obat pada Godo. Setelah mengucapkan terima kasih, Godo mengantar tabib itu keluar kamar. Wolya memandang keluar jendela lalu meniup peluit bambu kecil. Lalu nampak bayangan-bayangan hitam mendekat ke arah penginapan.
"Wolya..Bi Dam"gumam Yushin dengan suara lirih. Wolya menoleh dan segera menghampiri Yushin yang terbaring penuh perban di sekujur tubuh. "yushin.."kata Wolya. Yushin membuka matanya. "dimana aku?..mana Bi Dam dan Godo?"gumamnya. Wolya menenangkan Yushin "tenanglah..kau aman di sini..Godo akan kembali sebentar lagi.." Tok..tok.. suara pintu kamar diketuk. Wolya membukakan pintu, lalu 5 orang berpakaian hitam masuk. . "bagaimana?"tanya Wolya. Lalu salah satu dari mata-mata berbisik pada Wolya dan menyerahkan satu gulung laporan. Wolya membacanya dan meminta mereka pergi. Yushin melihat dan mengenal mereka "mata-mata Gaya?"tanyanya. Wolya mengangguk lalu ia mengambil kursi untuk di sisi Yushin. Orang-orang berpakaian hitam adalah mata-mata handal mantan anggota pemberontak Gaya, sekarang mereka bekerja untuk Shilla. Tak lama kemudian Godo masuk. "Panglima"teriaknya melihat Yushin sudah sadar lalu memberi hormat. Yushin tersenyum. "dimana Bi Dam?aku tak melihatnya dari tadi"tanyanya. Godo dan Wolya saling bertukar pandang. Lalu Wolya mencoba menceritakan semuanya. Yushin terkejut "apa?kalian biarkan Bi Dam di markas mereka?"tanyanya. "ini adalah satu rencana Bi Dam jika yang terburuk terjadi, aku juga menolak ketika mendengarnya lalu ia memintaku untuk percaya padanya maka aku mengirim mata-mata Gaya untuk mengintai saat kami ditangkap agar kami bisa mengetahui markas musuh dan menolong Bi Dam setelah kami menolongmu.."jawab Wolya. Yushin nampak gusar "apa rencana kalian?aku minta kalian bebaskan Bi Dam secepat mungkin.."ujarnya. "tentu..sebentar lagi matahari terbit..lalu kami akan bergerak.."jawab Wolya. "pasukan sudah siap Jenderal"kata Godo.
Yushin mencoba untuk bangun, Godo membantunya "aku ikut"katanya. Wolya menggelengkan kepalanya. "lengan kanan Panglima cedera dan luka-luka anda belum sembuh.."kata Godo. Yushin menghela napas dan tersenyum. "luka ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan lukaku saat kompetisi pemilihan Pungwolju..lagipula aku masih bisa bermain pedang dengan tangan kiri..meskipun kalian larang aku, aku akan tetap pergi"jawab Bi Dam tegas. Wolya hanya menggelengkan kepala dan beranjak dari duduknya "baiklah..dasar keras kepala..sekarang kau istirahatlah"katanya. Godo hanya tercengang mendengar jawaban Wolya. Lalu Wolya menarik Godo untuk ikut keluar kamar. Yushin merebahkan dirinya kembali. "kau harus selamat Bi Dam..Tuan Putri membutuhkanmu..Shilla memerlukanmu"pikirnya.
Chapter 20

2 hari kemudian. Siang hari. Di atas kapal.

Godo berjalan memasuki ruangan Bi Dam dan menunduk memberi hormat. "lapor Jenderal, sebentar lagi kita akan berlabuh di Wonsan.."lapornya. Bi Dam sedang duduk membaca daftar prajurit yang ikut dalam misinya "bagus, bergeraklah sesuai rencana"jawabnya.

Istana. Ruang Kerja Putri Deok Man.
"nah laporan hari ini selesai"kata Deok Man tersenyum lega. "Yang Mulia Permaisuri memasuki ruangan"seru penjaga pintu. Mendengar itu, Deok Man bangkit berdiri. Permaisuri berjalan memasuki ruangan. Deok Man menunduk memberi hormat. Lalu mereka berdua duduk. "Putri Deok Man, apa yang sedang Putri kerjakan di sini?bukankah lebih baik beristirahat di kediaman Putri?aku bisa meminta kepada Yang Mulia Raja untuk meminta orang lain menggantikan tugas Putri sementara waktu"tanya Permaisuri penuh perhatian. "terima kasih Yang Mulia atas perhatiannya, tapi saya rasa saya masih mampu mengerjakan semua ini dan saya dengan senang hati melakukannya.."jawab Deok Man. "tapi di usia kandunganmu yang sudah 7 bulan kau harusnya banyak beristirahat Putri.."kata Permaisuri khawatir.
"ya Yang Mulia..tentu saya juga tidak melupakan kesehatan saya.. Tabib juga sudah mengizinkan saya untuk tetap melakukan aktivitas selama itu tidak membuat saya kelelahan..jujur saya itu tidak bisa hanya berdiam diri saja di kamar dan berbaring.."jawab Deok Man.
Permaisuri hanya menghela napas dan tersenyum "hmmm..sudah kuduga kau akan menjawab demikian Putri Deok Man..aku ingin sekali bisa membantumu..kau sedang hamil dan suamimu sedang pergi membebaskan Panglima Yushin..jika kau membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk meminta padaku ya?" Deok Man menundukkan kepalanya "terima kasih banyak Yang Mulia"jawabnya.
"nah sekarang mungkin aku bisa membantumu..aku akan memanggilkan pejabat penulis laporan Istana untuk membantumu"kata Permaisuri. "tugas saya hari ini sudah selesai Yang Mulia..tapi bolehkah saya meminta tolong sesuatu?saya harap ini tidak akan merepotkan Yang Mulia.."jawab Deok Man. "tentu saja boleh..apa itu Putri Deok Man?"tanya Permaisuri. "saya ingin belajar bermain sitar tapi saya tidak tahu siapa yang bisa menjadi guru saya..apakah Yang Mulia tahu siapa yang bisa mengajarkan saya bermain sitar?" Permaisuri tersenyum "itu perkara mudah Putri Deok Man..aku akan meminta guru sitarku dulu untuk datang ke kediamanmu untuk mengajar..bagaimana?"tanyanya. "terima kasih banyak Yang Mulia..saya sangat senang mendengarnya"jawab Deok Man. "nah mulai sekarang, tugas Putri Deok Man hanya belajar bermain sitar dan beristirahat saja di rumah..sedangkan tugas ini akan kuminta Yang Mulia Raja mengambil alihnya sementara waktu..dan aku akan mengirim dayang istana untuk menemanimu..ini perintah Kerajaan Putri."kata Permaisuri sambil tersenyum puas. Deok Man agak tercengang "anda tidak perlu repot-repot Yang Mulia"jawabnya. "itu tidak merepotkanku Putri..dan sekarang aku akan ke Ruang Kerja Raja dulu..aku permisi dulu Putri.."jawab Permaisuri. Deok Man berdiri dan menundukkan kepalanya "saya sangat berterima kasih atas kebaikan dan perhatian Yang Mulia.."katanya. Permaisuri membalasnya dengan senyum lalu berjalan meninggalkan ruangan.

Wonsan.
Bi Dam, Wolya, dan Godo sudah turun dari kapal. Wonsan adalah sebuah kota di luar perbatasan Ryugu dan Shilla. Kota ini dilalui jalur perdagangan dari Timur Tengah-Asia sehingga banyak sekali pedagang di sana. Agar tidak mencolok perhatian, Bi Dam, Wolya, dan Godo sudah berganti pakaian menjadi rakyat biasa. "Godo, Wolya, kita jalankan rencana awal..."perintah Bi Dam. "siap"jawab mereka. Lalu Bi Dam, Wolya, dan Godo menaiki kuda mereka menuju Kowon. Di belakang mereka, ada 2 orang yang mengawasi mereka.

Istana.
Deok Man sedang merapikan meja kerjanya dan bersiap-siap pergi ke kuil. Lalu seorang dayang masuk ke Ruang Kerjanya dan menunduk memberi hormat kepadanya. Masih muda dan berwajah lugu. Lalu Dayang itu memperkenalkan dirinya "maaf Tuan Putri, hamba adalah dayang yang diutus Yang Mulia Permaisuri untuk melayani Tuan Putri..nama hamba Soo Hye.." Deok Man memperhatikan dayang barunya dengan seksama lalu tersenyum"baiklah Soo Hye..mulai hari ini kau akan menemaniku dan tinggal di kediamanku..nah sekarang aku ingin pergi ke kuil untuk berdoa.." . "baik Tuan Putri.."jawab Soo Hye ceria. Lalu Deok Man meninggalkan ruangannya diikuti dayangnya yang baru.

Malam hari.
Karena sudah malam, Bi Dam memutuskan untuk menepi dan bermalam di dekat sungai dekat jalur perjalanan menuju Kowon. Kemudian mereka membuat api unggun dan duduk melingkar lalu mengeluarkan makanan yang mereka beli dari Wonsan. Wolya dan Godo. Bi Dam duduk bersila menatap api unggun "apakah yang lain sudah siap?"tanya Bi Dam dengan suara pelan. Godo yang sedang melahap bakpaonya menjawab "ya..aku tadi melihat mereka sudah jalan duluan ke Kowon"jawabnya pelan. "sraak.." terdengar suara semak-semak, Bi Dam, Godo, dan Wolya siaga. Lalu dari semak-semak, ada anak panah ditembakan ke arah Bi Dam. "siuuut..jleb" untung saja Bi Dam melihat dan menghindarinya, panah itu menancap di pohon di dekatnya. Godo segera bangkit dan mengejar ke balik semak "hei siapa itu?!"teriaknya. "Jenderal, kau tak apa-apa?"tanya Wolya. "ya aku baik-baik saja" lalu Wolya mengambil panah itu, di ujungnya terikat sebuah surat dan diserahkannya surat itu kepada Bi Dam. Bi Dam mengambilnya dan membacanya "jika kau mau Panglimamu selamat datanglah ke hutan di timur Kowon sendirian menjelang petang tanpa membawa senjata." Bi Dam meremas surat itu dan membuangnya ke api unggun. Godo kembali dengan terengah-engah "orang itu larinya cepat sekali..aku gagal mengejarnya Jenderal..maafkan aku.."katanya. "tak apa"jawab Bi Dam. Lalu Wolya menceritakan semua yang ia dengar kepada Godo. "lalu apa rencanamu selanjutnya, Bi Dam?"tanya Wolya. "kita tetap melaksanakan rencana awal dan kita akan ke Kowon pagi-pagi buta besok..nah sekarang kalian istirahatlah"kata Bi Dam sambil beranjak berdiri dan berjalan. "kau mau kemana Bi Dam?"tanya Wolya. Bi Dam menoleh "hanya ke tepi sungai.."jawabnya. Di tepi sungai, Bi Dam duduk menekuk lututnya. Bi Dam memejamkan matanya"Deok Man"gumamnya. Lalu ia membacakan puisi yang ia buat untuk Deok Man.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Dalam kamarnya, di depan meja bundar, Deok Man duduk membaca ulang puisi Bi Dam untuk kesekian kali lalu menutup matanya. "Bi Dam"gumamnya. Ia bisa melihat Bi Dam berdiri di hadapnya tersenyum kepadanya lalu memanggil namanya "Deok Man..Deok Man..Deok Manku." Lalu ia membuka matanya. Tetesan hangat air mata jatuh di pipinya. Soo Hye masuk ke kamar Deok Man membawakan teh di atas nampan. "maaf Tuan Putri ini tehnya..ah Tuan Putri, anda menangis..apa ada yang sakit Tuan Putri? "kata Soo Hye menaruh nampannya. Deok Man menoleh "ah tidak Soo Hye..mataku hanya berair karena menguap tadi"jawabnya sambil menghapus air matanya. Soo Hye tahu Tuan Putri Deok Man berbohong, ia sangat mengkhawatirkan Nyonya barunya itu dengan takut-takut ia bertanya "maaf Tuan Putri, apakah Tuan Putri sedang mengkhawatirkan Tuan Perdana Menteri?" Deok Man hanya terdiam. "duh kok aku malah nanya sih?"pikir Soo Hye sambil menepak-nepak mulutnya sendiri "maafkan saya Tuan Putri, saya sudah lancang..saya akan pergi..permisi"kata Soo Hye takut-takut. Soo Hye menunduk dan membalikan badan. "ya aku memang memikirkannya Soo Hye..kau kembalilah tak apa-apa..aku tak marah padamu.."kata Deok Man tersenyum pada Soo Hye. "aduh" Deok Man tersentak kaget lalu mengusap perutnya. Soo Hye segera menghampiri Deok Man dengan khawatir "Tuan Putri, apakah Tuan Putri baik-baik saja..apakah ada yang sakit?akan saya panggilkan tabib"tanya Soo Hye khawatir lalu ia berbalik badan untuk memanggil tabib. Melihat tingkah Soo Hye, Deok Man tertawa dan memanggil Soo Hye. Soo Hye menoleh dan bingung. "Tuan Putri?"tanyanya agak takut. "aku baik-baik saja Soo Hye..bayiku menendang tiba-tiba dan aku kaget..kau panikan sekali"kata Deok Man masih tertawa geli. Soo Hye menghela napas lega, mengelus dadanya "syukurlah Tuan Putri..hamba sangat khawatir Tuan Putri kenapa-kenapa tadi.." Deok Man menarik tangan Soo Hye, memintanya untuk duduk di sampingnya. Deok Man menunduk lalu mengusap perutnya"benar..aku mengkhawatirkannya...dan anakku ini berusaha menghiburku.."katanya. Soo Hye ikut sedih melihat Deok Man "Tuan Putri..janganlah bersedih..hamba yakin Tuan Perdana Menteri pasti baik-baik saja dan akan pulang dengan selamat..."hiburnya. Deok Man tersenyum mengangguk pelan. Lalu Soo Hye juga tersenyum lalu menyodorkan tehnya kepada Deok Man "Silahkan diminum tehnya Tuan Putri..lalu tidurlah..hari sudah larut malam Tuan Putri.." "hmm..baiklah.."jawab Deok Man sambil tersenyum. Deok Man meminum tehnya sampai habis lalu berbaring di atas tempat tidurnya. Soo Hye berdiri, membereskan nampan dan cangkir tehnya. "selamat malam Tuan Putri..jika ada apa-apa panggilah saya..saya akan segera datang"kata Soo Hye. Deok Man tersenyum "ya..selamat malam Soo Hye.." jawab Deok Man. Soo Hye menunduk memberi hormat lalu pergi. Deok Man menarik selimutnya dan memejamkan matanya "selamat tidur Bi Dam'' gumanya. "mimpi yang indah Deok Man" gumam Bi Dam yang berbaring menatap langit.
Chapter 18: I'll wait you here

Bi Dam bangun dari tidurnya. Di sisinya, Deok Man masih terlelap memeluk lengan Bi Dam erat-erat. Wajah Deok Man nampak tidur dengan damai. Tak lama kemudian, Deok Man membuka matanya. "selamat pagi"sapa Bi Dam mengecup kening Deok Man. "selamat pagi juga"balas Deok Man. "kau berjanji menunjukkan sesuatu padaku Bi Dam..aku ingat itu". Bi Dam tertawa mendengarnya "iya..iya..aku ingat tapi nanti ya setelah kita mandi dan sarapan"
"baiklah..aku akan menyiapkan sarapan..kau mandilah dulu.."kata Deok Man sambil berusaha untuk bangun. Lalu mereka berdua keluar dari kamar untuk mandi dan sarapan.
Setelah mandi dan sarapan, mereka kembali ke kamar mereka. Bi Dam memakai baju perangnya dan Deok Man membantu memakainya. "nah sesuai janjiku, aku akan menunjukkan sesuatu padamu..tapi kau tunggu aku di gazebo..aku akan menunjukkannya di sana."kata Bi Dam tersenyum. Deok Man hanya bisa memasang wajah penasaran dan menuruti kemauan Bi Dam.
Deok Man pun duduk menunggu di gazebo. Tak lama kemudian terdengar alunan merdu tiupan seruling yang mendekat ke arahnya, Deok Man mencari asal bunyi tersebut. Dilihatnya Bi Dam sedang berjalan ke arahnya sambil meniup seruling. Lalu ia duduk di samping Deok Man. Deok Man sangat takjub mendengarnya. Bi Dam pun selesai bermain seruling. "nah bagaimana?"tanya Bi Dam. "aku sangat menyukainya..itu instrumen buatanmu sendiri?apa judulnya?"tanya Deok Man penasaran. "aku memberinya judul baramggoc..aku senang kau menyukainya Deok Man"kata Bi Dam. "baramggoc?lagu itu tentang apa?"tanya Deok Man. "itu seperti perasaanku padamu..sekalipun kita terpisah jarak..tidak bisa melihat, bertemu, atau memelukmu, tapi aku bisa merasakannya..aku menemukanmu ada di hatiku.. "kata Bi Dam. Deok Man memeluk erat Bi Dam "begitupula rasa cintaku padamu Bi Dam..aku bahagia mendengarnya" "aku senang kau menyukainya Deok Man.." "dan tadinya aku ingin memintamu mengiringi dengan sitar.."tambah Bi Dam tersenyum canda. "tapi kau kan tahu aku belum pernah belajar bermain sitar."kata Deok Man. "iya karena istriku ini menghabiskan masa mudanya dengan berlatih pedang dan menjadi nangdo di saat gadis seusianya belajar bermain sitar.."canda Bi Dam. Deok Man tertawa dan menjawab "baiklah aku akan belajar bermain sitar..aku harap ada guru yang bisa mengajariku." "belajarlah Deok Man..nanti kita bermain bersama.."kata Bi Dam. "ya..kita akan bermain bersama.."jawab Deok Man. Lalu Deok Man mengeluarkan sesuatu dari sakunya lalu mengalungkannya pada Bi Dam."bukankah ini soyeopdo?belati milik alm. Raja Jinheung yang sangat berharga untukmu?"tanya Bi Dam. "bawalah..aku harap ini akan melindungimu seperti ketika ini melindungi ibu dan aku.."kata Deok Man. Bi Dam menggenggam erat tangan Deok Man. "aku pasti akan pulang dengan selamat.."janji Bi Dam. Sambil menunggu suaminya dijemput, Deok Man menyandarkan dirinya pada Bi Dam. Beberapa saat kemudian, terdengar suara derap kuda dari arah pintu gerbang, kemudian seorang pelayan datang menghadap Deok Man dan Bi Dam. "maaf Tuan dan Nyonya, Jenderal Wolya dan Kolonel Godo sudah menunggu di depan."kata pelayan. "baiklah, tolong taruh barang-barangku di atas kudaku..aku akan segera ke sana."jawab Bi Dam. "baik Tuan.."jawab pelayan itu lalu pergi. Bi Dam dan Deok Man berdiri dan berjalan meninggalkan gazebo. Mendekati gerbang, Deok Man menghentikan langkahnya dan menarik tangan Bi Dam. Bi Dam menoleh "ada apa Deok Man?"tanyanya. Bi Dam menatap mata Deok Man, tak ada air mata, yang ada hanya ketegaran yang kokoh. Itulah yang membuatnya semakin mencintai istrinya itu. Deok Man menyentuh lembut kedua pipi Bi Dam, lalu mengecup bibirnya "jaga dirimu..peganglah janjimu Bi Dam" "pasti.."jawab Bi Dam. Lalu Bi Dam berlutut mengusap perut Deok Man dan mengecupnya "ayah akan segera pulang..jangan nakal ya"kata Bi Dam. Lalu ia berdiri "jaga dirimu dan anak kita baik-baik..aku sangat mencintaimu Deok Man.."kata Bi Dam. "aku juga sangat mencintaimu Bi Dam.." balas Deok Man. Lalu mereka kembali berjalan ke arah gerbang. Jenderal Wolya dan Kolonel Godo
Chapter 19: Through the night without you

Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, Bi Dam, Wolya, dan Godo tiba di Pelabuhan ,menaiki kapal menuju. "lapor Perdana Menteri Bi Dam.. kelompok terakhir sudah diberangkatkan.."bagus..Jenderal Wolya, Kolonel Godo?boleh aku minta sesuatu?"tanya Bi Dam. "siap Perdana Menteri.."jawab Wolya dan Godo. "karena musuh mengenaliku sebagai Jenderal, aku ingin kalian memanggilku demikian..aku tak ingin mereka sampai tahu Panglima Perang dan Perdana Menteri Shilla sedang tak ada di tempatnya di saat bersamaan..Yang Mulia Raja juga sudah setuju dengan hal ini.."kata Bi Dam "siap Jenderal"jawab Wolya dan Godo. "bagus..sekarang kalian istirahatlah karena perjalanan kita masih panjang.."kata Bi Dam. "siap Jenderal"jawab mereka berdua. Setelah Wolya dan Godo pergi, Bi Dam berdiri melipat tangannya dan merenung sendiri di tepi. "aku harap ini berhasil"pikir Bi Dam sambil mencium cincin yang melingkar di jarinya.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Deok Man duduk menikmati teh di ruang keluarga.
"hmmm..nampaknya hanya tinggal kita berdua di sini"bisik Deok Man pada bayi yang dikandungnya. Lalu Deok Man memutuskan pergi ke ruang baca untuk mengisi waktu senggangnya. Di ruang baca, ia mencari buku yang terakhir dibacanya "aneh, seharusnya buku itu ada di sini.."pikirnya. Lalu ia melihat ke atas meja, di sanalah buku itu tergeletak. "hmm..apa mungkin Bi Dam yang membacanya"pikirnya. Lalu ia membawa buku itu, duduk, dan membacanya. Deok Man membuka halaman yang terakhir dibacanya "sraak.." sebuah amplop merah terjatuh dari buku. Deok Man memungut amplop itu dan melihatnya. Di amplop tersebut tertulis nama Deok Man dalam tulisan khas seseorang yang dikenalnya. "surat untukku?tapi bukankah ini tulisan Bi Dam?"pikirnya lalu ia membuka amplop itu dan melihat isinya. Dibacanya isi surat itu.
ihdaeroh
dolaseolgeomyeon
sarajilgeomyeon
pieonaji anaseo

ihreokgeh
barabomyeonseo sumi makhimyeon
nuneul gameunchae sal ado joeulgga

boji anado boyeoseo
deutji anado deulyeoseo
geudae sumgyeoleh dasi sal anan baramggotcheoreom

gago sifeodo motganeun
an goh sifeodo motanneun
geudae songgeutih naemameh daeuhni

gin gin bamih jinagoh namyeon algga
nunmul sokeh utgoh ihtneun sarangeul

jabgoh sifeodo motjabneun
gagoh sifeodo motganeun
geudae maheumeh dasi sal-anan baramggotcheoreom

boji anado boyeoseo
deutji anado deulyeoseo
barameh sillyeo heuteohjeo nallimyeo
geudae maheumeh heuteohjeo nallimyeo
Air mata menetes dari matanya. "Bi Dam"gumamnya sambil menahan air mata.
Ia mendekap surat itu dan menutup matanya dapat terbayang dengan jelas dalam pikirannya suara Bi Dam sedang membacakannya di dekatnya lalu tersenyum kepadanya. Deok Man tersenyum membayangkannya. " dimanapun kau berada, hati ini selalu bersamamu Bi Dam.."bisiknya. Lalu Deok Man menghapus airmatanya dan merapikan kembali surat itu, kemudian membawanya ke kamar untuk disimpannya.

Malam hari. Di atas kapal.
Bi Dam berdiri menatap laut yang gelap di depannya. "istirahatlah Jenderal..besok pagi kita sampai"kata Wolya dari belakang. "ah ya..aku sedang memikirkan strategi cadangan jika yang ini gagal.."jawab Bi Dam. Raut mukanya muram. "aku yakin ini pasti berhasil Jenderal..aku sudah memilih orang-orang terbaik untuk ini..tenanglah.."kata Wolya. "hmmm..ya..kita harus optimis" jawab Bi Dam tersenyum memandang langit. "aku yakin ini berhasil dan aku akan pulang ke tempatmu Deok Man"pikirnya.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Deok Man berbaring di tempat tidurnya. Memejamkan matanya untuk tidur
"selamat tidur Bi Dam"gumam Deok Man.
CHAPTER 17: Nightmare

"jadi kau yang membunuh adikku hah?"bentak seorang pria bertubuh tegap dengan pakaian perang. "aku hanya melindungiku negaraku, harusnya kau melarang adikmu itu ikut perang.."jawab Bi Dam yang berlutut terikat. Lalu Bi Dam pun dipukul oleh prajurit di sebelahnya. "beraninya kau menjawab demikian kepada Jenderal." Lalu orang yang dipanggil Jenderal tersebut menghunuskan pedangnya bersiap menebas Bi Dam dan...
"Bi Dam.." Deok Man membuka matanya dan terbangun. "Deok Man, kau baik-baik saja?kau mengigau tadi, ada apa?"tanya Bi Dam yang duduk di sampingnya sambil menggenggam tangan Deok Man yang gemetar dan membelai rambutnya. Deok Man mencoba menenagkan dirinya. Tangannya menggenggam erat tangan suaminya itu. "tadi aku bermimpi sangat buruk Bi Dam..terasa sangat nyata sekali mimpi itu..aku.."jawab Deok Man gemetar. "tenanglah..itu hanya mimpi..ceritakanlah padaku.."jawab Bi Dam menenangkan. Lalu Deok Man menceritakan mimpinya. Bi Dam menghela napas dan tersenyum "itu hanya mimpi Deok Man..dan itu tidak mungkin terjadi karena aku tidak akan ikut berperang lagi.." "bagaimana jika kejadian di Utara terulang lagi?"tanya Deok Man. "setelah kejadian itu, aku dan Panglima Yushin sudah mengerahkan pasukan untuk menutup celah-celah yang dapat disusupi musuh..jadi tenanglah.. nah sekarang kau tidurlah kembali, Deok Man"kata Bi Dam. Deok Man mencoba kembali untuk tidur memeluk lengan Bi Dam erat-erat, di sisinya, Bi Dam mengecup keningnya dan tidur.
2 hari kemudian setelah mimpi buruk itu. Ruang Pertemuan Raja di Istana.
Hampir 3 minggu berlalu sejak Putri Huang Shi kembali ke Wei, namun Panglima Yushin dan pasukannya belum kembali ke Shilla. Melihat tempat Panglima Yushin masih kosong, Raja menanyakannya.
"apakah pasukan Panglima Yushin sudah kembali?"tanya Raja.
"belum Yang Mulia"jawab salah seorang pejabat.
"hmm..aneh..apakah jarak dari sini ke Wei sangat jauh sekali?"tanya Raja. Deok Man yang duduk di kanan depan Raja menjawab "maaf Yang Mulia, menurut Er Wu dari Wei, perjalanan dari Wei ke Shilla membutuhkan waktu 7 hari perjalanan.." "hmm..baiklah mungkin sebentar lagi mereka tiba."jawab Raja. Lalu tiba-tiba masuklah seorang prajurit Shilla yang terluka cukup parah dan 2 prajurit penjaga menyusul di belakangnya lalu menundukkan kepala. Semua yang berada di ruangan kaget."ada apa ini?"tanya Raja "maafkan kami Yang Mulia, kami sudah berusaha mencegah dia masuk dan memintanya untuk diobati lebih dahulu sambil menunggu hingga pertemuan usai namun ia terus memaksa untuk menemui Yang Mulia..katanya ada hal gawat yang ingin disampaikannya.."kata salah seorang prajurit penjaga. "maafkan hamba Yang Mulia, hamba Ci Suk, anggota pasukan Panglima Yushin yang mengawal rombongan Putri Huang Shi.."kata Ci Suk. "apa yang terjadi denganmu?apakah rombonganmu diserang?dimana Panglima Yushin?"tanya Raja. "rombongan Putri Huang Shi tiba dengan selamat Yang Mulia..namun ketika dalam perjalanan pulang, kami diserang oleh pasukan mengenakan pakaian dan penutup wajah hitam. yang jumlahnya lebih banyak dari kami...hanya hamba dan Panglima Yushin yang tersisa..Namun Panglima Yushin yang sedang terluka diserang dari belakang oleh pimpinan mereka yang bernama Jenderal Yong Li hingga tak sadarkan diri lalu meminta bawahannya menawan Panglima Yushin..Lalu hamba disuruh mengantarkan surat ini kepada Yang Mulia..katanya jika mau Panglima Yushin selamat, Yang Mulia harus menuruti isi surat ini"kata Ci Suk seraya memberi surat kepada Raja. Raja membuka dan membaca surat itu "Jika ingin Panglima Perang Shilla kembali, Serahkan kepadaku Pemimpin pasukan Benteng Utara yang telah membunuh adikku, Jenderal Yong Ma dari Ryugu..kirim dia ke Kowon sendirian..Jenderal Yong Li dari Ryugu.." Lalu di lembar kedua surat disertakan gambar wajah yang mirip dengan Bi Dam. Mendengar dan melihat hal itu semua orang yang di ruangan kaget. Deok Man kembali teringat mimpi buruknya. "bukankah yang memimpin Benteng Utara waktu melawan Ryugu adalah Perdana Menteri Bi Dam?"tanya salah seorang pejabat "ya.." kata pejabat yang lain. "Jenderal Yong Ma?jangan-jangan ia yang kulawan waktu itu?"pikir Bi Dam. "Yang Mulia, kita harus menolong Panglima Yushin segera.."kata salah seorang pejabat. Raja bingung harus bagaimana jika ia mengirim Bi Dam berarti ia mengorbankan Bi Dam tapi jika tidak berarti Yushin yang ia korbankan. Tiba-tiba Bi Dam menghadap Raja "Yang Mulia, sayalah yang bertanggung jawab, izinkanlah saya berangkat ke Kowon besok pagi untuk menolong Panglima Yushin.."kata Bi Dam. Mendengar ucapan Bi Dam, hati Deok Man semakin kalut. Raja diam mempertimbangkannya "kau yakin Perdana Menteri?jika iya, bawalah Jenderal Wolya, Kolonel Godo, dan pasukan bersamamu untuk menolong Panglima Yushin..kau juga harus kembali dengan selamat Perdana Menteri"kata Raja. "terima kasih Yang Mulia..perintah Yang Mulia akan saya laksanakan"jawab Bi Dam. Setelah itu pertemuan ditutup, dan semua orang meninggalkan ruangan. Hanya tinggal Bi Dam dan Deok Man saja di ruangan itu. Bi Dam menghampiri Deok Man yang masih duduk di kursinya. "Deok Man?"panggil Bi Dam. Deok Man menatap Bi Dam lalu berdiri sambil menahan jemarinya yang gemetar. Bi Dam tahu istrinya mencoba untuk tegar. Bi Dam memeluknya erat. "aku akan menolong Yushin dan kembali dengan selamat Deok Man..aku janji.."kata Bi Dam. "Bi Dam.." gumam Deok Man. Lalu mereka berdua berjalan meninggalkan ruangan.
"kau pulanglah lebih dulu, Deok Man..aku harus bertemu dengan Wolya dan Godo untuk persiapan besok."kata Bi Dam. Namun Deok Man hanya terdiam. Pikirannya masih melayang entah kemana. Bi Dam menatap dan mengecup kening istrinya "pulang dan istirahatlah demi bayi kita..aku juga akan segera pulang.."kata Bi Dam. Lalu Bi Dam mengantar Deok Man menuju tandunya untuk pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, Deok Man terus memikirkan kejadian ini. Yushin adalah cinta pertamanya, orang yang setia padanya, dan sekarang adalah sahabatnya dan Bi Dam adalah orang yang sangat mencintainya, suaminya, ayah dari bayi yang dikandungnya, dan pria yang sangat dicintainya sekarang dan untuk selamanya. Ia tidak rela Bi Dam pergi namun juga tidak mau Yushin menjadi korban. Hatinya sangat kalut memikirkannya. "aku tak boleh egois..tidak boleh"pikir Deok Man.

Markas besar Hwarang.
Jenderal Wolya dan Kolonel Godo menundukkan kepala memberi hormat kepada Bi Dam yang memasuki ruangan. Bi Dam membuka peta dan mulai menjelaskan strateginya "baiklah..aku akan menjelaskan strategi yang sudah kubuat..dari penjelasan Ci suk dapat diketahui jumlah pasukan musuh mencapai sekitar 50-an orang dan mereka berbakat..lalu mengenai lokasi..Danggou merupakan wilayah hutan dan di sebelah selatannya merupakan wilayah tebing..jadi kita akan menyusup melalui Wonsan..kita pergi dengan 30 pasukan yang dibagi menjadi 3 kelompok dan menyamar sebagai penduduk,pedagang, dll..hanya aku yang berpakaian prajurit dan kalian berdua menyamar sebagai pengawal biasa..karena musuh meminta aku pergi sendiri..dan fokus utama kita adalah menolong Panglima Yushin, kalian mengerti?" kata Bi Dam. Jenderal Wolya dan Kolonel Godo mengangguk. "dan Jenderal Wolya bolehkah aku meminta sesuatu?"tanya Bi Dam. Setelah selesai pertemuan, Bi Dam segera berangkat pulang.
Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
"aku pulang"seru Bi Dam. Namun tak ada balasan seperti biasanya. Lalu salah seorang pelayan berkata "maaf Tuan, Nyonya sedang tidur di kamarnya." "hmm..baiklah" jawab Bi Dam. Bi Dam berjalan memasuki kamarnya. Dilihatnya Deok Man sedang tertidur pulas. Tampak di kedua pipinya bekas air mata. Bi Dam duduk di sampingnya, membelai wajahnya lalu mengecup keningnya. "aku pasti akan kembali Deok Man.."bisiknya.

Malam hari.
Deok Man membuka matanya dan bangun dari tidurnya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Bi Dam masuk membawa nampan berisi 2 mangkuk nasi, 2 gelas, 1 teko teh, 1 mangkuk besar sup dan 1 mangkuk besar sayur daging, dan 2 buah sumpit. "makan malam siap" katanya. Deok Man tersenyum lemah melihatnya. Lalu ia duduk dan bersiap untuk makan. "cobalah, ini resep terbaruku.." kata Bi Dam. Deok Man pun mencobanya. "enak.." katanya. "aku harap kau menyukainya Deok Man..nanti aku akan mencoba resep-resep baru lagi"kata Bi Dam riang. Deok Man hanya diam dan melanjutkan makannya. Bi Dam sadar istrinya masih kalut dengan kejadian ini dan hanya tersenyum lalu makan. Baru kali ini makan malam sesunyi ini. Setelah makan malam usai, Bi Dam berdiri untuk membereskannya tapi Deok Man menarik lengan bajunya "minta pelayan saja untuk membereskannya..temani aku ke taman sebentar.." kata Deok Man. "baiklah"kata Bi Dam sambil tersenyum. Setelah memanggil pelayan, Bi Dam dan Deok Man berjalan dan duduk di kursi panjang di gazebo. Malam itu bulan bersinar sangat terang. "apa strategimu untuk besok sudah siap?" tanya Deok Man. "sudah siap, Tuan Putri"jawab Bi Dam. "Yushin adalah orang penting bagi Shilla..aku..aku tidak mau kehilangan Yushin .." kata Deok Man tanpa menatap Bi Dam yang duduk di sampingnya "aku akan menolongnya dan membawanya pulang..tak akan kubiarkan Shilla dan Tuan Putri kehilangan Panglima besarnya..aku janji.."kata Bi Dam tersenyum "tapi..tapi aku lebih tidak rela kehilangan orang yang terpenting bagiku, ayah dari bayi dalam kandunganku, suamiku, pria yang sangat kucintai..aku sangat tidak mau kehilanganmu Bi Dam.."kata Deok Man menatap Bi Dam. Meskipun sudah mencoba untuk menahannya, air mata tetap meleleh membasahi pipinya. Bi Dam memeluk Deok Man erat. "aku juga tak mau kehilanganmu Deok Man..aku janji akan pulang dengan selamat.." kata Bi Dam sambil menghapus air mata Deok Man. "aku tahu aku tak boleh egois..aku harus tegar merelakanmu pergi menolong Yushin..aku berusaha kuat menahan perasaanku sama seperti dulu..tapi kau tahu bagaimana perasaanku ketika mendengar Raja membaca surat itu dan jawabanmu kepada Raja?hatiku sangat kalut Bi Dam..mimpi buruk itu menghantuiku lagi..aku takut itu akan menjadi kenyataan..aku tak bisa membayangkan bagaimana aku bisa hidup, melahirkan anak kita, dan membesarkannya tanpamu di sisiku.."kata Deok Man gemetar. "ssst..tenanglah..lihat aku Deok Man" kata Bi Dam. Deok Man menatap wajah Bi Dam. "aku berjanji akan pulang dengan selamat apapun yang terjadi sebelum anak kita lahir..pegang janjiku.."kata Bi Dam sambil menggenggam erat tangan Deok Man. "aku..aku akan menunggumu di sini Bi Dam..aku pegang janjimu"kata Deok Man. "udaranya mulai dingin..lebih baik kita masuk Deok Man.." ajak Bi Dam sambil mengulurkan tangan. "ya.." jawab Deok Man. Lalu mereka berjalan menuju kamar mereka.
Di kamar, Bi Dam dan Deok Man menyiapkan segala sesuatu yang akan dibawa besok. Deok Man mengeluarkan sebuah kotak dan memberikannya pada Bi Dam
"pelindung dada dan punggungmu sudah berlubang jadi aku menggantinya dengan yang baru tadi"katanya. Bi Dam membukanya dan memperhatikan baju perangnya dengan seksama. Tampak ada bagian yang baru diganti, ditambah dan dijahit ulang. "terima kasih Deok Man"kata Bi Dam tersenyum. Lalu Bi Dam pergi ke ruang kerjanya untuk mengambil beberapa barang. Di kamarnya, Deok Man membuka lemarinya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu. Kotak kayu berisi barang-barang yang ia miliki ada kaca pembesar dari Paman Kartan, surat yang diberikan pada ibu asuhnya oleh ayahnya ketika ia dititipkan, dll. Namun yang dicari Deok Man bukanlah itu. Setelah menemukan apa yang ia cari, ia menyimpan dalam laci dekat tempat tidurnya. "aku harap ini akan melindunginya seperti ketika melindungi aku dan ibu"pikir Deok Man.
Di ruang kerja, Bi Dam sedang menulis sesuatu di atas selembar kertas. Ia tersenyum memandang kertas itu, lalu memasukannya dalam amplop dan menyelipkannya dalam buku yang akhir-akhir ini sering dibaca Deok Man. Lalu ia kembali ke kamar.
Di kamar, Deok Man kembali memeriksa baju perang Bi Dam dengan seksama. Bi Dam yang melihatnya hanya bisa tersenyum namun ada kesedihan di matanya. Ia merasa sangat berat harus pergi meninggalkan Deok Man. Sangat berat. Lalu ia menghampiri Deok Man dan menggenggam tangannya. "kondisinya tanpa cacat Deok Man aku sudah memeriksanya..sekarang saatnya kita tidur"kata Bi Dam. Deok Man tersenyum Bi Dam menuntun Deok Man ke tempat tidur lalu membukakan selimut untuknya. Deok Man masuk dalam selimutnya dan Bi Dam berbaring di sisinya. Bi Dam mengecup kening Deok Man. "aku tak bisa tidur Bi Dam..rasanya aku ingin terus memandang wajahmu.."kata Deok Man" "kau dan bayi kita butuh istirahat Deok Man..tidurlah yang nyenyak Deok Man..besok aku akan menunjukkan sesuatu padamu" bisik Bi Dam sambil mengusap perut Deok Man. Tiba-tiba bayi dalam perut Deok Man menendang. "nampaknya ada yang ingin menegur ayahnya..kau tahu ketika aku sedih dan bingung waktu kau menghilang, bayi kita beberapa kali menendang seperti ia berusaha menghiburku"kata Deok Man membelai perutnya. "anak baik..ayah sangat menyayangi kalian berdua" kata Bi Dam. "oh ya, apa yang kau ingin tunjukkan padaku?"tanya Deok Man. "ra-ha-sia..sekarang tidurlah Deok Man..selamat tidur anakku.."kata Bi Dam mengusap perut Deok Man."selamat tidur ayah"bisik Deok Man tersenyum menggenggam tangan Bi Dam, lalu menutup matanya dan tidur.