Pages

Jumat, 21 Mei 2010

Chapter 21: Are you alright, Bidam?

Keesokan harinya. Wonsan.
Bi Dam, Wolya, dan Godo bangun pagi-pagi buta dan bersiap-siap berangkat. "semua sudah siap?"tanya Bi Dam. Wolya dan Godo mengangguk. Bi Dam menaiki kudanya "bagus.. kita berangkat sekarang.." Wolya dan Godo juga menaiki kuda mereka masing-masing. Lalu mereka bersama-sama berangkat ke Kowon.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Deok Man sedang menikmati sarapannya di ruang makan. Dengan lahap, ia menyantap itu semua. Selesainya makan, Deok Man menunduk dan mengusap perutnya "kau memang mirip ayahmu ya dalam hal makan."katanya sambil tersenyum. Lalu Soo Hye masuk ke ruang makan dan menunduk memberi hormat. Deok Man menoleh ke arah Soo Hye dan bertanya "ada apa Soo Hye?" "maaf Tuan Putri.. Guru Sitar Tuan Putri sudah datang.."jawab Soo Hye. "oh ya, persilahkan ia menunggu di gazebo..aku ingin belajar di sana..dan tolong persiapkan sitarku di sana ya.."kata Deok Man. "baik Tuan Putri..hamba laksanakan"Soo Hye tersenyum memamerkan giginya. Deok Man bangkit dari duduknya keluar ruangan menuju gazebo.

Gazebo.
Deok Man berjalan memasuki gazebo. Seorang pria setengah baya dengan rambut dan janggut hampir memutih semua sudah menunggunya. Guru sitarnya menunduk memberi hormat dan memperkenalkan dirinya
"selamat pagi Tuan Putri, nama saya Suk Ho..saya akan berusaha semaksimal mungkin mengajar Tuan Putri..mungkin bisa kita mulai sekarang Tuan Putri?" Deok Man juga menunduk memberi hormat pada guru barunya "ya guru.." Lalu Suk Ho mengajarkan Deok Man mengenai posisi jari kedua tangan, nada-nada dasar, dan teknik bermain dasar. Deok Man memperhatikan petunjuk gurunya dengan sungguh-sungguh. "nanti aku akan bermain sitar menemanimu bermain seruling, Bi Dam.."pikirnya.

Siang hari. di Kowon.
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, Bi Dam, Wolya, dan Godo tiba di Kowon. Kowon adalah kota kecil yang terletak di atas bukit tepi laut. Sama seperti Wonsan, Kowon juga kota perdagangan sehingga kota itu dipenuhi para pedagang. Bi Dam, Wolya, dan Godo berdiri di depan gerbang kota sambil menuntun kuda mereka"mungkin lebih baik kita singgah di kedai dekat sini dulu sambil memikirkan rencana berikutnya."ujar Wolya. "ya.."kata Bi Dam. Lalu mereka berjalan menuntun kuda mereka menuju kedai terdekat. Di belakang mereka, 3 orang mengawasi mereka.
Setelah menambatkan kuda mereka. Mereka memasuki kedai itu. Kedai itu cukup ramai dipenuhi para pedagang yang singgah. "lebih baik kita mulai rencananya sekarang..aku merasa ada yang mengikuti kita..ingat sandi kita"bisik Bi Dam. Mereka mengangguk. Lalu mereka memilih duduk di antara kumpulan pedagang Timur Tengah yang ramai. Penguntit mereka bertiga kesulitan mendekati mereka bertiga namun masih bisa mendengarkan percakapan mereka. Bi Dam duduk mengangkat kedua kakinya. "Wolya.."panggilnya. "siap Tuan"jawab Wolya. "belikan aku pelindung bahu..yang terbaik"perintahnya. Lalu Wolya menunduk memberi hormat dan pergi. "Godo"panggil Bi Dam. "siap Tuan"jawab Godo. "belikan aku sepatu baru..ingat yang terbaik.."perintah Bi Dam. "baik Tuan"jawab Godo. Lalu Godo memberi hormat dan pergi. Bi Dam menyandarkan kepalanya di kursi sambil menegak minuman. Tak jauh darinya, 3 penguntit yang menyamar itu berunding. "kau awasi yang bernama Wolya dan kau awasi yang bernama Godo, aku akan mengawasi Bi Dam ini"kata salah satu dari mereka. "baik"jawab 2 lainnya.

Tengah hari. Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
"luar biasa Tuan Putri..luar biasa..belum pernah ada murid baru yang mampu menguasai teknik dasar secepat ini"puji Suk Ho. "ini semua berkat bimbingan guru"jawab Deok Man merendah. Lalu Soo Hye datang ke gazebo menunduk memberi hormat "maaf Tuan Putri, makan siang sudah siap.."katanya. "baiklah.."jawab Deok Man. Deok Man menoleh ke arah gurunya "Guru bisakah kita melanjutkan pelajaran setelah kita makan siang?" Suk Ho"apakah Tuan Putri tidak merasa lelah?jika Tuan Putri masih ingin dan sanggup melanjutkan, tentu dengan senang hati saya mengajarkan." "saya belum merasa lelah guru..saya ingin melanjutkan pelajaran ini.."jawab Deok Man. "baiklah..mungkin 4 kali latihan lagi cukup untuk hari..anda tidak boleh terlalu lelah Tuan Putri"jawab Suk Ho. "terima kasih guru..mari guru ikut saya..kita makan siang bersama"ajak Deok Man. Suk Ho menunduk "terima kasih Tuan Putri" Lalu Deok Man dan Suk Ho berjalan meninggalkan gazebo menuju ruang makan.

Kowon.
Wolya disusul Godo sudah kembali membawakan pesanan Bi Dam. Para penguntit mereka juga sudah kembali. Orang yang menguntit Wolya melapor "saya tidak menemukan ada yang aneh dari tingkah Wolya. Ia hanya pergi membeli sepasang pelindung bahu, memakan apel, dan tak sengaja menabrak pedagang Timur Tengah saat berjalan kemari..saya rasa ia memang seorang bawahan biasa saja"tak lama kemudian orang yang menguntit Godo tiba dan melapor "tak ada yang aneh dengan Godo...ia hanya membeli sepatu dan menonton atraksi api di pasar sebentar" "hmm..begitu..aku juga sama..tak ada yang aneh dengan Bi Dam..kau laporkan ini pada Jenderal"perintah orang yang menguntit Bi Dam. "baik"kata orang yang menguntit Godo. Lalu 2 penguntit lainnya kembali mengawasi Bi Dam, Wolya, dan Godo yang sedang menikmati minuman mereka.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Setelah makan siang, Deok Man dan Suk Ho kembali melanjutkan pelajaran mereka. Latihan keempat pun selesai, lalu Suk Ho merapikan sitarnya. Deok Man sendiri masih duduk memainkan sitarnya lalu ia mencoba memainkan lagu karya Bi Dam dengan sitarnya, meskipun ada nada-nada yang salah ia tidak menyerah. Suk Ho berhenti merapikan sejenak dan mendengarkan "lagu apa itu Tuan Putri?melodinya sangat indah" Deok Man menoleh "ah ini lagu yang diciptakan Perdana Menteri Bi Dam..ia bisa memainkannya jauh lebih baik dariku dengan serulingnya"jawab Deok Man. "melodinya sangat indah..nah Tuan Putri, sekarang saya pamit undur diri..pelajaran bisa kita lanjutkan besok..jangan lupa untuk beristirahat Tuan Putri..saya permisi dulu"kata Suk Ho sambil memberi hormat. Deok Man juga menunduk "terima kasih guru"katanya. Lalu Deok Man kembali mencoba memainkan lagu itu lagi.

Hutan di timur Kowon.
Orang yang menguntit Godo melapor "lapor Jenderal, musuh sudah tiba..ia ke sini ditemani 2 bawahannya..kami sudah memata-matainya dan tidak ada yang mencurigakan.." Jenderal Yong Li bangkit dari duduknya "bagus..waktunya hampir tiba..pasukan persiapkan semuanya.."perintahnya. "baik Jenderal"jawab pasukan. Lalu Jenderal Yong Li berjalan ke arah bawah pohon. Di sana, Yushin yang sudah babak belur dan tak sadarkan diri terikat. Jenderal Yong Li berlutut di depan Yushin lalu menjambak rambutnya "nampaknya mengumpankan dirimu berhasil..kalau kau mau menyalahkan orang atas luka-lukamu ini..salahkan orang yang bernama Bi Dam..ia yang menyebabkanku berbuat demikian padamu" lalu Jenderal Yong Li tertawa puas.

Sore hari. Kowon.
Bi Dam, Wolya dan Godo bangkit berdiri dari duduknya. Godo memanggil pelayan, membayar minuman mereka, dan meminta pelayan meminjamkan ruangan kosong untuk mereka. Lalu pelayan itu menunjukan ruang kosong dan meninggalkan mereka. Mereka bertiga masuk ke ruangan itu. Di dalam mereka berganti pakaian menjadi baju perang. "Wolya, Godo? Wolya dan Godo menoleh "ya?"jawab mereka. Lalu Bi Dam membisikkan sesuatu pada mereja. "kalian mengerti?"tanya Bi Dam sambil mengikat ikat pinggangnya, "baik.."jawab Wolya dan Godo enggan. Para penguntit berusaha mendengarkan dari balik namun tak ada suara. Ketika ada suara kaki mendekat, mereka pergi. Bi Dam, Wolya, dan Godo sudah berganti pakaian. Bi Dam dengan baju perangnya yang berwarna hitam legam, sedangkan Wolya dan Godo mengenakan pakaian pengawal biasa. Para pedagang dan tamu di kedai itu memandang mereka aneh dan heran pakaian mereka. Lalu mereka bertiga keluar dari kedai itu dan menaiki kuda mereka menuju hutan di timur Kowon.

Hutan Timur Kowon.
Hutan Timur Kowon terletak di tepi bukit dekat laut yang tidak jauh dari kota Kowon. Bi Dam, Wolya, dan Godo berjalan memasuki hutan. Sunyi sekali suasananya.
Matahari hampir tenggelam. Mereka sudah hampir memasuki tengah hutan. "kami ingin membebaskan Panglima Yushin..keluarlah"teriak Godo. Tak ada balasan suara. Hanya suara langkah mereka. Godo berteriak lagi berulang-ulang sambil berjalan. Ketika mereka sedang berjalan di sebuah pohon besar, tiba-tiba sebuah jaring rantai jatuh ke atas mereka dan menjerat mereka, lalu sekelompok orang berpakaian hitam memukuli mereka dengan kayu hingga pingsan. Orang berpakaian hitam itu mengikat mereka lalu membawa mereka.

Tempat persembunyian Jenderal Yong Li.
"byuuur" Bi Dam, Godo, dan Wolya terbangun karena disiram air oleh salah seorang bawahan Yong Li. Mereka duduk sebelah menyebelah di atas kursi yang berbeda dengan tangan dan kaki terikat. Di hadapan mereka, Yong Li yang tersenyum licik duduk di hadapan mereka. Lalu Yong Li bangkit dari duduknya, berjalan dan berdiri di depan Bi Dam. Lalu ia mengacungkan pedangnya "kau itu bodoh ya?atau tak bisa membaca?aku memintamu datang sendiri!kenapa kau bawa mereka.."bentaknya. Bi Dam tak memandang Yong Li, ia hanya menatap ke depan "kau kah yang bernama Yong Li? aku butuh mereka untuk membawa Panglima Yushin..sekarang dimana dia?bebaskan dia.."jawabnya datar. Yong Li menampar Bi Dam dan membentaknya "berani sekali kau memerintahku..Yushin ya?dia ada di sana.."tunjuknya. Wolya dan Godo melihat ke arah yang ditunjuk. Mereka bertiga terperangah melihat kondisi Yushin dan Godo berteriak "Panglima Yushin!" lalu salah seorang penjaga memukul Godo. Yushin yang setengah sadar menoleh ke arah suara yang dikenalnya. Ia melihat Bi Dam, Wolya, dan Godo. "Godo...Wolya..Bi Dam..."rintihnya. "Yushin!" teriak Bi Dam, segera Yong Li memukul wajah Bi Dam dengan gagang pedangnya. Bi Dam menatap Yong Li "bebaskan mereka..mereka tak ada kaitannya"katanya. Dan Yong Li meninju perut Bi Dam.
Malam hari.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Deok Man sedang membaca bukunya ditemani Soo Hye di ruang baca, namun yang dilakukan Deok Man hanya membolak-balik halaman dengan tatapan tak tertuju ke buku dihadapnya. "ada apa Tuan Putri?anda baik-baik saja?" tanya Soo Hye khawatir melihat tingkah laku Deok Man.
"aku tak tahu Soo Hye..dari tadi sore, aku terus merasa gelisah, tidak bisa tenang dan perasaan gelisah ini semakin menjadi-jadi.."jawabnya sambil mengelus dada. Soo Hye menenangkan Deok Man "tenang Tuan Putri.. Tenang..tarik napas..hembuskan"katanya. Deok Man mengikuti instruksinya. Lalu ia menjadi tenang. Soo Hye lalu mengambilkan sitar "bagaimana jika Tuan Putri memainkan 1-2 lagu yang tadi Tuan Putri pelajari..dengan begitu Tuan Putri akan merasa lebih baik.."hiburnya. "hmm baiklah.."jawab Deok Man berusaha tersenyum. Lalu Deok Man mencoba memainkan lagu Baramggoc lagi.

Hutan di timur Kowon.
Bi Dam menoleh dan kembali menatap Yong Li "bebaskan Yushin dan mereka berdua..mereka tidak ada sangkut pautnya."katanya. Meskipun ia berbicara dengan suara datar, mata Bi Dam penuh dengan amarah. Yong Li membalikan badannya dan memainkan pedangnya. Dan tiba-tiba, ia memukul Bi Dam tepat di perutnya. "aargh"erang Bi Dam. "baiklah..karena aku sedang senang hari ini, akan aku bebaskan mereka..tentu dengan caraku.."kata Yong Li. Lalu ia menjentikkan jarinya. Lalu Para bawahan Yong Li memukuli Godo dan Wolya hingga pingsan. Kemudian mereka membawa Yushin, Godo, dan Wolya keluar dari sana. Yong Li menatap Bi Dam lagi "nah aku sudah mengabulkan permohonan terakhirmu.."katanya. Lalu ia berbalik badan "pasukan!tanggalkan pakaiannya..aku ingin menyiksanya sampai puas"bentaknya. Lalu beberapa orang menanggalkan pakaian Bi dengan paksa, dan Yong Li sudah berancang-ancang menggunakan cambuknya. "taaash"suara cambuk terdengar.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
"taaash"suara senar sitar putus. "aduuh" Deok Man mengernyit menahan sakit di jari telunjuknya kanannya. Soo Hye segera menggenggam jari telunjuk Deok Man "apakah jari Tuan Putri terluka?sini hamba lihat" Jari telunjuk kanan Deok Man memerah tapi tak berdarah. Deok Man tersenyum melihat tingkah dayangnya ini "hanya merah Soo Hye..tidak berdarah.." Lalu Soo Hye memeriksa seksama sitarnya "aneh..sepertinya senarnya masih bagus"katanya heran. Lalu ia menatap ke arah Deok Man. Muncul perasaan tidak enak lebih dari sekedar gelisah di hati Deok Man. Rasanya sesak sekali hatinya ini. Namun ia mencoba untuk tetap tenang dan tegar "Bi Dam.."gumamnya pelan. menahan dadanya dengan tangannya. Soo Hye menghampiri Deok Man lebih dekat "ada apa Tuan Putri?anda baik-baik saja? "tanyanya khawatir. "aku baik-baik saja Soo Hye. hanya saja tiba-tiba perasaanku sangat tidak enak Soo Hye..rasanya seperti dihantam batu besar..."gumam Deok Man. Tangan Deok Man gemetar. Soo Hye tahu apa yang sedang dipikirkan Deok Man dan berusaha menenangkannya "anda kelelahan Tuan Putri..tenanglah Tuan Putri..tidak baik untuk kesehatan bayi anda jika terlalu cemas.." Mengingat kesehatan bayinya, Deok Man berusaha untuk tenang. "nah sekarang istirahatlah Tuan Putri..berbaringlah di tempat tidur anda..anda kelelahan Tuan Putri.."Soo Hye menyarankan. Deok Man menoleh ke arah Soo Hye "aku baik-baik saja Soo Hye mungkin memang aku agak lelah..sekarang tolong buatkan teh untukku Soo Hye"sambil tersenyum. "ba..baik Tuan Putri" Soo Hye lalu pergi keluar kamar untuk membuat teh. Deok Man mencium cincin yang melingkar di jari tengahnya "aku harap kau baik-baik saja, Bi Dam"gumamnya.
Kowon.
Wolya, Godo, dan Yushin yang pingsan ditinggalkan tergeletak di jalan jauh dari hutan. "ugh..dimana ini?" erang Wolya yang baru sadar sambil memegang luka. Lalu sekelompok orang berpenampilan pedagang dan rakyat biasa datang menghampiri mereka. Mereka adalah prajurit Shilla yang menyamar untuk melaksanakan misi ini. "Jenderal.."kata salah seorang dari mereka. Lalu orang itu dipukul oleh teman di sebelahnya "sst..jangan panggil Jenderal..dia Wolya.." Wolya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. Tak lama kemudian Godo pun sadar. Lalu mereka memutuskan membawa Yushin ke penginapan terdekat untuk dirawat.

Penginapan di Kowon.
Seorang tabib sedang memeriksa dan mengobati Yushin yang masih tak sadarkan diri. Wolya dan Godo berdiri mengawasinya. Setelah pemeriksaan selesai, Tabib berbicara dengan mereka "luka-lukanya cukup parah dan bahu kanannya cedera cukup parah..beruntung semuanya bisa pulih,
tak ada organ dalam yang terluka dan semuanya sudah diobati..ini ramuan obat..diminum 3x sehari" katanya seraya memberikan ramuan obat pada Godo. Setelah mengucapkan terima kasih, Godo mengantar tabib itu keluar kamar. Wolya memandang keluar jendela lalu meniup peluit bambu kecil. Lalu nampak bayangan-bayangan hitam mendekat ke arah penginapan.
"Wolya..Bi Dam"gumam Yushin dengan suara lirih. Wolya menoleh dan segera menghampiri Yushin yang terbaring penuh perban di sekujur tubuh. "yushin.."kata Wolya. Yushin membuka matanya. "dimana aku?..mana Bi Dam dan Godo?"gumamnya. Wolya menenangkan Yushin "tenanglah..kau aman di sini..Godo akan kembali sebentar lagi.." Tok..tok.. suara pintu kamar diketuk. Wolya membukakan pintu, lalu 5 orang berpakaian hitam masuk. . "bagaimana?"tanya Wolya. Lalu salah satu dari mata-mata berbisik pada Wolya dan menyerahkan satu gulung laporan. Wolya membacanya dan meminta mereka pergi. Yushin melihat dan mengenal mereka "mata-mata Gaya?"tanyanya. Wolya mengangguk lalu ia mengambil kursi untuk di sisi Yushin. Orang-orang berpakaian hitam adalah mata-mata handal mantan anggota pemberontak Gaya, sekarang mereka bekerja untuk Shilla. Tak lama kemudian Godo masuk. "Panglima"teriaknya melihat Yushin sudah sadar lalu memberi hormat. Yushin tersenyum. "dimana Bi Dam?aku tak melihatnya dari tadi"tanyanya. Godo dan Wolya saling bertukar pandang. Lalu Wolya mencoba menceritakan semuanya. Yushin terkejut "apa?kalian biarkan Bi Dam di markas mereka?"tanyanya. "ini adalah satu rencana Bi Dam jika yang terburuk terjadi, aku juga menolak ketika mendengarnya lalu ia memintaku untuk percaya padanya maka aku mengirim mata-mata Gaya untuk mengintai saat kami ditangkap agar kami bisa mengetahui markas musuh dan menolong Bi Dam setelah kami menolongmu.."jawab Wolya. Yushin nampak gusar "apa rencana kalian?aku minta kalian bebaskan Bi Dam secepat mungkin.."ujarnya. "tentu..sebentar lagi matahari terbit..lalu kami akan bergerak.."jawab Wolya. "pasukan sudah siap Jenderal"kata Godo.
Yushin mencoba untuk bangun, Godo membantunya "aku ikut"katanya. Wolya menggelengkan kepalanya. "lengan kanan Panglima cedera dan luka-luka anda belum sembuh.."kata Godo. Yushin menghela napas dan tersenyum. "luka ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan lukaku saat kompetisi pemilihan Pungwolju..lagipula aku masih bisa bermain pedang dengan tangan kiri..meskipun kalian larang aku, aku akan tetap pergi"jawab Bi Dam tegas. Wolya hanya menggelengkan kepala dan beranjak dari duduknya "baiklah..dasar keras kepala..sekarang kau istirahatlah"katanya. Godo hanya tercengang mendengar jawaban Wolya. Lalu Wolya menarik Godo untuk ikut keluar kamar. Yushin merebahkan dirinya kembali. "kau harus selamat Bi Dam..Tuan Putri membutuhkanmu..Shilla memerlukanmu"pikirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar