Pages

Minggu, 31 Juli 2011

The Hidden Wounds Chapter 14: I Found You

genre: angst,romance, mystery 

Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun
- Jo Hyun Jae as dr. Ahn Jong Geun

I didn't own the characters. It's just a fanfiction :)
**********************************************************************************

-07:30 AM, Cheonan-
“tap..tap..” Gun Wook berjalan menaiki tangga kayu menuju pintu depan. Tangan kanannya meraih handle pintu.”cklack..” pintu depan pun terbuka. Ia pun melangkah masuk ke dalam. Sofa dan bangku yang rusak dan penuh debu serta meja kaca yang sudah pecah menyambutnya. Ia menyentuh sofa itu sambil berjalan  sampai langkahnya terhenti di depan sebuah grand piano hitam yang sudah lapuk dan berdebu. Ia melihat sosok seorang anak laki-laki dan seorang wanita duduk bersama memainkan piano itu dengan wajah gembira. Perlahan tetesan panas air mata turun menuruni pipi Gun Wook. “ibu..”  

Ia pun segera mengalihkan pandangannya dari piano itu  dan berjalan menuruni tangga dengan perlahan. Ia tiba di lantai yang mungkin akan menjadi ruang keluarga yang nyaman jika kondisinya terawat. Ia menatap rak dimana pigura-pigura foto masih berdiri tegak meskipun ditutupi debu, dan Gun Wook mengenali foto siapa itu. Dirinya dan keluarganya. “krieet..” terdengar suara pintu terdorong. Gun Wook pun langsung menoleh ke kiri, darimana suara itu berasal. Dilihatnya sebuah pintu putih terdorong karena adanya angin. Gun Wook menelan ludahnya, mengepalkan jemarinya kemudian berjalan menuju pintu itu dengan langkah kaki yang berat.

“krieet..” ia mendorong pintu itu dan berjalan masuk ke dalam. Sebuah kamar tidur yang cukup luas dengan beberapa perabotnya yang sudah rusak,lapuk, dan pecah. Gun Wook menatap ke dinding dimana masih tergantung pigura besar foto pernikahan sepasang suami istriyang sudah menjadi sarang laba-laba. 

“MEONG!!” seekor kucing berlari dari kolong lemari menuju tempat tidur. Gun Wook agak terkejut dan melangkah mundur sesaat.

“hah..hah..” Ia mengontrol nafasnya berusaha menenagnkan dirinya. Sekarang pandangannya tertuju pada lantai kayu di tengah ruangan itu.

Ia berjalan mendekat ke tengah dan berdiri tidak jauh dari situ.  Sosok seorang pria dan wanita terbaring tak bernyawa dengan luka tembak di dada dan kepala mereka tergeletak di atas lantai itu.

“bruuk..” Gun Wook jatuh berlutut di tengah ruangan. “ayah..ibu..” air matanya menetes dari kedua matanya.


- 07:40 AM Kediaman Keluarga Lee, Seocho-gu, Seoul-
 “tok..tok..” Yo Won mengetuk pintu ruang kerja ayahnya yang tidak tertutup. Karena tidak ada jawaban, Yo Won melangkah masuk  “ayah..apakah ayah ada di sini?sarapannya sudah siap…” Ia melihat dari belakang kursi, sosok ayahnya yang sedang duduk bersandar. “ayah?” panggil Yo Won yang berjalan mendekat.

“tinggalkan ayah sendiri Yo Won..nanti ayah akan menyusul…” ujar Tuan Lee tanpa membalikkan kursinya.

“baik ayah…” jawab Yo Won. Ia pun meninggalkan ruang kerja ayahnya. “apa yang sedang ayah lakukan?” pikir Yo Won.




- 09:05 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
 Yuri melepaskan dirinya dari pelukan Soo Hyun.

“Yuri…” gumam Soo Hyun menatap Yuri yang mengalihkan pandangannya. “kau juga menginginkannya bukan?”

“tapi bukan begini…” jawab Yuri. “aku ingin kedua orangtuamu menyetujui hubungan kita sebelum kita melangkah ke jenjang yang lebih tinggi…seandainya ayah dan ibu masih ada, aku pun juga ingin mereka menerima Hyun dan menyetujui hubungan kita…”

“Yuri..tapi..” sela Soo Hyun.

Yuri membalikkan badannya “pulanglah Hyun…dan telepon ibu..minta maaf padanya…”

Raut wajah Soo Hyun pun berubah menjadi kecewa “baiklah..kalau itu maumu…”

“Yuri..Nona Yuri..” panggil Yo Won yang sudah berdiri di depan meja tempat Shin Yuri duduk.

Yuri pun tersadar dari lamunannya dan langsung berdiri “ah iya Wakil Direktur…”

“matamu berair?” tanya Yo Won seraya menunjuk mata kanan Yuri.

“oh..maaf..” ujar Yuri seraya menghapus air matanya yang nyaris jatuh.

“apakah ada masalah?apa Nona Yuri merasa kurang enak badan?” tanya Yo Won.

Yuri menggelengkan kepala “tidak Wakil Direktur…aku baik-baik saja..mungkin karena tadi menguap..”

Yo Won menganggukan kepalanya mengerti “oh ya..apakah dokumen-dokumen yang harus diperiksa Direktur sudah kau kumpulkan?”

“oh sudah…ini dia..” Yuri mengambil beberapa map yang sudah disusunnya dengan rapi di atas meja kemudian menyerahkannyakepada Yo Won. “apakah Wakil Direktur membutuhkan yang lain?”

Yo Won tersenyum menggelengkan kepalanya “tidak..terima kasih Nona Yuri…”

-09:10 AM, Cheonan-
“tap..tap..” Gun Wook sambil membawa sebuket bunga putih berjalan menuruni tangga batu, melewati pohon-pohon pinus yang tinggi dan semak-semak yang hampir menutupi jalan setapak menuju sungai. Sampai akhirnya, ia tiba di tepi sungai, kemudian berlutut di tepi sungai itu. Masa lalu kembali berputar di dalam benaknya.

“pegang tanganku dengan erat…” seru seorang anak laki-laki pada adik laki-lakinya.

“kak..ayah melarang kita untuk melewati batu-batu itu…alirannya deras..” ujar si adik yang kemudian menangis

“ayah..ibu…”

“ hei kalian!!” terdengar suara dari belakang mereka.

“ayo cepat!!” seru si kakak sambil menarik tangan adiknya. Mereka mulai menginjakkan kaki-kaki mereka di atas batu-batu sungai, melintasi aliran sungai yang deras karena hujan.

“kalian berhenti!!” seru suara seorang pria.

“kak..dia semakin mendekat..” ujar si adik yang ketakutan.

Si kakak menoleh ke belakang dan kemudian mempercepat laju jalannya. Akan tetapi, hujan turun semakin deras, membuat aliran sungai semakin deras dan batu-batu pijakkan menjadi tak terlihat. Si kakak pun panik. Ia semakin mempercepat langkahnya dan menginjak batu yang salah.

“woaa..” Ia terpleset dan terjatuh ke sungai, adiknya yang memegang tangannya pun ikut teseret arus.

“kakak…” seru si adik yang meronta-meronta ketakutan di air.


“bertahanlah..aku akan menolongmu!!” si kakak berusaha berenang mengejar adiknya. Namun arus deras menyeretnya dan membenturkannya kepada sebuah batu besar. Membuatnya kehilangan kesadaran dan segalanya.

Gun Wook merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan sepotong koran yang sudah lusuh dan berwarna coklat. “Daftar Korban Hilang Banjir Cheonan, 13 Mei 1992” bunyi headline koran itu. Ia menatap  headline koran itu kemudian beralih ke judul kecil berita yang ada di bawah aritkel headline itu. “perampokan rumah, sepasang suami-istri tewas terbunuh” judul beritanya. Ia meremas potongan koran itu. Air mata kembali menetes membasahi pipinya.

“KENAPA KAU MENGAMBIL SEMUANYA DARIKU?!!!” serunya sambil mengadah ke langit.

- 10:35 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“BLAAM” Yo Won berjalan keluar dari ruangannya. Ia menoleh ke sebelah kiri dimana ruangan Gun Wook berada.

“apakah ia tidak masuk hari ini?” pikir Yo Won.

“PING” lift lantai 60 membuka. Sambil membawa tabby dan beberapa amplop, Yuri berjalan keluar dari lift.

“Wakil Direktur?” panggil Yuri.

Yo Won pun menoleh. Yuri berjalan  menghampiri Yo Won “apakah Wakil Direktur sedang mencari sesuatu?”

“ah bukan…oh ya laporan yang Direktur minta sudah kau print?” tanya Yo Won.

“sudah…ini dia..” Yuri menyerahkan sebuah map merah kepada Yo Won.

“oh iya…ini juga ada surat untuk Wakil Direktur..” ujar Yuri seraya menyerahkan amplop putih kepada Wakil Direkturnya.

“oh ya..terima kasih…” jawab Yo Won.
Yuri ikut menatap ruangan Gun Wook yang kosong “bagian HRD tadi memberitahu kalau Shim Gun Wook izin tidak masuk kerja hari ini…”

“izin?apakah ia sakit?” tanya Yo Won. Ada nada khawatir terselubung dalam pertanyaannya itu.

“bukan..katanya ia harus mengurus masalah imigrasi dengan pihak keimigrasian..” jawab Yuri.
Mendengar itu, Yo Won merasa lega. “semoga tidak ada masalah..” ujarnya. 

“tuut..tuut..” terdengar suara telepon berbunyi dari dalam ruangan Yuri. “ah sepertinya Direktur memanggil..” ujar Yuri. Ia segera berjalan cepat masuk ke dalam ruangannya dan menjawab telepon itu .

Yo Won pun membalikkan badannya menuju ruangannya dan berjalan sambil membaca amplop surat yang diterimanya. “Invitation Letter?” gumamnya membaca bagian depan amplop. Ia pun terkejut begitu membaca amplop pengirimnya.
“Heritage Club?” gumam Yo Won.

-10:45 AM, Cheonan-
Gun Wook berjalan melintasi makam-makam yang tertata dengan rapi. Mengenakan kacamata hitam dan membawa sebuket bunga lily putih dan sebuah kantong coklat, ia berjalan lurus menuruni tangga dan mengikuti jalan yang ada, sampai akhirnya ia  menghentikan langkahnya di depan sebuah makam. Ia membuka kacamata hitamnya, menatap nisan dari marmer hitam yang ada di hadapannya. 

“aku sangat merindukan kalian…” gumam Gun Wook.

Ia berjalan mendekati nisan dan meletakkan bunga yang dibawanya tadi di atas makam itu dengan penuh perasaan. “aku membawakan bunga kesukaan ibu..Lily putih..” gumamnya.

Kemudian ia mengeluarkan isi kantong coklatnya. Sebuah botol hijau ada di genggamannya.“dan juga soju favorit ayah.. aku ingat ayah mencari-cari soju ini saat kita masih di Swiss..” gumamnya sambil menatap nisan.

Ia membuka botol tiu dan menuangkannya di atas makam orangtuanya itu sampai tetes terakhir. Kemudian ia duduk dan membuka botol soju yang lain dan menegaknya.

 - 10:50 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“ayah ingin pergi?” tanya Yo Won begitu melihat ayahnya yang bangun dari tempat duduknya.

Tuan Lee mengangguk “ayah sudah ada janji dengan Tuan Im Ho dan kami akan makan siang bersama…”

“oh..baiklah...” Yo Won mengangguk mengerti. “selamat jalan ayah…” ia menundukkan kepalanya.

Tuan Lee mengangguk dan berjalan menuju pintu. Yo Won menatap amplop putih Heritage Club yang tergeletak di mejanya. “apa aku ke sana sekarang?” batinnya.

-10:58 AM, Cheonan-
Gun Wook menegak lagi sojunya “dan sekarang aku berada di sini…aku sudah menemukan siapa yang membunuh ayah dan ibu…ia sekarang hidup dengan nyaman di Seoul dengan perusahaan besarnya…tapi itu tidak menjadi masalah bagiku…aku akan menghancurkan semuanya segera…sama seperti ia menghancurkan keluarga kita..semua miliknya!” Ia mengakhiri kata-katanya dengan penuh emosi. 

Ia menegak lagi sojunya “dan tentu saja hal yang paling berharga baginya…akan kuhancurkan…aku berjanji..”  senyum tertahan terukir di wajah Gun Wook.

- 11:30 AM, Heritage Club, Seoul-
“selamat datang..” seorang pria mengenakan vest hitam membukakan pintu untuk Yo Won. Tanpa ragu, Yo Won pun melangkah masuk melalui pintu itu. Ia menatap ke sekeliling lobby Heritage Club, tempat dimana ia berada sekarang. Di sekelilingnya penuh dengan karya seni seperti patung, vas antik, dan lukisan-lukisan yang menggantung di dinding dengan sebuah kolam air mancur kecil yang berada di tengah lobby. Serombongan pria berjas pun melintas di depannya. Yo Won mengenali  beberapa wajah dari mereka sebagai anggota parlemen yang baru-baru ini muncul dalam berita media massa terkait kasus dugaan suap. ”sebenarnya tempat apa ini?” pikirnya.

Seorang wanita berseragam merah menghampirinya dan memberi hormat padanya “maaf nona apakah ada bisa saya bantu?”

Yo Won membuka tas tangan putihnya lalu mengeluarkan amplop putih dan menunjukkannya pada wanita itu “aku ingin bertemu dengan Nona Jang yang mengirim surat ini…”

 “ah kalau begitu silahkan anda mengikuti saya, Nona Lee…” jawab wanita itu. Yo Won mengangguk dan berjalan mengikuti wanita itu. Mereka berdua masuk ke dalam lift yang mengantar mereka sampai ke lantai 3. Selama di lift,
banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam benak Yo Won.
 “PING” lift pun tiba di lantai 3. Yo Won tetap berjalan mengikuti, sampai akhirnya wanita itu berhenti di depan sebuah pintu. “silahkan masuk Nona..” Wanita itu membukakan pintu untuk Yo Won.
Yo Won pun berjalan masuk ke dalam ruangan. Ruangan yang tampak seperti ruang kerja sekaligus ruang pertemuan karena selain ada rak-rak buku juga ada beberapa sofa empuk dan sebuah meja lengkap dengan beberapa botol wine,champagne, dan vodka. Dan hanya ada satu orang wanita di sana yang Yo Won yakini adalah pemilik  ruangan itu.
Wanita itu berjalan ke hadapan Yo Won dan membungkukkan badannya “selamat datang di Heritage Club, Nona Lee Yo Won…perkenalkan nama saya Jang Se Jin.”

-11:48 AM, Cheonan-
“BLAAAM” Gun Wook masuk ke dalam mobilnya. “drrt..drrt..” ponsel di saku jasnya bergetar. Gun Wook merogoh sakunya, mengambil dan memasang headset di telinga kanannya.

“ini aku…” jawab Gun Wook.

“aku sudah menemukan titik terang mengenai kasus penyeludupan minyak tempo lalu begitu juga mengenai pembelian saham Tae Wang oleh San Hao Group..” terdengar suara berat lawan bicara Gun Wook.

“brrmmm…” Gun Wook menyalakan mesin mobilnya. “jelaskan padaku sekarang…”

- 11:49 AM, Heritage Club, Seoul-
“ini adalah ruang galeri lukisan kami…” ujar Jang Se Jin seraya membukakan pintu kaca untuk Yo Won.
Yo Won berjalan masuk dan menatap seisi galeri yang penuh dengan lukisan dari banyak pelukis terkenal dari berbagai aliran. Jang Se Jin pun  mengajak Yo Won mengelilingi galeri dan dengan penuh semangat menjawab pertanyaan Yo Won mengenai lukisan-lukisan yang dilihatnya.

 “Jang Se Jin-ssi…” Jang Se Jin dan Yo Won pun menoleh. Mo Ne ditemani ibunya berjalan mendekat. Begitu melihat mereka, Jang Se Jin segera membungkukkan badan pada Mo

Ne dan Nyonya Hong. “selamat siang Nona dan Nyonya Hong..”

Mo Ne pun agak terkejut menatap perempuan yang berdiri di samping Jang Se Jin “Nona Lee?”

“Jang Se Jin-ssi, kenapa lukisan itu kau pajang?” ujar Nyonya Hong yang berjalan sambil menunjuk lukisan bunga yang tergantung di tembok. Ada kemarahan tersembunyi dalam ucapannya itu, hanya saja harus ia sembunyikan karena Jang Se Jin sedang tidak sendiri rupanya.

Yo Won tersenyum “selamat siang Nona Hong”  Kemudian ia membungkukkan badan “selamat siang Nyonya Hong..”

Tatapan Nyonya Hong yang tadinya nampak angkuh pun mendadak berubah menghangat “ah…Nona Lee Yo Won, Wakil Direktur Tae Wang Petroleum Corp...sedang berkunjung ke sini rupanya...apakah hari ini ada pameran terbuka di Galeri?”

“Nona Lee adalah member baru di sini dan saya sedang mengajaknya berkeliling…” jawab Jang Se Jin.

Mendengar itu kedua alis Nyonya Hong terangkat ke atas. Namun ia berusaha mengalihkan keterkejutannya itu menjadi keramahan. “benarkah?kalau begitu selamat datang di Heritage Club, Nona Lee..”

 Mo Ne pun tersenyum “selamat datang Nona Lee..”

“terima kasih…” jawab Nona Lee.

“ding..ding..” terdengar suara dentingan alat music yang kemudian diikuti suara seruling.

Yo Won pun menoleh ke arah pintu keluar galeri. “suara apa itu?” pikirnya.

“ah Marygold sedang memainkan musik…” ujar Mo Ne yang sudah berjalan menuju pintu keluar galeri menuju balkon.
Yo Won pun ikut berjalan ke arah  yang sama. Ia berdiri di balkon, menatap sebuah jam berbentuk lingkaran yang besar terpasang di dinding hall utama Heritage Club. Jam itu perlahan membuka ke atas kemudian 6 patung pemusik keluar dari kotak-kotak di kedua sisi jam. Masing-masing patung itu membawa alat musiknya yakni piano,cello,biola,simbal,mandolin, dan gitar.

“itu adalah jam karya pembuat jam dari Rusia..Marygold Clock…” kata Jang Se Jin yang sekarang berdiri di samping Yo Won. ”jam ini akan memainkan musiknya setiap setiap hari..”

 “bunyi jam musikal yang khas…yang pernah kudengar sekali sewaktu aku menunggu di lobby Heritage Club...” terngiang suara Ju Bae Ho dalam benak Yo Won.

“mungkinkah ini yang dimaksud Manager Ju waktu itu…” pikir Yo Won.

“Nona Lee..bagaimana kalau Nona Lee ikut makan siang bersama kami?” tanya Nyonya Hong yang sekarang sudah berdiri di samping putrinya. Senyum ramah terukir di wajahnya.

Yo Won pun tersadar dari lamunannya dan membungkukkan badan “terima kasih Nyonya Hong namun saya  sudah memiliki janji makan siang di luar…”

-12:00 PM, Seoul.
Tuan Im Ho dengan tangan kiri di dadanya, menuangkan teh hijau dari teko dengan tangan kanannya  ke gelas yang dipegang Tuan Lee.  

“terima kasih..” jawab Tuan Lee kemudian ia meminumnya perlahan.

“sraak…” seorang pria menggeser pintu ala Jepang, kemudian berjalan masuk, memberi hormat kepada Tuan Lee.
“maaf saya terlambat…” ujar Tuan Yong Chun. Tuan Lee hanya menganggukan kepala dan mempersilahkan kami duduk.

“terima kasih karena kalian mengundangku ke sini..sebenarnya apa yang kalian ingin membicarakan apa?” tanya Tuan Lee.

Tuan Im Ho dan Tuan Yong Chun saling melirik satu sama lain, sebelum akhirnya Tuan Yong Chun memberanikan diri untuk berbicara “sebenarnya Tuan kami ingin membicarakan mengenai niat kami untuk melepas kepemilikan saham kami…”

Tuan Lee yang baru saja meletakkan gelas teh di tangannya pun menoleh menatap mereka dengan tatapan terkejut “apa yang barusan kalian katakan?”

-12:05 PM, Seoul-
 Yo Won duduk bersandar dan menatap keluar jendela mobil “jadi bisa dibilang Heritage Club adalah keanggotaan khusus untuk kalangan tertentu yang diundang…tidak sembarang orang bisa menjadi anggota di sana…hanya orang-orang berpengaruh dan kalangan atas saja yang diundang ke sana…”

“orang itu yang mengirimkan alat dan teknologi itu padaku…pastinya ia orang yang sangat kaya,sangat paham tentang perminyakan dan besar kemungkinan ia adalah member heritage “ terngiang kata-kata terakhir dari Manger Ju sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Yo Won memandang ponsel yang dipegangnya, mencari nama “Jang Se Jin” dari daftar kontaknya dengan sentuhan jarinya di layar.  Ia menatap nomor ponsel Jang Se Jin sejenak sebelum akhirnya ia menekan tombol merah di layar sebagai tanda keluar dari daftar kontak “mungkin sebaiknya aku mencari orang itu sendiri...”

- 04:45 PM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“tok..tok..” terdengar suara ruang Direktur diketuk.

“masuk..” jawab Yo Won yang sedang memeriksa berkas yang dipegangnya.

Pintu pun terbuka, Yuri melangkah masuk dan memberi hormat. “ini laporan dari bagian riset yang baru saja dikirim…” Yuri menyerahkan sebuah map berwarna biru kepada Yo Won.

“ah iya…terima kasih Nona Yuri…..” jawab Yo Won seraya meletakkan map itu di dekatnya.

“apakah Wakil Direktur masih membutuhkan sesuatu?” tanya Yuri.

Yo Won tersenyum menggeleng “silahkan Nona Yuri pulang lebih dulu…”

“terima kasih Wakil Direktur…” Yuri tersenyum dan membungkukkan badan.

-06:30 PM, Seoul Broadcasting Corporation Headquarters -
“huuft..” Soo Hyun duduk menyandarkan dirinya di kursi lalu mengambil ponsel dari sakunya “tidak ada panggilan masuk” terpampang di layar ponselnya itu. “dia tidak menelpon, meninggalkan sms atau email…apakah Yuri masih marah soal kemarin?” pikir Soo Hyun

 “hei ini beritanya yang sudah kuedit..” saah seorang rekan kerja Soo Hyun menepuk bahunya. Soo Hyun pun menoleh dan menerima sebuah flashdisk dari rekan kerjanya itu “terima kasih..”

“ehm..ehm..” terdengar suara dehaman pria dari belakang mereka. Teman kerja Soo Hyun pun segera memberi hormat kepada pria itu dan menyingkir dari sana, begitu juga Soo Hyun yang segera bangun dari duduknya.

“Chief…” Soo Hyun memberi hormat.

“pakai jas dan rapikan dasimu lalu periksa tempat untuk persiapan debat calon anggota parlemen besok, sebelum kau temui kandidat calon anggota  parlemen untuk wawancara nanti pukul 8…” ujar atasan Soo Hyun.

“baik…” jawab Soo Hyun.  Kepala Redaksi itu pun segera membalikkan badan dan berjalan meninggalkan meja Soo Hyun. Soo Hyun pun menarik dasinya ke atas dan mengambil jasnya yang tergantung di kursi. Ia pun berjalan menuju lift yang membawanya ke lantai 3 dan melewati skybridge, jembatan penghubung antara gedung kantor dengan gedung studio.

“drrt…drrt…” ponsel di saku jas Soo Hyun bergetar. “mungkinkah Yuri…” pikirnya. Ia pun segeramengambil ponsel di sakunya. “ini aku..”

“hei Soo Hyun…hari ini kau ingin ikut makan malam bersama kami?” terdengar suara Siwon, kakaknya di telepon.

Mendegar suara Siwon, Soo Hyun pun sedikit kecewa “maaf kak..aku masih ada pekerjaan setelah ini…besok aku baru pulang ke Suwon dan makan malam bersama kalian…”

“baiklah..hati-hati di jalan kalau begitu…dan sekali lagi selamat ulang tahun” kata Siwon.

“terima kasih kak…” Soo Hyun pun mengakhiri pembicaraannya di ponsel. Ia berjalan memasukki lorong gedung studio, menuju lift. “lift sedang dalam perbaikan?dua-duanya?haiss..” Soo Hyun menatap dengan kesal tulisan di atas kertas yang tertempel di kedua pintu lift. Akhirnya ia pun memutuskan untuk melewati tangga darurat menuju lantai 8 yang berjarak 5  lantai dari tempatnya berada.

-06:31 PM, Seoul-
“sebenarnya kami pun juga tak ingin melakukan ini..hanya saja kami terus mendapatkan tekanan-tekanan…” ujar Tuan Im Ho.

“kami harap Tuan Lee bisa membantu kami atau meyakinkan kami untuk tetap bertahan…” Tuan Yong Chun ikut bicara.

“kalian butuh kepastian apa dariku?apakah kinerja perusahaan belum cukup?” tanya Tuan Lee.

“kami membutuhkan kepastian kinerja perusahaan akan terus meningkat seperti ini serta kestabilan harga saham…kami merasa bahwa akan lebih baik jika posisi Direktur segera dipindahtangankan…”

“apa maksud kalian?” tanya Tuan Lee.

“kami merasa Tuan Lee sudah membawa Tae Wang sampai mencapai prestasi sejauh ini, dan kini sudah saatnya Tuan untuk beristirahat…” jawab Tuan Im Ho “sama seperti yang Tuan tahu..harga saham Tae Wang juga bergantung dari kesehatan Tuan juga…”
Tuan Lee pun membuka matanya dan menghela napas panjang. “haruskah Yo Won menanggungnya secepat ini?”

“Tuan sudah sampai…” kata supir yang duduk di depan.

“ya..” jawab Tuan Lee. Supir pun segera keluar dari bangku kemudinya dan membukakan pintu untuk Tuan Lee.

“selamat datang ayah..” Yo Won berjalan menuruni tangga depan rumahnya, menghampiri ayahnya.
Tuan Lee pun tersenyum “aku pulang..”

-06:46 PM, Seoul Broadcasting Corporation Headquarters -
“BLAAM” Soo Hyun mendorong pintu darurat lantai 7. Kemudian ia berjalan sendirian melewati lorong yang kosong menuju pintu ganda yang ada diujung.

“krieet..” ia mendorong pintu ganda itu pelan-pelan. “gelap sekali ruangan ini…” gumam Soo Hyun. Ia meraba-raba dinding mencari saklar lampu. “ctak..ctak..” ia menekan saklar lampu berulang-ulang namun tidak ada satu pun lampu yang menyala.

“aneh padahal tadi siang masih menyala..apakah ada kru yang mematikan sekringnya tadi?” pikir Soo Hyun.
Karena tak membawa senter, ia pun terpaksa menggunakan cahaya dari ponselnya untuk menerangi jalan.

“apa itu di sana?” gumam Soo Hyun yang melihat seberkas cahaya kecil muncul cukup jauh darinya. “itu lilin?” gumamnya. Ia perlahan berjalan mendekat.

“SURPRISE!!” tiba-tiba lampu studio menyala. Soo Hyun pun terkejut memadang sekelilingnya dengan wajah bingung. Hujan confetti berwarna-warni jatuh ke atas dirinya.

“teman-teman…” Soo Hyun memandang rekan-rekan kerjanya yang sudah mengenakan topi pesta. Tak hanya rekan kerja Soo Hyun, Kepala Redaksi yang memberinya perintah pun ikut hadir di sana mengenakan topi pesta. Mereka semua beramai-ramai menyanyikan Happy birthday untuknya

“terima kasih teman-teman…” gumam Soo Hyun.

“tunggu kejutan belum selesai..ini dia kejutan spesialnya…”
  Teman-teman Soo Hyun yang berdiri di depannya pun menyingkir seperti sedang membuka jalan. Di sana sudah berdiri, Yuri dalam balutan silk dress biru memegang sebuah nampan yang membawa kue tart  tiramisu dengan lilin berbentuk angka 24 menyala. Ia berjalan ke hadapan Soo Hyun yang masih ‘shock’

“happy birthday Hyun…” ujar Yuri

“Yuri…” gumam Soo Hyun yang masih kaget dengan adanya Yuri di hadapannya.

“suit..suit..” beberapa  teman laki-laki Soo Hyun bersiul meledek.

“tiup lilinnya…tiup lilinnya…” seru Kepala Redaksi diikuti dengan teman-teman Soo Hyun yang lain

“buat permohonan dulu sebelum meniupnya…” kata Yuri sambil tersenyum.
Soo Hyun mengangguk, ia memegang kue itu bersama dengan kekasihnya kemudian ia memejamkan matanya sebentar lalu meniup lilin itu. Teman-teman Soo Hyun semakin gembira melihatnya.

“it’s party time..” terdengar suara dari pojok ruangan. Kemudian terdengar suara musik yang menghentak ruangan, Soo Hyun pun mengambil kue itu dari tangan Yuri dan menyerahkannya kepada temannya kemudian menggenggam kedua tangan Yuri.

“shall you dance with me?” tanya Soo Hyun.

Yuri pun mengangguk “sure”

-10:00 PM, Geumcheon-gu, Seoul-
 “trrt..trrt…” terdengar suara printer sedang bekerja mencetak lembar demi lembar kertas. Gun Wook mengambil satu persatu kertas yang keluar dari printer dan menyusunnya. Kertas yang memuat beberapa foto dan biodata di setiap lembarnya.

“Kim San Joong…pemilik perusahaan investasi Suwei…” Gun Wook membaca biodata tertulis paling atas di lembar pertama. “ia akan menjadi orang yang pertama…yang harus kuselidiki besok..” gumamnya. Kemudian ia membaringkan dirinya di kursi malas. Merogoh saku kemejanya. Sebuah foto keluarga, sepasang suami istri dengan kedua putra mereka yang tersenyum ada di telapak tangannya. Ia tersenyum dengan wajah sendu kemudian memejamkan matanya seraya memegang foto itu di dadanya.

-10:05 PM Seongwon Apartement, Yongsan-gu, Seoul-
 “nah sudah sampai..” Soo Hyun menghentikan laju mobilnya tepat di depan apartemen tempat Yuri tinggal.  

Yuri menahan tangan Soo Hyun dalam genggamannya “Hyun, ada yang kuingin berikan untukmu…”

“hm?” Soo Hyun menoleh dengan tatapan penuh tanya di wajahnya.

Yuri mengeluarkan sebuah tas kertas kado kecil kemudia memeberikannya kepada Soo Hyun.

“Yuri, kau sudah memberikanku banyak hadiah hari ini…” kata Soo Hyun yang menerimanya.

Yuri pun tersenyum “bukalah…kuharap kau menyukainya…hadiah dariku…”

Soo Hyun menuruti permintaan kekasihnya itu dan segera membukanya. Sebuah kotak merah sekarang ada di telapak tangannya, ia pun membuka kotak itu.

“Yu..Yuri…” gumam Soo Hyun. Sebuah jam tangan sport silver dari titanium stanlees steel ada di kotak itu.

“happy birthday Hyun…” ujar Yuri yang tersenyum.

Soo Hyun menoleh menatapnya, meletakkan telapak tangannya di pipi kekasihnya itu “di umurku yang ke 24 ini, aku sangat bersyukur bisa melewatinya bersamamu…”   

Yuri tersenyum sambil memegang tangan Soo Hyun yang memegang pipinya. Soo Hyun pun mendekatkan wajahnya dan menciumnya. Yuri pun memejamkan matanya membalasnya. Mereka saling membalas diselingi tarikan nafas.

“aku sangat bahagia karena aku bisa bertemu denganmu dalam hidupku…”

Selasa, 19 Juli 2011

The Hidden Wounds Chapter 13: Inheritance

genre: angst,romance, mystery 

Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun
- Jo Hyun Jae as dr. Ahn Jong Geun

I didn't own the characters. It's just a fanfiction :)
**********************************************************************************


-06:22 PM Seongwon Apartement, Yongsan-gu, Seoul-
“Yuri..tunggu..” panggil Soo Hyun.

Yuri berjalan menuju dapur dan mengaduk  kuah kari yang sedang dimasaknya tadi di atas panci.

“Yuri jangan kau pikirkan kata-kata ibuku tadi..aku meminta maaf mewakili ibuku” ujar Soo Hyun yang berdiri di samping Yuri.

“aku baik-baik saja..” jawab Yuri sambil mengaduk kuah karinya dan tidak menggubris.

“huft..” Soo Hyun menghela napas panjang lalu mematikan kompor yang sedang digunakan Yuri kemudian menarik lengan Yuri.

“Yuri aku tahu kau tidak baik-baik saja…” ujar Soo Hyun.

“aku baik-baik saja..Soo Hyun..” jawab Yuri sambil mengalihkan wajahnya dari tatapan Soo Hyun.

Soo Hyun pun mengadahkan kepala Yuri sehingga ia bisa melihat ada bekas lelehan air mata di wajah kekasihnya itu.

“sebenarnya salah aku apa Hyun sehingga ibumu begitu membenciku seperti itu?apakah selamanya akan seperti ini?kau harus berbohong terus pada ibumu setiap kali kita bersama?” tanya Yuri.

Soo Hyun pun segera memeluk erat kekasihnya itu “ini bukan salahmu Yuri…bukan salahmu..”

“kau tidak bisa selamanya berbohong pada ibumu terus Hyun dan aku pun juga tidak ingin selamanya menjadi duri dalam daging diantara kalian…jika jalan yang terbaik memang  harus mengakhiri ini semua..” jawab Yuri.

Soo Hyun pun melepaskan pelukannya kemudian menghadapkan wajahnya ke depan wajah Yuri sehingga kedua mata mereka saling bertatapan “aku memang akan mengakhiri  ini semua…”

Yuri hanya diam tercekat.

“aku akan mengakhiri ini semua dengan menikah denganmu baik dengan restu dari ibuku ataupun tidak…suka tidak suka ibu harus menerima kenyataan bahwa aku sudah memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku…”

“Hyun…” gumam Yuri.

  -06:35 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
Seorang pelayan bertuksedo hitam membukakan pintu penumpang mobil Equuz hitam yang berhenti di lobby restaurant Perancis berbintang lima dimana ia bekerja, Le Meurice.

Yo Won pun keluar dari mobil diikuti Tuan Lee. Yo Won merangkul lengan ayahnya dan berjalan berdampingan menuju pintu masuk restaurant.

“Selamat malam Tuan, apakah Tuan sudah memesan tempat?” tanya seorang pelayan yang bertugas melayani reservasi di dekat pintu masuk.

“aku ada janji di meja dr. Ahn Jae Hwan..” jawab Tuan Lee.

“ia adalah tamuku..” ujar dr. Ahn Jae Hwan yang berjalan menghampiri meja layanan reservasi.

-06:40 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-

“sraak..sraak..” Gun Wook mempelajari dengan serius lembar-lembar yang sedang dipegangnya. Lembaran yang menunjukkan sederetan angka dan simbol mata uang.

“it seems like that your parents have prepared this for their children…besides money and gold, there are some properties that have been handled by us and it has been contracted for 15 years…I have to ask you if you want trust them in our bank again..” ujar seorang pria asing berambut coklat berjas kelabu yang duduk di hadapan Gun Wook.

Gun Wook pun menutup map yang dipegangnya dan mencondongkan badannya ke depan “I want to invest this money in another kind of investment…”

-06:40 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
“perkenalkan ini istriku…” ujar dr. Ahn seraya memperkenalkan seorang wanita yang menghampirinya. Berbadan tinggi dan nampak ideal dalam balutan gaun berwarna hitam kemerahan meskipun sudah berusia 56 tahun.

Yo Won pun menundukkan kepalanya “Selamat malam Nyonya…saya Lee Yo Won..”

“ah ya..aku melihat konferensi persmu di tv..sungguh luar biasa..Tuan Lee putrimu sangat cerdas..” puji Nyonya Ahn.

Tuan Lee tersenyum lebar, bangga mendengar putrinya dipuji. Yo Won pun tersenyum dan menundukkan kepala “terima kasih Nyonya..”

“mari silahkan duduk..” ujar dr. Ahn senior mempersilahkan kedua tamu yang diundangnya duduk

“ah dimana putramu dr. Ahn Jeong Gun?aku tidak melihatnya” tanya Tuan Lee.

“ah maafkan dia..dia akan datang terlambat karena harus melakukan operasi di rumah sakit..” jawab dr. Ahn.

Tuan Lee mengangguk mengerti “aku harap semoga operasinya lancar…”

“ya..aku juga berharap demikian…supaya ia tidak menyesal karena ternyata Nona Lee Yo Won yang dulu selalu mengikutiku di rumahnya ternyata sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik seperti ini…”dr. Ahn mengakhiri kalimatnya dengan tawa.

Yo Won hanya tersenyum mendengarnya.


-06:45 PM, Kediaman Keluarga Hong, Gangnam-gu, Seoul-
Hong Myung Hwan duduk di ruang kerjanya, membaca beberapa lembar file yang tersimpan dalam amplop coklat besar.

“drrt..drrt..” ponsel di atas mejanya bergetar.

Ia pun segera menjawab ponselnya. “ini aku..” 

“Direktur, Tuan muda Hong Gi Hoon berhasil memenangkan tender di Uzbekistan…5 perusahaan besar dan penerbangan nasional mempercayakan supply bahan bakarnya kepada San Hao Group..tak hanya itu Pemerintah Uzbekistan juga mempercayakan salah satu pembangkit listriknya pada San Hao Group juga…dan sepertinya perwakilan pemerintah Tajikistan yang hadir juga tertarik pada presentasi Tuan muda Gi Hoon…” terdengar suara pria dari lawan bicara Tuan Hong.

“kau awasi dia terus perintahkan anak buahmu untuk terus memantaunya...aku tak ingin ada masalah yang ditimbulkan olehnya…hanya itu saja berita yang ingin kau sampaikan Sekretaris So?” tanya Tuan Hong melalui teleponnya.

“Direktur sebenarnya masih ada satu hal yang harus yang saya sampaikan…hal yang kurang menggembirakan…mengenail percobaan di laboratorium di China…” jawab Sekretaris So.

“apakah percobaannya sudah selesai?” tanya Tuan Hong.

“mengenai itu.. sudah selesai..” terdengar keraguan dalam suara sekretaris So. “hanya saja…tidak berhasil…formulanya tidak stabil sehingga ketika itu menyentuh minyak menyah terjadi ledakan….dua dari ilmuwan lab tewas dan beberapa lainnya terluka…pihak Pemerintah China sempat melakukan kunjungan…dan”

“segera bereskan dan lakukan penelitian ulang…” sela Tuan Hong tanpa basa-basi.

“ba..baik Tuan…” jawab Sekretaris So.

Tuan Hong mengakhiri pembicaraannya dan meletakkan ponselnya di atas meja. Ia pun menyandarkan dirinya pada kursinya yang empuk. Kedua alisnya mengernyit seakan-akan sedang berpikir keras.

“tok..tok..” terdengar suara pintu diketuk.

“masuk..” jawab Tuan Hong.

Nyonya Hong membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam ruangan, menghampiri suaminya. “yeobo, makan malamnya sudah siap..”

“nanti aku akan turun ke bawah..” jawab Tuan Hong yang masih saja memasang wajah muram.

“Yeobo..apakah ada masalah?” tanya Nyonya Hong yang sekarang duduk di hadapan suaminya.

“sudah ratusan ribu kali percobaan dilakukan namun semuanya tidak membuahkan hasil…” jawab Tuan Hong tanpa menatap wajah istrinya.

Nyonya Hong menggenggam erat tangan suaminya yang ada di atas meja “yeobo…”

Tuan Hong pun bangun dari duduknya “aku tak peduli harus berapa ratusan ribu lagi percobaan itu dilakukan, berapa hektar lahan yang rusak karenanya…aku harus menemukannya…meskipun ada nyawa yang harus kukorbankan…aku tak akan membiarkan kerja kerasku selama 15 tahun berlalu sia-sia…”

Nyonya Hong yang sekarang juga berdiri berjalan mendekati suaminya.

“aku ingin Gi Hoon dan Mo Ne sekarang lebih siap dalam menjalankan bisnis ini…setelah makan malam, aku ingin bicara pada putriku..” ujar Tuan Hong.

Nyonya Hong pun mengangguk. “ya...aku akan memanggilnya..”

-07:05 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
“tap..tap..” dr. Ahn Jeong Gun berjalan dengan terburu-buru melintas di antara meja, kursi serta pelayan yang berjalan hilir mudik. Sampai akhirnya, ia menemukan meja dimana ayah dan ibunya duduk. Ia pun segera menghampiri meja itu.

“selamat malam semuanya…maaf saya terlambat..” ujar Ahn Jeong Gun seraya menundukkan kepala.

“ah akhirnya kau datang juga…berikan salammu untuk Tuan Lee dan putrinya..”

Tuan Lee yang duduk memunggungi Ahn Jeong Gun pun membalikkan badannya dan tersenyum.

“selamat malam Tuan Lee..” Ahn Jeong Gun menunduk memberi hormat. Yo Won pun ikut membalikkan badannya sehingga ia bisa melihat putra sahabat baik ayahnya itu.

“k..kau..” Ahn Jeong Gun terkejut begitu melihat wajah putri sahabat baik ayahnya itu.

“dokter…” gumam Yo Won yang juga terkejut begitu melihat wajah dr. Ahn.

-07:07 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
“please fill these documents…I need to match it with the real documents which I have..to prevent imposture of course..” ujar Mr. James seraya memberikan sebuah map dan pena kepada Gun Wook.
Gun Wook menatap tajam Mr. James sesaat sebelum ia mulai mengambil pena dan mengisi dokumen yang diminta.

“ah..if you are pleased, may I know how did you know that your parents have account in Bank of Switzerland?” tanya Mr. James.

Gun Wook berhenti menulis sesaat sebelum akhirnya ia menulis lagi “once..when I was a kid, I used to live in Zurich and at that time, my father had brought me to this bank for several times…so I thought my father still have an account in there…”

“ooh I see I see..15 years ago, we heard that your parents were killed because of robbery…and their children statuses were unknown until you contacted us…from this document, it said that your parents have 2 sons..if you are the oldest one so where is the younger?”

Gun Wook memegang erat penanya sehingga tulisannya pun menebal.

“where is your brother?” tanya Mr. James.

“he died…at the same day just like my parents…and tomorrow is their day..” jawab Gun Wook.

-07:10 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
“hahaha…jadi kalian pernah bertemu sebelumnya…” Ahn Jae Hwan dan Tuan Lee tertawa bersama.
Yo Won yang duduk di sebelah ayahnya hanya bisa tersenyum tipis dan Ah Jeong Gun tertawa kikuk melihat tawa ayah mereka.

“bukankah aku pernah menunjukkan fotonya padamu?seharusnya kau mengenalinya bukan?”tanya Tuan Lee

Ahn Jeong Gun mengangguk “sebenarnya saat itu..aku sudah tahu kalau nona adalah Nona Lee Yo Won karena Tuan Lee pernah menunjukkan fotonya padaku…tapi aku belum mengenalkan diri padanya”

Ia menatap Yo Won yang duduk di sampingnya dan segera mengalihkan pandangannya begitu Yo Won menoleh.

“kalau begitu sekarang kalian bisa saling mengenal diri…di saat kami yang tua-tua ini membicarakan masa kejayaan kami…” canda dr. Ahn senior. “Jeong Gun…manfaatkan waktu ini sebaik-baiknya..” candanya yang kemudian diikuti gelak tawa dirinya dan Tuan Lee.

“ayah..” protes Jeong Gun.

Yo Won tersenyum menanggapi candaan itu.

“oh ya ayah hasil tes kesehatan Tuan Lee sudah keluar…” ujar dr. Ahn mencoba mengalihkan arah pembicaraan ayahnya.

Tuan Lee pun menoleh, begitu juga dengan Yo Won

“benarkah?lalu?” tanya dr. Ahn senior

Jeong Gun tersenyum “semuanya menunjukkan hasil normal…oleh karena itu, Tuan Lee sudah bisa kembali beraktivitas di kantor dengan catatan tidak boleh terlalu lelah dan stress…”

Tuan Lee pun menghela napas lega.

“syukurlah ayah..” kata Yo Won seraya menggenggam erat tangan ayahnya.

“kalau begitu hari ini kita akan merayakan kesehatan Lee Seong Gi juga..” ujar Ah Jae Hwan seraya mengangkat gelas champagnenya. Lee Seong Gi tersenyum lebar dan ikut mengangkat gelasnya, begitu juga Yo Won, Jeong Gun, dan Nyonya Ahn.  Kemudian mereka menegak minuman mereka bersama-sama yang diakhiri oleh tawa Tuan Lee dan dr. Ahn senior.

Ahn Jeong Gun pun memberanikkan dirinya untuk mengajak bicara Yo Won, sementara kedua orangtua mereka sedang bicara. “lalu kondisi kesehatan Nona Lee sendiri apakah  sudah membaik?ataukah masih kambuh?” tanyanya.

Yo Won menggelengkan kepalanya dan menatap lawan bicaranya itu “tidak…aku tidak pernah kambuh lagi setelah meminum obat dari dokter waktu itu..terima kasih atas perhatiannya..”

Jeong Gun pun menghela napas lega “syukurlah kalau begitu…ternyata itu hanya anemia ringan…jika Nona Lee sedang menghadapi banyak pekerjaan, aku menyarankan agar Nona mengkonsumsi makanan yang kaya akan zat besi atau obat penambah zat besi supaya anemianya tidak kembali…”

Yo Won tersenyum mengangguk “akan kuingat sarannya..”

 -07:12 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
Mr. James membuka tas kopernya kemudian mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya pada Gun Wook “I have verified your identity…please give your sign and name…birth name of course in this column…”

Gun Wook meletakkan gelas champagnennya dan mengambil pena  dan mengisi kertas itu sesuai dengan yang diminta kemudian memberikannya kepada Mr. Jamaes. “this..”

Mr. James membaca dengan seksama   kertas yang diterimanya “so…should I call you..”

“Shim Gun Wook…that’s my name…” sela Gun Wook.

“okay..Mr. Shim, I’ll start to process your inheritance and account tomorrow morning…thank you for your trust to us..”Mr. James bangun dari duduknya

Gun Wook ikut bangun dari duduknya dan mengangguk “contact me as soon as you finish it..”

“of course Mr. Shim…” Mr. James mengulurkan tangan kanannya untuk jabat tangan  Gun Wook pun ikut mengulurkan tangannya dan mereka pun berjabat tangan.

“I have to leave now…nice to meet you Mr. Shim..” ujar Mr. James.

“nice to meet you too Mr. James..” sahut Gun Wook.

Setelah jabatan tangan terlepas, Mr. James pun pergi meninggalkan Gun Wook duduk sendiri di mejanya. Ia pun mengalihkan pandangannya ke bawah dimana seorang pianis dan violis baru saja mulai memainkan sebuah lagu klasik untuk menghibur para tamu restaurant baik yang makan di sekeliling panggung maupun yangt duduk di atas. Gun Wook pun menatap sekeliling panggung sampai akhirnya tatapannya terhenti. Terhenti pada sebuah meja dimana 5 orang sedang duduk dan makan bersama.

“Lee Yo Won…” gumamnya.

-07:24 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
“Canon yang indah…” kata dr. Ahn yang sedang mengiris daging steaknya sambil menatap penampilan duet antara pianis dan violis di atas panggung.

“Canon  in D major karya Johann Pachebel…lagu klasik yang paling kusukai..” sahut Yo Won yang juga sedang menikmati penampilan duet itu.

“apakah Nona Lee menyukai musik klasik?” tanya Jeong Gun.

Yo Won pun menoleh “ya…sewaktu aku kecil dan tinggal di Inggris, ada seorang pemusik jalanan memainkan sebuah lagu dengan biolanya dan baru kali itu aku mendengar lagu seindah itu…tapi waktu itu aku tidak berani menanyakan padanya itu lagu apa…”

“lalu bagaimana Nona Lee tahu itu lagu Canon?” tanya  Jeong Gun.

“ketika Guru biolaku memainkan sebuah lagu yang harus aku pelajari…dari dia aku tahu itu adalah lagu Canon…” jawab Yo Won.

Jeong Gun menatap Yo Won yang sedang menikmati penampilan duet itu. Ia tertegun sesaat sebelum ia harus mengalihkan pandangannya ke depan saat Yo Won tiba-tiba menoleh ke arahnya.

“apakah dr. Ahn juga menyukai musik klasik?” tanya Yo Won.

Jeong Gun mengangguk “ayah suka memasang musik klasik di rumah..dan aku pun diajarinya bermain piano yang menyenangkan jadi aku mulai menyukainya sejak kecil…”

 Ahn Jae Hwan mendekatkan dirinya pada sahabatnya yang sedang menikmati daging steaknya “tampaknya mereka sudah mulai akrab…” bisiknya.

Tuan Lee pun menoleh dan tertawa kecil “syukurlah…kalau mereka bisa berteman baik..”

“jika putraku menyukai putrimu…izinkan dia mendekati putrimu ya..” bisik Ahn Jae Hwan.

“benarkah?” Tuan Lee melihat putrinya yang sedang berbicara dengan putra sahabatnya itu. Dari tatapan dr. Ahn Jeong Gun pada putrinya, Tuan Lee sudah mengerti bahwa jelas putra sahabatnya itu tertarik pada putrinya.

Tuan Lee pun menoleh menghadap sahabatnya “tetapi Yo Won….memiliki kekurangan…” kepala Tuan Lee tertunduk ke bawah “kekurangan karena kesalahanku…kau tahu itu…aku tak ingin ada yang tersakiti jika ternyata Jeong Gun memang menyukai putriku..”

Ahn Jae Hwan mengangguk menepuk bahu sahabatnya“aku tahu..setiap manusia pasti memiliki kekurangan, Seong Gi-ssi…tak hanya Yo Won, kau, aku dan putraku pun juga memilikinya…semuanya butuh waktu untuk menghadapinya..begitu juga Yo Won dan Jeong Gun..tak akan ada yang tersakiti jika perasaan mereka tulus”

Tuan Lee mengangguk dan tersenyum  “semoga saja demikian…” kemudian menoleh menatap putrinya

“aku harap putriku bisa menemukan pendamping yang baik…yang setia mencintai segala kelebihan dan kekurangannya…itu harapanku sebelum aku mati…” batin Tuan Lee.

“ayah, aku ingin ke toilet sebentar..” Yo Won memberitahu ayahnya. Tuan Lee pun mengangguk. Yo Won bangun dari duduknya dan berjalan menuju tanda ‘toilet’ berada.

Seorang pelayan menghampirinya ketika ia sudah mendekati pintu toilet wanita. “maaf Nona..toilet wanitanya sedang dalam perbaikan..silahkan Nona menggunakan toilet di lantai atas..”

“oh ya..terima kasih..” jawab Yo Won.

Yo Won berjalan menaiki tangga, menelusuri lorong menuju toilet wanita.

Sementara itu dari kejauhan, Gun Wook duduk di bar sambil mengamati dengan segelas vodka di tangannya. Ia pun meletakkan gelasnya dan memanggil pelayan.

“blaam…” Yo Won berjalan keluar dari toilet. Ia pun berjalan menuju tangga  untuk turun ke bawah, namun seorang pelayan wanita datang menghampirinya.

“maaf Nona…” panggil  pelayan itu. “ini ada titipan untuk nona…” seraya menyerahkan setangkai mawar merah dengan pita hitam di tangkainya dan secarik kertas yang terlipat dua.

Yo Won menerima bunga itu dan segera membuka kertas itu. “congratulations” gumamnya membaca surat itu.

“siapa yang memberikannya?” tanya Yo Won pada pelayan.

“ah..Tuan yang di sana..” tunjuk pelayan itu ke arah pintu keluar. Yo Won menoleh ke arah yang ditunjuk, namun terlalu banyak pria yang hilir mudik membuat si pelayan pun nampak kebingungan menunjukkan siapa pengirimnya.

“ah itu dia…” tunjuk pelayan itu. Tepat pada sosok seorang pria berjas hitam dengan rambut menyentuh kerah kemeja putihnya.

“Nona Lee..” panggil Jeong Gun yang sudah berada di belakang Yo Won.

Yo Won tak bergeming dan pandangannya tetap tertuju pada arah yang ditunjuk pelayan tadi.

Jeong Gun pun ikut melihat ke arah yang sama “apakah Nona Lee melihat seseorang yang Nona kenal?”

Yo Won pun menoleh dan menggelengkan kepalanya.

Kemudian mereka pun membalikkan badannya dan berjalan bersama menuruni tangga.

“mungkinkah itu…Shim Gun Wook-ssi?” pikir Yo Won sembari berjalan menuruni tangga.

-07:40 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
Gun Wook berjalan menuruni tangga depan restaurant. “drrt…drrt..” ponsel di sakun jasnya bergetar, ia pun segera merogoh saku jasnya, mengambil ponselnya, dan menjawabnya.

“ini aku..” kata Gun Wook.

“aku sudah menemukan yang kau minta…mereka dimakamkan di pemakaman umum di Kota Cheonan…aku sudah mengirimkan detail alamatnya..” Terdengar suara berat pria yang selama ini menjadi lawan bicaranya di telepon mengirimkan informasi.

“aku mengerti…bayarannya akan kukirim nanti malam..” jawab Gun Wook singkat sebelum langsung menutup teleponnya. Ia pun segera masuk ke dalam mobilnya yang sudah menunggu di depan lobby.

-08:40 PM, Le Meurice Restaurant Seoul-
“terima kasih atas jamuannya..” Yo Won menundukkan kepala di hadapan keluarga Ahn.

“jangan terlalu sungkan Yo Won..” ujar Nyonya Park seraya menggenggam kedua tangan Yo Won. Yo Won tersenyum mengangguk, kemudian ia menoleh kepada Jeong Gun yang berdiri di samping ibunya. Ia menundukkan kepalanya sebelum membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu mobil.

Tiba-tiba Jeong Gun berjalan menuruni tangga “Nona..ah maksudku..Lee Yo Won-ssi..”

Yo Won pun tidak jadi masuk ke dalam mobil dan menoleh “ya?”

“jaga kesehatanmu selalu..” ujar Ahn Jeong Gun.

Yo Won tersenyum dan mengangguk “dokter juga..”

“hmm..kalau begitu, kami pulang…” ujar Tuan Lee yang sudah berdiri depan pintu mobilnya.

“ya..hati-hati..” ujar dr. Ahn senior

Yo Won pun masuk ke dalam mobil diikuti oleh ayahnya. Tuan Lee membuka jendela mobilnya dan melambai ke arah sahabatnya itu sampai akhirnya mobil melaju meninggalkan lobby restaurant.

“makan malam yang menyenangkan…” ujar Tuan Lee.

“ya ayah..” jawab Yo Won. Ia menatap bunga mawar yang dipegangnya. “benarkah itu dia?” pikirnya.

“bunga mawar yang cantik…selain memberikanmu obat, dr. Ahn Jeong Gun pun juga memberikanmu bunga…” kata Tuan Lee.

Yo Won pun menoleh “tapi ayah ini…”

“sama seperti ayahnya yang baik hati menolongku saat ayah kesulitan semasa kuliah dulu…rupanya kebaikan hatinya menurun pada putranya..” gumam Tuan Lee sambil menatap keluar jendela.

“i..iya..” Yo Won pun mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kata-katanya dan kembali menatap bunga mawar merah yang ada di tangannya.

- May 13th 2009,  07:18 AM Kediaman Keluarga Lee, Seocho-gu, Seoul-
 Tuan Lee terdiam menatap kalendar meja yang berdiri di meja yang ada di samping tempat tidurnya. Kemudian ia berjalan menuju rak buku yang tidak jauh dari situ. Ia mengamati rak bukunya sejenak lalu mengambil 3 buku merah tebal yang ada di sisi kirinya.  Dibalik 3 buku merah itu berada,tersimpan sebuah buku yang bersampul kulit berwarna coklat tua. Tuan Lee mengambil buku itu dan membawanya duduk di atas tempat tidurnya. Perlahan ia membuka pengait sampul buku itu dan mulai membuka halaman buku itu sampai akhirnya ia menmukan sebuah foto. Foto berwarna hitam putih sepasang pengantin dan seorang pria yang berdiri di samping mempelai pria tersenyum lebar.

“sudah 17 tahun berlalu…sejak aku membunuh kalian berdua…” gumam Tuan Lee seraya menatap foto itu.


-07:25 AM, Cheonan-
Mobil SUV hitam yang dikemudikan Gun Wook melaju cepat mengitari jalanan yang menanjak dan berliku. Kondisi jalan yang besar dan lengang mendorong Gun Wook untuk menambah kecepatan mobilnya sampai akhirnya ia menurunkan kecepatan mobilnya ketika harus berbelok ke jalan yang lebih kecil dan mematikan mesin mobilnya begitu ia tiba di depan sebuah bangunan di tengah hutan. Sebuah bangunan rumah kayu bergaya Eropa yang cukup besar dan masih berdiri kokoh meskipun cat dindingnya sudah terkelupas, kaca jendelannya banyak pecah, dan atapnya yang berlubang.
“blaam..”  Gun Wook turun dari mobilnya, menjejakkan kakinya di atas jalan yang dipenuhi oleh dedaunan kering. “aku pulang..” gumamnya.