Pages

Jumat, 21 Mei 2010

Chapter 27

Siang hari. Kowon.
Setelah menempuh 2 hari lebih perjalanan, Godo dan pasukannya tiba di Kowon. Mereka datang menyamar sebagai pedagang dan orang biasa agar tidak terlihat mencolok.
"lapor Kolonel, menurut informasi yang saya dapat, kita dapat berlayar hari ini karena cuaca buruk sudah mereda.."kata salah seorang pasukan melapor kepada Godo. "baiklah ayo kita berangkat"lalu mereka berjalan cepat menuju pantai untuk berlayar.

Istana.
"Panglima memasuki ruangan" teriak penjaga pintu. Yushin berjalan memasuki ruang kerja Raja lalu memberi hormat kepada Raja yang sedang duduk di kursinya. "Yang Mulia memanggil saya?"tanyanya.
"ya..duduklah, Panglima.."jawab Raja. "apakah sudah ada kabar dari Kowon?"tanya Kim Seo Hyun yang juga hadir di ruangan itu. Hadir pula Kim Yong Chun dan Putri Man Myeong. "belum..butuh waktu 2 hari perjalanan untuk mencapai Kowon..mungkin sekarang mereka sedang melakukan pencarian.."jawab Yushin. "maaf bukannya saya bermaksud buruk tapi jika Perdana Menteri Bi Dam tetap ditemukan, apa yang akan Panglima lakukan?"tanya Kim Yong Chun. Yushin terdiam. Raja menghela napas dalam-dalam "jika kemungkinan terburuk itu terjadi..sesuai hukum yang berlaku, kita akan melaksanakan prosesi pemakaman tanpa jasad Perdana Menteri...Perdana Menteri dianggap sudah gugur dalam melaksanakan tugas negara..akan tetapi kita harus berdoa semoga kemungkinan itu tidak terjadi.." "tentu saja kita tidak mau itu terjadi..malang sekali nasib Putri Deok Man..di saat sedang menanti kelahiran anak pertamanya, harus mengalami ini.."kata Putri Man Myeong ikut sedih. "bagaimana keadaan Tuan Putri sekarang?saya tidak melihatnya di Istana.."tanya Yushin. "Putri Deok Man memutuskan untuk kembali ke kediamannya sendiri..kata Permaisuri "kondisinya sudah sehat kembali.." "syukurlah.."ucap Yushin dan Putri Man Myeong hampir bersamaan.

Sore hari. Kowon.
Godo dan pasukannya berlayar mendekati lokasi tempat Bi Dam jatuh. Karena cuaca baik, mereka bisa berlayar lebih dekat meskipun tak bisa ke lokasinya langsung karena ombaknya besar dan banyak batu karang besar. "Kolonel, ada sesuatu terapung di tengah laut sana"tunjuk salah satu prajurit. Godo melihatnya "kau berenang dan bawa itu ke sini."perintahnya pada prajurit di sebelahnya. Prajurit itu kemudian melompat dari perahu lalu berenang ke arah benda itu dan mengambilnya kemudian berenang kembali ke arah perahu dan menyerahkan benda yang ia temukan kepada Godo. Godo terkejut begitu melihatnya "ini..ini ikat kepala Perdana Menteri..berarti beliau ada di dekat sini..ayo dayung perahu ini..kita cari di sekitar sini" seru Godo.
Namun hingga matahari terbenam, Godo tidak menemukan apa-apa. Karena hari sudah mulai gelap dan seluruh tempat sudah mereka jelajahi, Godo memerintahkan anak buahnya untuk kembali ke pantai.
Di pantai, anak buah Godo yang lain sudah menunggu. Mereka segera menghampiri Godo yang baru turun dari kapal dan memberi hormat. "bagaimana?apakah kalian menemukannya?" tanya Godo. Mereka menggelengkan kepalanya "kami sudah mencarinya kemana-mana, seluruh desa nelayan dan laut sekitar tapi tidak menemukannya"jawabnya. Lalu salah satu anak buah di belakang Godo nyeletuk "jangan-jangan Perdana Menteri Bi Dam sudah tenggelam di tengah laut..ikat kepalanya saja terbawa sampai sejauh itu" Godo menoleh dan memelototinya, anak buahnya langsung menundukkan kepala takut. Raut wajah Godo menjadi muram. Ia memikirkan kata-kata anak buahnya itu dan laporan anak buahnya yang lain. Ia berjalan lunglai lalu duduk di atas sebuah batu besar. Hatinya terasa sangat berat harus menerima kenyataan bahwa Bi Dam sudah meninggal tenggelam di laut, namun begitulah kenyataan yang ia dan anak buahnya temukan. Bi Dam tidak ditemukan dimana-mana, apakah itu bukannya berarti ia sudah meninggal tenggelam di dasar laut, itulah kesimpulannya. Lalu teringat olehnya perintah dari Yushin yakni agar ia harus segera kembali ke Soeraboel setelah melakukan pencarian ke seluruh tempat meskipun harus pulang dengan tangan kosong. "Perdana Menteri.."isak Godo. Godo jadi teringat hari-harinya di masa lalu, ketika ia, Jukbang, Yushin, dan Bi Dam bersama Deok Man berjuang agar Deok Man bisa naik takhta dan melawan Mi Shil, meskipun ia tidak begitu akrab dengan Bi Dam tapi ia sangat mengaggumi kegigihan dan kemampuan bela diri Bi Dam. Ia ingat saat mereka sedang berganti pakaian sebelum mereka pergi menolong Yushin, Bi Dam meminta mereka untuk lebih mengutamakan keselamatan Yushin sekalipun nanti ia sendiri disandera. Usaha menolongnya baru dilakukan setelah Yushin bebas dan aman lebih dahulu. Karena itu perintah, terpaksa ia melakukannya. Membiarkan Bi Dam disandera sendirian. Baginya baik Yushin maupun Bi Dam adalah panutan hidupnya. Setelah merenung cukup lama, Godo menghapus air matanya dan berdiri menghadap para prajuritnya "baiklah..kita sudah mencarinya ke semua tempat dan tetap tidak menemukannya, sesuai perintah Panglima kita harus segera kembali kembali ke Soeraboel..bersiaplah" ujarnya. "siap.." jawab seluruh pasukan bergerak untuk bersiap-siap.

4 komentar:

  1. Miya.,,. Bi Dam g mati kan? Ngga kan?? Dia udah janji ma deokman klu dia pasti pulang.. T____T

    BalasHapus
  2. yah kalo nasib berkata lain apa boleh buat T.T

    BalasHapus
  3. Hiks.. Hiks.. Tega'y dikau.. Baiklah, aq akan mnata hatiq dulu.. Siap terima kenyataan klo bi dam
    ma...ti... Hiks..

    BalasHapus
  4. sista baca yg chapter 29 part 2 dunkz...

    BalasHapus