Pages

Jumat, 21 Mei 2010

Chapter 09

Ruang Kerja Raja.
Deok Man duduk terdiam. Kesedihan dan kecemasan terpancar di wajahnya. "aku yakin Bi Dam pasti menang"kata Raja tiba-tiba. Ia bisa melihat kecemasan di wajah bibinya itu. Deok Man kaget "ah, iya..aku hanya sedikit cemas saja.."."tapi wajahmu tidak mengatakan itu hanya sedikit, Putri Deok Man."jawab Raja.
Bi Dam berjalan menuju pintu ruang kerja Raja dan memasukkinya.
"hormat saya, Yang mulia." hormat Bi Dam. "Bi Dam" panggil Deok Man dengan nada bahagia. Ketakutan dan kecemasannya hilang dalam sekejap "saya melaporkan bahwa pasukan Utara dan Istana berhasil mengalahkan pasukan Ryugu."lapor Bi Dam. Para Pejabat Istana mengucapkan selamat kepada Raja "selamat Yang Mulia atas kemenangannya". "dan izinkan saya menjemput Putri Deok Man pulang" Bi Dam mengulurkan tangan kanannya kepada Deok Man. Deok Man segera menghampirinya dan menggandeng tangannya. "ayo kita pulang." kata Bi Dam. "ya" jawab Deok Man sambil menggenggam erat lengan Bi Dam. "Alcheon, siapkan tandu untuk mereka pulang. pasti mereka sangat lelah."titah Raja. "baik, Yang Mulia"jawab Alcheon. "kami sangat berterima kasih atas kemurahan hati yang mulia."hormat Bi Dam. Bi Dam dan Deok Man berjalan keluar Istana menuju tandu mereka untuk pulang.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
"aku pulang"seru Bi Dam setibanya di depan gerbang. "selamat datang"jawab Deok Man yang berdiri di sampingnya. Mereka memasuki rumah. Deok Man segera memerintahkan para pelayannya untuk menyiapkan air mandi untuk suaminya dan dirinya itu dan menyiapkan makan malam yang sudah ia siapkan. Bi Dam mengangkat alisnya. "aku ingin mandi bersamamu, Bi Dam..kau sedang terluka, aku akan membersihkan lukamu..ini handukmu.." Deok Man menyerahkan handuk bersih untuk suaminya. "baiklah"jawab Bi Dam sambil tersenyum. Setelah air mandi siap. Mereka berdua memasukk kamar mandi yang cukup besar itu. Dengan hati-hati, Deok Man menanggalkan pakaian perang dan pakaian Bi Dam. Nampak lebam-lebam dan luka akibat pertempuran, dengan lembut, Deok Man membersihkannya dengan kain yang direndam air hangat. "aku lega kau pulang dengan selamat, Bi Dam."gumam Deok Man. Setelah bersih, sekarang giliram Deok Man yang membasuh dirinya sebelum berendam. Bi Dam membantu membilas rambutnya dan punggungnya. Lalu mereka berendam bersama sambil bertukar cerita mengenai kegiatan mereka selama seminggu ini.
Selesai berendam, mereka segera berpakaian dan berjalan ke ruang makan. Deok Man sangat senang ia bisa makan bersama suaminya kembali. Setelah selesai, mereka berjalan-jalan sebentar mengitari taman sebelum kembali ke kamar.
"Bi Dam, luka-lukamu harus segera diobati"ujar Deok Man sambil memegang kotak obat. "tidak perlu Deok Man, ini hanya luka kecil saja"jawab Bi Dam yang sedang berbaring di ranjang. Deok Man segera menghampiri Bi Dam dan membuka paksa pakaiannya agar lukanya bisa diobati. Bi Dam hanya bisa pasrah dan tertawa. Raut Deok Man serius menatap luka-luka Bi Dam "luka kecil akan menjadi luka besar bila tidak diobati. aku tahu kau itu kuat tapi aku sangat mengkhawatirkanmu". Tiba-tiba air mata Deok Man jatuh.
ke atas tubuh Bi Dam. Melihat itu, Bi Dam segera duduk dan menghapus air mata dari pipi istrinya itu "maafkan aku Deok Man. aku memang bodoh tidak menyadari perhatian istriku sendiri"Bi Dam memohon maaf. "aku maafkan" jawab Deok Man sambil tersenyum. Setelah selesai mengobati luka, Deok Man duduk di ranjangnya dengan kepala Bi Dam di atas pangkuannya. "aku sangat merindukanmu dan bayi kita" gumam Bi Dam sambil mengusap perut Deok Man. "kami juga sangat merindukanmu Bi Dam"jawab Deok Man sambil membelai kepala Bi Dam. Bi Dam lalu duduk dan menatap Deok Man lalu menciumnya "aku mencintaimu, Deok Man.." "sebesar cintaku padamu, Bi Dam." angguk Deok Man. Dan mereka pun terlarut dalam kebahagiaan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar