Pages


Minggu, 19 September 2010

Chapter 11 Side Story: The First Lesson, Astronomy


Keesokan harinya

“Zhi Youn apakah hari ini kau sudah mulai belajar?” tanya bibi Yoo Seon. Zhi Youn mengangguk mengiyakan.Melihat kursi di samping bibinya kosong,Zhi Youn bertanya “bibi, apakah paman sedang sudah berangkat?”  “sudah…tadi sebelum ayam berkokok, ia sudah pergi..” jawab Yoo Seon. Zhi Youn pun meletakkan sumpitnya lalu meminum tehnya. “aku berangkat dulu ya semua..” katanya sambil berdiri memberi hormat kepada bibinya, lalu pergi keluar. “tunggu Zhi Youn..” ujar Yoo Hee. Zhi Youn menghentikan langkah kakinya “iya kak?” jawabnya sambil menoleh ke belakang. “mengenai masalah kemarin?apa kau..” tanya Yoo Hee.  Zhi Youn tersenyum “sudahlah kak, aku baik-baiksaja kok.lagipula semuanya juga masih praduga kan…jadi masih ada harapan..dn aku akan memastikannya dengan mata kepalaku sendiri..” Yoo Hee hanya terdiam mendengar jawaban itu.”ya sudah ya kak..aku pergi dulu..” kata Zhi Youn sambil berjalan keluar dari gerbang pagar rumah paman dan bibinya.

Kediaman Bangsawan Kim Yong Chun

Zhi Youn berjalan mengikuti langkah kasim di depannya. Bangsawan Kim Yong Chun memintanya agar tidak sungkan datang belajar ke rumahnya. Rasanya agak sungkan memang bertamu ke rumah seseorang, namun tuan rumahnya sedang tidak ada. “meskipun aku tak ada..jangnlah sungkan anggap saja seperti rumahmu sendiri...” begitu kata Kim Yong Chun kepada Zhi Youn kemarin. “silahkan masuk nona..Tuan Han sebentar lagi akan tiba..” kata kasim itu. “terima kasih..” kata Zhi Youn lalu berjalan masuk ke dalam ruangan tempat dirinya akan belajar.
“sraak..” Han Dong Kim berjalan masuk ke dalam ruangan. Zhi Youn segera bangun dari duduknya dan memberi hormat “guru..” katanya.”kita mulai pelajarannya..” kata Han Dong Kim sambil duduk dan membuka halaman buku di hadapannya.

 Di bawah bimbingan Han Dong Kim, Zhi Youn belajar berbagai hal dari politik pemerintahan, sosial kebudayaan, sejarah kerajaan, bahasa asing dan berbagai ilmu lainnya. Mulanya Zhi Youn mengira pengajaran yang ia dapat akan bersifat kaku dan searah. Namun justru sebaliknya, Tuan Han mengajarinya ilmu dengan cara mendiskusikannya dan bertanya jawab dengannya. Ini sangat membantunya menyerap pelajaran. “ini bacalah..” pinta Tuan Han sambil menunjukkan halaman sebuah buku pada Zhi Youn. Zhi Youn mengambil buku itu dan membacanya“Cheomseongdae dibangun pada masa pemerintahan Ratu Seondeok sebagai observatorium yang terbuka untuk umum untuk memahami ilmu perbintangan sehingga dapat bermanfaat bagi rakyat kelak terutama dalam bidang pertanian…”
“wah  ternyata seperti ini ya bangunan Cheomseongdae?” kata Zhi Youn kagum melihat gambar Cheomseongdae di bukunya. “kau belum pernah ke sana?” tanya Tuan Han. Zhi Youn menggelengkan kepalanya. “guru bolehkanh saya bertanya?” tanya Zhi Youn. “hmm..” Han Dong Kim mengangguk. “guru, jika ilmu astronomi ini sangat penting bagi rakyat mengapa tidak dari dahulu saja ide ini muncul?” tanyanya. “karena kata ilmu astronomi baru muncul sekarang..” “hah?”  “sekarang aku bertanya kepadamu ketika Cheomseongdae dibangun apa yang dipikirkan oleh orang-orang di daerahmu?” tanya Tuan Han. Zhi Youn berusaha mengingat “hmm..waktu itu.. kalau tak salah.. Kasim  Min bilang ia ingin berdoa di sana jika pergi ke Seoraboel bersama ayah..dan pelayan Chae bilang ingin menitip doa dan persembahan di sana..” “lalu apa yang kau ketahui tentang Cheomseongdae waktu itu?” tanya Tuan Han lagi. “waktu itu saya menanyakannya kepada ayah..ayah hanya bilang itu adalah observatorium untuk mempelajari bintang katanya..hanya itu yang ayah tahu..”
“nah dengan begitu pertanyaanmu sudah terjawab..bisa dibilang di masa itu ilmu astronomi adalah hal yang sakral..rakyat dan kalangan Istana menganggap bahwa itu adalah mandat dari langit.. dan hanya orang tertentu saja yang dipilih oleh langit yang bisa mengetahuinya….” “sakral?” tanya Zhi Youn. “ya..sakral..sebelumnya mengetahui ilmu astronomi itu adalah berkah dari langit bukan hasil dari belajar…seperti yang kau tahu dalam hal pengetahuan kita agak tertinggal..bahkan dari Gaya sekalipun..tak pernahkah terpikir olehmu kenapa kita tidak mempunyai alamanak?” Zhi Youn tertegun sejenak sebelum menggelengkan kepala. “beruntung, Tuan Putri saat itu berhasil membujuk Guru Wolcheon yang merupakan arsitek Cheomseongdae untuk mengajar mengenai ilmu astronomi..sehingga aku bisa mempelajarinya..”  “waah..jadi guru pandai dalam ilmu astronomi?” ujar Zhi Youn terkagum-kagum. “secara umum aku menguasainya, namun mengenai maslah perhitungan pergesearan planet, aku tak begitu paham..karena pada dasarnya aku hanya berminat pada ilmu politik,sastra,dan sejarah..jadi besok aku akan mengajak kau pergi berkunjung ke Cheomseongdae..”  Zhi Youn yang masih terkagum-kagum mendengar cerita gurunya mengangguk dengan sangat senang.

Chapter 45 part. 02: Family


Pagi hari. Ruang Makan Raja.
“Kepala Pengawal Istana memasuki ruangan..” seru penjaga pintu. “masuklah..” jawab Raja yang baru saja selesai menyantap hidangan. Alcheon melangkah masuk lalu memberi hormat kepada Yang Mulia Raja dan Permasuri. Kegembiraan nampak di wajahnya. “ada apa Alcheon?apakah ada berita baik yang kau bawa sehingga wajahmu terlihat gembira?” tanya Raja. Alcheon mengangguk “Tuan Putri Deok Man telah melahirkan..anak kembar..seorang putra dan seorang putri..” jawabnya sambil tersenyum. “terima kasih Tuhan..lalu bagaimana keadaan Putri Deok Man?semuanya baik-baik saja kan?” tanya Permaisuri. “semuanya dalam keadaan sehat  dan baik-baik saja Yang Mulia…” jawab Alcheon. “ini adalah sebuah kabar baik..kabar yang sangat baik..kita patut merayakan untuk mensyukurinya..” jawab Raja ikut gembira. “ya..Yang Mulia..saya akan mengirimkan hadiah untuk kedua bayi yang baru lahir ini..” jawab Permaisuri. Kabar mengenai kelahiran putra dan putri Deok Man pun terdengar sampai ke Istana. Semua ikut gembira merayakannya. Dan tentu saja berita tentang kematian dan ia hidup kembali itu hanya diketahui oleh penghuni rumah saja. Deok Man meminta mereka menyimpannya sebagai rahasia kecil.

1 bulan kemudian. Sore hari. Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
“ssst…sayang..anak manis..ayah mohon kau cepat tidur..” gumam Bi Dam pada putranya yang digendongnya. Deok Man yang duduk di sisinya sambil menggendong putrinyayang sudah terlelap hanya bisa tersenyum geli memperhatikan tingkah suaminya. “Deok Man..sepertinya Yun Ho tidak mau tidur jika aku yang menggendongnya..bagaimana ini?” tanya Bi Dam mulai panik. Deok Man semakin tersenyum geli melihat kepanikan suaminya itu, lalu ia bangun dari duduknya dan meletakkan putrinya di tempat tidur bayi dan berdiri di samping suaminya. ”ia harus digendong lebih lama..baru nanti ia akan tertidur..dibandingkan Yoo Na, Yun Ho memang lebih aktif.. ” Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya Yun Ho pun terlelap dan Bi Dam bisa meletakannya di tempat tidur bayi di samping adiknya, Yoo Na. “fiuuh..akhirnya..selamat tidur anak-anakku..” gumam Bi Dam. Deok Man mengecup kening kedua anaknya “tidurlah yang nyeyak anak-anakku..” gumamnya tersenyum. ”Yun Ho benar-benar mirip denganmu Bi Dam…bahkan nafsu makannya pun sama besarnya..” ujar Deok Man bercanda sambil menatap putranya yang tertidur lelap. “terima kasih..tapi ia juga mirip denganmu Deok Man..lihat matanya sama sepertimu..” jawab Bi Dam senang. “putri kita manis sekali…sangat tenang..kurasa sebelum aku menyadari aku mengandung anak kembar, Yun Ho lah yang aktif menendang perutku..” gumam Deok Man tersenyum menatap putri kecilnya. “tapi.. kuharap Yoo Na tidak mirip denganmu Deok Man..”sahut Bi Dam dengan tampang serius memperhatikan putrinya. “kenapa?aku kan ibunya..” jawab Deok Man.  Bi Dam tersenyum berusaha menahan tawa “karena jika ia mirip denganmu..aku  tidak akan rela putriku menikah dengan orang lain..tidak akan..”  Deok Man tertawa kecil mendengarnya “Yoo Na menikah?pikiranmu terlalu jauh Bi Dam..umur mereka bahkan baru  1 tahun..” jawabnya.  “tetap saja..” Bi Dam ikut tertawa. “lihat mereka bergandengan tangan..manis sekali..” ujar Deok Man kagum melihat kedua anaknya tidur bergandengan tangan.  Bi Dam tersenyum melihatnya, merangkul mesra istrinya lalu mengecup pipinya “kau telah memberikan hadiah yang terindah dalam hidupku Deok Man..terima kasih..” bisiknya. “sama-sama..” jawab Deok Man tersenyum bersandar pada suaminya. 
Chapter 45 part 01:  You've Come Back

“Deok Man…Deok Man…” Bi Dam berlutut di samping tubuh istrinya yang dingin.  Han Hye Jin sudah mengupayakan segalanya namun tak bisa menyelamatkannya.  Air mata Bi Dam tak henti-hentinya mengalir. “aku mencintai mereka sama seperti aku mencintaimu..” kata-kata terakhir Deok Man terngiang kembali dalambenaknya. Lalu Bi Dam menoleh ke arah tempat tidur anak-anaknya. Kedua bayinya sedang tertidur lelap “anak-anak kita juga mencintaimu Deok Man..” gumamnya melihat kedua anaknya tertidur lelap. “lalu apakah kau juga mencintaiku?” tanya istrinya. Bi Dam kaget mendengar jawaban itu. Lalu ia menoleh ke belakang. Deok Man membuka matanya dan  tersenyum kepadanya. “Deok Man?” Bi Dam masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Deok Man kembali. Ia hidup kembali. “aku pulang..Bi Dam..” gumam Deok Man tersenyum. Air mata bahagia mengalir membasahi pipinya. Bi Diam segera memeluk istrinya itu erat-erat. “kau kembali Deok Man…kau kembali..terima kasih Tuhan..” isak Bi Dam bahagia. Lalu Deok Man menarik tangan suaminya memintanya  untuk membantunya bangun melihat kedua anak mereka.  “lihat anak-anak kita..mereka tersenyum dalam tidurnya..” gumam Deok Man tersenyum  melihat bayi-bayinya tidur. Bi Dam berdiri memeluknya dari belakang. “ya..mereka pasti senang mengetahui ibunya kembali..” bisik Bi Dam. Deok Man menoleh menatap suaminya. “aku sangat bahagia melihatmu kembali Deok Man..melihatmu tersenyum dan merasakan detak jantungmu dalam pelukanku..” gumam Bi Dam tersenyum padanya. Deok Man mengusap pipi suaminya “begitu juga denganku Bi Dam…”jawabnya sambil tersenyum. Lalu Bi Dam mencium bibirnya. Mendekap erat tubuh istrinya dalam pelukannya. Deok Man merangkul leher suaminya dengan kedua tangannya.
“aku sangat mencintaimu Deok Man..sangat sangat mencintaimu..” gumam Bi Dam yang memeluk istrinya dalam dekapannya lalu mengecup keningnya “aku juga sangat mencintaimu Bi Dam..dengan segenap hati…dan jiwaku…” gumam Deok Man tersenyum dalam dekapan hangat suaminya.
Pagi hari. Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
“ini keajaiban..benar-benar keajaiban..penyakit Tuan Putri juga meghilang..Tuan Putri sudah sembuh sekarang..” seru  Han Hye Jin terkejut  ketika memeriksa Deok Man. “benarkah?” tanya Bi Dam yang duduk di sisi istrinya. Deokman juga kaget setengah percaya mendengarnya. Han Hye Jin mengangguk mengiyakan “tapi Tuan Putri tetap harus beristirahat total dan tidak melakukan pekerjaan berat apapun mengingat kondisi Tuan Putri yang baru saja melahirkan..” Deok Man mengangguk mengerti.   ”hiduplah berbahagia putriku…biarlah penyakitmu tak akan kembali mengganggumu lagi..” kata-kata Raja Jinpyeong  tiba-tiba melintas kembali dalam benaknya.  “terima kasih Tuhan..” ujar Bi Dam penuh rasa syukur. ”terima kasih Tuhan..ayah..ibu..dan juga kakak..”gumam Deok Man sambil memejamkan matanya sebentar. “Tuan Putri..hamba sangat senang dapat melihat Tuan Putri sehat kembali..” isak Soo Hye terharu. Deok Man mengangguk tersenyum “aku juga senang bisa melihatmu kembali Soo Hye..”   “lalu apakah Tuan Putri sudah memutuskan nama?”tanya Han Hye Jin. “nama?belum..aku belum memutuskannya..aku ingin memutuskannya bersama suamiku..” jawab Deok Man sambil tersenyum menatap suaminya. “aku sudah mempunyai beberapa calon nama untuk keduanya...satu untuk anak perempuan..satu anak laki-laki..tapi semuanya tentu saja tergantung persetujuanmu Deok Man..” ujar Bi Dam sambil tersenyum pada putri kecilnya yang sedang digendongnya. Lalu ia terdiam sebentar memilih nama dari nama-nama yang sudah dipilihnya. “Yun Ho untuk putra kita dan Yoo Na untuk putri kita… bagaimana menurutmu?”  tanyanya pada istrinya yang duduk di sisinya sambil menggendong putranya. “Yun Ho dan Yoo Na..”gumam Deok Man berpikir. Ia diam sejenak mengernyitkan dahinya dan berpikir. “apa kau ingin nama lain?aku masih punya nama..” Bi Dam menerawang lagi nama-nama yang sudah ia kumpulkan. “Yun Ho dan Yoo Na..aku suka nama itu..nama yang bagus..pas untuk anak-anak kita..jumlah huruf kedua nama itu sama..kembar seperti anak-anak kita..” sergah Deok Man. “ya..jumlahnya sama dan diawali huruf yang sama..oleh karena itu aku mengajukannya paling awal..aku ingin memberikan nama yang bagus namun unik..” jawab Bi Dam tersenyum.  “jadi Yun Ho untuk putra kita..” gumam  Deok Man tersenyum menatap putranya.”dan Yoo Na untuk putri kita..” sahut Bi Dam sambil mengusap pipi putrinya dengan jarinya. 

Jumat, 10 September 2010

Chapter 44: Between Life and Death

“dimana aku?” tanya Deok Man. Ia memandang sekelilingnya. Pemandangan di hadapannya semuanya serba putih. “Deok Man..” Deok Man kaget begitu mendengar suara itu. “tidak mungkin..suara ini..”gumamnya. “Deok Man..” Suara yang sudah lama sekali tidak didengarnya dan seharusnya tidak mungkin bisa ia dengar lagi. Ia menoleh ke belakang. Deok Man tercengang dengan apa yang dilihatnya. “ini pasti mimpi..tidak mungkin..kakak?” gumamnya. Deok Man berusaha meyakinkan dirinya “kakak!!kau kah itu?” panggilnya. “Deok Man..adikku..” panggil Cheon Myeong. Deok Man segera berlari memeluk kakaknya “kakak…ini benar-benar kau..” “Deok Man…” “aku sangat merindukanmu kak..”isak Deok Man “begitu juga denganku Deok Man..” isak Cheon Myeong. “Deok Man coba lihat di belakangmu ada 3 orang lain yang juga sangat merindukanmu…” Deok Man pun menoleh ke belakang. “ayah..ibu..”gumamnya. Raja Jinpyeong, Permaisuri Maya, dan So Hwa tersenyum padanya. “Deok Man..”panggil mereka. Deok Man segera berlari ke arah mereka dan memeluk mereka.”aku sangat merindukan kalian.. ayah..ibu..”isaknya. “kami juga putriku..”jawab Permaisuri Maya. “Tuan Putri..” isak So Hwa. “panggil namaku ibu..panggil namaku..”isak Deok Man sambil menggenggeam kedua tangan So Hwa “Deok Man..Deok Man…” So Hwa memeluknya erat. “aku sangat senang bertemu kalian…pasti aku sedang bermimpi sehingga aku bisa bertemu kalian..” kata Deok Man seraya menghapus air mata dari pipinya. Mereka semua tersenyum kepadanya. “ini bukan mimpi Deok Man..ini kenyataan..” jawab Cheon Myeong. “ini kenyataan? maksud kakak?” tanya Deok Man kebingungan. “ini adalah dunia batas hidup dan mati..”ujar Raja Jinpyeong. “dunia batas hidup dan mati?tunggu jadi aku…” Deok Man berusaha memahami. “coba kau ingat kejadian apa yang terjadi sebelum kau tiba di sini..” kata Permaisuri Maya seraya mengusap pipi putri keduanya itu. Tiba-tiba segala kejadian terputar kembali dalam benak Deok Man. Bagaimana ia terbangun, mengingat kata-kata Han Hye Jin, mengusap kening Bi Dam, merasakan kontraksi pertama, berjuang melahirkan kedua anak kembarnya, menggendong mereka, lalu menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan suami yang sangat dicintainya, Bi Dam. “kau ingat semua?” tanya Cheon Myeong. “ya aku ingat sekarang..aku..aku sudah mati..” gumam Deok Man . Ia masih shock dengan apa yang ia lihat barusan. Begitu mengingat wajah Bi Dam yang menangis karena kehilangan dirinya, air matanya langsung jatuh menetes membasahi pipinya. “kau belum sepenuhnya kehilangan nyawamu putriku..kau bisa dengar mereka memanggilmu kan?”tanya Permaisuri Maya. “mereka memanggilku?” tanya Deok Man. “Deok Man!!Deok Man!!”samar-samar terdengar suara Bi Dam memanggil namanya“oaa..oaaa..”dan suara tangisan kedua anak mereka memanggil ibunya. “Bi Dam dan anak-anakku memanggilku…” gumam Deok Man. Air matanya pun jatuh berderai . “mereka memanggilmu untuk kembali..” ujar So Hwa. “di sini adalah dunia batas hidup dan mati...berbeda dengan kami yang benar-benar sudah kehilangan nyawa kami setelah kami mati..orang yang mempunyai kesempatan hidup lagi sepertimu bisa kembali hidup dengan cara melewati gerbang itu…asalkan kau mempunyai tekad yang kuat untuk kembali..karena jika tidak kau akan terbawa kembali ke sini dan hanya bisa menunggu sampai nyawamu benar-benar habis lalu pergi ke alam baka..seperti kami..”ujar Jinpyeong. “mempunyai tekad yang kuat untuk kembali?” tanya Deok Man. “coba ingatlah..apa alasanmu untuk bertahan hidup atau mengapa kau harus kembali ke dunia..”jawab So Hwa. “kami di sini bukan untuk membawamu bersama kami…tapi untuk mendukungmu pulang…” ujar Permaisuri Maya. “oleh karena itu Deok Man..bulatkan tekadmu..sebelum melewati gerbang itu..” kata Cheon Myeong sambil meletakkan kedua tangannya di atas bahu Deok Man. Deok Man mengangguk mengerti “baik kak..” Lalu mereka semua mengantar Deok Man sampai ke depan sebuah gerbang kelabu yang kokoh terbuat dari besi. “begitu memasuki gerbang ini, semuanya tergantung padamu..kau harus menemukan tekadmu kenapa kau harus hidup kembali..” ujar Cheon Myeong. Raja Jinpyeong, Permaisuri Maya, dan Sohwa mengangguk. “kakak..ibu..ayah..” gumam Deok Man. “kau memiliki suami yang sangat mencintaimu, memberikan kami kedua cucu yang manis…kami semua mengharapkan kau bisa hidup berbahagia bersama keluarga barumu..” ujar Jinpyeong. “ayah..” “kau tak perlu mencemaskan kami di sini..kami semua bahagia melihatmu bahagia..kami semua ada di dalam hatimu..” kata Permaisuri Maya sambil meletakkan tangan di atas dada Deok Man. “kami berharap kau bisa hidup bahagia..” ujar Sohwa yang ikut meletakkan tangannya di atas dada Deok Man. Begitu juga Cheon Myeong. “aku ingin adikku hidup bahagia..” isaknya bahagia. Lalu Raja Jinpyeong yang terakhir meletakkan tangannya ”hiduplah berbahagia putriku…biarlah penyakitmu tak akan kembali mengganggumu lagi..” Deok Man merasa muncul rasa hangat dari dalam dadanya. “ayah..ibu..kakak..” gumam Deok Man. “kami sangat menyayangimu Deok Man..” jawab Mereka. Lalu mereka semua berubah menjadi bola-bola cahaya dan menghilang. Kemudian bersamaan dengan itu pintu gerbang terbuka dan Deok Man terseret masuk ke dalam gerbang itu. “dimana aku?” gumamnya bingung. Berbeda dengan tadi, di sini yang ada hanyalah kegelapan tiada akhir. Benar-benar tak ada cahaya setitik pun.“kemana aku harus pergi?” tanyanya bingung. Lalu ia teringat kata-kata ayahnya “orang yang mempunyai kesempatan hidup lagi sepertimu bisa kembali hidup dengan cara melewati gerbang itu…asalkan kau mempunyai tekad yang kuat untuk kembali..karena jika tidak kau akan tersesat di sini sampai nyawamu benar-benar habis lalu pergi ke alam baka..seperti kami. “ Kemudian Deok Man memejamkan matanya. “aku harus pulang..aku ingin kembali..” gumamnya. Dan semua kenangan semasa hidupnya terputar kembali. Bagaimana ia lahir, diburu oleh Chilsuk, ia dibesarkan So Hwa di Gurun Taklamakan, bertemu dengan paman Cartan dan para pedagang lainnya, dan semua pengalaman lainnya semasa kecilnya, kenangan berubah begitu cepat,ia sekarang berada di Shilla, bertemu Jukbang dan Go Do, mencari Munno, bertemu Mishil untuk pertama kalinya,bertemu Cheon Myeong untuk pertama kalinya, bertemu Yushin dan menjadi Nangdo, pergi berperang, membunuh orang untuk pertama kalinya, merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama, bertemu Bi Dam. Hatinya merasa sangat hangat melihat gambaran wajah Bi Dam muncul dan mengedipkan matanya. “Bi Dam..” gumamnya. Kenangan bagaimana kakaknya meninggal, ia diburu oleh Mishil, lalu kembali mengambil haknya sebagai keturunan kerajaan yang sah, ia membuang kehidupan bahagianya sebagai wanita untuk mengalahkan Mishil dan memimpin Shilla. Gambaran pun berpindah tempat. Sekarang ia seorang putri, semua menjaga jarak dengannya, bertemu So Hwa kembali, Yushin menikah dengan orang lain,tak ada lagi orang yang bisa dekat dengannya, lalu gambaran Bi Dam membawakan bunga untuknya muncul. “kau membawakan hadiah ulang tahun untukku di hari yang salah..” gumam Deok Man tersenyum. Kenangan berganti lagi, kompetisi Pungwolju, lalu muncul gambaran Bi Dam menarik dan menggenggam tangannya. “tanganmu gemetar..” gumam Deok Man mengingat kata-kata Bi Dam waktu itu. Kemudian muncul kenangan Mishil melakukan kudeta, So Hwa meninggal, ia hamper saja mati tertembak panah oleh Mishil jika tidak ada Soeyopdo di dadanya, Bi Dam datang menolongnya, Ia memberikan tugas untuk Bi Dam, Bi Dam membohonginya. “seharusnya kau jujur padaku..aku akan menerima apapun jawabanmu…” gumam Deok Man. Mishil mati bunuh diri, kemudian ayahnya meninggal, ibunya pamit pergi. “kau harus mempercayai seseorang namun kau juga tak bisa mempercayai orang..” gumam Deok Man mengingat nasihat terakhir ibunya. Ia diangkat jadi ratu, unifikasi dimulai, situasi semakin pelik, Yushin dan Bi Dam bersaing, ia meragukan cinta Bi Dam untuknya, menolak dipeluk olehnya,. Air mata terjatuh dari kedua mata Deok Man yang terpejam. Ia mengakui perasaannya kepada Bi Dam. “hanya kamu yang memikirikanku sebagai seorang manusia, sebagai seorang wanita, tapi aku menyukainya, aku mencintaimu yang mencintaiku sebagai seorang wanita..tapi bisakah aku benar-benar melakukannya?” gumam Deok Man . Lalu ia melihat Bi Dam memberikan surat perjanjian untuknya. “apalah artinya kekuasaan jika aku tak bisa bersamamu?” gumam Deok Man. Lalu muncul kenangan Bi Dam sedang menemaninya tidur, menepuk-nepuk dadanya sampai dirinya terlelap, lalu ia mengumumkan pernikahannya dengan Bi Dam kepada seluruh pejabat. Namun segala sesuatunya berubah. Bi Dam difitnah oleh pengikutnya, sampai-sampai seluruh Istana meragukannya. Lalu muncul kenangan ia memberikan cincin untuk Bi Dam. Deok Man mengusap cincin yang melingkar di jari tengahnya itu. Lalu muncul gambaran Bi Dam mengembalikan cincin itu bersamaan dengan seorang mayat. “aku mempercayaimu sampai akhir..”gumam Deok Man. Lalu kenangan pemberontakan Bi Dam muncul, bagaimana Bi Dam akhirnya melindungi dirinya dari panah pengikutnya, lalu muncul kenangan Bi Dam menikahi dirinya. “aku mencintaimu, Bi Dam sangat mencintaimu..” menjalani kehidupan berumah tangga untuk pertama kalinya lalu saat dirinya dinyatakan hamil oleh tabib, bagaimana ia harus merelakan Bi Dam pergi berperang, lalu bagaimana Bi Dam memberikan kejutan di hari ulang tahunnya. Muncul kenangan ketika Bi Dam dituduh menculik Putri dari Negeri Wei, lalu bagaimana ia harus menerima kenyataan bahwa Bi Dam hilang tak ditemukan dan dinyatakan meninggal di Kowon, kemudian Bi Dam kembali.Merasakan pelukan hangat suaminya kembali. “kau pulang Bi Dam…” air matanya lagi-lagi menetes. Lalu ketika ia divonis sakit parah, melihat Bi Dam menyalahkan dirinya, ia bertengkar dengan Bi Dam untuk pertama kalinya sejak mereka berumah tangga, kenangan bagaimana Bi Dam memanjakan dirinya. Lalu ia merayakan ulangtahun Bi Dam untuk yang pertama kalinya. “kita bersama selamanya..”gumam Deok Man mengingat tulisan yang terukir pada kalung yang ia berikan untuk suaminya. Kemudian ketika ia harus berjuang melahirkan kedua anaknya yang ia dan Bi Dam sudah nantikan. Kemudian kenangan ketika ia menggendong anak-anaknya untuk pertama kalinya. “anak-anakku..” gumam Deok Man. Kemudian bagaimana ia mengucapkan kata-kata terakhirnya untuk suaminya dan menghembuskan nafasnya. Deok Man melihat bagaimana terpukulnya dan sedihnya Bi Dam. “aku mencintai anak-anak kita sama seperti aku mencintaimu Bi Dam..aku sangat menyayangi kalian..” gumam Deok Man mengulang ucapan terakhirnya. “ingatlah tekadmu..” terdengar suara Cheon Myeong dalam benaknya. Lalu samar-samar ia bisa mendengar suara tangis Bi Dam dan kedua anaknya. “aku ingin pulang..aku ingin bertemu Bi Dam dan kedua anakku…aku ingin hidup kembali bersama keluargaku..bersama Bi Dam dan anak-anakku” gumamnya sambil memejamkan matanya dan mengepalkan kedua tangannya keras-keras. Lalu muncul seberkas cahaya yang semakin lama semakin terang bersamaan dengan semakin jelas terdengar suara Bi Dam memanggil-manggil namanya. Deok Man membuka matanya perlahan

Selasa, 07 September 2010

Chapter 43 part 02: One Last Breath


Deok Man terbaring sangat lemah di tempat tidurnya sedang menemani bayi-bayinya. Wajahnya sangat pucat sekali seakanakan energi hidupnya sudah sangat menipis. Han Hye Jin berdiri di sampingnya. Wajahnya nampak sangat sedih dan muram. “Deok Man?” panggil Bi Dam. “Bi Dam..kita mempunyai 1 anak laki-laki dan 1 anak perempuan..” Deok Man tersenyum lirih. Bi Dam mengangguk. Kesedihan yang amat sangat tertahan di matanya melihat kondisi istrinya. “aku ingin kita melihat mereka bersama..” gumamnya. Dibantu suaminya, Deok Man bangun dari tidurnya dan duduk bersandar pada Bi Dam. Han Hye Jin membantu memberikan si kembar dalam gendongan ayah dan ibu mereka. “lihat Bi Dam..wajahnya sangat mirip sepertimu..”kata Deok Man sambil menunjuk putranya yang ada dalam gendongan. Suaranya terdengar semakin lemah hampir seperti bisikan. Bi Dam menatap bayi yang ada dalam gendongannya. “..dan putri kita mirip denganmu Deok Man..”kata Bi Dam. Air mata Bi Dam pun jatuh. Lalu Deok Man mengecup kening kedua anaknya lalu meminta Han Hye Jin dan Soo Hye meletakkan mereka di tempat tidur bayi yang ada di sampingnya . Kemudian Deok Man menyandarkan kepalanya di bahu suaminya dan menggenggam tangannya “Bi Dam…aku percaya kau bisa menjadi ayah yang baik untuk mereka sama seperti kau menjadi suami yang terbaik untukku…” gumamnya sambil menatap kedua bayinya. “kau harus istirahat Deok Man…kondisimu masih sangat lemah..” kata Bi Dam. Deok Man menggelengkan kepalanya “kelak..jika nanti anak-anak menanyakanku…” suara Deok Man semakin lemah dan mulai terputus-putus. Ia menatap suaminya dan mengusap pipi suaminya dengan lembut. “katakan pada mereka..” pandangan Deok Man semakin kabur. Wajah Bi Dam menjadi tampak samar di matanya. “bahwa aku selalu mencintai mereka..sama seperti…aku..” tangan Deok Man tak sanggup lagi menggenggam tangan suaminya. Kedua matanya terasa semakin dan semakin berat untuk membuka, pemandangan sekelilingnya semakin mulai gelap. “mencintaimu..” lalu kepala Deok Man terkulai lemas bersandar pada bahu Bi Dam. Ia menghembuskan nafas terakhirnya. ”Deok Man!!!Deok Man!!” seru Bi Dam sambil menahan tubuh Deok Man yang ambruk. “Deok Man!!bangun Deok Man!!kau sudah janji kita akan membesarkan mereka bersama-sama!!Deok Man Deok Man!!" panggil Bi Dam putus asa. Kedua matanya bersimbah air mata. “ooaa..oooaa..” Anak-anak mereka ikut menangis. “Tuan Putri…Tuan Putri…” isak tangis Soo Hye. Han Hye Jin mengerahkan segenap kemampuannya memasang jarum-jarum akupuntur secepat mungkin berharap Deok Man bisa sadar kembali. Tapi tak ada perubahan. Tubuh Deok Man tetap diam tak bergeming. “Deok Man!! Deok Man!!” seru Bi Dam memeluk erat istrinya yang sudah meregang nyawa.
Chapter 10 side story: Thank You

Kediaman Bangsawan Kim Yong Chun
Zhi Youn menggulung kertas jawabannya lalu menyerahkannya kepada Tuan Han. Tuan Han segera membuka gulungan itu dan memeriksanya dengan wajah serius. “apa yang membuatmu ingin belajar?” tanyanya tiba-tiba. “eh?” tanya Zhi Youn. “apa yang membuatmu sangat ingin belajar?” tanya Tuan Han lagi sambil menatap Zhi Youn dalam-dalam. “hmm..saya ingin agar diri saya bisa lebih berguna bagi orang lain…saya tidak ingin saya hanya menjadi wanita yang hanya bisa mengurus rumah tangga saja….jika pengetahuan saya lebih ada banyak yang bisa saya lakukan..pengetahuan tidak memandang wanita atau pria..tetapi niat dan kehendak..” jawabnya Tuan Han menggulung lagi kertasnya lalu berjalan menuju pintu tanpa bilang apa-apa.Sesampainya di ambang di pintu, ia berhenti “jika kau memang berniat belajar, ..besok pagi..kau datanglah ke sini..aku yang akan menjadi gurumu” katanya sambil memunggungi Zhi Youn. Zhi Youn segera membungkukan badannya dengan penuh kegembiraan “terima kasih guru..”

Zhi Youn melangkah keluar ruangan dengan senangnya “aku tak sabar memberitahukannya kepada yang lain..”gumamnya senang. Tiba-tiba terlintas dalam benaknya wajah Alcheon yang tersenyum kepadanya ”nona pasti bisa..aku yakin itu..” “terima kasih Tuan Alcheon..” gumam Zhi Youn sambil tersenyum.

Kota Seoraboel

“aah..sayang sekali..tadi penjaga itu memergoki kita..” gerutu Yoo Hee sambil menendang kerikil di hadapannya. “sudahlah kak..yang penting sekrang kita sudah mengantarkan barang titipan ayah..setelahnya kita bebas mau mengintip lagi..” sahut Young In. “tapi kapan…kita kan tidak tahu kapan momen ini akan terjadi lagi..”sahut Yuri. “iya sih..” jawab Young In.”ya sudahlah sekarang kita pulang..berharap Zhi Youn pulang membawa kabar baik..” ujar Yoo Hee. Young In mengangguk setuju mengikut kedua kakaknya. Karena ini pertama kalinya ia ke kota Seoraboel, ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari rumah, toko-toko dan pedagang yang dilewatinya. Dan ketika sedang melewati sebuah rumah besar, ia melihat seseorang yang tak terduga. Ia segera memanggil kedua kakaknya yang sudah jalan di depan. “kakak..lihat..itu kan..” serunya..

Sore harinya..
Kediaman Bangsawan Il Myung Min
Zhi Youn berjalan dengan riangnya memasuki kediaman pamannya. “bibi pasti senang..” gumamnya tersenyum. “tap..tap..tap..” terdengar suara langkah kaki berlari. “Zhi Youn..!” terdengar suara memanggilnya dari belakang. Zhi Youn pun menoleh ke arah suara itu. Rupanya Yoo Heed an kedua adiknya juga baru tiba di rumah.”kalian?kenapa kalian berlari terengah-engah seperti itu?” tanya Zhi Youn heran. “ada hal penting yang harus kami sampaikan kepadamu..hal yang sangat penting..” jawab Yuri sambil mengelap keringat di keningnya. “iya kak..” timpal Young In yang masih terengah-engah.
“memangnya ada apa?” tanya Zhi Youn semakin penasaran. “ini baru praduga kami..kuharap salah tapi yang kami lihat memang demikian..” kata Yoo Hee. “ceritakanlah..” jawab Zhi Youn “ jadi tadi kami melihat..”

Malam harinya
Semuanya sudah terlelap dalam tidurnya, hanya Zhi Youn yang masih terjaga. Ia berusaha memejamkan mata namun selalu gagal. Kata-kata Yoo Hee tadi terus melintas di benaknya.
“kami melihat Tuan Alcheon..” sahut Young In. “terus apa masalahnya?” tanya Zhi Youn. “masalahnya kami melihatnya tidak sendirian..ia sedang pergi bersama seorang wanita ke sebuah toko kain..” “mungkin wanita itu adalah adiknya?” jawab Zhi Youn berusaha berpikir positif. Meskipun begitu hatinya sendiri malah berkata sebaliknya. Jangan-jangan benar Tuan Alcheon sudah memiliki kekasih atau bahkan sudah berkeluarga. “kurasa jika itu adiknya tidak mungkin, wanita itu akan menggandeng lengannya sedemikian eratnya…dan kulihat mereka sangat bahagia..” lanjut Yoo Hee. Zhi Youn hanya terdiam memikirkan itu semua. “kak Zhi Youn?” panggil Young In. “ah iya..kurasa kita harus segera masuk ke dalam bibi menunggu kita untuk makan malam..” Zhi Youn langsung berjalan masuk ke rumah sendirian.

“apa benar Tuan Alcheon sudah memiliki kekasih?jangan-jangan ia sudah berkeluarga?” pikir Zhi Youn. Tiba-tiba air matanya menetes. “ya ampun kenapa aku menagis begini?” kata Zhi Youn sambil menghapus air matanya, lalu menepuk kedua pipinya “ingat Zhi Youn itu semua baru praduga..kau harus bertahan sampai kebenarannya terungkap..” gumamnya penuh tekad.

Jumat, 03 September 2010

Chapter 43 part 01: The Birth

Tanggal 11 bulan ketujuh.Dini hari. Kediaman Perdana Menteri Bi Dam

“Aaakh..” terdengar suara erangan Deok Man lagi dari dalam kamar. Di luar kamar, Bi Dam hanya bisa berjalan mondar-mandir berulangkali sambil menengok gelisah ke arah pintu kamar. Entah sudah berapa lama ia menunggu di luar seperti ini. “jika bisa bertahan sampai waktu kelahiran tiba, di atas kertas, ada peluang namun kecil karena melahirkan akan membuat jantung bekerja sangat keras apalagi ini adalah kelahiran bayi kembar..” sekilas kata-kata Han Hye Jin terngiang kembali di telinganya Terngiang dan terngiang kembali dalam telinganya. Bi Dam jongkok bersandar pada tembok rumahnya sambil menutup kedua telinganya dengan tangannya. Berharap kata-kata itu tidak akan dia dengar lagi. “Ya Tuhan..aku sangat memohon pada-Mu tolong selamatkanlah mereka..istriku dan juga kedua anakku..aku tak sanggup jika harus kehilangan salah satu dari mereka..” gumamnya. Kecemasan dan rasa takut kehilangan semakin berkecamuk di dalam hatinya.
“ooaa..ooaa..” terdengar suara tangis bayi yang nyaring dari dalam kamar. “bayinya sudah lahir..” Bi Dam segera bangun dari duduknya berharap ada orang yang keluar dari kamar dan memberitahunya. Tapi tak ada seorang pun yang keluar dari kamar. “ooaa…ooaaa…” terdengar lagi suara tangis bayi yang lain. “dua-duanya sudah lahir..” pikir Bi Dam. “Han Hye Jin..Soo Hye.. apakah kedua anakku sudah lahir?bagaimana keadaan istriku?” seru Bi Dam dari depan pintu. Tak lama kemudian seorang pelayan membuka pintu. “silahkan masuk Tuan..”katanya. Soo Hye yang sedang merapikan segala peralatan yang tadi ia gunakan menghampirinya “selamat Tuan..Tuan Putri melahirkan anak laki-laki dan perempuan yang sehat..” gumamnya terharu. “dimana Deok Man?apa ia baik-baik saja?” tanya Bi Dam. Soo Hye hanya terdiam lalu mempersilahkan Bi Dam menjenguk istrinya. Melihat ekspresi Soo Hye harapan yang dimilikinya hancur seketika oleh firasat buruk yang muncul dalam hatinya. Jiwanya langsung terpukul telak begitu melihat apa yang ada di hadapannya.