Pages

Sabtu, 10 September 2011

The Hidden Wounds Chapter 18: The One Who Gives His Heart and The One Who Will Take Her Heart


genre: angst,romance, mystery 

Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun
- Jo Hyun Jae as dr. Ahn Jong Geun


I didn't own the characters. It's just a fanfiction :)
**********************************************************************************
- 12:48 PM Villa Keluarga Lee, Chuncheon,-
“ini soju yang dipilih Tuan untuk Tuan Kang.." So Hwa menyerahkan sebuah kantong kertas coklat yang berisi 2 botol soju di dalamnya kepada Yo Won.

“baiklah kalau begitu kami berangkat bi..” ujar Yo Won.

“hati-hati di jalan ya tuan dan nona…” kata Sohwa begitu mengantar mereka sampai ke pintu depan.

Yo Won dan dr. Ahn berjalan dan masuk ke dalam mobil. Dimana dr. Ahn duduk di kursi pengemudi dan Yo Won duduk di sampingnya.

“apa kau mau aku menaruh itu di belakang?” tanya dr. Ahn sambil menunjuk kantong kertas coklat yang dipangku Yo Won.

Yo Won tersenyum menggelengkan kepalanya “tak apa-apa…”

 “baiklah kalau begitu kita berangkat…” ujar dr. Ahn sambil menginjak pedal gas.

-  01:11 PM, Geumcheon-gu, Seoul –
“ctak..ctak..” kesepuluh jari tangan Gun Wook bergerak dengan cepat di atas keyboard sementara kedua matanya menatap layar komputer yang menampilkan sejumlah grafik dan deretan angka.

“drrt…drrt..” ponsel Gun Wook yang tergeletak di dekatnya bergetar. Gun Wook pun berhenti mengetik, segera mengambil ponselnya, dan menjawab telepon begitu melihat  nama penelponnya.

“ini aku…” jawab Gun Wook.

“ah..selamat siang Tuan Shim…” ujar Kim San Joong.

“ah Tuan Kim, apa kabar?” Gun Wook menjawabnya dengan ramah

“begini, jas anda sudah saya ambil dari binatu dan saya ingin mengantarkannya…tapi saya tidak tahu tempat dimana
Tuan Shim tinggal..” jawab Kim San Joong.

“oh ya…begini saja bagaimana kalau kita bertemu di luar?kebetulan aku masih dalam perjalanan bisnis…dan sepertinya akan lebih nyaman jika kita berdiskusi tentang investasi di luar nanti malam…nanti alamat tempatnya akan kukirim..” jawab Gun Wook.

“ba..baik Tuan Shim..saya mengerti..” ada nada gembira dalam suara Kim San Joong.

Gun Wook pun mengakhiri pembicaraan di ponselnya dan bangun dari tempat duduknya kemudian berjalan keluar dari ruang rahasianya menuju jendela di ruang utama yang tertutup oleh gorden. Ia membuka gordennya sedikit dan menatap keluar jendela. Melihat mobil sedan hitam yang semalam mengikutinya dan menungguinya sampai sekarang.

“kurasa permainan kucing-kucingan ini harus segera berakhir” gumamnya.


- 01:12 PM Chuncheon-
“inikah tempatnya?” tanya dr. Ahn begitu keluar dari mobil. “Gajukgongyebang…” Ia membaca tulisan yang tertera di sebuah papan kayu yang berdiri tegak di hadapannya.

“ya ini tempatnya…kita harus menaiki tangga ini dulu untuk mencapainya..” kata Yo Won yang sudah berdiri di sampingnya. Dr. Ahn menatap anak-anak tangga yang banyak jumlahnya menuju ke atas.

“wow..” komentarnya singkat.

“kata paman tangga-tangga ini ia bangun  agar orang-orang yang datang ke tempatnya adalah orang yang memiliki kesabaran dan juga kekuatan..karena 2 hal itu adalah hal yang penting untuk membuat gerabah yang bagus..” sahut Yo Won.

Ia pun menoleh kepada Yo Won dan mengambil bungkusan yang dipegangnya. “kalau begitu aku akan bawakan ini…pamanmu tentu tidak akan menyukai seorang pria yang membiarkan seorang wanita membawa barang untuk menaiki tangga ini kan?”

Yo Won pun hanya bisa menghela napas sambil tersenyum. Mereka berdua berjalan menaiki anak-anak tangga yang sudah menanti mereka.

“bagaimana kau bisa berkenalan dengan Tuan Kang,  Yo Won-ssi?kudengar ia sering berpindah-pindah tempat..dari satu negara ke ngeara lain..” tanya dr. Ahn.

“dulu kami tinggal bertetangga..sewaktu aku dan ayah masih tinggal Siheun…waktu itu aku tak sengaja memecahkan pot bunga miliknya saat sedang bermain lempar bola..dan ketika aku sedang berusaha merapikannya, ia menangkapku..” jawab Yo Won.

dr. Ahn pun terkejut begit mendengarnya “menangkapmu?apakah ia semarah itu?”

Yo Won pun tertawa kecil melihat reaksi lawan bicaranya “justru ia menjauhkanku dari pecahan-pecahan pot dan kemudian menggendongku keluar dari rumahnya tanpa berkata apa-apa…”

“aku meminta maaf padanya namun ia hanya menjawab kalau tak ada gunanya aku minta maaf …” Yo Won melanjutkan ceritanya.

“apakah reaksi seperti itu tidak terlalu keras untuk anak kecil?” dr. Ahn bergumam.”lalu?”

“aku pun kembali lagi padanya keesokan harinya…namun kali ini tidak dengan tangan kosong, aku membeli pot tanah liat dengan uang celenganku…diam-diam aku masuk ke halamannya dan menanam kembali tanaman yang paman biarkan berserakan di tanah sisa pecahan sebelumnya..dan lagi-lagi paman menangkapku dari belakang…”

“ah Nona Lee Yo Won…” terdengar suara wanita memanggil Yo Won dari atas. Yo Won pun mengadahkan kepalanya ke atas. Ia mengenali wanita itu.

“Jang Se Jin-ssi?” panggil Yo Won.

Jang Se Jin berjalan menuruni tangga menghampiri Yo Won dan memberi salam. Jang Se Jin pun menatap Ahn Jong Geun yang berdiri di samping Yo Won. Ia tidak merasa mengenalnya.

“ah..kenalkan ini dr. Ahn Jong Gun, putra sahabat ayahku..” ujar Yo Won memperkenalkan.

“ah, selamat siang  Tuan Ahn…perkenalkan saya Jang Se Jin..” sapa Jang Se Jin.

“ah selamat siang, Nona Jang..kau bisa memanggilku dengan panggilan dr. Ahn saja…”

“apakah Se Jin-ssi baru saja dari galeri?” tanya Yo Won.

Se Jin-ssi mengangguk “saya ingin menambah koleksi kerajinan gerabah yang ada di club…Nona Lee sendiri apakah sedang berlibur ke sini?”

Yo Won tersenyum mengangguk “aku tinggal di villa dekat sini..bagaimana jika nanti Se Jin-ssi berkunjung ke tempatku nanti?”

“saya sangat berterima kasih atas undangannya Nona Lee tapi sayangnya setelah ini saya harus berangkat ke Jeju setelah ini untuk melihat pameran dan lelang lukisan yang diadakan di sana…” jawab Jang Se Jin.

“sayang sekali…” Yo Won nampak kecewa.

“kalau begitu saya permisi dulu, Nona Lee dan dr. Ahn..” ujar Jang Se Jin.

Yo Won tersenyum mengangguk “ya..hati-hati di jalan Se Jin-ssi..”

“ya..”  Jang Se Jin berjalan menurui tangga, sementara Yo Won dan dr. Ahn kembali berjalan ke atas.
“siapa dia?” tanya dr. Ahn memulai pembicaraan kembali.

“ia adalah kurator barang seni di Heritage Club…” jawab Yo Won

“Heritage Club?Club apa itu?” pikir dr. Ahn. Mereka pun kembali berjalan dalam diam.

“sepertinya ada tetangga lama yang ingin mengunjungiku…” terdengar suara dari depan. Namun kali ini suara berat seorang pria. Yo Won dan  dr. Ahn pun menoleh ke depan. Seorang pria dengan pakaian hanbok berwarna kelabu, dengan postur agak gemuk dan rambut berwarna kelabu berdiri di hadapan mereka.

“paman…” panggil Yo Won.


- 01:20 PM Gajukgongyebang, Chuncheon-
“sraak..” Kang Ho Dong menggeser pintu di hadapannya dan berjalan masuk ke dalam ruangan. Beberapa pekerja yang mengenakan celemek berwarna merah menutupi pakaian mereka segera memberi hormat kepadanya. “selamat datang Guru..”

Shin mengangguk “lanjutkan kembali pekerjaan kalian…”

Seorang anak muda yang mengenakan celemek putih, seusia mahasiswa  menghadap Shin dan menunjukkan gelas teh dari  tanah liat buatannya “guru apakah ini sudah benar?”

Kang Ho Dong hanya menatapnya dari luar sekilas dan berkata “belum..ulangi lagi…”  Ia pun berjalan meninggalkan laki-laki itu. Yo Won dan dr. Ahn berjalan di belakangnya, melihat wajah putus asa pada laki-laki itu.

“guru!aku sudah mengulangnya untuk yang ke 50 kalinya hari ini…aku sudah membuatnya seperti desain yang guru inginkan…kesabaran, ketekunan, aku sudah melakukannya” seru laki-laki itu.

Langkah kaki Kang Ho Dong pun  terhenti. Ia membalikkan badannya menghadap orang itu “kunci dari membuat gerabah adalah kesabaran,kekuatan, dan ketekunan, serta konsentrasi..hanya dengan sekali lihat aku tahu bahwa kau gagal mendapatkan itu semua..jika dasarnya sudah salah maka sesuatu yang hampir sempurna pun akan salah..temukan kesalahanmu dan buat 10 gelas yang sama seperti kuminta atau kau boleh meninggalkan tempat ini..aku memang sahabat mendiang ibumu tapi aku gurumu…kau jangan berharap lebih dari itu..” Ia segera membalikkan badannya dan berjalan.

“sepertinya Tuan Kang terlalu keras..”  gumam dr. Ahn melihat anak muda itu masih menatap cangkirnya dengan tatapan putus asa.

“untuk membuat sebilah pedang yang bagus, sebilah tembaga harus ditempa berulang kali dalam bara api, dipukul ratusan bahkan ribuan kali dengan palu besi, sebelum akhirnya direndam dalam air dingin dan menjadi sebilah pedang…” sahut  Kang Ho Dong yang berjalan di depan Yo Won. Mendengar itu, dr. Ahn pun merasa tidak enak dan diam.

“sraak…” Kang Ho Dong membuka pintu di hadapannya dan berjalan masuk ke dalam ruangan. Yo Won yang berjalan di belakangnya pun mengikutinya. Kang Ho Dong segera mengambil bantal duduk yang tersusun rapi di sudut ruangan dan memberikannya kepada Yo Won

“terima kasih paman..” jawab Yo Won. dr. Ahn pun nampak kebingungan karena tak ada bantal duduknya. Yo Won yang berdiri di sisinya pun memperkenalkannya

“paman, perkenalkan ini…”

Kang Ho Dong mengangkat tangan kanannya seakan-akan meminta agar Yo Won berhenti bicara. “biarkan kami mengenal satu sama lain dengan caraku sendiri…”

“eh…” dr. Ahn pun agak terkejut mendengarnya.



- 01:32 PM Chuncheon,-
“cplak..cpluk..” suara air bergemericik karena kail dilempar ke tengah danau. Tuan Ahn pun mulai memutar rol  benang pancingannnya, mengulurnya agar semakin panjang, dan kemudian meletakkan pancingannya di atas penyangga. Ia mengambil botol minumannya dan duduk di samping Tuan Lee yang sedang mengurai benang pancingannya yang kusut. Tuan Ahn pun ikut turun tangan dan mengambil ujung benang yang lain.

“kau belum menjawab pertanyaanku tadi..” gumam Tuan Ahn. “sebagai dokter pirbadimu dan sahabatmu, aku harus tahu alasan kenapa kau menghabiskan persediaan alasan obat penenangmu lebih cepat dari yang seharusnya..”

Tuan Lee hanya terdiam sambil mengurai benang pancingnya “aku sudah membuat keputusan mengenai masalahku dengan investor yang kuceritakan padamu sebelumnya..”

“lalu?” tanya Tuan Ahn.
“keputusan itu sama seperti mengurai benang kusut ini…bisa mengurai suatu masalah atau malah merumitkan suatu masalah…dan bagiku itu sebuah keputusan yang berat, aku ingin melindungi putriku akan tetapi di saat yang sama aku mengorbankan dirinya…ia harus menangggung beban yang seharusnya tidak ia tanggung…” jawab Tuan Lee

“kurasa perasaan putrimu akan jauh lebih terluka, jika tahu ayahnya tidak mempedulikan kesehatannya sendiri…” sahut Tuan Ahn yang baru saja selesai mengurai benang kusut itu. Ia mengambil alat pancing itu dari pangkuan Tuan Lee dan meletakkannya di tanah agar pembicaraan mereka lebih fokus. “

“aku memang tak boleh hidup lebih lama..”  jawab Tuan Lee sambil menatap permukaan danau yang tenang.

Tuan Ahn pun terkejut begitu mendengar hal itu “apa maksud perkataanmu?”

“aku akan mengangkat Yo Won menjadi pemimpin Tae Wang dan setelahnya agar Yo Won bisa kulindungi dan semua masalah yang kutimbulkan berakhir..aku harus mati…” Tuan Lee pun menjatuhkan kedua lututnya di tanah dan duduk berlutut di hadapan Tuan Ahn dengan kepala tertunduk.

“aku mohon kau mau membantuku kali ini…ini munngkin akan menjadi permohonanku yang terakhir”


 - 01:35 PM Gajukgongyebang, Chuncheon-
“cuci tanganmu dulu sebelum mengerjakannya…” ujar Kang Ho Dong yang sudah menyalakan kran air.

“baik…”jawab dr. Ahn yang sedang menggulung kedua lengan kemejanya. Ia pun membasuh kedua lengan dan tangannya dengan air  dan kemudian ia menggosokan sabun secara merata bahkan sampai ke sela-sela jemarinya.

“ah rupanya kau seorang dokter..dan tentunya kau pasti bekerja di bagian pembedahan..” ujar  Kang Ho Dong.

dr. Ahn yang sedang cuci tangan pun menoleh dengan wajah yang seakan-akan menanyakan “bagaimana kau bisa tahu?” Yo Won yang berdiri di dekat dr. Ahn pun juga ikut terkejut

“cara cuci tanganmu mencerminkan itu…” jawab Kang Ho Dong.

“ah iya…maaf itu sudah menjadi kebiasaan saya sejak kecil karena ayah saya pun seorang dokter bedah..” jawab dr. Ahn sebelum kembali mencuci tangannya.

“maaf paman bolehkah aku ikut membuat gerabah?sudah lama aku tidak melakukannya..” tanya Yo Won.

Kang Ho Dong pun tersenyum seperti seorang ayah yang tersenyum pada putri kesayangannya “tentu saja…aku akan menyiapkan tempatnya..”

- 01:40 PM Gajukgongyebang, Chuncheon-
“ini tanah liatmu…karena kau adalah pemula, kau bisa memulai dengan membuat gelas…lakukan seperti yang kucontohkan tadi…kau mengerti Jong Geun?”

“ya Guru…” jawab dr. Ahn dengan mantap. Kang Ho Dong pun berjalan menghampiri meja kerja Yo Won. “ini tanah liatmu Yo Won..kali ini apa yang akan kau buat?” tanya Kang Ho Dong.

“mungkin sama seperti dr. Ahn, paman…” jawab Yo Won.

Kang Ho Dong pun berdiri di depan meja Yo Won dan dr. Ahn, menghadap mereka “baiklah…kalau begitu kalian bisa memulainya dengan mengalirkan jiwa kalian ke dalam jemari kalian sekarang…tutup kedua mata kalian…”

Yo Won dan dr. Ahn pun menutup kedua mata mereka.

“ingat yang kalian lakukan di sini adalah berekspresi..jadi kalian harus menuangkan jiwa kalian ke dalam tanah liat yang akan kalian genggam…tuangkan perasaan kalian melalui jemari kalian..rasakan perasaan yang ingin kalian sampaikan”

“perasaanku?” Yo Won mencoba berkonsentrasi.

“kau harus lebih rileks Jong Geun…” ujar Kang Ho Dong melihat kening Jong Gun yang mengernyit.
Kang Ho Dong berjalan berkeliling sambil memberikan instruksi “pegang tanah liat sekarang dan tuangkan apa yang kalian ingin katakan melalui tanah liat itu..”

Yo Won menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya perlahan, kemudian kedua tangannya meraba meja dan mengambil tanah liat yang ada di atas meja dan mengambilnya dalam kedua genggaman kalian.

“aku tak ingin tanganku kau lepaskan…” terdengar suara Gun Wook dalam benak Yo Won. Jantung Yo Won kembali berdebar keras dan kedua tangannya gemetar begitu mendengarnya. “aku mencintaimu Lee Yo Won…”

-  06:21 PM,  Seoul –
“tap..tap…” sambil membawa jas hitamnya dan  sebuah koper besi berwarna silver, Gun Wook berjalan menuruni tangga menuju lapangan parkir dimana mobilnya berada. Ia merogoh saku celana panjangnya dan mengambil kunci mobil.

“pip..pip..” tanda pintu mobil sudah terbuka. Gun Wook pun masuk ke dalam mobil. Ia melirik kaca spionnya sesaat. Melihat mobil hitam yang dari semalam mengikutinya terparkir tak jauh darinya.
“kita akan mengeliling Seoul bersama hari ini…” gumam Gun Wook sambil menyalakan mobilnya.

-  06:23 PM,  Heritage Club, Seoul –
Hong Gi Hoon mengeluarkan pematik api dari saku kemejanya, menyalakannya, dan membakar berkas-berkas yang sedang dipegang tangannya yang lain lalu membuangnya ke dalam tong sampah besi di hadapannya. “akan kubuat pembalap ingusan itu menyesal karena telah menolak kontrak ini..” gumamnya sambil melihat foto Siwon yang perlahan habis terbakar.

“blam..” terdengar suara pintu tertutup. “bau apa ini?” terdengar suara wanita dari ujung lorong.
Mendengar suara orang yang dikenalnya, Hong Gi Hoon pun bangun dari duduknya. “kau darimana Jang Se Jin?aku sudah mencarimu seharian..”

“Tuan muda Hong..aku mohon padamu jika ingin membakar sesuatu kau bisa melakukannya di ruanganmu atau di luar tetapi tidak di ruanganku…”Jang Se Jin menjawabnya sambil berjalan menuju mejanya.

“jawab aku Jang Se Jin…kenapa kau tidak menjawab teleponku?balik badanmu dan jawab aku!!” Gi Hoon membentak. Jang Se Jin tidak mempedulikannya dan tetap memunggunginya.

“aku sudah mengatakannya padamu…aku sedang memenuhi tugas Nyonya Hong untuk menghadiri lelang lukisan di Jeju serta mengambil kerajinan gerabah di Chuncheon…dan setelah ini aku harus mengatur ulang tata ruang galeri..” jawab Jang Se Jin.

 “Jang Se Jin!” bentak Gi Hoon.

Jang Se Jin terdiam sesaat sebelum berkata “aku di sini bekerja untuk Nyonya Hong, Tuan Muda..jadi jika Tuan Muda ingin memerintahkanku, Tuan bisa memberitahukannya kepada Nyonya Hong terlebih dahulu..”
Kali ini tidak ada bentakan. Hong Gi Hoon menarik tangan Jang Se Jin dari belakang dan kemudian mendoronghya jatuh ke atas meja kerja.

“kyaa..lepaskan aku..” Jang Se Jin berteriak. Ia berusaha meronta namun kedua tangannya sudah berada dalam genggaman  Gi Hoon. Tentu tenaganya tidak mungkin sebanding dengan tenaga Gi Hoon yang seorang pria.

“apa maumu?kau sudah membuangku sekarang aku harus tunduk padamu?kau gila Gi Hoon!!kau tahu aku bertemu siapa tadi di Chuncheon?aku bertemu dengan nona Lee Yo Won..dan kau tahu ia bersama siapa?ia bersama seorang pria, seorang dokter muda..yang sejuta lebih baik darimu…aku harap ia dan perusahaanya berhasil mengalahkanmu…”

“PLAAK!!PLAAK!!” Gi Hoon menampar kedua pipi Jang Se Jin bergantian.
“agar kubuat kau menyesal karena telah berani memancing emosiku!!kau harus tahu Jang Se Jin ibuku memang Kepala Galeri!!tetapi pemilik Heritage Club ini adalah aku!!dan aku akan memerikanmu hukuman supaya kau mengingat kepada siapa kau harus tunduk!!”


- 06:28 PM, Chuncheon-
“brrrmm..” mobil mercedes c-class hitam melaju menuruni lereng gunung. Yo Won duduk menatap keluar jendela. Sambil memangku dua bungkusan coklat, ia melihat pemandangan lampu kota Chuncheon yang terlihat dari tempatnya. Sementara itu, dr. Ahn berkonsentrasi pada kemudi mobilnya sambil sesekali melirik wanita yang duduk di sampingnya itu.

“kenapa kau mewarnainnya merah dan coklat membentuk gelombang seperti ini?kau tahu artinya ini apa?” tanya Kang Ho Dong sambil mengamati gelas teh yang sedang dipegangnya.

“karena saya menyukai kedua warna itu guru…dan mengenai gelombang itu, saya hanya mengikuti gelombang monitor pasien di rumah sakit…saya suka bentuk gelombang seperti itu karena itu artinya kondisi pasien stabil..” jawab dr.Ahn sambil tertunduk malu.

“warna merah memiliki arti hati yang hangat,perasaan yang kuat dan warna coklat berarti membumi,kerenda, dan jika itu gelombang yang kau maksud, maka itu berarti kestabilandan juga kehidupan..gelasnya cukup tinggi dan rapi…kau memiliki cukup ketekunan untuk ini” Kang Ho Dong mengamati sekeliling gelas itu lebih dekat dan kemudian melihat bagian dalam gelas dan merabanya.

Kang Ho Dong yang meraba-raba dengan kedua jarinya ke  bagian dalam gelas teh “sepertinya hari ini perasaanmu sedang baik..aku bisa merasakan perasaan  senang di sini…dan sepertinya penyebab rasa senang itu tidak hanya sekedar karena kau mengunjungiku…”

Kang Ho Dong meletakkan kembali gelas itu sambil menatap kedua mata dr. Ahn dengan penuh makna. dr. Ahn hanya bisa berdeham dan mengalihkan pandangan matanya.

Sementara itu Yo Won sedang berdiri di depan meja kerjanya, mengamati gelas tehnya sendiri. Sebuah gelas berwarna hitam dengan 1 garis berwarna merah mengelilinginya.

“kenapa kau mewarnainya dengan warna hitam?apa sekarang kau menyukai warna hitam Yo Won?” tanya Kang Ho Dong begitu mengambil gelas teh buatan Yo Won dari meja.

Yo Won pun menatap ke depan “ah bukan begitu…aku hanya merasa jika warna hitam itu bagus…”

“bagian luarnya sangat rapi…kau mengasahnya dengan hati-hati sehingga bisa halus seperti ini…sangat berhati-hati…” ujar Kang Ho Dong sambil meraba sekeliling gelas. Kemudian ia memasukkan jemarinya ke dalam gelas.

“akan tetapi sayangnya bagian dalam nya terlalu tipis mungkin akibat kau mengasahnya terlalu lama…sehingga menjadi tipis seperti ini dan rapuh…dan sepertinya ada keragu-raguan ketika kau mengerjakan ini karena ketebalan bagian dalamnya tidak merata…apa ada sesuatu yang sedang kau bingungkan Yo Won?kurasa ini untuk pertama kalinya kau membuat gelas seperti ini…biasanya gelas buatanmu selalu tebal di bagian dalam meskipun tidak begitu merata..apakah ada masalah yang sedang kau hadapi?”

Yo Won segera tersenyum menggelengkan kepalanya “tidak paman..”

Kang Ho Dong menatap langsung kedua mata Yo Won sebelum akhirnya kedua matanya tertuju pada gambar bunga yang ada di gelas itu. “ini lingkaran merah?”

“i..iya paman…” jawab Yo Won.

“kenapa kau memilih ini?apa ada makna khusus?atau kau mengetahui artinya” tanya Kang Ho Dong.

“tidak aku tidak tahu paman…aku hanya membuatnya agar gelas hitam ini tidak nampak terlalu polos…” jawab Yo Won.

Kang Ho Dong meletakkan gelas itu di atas meja “merah seperti yang kukatakan sebelumnya memiliki arti kehangatan hati, kehidupan, perasaan yang kuat, namun ada juga arti negatifnya yakni bahaya…sedangkan lingkaran itu sendiri berarti ikatan atau hubungan…aku harap ini bukan berarti kau sedang melibatkan dirimu dalam bahaya Yo Won di saat kau belum cukup kuat untuk menghadapinya…”

“apakah ia sedang menghadapi masalah besar di perusahaan?”  pikir dr. Ahn sambil menatap ke depan. Kemudian ia menghentikan mobilnya di bahu jalan yang landai dan  kosong.

Yo Won pun menoleh “kenapa kita berhenti?”

Alih-alih menjawabnya, dr. Ahn justru keluar dari mobil dan berjalan ke depan pintu tempat Yo Won duduk dan membukakannya  “kurasa akan lebih nyaman jika kita melihat pemandangannya langsung dari luar…”

Yo Won pun tersenyum “terima kasih..” mereka berdua berjalan menuju pagar pembatas jalan yang membatasi jalan dengan tebing.

“wah…pemandangannya…” ujar dr. Ahn.

“ya sangat indah..” gumam Yo Won. Angin bertiup menerpa mereka. Meskipun saat ini bukan musim dingin, tetap saja udara di pegunungan tetaplah dingin ketika hari sudah malam. Yo Won pun menggosok kedua lengannya untuk menghilangkan rasa dingin yang menjalar di tangannya.

“srat..” dr. Ahn melepas blazer miliknya dan menyelimuti bahu Yo Won dengan blazer coklatnya itu.

Yo Won pun terkejut dan menoleh.

“sudah merasa lebih hangat?” tanya dr. Ahn.

Yo Won tersenyum mengangguk “ya…terima kasih..” kemudian mereka berdua menatap ke depan dimana, hamparan lampu-lampu gedung dan jalanan tampak seperti bintang-bintang yang bersinar di daratan.

Diam-diam, dr. Ahn menatap Yo Won yang masih menikmati pemandangan di hadapannya. “sepertinya ia sangat menikmati hari ini…entah apapun yang sudah membuatnya rapuh ataupun masalah besar yang akan dihadapinya, aku ingin agar aku bisa menjadi sandaran dan kekuatannya saat menghadapi itu semua..”


- 07:05 PM, Seoul-
“terima kasih atas kunjungannya…” seorang pelayan yang berdiri di dekat pintu  membungkukkan badannya begitu Gun Wook melewatinya. Sambil membawa koper besi miliknya, ia berjalan melintasi trotoar yang cukup ramai oleh para pejalan kaki. Di saat yang bersamaan, tak jauh darinya seorang pria berjas hitam mengikutinya dari belakang. Orang itu terus mengikuti Gun Wook dari belakang, hingga akhirnya langkah Gun Wook terhenti di depan sebuah gang. Orang itu pun memilih untuk memandang ke arah lain sambil diam-diam melirik ke arah Gun Wook yang sedang menelpon sambil melihat jam tangannya. Orang itu nampak santai mengawasi Gun Wook sampai segerombolan remaja berseragam sekolah melewati Gun Wook dan berjalan di belakangnya. Bayangan dan sosok Gun Wook tidak ada lagi di sana. Pria itu pun panik.

“sial..kemana perginya dia?” pria itu berlari menuju tempat terakhir Gun Wook dilihatnya terakhir berdiri. Ia menoleh ke sekelilingnya. Ke seberang jalan maupun ke dalam kerumunan pejalan kaki. Dan ia pun menoleh ke samping, yakni sebuah gang yang cukup gelap karena hanya diterangi satu lampu jalan.

“apa ia sadar dirinya sudah dbuntuti?” pikir pria itu sambil berjalan perlahan masuk ke dalam gang itu. Ia menoleh ke sekelilingnya. Namun hanya ada tempat sampah berserakan dan tumpukkan kardus-kardus botol minuman keras.

“sial..kemana perginya dia?” pikirnya pria itu dengan kesal.

“praang!!” terdengar suara botol terjatuh dan pecah. “siapa itu?” hardik orang itu yang kaget. Ia mengambil posisi kuda-kuda, siapa tahu aka nada yang menyerangnya dari depan.

“meooong!!” terdengar suara galak seekor kucing yang sepertinya terusik dengan kehadiran orang itu.

“sialan hanya seekor kucing rupanya..” pria itu menurunkan kedua tangannya yang sudah mengepal di depan dada.

“sraak..” seseorang dari belakang menyerangnya, menahan leher pria itu dengan lengannya.

“katakan siapa yang menyuruhmu untuk mengikutiku atau lehermu akan kupatahakan…” bisik Gun Wook di telinga pria itu.

- 07:20 PM, Seongwon Apartement, Yongsan-gu, Seoul- 
“aku tidak sabar untuk menonton pertandingan sepak bola setelah makan malam nanti…Daehanminguk!!” ujar Yuri sambil mengepalkan tinjunya ke depan penuh semangat meskipun tangannya penuh dengan plastik berisi  belanjaan.

“aku dengar kali ini Park Ji Sung akan bermain..jadi pastinya tim akan semakin solid..” ujar Soo Hyun yang berjalan di sampingnya yang juga membawa kantong belanja.

“semoga mereka menang..dan memimpin grup untuk kualifikasi Piala Asia..” ujar Yuri.

“prediksiku mereka menang 2-1” sahut Soo Hyun.

“mwo?kenapa harus kebobolan satu angka?” tanya Yuri.

“meskipun secara teknik mungkin mereka kalah…tapi dari segi power dan stamina, Tim Oman bisa dikatakan sedikit di atas tim kita…kamp latihan di negara asal mereka benar-benar keras…” jawab Soo Hyun.

“waah..ternyata Hyun diam-diam sudah menyukai sepakbola juga ya?” goda Yuri.

“meskipun aku tidak terlalu suka…tapi kurasa olahraga favorit kekasihku ini cukup menarik..” jawab Soo Hyun seraya mencubit hidung Yuri.

“kenapa aku dicubit?” protes Yuri. Mereka berjalan sambil tertawa di sepanjang koridor apartemen sampai akhirnya mereka melihat ada seseorang sudah berdiri di depan apartemen mereka.

“kakak?” gumam Soo Hyun.

“kak Siwon?” panggil Yuri. Choi Siwon pun menoleh begitu mendengar namanya dipanggil. Yuri dan Soo Hyun pun berjalan mendekat kemudian membungkukkan badan memberi salam.

“maaf jika aku menganggu kalian…” ujar Siwon.

“apakah kakak ke sini sendiri, dimana kak Daejia?” tanya Yuri.

“ah…Daejia sedang di rumah..ia sedang kurang enak badan..”

“apa yang kakak sedang lakukan di sini?” tanya Soo Hyun tanpa berbasa-basi.

“Hyun..” Yuri menoleh ke samping, dimana Soo Hyun sudah berdiri di sampingnya sambil merangkul erat bahunya.

“apakah ada yang kakak ingin bicarakan?” tanya Soo Hyun.

Siwon tahu bahwa pastinya Yuri tidak tahu mengenai kepergian adiknya itu dari rumah dan ia tahu bahwa Soo Hyun tidak ingin hal itu diungkit di depan Yuri. Akan tetapi masalah keluarga ini harus segera diselesaikan.

“ya..ada yang ingin kubicarakan…mengenai sikap manajerku padamu..mungkin sebaiknya kita membicarakannya tidak di sini…” Siwon berbohong.

“ya…baiklah, aku akan menemui kakak begitu aku selesai mengantar Yuri ke dalam..” jawab Soo Hyun.

“ah..biar aku saja yang membawa ini…” Yuri mengambil kantong plastik belanjaan yang ada di tangan Soo Hyun. “kalian bisa berbicara di taman bawah..tempatnya cukup nyaman…”

“Yuri..” protes Soo Hyun.

“pergilah…kak Siwon sudah menunggumu daritadi..”  ujar Yuri yang bersikeras tidak mau melepaskan belanjaan yang ada di tangannya.

“baiklah..kalau begitu aku pergi dulu Yuri-ssi..” kata Siwon sambil membungkukkan badannya.

“ya..hati-hati di jalan kak..semoga kak Daejia cepat sembuh..” Yuri pun membungkukkan badannya juga.

“aku akan segera kembali..” kata Soo Hyun.

Yuri tersenyum mengangguk “ya..”

Soo Hyun pun membalikkan badannya dan berjalan mengikuti Siwon yang sudah berjalan duluan.

“apakah mereka sedang bertengkar?” pikir Yuri. “semoga saja tidak..”


- 08:15 PM, Seoul Grand Hottel, Seoul-
Gun Wook membaca berkas-berkas di hadapannya dengan seksama kemudian mengambil sebuah pena dari sakunya dan kemudian mulai menandatanganinnya satu persatu. Kim San Joong nampak puas sekali melihat penandatanganan itu. Gun Wook memasukkan berkas itu ke dalam map dan menyerahkannya kepada Kim San Joong.

“kuharap ini akan menjadi investasi yang sangat menguntungkan…” ujar Gun Wook seraya memasukkan pena ke dalam saku jasnya.

“tentu saja Tuan Shim…” Kim San Joong membungkukkan badannya.

“sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin kubahas…” ujar Shim Gun Wook seraya mengambil map yang lain kemudian menyerahkannya kepada Kim San Joong. Kim San Joong pun menerimanya dan membacanya.

“aku dengar dari rekan bisnisku ini adalah perusahaan yang bagus…bisakah kau membantuku untuk berinvestasi di sana?” tanya Gu Wook


- 09:54 PM Villa Keluarga Lee, Chuncheon,-
“selamat malam Yo Won-ssi..” kata dr. Ahn begitu ia dan Yo Won akan berpisah jalan menuju arah yang berbeda. Kamar Yo Wo berada di sisi kiri dari tangga sedangkan kamar tamu yang digunakannya berada di ujung lorong yang berlainan arah.  Jadi mereka akan berpisah jalan begitu mencapai lantai dua.

“selamat malam dr. Ahn..terimakasih sudah mengantarkanku hari ini…” jawab Yo Won seraya membungkukkan badan.

dr. Ahn pun tersenyum “semoga tidurmu nyenyak Yo Won-ssi..ingat kau harus beristirahat 8 jam sehari agar darah rendah tidak kambuh lagi…”

Yo Won pun tertawa kecil “baik dokter..” Ia pun berjalan masuk ke dalam kamarnya.

“bluff..” Yo Won segera menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur begitu pintu kamar sudah ia tutup.
Kedua matanya tertuju pada gelas hitam yang berada di bawah sinar lampu meja yang ada di samping tempat tidurnya.Gelas hitam yang sudah membuatnya terus berbohong kepada pamannya.

“kenapa kau mewarnainya dengan warna hitam?” terngiang suara Kang Ho Dong dalam benaknya.Tidak mungkin ia menjawab pamannya bahwa ia sendiri juga bingung kenapa ia memilih warna hitam. Tidak mungkin ia menjawab pamannya bahwa saat memilih warna, yang ada di dalam pikirannya adalah seorang pria yang selalu mengenakan jas hitam di kantor dengan kedua bola mata hitam yang selalu membuat jantungnya berdebar keras tidak menentu saat menatapnya. Dulu Pamannya itu pernah berkata bahwa membuat gerabah bisa mengeksplorasi perasaan terdalam dari seseorang melalui bentuk dan tekstur gerabah yang dibuatnya. Pembuat itu itu sendiri kadang  bisa merasa bingung, dan kali ini ia merasakannya sendiri. Ia juga harus mengakui pada dirinya sendiri jika sebenarnya bahwa ia tidak sekuat dan setegar yang orang-orang bayangkan. Ia memang tegar namun tidak selamanya.  Ada saat-saat dimana ia merasa lemah dan lelah namun tidak mungkin bagi dirinya menceritakan semua masalah yang dihadapinya itu kepada ayahnya di saat ayahnya sedang membutuhkan pertolongannya. Ia tidak ingin membuat ayah khawatir dan cemas terhadapnya. Meskipun ia tetap terus menerus menanamkan pikiran positif bahwa ia mampu melewati semuanya, tetap saja rasa takut dan was-was itu tetap ada. Ia sendiri sangsi jika bukan karena ada seseorang yang menolongnya, ia bisa selamat hidup-hidup dari peristiwa di kapal waktu itu.

Dan memang di saat ini ia sedang bingung, banyak pertanyaan yang terus bergaung dalam pikirannya. Masalah mengenai perusahaan, masalah penyelundupan waktu itu yang sampai sekarang belum ia pecahkan. Pertemuannya dengan Jang Se Jin mengingatkan dirinya untuk tidak lupa menyelidiki siapa orang dalam Heritage Club yang menjadi otak dibalik penyelundupan waktu itu.  Dan tentu saja pertanyaan mengenai dirinya sendiri dan Shim Gun Wook.

Sementara itu mengenai garis merah melingkar yang dibuatnya, itu adalah jawabannya yang bisa dikatakan paling jujur. Ia benar-benar tidak tahu akan menghias gelas berwarna hitam ini dengan apa. Dan mengenai arti warna merah dan lingkaran, ia juga tidak tahu. Tapi mengenai makna khusus, mungkin bisa dikatakan separuh jujur, karena di saat ia sedang memikirkan apa yang harus ia gambar, gelang merahnya yang ia simpan dalam saku terjatuh. Dan dari situ ia mendapat inspirasi untuk membuat lingkaran merah. Akan tetapi gelang itu sendiri memiliki arti tersendiri baginya.  Dan sepertinya apa yang dikatakan pamannya mengenai warna merah dan lingkaran itu tepat. Gelang merah ini memang membuatnya perasaannya berdebar keras namun di sisi lain ada perasaan hangat yang membuatnya nyaman. Gelang merah itu juga berarti hubungan, karena memang ia dan si pemberi gelang ini bukanlah orang asing yang tidak saling kenal. Dan itu juga berarti bahaya baginya karena ia belum mengenal siapa itu Gun Wook. Sesuatu bisa dikatakan berbahaya jika orang tidak mengetahui dengan jelas sesuatu yang sedang dihadapinya itu. 

Yo  Won memegang gelas itu namun tidak mengambilnya. Mungkin gelas ini sudah membuatnya berbohong tadi, tetapi ini juga membuatnya jujur dan mengenal perasaannya sendiri. Perasaannya mengenai dirinya sendiri, mengenai masalah yang dihadapinya, dan perasaannya mengenai Shim Gun Wook.