Pages

Kamis, 30 Desember 2010

Our Future Still Continue Chapter 72 : The Heart and The Logic






Di hari yang sama
Siang hari.
Perbatasan Wonju. Kamp Militer Shilla.
“jadi dari semua bukti dan kejadian ini, aku menyimpulkan bahwa Baekje lah pelakunya..” ujar Yushin mengakhiri penjelasannya mengenai hasil analisisnya.  “jadi Baekje sengaja menghasut Goguryeo untuk berperang dengan kita..kurang ajar Uija..dia yang meminta perdamaian sekarang ia diam-diam memulai perang..” geram kesal salah seorang jenderal yang hadir di situ. “kurasa Uija tidak terlibat dengan masalah ini..ini adalah rencana Daemusin, Panglima Perang Baekje…namun aku tak tahu apakah mereka berminat menyerang kita bersamaan di saat kita berperang dengan Goguryeo…ataukah setelahnya..” “jumlah pasukan kita yang siap berperang adalah 50.000..itu berarti setidaknya kita harus membagi 2 pasukan…untuk menghadapi Goguryeo dan Baekje..” Im Jong mengemukakan pendapatnya.  “yah itu juga yang aku pikirkan..oleh karena itu bagaimana pendapat kalian..Goguryeo sekarang memiliki 31.000 prajurit…kita masih unggul jika menyerang dengan kekuatan penuh..namun jika Daemusin menyerang Shilla dengan kekuatan penuh beserta dengan pasukan Wa..aku ragu kita bisa bertahan..” “jika memang Baekje berniat menyerang kita..kira-kira darimana mereka akan mulai menyerang kita..ada cukup banyak benteng Baekje di sekitar perbatasan Shilla-Baekje..bagaimana jika 30.000 pasukan itu dibagi dalam kelompok kecil-kecil di setiap benteng itu…” salah satu jenderal bertanya. Yushin mengangguk mengerti dan menjawabnya “kurasa Daemusin akan memfokuskan kekuatannya itu berkumpul di tangannya…secara logika dengan begitu kekuatan akan mudah dikontrol dan diatur  apalagi 30.000 pasukan itu adalah pasukan asing…mereka tentu akan kebingungan jika dibagi terpecah-pecah di tempat yang mereka baru kenal..dan Hwangsanbeol  adalah benteng terbesar yang dimiliki Baekje yang cukup menampung semua pasukan itu dalam satu tempat..dan jaraknya tidaklah juah dari Shilla..” “jadi apa yang harus kita lakukan sekarang adalah membaginya atau tidak?” gumam para jenderal itu mengambil kesimpulan. “oleh karena itu aku akan mengadakan pengambilan suara mengenai hal ini, siapa yang setuju dibagi dan siapa yang tidak..” Yushin melanjutkan. Para jenderal pun mengangguk setuju. “pengambilan suara dimulai..”   

Bi Dam membuka matanya perlahan, “selamat pagi..” ia menoleh ke samping dilihatnya istrinya sedang berbaring tersenyum menatapnya. Bi Dam tercengang dengan apa yang dilihatnya “Deok Man…” gumamnya. “iya ini aku Bi Dam..” Deok Man mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir suaminya. “apakah ini mimpi?ataukah aku sudah berada di alam sana?” pikir Bi Dam. Deok Man tersenyum menatapnya “ayo kita mandi..hari ini kan kita berjanji akan pergi jalan-jalan bersama anak-anak…” kemudian bangun dari tidurnya dan membuka lemari pakaiannya mengeluarkan pakaian Bi Dam dan miliknya. “Bi Dam?” ia menatap suaminya yang masih tercengang. Bi Dam pun tersadar dari lamunannya “ah iya..”    ia pun bangun dari tempat tidurnya dan berjalan mengikuti istrinya ke kamar mandi. Setibanya di dalam kamar mandi, Bi Dam pun menanggalkan pakaiannya. “aku akan menggosok punggungmu dulu..” ujar Deok Man begitu selesai melepaskan pakaiannya. Bi Dam tersenyum mengangguk. Deok Man menuangkan  minyak mandi di punggung suaminya lalu menggosoknya perlahan. Bi Dam bisa merasakan sentuhan lembut tangan istrinya di punggungnya. “nah sekarang gantian..”  ujar Deok Man sambil tersenyum lebar. Bi Dam pun berganti giliran. Ia menuangkan minyak mandi di atas punggung istrinya. “aku tak peduli apakah aku sudah mati atau belum..atau dimana aku sekarang yang penting ia ada di depanku..”pikir Bi Dam sebelum ia memeluk istrinya. “Bi Dam?” Deok Man terkejut dengan pelukan suaminya. “aku mencintaimu..” gumam Bi Dam di telinganya sambil mengecup lehernya dari belakang. Deok Man tersenyum dan menggenggam kedua tangan suaminya yang sekarang memeluk perutnya. “aku juga mencintaimu Bi Dam..”  Lalu setelah membilas punggung istrinya, mereka masuk ke dalam bak mandi. Deok Man menikmati air hangat yang merendam tubuhnya sambil menyandarkan dirinya di bahu suaminya. Lalu tiba-tiba Deok Man bangun dari sandarannya “eh cincinnya..” gumamnya sambil meraba-raba dasar bak dengan tangannya “ada apa?” tanya Bi Dam melihat istrinya. “cincinku terlepas karena licin…” Bi Dam pun ikut mencarinya. Ia menceburkan kepalanya sebentar ke dalam air. Ia melihat sebuah cincin emas tergeletak tak jauh dari tempat istrinya duduk. Ia pun mengambilnya. Deok Man menghela napas lega begitu meilhat Bi Dam tersenyum menunjukkan cincin itu. “sini aku pakaikan..” ujar Bi Dam tersenyum.  Deok Man mengulurkan tangan kanannya. “aku berjanji untuk selalu mencintaimu sampai maut menjemputku..” gumam Bi Dam sambil memasangkan cincin di jari tengah istrinya. Deok Man tersenyum menatapnya dan mengusap pipi suaminya dengan lembut. “percayalah padaku..aku pasti akan segera kembali sisimu..” gumamnya sambil tersenyum. Bi Dam teringat itu adalah kata-kata istrinya sesaat sebelum pergi ke Tang. “Deok Man?” gumam Bi Dam. Lalu perlahan Deok Man pun mulai menghilang. “Deokman?!” Bi Dam bisa merasakan perlahan tangan Deok Man mulai menghilang dari genggamannya. Dan Deok Man pun menghilang dari pandangannya. “Deok Man!!” seru Bi Dam. Dan pandangannya pun kembali menjadi gelap.

Jalur Kumi - Taejon, Shilla.
“Tuan..Tuan Perdana Menteri..sadarlah..” Bi Dam bisa mendengar suara memanggil-manggilnya. Ia pun membuka matanya perlahan. Dilihatnya Alcheon duduk di sampingnya mengkhawatirkannya. “ugh..” Bi Dam mencoba untuk bangun, namun bagian belakang kepalanya sangat nyeri. “kepalaku diperban?” tanya Bi Dam. “ya Tuan..tadi Tuan terjatuh dari kuda…dan kepala Tuan terluka…” “ini dimana?” tanya Bi Dam sambil melihat sekeliling. “ini di dalam kemah milik komandan.…” jawab Alcheon. Bi Dam pun bangun dari tempat tidurnya  dan berjalan keluar kemah.  “Tuan mau kemana?” tanya Alcheon. Namun Bi Dam hanya diam dan berjalan menuju gubuk di hadapannya.  Alcheon pun tahu kemana Bi Dam pergi. Bi Dam melangkah masuk ke dalam gubuk. Ia melihat beberapa orang prajurit sedang berdiri  mengerumuni jenazah istrinya. “apa yang kalian lakukan?” para prajurit itu pun menoleh ke belakang dan memberi hormat. “kami sedang membalsamnya Tuan..agar tidak membusuk..”  ujar salah satu prajurit. “kalau begitu lanjutkan..” Setelah menunggu beberapa lama, para prajurit itu pun selesai lalu berjalan menuju ke tempat mayat yang lain,  Bi Dam mendekati jenazah istrinya. “Deok Man..kau berjanji akan segera kembali sisiku..tapi kau sekarang ada di hadapanku tidak bernyawa..” gumam Bi Dam. Air matanya kembali menetes. Ia melihat ada yang salah pada jenazah istrinya itu. Cincin yang dikenakan istrinya terbalik. Seharusnya di jari tengah kanan bukan kiri. “hei kalian?!” panggil Bi Dam. “ya Tuan..” sahut kesemua prajurit yang ada di situ. “siapa yang merubah posisi cincin ini?” tanya Bi Dam. Para prajurit itu hanya saling menatap heran satu sama lain. “kami tidak merubahnya Tuan..sejak ditemukan pertama kali..kondisinya memang seperti itu, tidak ada yang kami ubah..”  “Deok Man memakai cincinya di kiri?bukankah ia selalu memakainya di kanan?” Bi Dam pun teringat ketika Deok Man yang  masih dipanggilnya dengan sebutan Yang Mulia memberikannya cincin untuk pertama kalinya dan memintanya pergi ke Chu A Gun, Deok Man memakai cincinnya di jari tengah kanan. ”begitu juga di mimpiku tadi…” pikirnya. Tiba-tiba terbersit dalam benak Bi Dam untuk memeriksa keseluruhan jenazah dihadapannya itu. Pikiran dan hatinya pun saling adu argumen. “jika ini bukan mayatnya lalu ini siapa..Deok Man tidak membawa dayang-dayangnya..berarti seharusnya tidak ada wanita di dalam rombongan itu..bisa saja prajurit itu lupa kalau mereka memasang cincin itu terbalik..lagipula bagaimana kau bisa membuktikan bahwa ini bukan Deok Man..tanda lahirnya ikut menghilang bersama kepalanya..” logikanya berkata. Namun hatinya berkata lain ”ini bukan Deok Man..ia tidak mengenakan cincin di jari kirinya…periksa mayat itu..” Bi Dam pun tahu jika ternyata dugaanya salah berarti ia akan merasakan kenyataan yang lebih pahit, dan besar sekali peluangnya untuk salah dibandingkan benar. Kedua tangannya bahkan ikut gemetar untuk membuka pakaian jenazah itu. “Tuan? Apa yang akan Tuan lakukan?” tanya Alcheon yang baru saja masuk. Bi Dam hanya diam saja.  “semuanya akan baik-baik saja Bi Dam..aku akan segera kembali ke sisimu percayalah..” terbersit dalam benaknya saat-saat sebelum Deok Man pergi dan tersenyum padanya.  “meskipun peluangnya kecil akan kucoba..”  gumamnya sambil memantapkan tangannya yang gemetar. Ia pun membuka pakaian jenazah di hadapannya itu. Kulit mayat sudah putih pucat dan semua mayat pastinya kan berwarna seperti itu. Ia melepaskan pakaian mayat itu agar lebih jelas. “Tuan..apa yang Tuan lakukan?” Alcheon khawatir dengan yang dilakukan Sangdaedeungnya itu. “ini tanda lahir?” pikir Bi Dam melihat bercak coklat di bahu kanan mayat itu. Ia mengusap bercak coklat itu dan tak hilang. “hei prajurit?” panggil Bi Dam. “apakah ini bercak coklat ini sudah ada sejak lama?” tanya Bi Dam.  Seorang prajurit datang memeriksanya. Jantung Bi Dam berdebar dengan keras  menunggu jawaban. “ya Tuan..ini adalah tanda lahir wanita ini…ini sudah ada sejak kami temukan..”  Bi Dam jatuh berlutut menghela napas lega. “Tu..Tuan..” Alcheon dan prajurit itu berusaha memapahnya.  “syukurlah..dia bukan Deok Man..” gumam Bi Dam. “di..dia bukan Tuan Putri maksud Tuan?” “Deok Man tidak punya tanda lahir di bahunya tanda lahirnya hanya satu yakni di belakang telinga kirinya. ..” gumam Bi Dam. Mendengarnya, Alcheon menghela napas lega dan bersyukur dalam hatinya. “syukurlah ini bukan kau Deok Man…lalu kau dimana?” pikir Bi Dam. “oh ya Tuan..Yang Mulia Raja mengirimkan surat ini untukmu..katanya sangat penting… “ Alcheon menyerahkan sebuah amplop merah yang diberi cap kerajaan pada amplopnya. Bi Dam segera membukanya.


Bi Dam, sesaat setelah kau pergi, aku menerima surat dari Putri Huang Shi untukmu. Maafkan aku karena telah membaca suratmu, namun isinya ternyata sangat penting dan berguna karena sepertinya terkait dengan perang yang sedang berlangsung  ini juga, oleh karena itu aku mengirimkan  salinan separuh surat ini kepada Panglima Yushin dan mengirimkan aslinya kepadamu. Yang Mulia Raja.

Bi Dam mengeluarkan lembaran lain dari amplop itu. Ada dua lembar rupanya. Ia pun membaca semuanya mulai dari lembaran awal. “Goguryeo bekerja sama dengan Baekje..”  Bi Dam membuka lembarannya yang kedua.  “Pamanku yang juga seorang Jenderal Tang mengatakan sebenarnya ini rahasia namun kurasa aku bisa mempercayakan rahasia ini padamu… Baekje bisa dikatakan berhasil  diam-diam merampok persenjataan pedang dari kapal militer milik pasukan Tang..ini dirahasiakan lantaran tidak ingin Kaisar Taizong murka..lagipula setelah dilakukan penyelidikan, sampai sekarang belum ditemukan bukti kuat bahwa Baekje melakukannya..Paman menduga Baekje karena di perairan itu saat itu hanya ada 1 kapal asing selain kapal militer yakni kapal dagang Baekje yang tidak memiliki izin..namun  tidak ditemukan barang yang hilang di sana..” Bi Dam membacanya dengan seksama sampai ke selesai. “Baekje sialan!!” seru Bi Dam. “Tu..Tuan..” “ternyata Baekje yang berada di balik penyerangan ke kediamanku beberapa waktu lalu..dan sepertinya ini juga ulahnya..Alcheon..perintahkan komandan Choi dan pasukannya untuk mencari Tuan Putri di seluruh wilayah ini..periksa juga apakah Tuan Putri pernah sampai ke kota Taejon..sekarang!” perintah Bi Dam “baik Tuan..” jawab Alcheon sambil memberi hormat sebelum pergi.

Perbatasan Shilla- Baekje.  (30 KM dari Hwangsanbeol, 7 KM dari kota Taejon)
“tak lama setelah wanita itu pingsan, Tuan Seung Won membawanya ke hadapan kami dan memintanya agar ia dipisahkan dari kelima pria pengawalnya… ia menatap ibuku dengan tatapan bengisnya lalu menariknya dengan paksa…kemudian menyuruh kami pergi dari hadapannya…” In Seong tiba-tiba terdiam berhenti berbicara. Air matanya menetes membasahi pipinya.  Baek Ui yang sekarang duduk di sampingnya, merangkulnya seperti rangkulan seorang ayah kepada anaknya. “para prajurit memaksa kami pergi..namun aku berhasil kabur dan diam-diam melihat apa yang ia perbuat terhadap ibu…bajingan itu menusuk dada ibu dengan pedangnya lalu..lalu..”  isak tangis In Seong semakin keras “kepala ibu dipenggal olehnya..” “tak lama kemudian seorang prajurit berhasil menemukanku dan memukulku hingga pingsan..dan begitu sadar aku pun sudah berada entah dimana..ibuu..” In Seong menangis di dalam dekapan Baek Ui.  Setelah beberapa saat, ia pun mencoba berhenti menangis dan menenangkan dirinya. Baek Ui menuangkan segelas teh untuknya. “apa kau tahu nama wanita yang diculik?apakah kalian berniat untuk merampok?”  “tidak..kami tidak merampok barang satu pun..karena tak ada barang berharga di sana…aku tak tahu apa tujuan Tuan Seung Won, karena ia hanya menyuruhku untuk mengalihkan perhatian para pengawal wanita itu..dan mengenai wanita itu, wanita itu sangat cantik dan begitu baik terhadap kami…ia menerima kami berteduh bersamanya di gubuk itu…para pengawalnya memanggilnya dengan panggilan Nyonya..tetapi entah kenapa Tuan Seung Won menyebutnya Putri.. ya Putri Deok Man…” Baek Ui terkejut mendengar nama Putri Deok Man. “Pu..Putri Deok Man katamu?kau yakin tidak salah mendengarnya?” tanyanya. “i..iya…aku yakin Tuan Seung Won menyebut wanita itu Putri Deok Man..” jawab In Seong  “apalagi yang kau tahu tentangnya?mungkin tentang rombongannya?” tanya Baek Ui berusaha mencari tahu. “hmm…salah satu anggota rombongan kami pernah bertanya kepada salah satu pengawal rombongan itu tentang  asal mereka…mereka bilang mereka berasal dari Seoraboel  dan sedang menuju kota Taejon…hanya itu yang kutahu..” Baek Ui pun terdiam sejenak memikirkan apa yang baru didengarnya “tunggu… kabar yang terakhir kudengar…Tuan Putri berencana pergi ke Tang minggu ini…dan untuk mencapai pelabuhan menuju ke Tang..bisa saja Tuan Putri melewati jalur Kumi-Taejon..”  “dan sesuai dengan janjiku kepada Tuan..aku akan memberitahukan kemana Tuan Seung Won menyuruhku aku dan rombonganku membawa semua senjata ini…”  Baek Ui pun tersadar dari lamunannya. “kami diperintahkan membawanya ke benteng terbesar milik kerajaan asal kami, Baekje yakni Benteng Hwangsanbeol..” Baek Ui pun kembali dikejutkan oleh In Seong “Hwangsanbeol?jadi militer Baekje sendiri yang memasok senjata ini?” In Seong mengangguk “tak hanya rombongan kami..namun juga ada banyak rombongan yang menyamar seperti kami agar bisa melewati perbatasan…kami diperintahkan membawa semua senjata dari Goguryeo ke Hwangsanbeol..” “dari Goguryeo ke Hwangsanbeol?” tanya Baek Ui dengan wajah shock. “iya..karena kebijakan Yang Mulia Raja kami yang melarang pengembangan senjata di dalam Baekje, kami harus diam-diam menyeludupkan senjata-senjata ini ke sana…dan rombonganku di bawah perintah Tuan Seung Won memiliki tugas tambahan untuk membantu penyerangan rombongan pedagang itu…” “tunggu..berarti Tuan Seung Wonmu itu menculik wanita itu..apa kau tahu sekarang ia dimana?” In Seong pun menggelengkan kepalanya “aku tak tahu…setelah penyerangan itu , Tuan Seung Won dan pasukannya memisahkan diri dari kami….tapi sepertinya ia membawa wanita itu ke hadapan Tuan Panglima…karena ketika ia membawa wanita itu, bajingan itu bergumam dengan penuh kemenangan kalau Tuan Panglima akan mengangkatnya menjadi jenderalnya karena tugas darinya berhasil..” “jadi semua ini berawal di Hwangsanbeol..” pikir Baek Ui. “prajurit!” panggil Baek Ui. Salah satu prajurit berjalan dan memberi hormat kepadanya “siap Jenderal..” “kirimkan kabar kepada Jenderal Yesung untuk bertemu denganku di kota Taejon besok..aku akan menemuinya di sana..” Baek Ui memberikan perintah. “baik Jenderal..” prajurit itu memberi hormat.

Sore hari
Perbatasan Wonju. Kamp Militer Shilla.
“dari 9 jenderal yang hadir di sini, 5 setuju untuk membagi dua, 2 memilih untuk netral, dan 2 menolak untuk membagi dua..jadi sesuai dengan keputusan suara terbanyak, maka aku membuat keputusan untuk membagi 2 jumlah pasukan yang kita miliki..” “lalu siapa yang akan memimpin perang melawan Baekje dan siapa yang akan memimpin perang melawan Goguryeo?” tanya salah satu jenderal yang hadir di situ. Wolya pun ikut angkat bicara “jika aku boleh mengusulkan…aku yang akan memimpin pasukan melawan Goguryeo dan Panglima Kim Yushin yang memimpin perang melawan Baekje…kurasa kecerdikan Daemusin dari Baekje hanya bisa disandingkan dengan kepandaian Panglima Yushin dari Shilla..” “ya…aku setuju dengan usul Jenderal Wolya..” ujar para jenderal  satu sama lain. “baiklah..kalu begitu aku putuskan aku Kim Yushin yang akan memimpin perang melawan Baekje dan  Jenderal Wolya yang akan memimpin perang melawan Goguryeo..malam ini aku akan segera berangkat ke perbatasan dekat Hwangsanbeol..Jenderal  Shin, Jenderal Yul, Jenderal Tae Soo, kalian ikut denganku…kita akan bergabung dengan Jenderal Baek Ui dan Jenderal Ye Sung di sana.. ” “baik Jenderal..” jawab ketiga jenderal yang disebutkan namanya itu. Lalu para jenderal pun keluar dari kemah untuk bersiap-siap, hanya tinggal Wolya dan Yushin saja di sana. Yushin membuka kotak miliknya dan mengeluarkan sebuah buku, lalu memberikannya kepada Wolya. Wolya menerimanya dan agak terkejut melihatnya “buku ini..”  Yushin mengangguk “ya..ini salah satu buku 3 Han karya Gukseon Munno…mungkin ini bisa membantumu..seperti ini membantuku di perang-perang yang sebelumnya..”  Wolya tersenyum dan menepuk bahu sahabatnya itu “kenapa ekspresimu kaku seperti itu Yushin?apa kau takut aku akan kalah?” Yushin tersenyum kecil “bukan begitu..hanya saja aku merasa kita bertaruh sangat besar sekali untuk perang kali ini…25.000 melawan 31.000 dan 25.000 melawan 60.000…” “hmm…harus kuakui Daemusin sangat mempersulit hidup kita kali ini..ia berhasil memperdaya seorang Yeon Gaesomun dan menghimpun pasukan sebanyak itu…mungkin akan lebih mudah menghadapi mereka sekaligus dalam 1 aliansi daripada terpisah seperti ini” “justru itulah yang diincar Daemusin..jika beraliansi tentu bagian untuknya akan jauh lebih kecil, dibandingkan dengan apa yang akan ia dapatkan sekarang jika menang…jika ia berhasil menundukan Shilla tentu Goguryeo akan gentar menghadapinya..” Yushin hanya mengangguk sambil membereskan buku-bukunya. “tunggu apa perlu kita menyebarkan kabar ini ke telinga Yeon Gaesomun?siapa tahu ia akan menghentikan perang ini?ia tentu tak mau menjadikan Baekje sebagai musuhnya kelak.. ” ujar Wolya. “untuk apa?justru itu akan semakin memacunya untuk menghabisi kita…aku yakin dalam rencana Yeon Gaesomun sendiri pasti ada niat untuk menyerang Baekje suatu saat nanti setelah berhasil menundukkan Shilla… “ Wolya pun mengangguk mengerti “tapi rencana ini sedang diwujudkan oleh Daemusin…Yeon Gaesomun kalah selangkah jauh di belakang dari Daemusin..” “ya..oleh karena itu jika Yeon Gaesomun tahu..ia pasti akan berusaha menundukkan kita dahulu secepat mungkin…tapi pastinya Daemusin sendiri akan mencegah berita itu terdengar cepat…karena jika aku menjadi dirinya..tentu akan lebih mudah menaklukan negara yang sedang berperang…”  “hmm.. aku mengerti .. itu berarti aku harus bergerak lebih cepat dari kabar itu…setidaknya dengan begitu mereka akan berpikir bahwa kita menyerang mereka dengan 50.000 pasukan, tidak dengan 25.000..” jawab Wolya sambil membaca sekilas buku yang dipegangnya. “ya itulah sedikit keuntungan yang bisa kita ambil..meskipun nanti tidak Goguryeo tidak berhasil ditaklukan..tetapi setidaknya..buatlah mereka agar tidak bisa menyerang Shilla lagi untuk jangka waktu yang cukup lama..jangan paksakan dirimu untuk menaklukannya..”  Wolya mengangguk “ya..aku tahu itu..” lalu Wolya membantu Yushin mengemasi semua barang-barangnya. “kurasa aku siap berangkat sekarang..”  ujar Yushin yang sekarang sudah selesai mengemasi barangnya. “tapi sebelum kau pergi, ada sesuatu yang Seolji ingin tunjukkan padamu..” sahut Wolya. Yushin pun berjalan mengikuti arah Wolya pergi.

Perbatasan Wonju. Kamp Militer Goguryeo.
“braakk..” Eulji menggebrak mejanya “apa?! sampai sekarang belum ada satu pun pasukan Wa belum dikembalikan?”  “i..iya Tuan..” jawab kurir pengantar surat itu taku-takut.  “apakah ada kabar dari Baekje?apakah mereka sudah melakukan kudeta?” tanya Eulji  yang masih emosi. “be..belum ada berita resmi Tuan..namun ada kabar burung bahwa sepertinya para bangsawan pemberontak sudah mulai bergerak diam-diam..dan kabar ini didukung dengan semakin ketatnya berita yang keluar dan masuk dari istana..” jawab kurir itu. “kalau begitu, sampaikan pada Tuan Perdana Menteri untuk segera mengirimkan pasukan Wa untukku..katakan padanya perang tak bisa menunggu..” ujar Eulji. “baik Tuan..” jawab kurir itu sambil memberi hormat.

Ruang kerja Raja, Istana Ungjin, Goguryeo.
“Perdana Menteri Lee, bagaimana dengan hasil panen tahun ini?” tanya Raja Uija kepada Perdana Menterinya. “dari laporan yang hamba terima, meskipun ada kemajuan dalam jumlah lahan yang ditanami, namun jumlah panen tahun ini lebih rendah daripada tahun yang sebelumnya, karena banjir bandang yang melanda sejumlah daerah..” Yang Mulia Raja  pun gusar mendengar laporan ini “lalu bagaimana dengan nasib para penduduk desa yang dilanda banjir?apakah evakuasi sudah dilaksanakan?” tanya Uija. “sudah Yang Mulia, hamba sudah melakukan evakuasi di seluruh desa yang terkena banjir..untuk sementara, hamba membagi mereka ke desa-desa yang terhindar banjir, menunggu pembebasan lahan milik para bangsawan…” “bag..ugh..” tiba-tiba  Raja Uija mengaduh sambil memegangi kepalanya, menahan keningnya yang sekarang penuh dengan peluh. “Yang Mulia..Yang Mulia..” seluruh pejabat yang hadir di situ panik. “aku tak apa-apa..hanya sedikit pusing..” jawab Raja Uija. Perdana Menteri Lee diam-diam tersenyum menatap teman-temannya.  “obatnya sudah bekerja..”pikirnya. “hamba mohon menghadap Yang Mulia..” seru seseorang dari balik pintu. “masuklah..” jawab Raja Uija. Seorang kurir melangkah masuk dan memberi hormat. “Yang Mulia, prajurit Benteng Souzan melaporkan adanya sekelompok prajurit Wa yang diam-diam masuk ke wilayah Baekje…” “apa?pasukan Wa?Benteng Souzan adalah benteng terdekat dengan perbatasan Goguryeo bukan?” tanya Raja Uija heran dan kaget. Kurir itu menangguk “ya Yang Mulia…mereka menyamar sebagai para pelancong dan pedagang, namun tingkah laku merekamencurigakan  sehingga para prajurit memeriksa mereka dan ternyata dalam barang bawaan mereka ditemukan juga senjata panah dan pedang…para prajurit  pun berusaha menahan mereka..namun mohon maaf Yang Mulia, mereka berhasil kabur..”  Perdana Menteri Lee dan pejabat yang hadir di situ berwajah tegang mendengar percakapan Raja Uija dengan kurir itu. “Perdana Menteri Lee…” panggil Raja Uija. “tolong kau selidiki hal ini dan laporkan padaku segera..”  “baik Yang Mulia..” jawab Perdana Menteri Lee. Raja Uija menatap kurir itu “kalau begitu sampaikan pada komandan militer kota Souzan untuk menyelidiki hal ini..sebisa mungkin tangkap mereka..” “baik Yang Mulia..” jawab kurir itu sambil memberi hormat lalu pergi keluar ruangan. Raja Uija pun kembali membaca laporan yang tergeletak di mejanya. “ini tak bisa dibiarkan kurir itu harus mati..dan malam ini Yang Mulia Raja harus segera dibereskan..” pikir Perdana Menteri Lee. “Tuan Panglima harus segera kuberitahu..”

Jalur Kumi - Taejon, Shilla.
Sambil berteduh dari hujan dan menunggu kabar, Bi Dam duduk di bawah pohon besar tak jauh dari gubuk. Hatinya yang gelisah membuat dirinya tak bisa duduk dengan tenang. “apakah Deok Man sempat tertangkap dan berhasil lolos?kalau tidak bagaimana mereka bisa mendapatkan cincin dan seoyopdo itu?dan untuk apa mayat pengganti  ini?” pikirnya. “toplak..toplak..” terdengar suara derap langkah kuda mendekat. Alcheon dan komandan kota Taejon, Sang Min menghentikan kudanya tak jauh dari tempat Bi Dam berdiri.  Mereka berdua berjalan di tengah gerimis hujan, menemui Bi Dam. “apakah kalian menemukannya?atau setidaknya jejaknya?” tanya Bi Dam penuh harap.  “kami tidak menemukannya Tuan..kami sudah berpencar ke seluruh daerah dan desa terdekat namun nihil hasilnya..begitu juga di Taejon, tak ada tanda-tanda bahwa Tuan Putri pernah ke sana..” jawab Komandan Sang Min. Bi Dam pun kembali berwajah muram “apakah Deok Man diculik oleh orang suruhan Daemusin?” pikirnya. “Tuan..sebaiknya kesemua mayat ini segera dikuburkan..balsamnya tidak akan bertahan lama..” ujar Alcheon. Bi Dam pun tersadar dari lamunannya. “baiklah..sekarang kita bersiap-siap untuk berangkat ke Taejon, kita akan menguburkan mereka dengan layak dan pantas..” jawab Bi Dam. “baik..Tuan..” jawab Alcheon dan Sang Min serempak.  Bi Dam merogoh sakunya, diambilnya Seoyopdo dan cincin milik istrinya. “Deok Man..” gumamnya sambil menggenggam kedua benda itu erat-erat.

Senin, 27 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story bagian 23

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

bagian 23

Scene : SHILLA WONHWA

Istana

Mereka pun tiba di istana untuk menghadiri perayaan panen tahunan yang berlimpah di tahun ini, tanda kemakmuran bagi seluruh rakyat dan negeri Shilla. Sementara perayaan berlangsung meriah, semua pejabat beserta keluarganya diundang.

Deokman terlihat bosan dengan seluruh rangkaian acara, pada tahun kemarin ialah yang duduk di singasana kerajaan dan ‘harus' melihat semua atraksi dan menyapa formal dari podium dengan para tamu undangan, tanpa bisa beranjak dari tempatnya sedetikpun. Tapi sekarang begitu berbeda, Deokman begitu bebas memperhatikan para tamu, berbincang sedikit dengan mereka dan menikmati perayaan lebih santai. Namun lama-lama juga Deokman merasa bosan dan dia memilih keluar dari tempat acara.

Tadinya dia mau mengajak Bidam untuk menemaninya berjalan-jalan di sekitar istana, menikmati indahnya malam seperti ia dan Bidam lakukan dulu waktu mereka masih tinggal di istana. Tapi diurungkannya karena Bidam rupanya sedang berbincang-bincang seru dengan beberapa pejabat istana sambil minum arak (tempat duduk untuk para undangan wanita dan pria dipisahkan). Deokman menuju taman istana sendirian sambil berpikir, tangannya dilipat ke depan dan tangan yang satunya disimpan antara hidung dan bibirnya. Tiba-tiba ada suara yang mengagetkannya di belakangnya.

“Apa yang Tuan Putri lakukan disini? apa ada yang Tuan Putri pikirkan?” Yushin bertanya dan menatap ke arahnya.

“Aahh.. tidak, aku hanya mencari angin segar, kau sendiri mengapa ada disini?”

“aku hanya kebetulan lewat dan melihat Tuan Putri disini, aku hanya ingin menyapa Tuan Putri” Deokman mengangguk dan menatap ke depan.

“Tuan Putri, selamat atas kehamilan Tuan Putri, aku baru mendengarnya akhir-akhir ini setelah kembali dari Saitama, maaf baru mengucapkannya sekarang”

“terima kasih, Panglima Yushin. Kau begitu bekerja keras untuk Shilla dalam mencapai tujuannya, sudah seharusnya Shilla bangga memiliki Panglima seperti kau”

“ini cita-cita dan tujuan kita semua termasuk Tuan Putri sendiri..”

Deokman hanya tersenyum mendengar jawaban Yushin, kemudian mereka terdiam sejenak.

“Panglima Yushin.., aku selalu melihat dalam perayaan selalu ada gisaeng-gisaeng yang melayani para pria baik yang mempunyai kedudukan atau tidak” ujar Deokman

“hal itu kan sudah wajar, Tuan Putri, memang selalu ada yang seperti itu, mengapa Tuan Putri bertanya seperti itu, apa ada masalah dengan hal ini”

“tidak.. aku hanya berpikir. Wanita.. kupikir bila Shilla ingin selangkah lebih maju dari semua kerajaan, kita harus menempatkan wanita untuk beberapa pos penting, misalnya membentuk kembali wonhwa (hwarang khusus wanita) dan intelejen wanita. Aku yakin bila hal itu dilakukan maka Shilla akan lebih maju lagi. Bukankan Raja Jinheung menempatkan Mishil di posisi penting di kemiliteran sehingga akhirnya dia bisa menguasai seluruh pemerintahan, aku yakin wanita-wanita di Shilla mempunyai potensi yang baik dan berdedikasi tinggi untuk kemajuan Shilla. Bagaimana menurutmu?”

“ide yang sangat bagus, memakai kelembutan wanita sekaligus keahliannya untuk mendorong kemajuan di militer kita. Tapi dalam pelaksanaannya tentu akan menemui banyak kesulitan”

“mengapa.. karena mereka wanita, mahkluk yang dianggap lemah dan perlu dilindungi, aku pikir dengan diangkatnya aku sebagai ratu wanita pertama di Shilla mampu membuka mata para pria agar melihat kemampuan seorang wanita tidak berbeda dengan pria. Masing-masing ada porsinya, pria dengan segala kekuatannya dan wanita dengan segala pemikirannya. Kupikir ini akan saling melengkapi, lagipula banyak juga wanita yang mampu mengangkat pedangnya dan mempunyai keahlian bela diri yang baik”

“Ya memang harus aku akui, pemikiran wanita seperti Tuan Putri selalu selangkah lebih maju, kadang-kadang aku tercenggang sendiri dan merasa malu seperti orang bodoh” jawab Yushin sambil tertawa. Deokman ikut tertawa juga.

Bidam mendengar mereka tertawa riang dan mendekatinya, entah mengapa setiap kali Deokman berada dekat dengan Yushin dan berduaan seperti ini, Bidam masih merasa tidak nyaman padahal dia sudah memiliki Deokman dan menjadi suaminya.

“Sepertinya aku kehilangan momen yang bagus” kata Bidam menghentikan tawa mereka. Bidam mengerdikan kepalanya sebagai ekspresi penasaran.

“Bidam, aku senang bertemu kau kembali... tadi aku hanya berbincang-bincang dengan Tuan Putri sekaligus mengucapkan selamat atas kehamilan Tuan Putri, kalian akan memperoleh keturunan sebentar lagi, aku turut senang” jawab Yushin.

Bidam mengangguk-angguk tersenyum tapi masih penasaran tentang apa yang mereka bicarakan, Deokman memahami ekspresi Bidam dan menjelaskan pada Bidam mengenai idenya untuk menggunakan wanita sebagai salah satu kekuatan Shilla dan kembali membentuk Wonhwa.

“Ide yang sangat bagus Deokman, aku akan menyampaikannya pada Yang Mulia raja dan berusaha mewujudkannya” kata Bidam.

“betul, akupun setuju. Tinggal menetapkan batasan-batasan peraturan maka kupikir tidak ada masalah” balas Yushin.

“Aku akan menuju tempat acara dulu, sampai jumpa lagi. Sekali lagi selamat atas kehamilannya” lanjut Yushin sambil pamit. Deokman dan Bidam mengangguk.

“dari mana kau mendapatkan ide seperti itu, Deokman”

“karena aku melihatmu dilayani oleh para gisaeng-gisaeng itu, mereka begitu mudahnya mendekati beberapa pejabat penting dan mungkin bisa mendengar pembicaraan mereka, seandainya mereka mata-mata mereka akan mendapatkan informasi yang sangat penting dengan mudah, juga karena aku melihat Xiou Lie”

“ada apa dengan Xiou Lie”

“aku melihatmu memperhatikan Xiou Lie berlatih pedang dan mencoba beberapa gerakan bela dirinya, kau pun terlihat cukup puas dengan kemampuannya. Dari situlah aku menyadari bahwa para wanita mempunyai kemampuan yang sama dengan pria di bidang apapun. Jadi berhentilah meremehkan seorang wanita”

“siapa yang meremehkan wanita, aku? Kenapa kau jadi idealis seperti ini sih?”

“bukan kepadamu, tapi pada orang-orang yang seperti itu. Kenapa kau jadi tersinggung?”

“aku tidak tersinggung, justru aku menyadari kalau aku pun bertekuk lutut di hadapan wanita sepertimu. Aku sungguh-sungguh tidak bisa berkutik di depanmu, Deokman”

“tentu saja karena aku mantan ratu Shilla kan”

“bukan itu.. tapi karena aku mencintaimu dan aku tengelam didalamnya”

“Bidam..” gumam Deokman sambil tersenyum puas dan senang karena jawaban Bidam.

Rumah Sangdaedung Malam Hari

Seseorang mengendap-endap mendekati kamar Deokman dan Bidam kemudian membuka pintunya perlahan lalu masuk. 5 menit kemudian orang itu keluar dari kamar itu dan bergegas pergi ke arah belakang rumah.


Istana : Taman Istana

“apa kau lelah? Sebaiknya kita pulang sekarang” Deokman mengangguk lalu Bidam merangkul pundak Deokman dan berjalan menuju tandu mereka, setelah mereka dalam tandu dan diangkat pergi. Bidam bertanya sesuatu

“Deokman..”

“hhmm..”

“apa kau cemburu melihatku bersama gisaeng-gisaeng itu dan juga Xiou Lie” tanya Bidam tiba-tiba dengan wajah penuh selidik.

“tidak..”

“aahh.. sungguh disayangkan, padahal aku sangat tidak nyaman ketika melihat kau dan Yushin tertawa bersama”

“astaga Bidam, kau masih seperti itu?”

“ya” jawab Bidam sambil mengangkat kedua alisnya, Deokman tersenyum sambil menyenderkan kepalanya di bahu Bidam.

“aku juga cemburu Bidam, hanya aku meyakinkan diriku sendiri bahwa kau mencintaiku dan aku melawan rasa cemburuku. Tapi bila kau seperti ini berarti kau tidak mempercayai aku bahwa aku pun sungguh-sungguh mencintaimu”gumam Deokman.

“aku tahu itu, hanya saja aku begitu takut kehilangan dirimu, kehilangan cintamu” jawab Bidam, Deokman mengangkat kepalanya dan memegang pipi Bidam dengan kedua tangannya.

“jangan pernah takut lagi, jangan.. aku akan selalu mencintaimu selamanya” tegas Deokman lalu Deokman mencium bibir Bidam, Bidam terkejut karena biasanya Bidam yang memulai duluan, tapi Bidam senang dan membalas ciuman Deokman dan mendekap erat badan Deokman selama perjalanan pulang di dalam tandu.

Scene : MORNING INCIDENT

Rumah Sangdaedung Bidam : pagi hari..

“AAAWW.. !!!” Deokman menjerit, Bidam langsung bangun dengan mata setengah terpejam.

“..da..pa..?”tanya Bidam masih mengantuk.

“ini..”kata Deokman sambil memperlihatkan seekor ular kobra berukuran sedang yang bisanya lumayan mematikan. Melihat itu, Bidam langsung pulih kesadarannya dan cepat-cepat bangun dari ranjangnya,

“berikan padaku, cepat” kata Bidam sambil mengulurkan tangannya agar Deokman menyerahkan ular itu ke tangannya, Deokman menyerahkannya. Setelah itu Bidam langsung keluar dari kamar dan meminta penjaga gerbang depan untuk membuangnya ke tempat yang jauh. Bidam masuk ke kamarnya lagi lalu duduk dan meminum tehnya yang diseduhkan oleh Deokman dan berdiri disampingnya.

“aku tidak habis pikir.. kok di kamar kita bisa ada ular ya?” pikir Bidam.

“mungkin saja kan, ular itu masuk dari jendela lalu bersembunyi dan keluar saat malam tiba, untung saja aku menemukannya. Aku merasa ada sesuatu yang merayap di kakiku lalu aku terbangun dan melihat ular itu”

“itu sangat berbahaya, aku khawatir sekali”

“sudahlah.. kan tidak ada yang tergigit”

“tapi tetap saja, kalau kau tergigit bagaimana dengan kau dan anak kita” kata Bidam sambil bergidik membayangkan hal itu.

“kami baik-baik saja ayah” jawab Deokman sambil meletakkan tangan Bidam diatas perutnya, Bidam mengelus perut Deokman dengan lembut.

“sudah hampir 3 bulan kan?”

“ya.. 6 bulan lagi kita kan segera melihatnya. Rasanya aku sudah tidak sabar melihat ia lahir ke dunia”

“aku juga”

“mandilah sana nanti aku siapkan pakaianmu!” Bidam menurut dan beranjak berdiri, tapi kemudian menoleh pada Deokman.

“aku tidak menyangka istriku yang cantik dan lemah lembut ini tidak takut dengan ular” goda Bidam.

“aku malah senang bermain-main dengannya, dulu waktu tinggal di gurun aku malah langsung membunuhnya lalu mengulitinya, kau tahu empedu dan kulit ular harganya lumayan mahal” jawab Deokman tersenyum riang.

“aku lupa, istriku ini mantan hwarang dan prajurit Shilla yang berani dan tidak takut apapun”

“sudah.. cepat mandi sana” perintah Deokman pura-pura serius.

“siap komandan” jawab Bidam sambil menghormat, Deokman pun tersenyum lebar menatap ke arah punggung suaminya.

“kau salah Bidam, aku memang tidak takut apapun, tapi aku takut kehilanganmu” gumam Deokman.


Dalam perjalanan menuju istana,

“Aku akan mengajukan idemu untuk membuat laskar wanita di barisan pertahanan kita, dan rencanaku akan menambah resimen hwarang wanita di berbagai provinsi”

“Benarkah? Apa para dewan setuju?”

“Harus! Ini kan idemu, tidak ada seorangpun yang boleh melawan keinginan istriku” jawab Bidam bercanda.

“Aku serius Bidam”

“ya.. aku tahu setelah Yang Mulia memberi ijin, aku langsung akan mengadakan pemungutan suara lalu mengalokasikan keputusan ini pada menteri pertahanan dalam negeri biar mereka membuat beberapa peraturan dan system rekruitmennya. Setelah itu selesai dan berjalan lancar. aku yakin Shilla akan semakin kuat dengan hal ini”

“ya semoga, sekarang ini Shilla akan lebih maju dengan bantuan pemikiran dan tenaga para wanitanya”

“aku tidak meragukan hal itu, kau tahu di balik kesuksesan seorang pria pasti selalu ada wanita di belakangnya, entah itu ibunya atau istrinya tapi mereka selalu mendukung pria yang disayanginya sehingga si pria itu termotivasi dan menjadi sukses”

“terbalik dengan keadaanku, kesuksesanku mencapai semua ini karena kau dan pria lain di belakangku mendukungku”

“pria lain? Maksud-mu Yushin?” Bidam agak merenggut, Deokman memang sengaja ingin mengoda Bidam.

Deokman tidak menjawab dan tersenyum geli yang ditahan melihat wajah Bidam merenggut, Deokman memalingkan muka ke jendela tandu pura-pura tidak melihat Bidam

Scene : THE LAUGHTER AND SPRINKLE OF JEALOUSY

Karena hari ini adalah hari libur, Bidam dan Deokman memutuskan untuk tinggal di rumah. Bidam mengunakan waktunya untuk melihat dan mengurus kuda-kudanya dibantu oleh para pelayan pria dan Deokman sibuk mengawasi para pelayan wanita yang sedang membersihkan ruangan-ruangan dalam rumah mereka. Tidak terasa waktu sudah hampir siang, Deokman mendatangi Bidam di istal.

“Bidam, ayo istirahat dulu, aku akan menyiapkan makan siang. Kita makan siang di gazebo, bersihkan badanmu dan tunggu aku disana” suruh Deokman.

“ya sayang, sebentar lagi” jawab Bidam, Deokman segera menuju dapur.

Bidam membersihkan badannya dan menunggu makan siang datang di gazebo. Sambil menunggu Bidam berdiri menatap pemandangan di luar gazebo, kemudian Xiou Lie datang membawa nampan berisi dimsum dan teh sebagai pembuka makan siang.

“Tuan silahkan dimakan dimsumnya” kata Xiou Lie, Bidam menoleh dan duduk menghadap meja, ketika Xiou Lie hendak berbalik, Bidam memanggilnya.

“Xiou Lie tunggu”

“ya Tuan .. apa ada yang kurang?”

“tidak.. ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Kau bilang bahwa kau tinggal di gunung Hanggeok-san” Xiou Lie hanya mengangguk tanda membenarkan.

“aku merasa pernah melihatmu di suatu tempat, apakah disana?” gumam Bidam.

“Tuan pernah ke Hanggeok-san? Benarkah? Mungkin Tuan pernah melihatku disana, siapa tahu? Rasanya senang sekali bertemu dengan orang yang pernah datang ke desa saya. Tuan pernah tinggal disana bukan? Tahukah Tuan tempat yang paling indah adalah di tepi danau Hangguk, disana tempatnya sangat damai, pemandangannya indah juga airnya yang jernih dan segar sekali, dan Tuan pernah pergi ke kolam mata air panas Hangguk, oh.. nyaman sekali bila berendam disana, aku dan teman-teman seusiaku sering mandi disana, tapi jelas kami berhati-hati karena pemuda di desa kami hobinya mengintip para gadis sedang mandi” jelas Xiou Lie tanpa titik koma, Bidam jadi tertawa geli, mendengar Xiou Lie bercerita dengan antusias.

“mengapa Tuan tertawa?” tanya Xiou Lie heran.

“kau ini bicara terus tanpa berhenti, lucu sekali”

“oh.. Tuan , saya jadi malu”

“apa yang kau katakan benar, di Hangguk terdapat danau yang indah juga terdapat banyak binatang yang masih liar, aku dan guruku kadang-kadang berburu dan menikmati buruan kami di tepi danau” kata Bidam sambil menerawang membayangkan masa lalunya.

“jangan-jangan Tuan yang pernah berburu rusa peliharaan kami, aku dan kakekku suka memberi mereka makan dan membiarkan hidup bebas di alam liar tapi sayangnya selalu ada pemburu dari luar desa kami yang datang membunuh rusa-rusa kami itu. Kami selalu bersedih bila menghitung jumlah rusa kami berkurang setiap minggunya”

“kau dan kakekmu memelihara rusa dan memberi mereka makan? Rusa kan hewan liar dan tidak mungkin diberikan kandang, biasanya mereka hidup dan makan secara bebas. Kalian memilih binatang yang salah untuk dijadikan peliharaan, sungguh aneh!” Bidam makin tertawa geli mendengar kebiasaan Xiou Lie yang aneh.

“Karena kami tinggal di pinggiran hutan, kami pikir bila memelihara binatang ternak, kami takut binatang buas yang tinggal di dalam hutan akan memangsa ternak kami. Tapi Tuan, rusa sangat menyenangkan untuk diajak bermain, saya sangat menikmati bercengkrama dengan mereka” bela Xiou Lie.

Bidam tersenyum lebar, mengingat akan masa mudanya dulu bersama guru Munno, bukankah dulu juga ia juga bersifat aneh dan liar, bersedia melakukan apa saja asal bisa makan ayam kukus kesukaannya, yang jelas-jelas dilarang oleh guru Munno. Tanpa sadar Bidam tertawa sendiri menertawakan ulahnya dahulu.

“Tuan..?” sergah Xiou Lie yang heran melihat Bidam tertawa sendiri.

“ahh..yaa..aku hanya teringat masa lalu” ujar Bidam. Xiou Lie hanya menanggapi dengan membentuk huruf O sempurna di bibirnya.

“yang paling aku sukai di desamu itu adalah air terjunnya, entah mengapa aku sangat menyukai air terjun. Melihat air terjun dan mendengar suara airnya membuat aku menjadi lebih berani dan bersemangat, mungkin karena suara airnya yang keras membuat jantung berdetak lebih cepat juga” lanjut Bidam.

“benar tuan, saya juga merasakan hal itu. Bila saya merasa sedih, saya biasanya pergi kesana dan menangis keras-keras karena suara jeritan saya tertutup oleh air terjun, bila sudah demikian saya merasa lebih tenang” kata Xiou Lie dengan mata berbinar-binar.

Bidam tersenyum menatap Xiou Lie, ada sedikit kekaguman dalam diri Bidam terhadap gadis itu, Bidam merasa melihat Deokman yang dulu dalam diri Xiou Lie, juga mengingatkan ia akan masa lalunya. Bidam hanya berpikir Xiou Lie bukan hanya gadis desa biasa, tapi ada sesuatu yang lebih dari itu tapi entah apa.

“Ternyata menyenangkan juga berbincang denganmu Xiou Lie” kata Bidam, Xiou Lie sekilas tersenyum senang dipuji oleh Bidam.

“menyenangkan apa?” tiba-tiba Deokman datang, di belakangnya Pelayan Ma mengikuti bersama pelayan lain membawa makan siang mereka dan langsung menyajikannya di depan meja. Setelah semua tersaji, para pelayan termasuk Xiou Lie pamit mundur. Setelah mereka semua pergi, Deokman memulai pembicaraan.

“apa sih yang kalian bicarakan, aku melihat dari jendela dapur, kau berbicara dan tertawa-tawa dengannya, tampaknya kau senang sekali” ujar Deokman sambil menyajikan mangkuk untuk Bidam lalu diisikan nasi.

“dia, mengingatkan aku pada seorang gadis yang kukenal, gadis itu bicaranya selalu semangat, ekspresif bila sedang sedih, pintar, cantik dan mempunyai kehidupan aneh” Bidam menerima mangkuk nasinya dan membiarkan Deokman mengisinya dengan beberapa masakan.

“siapa gadis itu? Dia?” balas Deokman pendek tapi terlihat wajah Deokman dingin, Bidam tertawa ditahan.

“apa kau sedang cemburu?” goda Bidam memiringkan kepalanya ingin melihat lebih jelas ekspresi wajah Deokman.

“aku.. tidak, itu kan urusanmu, masa lalumu” jawab Deokman dingin lalu menyuap makanannya.

“selamat makan..” goda Bidam lagi seolah mengingatkan kebiasaan mereka yang lupa dikatakan Deokman ketika akan menyantap makanan. Deokman hanya acuh menanggapinya.

“kau tidak mau tahu, siapa gadis yang kumaksud? Gadis itu adalah kau, Deokman. Kan sudah pernah kukatakan padamu bahwa seumur hidupku hanya kaulah gadis yang pertama menarik perhatianku dan aku jatuh cinta padamu, dari saat itu hingga sekarang” jelas Bidam, mendengar kata-kata Bidam, Deokman pun tersenyum menahan tawa karena tadi merasa sedikit cemburu.

“tunggu dulu, bila kau bilang Xiou Lie dan aku sama-sama mempunyai kehidupan yang aneh, apa itu?”

“ya aneh.. Xiou Lie dididik oleh kakeknya seperti seorang pria, lalu kau menjalani masa remajamu menyamar sebagai pria, sama saja kan”

“itu bukan aneh namanya, mungkin kami berdua terpaksa menjalaninya karena tuntutan keadaan, lagipula gadis mana yang mau menjalani hidup seperti itu, kau ini” Deokman menjawab sambil tersenyum.

“tapi aku bersyukur kau menjalaninya, bila tidak, aku tidak akan bertemu denganmu, entah bagaimana aku jadinya” sahut Bidam tersenyum lembut dan menatap Deokman.

“ayo makan.. selamat makan..”kata Deokman tersenyum lebar, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena senang dengan jawaban Bidam tadi. Mereka pun menikmati makan siang dengan gembira.

Malam harinya, setelah mereka berendam air hangat bersama dan bersiap hendak tidur, dan saat berada mereka di atas ranjang, Bidam mengajak Deokman berbicara.

“Deokman.. aku pikir, sebaiknya kau mengambil Xiou Lie sebagai dayangmu”

“tadinya aku akan meminta Choisun sebagai dayangku pada permaisuri, mengapa kau memilih Xiou Lie?”

“karena kupikir ia cocok denganmu lagipula ia mempunyai keahlian bela diri yang bagus, sehingga aku akan lebih tenang karena ada yang menjagamu bila ada sesuatu yang terjadi”

“aku juga berpikiran sama denganmu, baiklah kalau begitu, besok aku akan mulai mengambilnya sebagai dayangku” Bidam tersenyum mengangguk. Lalu Deokman berbaring, dan Bidam menyelimutnya lalu berbaring menghadap Deokman dan membelai rambut Deokman lembut.

“Selamat tidur..” kata Deokman menoleh menatap Bidam.

“Selamat tidur anakku..” bisik Bidam lalu mengelus-elus perut Deokman beberapa saat dan tangan Bidam mulai meraba-raba dada Deokman lembut, Deokman mengerti keinginan Bidam.

“Apa kau menginginkannya?” tanya Deokman tersenyum lembut memegang erat tangan Bidam agar tetap berada di dadanya.

“apa kau memberikannya?” Bidam balik bertanya, dengan senyum lebar.

“Kemarilah..” perintah Deokman lembut, dan mendekatkan wajahnya ke arah Bidam.

~ T B C ~

Minggu, 26 Desember 2010

Our Future Still Continue Chapter 71: The End of Dreams



Malam hari
Jalur Kumi - Taejon, Shilla.
“TIDAKK!!” Alcheon mendengar raungan tangis Bi Dam kemudian  ikut melangkah masuk ke dalam. Dilihatnya Bi Dam sedang menangis berlutut di hadapan mayat seorang perempuan . Mayat yang lagi-lagi tak berkepala, namun dari reaksi Bi Dam dan dari kalung Seoyopdo yang tergantung di lehernya, Alcheon tahu bahwa yang dihadapannya itu adalah Tuan Putrinya. “Tu..Tuan Putri..” gumam Alcheon gemetar. Air matanya menetes dari kedua matanya. Tak lama kemudian, komandan dari pasukan itu pun juga masuk  ke dalam karena kaget mendengar teriakan Bi Dam  “Tu..Tuan…” Dilihatnya kedua atasannya itu menangis. “Ya Tuhan..ternyata benar… Tuan Putri sudah..” gumam komandan itu gemetar. “DIAM!!!” raung Bi Dam lagi. Alcheon dam komandan itu keluar dari ruangan itu. “matilah aku..ini salahku..” gumam komandan itu. Alcheon hanya terdiam saja .Dengan  Air mata tak henti-hentinya mengalir, ia berjalan di bawah hujan.  Terlintas  dalam benaknya, ketika Deok Man baru diangkat menjadi Putri lalu mengangkat Alcheon sebagai pengawal pribadinya dan pengawalnya di Istana. Bahkan untuk keberangkatannya ke Tang, Putri Deok Man mempercayakan rencana pengawalannya kepada Alcheon. “aargh” teriaknya sambil meninju pohon di sampingnya. 

Keesokan harinya. Pagi hari
Perbatasan Wonju. Kamp Militer Shilla
“wah bagaimana ini?apa yang harus kita lakukan?” itu yang ada di pikiran setiap jenderal yang hadir dalam kemah Yushin dari malam kemarin hingga pagi ini. Mereka semua sedang mengadakan rapat darurat membahas pengiriman pasukan  Wa dari Goguryeo ke Baekje yang dimulai sejak kemarin malam. “30.000? itu jumlah yang terlalu besar untuk hanya melakukan sebuah kudeta..” ujar salah satu jenderal mengemukakan pendapat. Wolya pun ikut mengemukakan pendapat “dari informasi terakhir yang kudapat, hanya sebatas informasi bahwa jumlah pasukan militer Baekje adalah 30.000..tidak diketahui dengan pasti siapa yang lebih mendominasi apakah Raja Uija atau Daemusin..tapi kurasa jika Daemusin benar-benar didukung oleh bangsawan pastinya jumlah pasukan yang ia kuasai akan lebih besar  terlebih lagi Raja Uija juga kurang disukai oleh kalangan militer karena dianggap membuat kemunduran dalam militer..” “kira-kira apakah yang akan ia lakukan dengan 30.000 pasukan itu?menjadikannya pasukan pribadi untuk membantunya kudeta ataukah ada hal lain?” Im Jong pun ikut berpendapat.  “jika untuk hal lain di  luar kudeta, kurasa tidak mungkin seorang Yeon Gaesomun meminjamkan 30.000 tentaranya..para jenderal juga tahu bahwa, ketika Raja Uija memutuskan untuk berhenti berperang, Yeon Gaesomun juga ikut mengambil keuntungan atas itu…berarti kerajaan saingannya hanya tinggal kita Shilla…”  Para jenderal pun saling mengungkapkan pendapatnya masing-masing. Ada yang bilang 30.000 pasukan itu dikirim untuk bantuan kudeta, ada yang bilang bahwa itu untuk menyerang Shilla namun ragu-ragu, ada yang bilang itu untuk pengalih perhatian saja, dan lainnya. Yushin hanya memejamkan mata mencoba berpikir dengan tenang dan jernih. Mencoba berpikir awal mula dari semua peperangan ini.  “jika Goguryeo berniat  menyerang Shilla dengan alasan Shilla akan menyerang mereka, mengapa mereka mengirimkan pasukan itu padahal jumlah pasukan mereka bisa dibilang hanya berbeda tipis dengan pasukan Shilla…” ia pun mencoba menyusun kronologis kejadian dengan menuliskannya di atas kertas… “ “3 bulan lalu, muncul rumor Shilla akan menyerang Goguryeo di  Wonsun, tak lama kemudian Daemusin dan Yeon Gaesomun mengadakan pertemuan, lalu terbentuklah aliansi Goguryeo dengan Wa yang sepertinya terjadi karena bantuan hubungan baik Daemusin dengan Wa..mengapa Daemusin tak melakukannya untuk dirinya sendiri?lalu sekarang diam-diam pasukan Wa dikirim ke Baekje untuknya..apakah rencana kudetanya itu mendadak?kurasa tak mungkin ini rencana dadakan..” “Panglima?” tiba-tiba Wolya memanggilnya. Yushin pun menoleh “apakah ada hal yang kau temukan?” tanya Wolya. Yushin pun menggelengkan kepalanya “belum..aku belum menemukan benang merahnya…” “baiklah anggaplah kita tidak tahu Goguryeo mengirimkan pasukan Wa untuk Baekje..berarti kita akan menyerang mereka dengan kekuatan penuh kan?bagaimana ternyata ini hanya pengecoh dari Goguryeo saja agar pikiran kita terpecah…” ujar salah satu Jenderal berpendapat. Namun Jenderal yang lain mengemukakan pendapatnya yang berbeda “jika hanya sebagai pengecoh kenapa mereka harus sampai serepot itu melakukan ini semua?lagipula jumlah mereka kurang lebih seimbang dengan kita…apakah keyakinan mereka sebegitu besarnya memberikan atau meminjamkan pasukan Wa kepada Baekje..”  “meminjam?berarti pasukan itu akan dikembalikan…Daemusin bertemu Yeon Gaesomun lalu  meminjam pasukan dan senjata  itu untuk kudeta sebagai imbalan atas jasa Daemusin membantu aliansi Wa dengan Goguryeo  lalu akan dikembalikan kepada Goguryeo agar Goguryeo bisa berperang…tapi meskipun begitu bukankah 30.000 adalah jumlah yang terlalu besar untuk dipinjamkan?” Wajah Yushin pun semakin kusut memikirkannya. Ia mencoba untuk menjernihkan pikirannya dan membaca suratnya kembali  untuk membuat kronologisnya kembali  “Baekje diduga kuat mencuri  100 pedang dari kapal Tang…..” salinan suratnya terpotong sampai disitu saja. “apa lagi yang sebenarnya ditulis Putri Huang Shi untuk Bi Dam sampai dipotong seperti ini?lagipula untuk apa mereka mencuri 100 pedang itu jika mereka bisa mendapat yang lebih banyak dari Goguryeo dan Wa?” pikir Yushin. Tiba-tiba terbersit dalam pikirannya penyerangan di kediaman Bi Dam beberapa waktu yang lalu. “tunggu kalau tak salah Bi Dam pernah  mengatakan bahwa senjata yang digunakan dari penyusupnya adalah pedang dari Tang..lalu tak lama kemudian Tuan Putri mendapatkan undangan dari Tang..jangan-jangan motif penyusup waktu itu adalah mencegah Tuan Putri pergi ke Tang, mencegah adanya aliansi dengan mengadu domba antara Shilla dan Tang..berarti bukanlah Tang pelakunya dan bukan Goguryeo yang mengatur ini semua.. ” Yushin pun memejamkan matanya mencoba mengerti jalan pikiran para lawannya. “aku mengerti sekarang..” gumamnya tak lama kemudian  

Jalur Kumi - Taejon, Shilla.
Alcheon melangkah masuk ke dalam gubuk sambil membawa semangkuk bubur, dilihatnya Bi Dam masih duduk bersandar pada dinding sambil memeluk kedua lututnya dan menggenggam pedangnya erat-erat. Alcheon menatap jenazah Tuan Putrinya yang sudah ditutup dengan kain putih. Kedua matanya yang sudah memerah pun kembali meneteskan air mata. “Tuan Perdana Menteri..tuan belum makan sejak berangkat dari Seoraboel….aku membuatkan semangkuk bubur untukmu..” katanya sambil berjongkok di samping Bi Dam. Namun Bi Dam hanya terdiam saja tak bergeming. Melihat kondisi Bi Dam, Alcheon merasa Bi Dam masih membutuhkan waktu sendiri. Ia pun meletakkan bubur itu di dekat Bi Dam dan pergi keluar.  “demi unifikasi 3 negara, ia melakukan ini semua, demi masa depan negara ini, ia mengorbankan dirinya..agar anak-anak bisa tumbuh dengan bebas… agar aku dan dirinya bisa hidup sebagai keluarga yang bahagia seperti  kebanyakan keluarga pada umumnya..” gumam Bi Dam gemetar. Air matanya belum berhenti mengalir sejak semalam.  Lalu ia pun berdiri dari duduknya, “aku!!aku yang akan mewujudkan impianmu, Deok Man..akan kubunuh mereka semua!!Goguryeo!Baekje!dan orang yang membunuhmu dan yang ada di balik ini semua!!” teriaknya di hadapan jenazah istrinya. Ia pun berjalan keluar meninggalkan ruangan. Alcheon yang sedang menerima surat dari seorang kurir Istana terkejut mendengar seruan Bi Dam, ia pun berjalan menuju  gubuk tempat dimana Bi Dam berada. “hiaa..” Bi Dam yang sedang menunggangi kuda melintas di hadapannya. “Tuan!!Tuan mau kemana?” teriak Alcheon, namun Bi Dam tidak menggubrisnya. “Ya Tuhan jangan-jangan Bi Dam mau..” Alcheon pun segera berlari menuju kudanya, menungganginya, lalu mengejar Bi Dam.

Perbatasan Shilla- Baekje.  (30 KM dari Hwangsanbeol, 7 KM dari kota Taejon)
 “jangan!!” seorang bocah yang duduk di samping kakek itu, berdiri dan mendorong Baek Ui dengan bahunya lantaran kedua tangannya terikat di belakang. Baek Ui pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh duduk ke belakang. Para prajurit pun segera mengambil senjatanya dan bergerak menangkap bocah itu, namun sebelum ia tertangkap, ia sudah jatuh pingsan lebih dulu ke tanah. “sluurp..” Baek Ui pun tersentak dari lamunannya “hei bocah pelan-pelan kalau makan…” ujarnya menasehati. Namun bocah itu tak menggubrisnya dan masih sibuk menyeruput kuah sup dengan suara berisik. Baek Ui melihat betapa lahapnya bocah itu. “kenapa kau melihatku terus?” tanya bocah itu ketus. Baek Ui pun terkejut mendengar akhirnya ada satu dari tawanannya yang berbicara dengannya. “tidak..tidak apa-apa..aku hanya penasaran, apakah sudah tidak makan beberapa hari ini kah sehingga makanmu bisa secepat ini, mengalahkan prajuritku yang kuhukum tidak makan 3 hari..”  jawab Baek Ui santai. Bocah itu masih sibuk dengan nasi dan lauk pauknya  “jika kau menyiapkan semua ini untuk memintaku bicara..percuma saja..”  Baek Ui pun menggelengkan kepalanya “bukan..tabib memintaku menyiapkan ini katanya kau pingsan dan demam karena tubuhmu kurang gizi…sehingga stamina dan daya tahan tubuhmu turun drastis..” “baiklah aku percaya ..tapi aku tetap tak akan bicara apapun..” sahut bocah itu. “aku Jenderal Baek Ui dari Shilla, namamu siapa bocah?” tanya Baek Ui  sambil menyeruput tehnya. Namun bocah itu hanya diam saja menikmati makanannya. “baiklah kurasa ada seseorang yang suka dipanggil bocah seumur hidupnya..” ujar Baek Ui dalam nada meledek. “In Seong..namaku In Seong bukan bocah..” jawab bocah itu ketus. “In Seong apakah kau ingin bebas?” tanya Baek Ui. “tentu saja..lihat saja begitu aku sehat kembali aku akan membebaskan diriku dan yang lainnya dari orang jahat sepertimu.!!” ujarnya sambil mengacungkan sumpitnya ke arah Baek Ui. Prajurit di sebelah bocah itu pun geram melihat tingkah laku bocah itu dan nyaris saja memukulnya jika Baek Ui tidak melarangnya. “jangan sok menjadi pahlawan!!” seru bocah itu. “aku akan membebaskanmu jika kau bekerjasama denganku..” ujar Baek Ui. “kalian semua prajurit sama saja…menjanjikan sesuatu untuk mendapatkan yang kalian inginkan, namun begitu kalian sudah mendapatkannya, kalian akan membuang kami, menyiksa kami..oleh karena itu aku tak mau jadi prajurit..prajurit itu penjahat..”  “apakah prajurit yang menyiksa ibumu?” tanya Baek Ui. In Seong pun terkejut “darimana kau tahu tentang ibuku?” “aku hanya menebak..kau terus mengigau tentang prajurit yang akan menyakiti ibumu..kata tabib sepertinya kau mengalami trauma yang cukup hebat, sehingga pingsan cukup lama…kurasa trauma ini berhubungan dengan apa yang kau igaukan semalam ” air mata pun menetes dair kedua mata In Seong “kalian semua sama saja..mencari tahu kelemahan kami, lalu mendorong kami agar kami mau menuruti perintah kalian..kalian semua sama saja!!” gumamnya gemetar. Baek Ui mengambil pisau kecil milik In Seong  “jika kau tak percaya baiklah..” tiba-tiba ia mengiris ujung jari telunjuknya hingga berdarah, lalu menulis tanda tangannya di atas 2 kertas kemudian memberinya stempel resmi. “kita buat perjanjian di atas sini dan kita …jika aku melanggar aku bersedia kau bunuh..”   In Seong menatap ragu  dan berpikir sejenak. “bolehkah aku meminta 2 hal lainnya selain pembebasanku, kakek serta yang lainnya?” “yah boleh jika itu setimpal dengan informasi yang kudapat..” jawab Baek Ui.  “aku ingin mereka semua mendapat lahan atau setidaknya sewakan kepada mereka lahan yang dapat memberi kami semua hidup..banjir bandang kemarin telah menghancurkan desa dan lahan kami..” Baek Ui mengernyitkan keningnya  “banjir bandang?tunggu..sebenarnya kau berasal darimana?aku tidak pernah mendengar Shilla mengalami banjir bandang..” In Seong pun menggeleng “aku tak akan menjawab jika kau belum menyetujui yang kutawarkan..”  Baek Ui pun menghela napas “anak-anakku saja tidak bisa berdebat seperti ini denganku..” pikirnya “lebih baik aku dengarkan permintaanmu yang terakhir itu. “aku ingin kau mendengarkanku bercerita mengenai ibuku..mungkin tak berhubungan dengan masalah kerajaan..karena kemarin aku dan  yang lainnya hanya menyerang kelompok pedagang kecil…tapi bisakah kau mendengarkan ceritaku?” Baek Ui mengangguk  lalu ia menulis di atas kertas itu bahwa dirinya akan membebaskan In Seong dan yang lainnya dan memberikan  tanah kualitas baik miliknya seluas  800 seok  untuk mereka “baiklah aku sudah menerima 3 permintaanmu..nah sekarang terserah kau akan memulainya darimana..” “baiklah..aku akan menjawab pertanyaan Tuan mengenai asalku..”

Jalur Kumi - Taejon, Shilla.
Hujan kembali turun, namun itu tidak membuat Bi Dam menurunkan kecepatannya.  “Bi Dam kau mau kemana?!!” teriak Alcheon dari belakang. Namun Bi Dam tak peduli. Ia sudah tak peduli dengan semuanya. Apalah artinya hidup jika ia sekarang sudah kehilangan wanita yang berarti segalanya untuknya. “ctaar!!” suara petir membelah langit pagi yang gelap karena awan mendung. “Bi Dam berhentilah!!Tuan Putri tentu tidak ingin dirimu menjadi seperti ini...kau akan membuang nyawamu sia-sia”  Bi Dam tak peduli. “hiaa!!” ia memacu kudanya semakin cepat. “ctaar!!” tiba-tiba kilat petir menyambar pohon di dekatnya sehingga pohon itu tumbang di depan Bi Dam. Kuda yang ditunggangi Bi Dam pun berhenti mendadak dan mengangkat kedua kaki depannya karena kaget. Bi Dam berusaha menenangkan namun  tak bisa, pelananya terlepas dan ia pun terjatuh ke belakang. “brukk” Bi Dam bisa merasakan bagian belakang kepalanya berdarah terantuk batu, air hujan menetes membasahi wajahnya. Pandangan kedua matanya semakin kabur. “Deok Man …apakah ini saatnya aku menyusulmu?jemputlah aku agar aku bisa bersama dirimu..” gumamnya. Kedua matanya pun menutup. 

Rabu, 22 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 22

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 22

Scene : SHE’S GOT GOOD SKILL

2 hari kemudian..

Saat menjelang subuh (sekitar jam ½ 5 pagi), Deokman tiba-tiba terbangun dan membangunkan Bidam.

“Bidam, maaf ya membangunkanmu, tapi aku lapar” kata Deokman saat Bidam terbangun, masih setengah mengantuk dan menguap.

“kau lapar?” tanya Bidam tersenyum kecil, Deokman mengangguk.

“baiklah kau ingin makan apa?” tanya Bidam lagi, sekarang ia berusaha untuk menghilangkan kantuknya.

“rasanya aku ingin makan bubur jagung buatanmu untuk sarapan” jawab Deokman,

Bidam hanya tersenyum mendengar permintaan Deokman, hal ini untuk keempat kalinya. Saat pertama, Deokman minta dibelikan bola-bola manisan di pasar katanya untuk mengurangi rasa mualnya.

Kedua Deokman minta buah mangga dan apel yang masih muda dan berasa asam.

Ketiga saat tengah malam, Deokman minta dibuatkan sup kacang merah pedas dengan kuah kaldu ayam yang kental.

Semua hal itu dipenuhi dan dilakukan Bidam dengan sabar dan tanpa mengeluh karena tahu Deokman sedang mengidam, lagipula permintaannya tidak aneh-aneh dan cukup wajar.

Bidam pun bangkit dari tidurnya,

“Baiklah istriku sayang, akan aku buatkan, kau tidur lagi saja ya” kata Bidam sambil mengecup kening Deokman dan Deokman pun menurut untuk mencoba tidur lagi.

Bidam pun keluar dari kamarnya menuju dapur, biasanya menjelang subuh begini, para pelayan belum bangun. Tapi saat menuju dapur dilihatnya sosok seseorang memainkan pedang kayu dan berlatih. Bidam melihat ternyata Xiou Lie yang sedang berlatih di halaman belakang lalu dia memperhatikannya cukup lama.

“caramu memegang dan memainkan pedang kayu itu cukup pandai dan terlatih, apa kau belajar dari suatu perguruan?” tanya Bidam mengagetkan Xiou Lie. Xiou Lie langsung menunduk memberi hormat dan menjawab.

“maaf Tuan, saya tidak melihat Tuan”

“kau.. ambil pedang kayu itu” Bidam menunjuk pada pedang kayu yang berjejer di papan penyimpanan pedang kayu untuk latihan.

Lalu Bidam melakukan beberapa gerakan menyerang ringan pada Xiou Lie, Xiou Lie berhasil menangkalnya. Setelah selesai Bidam, melemparkan pedang ke arah Xiou Lie dan Xiou Lie menangkapnya dengan baik.

“Bagus sekali.. simpan itu” kata Bidam sambil berlalu cuek menuju arah dapur.

Setelah menyimpan pedang Xiou Lie segera berlari menyusul Bidam di dapur. Bidam tengah mengambil bahan-bahan untuk memasak bubur.

“Tuan.. Tuan.. sedang apa disini? apa Tuan perlu sesuatu, saya akan menyiapkannya” ujar Xiou Lie.

“aahh.. bagus kau datang, kau tahu dimana Pelayan Ma menyimpan rempah bumbu masakan?” tanya Bidam pada Xiou Lie. Xiou Lie langsung mengambil bumbu itu dan menyerahkannya pada Bidam. Bidam tanpa banyak bicara, menunjuk hal ini hal itu yang harus dikerjakan Xiou Lie untuk membantunya di dapur.

“apa Tuan mau masak bubur?” tanya Xiou Lie, sibuk membawa beberapa bahan.

“kau belum menjawab pertanyaanku, kau berlatih pedang dimana?” Bidam balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Xiou Lie sebelumnya.

“oh itu.. saya diajarkan kakek saya, karena saya tinggal di gunung dan disana daerahnya rawan, banyak perampok, jadi saya diajarkan untuk mempertahankan diri” jawab Xiou Lie, sambil mulai menyisir jagung.

“kakekmu sungguh mengajarkanmu dengan baik” kata Bidam sambil memberi kode pada Xiou Lie agar mengaduk-aduk buburnya secara teratur, sambil menunggu buburnya matang, Bidam duduk di kursi dapur dan menyenderkan kepalanya pada tiang dapur, karena masih mengantuk akhirnya Bidam tertidur dengan posisi seperti itu.

Bidam tidak melihat ketika sedang tertidur Xiou Lie memperhatikan Bidam dan menatapnya terus menerus sambil mengaduk buburnya.

Bidam tiba-tiba terbangun ketika mendengar Deokman memanggil namanya.

“Bidam, kau masih ada didapur?!” suara Deokman mendekat ke arah dapur.

Dengan sekali loncatan, Bidam meraih sendok pengaduk di tangan Xiou Lie, dan langsung mengaduk buburnya ketika Deokman muncul dari pintu dapur. Ini tujuannya agar Deokman tidak tahu bahwa ia sebenarnya tertidur saat membuat bubur tadi, Bidam tidak mau Deokman merasa bahwa dia merepotkan dirinya.

“apa kau sudah selesai?” tanya Deokman riang, melihat Xiou Lie berdiri di samping Bidam.

“oh.. kau dibantu Xiou Lie, ya?” tanya Deokman lagi, Bidam hanya mengangguk tersenyum.

“tunggu aku di ruang makan, sebentar lagi siap dan sudah matang” kata Bidam sambil mencicipi buburnya dan bergumam “sudah pas”

“tidak, aku mau makan di kamar saja denganmu, ayo..biar Xiou Lie yang menyelesaikannya, Xiou Lie tolong ya?” ujar Deokman sambil mengandeng tangan Bidam dan mengajak Bidam keluar dapur.

Ketika Bidam dan Deokman keluar, mereka tidak melihat Xiou Lie mendengus sebal ke arah mereka.

SCENE : in another place

Seorang wanita berusia muda memakai pakaian mirip hwarang masuk terburu-buru ke dalam suatu ruangan, berupa kamar yang sederhana bahkan kurang terawat.

“Jenderal..” panggilnya. Pria yang dipanggil jenderal itu membalikkan badannya dan menatap wanita itu.

“Bagaimana?” tanyanya pada wanita itu.

“tahap awal telah kita laksanakan jenderal, tampaknya semua berjalan lancar, saya sudah menerima berita darinya” jawab wanita itu.

“Baiklah Bo Young, sekarang kita tinggal menunggu waktu yang tepat. Aku ingin kita tidak terburu-buru dan ingat kau harus menjaga jarak dengannya. Sedangkan keadaan disini biar aku yang menangani. Saat ini pihak raja sedang menyelidiki semua pihak yang terlibat kudeta” jawab sang jenderal.

Wanita yang dipanggil Bo Young menganggukan kepalanya tanda mengerti, menghormat dan pergi meninggalkan ruangan.

“Semoga kau berhasil Jin Yi” gumam sang Jenderal setelah pintu tertutup.

Benteng Dabeol –

Benteng Shilla yang terdekat dengan Saitama – Goguryo

“Panglima, ini daftar nama tawanan yang kita tawan dari Saitama” seorang perwira berpangkat kapten menyerahkan gulungan surat kepada Panglima Kim Yushin.

Yushin membaca gulungan surat ini dengan seksama.

“hmm.. jadi kita akhirnya berhasil memaksa mereka bahwa diantara tawanan itu ada salah satu pemimpin pemberontakan, Jenderal Wang Tae Jong beserta anak buahnya dan jumlah tawanan 50 orang” ujar Yushin sambil menyungingkan senyum tanda senang.

“apa kita akan mengirim tawanan ke Soerabeol?” tanya kapten itu.

“Kukira tidak perlu, kita hanya memindahkan mereka ke Benteng Sokham yang lebih kuat daya pertahanannya, disana terdapat 5000 prajurit dibawah pimpinan Jenderal Inhyun. Selama perjanjian Shilla dan Goguryeo belum disepakati, kita akan menahan mereka disana” kata Yushin.

“aku akan kembali ke Soerabeol, panggil Jenderal Deok Chung, dia akan kuperintahkan untuk menjaga keamanan di Saitama” perintah Yushin.

Sang kapten pun pergi melaksanakan perintah Yushin.

Scene : BIDAM WANTS

Sore hari, rumah Sangdaedung

Ruang kerja

“Kita harus cepat bersiap Bidam, sore ini perayaan panen tahunan di istana” kata Deokman sambil menutup buku yang dibacanya tanda sudah selesai, dia menatap Bidam yang sedang menulis sesuatu. Deokman mendekati Bidam dan berdiri di sampingnya, Bidam sangat serius hingga tidak menyadari kehadiran Deokman. Deokman memiringkan kepalanya untuk melihat apa yang ditulis Bidam.

“kau sedang menulis apa?” tanya Deokman.

“eh.. aku hanya mencoba membukukan ilmu pedangku yang diberikan oleh guru Munno” jawab Bidam.

“benarkah?” Deokman terlihat tertarik dan mengambil buku yang sedang di tulis Bidam. Dan melihat judulnya.

“Tai-Chi?” gumam Deokman.

“ya, itu ilmu yang kupelajari sendiri dengan melihat guru Munno berlatih. Aku harap suatu hari aku bisa mengajarkan sendiri pada anakku” kata Bidam sambil mengelus perut Deokman, Deokman tersenyum sambil meletakkan buku itu di meja.

“kau belum tahu anak kita laki-laki atau perempuan, bidam” Deokman meletakkan tangannya di atas tangan Bidam.

“laki-laki atau perempuan sama saja, aku akan tetap mengajar mereka ilmu pedang, agar mereka kuat dan pintar seperti ibunya”

“agar mereka juga berilmu tinggi dan baik hati seperti ayahnya” balas Deokman, Bidam tersenyum dan mengecup perut istrinya.

“Kau mandi duluan nanti aku menyusul setelah kau selesai” saran Bidam, Deokman mengangguk dan menuju kamar mandi.


Setelah beberapa menit kemudian…

Deokman masuk ke kamarnya dan melihat Bidam tengah duduk.

“pergilah mandi! Aku sudah selesai nanti aku siapkan pakaian untukmu untuk perayaan nanti” perintah Deokman masih memakai jubah mandi.

“oh..hhmm..” jawab Bidam melamun, segera ia bangkit dan akan melangkah keluar kamar.

Namun niatnya untuk mandi diurungkan ketika melihat Deokman tengah menyisir rambut panjangnya.

“sini biar aku sisirkan” kata Bidam sambil meraih sisir dari tangan Deokman dan dengan lembut menyisirkan rambut istrinya.

“nanti kita terlambat” ujar Deokman mengingatkan sambil berusaha merebut sisir dari tangan Bidam tapi Bidam mengenggamnya erat.

“apakah hari ini aku sudah mengatakan padamu bahwa kau cantik” jawab Bidam seolah-olah mengindahkan perkataan Deokman sebelumnya, Deokman hanya tersenyum dan bercermin melihat bayangan dirinya dan Bidam.

Kemudian Bidam mengecup belakang leher Deokman dan menyusuri ke telinga Deokman lalu berbisik. Deokman sedikit bergidik karena geli.

“kau sangat cantik Deokman dan aku menginginkan dirimu” tangan Bidam melepaskan jubah mandi Deokman dengan sigap, sehingga Deokman kini polos tanpa berpakaian. Tangan Bidam mengusap lembut pundak Deokman dan mengecupnya, lalu membalikkan badan Deokman agar berhadapan. Bidam tersenyum penuh arti pada Deokman tanda bahwa Bidam sedang ingin bercinta dengannya.

“tapi nanti kita terlambat” protes Deokman kedua kalinya tapi Bidam keburu mencium bibirnya dan mengulumnya, suatu ciuman yang menuntut dan bernafsu hingga Deokman tidak bisa protes lagi karena lidah Bidam telah memenuhi rongga mulutnya, sehingga Deokman tidak bisa mengatakan apapun kecuali desahan pendek.

Bidam kemudian mengendong Deokman ke ranjang dan membaringkannya lalu Bidam melepaskan pakaiannya sendiri dan menempatkan dirinya diatas tubuh Deokman.

“Bidam, nanti kita terlambat” kata Deokman lembut. Tangan Bidam mulai meraba-raba bagian sensitifnya di bagian atas dan bagian bawah.

“biar mereka menunggu kita” bisiknya pelan di telinga Deokman sambil mencium dan mencumbu Deokman. Deokman pasrah atas keinginan suaminya dan membiarkan Bidam mencumbunya dirangkulnya Bidam erat-erat, kemudian mereka bercinta penuh gairah.

“sepertinya aku harus mandi lagi” gumam Deokman pada Bidam yang masih berada di atas tubuhnya berkeringat.

“ayo kita mandi bersama-sama” jawab Bidam tersenyum lebar dengan wajah jahil, Deokman mendorong lembut Bidam agar pindah ke sisinya.

“kali ini benar-benar mandi” kata Deokman pura-pura marah.

“baiklah Tuan Putri “ ujar Bidam bangkit lalu memakaikan jubah mandi pada Deokman dan dirinya lalu menarik tangan Deokman ke kamar mandi, mereka saling tertawa-tawa bahagia.

Namun mereka tidak menyadari ada sorot mata yang sinis dan penuh kebencian yang mengarah pada tingkah polah mereka, mata milik Xiou Lie.

“yuk kita berangkat” ajak Bidam ketika melihat Deokman telah selesai berhias.

Deokman mengangguk mengiyakan dan mengulurkan lengannya, lalu Bidam menyambutnya dan mengandeng Deokman. Deokman sangat cantik sekali memakai gaun Tuan Putri dengan kombinasi warna biru muda dan merah muda sedangkan Bidam memakai pakaian warna favoritnya hitam dikombinasikan dengan jubah rompi warna abu gelap.

“istriku memang paling cantik” puji Bidam, matanya terus menatap Deokman disampingnya saat mereka ada di dalam tandu, Deokman tersipu.

“kau juga sangat tampan suamiku” jawab Deokman sambil menyenderkan kepalanya di bahu Bidam. (tidak ada seorangpun yang menyangkal bahwa bidam memang sangat tampan, author tidak tahan untuk memuji), Bidam tersenyum dan mengengam tangan Deokman erat.

“benar kata orang-orang, andai seorang wanita tengah hamil, aura kecantikannya akan semakin memancar, aku benar-benar membuktikannya sendiri dengan melihatmu bahwa mereka memang benar, semakin hari kau semakin cantik Deokman. Dan aku tahu kenapa itu terjadi?” ujar Bidam.

“kenapa?” tanya Deokman penasaran.

“karena si wanita itu bahagia, membayangkan menjadi seorang ibu yang penuh kasih sayang akan membuat hati jadi lebih gembira, itulah sebabnya wajah calon ibu itu lebih berseri-seri” jawab Bidam.

“kau benar, aku juga merasa demikian, aku bahagia sekali” timpal Deokman.

“hanya saja tidak semua ibu seperti itu..” nada Bidam berubah getir mengingat dia malah dibuang mishil kala waktu bayi, Deokman tahu Bidam mulai meratapi lagi.

“sudahlah, kita berbeda dengan mereka, kita akan memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita, menyambut kehadiran mereka dengan gembira dan membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang, kita akan melakukannya, kau dan aku” tegas Deokman memegang lengan Bidam erat.

“ya, tentu saja. aku tidak mau mereka mengalami nasib yang sama seperti yang kita alami” jawab Bidam sambil mengecup kening Deokman, Deokman mengangguk tersenyum.

Senin, 20 Desember 2010

Our Future Stil Continue Chapter 70: 30 Paces




Keesokan harinya.
Pagi Hari
Istana Ungjin, Baekje.
Daemusin sedang membereskan buku-buku yang akan dibawanya. Ia meminta kepada Raja Uija  agar diizinkan untuk pindah ke Benteng Chuseon,  untuk mengawasi pelatihan para calon prajurit Baekje di sana. Dan Raja Uija pun mengizinkannya “hamba mohon menghadap Tuan Panglima..” ujar seseorang dari balik pintu. “masuk..”  Daemusin mengizinkan. “sraak..”  seseorang melangkah masuk dan memberi hormat “ah..Pejabat Lee..ada keperluan apa kau datang ke sini?” ujar Daemusin yang masih sibuk mengemasi barang-barangnya. “saya kurang paham dengan rencana mendadak Tuan pindah ke Benteng Chuseon..bukankah kita berencana melakukannya langsung dari sini…apakah Tuan berubah pikiran?” tanya Pejabat Lee ragu-ragu. Daemusin tersenyum kecil  “kau meragukanku ya?kau takut aku diam mencurangimu dan mengambil semua pasukanmu yang sekarang ada di bawah komandoku?” tanyanya sambil menatap Pejabat Lee. “bu..bukan begitu…hanya saja saya dan bangsawan lain tidak mengerti mengapa tiba-tiba Tuan pindah ke sana..” “hmm…sekarang Baekje kondisinya sudah berubah..ada cukup banyak rakyat yang ternyata sudah merasa cukup puas dengan kondisinya yang sekarang ..mereka menyukai kebijakan Raja yang sekarang untuk berhenti berperang..dan ini sangat berbeda dengan Rakyat Baekje yang dulu terkenal akan ketrampilan pandai besinya dan pasukan berperangnya..sekarang gelar itu sudah diambil Tang dan Shilla…oleh karena itu aku akan mengembalikan kejayaan Baekje…” Melihat raut wajah Pejabat Lee, Daemusin tahu bahwa ia pasti belum mengerti juga. “jika aku berada di sini saat rencana yang kita buat dilaksanakan, para pendukung Raja pasti akan mencurigaiku..dan meminta rakyat untuk bangkit dan melawanku..oleh karena itu aku pindah ke Chuseon..kuserahkan segala rencana di sini ke tanganmu dan pejabat lain dan aku yang akan mengatur rencana di Chuseon....apa kau mengerti sekarang?”  Akhirnya muncul secercah harapan di wajah Pejabat Lee, ia pun mengangguk “saya mengerti Tuan..”  “bagus..kalau begitu segera sampaikan hal ini kepada bangsawan lain..”  Pejabat Lee memberi hormat “baik..Tuan..” lalu melangkah keluar, meninggalkan ruangan. Daemusin hanya tersenyum sinis menatap punggung Pejabat Lee “lebih baik kau di sini, daripada kebodohanmu mengganggu rencananku selanjutnya…”

Jalur Taegu-Kumi.
“hiaa..” Bi Dam memacu kudanya menerobos pos pemeriksaan Kota Taegu yang dijaga oleh prajurit. “hei!!kau!!” teriak para prajurit itu sambil berlari mengejar Bi Dam. Alcheon menghentikan kudanya di depan para prajurit itu “ia adalah orangku..” sambil menunjukkan lencana perak miliknya . Sebuah lempengan perak berbentuk persegi panjang yang menunjukkan bahwa dirinya adalah Siburyeong. Setiap pejabat memiliki itu dan berbeda disesuaikan dengan tingkat jabatannya. “Tu..Tuan Kepala Pengawal Istana..” ujar para prajurit itu tergagap sambil memberi hormat. Alcheon pun kembali memacu kudanya, mengejar Bi Dam yang sudah pergi cukup jauh.

Siang hari
Ruang Kerja Raja, Istana Ingang.
“Perdana Menteri Kim Yong Chun mohon menghadap Yang Mulia..” seru seorang kasim dari balik pintu. “masuklah..” jawab Yang Mulia. Kim Yong Chun lalu melangkah masuk dan memberi hormat “apakah kedua surat itu sudah dikirim?” tanya Yang Mulia. “sudah Yang Mulia dengan kurir tercepat milik Kerajaan…saya pastikan surat itu tiba di tangan Bangsawan Alcheon atau Bangsawan Bi Dam dan Panglima Yushin..”  jawab Kim Yong Chun yang sekarang duduk di samping kanan Yang Mulia. “Paman..aku tak tahu mana yang lebih buruk…kejadian yang menimpa Putri Deok Man atau Perang yang akan dihadapi Shilla…sepertinya harapan Putri Huang Shi agar bisa menolong keduanya tidak terkabul..” “Yang Mulia janganlah bersikap pesimis seperti itu..di atas kertas mungkin  Yang Mulia kehilangannya, namun kehendak Tuhan tak ada satu pun yang tahu…yang bisa Yang Mulia, saya dan pejabat lain lakukan adalah berharap agar Bangsawan Bi Dam dan Bangsawan Alcheon memastikan bahwa Tuan Putri Deok Man masih hidup..” Yang Muia Raja hanya terdiam saja mendengarkannya. “maafkan saya jika saya telah lancang Yang Mulia..” “tidak Paman..justru aku yang berterima kasih atas nasihat Paman..” jawab Yang Mulia Raja sambil tersenyum simpul menatap pamannya.

Keesokan harinya.
Siang hari.
Perbatasan Shilla- Baekje.  (30 KM dari Hwangsanbeol, 7 KM dari kota Taejon)
“kalian mau sampai kapan diam membatu seperti ini?” bentak salah satu komandan bawahan Baek Ui sambil mencambuk tanah dengan cambuknya. Namun kelompok yang terdiri dari 3 wanita, 4 pria termasuk anak-anak dan lanjut usia ini  yang Baek Ui tahan ini hanya diam. “argh..jika kita tidak menyiksa mereka bagaimana mereka mau mengakuinya?” keluh salah satu prajurit yang menjaga para tahanan itu. Berbeda dengan hukum militer yang berlaku di Baekje dan Goguryeo, Shilla di bawah pemerintahan Ratu Seondeok membuat aturan untuk tidak menyiksa atau menyerang anak-anak, wanita, dan orang tua. Meskipun ada beberapa kalangan yang menilai bahwa kebijakan tersebut dinilai menambah kesulitan para prajurit untuk menyelesaikan perang atau menginterogasi lawan, namun di bawah pemerintahan Ratu, para hwarang, mata-mata, dan prajurit Shilla semua mematuhi aturan itu sampai sekarang. Baek Ui pun masih sibuk memeriksa barang-barang yang berhasil ia sita. Puluhan pedang dan perisai tersimpan rapi dalam gundukan jerami. Untung saja telinga tajamnya berhasil menemukan suara ganjil dari tengah jerami ini. Suara besi-besi yang beradu seperti berada di tmpat penempaan, padahal gerobak tersebut seharusnya hanya berisi jerami dan dibawa oleh penduduk sipil. “dari pedang-pedang ini tercium bau darah..apakah kalian habis membunuh seseorang?” tanya Baek Ui.  Para tahanan itu hanya diam. “jawab!!!” bentak prajurit penjaga. Namun lagi-lagi  tak ada jawaban. Baek Ui pun mengambil sebuah pedang dan megeluarkannya dari sarungnya. “ada kalanya peraturan harus dilanggar untuk mengetahui sesuatu yang sangat penting…” ujarnya sambil berjalan mendekat “Tuan..apa yang akan tuan lakukan?” tanya salah satu prajurit yang merasa merinding, melihat sorot mata Baek Ui yang tampak kejam. Baek Ui berhenti di hadapan seorang kakek tua yang duduk terikat bersama cucu perempuannya. “kurasa tak akan ada masalah jika aku membunuhnya, jasa-jasaku terhadap negeri ini lebih besar daripada hukuman yang kutanggung.. jadi kurasa  aku bisa memulainya dari yang lebih tua..mungkin dengan begini, ia akan segera masuk nirwana..” Baek Ui mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, lalu mulai menganyunkannya. “jangaaaan!!!”

Perbatasan Wonju. Kamp Militer Shilla.
“sraak..” Wolya menyibakkan  tirai kemah dan melangkah masuk dengan buru-buru. “ada apa Wolya?apa ada kabar penting?” tanya Yushin yang sedang membaca laporan. “lebih dari penting..dugaanmu benar…Pasukan Wa tak ada di benteng itu..dari 30.000 pasukan yang tersisa di sana hanya tinggal 1000..” Yushin pun tersentak mendengarnya “apa?”  Wolya hanya mengangguk. “lalu pakah mata-mata berhasil menyelidiki kemana perginya?”  “belum..mereka belum berhasil..sepertinya yang dikirim tiba ke benteng itu tidak sesuai dengan jumlah yang diterima di pelabuhan.. atau apa jangan-jangan mereka mengirim pasukan Wa untuk menyerang kita dari wilayah lain..” “kurasa tidak.. aku sudah meminta para Jenderal di setiap benteng yang dekat dengan perbatasan atau markas militer Goguryeo untuk bersiaga dan terus mengawasi …jika memang itu terjadi pasti mereka sudah melapor…30.000 orang bukanlah jumlah yang sedikit.." jawab Yushin. Mereka berdua pun terdiam memikirkan masalah itu. “kemana perginya 30.000 orang itu?” pikir mereka. “Komandan Go Do mohon menghadap Panglima..” seru Go Do dari balik pintu kemah. “masuklah..” jawab Yushin.  Go Do diikuti seorang kurir kerajaan melangkah masuk dan memberi hormat. “Panglima, ada surat untukmu dari Yang Mulia Raja..” ujar Go Do. “dari Yang Mulia Raja…” tanya Yushin bingung. “ya Tuan..saya diminta Yang Mulia Raja untuk mengantar sendiri surat ini kepada Tuan langsung..” ujar kurir tersebut sambil menyerahkan sebuah gulungan yang tersegel. Yushin memeriksa gulungan itu dan menemukan stempel kerajaan di gulungan itu lalu mulai membuka segelnya dan membacanya. Ia pun tercengang begitu membacanya “Wolya..kurasa aku tahu kemana 30.000 prajurit itu pergi..” sambil menyerahkan gulungan yang dibacanya kepada sahabatnya itu. “jika ini salinan dari surat Putri Huang Shi untuk Bi Dam mengapa Yang Mulia yang mengirimkannya?mengapa bukan Bi Dam yang mengirimnya?” Yushin pun mengajukan pertanyaan kepada kurir itu “Mengapa Yang Mulia Raja yang mengirim surat ini? seharusnya surat ini Tuan Perdana Menteri Bi Dam yang mengirimkannya?apakah Tuan Perdana Menteri sedang sakit atau pergi?” “Tuan Bangsawan Bi Dam bersama Tuan Bangsawan Alcheon sedang melakukan tugas mata-mata dari Yang Mulia Raja…dan sementara ini kedudukan Sangdaedeung dan Siburyeong  dipegang oleh Tuan Perdana Menteri Kim Yong Chun Tuan Kepala Pengawal Baek  Jong..” Yushin dan Wolya terkejut mendengarnya. “apa kau tahu dimana mereka ditugaskan?” tanya Yushin. “maaf Tuan..hamba tidak mengetahuinya..” Yushin pun terdiam berpikir “jika Bi Dam dan Alcheon sampai turun tangan berarti ada sesuatu yang penting terjadi…” “baiklah kalian boleh keluar..” ujar Wolya kepada Go Do dan kurir itu “baik..” jawab Go Do dan kurir itu serempak memberi hormat. “kurasa tak mungkin Bi Dam meninggalkan kedua anaknya jika ini adalah hal yang benar-benar penting dan darurat..apalagi jika sampai digantikan itu artinya ia akan pergi cukup lama..atau jangan-jangan sesuatu terjadi pada..” “Yushin..” suara Wolya menyadarkan lamunannya . “ya..” jawab Yushin. “apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” tanya sahabatnya itu. Yushin pun berbohong “tidak..aku hanya  memikirkan strategi selanjutnya..kurasa kita harus mengadakan rapat segera..tolong kau kumpulkan para jenderal di sini..” “baik..” jawab Wolya lalu pergi keluar dari kemah. Pikiran Yushin pun melanjutkan asumsinya tadi  “jangan –jangan sesuatu terjadi pada Tuan Putri.. ” tiba-tiba ia menggelengkan kepala “tidak..tidak…jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi..ada apa dengan diriku ini mengapa aku terus mengkhawatirkannya?seharusnya aku sudah melupakannya..Tuan Putri Deok Man…”  

Jalur Kumi - Taejon, Shilla.
“hiaa..” Bi Dam memacu kudanya semakin cepat dan cepat. Langit mendung rupanya membuat jalanan lebih lengang karena orang-orang tak ingin kehujanan. “tes..tes..tes..” rintik hujan mulaiturun membasahi kota Kumi, tidak peduli dengan licinnya jalan, Bi Dam terus memacu kudanya. “Bi Dam!!hujan akan turun semakin deras!!jalanannya licin jangan paksakan dirimu!!” teriak Alcheon yang sekarang berhasil menyamakan jaraknya dengan Bi Dam. Namun Bi Dam hanya diam tak peduli, ia malah semakin memacu kudanya lebih kencang lagi. Setelah melewati kota Kumi, mereka berdua memasukki jalur menuju kota Taejon. Di kedua sisi jalan, terdapat rombongan beberapa pedagang dan penduduk yang melakukan perjalanan, mereka semua duduk berteduh di bawah pohon sambil melihat pemandangan balap kuda antara Bi Dam dan Alcheon. “dimana mereka?” pikir Bi Dam sambil melihat sekeliling, lalu dilihatnya dua orang prajurit berdiri berteduh di bawah pohon di sisi kanan jalan. “ini tempatnya..”  pikir Bi Dam. Ia pun mengarahkan kudanya untuk belok ke kanan. “hei!!!berhenti!siapa kau!!” teriak kedua prajurit itu sambil mengejar Bi Dam. Namun Bi Dam tak peduli. Ia memacu kudanya sampai ia tiba di depan sebuah gubuk yang dijaga oleh para prajurit. Melihat ada orang asing datang, para prajurit segera bersiaga dengan tombak mereka. Salah satu dari mereka pun maju menghadap Bi Dam,”maaf Tuan..anda tak bisa beristirahat di sini..”  Bi Dam pun segera turun dari kudanya lalu merogoh saku dalam bajunya, kemudian menunjukkan lencana emas miliknya. Lencana emas yang menunjukkan bahwa ia adalah Sangdaedeung. Prajurit dan yang lainnya itu pun segera memberi hormat“Tu..Tuan Perdana Menteri..maafkan saya” “dimana komandanmu?” ujar Bi Dam dingin. “lewat sini Tuan..” seorang prajurit mengantarkan.
“hup..” Alcheon pun akhirnya tiba juga di tempat yang sama. Sama seperti tadi, para prajurit mengacungkan senjatanya karena tidak mengenalinya, ia pun menunjukkan lencana miliknya kemudian mengikuti ke arah Bi Dam pergi. Bi Dam berjalan mengikuti prajurit itu, lalu ia melihat seorang pria berpakaian komandan duduk berdiri tertunduk  di samping sebuah pintu. Dari bau darah yang berpencar  di udara, ia bisa tahu bahwa di sanalah mayat-mayat itu diletakkan. “tap..tap..” Bi Dam berjalan melewati komandan itu  “saya harap itu bukan mayat-mayat mereka Tuan…maafkan atas kecerobohan saya..” gumam komandan itu gemetar. Namun Bi Dam hanya diam dan membuka pintu. Amisnya darah langsung tercium tajam, meskipun sudah dibalsem agar kesemua mayat itu tidak membusuk, namun tetap saja amisnya darah tetap tajam tercium.Meskipun di luar hujan, Alcehon yang berhasil menyusulnya hanya berdiri depan pintu dan tercengang melihat semua kekejian itu. Bi Dam pun berjalan di antara mayat para pengawal dibaringkan dengan rapi di lantai, kemudian ia melewati mayat-mayat yang tiap di sisinya terdapat masing-masing satu senjata yakni golok,pedang, busur, tombak. Bi Dam mengenali kesemua senjata itu. Senjata milik para hwarang pilihannya. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat, melihat kesemua mayat tanpa kepala itu. Setelah melihat kesemua mayat yang tergeletak di lantai, matanya pun tertuju ke depan.
“deg..” jantungnya seakan-akan berhenti berdetak begitu melihat mayat yang dibaringkan di atas meja panjang di sisi belakang ruangan.  “dia bukan Deok Man..” gumamnya gemetar.  “tap..tap..”   ia pun berjalan mendekat untuk melihat mayat terakhir. Semakin dekat jaraknya, kedua tangannya pun mulai gemetar. Takut bahwa ternyata kenyataan buruk yang akan ia temukan. 30 langkah, 20 langkah, 15 langkah, ia pun semakin dekat dengan mayat itu. Berbeda dengan mayat yang lain, mayat ini diselimuti dengan kain putih. “bukan..ini bukan dia..hanya kebetulan mayat ini memiliki tinggi yang sama” gumam Bi Dam menguatkan diri sebelum membuka kain penutup itu. Kedua tangannya yang gemetar mengangkat kain itu dan menyibakkannya ke lantai. Sesosok mayat wanita tanpa kepala terbaring di hadapannya.  Dibandingkan dengan mayat yang yang lain, luka di mayat ini hanya satu yakni tusukan tepat di dada kirinya. “ti..tidak ini cuma kebetulan..” gumamnya gemetar melihat pakaian yang dikenakan mayat wanita itu ternyata sama yang sering dikenakan istrinya, dan ia tahu kalau istrinya itu juga membawanya sebelum berangkat. Namun begitu melihat cincin yang melingkar  dan kalung Seoyopdo  yang melingkar di lehernya yang tak berkepala itu membuat Bi Dam tak bisa memungkiri lagi kalau itu memang istrinya. Ia pun jatuh berlutut di samping mayat itu dan menangis “TIDAAAAAKKKK!!!” teriaknya pilu.