Pages

Selasa, 18 Mei 2010

Chapter 04

Keesokan paginya, Bi Dam segera bersiap menghadap Raja sambil membawa peta Ryugu menuju Istana.

Ruang Kerja Raja
"Hormat saya, Yang Mulia" hormat Bi Dam. "Ah Perdana Menteri Bi Dam, aku baru saja akan mengirimkan ucapan selamat atas kehamilan Putri Deok Man. Apa yang membuatmu menghadapku sepagi ini?"tanya Raja.
"terima kasih Yang Mulia."
Lalu Bi Dam segera menunjukkan hasil temuannya semalam. Raja langsung terkejut dan meminta kasim memanggil seluruh pejabat dan penasihat Kerajaan. Para pejabat dan penasihat segera berunding bersama Raja membahas hal ini. Benteng Utara memiliki pasukan cukup banyak, namun kurang memiliki pemimpin yang cakap. "bagaimana jika Tuan Perdana Menteri Bi Dam untuk sementara waktu yang memimpin Benteng Utara sampai para Jenderal dari Utara kembali?Kepandaian tuan dalam membuat strategi perang setara dengan para jenderal terbaik Shilla." usul salah seorang penasihat istana. Para pejabat mulai mengangguk setuju. "Perdana Menteri bagaimana menurutmu? tanya Raja. "apabila kemampuan saya dipercaya Baginda untuk membantu Benteng Utara, saya akan berusaha" jawab Bi Dam.
Dan dibuatlah keputusan bahwa Bi Dam akan menjadi Jenderal di Benteng Utara dan akan berangkat besok sore menuju Benteng Utara. Mengenai tanggung jawabnya sebagai Perdana Menteri akan dipegang oleh Raja sementara waktu. Setelah pertemuan itu, Bi Dam pun segera pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, Bi Dam merasa bingung bagaimana akan menyampaikan ini pada istrinya. Ia tahu Deok Man adalah wanita yang kuat, tapi dengan keadaannya sekarang, ia merasa sangat protektif.
"aku pulang"kata Bi Dam. Deok Man yang sedang duduk di gazebo yang tak jauh dari situ segera menyambutnya. "selamat datang" jawab Deok Man. Bi Dam berjalan menghampiri istrinya. Sebisa mungkin ia menyembunyikan kegalauan hatinya.
Ketika melihat wajah suaminya yang tampak gelisah, Deok Man tahu ada sesuatu yang penting disembunyikannya. "Ada apa?aku tahu pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku.."tanya Deok Man sambil menatap mata suaminya.
Menatap mata Deok Man membuat hati Bi Dam semakin berat untuk meninggalkannya. "ya, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu.."jawab Bi Dam setengah hati. Lalu mereka berjalan menyusuri taman, lalu duduk di pelataran di depan ruang baca.
"ada apa Bi Dam"tanya Deok Man. Sambil menggenggam tangan Deok Man, Bi Dam menceritakan mengenai keputusan Raja mengenai dirinya. Hatinya semakin berat dan erat genggamannya "aku dikirim sebagai Jenderal Benteng Utara dan besok sore akan berangkat ke sana" kata Bi Dam. "hatiku sangat berat harus meninggalkanmu sendiri di sini" tambah Bi Dam. Deok Man menatap mata suaminya dalam-dalam, lalu meletakkan telapak tangannya di pipi suaminya itu. "aku akan baik-baik saja Bi Dam. ada para pelayan yang baik, keluargaku di istana, dan teman-teman yang menemaniku. Dan ada anak kita di sini yang selalu menemaniku. Kau tak perlu khawatir. Kami berdua akan baik-baik saja."jawab Deok Man tersenyum sambil membelai perutnya. Hati Deok Man sendiri juga merasa berat harus ditinggal pergi di saat ia ingin selalu bersama dengan Bi Dam, namun ia tahu bahwa keselamatan negerinya ada di tangan Bi Dam juga, Deok Man tulus ikhlas merelakan kepergiannya. Mendengar jawabannya dan melihat senyumnya, membuat hati Bi Dam semakin mencintai istrinya. "aku sangat mencintaimu Deok Man..Aku akan berusaha sekuat tenaga melindungi negeri ini. Tempat kita bertiga akan hidup damai."kata Bi Dam sambil membelai perut Deok Man dan mengecup kening istrinya. "ya, kau, aku, dan anak kita" jawab Deok Man.
Malam hari, ketika Deok Man sedang mandi, Bi Dam memasang sebatang kayu yang di kedua ujungnya diikat dengan kawat, kemudian digantung dan didekatnya dipasang 2 kotak kecil berisi air dan pakan burung di luar ambang jedela kamar. "semoga jarak dari utara ke sini dapat dicapai."pikir Bi Dam. Malam itu Deok Man dan Bi Dam mempersiapkan perbekalan besok. Dan ketika semua sudah beres, mereka pun segera tidur karena sudah mulai larut malam.
Deok Man meletakkan kepalanya di atas dada Bi Dam. "berjanjilah untuk kembali dengan selamat, Bi Dam..demi aku dan demi anak kita..kami menunggumu di sini" bisik Deok Man. "ya, aku berjanji..sekarang tidurlah" bisik Bi Dam sambil mengecup kening istrinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar