Pages

Rabu, 26 Januari 2011

Our Future Still Continue Chapter 77: Inside Hwangsanbeol




Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
“apakah tak ada cara lain untuk menghentikan perang ini?” gumam Deok Man. Daemusin menoleh. Deok Man menoleh menatap Daemusin “apa yang harus kulakukan untuk menghentikanmu dan melindungi negeriku?menghentikan perang yang berat sebelah ini?”  Daemusin hanya terdiam menatap Deok Man. “Panglima, ada kabar penting…” seorang prajurit berdiri di belakang Daemusin dan memberi hormat. Alis Daemusin terangkat “kabar penting?” “ya Panglima..25.000 pasukan Shilla berhasil mengalahkan 30.000 pasukan Goguryeo..Panglima Eulji mati terbunuh…” “be..benarkah?” tanya Deok Man dengan wajah seprauh tak percaya dan separuh gembira mendengar kabar itu. Daemusin sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan, seakan-akan ia sudah memperhitungkan segalanya  “wah..wah..bahkan 30.000 prajurit Goguryeo memang bukan lawan tanding yang seimbang..” “tu..tunggu..pasukan Shilla hanya 25.000 prajurit? bukankah pasukan Shilla  berjumlah 50.000 yang dibawa ke Wonju?” tanya Deok Man. “siapa yang memimpin Shilla di sana?”tanya Daemusin. “menurut laporan, bukan Panglima Yushin yang memimpin..melainkan wakilnya, Jenderal Wolya..”  “sudah kuduga.. sang Pangeran Gaya yang akan memimpin…memang harus kuakui Eulji bukanlah orang yang cocok untuk menjadi Panglima Goguryeo..tapi ya sudahlah kuharap setelah ini Yeon Gaesomun belajar untuk lebih selektif lagi dalam memilih orang…lalu apakah kau sudah menemukan jejak Panglima Yushin?” tanya Daemusin. “be..belum Panglima..kami belum berhasil menemukan jejaknya..beberapa hari ini banyak sekali rombongan pedagang dan para pengungsi dari Shilla sehingga kami sulit menyelidikinya satu persatu…” “selidiki terus..laporkan padaku berapa jumlah pasukan dari Goguryeo dan Shilla yang tersisa!” perintah Daemusin. “baik Panglima..” jawab prajurit itu sambil memberi hormat. Deok Man yang dari tadi memperhatikan percakapan pun menjadi semakin bingung dengan kejadian apa saja yang telah dilewatkannya “sebenarnya apa yang terjadi?kenapa kau mencari jejak Panglima Yushin?”  Daemusin menoleh menatap Deok Man “baiklah Tuan Putri..akan kuceritakan apa yang terjadi dengan Panglimamu itu..”

Benteng Bulcheon, KotaTaejon, Shilla.
Bi Dam, Alcheon dan Yushin yang bersama keempat jenderalnya sedang mengadakan rapat guna membahas perang yang akan mereka hadapi serta masalah lain mengenai ditawannya Deok Man di sana. “karena benteng itu dijaga ketat, mata-mata kesulitan untuk menyelidiki lebih detail, sehingga kita tidak bisa mengetahui apakah pasukan Wa telah tiba di sana semuanya atau belum…bagiamana penjagaan di dalam benteng…” ujar Jenderal Yesung.  “apakah kita tidak bisa memprediksinya dari jumlah orang yang keluar masuk benteng tersebut?benteng bukanlah tempat yang lumrah untuk keluar masuk banyak orang..” tanya Alcheon. “fungsi Benteng Hwangsanbeol tidak hanya menampung prajurit..namun juga budak pekerja…budak-budak pekerja yang bertugas membangun kota-kota di wilayah Baekje…” jawab Bi Dam.  “tapi jika kita prediksi secara garis besar….mungkin 60.000 pasukan itu baru tiba sepenuhnya malam nanti atau besok…mengirim 60.000 pasukan diam-diam dari Goguryeo ke Hwangsanbeol bukanlah hal yang mudah..” Baek Ui ikut mengemukakan pendapat.  “oleh karena itu kita harus bergerak secepat mungkin ke Hwangsanbeol..sebelum mereka bergerak lebih dulu..” ujar Bi Dam. “tapi jika kita bergerak lebih dulu…berarti mereka akan tahu bahwa kita sudah menyadari strategi mereka..” sahut Jenderal Yong Ha. “kurasa Daemusin sudah mengetahuinya..” ujar Kim Yushin. Bi Dam dan yang lainnya pun menoleh menatapnya. “berita kemenangan Shilla atas Goguryeo, mungkin sudah terdengar sampai Baekje..dan mereka pasti menyadari bahwa jumlah pasukan yang ada dan yang memimpin berbeda dari yang sebelumnya..” ujar Yushin. “hmm..iya ya..kita lupa kalau mereka pasti mengawasi perang di Wonju..” gumam Jenderal Sun Joon. “kalau begitu aku akan menyusup ke sana untuk memastikannya…” sahut Bi Dam. “Bi Dam..” sergah Yushin. “aku tahu apa yang kalian pikirkan..tapi aku tidak akan berbuat nekat…aku hanya akan menyelidiki keamanan di sana, mencari tahu tentang pasukan mereka, dan mencari celah-celah untuk masuk ke benteng nanti…percayalah..aku pun juga tidak mau membahayakan nyawanya..” jawab Bi Dam. “bagaimana menurut kalian?” tanya Yushin. “kami semua setuju dan percaya pada Bangsawan Bi Dam…tentu saja selain perang ini, kami tidak melupakan keselamatan Tuan Putri Deok Man…” jawab Baek Ui diikuti anggukan ketiga jenderal lainnya. “aku akan menemani Bi Dam..” jawab Alcheon. Mendengar itu semua, Yushin pun membuat keputusan “hmm…baiklah…siang ini Bangsawan Bi Dam dan Bangsawan Alcheon akan berangkat ke sana…awasi pergerakan di sana…mengenai penjagaan di sana…kondisi cuaca dan lingkungan sekitar…dan keberadaan pasukan Wa di sana…” Bi Dam dan Alcheon mengangguk “baik..”

Benteng Hwangsanbeol, Baekje
“apakah tak ada cara lain untuk menghentikan perang ini?” gumam Deok Man yang nampak tegar dengan segala kesedihan tertahan di matanya. “Daemusin..kau harus jadi pria yang hebat  nak…begitu kau menaklukan semuanya, semua orang pun akan tunduk padamu….maafkan ibu yang tak akan bisa menemanimu lagi…”gumam ibunya dengan berlinang air mata sambil mengusap wajah Daemusin kecil.  Daemusin pun meletakkan laporan yang sedang dibacanya. “ini tehnya Tuan..” Shin Ae meletakkan segelas teh di meja Daemusin. Daemusin pun tersadar dari lamunannya. “Tuan..apakah Tuan baik-baik saja?sepertinya Tuan sedang ada masalah?” tanya Shin Ae khawatir. Ia berdiri di belakang Daemusin kemudian menyandarkan kepala Daemusin di perutnya dan mulai memijatnya. Daemusin menarik tangan Shin Ae dari kepalanya “Shin Ae sudahlah..aku tidak apa-apa..”  ujarnya setengah membentak, kemudian kembali berkonsentrasi membaca laporan di hadapannya. Shin Ae nampak terkejut dengan reaksi tuannya itu. Tuannya memang selalu bersifat dingin terhadapnya namun tidak pernah menolaknya seperti ini. “ba..baik Tuan..jika Tuan membutuhkan saya, saya ada di luar..” Shin Ae memberi hormat sambil menahan air matanya lalu meninggalkan ruang kerja Daemusin. “Daemusin..kau harus jadi pria yang hebat  nak…begitu kau menaklukan semuanya, semua orang pun akan tunduk padamu…” lagi-lagipesan terakhir dari ibunya terngiang kembali. Daemusin menggenggam erat laporannya yang dibacanya kemudian menggulungnya. “begitu semuannya kutaklukan, ia pun pasti akan menjadi milikku..” gumam Daemusin.

Siang hari
Istana Ingang, Shilla.
Yang Mulia Raja baru saja selesai berdoa di hadapannya altar ibunya. Ia pun berjalan keluar dari ruangan altar, dimana Jenderal Baek Jong sudah menunggunya di luar “Yang Mulia..Panglima Yushin dan keempat jenderal sudah berada di Taejon bersama Bangsawan Bi Dam dan Bangsawan Alcheon…” “benarkah?” tanya Yang Mulia Raja.  “ya Yang Mulia…pagi ini Panglima Yushin tiba di sana..dan langsung mengadakan pertemuan untuk membahas penyerangan ke Hwangsanbeol..” “jadi mereka memutuskan menyerang terlebih dulu?” “hamba kurang tahu Yang Mulia..tapi jika dilihat dari strategi Panglima Yushin selama ini, menurut hamba mungkin mereka berusaha laju pasukan Baekje nanti…setidaknya luasnya wilayah pertempuran tidak berdampak terlalu besar…” Yang Mulia Raja menghela napas panjang “sepertinya kita harus segera bersiap untuk mengatur pengungsian dari kota-kota terdekat dengan Hwangsanbeol…” “lalu Yang Mulia mengenai persiapan persembunyian keluarga kerajaan..apakah hamba harus memberitahu Yang Mulia Permaisuri?” “mengenai itu biar aku saja yang memberitahukannya…” jawab Yang Mulia Raja. “baik Yang Mulia..” jawab Baek Jong “lalu ada satu hal lagi..” ujar Yang Mulia Raja. “ya Yang Mulia..” “aku ingin Yun Ho dan Yoo Na bersama pengasuhnya makan malam bersamaku nanti..aku ingin menemani mereka di hari yang seharusnya berarti penting bagi kami..”  ujar Yang Mulia Raja sambil menatap lukisan ibunya yang tergantung di dinding.

Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
Shin Ae berdiri di menara benteng,dimana ia bisa melihat pemandangan kota dan luar benteng. “tap..tap..sraat..”  sebuah mantel tersangkup di bahunya. Dan ia mengenali mantel itu. “meskipun ini siang, tapi anginnya cukup kencang untuk bisa membuatmu sakit..” ujar Daemusin yang sekarang berdiri di sampingnya. “Tu..Tuan…” Shin Ae tak percaya dengan apa yang sekarang dialaminya.  Daemusin berdiri di sampingnya sambil menatap pemandangan penduduk kota yang  sedang sibuk menyiapkan festival nanti. “sepertinya nanti akan ada festival di kota..” ujar Daemusin. Shin Ae mengangguk. Mereka terdiam sebentar sebelum akhirnya Shin Ae dengan takut-takut bertanya  “Tuan, sebenarnya saya ingin meminta izin…” “izin apa?” tanya Daemusin. “saya ingin pergi ke festival itu nanti malam..dan saya tahu jika Tuan pasti sibuk dan tak ingin diganggu..jadi  kalau diizinkan saya ingin….”

Wilayah Wonju, Perbatasan Shilla-Goguryeo.
“Jenderal istirahatlah..sejak perang dimulai hingga sekarang Jenderal sama sekali belum beristirahat…bahkan luka-luka jenderal belum diobati..” ujar salah seorang prajurit yang berjalan membuntuti Wolya. Wolya pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang “baiklah aku akan beristirahat segera setelah kiriman persediaan pangan dan obat-obatan tiba…” “jenderal..” salah seorang prajurit berlari sambil membawa amplop surat di tangannya. Prajurit itu memberi hormat dengan napas tersengal-sengal “ada surat untuk Jenderal dari Panglima Yushin..” “Yushin?” Wolya pun segera  membuka surat itu dan membacanya dengan seksama. Perasaan lega bercampur khawatir menyatu dalam wajahnya. “kolonel Choi..” panggil Wolya. “siap Jenderal..” jawab prajurit yang dari tadi membuntutinya itu. “kirim mata-mata ke Goguryeo…selidiki dan pastikan Goguryeo tidak mempunyai niat atau kekuatan untuk menyerang Shilla kembali..”

Sore hari.
Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
“ayo Tuan Putri..kita berangkat sekarang..”ujar Shin Ae penuh semangat. Deok Man hanya bisa menanggapinya dengan senyuman. Setidaknya kali ini ia bisa merasakan udara bebas dan jika ada kesempatan sebisa mungkin ia akan berusaha mencari celah untuk meninggalkan benteng ini selamanya. “braak..” pintu besi kamar Deok Man terbuka. “Tu..Tuan..” Shin Ae memberi hormat kepada Daemusin, sementara Deok Man hanya menatapnya dingin. Daemusin membalasnya dengan senyum tipis “karena kita akan mengajak tamu istimewa kali ini, kurasa ada baiknya untuk meminta orang kepercayaanku mengawal kalian..” ujarnya sambil menatap Deok Man. “Bangsawan Seung Won…masuklah..” Seorang pria berpakaian coklat dan pedang tersarung di pinggang, melangkah masuk. “kau?” ujar Deok Man.

“kau yang menyerangku kan?” ujar Deok Man. Daemusin hanya tersenyum melihatnya “kurasa kalian pernah bertemu sebelumnya namun Bangsawan Seung Won belum memperkenalkan dirinya..” Seung Won  pun tersenyum lalu memberi hormat “nama hamba Cha Seung Won, Tuan Putri..hamba yang akan mengawal dan mengawasi Tuan Putri..” Deok Man menatap Seung Won dengan penuh amarah. “kurasa lebih baik kalian berangkat sekaramg agar bisa menikmati acaranya lebih lama…” ujar Daemusin. “baik..” jawab Shin Ae. Ia dan Seung Won berjalan lebih dulu keluar kamar. Meninggalkan Deok Man dan Daemusin dalam kamar berdua. Deok Man pun bangun dari tempat duduknya lalu berjalan menuju pintu keluar, dimana Daemusin berdiri di sampingnya. “jika Tuan Putri berani melarikan diri..aku pastikan Seoraboel hanya akan menjadi tinggal sejarah besok…”  Deok Man hanya terdiam lalu kembali berjalan. 

“sepertinya banyak yang berubah dari Hwangsanbeol..” ujar Bi Dam yang menatap Hwangsanbeol dari pinggiran tebing. Sebuah benteng besar berdiri kokoh di belakang hutan, seberang sungai. “kau pernah ke sana?” tanya Alcheon. “dulu..bersama Guru Munno…waktu aku ke sana..kota yang berada di sampingnya belum sebesar itu..masih bisa dibilang hanya desa pedagang biasa..” jawab Bi Dam sambil menunjuk kota yang berdiri di sebelah benteng. “kota yang aneh menurutku..bukannya didirikan di belakang benteng, melainkan disampingnya…” “kata guruku..awalnya Hwangsanbeol adalah sebuah benteng khusus untuk perekrutan dan pelatihan militer…bukan benteng pelindung kota…tapi ternyata untuk menunjang kehidupan di benteng, butuh para pedagang dan pengrajin yang menyediakan kebutuhan..lalu munculah para pedagang yang kelak akan menetap di samping benteng dan mendirikan desa pedagang dan pengrajin di sana yang kemudian berkembang menjadi kota seperti ini..” ujar Bi Dam. “hmm..aku baru mengerti sekarang…” ujar Alcheon sambil menganggukan kepala.

Malam hari.
Kota Hwangsanbeol
Kota Hwangsanbeol dipadati oleh para pedagang dan penduduk yang merayakan festival. “sebenarnya ini festival apa?” tanya Deok Man. “ini untuk merayakan kedatangan para pendahulu ke sini…dulu para pedagang yang membangun wilayah ini hingga akhirnya kota ini berdiri..bisa dibilang festival ini untuk merayakan berdirinya kota ini, sehingga akhirnya setiap tanggal 14 bulan kedua, festival ini selalu dirayakan..” jawab Shin Ae. “sekarang tanggal 14 bulan kedua?” tanya Deok Man.  “iya Tuan Putri…” jawab Shin Ae. “apakah di sini ada kuil untuk berdoa?” tanya Deok Man.”ada..apakah ada sesuatu yang berkaitan dengan tanggal 14?” tanya Shin Ae. Deok Man mengangguk  “hari ini kakakku berulang tahun..jadi aku ingin mendoakan arwahnya..” “kalau begitu kita lewat sini Tuan Putri..aku tahu kuil yang bagus untuk berdoa..” ujar Shin Ae.

“apakah sekarang sedang ada perayaan?” ujar Bi Dam yang sekarang berada di di tengah kerumunan orang. “akan kutanyakan…” jawab Alcheon. Alcheon pun pergi bertanya pada salah satu pedagang di situ. “katanya ini adalah perayaan untuk merayakan berdirinya kota ini yang dirayakan setiap tanggal 14 bulan kedua..” “sekarang tanggal 14 bulan kedua?” tanya Bi Dam dengan nada tak percaya. “iya..sekarang tanggal 14 bulan kedua..” jawab Alcheon. Bi Dam pun memukul keningnya “astaga..aku bahkan sampai lupa..”  Alcheon pun heran “apakah ada sesuatu yang terlupakan?” Bi Dam menggeleng “ayo kita kembali berjalan..”

Deok Man membuka matanya. “selamat ulang tahun kakak..” gumamnya di depan altar sembahyang.  “sudah selesai?” tanya Shin Ae. Deok Man mengangguk sudah. Mereka pun pergi meninggalkan kuil.  Shin Ae mengajak Deok Man ke depan sebuah pohon bambu kecil yang sudah digantungi banyak amplop merah kecil. Di sekeliling mereka ada beberapa orang yang sedang menulis kemudian memasukkan kertas mereka ke dalam amplop dan menggantungkannya di pohon itu dengan seutas benang. “ini untuk apa?” tanya Deok Man. “Tuan Putri menulis permohonan di sini..lalu masukkan dalam amplop  dan gantungkan…” ujar Shin Ae penuh semangat. Seung Won tertawa kecil mendengarnya “tetapi jika Tuan Putri memohon untuk kabur itu akan menjadi permohonan yang sia-sia…” Deok Man tidak menggubrisnya lalu mulai menulis permohonannya di kertas itu kemudian memasukkannya dalam amplop dan menggantungkannya. “waah sepertinya sudah dimulai…” seru Shin Ae ketika melihat orang-orang berkumpul di tepi sungai kecil dekat itu “ayo Tuan Putri harus melihatnya..”                       

“Deok Man apa benar kau berada di balik tembok ini…” pikir Bi Dam sambil memegang tembok benteng yang ada di hadapannya“sepertinya hanya ini satu-satunya jalan untuk masuk ke sini…” ujar Alcheon yang sekarang berada di tepi sebuah parit yang cukup besar dimana aliran air bersih masuk ke dalam benteng.  “kurasa kita bisa memanfaatkan ini saat terjadi kekacauan di kota ini nanti..” sahut Bi Dam. “tap..tap..” terdengar suara derap langkah kaki mendekat. Bi Dam dan Alcheon pun segera berlari mengumpat di balik semak. Dan mereka beruntung bisa mendegar informasi yang sangat penting dari percakapan gerombolan prajurit Baekje itu. “sraak..sraak..” rupanya ada tupai yang menelusup di atas pohon tempat Bi Dam bersembunyi. “sial..” pikir Bi Dam. “siapa di sana?!!” seru prajurit Baekje itu. “ meskipun ia bisa saja membunuh mereka semua, tapi Bi Dam memilih untuk berlari kabur secepat mungkin bersama dengan Alcheon daripada harus mengundang keributan. Gerombolan prajurit itu segera memeriksa  tempat berasalnya bunyi. 
“sraak..sraak..” segerombolan tupai muncul di depan mereka.  “hanya tupai rupanya..” ujar mereka.   Bi Dam dan Alcheon menelusup di tengah keramaian orang  untuk memastikan prajurit-prajurit itu tak mengejar mereka.  “waah..indahnya..” seru orang-orang yang hadir di situ. Ratusan kapal-kapalan kecil dari kayu dengan lampion di atasnya melewati sungai di depan mereka. “ada yang ingin aku lakukan..” ujar Bi Dam begitu melihat itu.

“haah..bagaimana Tuan Putri festivalnya?cukup menyenangkan bukan?” ujar Shin Ae. “ya..”jawab Deok Man. “Tuan Putri duduklah di sini..aku akan memesankan kue beras dan teh dulu di dalam…” ujar Shin Ae. Deok Man mengangguk lalu duduk. Menatap sungai di hadapannya yang sekarang kosong. “tuk..” sebuah kapalan-kapalan kecil tersangkut di batu tepi sungai.  Deok Man menatap heran kapal itu. Berbeda dengan kapal-kapal yang tadi dilihatnya, yang ada di atas kapal ini bukanlah sebuah lampion melainkan sebuket bunga. Ia pun berjalan ke tepi sungai dan memungut kapal itu. Di bawah buket bunga itu ada sebuah amplop merah kecil yang seharusnya digantung di pohon permohonan.   Deok Man menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa-siapa. Ia pun memberanikan diri membaca isi amplop itu. Isi amplop yang tertulis dalam sandi suku Gaya

“Kuharap perahu ini bisa menembus dinding benteng yang tebal dan membawa pesanku untuknya.
Selamat ulang tahun untuk istriku, Deok Man… Bi Dam”

Air mata Deok Man langsung meleleh begitu membacanya. “Bi..Bi Dam ada di sini kah?” gumamnya. “Tuan Putri apa yang sedang kau lakukan di sana?” seru Seung Won. “Tuan Putri..kuenya sudah siap..” ujar Shin Ae. Deok Man segera memasukkan surat itu dalam lengan bajunya dan berjalan menghampiri Shin Ae. “ayo dicicipi kuenya..” Shin Ae meletakkan semangkuk kue beras di depan Deok Man. “Shin Ae bolehkah aku meminta sesuatu setelah ini?” tanya Deok Man.

“Bi Dam apa yang kau lakukan? ini sungai yang terhubung dengan parit yang tadi kan?” seru Alcheon. “aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuknya..lagipula aku sudah menulisnya dalam sandi suku Gaya..jadi kurasa sekalipun orang lain yang membacanya..mungkin akan terlihat sebagai sampah di mata mereka..” jawab Bi Dam. Ia menatap sungai di hadapannya dengan tatapan hampa.  “kurasa penyelidikan hari ini cukup..kita sudah mendapatkan informasi yang dibutuhkan..kita harus memberitahukan panglima mengenai apa yang kita dengar tadi..”  ujar Alcheon. “ya..setelah ini kita akan kembali..” jawab Bi Dam. Sebelum pergi, Bi Dam menatap sungai itu dan benteng yang berdiri kokoh tak jauh dari sana sekali lagi “selamat ulang tahun istriku…”

“lihat Tuan Putri..indahnya anting-anting ini..” seru Shin Ae penuh semangat melihat-lihat dagangan yang dijajakan para pedagang di sisi kanan-kiri jalan. “iya..sangat manis..” jawab Deok Man. Ia menegok ke kanan dan ke kiri. “Tuan Putri mencari sesuatu?” tanya Shin Ae. “hm?ah tidak..aku hanya penasaran dengan barang-barang yang dibawa pedagang dari sana..”  ujar Deok Man berbohong. “baiklah kita ke sana..” jawab Shin Ae. Mereka pun berjalan melewati keramaian. Deok Man sengaja memilih jalur ini karena ini dengan begini ia bisa lebih mudah mencari pengirim surat tadi. Mencari Bi Dam. “Tuan Putri..Tuan Putri..” seru Shin Ae yang terjepit di keramaian orang. Deok Man menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan tatapannya terhenti pada sosok seorang pria yang berpakaian hitam dan bercaping. Deok Man yakin bahwa itu adalah orang yang dicarinya. Secara refleks ia pun memanggilnya “Bi…”Namun sebelum ia sempat memanggil nama itu, Seung Won sudah membekap mulutnya dengan tangannya. “aku tahu..siapa yang kau lihat Tuan Putri..” bisiknya di telinga Deok Man.  “hmmph..hmmph..” Deok Man meronta. “ada apa ini?” tanya Shin Ae dengan napas tersengal-sengal. “Shin Ae panggilkan penjaga..ada mata-mata masuk ke sini..”perintah Seung Won. “ba..baik..” jawab Shin Ae. “tidak..Bi Dam larilah cepat..” seru Deok Man dalam hatinya. 

“tap..tap..” Bi Dam mempercepat langkahnya. “ada apa Bi Dam?apakah ada masalah?” tanya Alcheon. “kita dibuntuti..” jawab Bi Dam.  Mereka pun menelusup dalam keramaian sebelum akhirnya bersembunyi di balik tumpukan kotak-kotak kayu besar. “dimana kedua orang itu?” seru prajurit Baekje kebingungan. Bi Dam dan Alcheon menguping pembicaraan prajurit itu dan menunggu mereka pergi. “apakah ada yang mengenali kita?” bisik Alcheon. “aku juga tidak tahu..tapi kita harus keluar dari sini..” jawab Bi Dam.

Tengah malam.
Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
Daemusin membuka matanya, dilihatnya Shin Ae terlelap mendekap dadanya yang telanjang. Dengan perlahan, ia menyingkirkan tangan Shin Ae lalu menyelimuti Shin Ae yang telajang dengan selimut. Ia mengenakan jubah tidurnya lalu berjalan keluar dari kamarnya, menuju ruang kerjanya, dimana Seung Won sudah menunggunya. “bagaimana hasilnya?apakah berhasil ditangkap?” tanya Daemusin. “maafkan kegagalan saya Panglima....” jawab Seung Won dengan kepala tertunduk. “kau tahu..bahwa aku sangat membenci kata gagal..”  ujar Daemusin dingin dengan tatapan menusuk. “maa..maafkan saya Panglima..tapi saya juga membawa berita..” ujar Seung Won berusaha menjilat. “kabar apa?” tanya Daemusin. “mata-mata kita bilang bahwa Jenderal Yushin ada di Kota Taejon..ia sempat menguping pembicaraan para prajurit penjaga di sana..lalu umpan yang kita pasang juga telah ditangkap namun berhasil lolos…akan tetapi kata orang suruhanku, yang menangkapnya memang Bi Dam namun yang mengejarnya, bukanlah dia...matanya lebih sipit dan berwajah oval..saya rasa ada informasi yang sempat bocor dari situ..” jawab Seung Won. “kurasa itu adalah Alcheon, Kepala Pengawal Istana Shilla..hmm..jadi sekarang semuanya sudah berkumpul di Taejon rupanya…lalu bagaimana dengan kedatangan prajurit yang tertunda, apakah semuanya sudah dibereskan?” “sudah Panglima mereka semua dipastikan siap lusa siang..” “baiklah..besok malam aku akan mendeklarasikan penaklukan 3 Han ini di hadapan para pejabat..persiapkan semuanya..” ujar Daemusin. “baik Panglima..saya tidakakan mengulang kesalahan saya kembali..” jawab Seung Won sambil memberi hormat  “kali ini aku memaafkan kecerobohanmu Seung Won..” “tapi Panglima bukankah sebaiknya wanita itu disingkirkan saja..karenanya Bi Dam sampai menyusup ke sini..dan hampir saja ketahuan…..sudah tak ada gunanya lagi kita membawanya ke sini..” Daemusin pun naik pitam, ia mencekik leher Seung Won hingga kaki Seung Won pun terangkat dari tanah. “prinsip nomor 3 dalam militer..jangan pernah melimpahkan kegagalanmu pada orang lain..” “ma..maaf..kan saya Panglima..am..puni..ham..ba..” ujar Seung Won dengan nafas terputus-putus.  Daemusin pun melepaskannya ”PERGI!!” Seung Won pun segera lari terbirit-birit meninggalkan ruangan. “ia lebih berharga dibandingkan 1000 nyawamu..” pikir Daemusin.

“Kuharap perahu ini bisa menembus dinding benteng yang tebal dan membawa pesanku untuknya.
Selamat ulang tahun untuk istriku, Deok Man… Bi Dam”

Deok Man duduk dan membaca surat itu berulang-ulang. Ia pun teringat dengan sosok yang tadi dilihatnya di tengah kerumunan orang. “Bi Dam dimana kau sekarang?apakah kau berhasil kabur? ” gumamnya. “braak..” pintu kamarnya terbuka, Deok Man segera menyembunyikan surat itu dalam lengan bajunya. “sudah kuduga kau belum tidur, Tuan Putri..” ujar Daemusin. Deok Man menghapus air matanya dan tidak mengacuhkannya. Daemusin berdiri di hadapannya “rupanya suamimu berhasil meloloskan diri, Tuan Putri… ” Deok Man menatapnya dengan tatapan keras “apa maumu?”  “tak ada..hanya saja..” Daemusin menyadari ada sesuatu yang disembunyikan Deok Man dalam lengan baju kirinya.  Ia menarik paksa tangan Deok Man dan merampas surat yang disembunyikannya itu. “kembalikan!!” seru Deok Man. Daemusin membuka amplop itu dan membaca isinya. Berkat pendidikannya di  Akademi Militer Wei, tentu saja ia tahu apa arti sandi itu. “kembalikan!!” seru Deok Man sambil berusaha mengambil surat itu. Daemusin memegang satu tangan Deok Man  “jadi ini yang kau sembunyikan?!!rupanya ia berhasil mengirim surat padamu!!” “ia suamiku..apa hakmu mengaturnya?!!” jawab Deok Man tanpa takut. Daemusin pun geram lalu mendorong Deok Man, hingga ia terjatuh di tempat tidurnya. Daemusin berada di atasnya dan menahan kedua tangannya yang berusaha meronta-ronta melepaskan diri. “lepaskan aku!!lepaskan!!” seru Deok Man melawan.  “semua dari negerimu akan kuhancurkan begitu juga dengan dia..akan kubunuh dia dan kubawa kepalanya kepadamu..dan kau akan menjadi milikku!!” Sambil menahan Deok Man yang berusaha melawan, Daemusin mengecup leher Deok Man. Deok Man pun tak bisa menghindar atau menghentikannya.  “Bi Dam...!!”  teriak Deok Man.

Senin, 24 Januari 2011

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 26

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 26

Scene : YEOM JIN YI

Hari kelima

Istana : ruang kerja raja

“Sampai saat ini belum diketahui dimana Tuan Putri berada? Ini sudah hari kelima, apa yang sebenarnya terjadi!!” tanya Yang Mulia Raja dengan nada tinggi.

“Yang Mulia.. tenanglah, kami semua juga sangat khawatir pada Tuan Putri Deokman” balas Permaisuri menenangkan dengan wajah cemas.

“bagaimana keadaan Sangdaedung Bidam?” tanya Yang Mulia Raja pada Alcheon.

“Sangdaedung Bidam, tampak sangat terpukul dan gusar”

“aku bisa memahami keaadannya, ini pastinya penculikan bukan kebiasaan Tuan Putri membuat orang-orang di sekitarnya khawatir. Tapi siapa yang menculiknya dan apa motifnya” Yang Mulia Raja bertanya pada dirinya sendiri.

“apa mungkin..” Yang Mulia Raja berpikir dan mencoba menarik kesimpulan.

“mungkin apa Yang Mulia?” tanya Alcheon

“penculikan Tuan Putri, apa ada hubungannya dengan perjanjian yang akan kita ajukan ke goguryeo mengenai Saitama?”

“mengapa Yang Mulia, berkesimpulan seperti itu?”

“mungkin saja.. ini baru perkiraanku. Kapten Alcheon, panggil Kim Yongchun, dan beritahukan pada Sangdaedung bahwa sementara dia dibebastugaskan dari kewajiban perdana menteri dan mengfokuskan pada pencarian Tuan Putri Deokman”

“baik Yang Mulia, hamba permisi”

Rumah Sangdaedung

Sementara itu, Bidam sedang mondar-mandir di halaman depan rumahnya dan menatap ke arah pintu gerbang penuh harap kala mendengar pintu gerbang dibuka. Santak datang menemuinya

“Bagaimana?” tanyanya pada Santak

“Hamba sudah menyebarkan surat pemberitahuan pada para gubernur di provinsi tentang hilangnya Tuan Putri Deokman, dan mereka segera akan melakukan tindakan pencarian dan menempel pengumuman di pasar-pasar tentang hal ini berikut sketsa wajah Tuan Putri Deokman” lapor Santak.

“apa kau menyertakan juga sketsa wajah Xiou Lie?”

“ya Tuan, saya sudah menyertakannya juga… tapi Tuan?”

“apa? Ada apa?”

“Tuan.. saat saya melihat sketsa wajah Xiou Lie, saya rasa saya seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Saya juga pernah bertemu sekali dengannya saat di istana, wajahnya sangat familiar”

“apa…kau pernah melihatnya juga? Dimana? Aku juga merasa hal yang sama saat melihat wajahnya tapi aku tidak ingat dimana? Santak, coba kau ingat-ingat lagi.. tidak mungkin kau pernah melihatnya di gunung Hanggeok-san bukan, kau belum pernah kesana!”

“Hah.. nama gunungnya juga saya baru dengar, Sangdaedung”

“makanya, coba kau ingat-ingat lagi!.. mungkin bisa menjadi suatu petunjuk” perintah Bidam dengan mata penasaran dan tidak sabar. Santak mengerungkan wajahnya tanda berpikir lalu matanya berbinar tanda dia ingat sesuatu.

“jamuan---jamuan….makan malam.. saya pernah melihatnya disana sedang bermain sitar dan bernyanyi..” Santak mengernyitkan dahinya lagi tanda dia lupa.

“dimana? Jamuan makan malam dimana? Katakan!!” tanya Bidam kesal sekarang Bidam menarik kerah kimono Santak.

“eh..eh.. rumah..rumah.. bangsawan Yeomjong.. ya benar, saya pernah datang ke jamuan makan malam di rumah bangsawan Yeomjong, Sangdaedung juga hadir disana. Bangsawan Yeomjong menyajikan atraksi musik dan saya melihat Xiou Lie disana, ya sekarang saya baru ingat”

“rumah Yeomjong..” Bidam mencoba mengingat-ingat karena bukan sekali dua kali, Bidam datang ke rumah Yeomjong untuk jamuan makan malam dan Yeomjong selalu menyediakan wanita-wanita untuk para tamunya. Bidam sendiri tidak pernah tertarik untuk berhubungan dengan wanita manapun meski hanya seorang gisaeng untuk bersenang-senang. Dalam pikirannya hanya ada satu wanita dalam hidupnya yaitu Deokman.

“apa Xiou Lie adalah seorang gisaeng?” tanyanya pada Santak.

“kurasa bukan Sangdaedung, saya sekilas ingat bahwa Bangsawan Yeomjong pernah mengatakan---”


( FLASH BACK ON )

Rumah Bangsawan Yeomjong

Suasana jamuan makan malam yang dihadiri oleh para pengikut Bidam yang akhirnya jadi pemberontak, saat itu Bidam masih sangat loyal dengan para pengikutnya. Para Bangsawan bersenang-senang, menikmati hidangan dan meminum arak ditemani para gisaeng-gisaeng. Bahkan ada beberapa Bangsawan yang genit memeluk, merangkul, dan mencium para gisaeng. Bidam datang dan diikuti oleh Yeomjong di belakangnya.

“aahh.. senang sekali Bangsawan Bidam datang dan ikut bersenang-senang dengan kami disini” kata Misaeng dengan kata-kata manisnya dan dengan wajah genitnya. Bidam hanya tersenyum tipis, kemudian datang seorang gadis dengan pakaian yang bagus dengan model Tuan Putri menuangkan arak di cangkir Bidam.

“silahkan Bangsawan Bidam minum” kata Yeomjong dengan senyum penjilatnya yang sangat menyebalkan.

“ayo perkenalkan dirimu..” kata Yeomjong pada gadis itu

“selamat datang---Saryeong-Bu Bidam…nama saya Yeom Jin Yi.. semoga Saryeong-Bu Bidam menikmati jamuan yang kami sediakan” kata gadis itu lembut dan menyerahkan cangkir arak kepada Bidam, Bidam mau tidak mau melirik dan melihat wajah gadis itu / wajah Xiou Lie dan menerima cangkir dari Yeom Jin Yi, lalu meminumnya dengan senyum terima kasih.

“Bangsawan Bidam, Yeom Jin Yi sangat pandai bermain musik dan menyanyi, ayo tunjukkan bakatmu pada kami” perintah Yeomjong pada Yeom Jin Yi lalu Yeom Jin Yi memainkan sitar dan bernyanyi.

“bagaimana? Dia cantik bukan? Apa kau tertarik padanya?” tanya Yeomjong pada Bidam masih dengan senyum yang menyebalkan itu. Bidam sekilas melirik Yeom Jin Yi lalu memperlihatkan ekspresi wajah yang dingin pada Yeomjong.

“hey.. Yeomjong, apa maksud-mu? 1000 bidadari kau tawarkan padaku, aku tetap tidak tertarik. Jadi tidak perlu kau repot begini---ah sial, kalau tahu akhirnya selalu seperti ini, aku enggan datang kemari” jawab Bidam, Yeomjong pun diam tak berkutik.

“ayolah keponakanku---sampai kapan kau akan mempertahankan lajangmu itu? Sudah saatnya kau sedikit bersenang-senang dengan seorang wanita, aku tahu siapa wanita yang kau sukai dan aku juga tahu pasti akan sangat sulit bagimu mendapatkannya (aka:Deokman)” goda Misaeng.

Bidam hanya tersenyum menanggapi perkataan Misaeng

“dengarkan Misaeng-gung, pamanku---aku rasa itu bukanlah urusanmu dan ku mohon berhentilah mencampuri urusan pribadiku, jangan sampai membuatku marah” kata Bidam lembut tapi tajam dan mengancam. Air muka Misaeng pun berubah jadi kikuk.

“baiklah.. baiklah.. ayo dimakan.. ayo..” kata Misaeng salah tingkah.

Yeomjong dengan wajah gusar mendekati Santak.

“aigoo.. si Bidam itu, dasar pria yang aneh dan tidak bisa ditebak apa maunya..”

“memangnya kenapa..?” tanya Santak, Yeomjong mendelik dengan wajah kesal dan menjitak kepala Santak, Santak mengernyit sedikit.

“Pimpinanmu itu.. begitu dingin pada wanita, yang ada dipikirannya dan matanya hanya Yang Mulia Ratu Deokman saja, padahal dia tahu persis tidak akan mudah mendapatkannya, aku menawarkan anakku yang kupikir sangat cantik dibandingkan Yang Mulia, tapi tetap saja.. alih-alih melihatnya meliriknya pun tidak. Bagaimanapun caranya aku harus bisa menikahkan anakku dan Bidam” kata Yeomjong gusar.

“Memang anakmu itu cantik..?” tanya Santak polos, lagi-lagi Yeomjong mendelik dengan wajah kesal dan menjitak kepala Santak lagi tapi tidak berhasil karena Santak langsung melindungi kepalanya.

“Kau lihat gadis yang bermain sitar itu..” Yeomjong menunjuk ke arah Yeom Jin Yi. Santak melihatnya dengan seksama dan mengangguk-angguk kepalanya.

“cantik bukan..?”

“ckckck, ya.. dia cantik, berbeda sekali dengan ayahnya..” kata Santak polos dan melirik takut-takut pada Yeomjong, sekarang Yeomjong mendelik marah dan siap-siap mau menonjok Santak tapi meleset karena Santak sudah kabur lari.

( FLASH BACK OFF)

Scene : the secret revealed

Bidam memukul kepalanya dengan telapak tangannya tanda lupa sesuatu.

“Harusnya aku ingat, Xiou Lie alias Yeom Jin Yi adalah putri Yeomjong, aku begitu bodoh tidak ingat sama sekali. Kau apalagi sangat sangat bodoh---padahal Yeomjong jelas-jelas mengatakan padamu, Yeom Jin Yi itu anaknya”

“itu karena Sangdaedung tidak pernah melihat-lihat wanita dan apalagi mengingatnya” jawab Santak.

“sudahlah, yang penting kita sudah mempunyai petunjuk baru, sekarang kau segera temui Jungsae-rang dan Hanwook-rang dan sampaikan perintahku pada mereka agar mereka memeriksa rumah Yeomjong dan tanyakan mengenai Yeom Jin Yi, dimana dia tinggal, siapa koneksinya, dan latar belakangnya. Cepat!! Aku curiga mungkin dia dalang dibalik menghilangnya Deokman, aku akan memeriksa kamarnya. Pergilah!!” perintah Bidam pada Santak.

Pondokan di hutan Gwangmun (perbatasan Shilla – Saitama Goguryo)

Xiou Lie dan Bo Yong datang menemui Deokman

“Tuan Putri Shilla, bila tidak ada halangan, pesan dari kami akan sampai hari ini, berdoalah semoga keinginan kami terkabulkan dan kami tidak perlu repot-repot mengurusmu lagi. Aku ingin tahu apakah harga satu nyawamu sesuai dengan keinginan kami” kata Bo Yong.

“hanya tinggal satu urusan pribadi yang akan kita selesaikan lalu dengan senang hati aku akan membunuhmu” timpal Xiou Lie tersenyum sinis.

“siapa sebenarnya kalian? Dan apa yang kalian inginkan dariku?” tanya Deokman penasaran dengan suara sewajar mungkin untuk menyembunyikan rasa gugupnya.

“Tuan Putri Shilla atau kusebut mantan Yang Mulia Ratu Seondeok, kau orang yang telah menghancurkan impianku dan cintaku, tak sadarkah kau? Aahh---sebaiknya aku harus mengatakan padamu agar aku tidak perlu melihat wajah binggung-mu itu yang menyebalkan, juga agar kau tidak mati penasaran” kata Xiou Lie lalu dia menarik kursi didepan Deokman dan menatap Deokman tajam.

Deokman sama sekali tidak menyangka Xiou Lie begitu mengerikan dengan mata berkilat penuh dendam sehingga Deokman bertanya-tanya kesalahan besar apa yang dia pernah lakukan sehingga Xiou Lie jadi begitu membencinya.

“Namaku bukanlah Xiou Lie, namaku adalah Yeom Jin Yi dan aku adalah anak angkat dari ayahku bernama Yeom Jong. Ayahku salah satu pangeran Goguryeo Seongmin dan ibuku adalah selir raja Goguryeo Geongmin. Saat ibuku diketahui selingkuh dengan ayahku, maka Raja sangat murka dan mengusir lalu mengasingkan mereka, tapi Sang Raja rupanya tidak puas dengan hanya mengusir, dia---Raja Geongmin secara diam-diam memerintahkan pasukan untuk membunuh ayah dan ibuku. Akhirnya ayahku tewas dan untungnya ibuku berhasil lolos, aku tahu dibalik ini semua Raja melakukan konspirasi untuk melenyapkan Pangeran Seongmin yang merupakan pewaris sah kerajaan. Bisa kau bayangkan, keberhasilan Raja menyingkirkan ayahku, ternyata menyimpan dendam dan rencana tersendiri bagi ibuku. Ibuku adalah adik dari ayah angkatku Yeom Jong. Ibu dan ayah angkatku sepakat memberikan nama Yeom sebagai margaku untuk melindungiku dari sentuhan Raja Geongmin. Lalu aku dididik oleh mereka dengan kebencian terhadap Raja Geongmin. Ayah angkat mengatakan ada kesempatan untuk membalaskan dendam ibuku dengan menikahi calon raja Shilla yang berambisi menumpas Gogouryo..”

“Bidam..!, ayahmu tentu saja merencanakan kau menikah dengan Bidam” kata Deokman tiba-tiba.,

“kau pintar juga menarik kesimpulan, ayahku sangat membangga-banggakan Bidam, aku jadi penasaran seperti apa dia, lalu datang kesempatan agar aku bisa bertemu dengannya. Saat pertama kali aku melihatnya aku langsung tertarik padanya, ayahku berusaha mencari jalan agar aku bisa mendekatinya tapi tetap saja---bahkan saat aku bertemu dengannya lagi di rumahmu, dia tidak bisa mengenaliku. Sungguh mengecewakan tapi menguntungkan aku juga. Usaha dan penantianku ternyata sia-sia, ayahku mati ditangan orang yang dipujanya dan semua itu adalah kau penyebabnya. Di hari itu aku bersumpah akan membuatmu menebus semua kesalahanmu yang membuat ayahku mati dan mengambil pria yang kucintai” jelas Xiou Lie menatap tajam Deokman.

“jadi semua adalah tipu muslihatmu, masuk kerumahku menyamar sebagi pelayan dengan pura-pura menolong Pelayan Ma lalu mendekati Bidam dan membuatku mencurigai Bidam dan bertengkar dengannya dan oh---ular itu, aku yakin kau juga yang melakukannya, lalu mengapa kau tidak membunuhku atau meracuni makananku bukankah itu lebih mudah bagimu untuk kau lalukan?” tanya Deokman.

“tentu saja semua itu muslihatku, aku ingin sekali membunuhmu, tapi tampaknya aku harus bersabar lagi untuk melakukan semua itu karena kau tidak berguna bagi perjuangan kami bila kau mati..”

“apa yang kau perjuangkan?” tanya Deokman penasaran. Tapi Jin Yi hanya menatap Deokman dengan pandangan mengejek.

“Kurasa cukup informasi yang kau dapat dariku untuk hari ini” katanya lalu bangkit berdiri hendak pergi meninggalkan Deokman.

“Tunggu!! Kau harus katakan padaku apa sebenarnya mau kalian? Apa yang kalian perjuangkan?” seru Deokman kesal. Jin Yi berdecak sebal dan menatap Deokman tajam.

“Mau kami adalah---“ jawab Jin Yi.

Minggu, 23 Januari 2011

Our Future Still Continue Chapter 76: A Letter from Bestfriend




Keesokan harinya.
Dini hari menjelang pagi.
Wilayah Wonju, Perbatasan Shilla-Goguryeo
Wolya memacu kudanya  cepat-cepat melewati kerumunan para prajurit yang sedang berperang. “slash..” ia menebas kepala salah seorang prajurit Goguryeo yang berusaha menyerangnya. “itu dia..” Wolya melihat barisan pelontar, dan ia tahu dimana ada pelontar  disitulah Seolji berada karena itu memang tugasnya. Ia pun memacu kudanya menuju pelonta itu. Dilihatnya Seolji sudah terkapar bersimbah darah di dekat pelontar  dengan pedang tertancap di dada kirinya “Seolji!!!” ia pun segera turun dari kudanya. Wolya merobek lengan bajunya lalu berusaha menahan pendarahan di dada Seolji dengan itu “siapa yang menyerangmu?!”  “ma..maafkan aku jen..deral..a..ku tak..berha..sil menga..lah..kan Eul..ji..” gumam Seolji putus-putus.  “Eulji?Eulji kah yang menyerangmu?”  “ia a..akan me..narik mundur..pasu…kannya …jen..deral harus mence..gahnya…per..gi..lah..keme..nangan a..ada di tan..ganmu..”  “bertahanlah Seolji!!” ujar Wolya. Ia meminta beberapa 2 orang prajurit membawa Seolji ke kemah untuk diobati.  Sebelum dibawa, Seolji menyerahkan pedangnya ke tangan Seolji. “ja..ngan pe..du..li..kan aku..ia..ber..kuda… mema..kai baju besi pe..rak..kejar…lah dia..kalah..kan di..a..”  Wolya pun menerima pedang itu dan mengangguk “akan kubunuh dia!!” Wolya pun menaiki kudanya.  “Eulji!” geramnya.

“heaa..”  Eulji menebas beberapa pasukan Shilla yang berusaha menjatuhkannya.  “pasukan mundur!!” serunya.  Salah satu prajurit berlari tersenggal-senggal menghadapnya “Panglima..barisan tengah…”  “shuut..jleb..jleb..”   2 anak panah  menancap di dada prajurit itu. Eulji menoleh melihat darimana anak panah itu berasal “sial..” gumamnya. Ia pun kembali memacu kudanya cepat-cepat.

“sial..meleset..” gumam Wolya. Hampir saja panahnya mengenai targetnya, namun justru  yang terkena malah prajurit biasa. Melihat sasarannya mencoba untuk kabur, ia pun memacu kudanya untuk mengejarnya. “tak akan kubiarkan kau mundur hidup-hidup Eulji..” geramnya. Ia pun mencoba melepaskan anak panahnya kembali. “kali ini tak akan meleset..”

“brengsek..ia benar-benar mengejarku..akan kubuat ia menyesal..” gumam Eulji  sambil menoleh ke belakang. Dilihatnya seseorang berusaha memanahnya. Ia pun merundukkan badannya dan semakin cepat memacu kudanya lalu memiringkan badannya ke bawah dan menjatuhkannya tepatdi saat kudanya terkena panah. 

“apakah aku berhasil mengenainya?” gumam Wolya. “heaa..” Ia memacu kudanya. “praak..” kudanya meringkik kesakitan karena kedua kaki depannya dijegal oleh batang tombak  dan Wolya pun terhempas ke depan. “haiik!!” Eulji berusaha menyerangnya dengan pedang, namun Wolya berhasil menghindar dengan  berguling ke samping, ia pun bangkit dan menghunuskan pedangnya. “heeaaaah!!”mereka pun mengeluarkan kemampun terbaik mereka masing-masing.

“traang!!”  kedua pedang mereka beradu di depan dada. “akan kuhancurkan kau dan negerimu….” geram Eulji. “itu tidak akan pernah terjadi…” geram Wolya.  Wolya mendorong pedangnya dengan sekuat tenaga kemudian membenturkan  kepalanya dengan kepala Eulji lalu menendangnya hingga ia jatuh ke tanah.  Eulji jatuh ke tanah, pedangnya terlepas dari tangannya, dahinya berdarah karena benturan tadi. Wolya mengangkat pedangnya tinggi-tinggi “akan kuakhiri pertempuran kali ini…tapi sebelumnya kuberitahu dirimu bahwa Shilla tidak pernah membuat rencana invansi..itu semua fitnah..ini untuk Seolji dan semua prajurit Shilla yang telah kau bunuh haiik..” Rupanya Eulji tidak kehabisan ide, ia meraup pasir dalam genggamannya lalu melemparkannya ke wajah Wolya.

“argh..” Wolya pun mengerang kesakitan, sambil berusaha membersihkan butiran pasir yang mengenai matanya. Eulji mengambil pedangnya dan bangun. “kali ini kau yang akan habis….aku tak peduli siapa yang memulai perang ini…tak peduli berapa banyak prajurityang mati, yang penting adalah kemenangan, hanya itu yang ada dalam pikiranku..dan sekarang kau yang akan mati..“ Wolya yang penglihatannya masih terganggu pun mencoba untuk bersiap menghadapi serangan. Eulji berjalan mengelilinginya seakan-akan sedang mengolok Wolya yang tidak bisa melihat. “maju kau!” seru  Wolya. “slash..” Eulji berhasil melukai bagian samping perut Wolya dengan tebasan pedangnya.   “ugh..” Wolya mencoba menahan sakitnya. “sombongnya dirimu..apakah kau masih sombong setelah ini…” Eulji pun kembali menorehkan luka di tubuh Wolya, kali ini bahu kiri Wolya.  “argh..” Wolya mengerang namun ia masih mencoba kembali ke posisi siap dengan pedang di tangannya “aku masih bisa menghadapimu..maju!!” Kali ini Eulji dengan kedua tangannya,  mengangkatpedangnya ke samping kepalanya dan mengarahkan ujungnya ke arah punggung  Wolya.Ia ingin mengakhiri pertempuran ini sebelum matahari terbit. “mati kau!!” ia berlari ke arah Wolya untuk menikamnya dari belakang. “jleeb..”

“pojokkan mereka!!pertahankan formasi..” seru Deok Chung sambil  menebas pedangnya menghadapi prajurit Goguryeo di hadapannya. Salah seorang prajurit yang belepotan dengan darahdan lumpur  berlari dengan tergopoh-gopoh menghadapnya  “Jenderal, Jenderal Jo Kwon terbunuh..pertahanan kami di sisi timur berhasil ditembus..Goguryeo berusaha untuk mundur..”  “apa?!” ia pun mengikuti kemana prajurit itu menunjukkan jalan. “bentuk formasi bulan sabit…jangan sampai mereka kabur!!” seru Deok Chung.  Para pasukan Shilla berperisai menahan laju prajurit Goguryeo bergantian dengan prajurit bertombak yang bertugas menyerang.  Namun rupanya pasukan Goguryeo tak kunjung menyerah, meskipun sudah terpojok tetap saja jumlah mereka lebih banyak  dari Shilla dan itu yang memacu semangat mereka untuk tetap maju. Dengan suara paraunya, Deok Chung pun berusaha menyemangati prajuritnya “ke..kerahkan…”  “KERAHKAN SEMANGAT KALIAN!!DEMI SHILLA YANG BESAR!!PANGLIMA GOGURYEO SUDAH TERBUNUH!!” Deok Chung menoleh ke belakangnya rupanya Wolya  berteriak di belakangnya. Beberapa prajurit bersama-sama mengoper dan melemparkan jasad  Eulji  ke tengah-tengah  pasukan Goguyeo.   “bruukk..” Pasukan Goguryeo pun terkejut melihat mayat itu “Panglima!!” seru mereka.  Wolya pun  memanfaatkan itu untuk memberikan komando.Komando guna memastikan kemenangan Shilla “pasukan berperisai, tombak maju!!pasukan pemanah siap menembak!!” serunya. 

 Pagi hari
Benteng Bulcheon, Kota Taejon, Shilla.
“braak!!” Bi Dam menebaskan pedangnya dengan sekuat tenaga menghancurkan tiang kayu di hadapannya. Tiang kayu yang cukup tebal itu berhasil dibelahnya menjadi dua.  “hah..hah..” peluhnya membanjiri wajah dan badannya. Pagi-pagi buta ia sudah mulai melakukan latihan fisik. Latihan fisik untuk misinya yang tertunda.  Entah itu sudah tiang keberapa puluhkah yang ia hancurkan sejak pagi tadi. Puing-puing kayu berserakan di lapangan latihan. “hei..kau tak bisa sembarangan memasukki benteng ini…” terdengar suara ribut-ribut dari arah gerbang. Bi Dam menyarungkan pedangnya dan berjalan menuju gerbang. Dilihatnya dari kejauhan sosok 2 pria berbaju compang camping bercaping yang sedang bertengkar dengan prajurit penjaga. “rasanya aku tak asing dengan yang gemuk..” pikir Bi Dam sambil menatap pria gemuk berbaju compang-camping itu. “izinkan kami masuk…dan kami akan menunjukkan identitas kami..” seru pria gendut itu. Namun prajurit itu justru mendorongnya “tidaaak bisa!!kalian siapa bisa masuk sini seenaknnya?!!” pria gendut itu pun emosi, lalu pria di sebelahnya yang dari tadi hanya diam menundukkan kepala, mencegahnya “sudahlah..lebih baik kita tunggu Baek Ui dan Yesung saja ke sini…”  Bi Dam melihat sekilas wajah pria itu dan mengenali suaranya. “Pengawal!! izinkan mereka masuk!!” serunya.

Istana Taiji, Kekaisaran Tang.
Wajah Kaisar Taizong nampak gusar begitu membaca surat yang dipegangnya. Surat dengan stempel Kerajaan Shilla. “sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi di Tanah Han?”  tanyanya kepada seluruh pejabat yang hadir di situ. Salah seorang pejabat mengatupkan kedua tangannya ke depan kepalanya dengan kepala tertunduk “maafkan hamba Yang Mulia, sebenarnya akan terjadi perang besar di wilayah Han…” “apa?” Kaisar Taizong terkejut mendengarnya. “i..iya Yang Mulia..seharusnya ini hanya akan menjadi perang biasa antar 2 kerajaan..namun secara tak terduga sekarang 3 kerajaan akan terlibat perang besar…” “tunggu..jadi maksudmu Shilla, Goguryeo, dan Baekje sedang terlibat perang?jelaskan semua padaku!” tanya Kaisar Taizong. Pejabat itu dengan takut-takut menjelaskan semua yang ia ketahui, karena memang tugasnya untuk mengurus masalah diplomatik dan hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain.  Kaisar Taizong nampak murka mendengar semua laporan itu. “bagaimana bisa aku tertinggal informasi seperti ini?!!”   “maafkan hamba Yang Mulia….hanya saja hamba pikir Yang Mulia tidak ingin mengurusi masalah semacam ini…Tang memang mempunya kerjasama ekonomi dengan salah satu kerajaan tetapi sesuai keputusan almarhum Yang Mulia Kaisar Gaozong ….” “Penasihat Zhuge Liang!! jelaskan padaku hubungan kerjasama  Tang dengan 3 Han!!” seru Kaisar Taizong memotong pembicaraan. “baik Yang Mulia…” jawab Zhuge Liang sambil memberi hormat. “saya akan memulainya dari Goguryeo…karena Tang dianggap sama seperti dinasti Han, dari awal sampai beberapa periode sebelumnya, Goguryeo tak pernah menunjukkan itikad damai dengan Tang dan terus menerus berusaha menyerang Tang dengan peperangan dan akhir-akhir ini  dengan memutus jalur perdagangan asing dari wilayah Utara..bahkan menyerang pedagang-pedagang dari Tang yang melintas di  wilayah netral… lalu Baekje, sedikit lebih baik daripada Goguryeo, namun mereka pernah berusaha menipu dengan memanipulasi perdagangan mereka…bahkan ada kabar beredar bahwa belum lama ini mereka mencuri persenjataan Tang dari kapal Tang..“  Beberapa pejabat pertahanan yang hadir di situ nampak panik dan tegang mendengarnya. “dan yang terakhir Shilla…kerajaan terkecil dan terjauh di antara semuanya…mungkin karena sebagai yang terkecil, Shilla tidak berani bermusuhan dengan Tang…awalnya hubungan diplomatik kita hanya terbatas pada perdagangan di era Raja Jinheung.. kemudian semakin berkembang, di era Raja Jinpyeong lalu ditambah dengan pertukaran pelajar  dari Shilla untuk mempelajari agama Buddha dan astronomi di sini …dan itu semakin berkembang di zaman Ratu Seondeok, dimana agama Buddha resmi dijadikan sebagai agama negara…di awal pemerintahannya, Shilla dan Tang akhirnya sepakat untuk beraliansi… perdagangan berkembang dari tak hanya dari hasil pertanian, namun juga hasil pertambangan, tak hanya itu Tang juga mengadakan kerjasama di bidang pertahanan guna melindungi jalur perdagangan…tapi itu semua hampir terputus total karena adanya insiden , yang menurut hamba pribadi adalah sebuah kesalahpahaman…yang kemudian menyebabkan almarhum  Yang Mulia Kaisar Gaozong murka dan memutuskan hubungan aliansi dengan Shilla…karena terdesak oleh kebutuhan, hanya kerjasama perdagangan saja yang tidak diputus…namun itu pun juga dibatasi…hanya itu yang bisa saya sampaikan Yang Mulia.. ” ujar Zhuge Liang. “lalu bagaimana menurut pandanganmu mengenai masalah 3 Han ini dan pengaruhnya bagi Tang?” Zhuge Liang terdiam sejenak sebelum ia akhirnya menjawab  “menurut saya perang ini akan menentukan siapa yang akan mendominasi Tanah Han ini kelak…tentu kerugian bagi Tang bisa saja terjadi jika ternyata yang memenangi itu adalah kerajaan yang tidak bersahabat…meskipun sekarang tak ada satu pun dari kerajaan itu yang benar-benar bersahabat, namun Yang Mulia harus waspada dengan kerajaan mana yang benar-benar tidak bersahabat,  terlebih lagi dengan adanya campur tangan Kerajaan Wa di sini..seperti yang Yang Mulia ketahui  Kerajaan Wa belum lama ini menyerang Tang..saya takut jika Wa benar-benar sudah menancapkan pengaruhnya di Tanah Han..”  Kaisar Taizong terdiam mendengarkan ucapan penasihatnya itu. Pikirannya kembali melayang ke masa lalu saat dirinya masih dikenal sebagai Putra Mahkota Li Shimin “tak kusangkan kau akan mewakili kerajaanmu untuk menandatangani nota aliansi dengan ayahku...mungkin di periode mendatang, aku akan mendengar namamu sebagai raja besar…kurasa pendapat Guru Lei bahwa kalau urusan militer aku memang di atasmu, namun tidak dengan politik… ” ujar Pangeran Li Shimnin.  Chuncu hanya tertawa kecil mendengarnya. “Pangeran terlalu membesar-besarkan…” Li Shinmin menghela napas dengan dirinya dipanggil pangeran oleh sahabat dekatnya itu “cara bicaramu berubah sejak kau kembali ke sana…padahal kau dulu selalu berteriak-teriak memanggil namaku setiap aku berbuat jahil…” “tetapi persahabatan ini tak akan berubah Pangeran…saya harap ketika Pangeran sudah menjadi Kaisar, Pangeran tetap sudi menjadi sahabat saya…” Li Shinmin tersenyum  “kelak jika kita sudah menjadi Raja, aku ingin kita bertemu dan duduk minum teh seperti ini sebagai sahabat lama entah itu di istanamu atau di istanaku..kau harus berjanji itu..”  Chuncu terseyum mengangguk “ya Pangeran…” Kaisar Taizong pun tersadar dari lamunannya itu.  “Penasihat Zhuge Liang adakan pertemuan militer sekarang!!” serunya.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam
“oaa..oaa…” Deok Man berusaha menghentikan tangis Yoo Na yang sedang digendongnya. “anak manis..jangan menangis..” gumamnya sambil menimang-nimang putrinya itu. “drap…drap..” terdengar derap kaki berlari di luar. “sraaak..” pintu kamar tergeser. “Deok Man…hosh..hosh…” “Bi Dam?ada apa?kenapa kau panik seperti itu?kenapa kau membawa pedang?” tanya Deok Man. Bi Dam berlari menghampirinya, lalu mengambil Yun Ho yang sudah tertidur dari tempat tidurnya. “kalian harus berlindung sekarang…” ujarnya. Deok Man pun bingung “berlindung? Memangnya ada apa?”  “tolong..tolong..” terdengar suara teriakan yang sepertinya berasal dari dari luar. Wajah Bi Dam pun semakin panik “waktu kita tidak banyak…” Bi Dam menarik tangan istrinya kemudian berlari menuju halaman samping rumah mereka.   Deok Man bisa melihat asap membumbung tinggi di luar. “Bi Dam sebenarnya ada apa?” tanyanya. Namun suaminya hanya diam saja. Mereka berlari  keluar dari gerbang. “lewat sini..aku akan membawamu ke tempat persembunyian Raja…”  ujar Bi Dam.  Deok Man melihat beberapa mayat bergelimpangan di jalan. “apakah sekarang sedang terjadi perang?” pikirnya. “hei berhenti kalian!!” beberapa prajurit mengejar mereka dari belakang. Bi Dam dan Deok Man terus berlari. “itu mereka!!” ternyata beberapa prajurit sudah menanti mereka di ujung jalan dan mengejar mereka. Bi Dam menyerahkan Yun Ho ke dalam gendongan istrinya “Deok Man, kau dan anak-anak…ikuti jalan setapak ini dan pergilah ke kuil Istana..dari sana Yang Mulia akan berangkat ke tempat persembunyiannya..aku akan membereskan mereka..”  “lalu kau?” tanya Deok Man.”aku akan menyusul..aku janji..larilah cepat..” ujar Bi Dam. Deok Man pun segera berlari sambil menggendong kedua anaknya sementara suaminya menghadapi gerombolan prajurit itu. “Bi Dam..” gumam Deok Man sambil menoleh ke belakang, namun yang terlihat hanya bayangan prajurit yang sudah mengepung suaminya. Sambil menahan air matanya dan segala kebingungannya,  Deok Man berlari melewati jalan setapak di tengah hutan. “tangkap wanita itu..” terdengar suara jauh. Deok Man pun semakin mempercepat langkah kakinya. Bukan karena ia takut akan keselamatan nyawanya, namun karena ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kedua anaknya. Namun ternyata di tengah jalan, sebaris pasukan sudah menantinya. Deok Man mencoba untuk mundur namun di belakang, para pengejarnya juga sudah menantinya. Mereka semua membentuk lingkaran, mengepung Deok Man. “sampai di sini saja pelarianmu Tuan Putri..” Seorang laki-laki berpakaian besi hitam berjalan masuk memasukki lingkaran. “mau apa kalian?” seru Deok Man. “tangkap dia…” perintah pria itu. Beberapa orang prajurit dari belakang, menahan bahu dan dan lengan Deok Man serta mengambil paksa Yun Ho dan Yoo Na dari gendongan ibunya. Mereka berdua pun menangis keras “jangan kau sakiti mereka...tolong..jangan sakiti mereka..” teriak Deok Man. Air mata mengalir deras membanjiri pipinya. Prajurit yang membawa Yun Ho bertanya pada tuannya “Jenderal apakah bayi ini..” “singkirkan mereka di luar…” jawab Jenderal itu dingin. Para prajurit itu membawa Yun Ho dan Yoo Na yang menangis, keluar dari lingkaran. “tidaakk!!!jangan!!!kalian boleh sakiti aku tapi jangan mereka…” teriak Deok Man histeris sambil meronta-meronta. “sraat..” terdengar suara tebasan pedang lalu suara tangisan si kembar pun tak terdengar lagi. “tidaakkk!!!” teriak Deok Man histeris.

“Tuan Putri..Tuan Putri…sadarlah…” Shin Ae berusaha membangunkan Deok Man yang sejak tadi mengigau. “Yun Ho!Yoo Na!” Deok Man pun terbangun. “ternyata itu cuma mimpi..” gumam Deok Man sambil mengusap dadanya yang berdebar keras. “mereka pasti baik-baik saja sekarang…” ujarnya menenangkan diri. Shin Ae mengambilkan segelas air untuknya. “Tuan Putri minumlah..” Deok Man menerima gelas itu lalu meminumnya. Shin Ae menyentuh kening Deok Man dengan punggung tanganya. “syukurlah panasnya sudah turun..” ujarnya lega. “a..aku demam?” tanya Deok Man. “i..iya..Tuan Putri kemarin jatuh pingsan di lantai…dan malamnya Tuan Putri demam…tabib bilang Tuan Putri kelelahan dan kurang gizi sehingga jatuh sakit…” jawab Shin Ae.  Setelah membereskan baskom dan kompres yang tadi digunakan, Shin Ae menyiapkan semangkuk bubur dan segelas teh hangat untuk Deok Man . “tabib meminta agar Tuan Putri menghabiskan bubur ini agar Tuan Putri cepat sembuh..”ujar Shin Ae sambil meletakkan meja makan kecil di atas tempat tidur Deok Man. Deok Man tersenyum lemah “terima kasih Shin Ae..” lalu mulai menyantap bubur itu sampai habis. “terima kasih Shin Ae karena sudah merawatku dengan baik..” ujar Deok Man lemah. Shin Ae hanya tersenyum mengangguk. Deok Man kembali terdiam, angannya kembali memikirkan apa yang dimimpikannya tadi. “Tuan Putri, jika boleh saya tahu…siapakah Yun Ho dan Yoo Na?Tuan Putri terus menerus menyebutnya sepanjang malam…apakah mereka anggota keluarga Tuan Putri?saudara?” tanya Shin Ae. Deok Man hanya terdiam dengan pandangan kosong. Shin Ae pun mengurungkan niatnya untuk menanyakannya lagi. “mereka berdua adalah anak-anakku…” jawab Deok Man sambil menghapus air matanya yang meleleh. Shin Ae nampak terkejut mendengarnya “Tu..Tuan Putri sudah memiliki anak?kalau begitu yang Tuan Putri panggil Bi Dam itu….”  Deok Man mengangguk “ya..dia suamiku..”

Benteng Bulcheon, Kota Taejon, Shilla.
Di dalam ruangannya Bi Dam menjelaskan semuanya mengenai apa yang terjadi pada Deok Man kepada Yushin. Yushin pun terkejut mendengarnya “jadi Tuan Putri berada di Hwangsanbeol sekarang?” “begitulah..dari informasi yang Alcheon dapat dan dari cerita yang kudengar dari Baek Ui..sepertinya ia memang berada di sana..” jawab Bi Dam. “lalu apa kau sudah membuat rencana untuk menyelamatkan Tuan Putri?” tanya Yushin. “itulah yang ingin aku bicarakan denganmu..Alcheon memintaku untuk menunggumu dan membicarakan ini bersama-sama…”

Siang hari.
Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
Daemusin sedang menulis di atas meja kerjanya “apakah kondisinya sudah membaik?” “sudah Tuan..kondisinya sudah membaik..” jawab Shin Ae yang berdiri di depan Daemusin.  “Tuan…jika invansi in sudah selesai..apa rencana Tuan terhadap Tuan Putri?ia mempunyai anak dan keluarga..apakah tidak sebaiknya ia…” “Shin Ae..” Daemusin memotong pembicaraan. “ya Tuan?” sahut Shin Ae. Daemusin menghentikan kegiatannya sejenak “bisakah kita membicarakan ini nanti..ada hal penting yang harus kukerjakan sekarang..”. Shin Ae mengangguk “ba..baik Tuan..saya akan keluar..” lalu memberi hormat kepada Daemusin. “sraaak..” Shin Ae keluar dari ruang kerja Daemusin. “Tuan..apakah kau punya rencana lain padanya?” pikirnya sambil bersandar di tembok. “Shin Ae panggilkan tabib!!” seru Daemusin sambil menggendong Deok Man yang terkulai tak sadarkan diri. “i..iya..” jawab Shin Ae yang juga panik. Daemusin dengan pelan-pelan meletakkan Deok Man di atas tempat tidurnya, kemudian memeriksa nadi dan suhu badannya dengan seksama. Ini pertama kalinya Shin Ae melihat Daemusin begitu peduli pada orang lain, apalagi orang yang konon adalah musuh negaranya.

Ruang kerja Raja, Istana Ingang,Shilla.
“Kepala Pengawal Baek Jong mohon menghadap Yang Mulia…” seru Baek Jong dari balik pintu. “masuklah..” jawab Yang Mulia Raja. Baek Jong melangkah masuk dengan cepat. Ia sudah tak sabar menyampaikan berita yang diterimanya. Ia pun memberi hormat kepada Yang Mulia Raja dan para pejabat yang hadir di situ. “Yang Mulia, Jenderal Wolya berhasil mengalahkan Goguryeo dan mengusir mereka keluar dari perbatasan…” ujarnya. “benarkah?” tanya Yang Mulia Raja dengan wajah gembira penuh syukur. Baek Jong mengangguk “ya Yang Mulia..hamba baru saja menerima kabar itu..” Para pejabat yang hadir di situ ikut senang. “hamba mengucapkan selamat untuk Yang Mulia..” ujar Kim Yong Chun. “Jenderal Wolya untuk sementara akan menetap di sana untuk memastikan bahwa Goguryeo tak akan menyerang lagi…oleh karena itu ia meminta tambahan tabib, persediaan pangan dan obat-obatan untuk para prajurit…” ujar Jenderal Baek Jong. “izinkan saya yang mengurusnya Yang Mulia..” ujar Kim Seo Hyun. Yang Mulia Raja mengangguk. “berarti fokus kita hanya tinggal satu sekarang..Baekje..” gumam Yang Mulia Raja.

Istana Pyongyang, Goguryeo.
Suasana sunyi senyap di dalam ruang kerja kementrian, semua pejabat tidak percaya dengan hasil kekalahan yang memalukan ini. “berapa jumlah pasukan yang tersisa?” tanya Yeon Gaesomun dengan nada kesal. “hanya tersisa 9.000 Tuan…” jawab salah satu pejabat. Salah seorang pejabat yang lain dengan takut-takut bertanya “maaf Tuan, pasukan Wa yang Tuan janjikan itu apakah..” “Diam!!jangan bahas itu lagi…yang penting sekarang kita harus membangun armada militer lagi..laksanakan!!!”  bentak Yeon Gaesomun. “ba..baik Tuan..” jawab para pejabat sambil memulai pekerjaan mereka.

Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
“hiaa..hiaa…” dari pelataran  atas, Deok Man memperhatikan para prajurit yang berjumlah ribuan sedang berlatih. “inikah 60.000 prajurit yang menyerang Shilla?” gumam Deok Man. “ini pemandangan yang sangat luar biasa bukan?” ujar Daemusin yang sekarang berdiri di sisinya.  “apakah tak ada cara lain untuk menghentikan perang ini?” gumam Deok Man. Daemusin menoleh. Deok Man menoleh menatap Daemusin “apa yang harus kulakukan untuk menghentikanmu dan melindungi negeriku?”  

Sabtu, 22 Januari 2011

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 25

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 25

Scene : DEOKMAN’S MISSING

Hari sudah mulai siang, sementara Deokman masih sibuk menulis laporan, kemudian pintu kantornya terbuka “sreek” yang datang ternyata Xiou Lie, Deokman heran dan terkejut.

“apa yang kau lakukan disini?” tanya Deokman sinis pada Xiou Lie yang masuk dengan menunduk merasa bersalah.

“saya harus kemari dan berbicara dengan nyonya, saya mendengar nyonya bertengkar dengan tuan karena saya, saya harus menjelaskannya” jelas Xiou Lie.

“apa tuan Sangdaedung yang menyuruhmu?” selidik Deokman.

“tidak, ini kemauan saya sendiri karena saya merasa bersalah pada nyonya dan tuan. Nyonya, tuduhan nyonya pada tuan tidak benar, tuan tidak seperti yang nyonya pikirkan. Semua adalah salah saya, saya terlalu ceroboh dan saya tidak bisa menahan diri saya karena saya menyukai tuan padahal tuan dan nyonya begitu baik. Saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan pergi dari sini tapi sebelumnya saya harus menjelaskannya pada nyonya. Apa nyonya memaafkan kelancangan saya, saya memang patut dihukum. Saya benar-benar minta maaf, tuan begitu baik tapi saya salah mengartikannya. Saya tidak tahu harus berkata apa lagi? Nyonya maafkanlah tuan, saya yang salah” jelas Xiou Lie sambil terisak-isak. Deokman terhenyak mendengar penjelasan Xiou Lie, jadi ia telah salah paham pada Bidam.

‘tentu saja Bidam tidak mungkin menghianati aku, dia mencintaiku tulus.. aku saja yang terlalu berlebihan’ pikir Deokman hatinya gembira sekaligus menyesal.

“tentu saja aku maafkan mu Xiou Lie, tapi kau sudah lancang berlaku demikian, aku bertengkar dengan Tuan Sangdaedung karenamu. Kau juga harus menjelaskan pada Tuan mengapa kau melakukan ini semua. Ayo ikut aku!” ajak Deokman.


Deokman segera menuju kantor Bidam tapi menurut pengawal Bidam masih ada rapat dengan Yang Mulia.

“maaf nyonya.. kalo boleh saya menyarankan, lebih baik nyonya dan tuan membicarakan di rumah saja karena ini kan masalah pribadi dan saya merasa sangat malu bila harus menjelaskannya disini” saran Xiou Lie.

“ya.. sebaiknya kita membicarakan di rumah saja, baiklah! Ayo kita pulang.. aku harus menyiapkan kejutan padanya sebagai tanda minta maaf dariku” kata Deokman tersenyum.

Setelah menitipkan pesan pada pengawal bahwa Deokman akan menunggu Bidam di rumah maka Deokman dan Xiou Lie keluar dari istana dan berjalan pulang.

Di tengah jalan, Xiou Lie menyarankan agar Deokman membeli hadiah kecil untuk Bidam dan Xiou Lie juga akan membeli sesuatu sebagai kenang-kenangan untuk keluarga Bidam. Deokman menurut dan turun di pasar yang dilaluinya, Xiou Lie dengan ceria memilih beberapa barang-barang berupa souvenir dan Deokman tertarik untuk membeli konde rambut untuk Bidam selagi asyik memilih Deokman tidak menyadari bahwa Xiou Lie menghilang.

“itu konde yang bagus, kalau aku jadi kau, aku akan memilih itu” kata seorang wanita seusianya yang mempunyai penampilan baik seperti putri bangsawan umumnya.

“benarkah.. ini untuk suamiku, baik.. aku akan membelinya terima kasih” kata Deokman tersenyum lalu dirasakannya sesuatu yang tajam menusuk perutnya pelan. Deokman terkejut dan melihat ke bawah dan dilihatnya sebuah belati panjang ditodongkan ke perutnya.

“nyonya, sebaiknya anda menuruti perintahku untuk tidak berteriak dan mengikutiku, anda tidak mau bukan pisau ini merobek perut anda dan janin dalam kandungan nyonya ikut terluka” kata wanita itu dengan senyum yang manis tapi mematikan. Deokman mengangguk tidak berkutik dan matanya berusaha menangkap sosok Xiou Lie atau pengawalnya untuk minta pertolongan tapi Xiou Lie tidak kelihatan dan pengawalnya sekarang berada di ujung gang, Deokman tidak habis pikir ia berjalan sejauh itu menjauhi tandunya karena keasyikan melihat beberapa barang.

“ayo nyonya cepatlah jalan, maju ke depan lalu berbeloklah ke gang sebelah kanan” perintah wanita itu halus sekarang tangannya merangkul pinggang Deokman bagaikan dua sahabat yang berjalan berpelukan sedang tangan satunya tetap menodongkan belati, ujung belati mengenai perut Deokman sedikit dan terasa agak perih, takut tusukannya lebih dalam dan melukai perutnya lebih baik ia menurut.

“apa yang kau inginkan? Katakan padaku mungkin aku bisa memberikannya” kata Deokman nadanya berusaha tegar.

“ikuti saja aku, nanti aku akan memberitahukanmu apa yang aku inginkan” jawabnya.

Akhirnya mereka belok ke kanan gang dan terus berjalan menyusuri gang yang agak sempit dan sepi lalu langkahnya terhenti di sebuah gerbang kayu kusam kecil.

“ini aku!” teriaknya dari luar kemudian pintu gerbang terbuka, Deokman dipaksa masuk.

Setelah masuk dilihatnya sekitar 6 orang pria berpakaian pengawal yang wajahnya ditutupi sehingga Deokman tidak bisa mengenalinya, tanpa basa-basi wanita itu mendorongnya lalu salah satu pengawal dengan cepat membiusnya dengan sapu tangan, Deokman kontan pingsan tapi ia masih merasakan tubuhnya dimasukkan ke dalam tandu dan sayup-sayup mendengar sebuah suara wanita yang dikenalnya berkata

“bagus sekali, sekarang bawa dia!”

“xiou lie..”gumam Deokman tak jelas lalu semuanya gelap.


Scene : DEOKMAN, WHERE ARE YOU?


Bidam sudah meyelesaikan rapatnya dan sekarang ia akan menemui Deokman tapi Deokman tidak ada di kantornya, kemudian ia menerima pesan dari pengawal istana bahwa Deokman sudah pulang terlebih dahulu dari siang tadi bersama seorang wanita yang berpakaian seperti pelayan dan menunggu Sangdaedung di rumah. Bidam senang karena kemungkinan Deokman tidak marah lagi dengannya dengan segera ia menaiki kudanya dan pulang menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, Bidam segera mencari Deokman di kamarnya tapi tidak ada…

“dimana nyonya? Apa dia sudah pulang?” tanyanya pada Pelayan Ma.

“belum tuan Sangdaedung, saya tidak melihat nyonya pulang”jawab Pelayan Ma.

“lalu Xiou Lie?”

“dia juga belum datang dari pagi tadi, saya menunggunya lama. Anak itu jadi merepotkan begini. Apa tuan mau makan?”

“tidak, aku akan menunggu istriku... lalu kenapa Xiou Lie juga belum datang, apa dia kabur?” tanya Bidam, lalu diingatnya kata pengawal tadi kalau Deokman pulang bersama seorang wanita berpakaian pelayan, apakah itu Xiou Lie? Pikir Bidam bertanya-tanya.

Setelah mandi dan makan beberapa makanan kecil, Bidam menunggu Deokman dengan gelisah di halaman depan. Sampai hari menjelang malam tapi tidak ada tanda-tanda Deokman pulang, Bidam makin gelisah, lalu akhirnya berubah jadi kepanikan ketika para pengawal tandu Deokman tiba di rumah mengatakan bahwa tadi Deokman bersama Xiou Lie turun di pasar untuk membeli sesuatu tapi setelah lama menunggu Deokman tidak kunjung kembali akhirnya mereka mencarinya di sekitar pasar tapi tidak menemukan Deokman dan Xiou Lie.

“Pengawal.. cari Tuan Putri ke rumah tabib Young Ae, siapa tahu dia ada disana. Aku akan mencarinya di istana sekarang juga. Beri kabar secepatnya kalau kau menemukannya, mengerti?” perintah Bidam. Lalu dengan cepat Bidam berkuda menuju istana. Sesampainya di istana Bidam mencari Deokman keseluruh pelosok istana tapi hasilnya nihil. Ia meminta tolong Alcheon untuk mencarinya juga...

“tidak biasanya Tuan Putri seperti ini, apa ada masalah?” tanya Alcheon gusar melihat Bidam panik luar biasa mencari Deokman.

“tadi pagi aku sedikit bertengkar dengannya dan pengawal mengatakan ia menghilang di pasar? Aku sangat mengkhawatirkannya apalagi dia sedang mengandung” kata Bidam gemetar.

“sebaiknya Sangdaedung menunggunya di rumah, siapa tahu ia kembali setelah menenangkan diri lagipula Tuan Putri ditemani oleh seorang pelayan kan? Jadi Sangdaedung tidak perlu khawatir, walaupun kupikir ini diluar kebiasaan Tuan Putri yang memperlarut masalah” saran Alcheon.

“ya..kau benar, mungkin Tuan Putri hanya menenangkan diri, aku saja yang panik berlebihan. Nanti pasti ia pulang kembali” kata Bidam menghibur dirinya sendiri walau hati kecilnya berkata Deokman bukan tipe orang yang suka membuat masalah berlarut-larut tapi ia lebih menyukai agar semua masalah diselesaikan secepat mungkin.

“memangnya kalian bertengkar tentang apa? Sampai Tuan Putri marah begitu?” tanya Alcheon.

“ah.. sudahlah..kalau ada kabar tolong beritahukan aku secepatnya” jawab Bidam menghindar. Alcheon mengiyakan, Bidam pun meninggalkan istana.

Keesokan harinya, Deokman belum kembali. Bidam tertidur di halaman depan menunggu Deokman, Pelayan Ma membangunkannya dan Bidam segera pergi ke istana untuk meminta beberapa orang untuk mencari Deokman.

“apa..! Tuan Putri Deokman menghilang sejak kemarin siang” kata Yang Mulia Chunchu terkejut ketika Alcheon melaporkannya.

“ya, Sangdaedung Bidam telah meminta beberapa orang untuk mencari Tuan Putri Deokman” jawab Alcheon.

“kalau perlu kerahkan pasukan kita untuk mencarinya ke seluruh soerabeol, Tuan Putri harus ditemukan!” perintah Chunchu yang juga khawatir.

Mereka hanya mendapatkan petunjuk terakhir ketika Deokman menghilang yaitu ketika seorang pedagang asesoris mengatakan bahwa ia melihat Tuan Putri pergi bersama seorang wanita berpakaian seperti putri bangsawan dan wanita berpakaian pelayan mengikutinya dari jauh. Pencarian berhenti kala mereka menemukan rumah yang dijadikan tempat Deokman dimasukkan ke dalam tandu setelah itu nihil, tidak ada petunjuk lain.

Sampai hari berganti malam, pencarian terhadap Deokman terus berlangsung di seluruh soerabeol, rumah-rumah penduduk diperiksa tapi tidak berhasil. Bidam sudah seperti orang linglung dan raut mukanya jelas sangat kusut.


Malam hari ketiga…

AARRGHH… Bidam menjerit sekeras mungkin di pelataran depan rumahnya, air matanya menetes karena binggung, cemas, khawatir, takut dan rindu pada Deokman, karena Deokman menghilang, belum kembali, dan tidak ada kabar berita sama sekali.

“kau ada dimana Deokman..? apa yang terjadi padamu? Aku tidak sanggup membayangkan.. baru 3 hari tidak ada kau disisiku tanpa tahu bagaimana keadaanmu, aku jadi gila. Deokman..” gumam Bidam

“Deokman..DEOKMANKU!!!..”teriak Bidam memanggil nama Deokman, lalu duduk bersandar di tembok pelataran depan rumahnya sambil menangis kemudian menengadah ke atas

“Tuhan.. beri petunjuk dimana istriku berada, jagalah dia.. aku tidak sanggup hidup tanpa dirinya” diusapnya cincin dijarinya lalu dikecupnya sambil terisak.


Scene : THE KIDNAPPER

Siang hari ke empat..

Di sebuah hutan yang rimbun terdapat satu pondokan yang sudah tua dan tidak terawat, dengan tangan terikat dan mata ditutup, Deokman duduk terikat di sebuah kursi kayu menghadap sebuah meja. Beberapa hari ini ia sangat pusing, lemah dan lapar sekali, walaupun mereka memberi makan sesekali tapi tetap saja mereka membius Deokman lagi agar tetap diam. Kemudian Deokman samar-samar ia mendengar suara yang dikenalnya, Deokman memutuskan untuk pura-pura masih pingsan agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, ternyata percakapan antar 2 orang wanita…

“kau sudah mengirim orang untuk menyampaikan pesan?”

“sudah..bila sesuai rencana besok malam pesannya akan sampai di rumah Sangdaedung Shilla”

“bagus..kau sudah menyampaikan pada kurirmu kalau tertangkap dia harus mati”

“ya tenang saja, kurirku bisa dipercaya, dia tidak akan tertangkap dengan mudah”

“kau jangan meremehkan orang.. sudah kubilang Sangdaedung ini berilmu tinggi, salah satu yang terbaik di seluruh Han”

Deokman sedikit tersenyum kecil kala mereka memuji Bidam.

“Baiklah, sekarang kau lihat dia, apa sudah siuman belum, biarkan dia sadar kukira sudah waktunya kita memperkenalkan diri”

Deokman merasa salah satu dari mereka mendekat dan membuka penutup matanya, Deokman mengerjapkan matanya sedikit agar bisa menyesuaikan dengan cahaya dalam ruangan itu. Saat matanya sudah terbiasa lalu memandang ke hadapannya dilihatnya sosok penculik yang ternyata sangat dikenalnya…

“Xiou Lie..kau..kau” kata Deokman terkejut lalu melihat sosok wanita yang disebelah Xiou Lie yaitu wanita yang menculiknya kini mereka berpakaian mirip dengan wonhwa berwarna merah hanya rambut mereka terurai dengan ikat kepala dengan warna yang sama dengan pakaiannya.

“Kau.. kenapa.. apa yang terjadi?” tanya Deokman terkejut.

“Tenanglah Tuan Putri Shilla, akan aku jelaskan padamu nanti, sebaiknya kau makan dulu, kami masih membutuhkanmu dalam keadaan sehat lagipula kau kan sedang mengandung tentunya kau butuh makanan” kata Xiou Lie lembut tapi sinis. Deokman memang merasa lapar dan lemah, ia perlu makanan untuk dirinya dan bayinya.

“Bu Yong, lepaskan ikatannya biarkan dia makan dulu, dia tidak berguna kalau mati” perintah Xiou Lie pada wanita itu yang ternyata namanya Bu Yong.

Deokman langsung menyantap makanannya dengan lahap tanpa malu-malu, karena ia memerlukan kekuatan untuk dia dan bayinya jika ada kesempatan untuk melarikan diri. Xiou Lie dan Bu Yong melihat Deokman dengan sinis lalu meninggalkan Deokman dan digantikan oleh beberapa penjaga.

Malam hari keempat…

Deokman merasa tidak berdaya dan menyesal terhadap Bidam, juga kesal karena ia tidak membawa soeyobedo. Dan juga ia baru menyadari bahwa gelang pemberian Bidam sudah tidak ada lagi di tangannya.

‘Bidam pasti sangat mengkhawatirkan aku, apa yang sedang ayahmu lakukan sekarang?” gumam Deokman sambil mengelus perutnya seolah bicara dengan janin yang dikandungnya.

“ibu tidak tahu apa yang terjadi, tapi ibu yakin semua akan baik-baik saja.. besok bila orang-orang itu datang, ibu akan menanyakannya---apa mau mereka sebenarnya dan ayahmu pasti menyelamatkan kita---pasti…bersabarlah---beri ibu kekuatan, kau dan ibu harus kuat dan bertahan…Oh.. ibu sangat merindukan ayahmu.. rasanya nyaman sekali berada dalam pelukannya”gumam Deokman sambil meneteskan air mata mengingat Bidam.