Pages

Selasa, 31 Agustus 2010

Chapter 42: First Contraction

Tanggal 10 bulan ketujuh.Tengah Malam. Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.

Deok Man terbangun dari tidurnya. Penyakit susah tidurnya kembali kambuh setelah sekian lama tidak pernah ia alami lagi. “Bi Dam…” gumamnya sambil tersenyum melihat suaminya terlelap di sisinya. Ia membelai lembut kening suaminya itu. Sekilas ingatan akan percakapannya dengan Han Hye Jin kemarin muncul dalam benaknya.
“nah sudah selesai…dan sekarang sambil menunggu Tuan Perdana Menteri pulang.. Tuan Putri harus istirahat ..” saran Han Hye Jin pada Deok Man yang sedang duduk di atas tempat tidur, sambil membereskan peralatan akupunturnya. “Han Hye Jin..” panggil Deok Man. “ya Tuan Putri…” jawab Han Hye Jin. Deok Man menatap mata Han Hye Jin dalam-dalam “tolong jawab dengan jujur…apakah ada kemajuan dengan penyakitku?aku ingin tahu keadaanku yang sebenarnya..baik ataupun buruk..” “Tuan Putri..” “aku siap mendengar apapun hasilnya…tolong jawab dengan jujur..” pinta Deok Man. Han Hye Jin merasa sangat dilematis. Ia sudah sepakat dengan Bi Dam untuk tidak memberitahukan hal yang sebenarnya dengan harapan Deok Man akan tetap semangat untuk bertahan hidup dan akan ada keajaiban untuk penyakitnya namun di sisi lain ia tahu pasti dirinya akan segera ketahuan oleh Deok Man jika ia berbohong. Ia tak bia menghindar dari tatapannya. “Han Hye Jin..baik atau buruk kabar yang kauberi..itu tak akan mengubah semangatku untuk berjuang dan menjalani pengobatan…jadi jawablah..” “Baik Tuan Putri saya akan menjawabnya..” Han Hye Jin membulatkan tekadnya untuk menjawab. “ada kemajuan dalam kondisi kesehatan Tuan Putri…sekarang detak jantung dan denyut nadi lebih stabil…Tuan Putri kelihatan lebih sehat…tapi untuk masalah penyakit..maafkan hamba.. hamba sendiri juga tidak tahu apakah sudah ada kemajuan yang berarti atau belum..karena seperti yang Tuan Putri tahu ini adalah pengobatan yang memakan waktu yang lama…” “Han Hye Jin…” “Ya Tuan Putri..” jawabnya. Deok Man mengusap perutnya lalu menatap Han Hye Jin. “jika nanti waktuku melahirkan tiba..kumohon..jika situasi membuatmu harus memilih kumohon dahulukan keselamatan anak-anakku lebih dari nyawaku sendiri..mereka mempunyai masa depan yang menanti mereka…aku memohon padamu..” Han Hye Jin bisa melihat ketegaran yang luar biasa dari mata pasiennya itu. Deok Man tersenyum membelai perutnya seakan-akan ia benar-benar membelai bayi-bayinya “aku tahu penyakit ini bisa mengambil nyawaku setiap saat..tapi aku akan berjuang sekuat tenaga setidaknya sampai anak-anak ini lahir bahkan sampai mereka dewasa..sampai aku dan Bi Dam tua dan kami meninggalkan dunia ini bersama-sama....tapi jika hidupku ternyata singkat..setidaknya aku bisa melahirkan mereka ke dunia ini..bisa memberikan Bi Dam sebuah keluarga..jadi berjanjilah padaku…” katanya sambil menatap Han Hye Jin. “hamba bisa mengerti perasaan Tuan Putri…tapi yang hamba akan janjikan adalah hamba akan berusaha sekuat tenaga agar kedua bayi Tuan Putri selamat..begitu juga dengan Tuan Putri…hamba akan berusaha” katanya sambil menundukkan kepala dalam-dalam. Deok Man bisa melihat kesungguhan dalam setiap ucapan tabibnya itu. Deok Man tersenyum lalu menundukkan kepalanya juga “aku mohon bantuanmu Han Hye Jin.. ”
“oleh karena itu Bi Dam..jika nanti aku tak bisa bertahan… tolong jaga dan rawat anak-anak kita baik-baik…aku percaya kau bisa menjadi ayah yang baik bagi mereka..seperti kau menjadi suami yang terbaik untukku..” gumam Deok Man dalam hati sambil membelai kening suaminya itu. “mungkin aku harus membaca sesuatu agar aku bisa tidur… “ pikir Deok Man sambil berusaha bangun dari tempat tidurnya pelan-pelan sehingga tidak membangunkan suaminya. “Deok Man..” Deok Man menoleh mendengar Bi Dam memanggilnya. Rupanya Bi Dam hanya mengigau. “aku hanya ingin membaca buku sebentar..” gumam Deok Man sambil membetulkan selimut Bi Dam. Ia berdiri sambil menahan pinggangnya dengan satu tangannya. Lumayan untuk sedikit mengurangi rasa nyeri di pinggangnya, lalu berjalan menuju meja bundar. Tapi ternyata tak ada satu buku pun di meja bundarnya. Deok Man ingat tadi ia meninggalkan bukunya di ruang baca. “baiklah..aku akan mengambil buku dari ruang baca…” gumamnya sambil berjalan keluar dari kamarnya pelan-pelan. Ia berjalan perlahan-lahan menuju ruang baca. Semua orang sudah tertidur dan ia tidak mau mereka sampai terbangun. “sraak..” ia menggeser pintu ruang baca pelan-pelan. Sebisa mungkin mengurangi suara bising. “hmm buku apa ya..” gumam Deok Man sambil memilih-milih buku dari rak. “aakh..” Ia merasakan rasa sakit yang amat sangat dari dalam perutnya. Rasa sakitnya berbeda dengan rasa sakit saat bayinya menendang dan jauh lebih sakit daripada sekedar kram perut. Ia bersandar pada rak buku sambil menahan perutnya. Mencoba untuk rileks dan tenang. Ia bersandar sebentar pada rak bukunya. “huuf..” gumamnya sambil menghapus peluh dari keningnya. Menahan rasa nyeri di pinggangnya yang semakin menjadi-jadi. “kurasa aku harus kembali ke kamar..”gumamnya terengah-engah sambil menahan rasa sakit di perutnya yang semakin lama semakin bertambah sakit dan intens. “waktunya sudah tiba..” gumamnya sambil berusaha berjalan ke kamarnya
“Deok Man…” Menyadari istrinya tidak ada sisinya, Bi Dam terbangun dari tidurnya. Tak ada siapapun di kamar selain dirinya. “Deok Man?dimana kau?” Ia segera bangun dari tidurnya untuk mencari istrinya. Ia berjalan keluar dari kamarnya. “Deok Man?” panggilnya. “aku di sini..aakh..” sahut Deok Man dari ujung lorong rumahnya. Mendengar Deok Man mengaduh, Bi Dam segera berlari menghampiri istrinya. “Deok Man kau baik-baik saja?apa yang kau lakukan di sini?” tanya Bi Dam khawatir sambil berusaha memapah istrinya. Deok Man terdiam. Ia menggenggam tangan Bi Dam sangat erat menunggu rasa sakit akibat kontraksinya lewat. “Deok Man?” tanya Bi Dam. Kontraksinya pun lewat dan Deok Man menghela napas dalam-dalam. “ini waktunya Bi Dam..kurasa hari ini anak-anak kita akan lahir..”gumamnya terengah-engah sambil mengernyit menahan sakit. Air ketuban Deok Man pecah. Mengalir menuruni betisnya bercampur dengan sedikit darah membasahi lantai. “Soo Hye!!!pelayan!!!panggil Han Hye Jin!!” seru Bi Dam yang panik begitu melihatnya sambil berusaha memapah Deok Man berjalan menuju kamarnya.
“haduh..kenapa Han Hye Jin belum datang juga ya..” pikir Bi Dam yang berdiri di samping istrinya cemas sambil menatap pintu kamarnya berharap Han Hye Jin segera datang. Para pelayan silih berganti datang mempersiapkan segala yang diperlukan. “Bi Dam..”panggil Deok Man lirih. “ya aku di sini…” jawab Bi Dam sambil menggenggam istrinya erat-erat. “bertahanlah Deok Man..”ujar Bi Dam sambil menghapus peluh dari kening istrinya. Panik, cemas, khawatir, takut kehilangan bercampur menjadi satu dalam hati dan pikiran Bi Dam. “aakh..” teriak Deok Man. Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. “sraak..” Han Hye Jin datang. Ia segera menghampiri Deok Man dan memeriksannya. “air ketubannya sudah pecah..” ujar Bi Dam. Han Hye Jin selesai memeriksannya. Muncul kekhawatiran di wajahnya. “waktunya sudah hampir tiba Tuan Putri..” kata Han Hye Jin.

Sabtu, 28 Agustus 2010

Chapter 09 side story: During The Test
Halaman luar Kediaman Bangsawan Kim Yong Chun
"kak sudahlah lebih baik kita pulang yuk..di sini panas.." keluh Young In sambil menarik lengan baju Yoo Hee. "iya kak..kalau soal perasaan Zhi Youn, itu kan sudah pasti.." sahut Yuri. Yoo Hee masih aja bertahan mengintip. "yang jadi masalah bukanlah perasaan Zhi Youn..tapi Tuan Alcheonnya..kita kan tidak tahu..apakah ia sudah berkeluarga apa belum..bagaimana pribadinya..dan yang paling penting apakah ia akan membalas perasaannya..aku tak mau kalau Zhi Youn berharap terlalu tinggi jika perasaannya ternyata tidak berbalas..” Yuri mengangguk mengerti “iya juga sih...dari tampangnya..sepertinya Tuan Alcheon adalah orang yang dingin...serius..entah apa bagian dari dirinya yang membuat Zhi Youn tertarik..” “yang pasti bukan senyumnya..dari tampangnya aku yakin ia manusia yang jarang tersenyum..” jawab Yoo Hee. “mungkin Tuan Alcheon terlalu serius karena pekerjaannya di istana..menjadi kepala pengawal Istana kan hal yang sulit...karena keselamatan keluarga kerajaan adalah tanggung jawabnya..” sahut Young In. “hmm iya sih..” jawab Yoo Hee. Lalu tiba-tiba Yuri menarik lengan baju kakaknya “kakak..itu dia orangnya datang..”

Seorang kasim masuk ke dalam ruangan dan memberi hormat kepada Kim Yong Chun “Tuan..Tuan Kepala Pengawal Istana menunggu di luar ingin bertemu Tuan..” katanya sambil berbisik takut menganggu Zhi Youn yang sedang menjalankan tes. “Alcheon datang ke sini?apakah ada hal penting?” gumam Kim Yong Chun. Lalu ia bangun dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan. “Tuan Alcheon datang?” pikir Zhi Youn yang sedang mengerjakan soal. Ia diam-diam melirik ke arah pintu berharap bisa melihat Alcheon. “apa yang kaum cari?” tegur Han Dong Kim.”hm..tidak..bukan apa-apa..” jawab Zhi Youn yang langsung kembali menatap soalnya. “lanjutkan pekerjaanmu..” perintah calon gurunya itu.

Soal yang diberikan tidaklah sedikit dan tidak mudah. Zhi Youn dibuat pusing olehnya. Han Dong Kimtiba-tiba bangun dari duduknya “aku ingin mecari angin..kau anjutkan pekerjaanmu...begitu selesai serahkan padaku..” katanya seraya pergi keluar ruangan meninggalkan Zhi Youn. “huuf..susah sekali soal ini..” keluh Zhi Youn sambil menatap soal-soalnya. “mana yang lebih dulu ayam atau telur?” gumamnya membaca soal itu berulang-ulang sambil menopang dagu dengan tangannya memainkan kuasnya. “sraakk..” terdengar suara pintu terbuka. Zhi Youn segera kembali dalam posisi menulis. “kau tak perlu panik seperti itu..nona..” kata suara di belakangnya. Suara orang yang sangat dikenalnya. Suara yang sangat dinantikannya.

“apa yang ia lakukan di ruangan Zhi Youn?” tanya Yoo Hee sambil berebut giliran mengintip dengan kedua adiknya yang juga penasaran. “hei!!siapa di sana?!apa yang kalian lakukan?” seru seorang penjaga. “celaka kak..penjaga..” seru Yuri panik. “ck..duuh padahal sekarang sedang seru-serunya juga..” gerutu Yoo Hee. “ayo kak kita harus cepat pergi dari sini..” sahut Young In sambil menarik lengan kakaknya itu. Mereka bertiga pun berhasil kabur sebelum penjaga itu menangkap mereka. “hei kalian jangan kembali ke sini..awas kalian..” penjaga itu memaki dari jauh. Young In menoleh ke belakang dan menjulurkan lidahnya meledek.

Zhi Youn menoleh ke belakang. Alcheon tersenyum kepadanya. “Tu..Tuan Alcheon apa yang sedang Tuan lakukan di sini?” tanya Zhi Youn tergagap. “aku diminta mengambil dokumen Tuan Yong Chun dari ruang ini..nona sedang mengerjakan ujian dari Tuan Han ya?” Zhi Youn mengangguk. Alcheon berjalan ke arah rak-rak di hadapannya dan sibuk mencari dokumen yang harus ia bawa. Diam-diam Zhi Youn menatap sosok punggung Alcheon di hadapannya. “duuh apa sih yang kupikirkan..” gumamnya lalu kembali mengerjakan soalnya. “sraak..” suara pintu terbuka. Han Dong Kim sudah kembali. “apa ujianmu sudah selesai?” tanyanya setengah galak. “se..sedikit lagi Tuan..” jawab Zhi Youn gugup. Soal di hadapannya semakin lama semakin sulit. Sambil bersandar pada tangannya berpikir, pandangannya tak sengaja bertemu dengan tatapan Alcheon yang sedang memeriksa dokumen. Alcheon tersenyum ke arahnya dan mengangguk lalu mulutnya mengeluarkan kata tanpa suara “nona pasti bisa..aku yakin itu…” Zhi Youn pun segera mengambil kuasnya dan kembali menulis. ”dia bilang aku pasti bisa..dan aku pasti bisa..” gumamnya dalam hati riang.

Rabu, 25 Agustus 2010

Chapter 08 side story: Meet The Teacher

Pagi hari. Kediaman Bangsawan Il Myung Min.
"bibi..kami pergi dulu yaa.." seru Zhi Youn dan ketiga saudara sepupunya. "ya hati-hati ya kalian semua.."jawab dari depan pintu "iya bi.."sahut mereka berempat. "nah kalian bertiga ke kanan dan aku ke kiri..aku pergi dulu ya.."kata Zhi Youn sambil menunjukkan arah. Lalu ia pergi meninggalkan mereka. "ayo kak..kita antar ini dulu ke rumah Paman Jang.." seru Young In sambil jalan berlawanan arah dengan Zhi Youn. Yoo Hee menarik tangan adik bungsunya itu "nanti saja..ada hal penting yang harus kita lakukan sekarang.."

Kediaman Bangsawan Kim Yong Chun
"permisi.." Zhi Youn berdiri di depan gerbang kediaman Bangsawan Kim Yong Chun. "braak" tak lama kemudian pintu pun dibuka, seorang kasim datang menyambutnya "silahkan masuk nona, Tuan Yong Chun sudah menunggu di dalam.." Lalu Zhi Youn berjalan masuk mengikuti kemana kasim itu pergi.
Di lain tempat..
"aduh pintunya kok ditutup sih?kan jadi tidak kelihatan?" keluh Yoo Hee sambil berusaha mengintip dari lubang tembok. "memangnya kakak mau ngintip siapa sih?bukannya kita harus mengantar barang?" tanya Young In polos. "aku mau lihat sejauh apa hubungan Zhi Youn dengan Tuan Alcheon.." jawab Yoo Hee yang masih tidak menyerah mengintip. "tapi kak, bukankah Tuan Alcheon itu Kepala Pengawal Istana?pasti ia sekarang ada di istana bukan di sini?" sahut Yuri yang dari tadi sibuk berjaga-jaga takut ada pengawal yang melihat mereka. "ah kalian ini..percayalah pada kakak..aku yakin ia pasti akan datang ke sini cepat atau lambat.." jawab Yoo Hee penuh keyakinan.

Kediaman Bangsawan Kim Yong Chun.
"permisi.." Zhi Youn pelan-pelan membuka pintu ruangan yang ditunjuk oleh kasim tadi. "masuklah Zhi Youn.." sahut Kim Yong Chun. Tanpa ragu-ragu Zhi Youn memantapkan langkahnya memasuki ruangan lalu memberi hormat kepada Kim Yong Chun dan seorang tamu yang duduk 1 meja dengannya. "nah Tuan Han ini Zhi Youn yang kuceritakan tadi.." ujar Kim Yong Chun. Tuan Han hanya membelai janggut kelabunya yang panjang mengamati Zhi Youn dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kim Yong Chun juga tak lupa memperkenalkan tamunya kepada Zhi Youn yang canggung. "Zhi Youn, perkenalkan ini Tuan Han Dong Kim..Tuan Han sudah berpengalaman mendidik para pelajar yang kelak akan menjadi pejabat..dan dia yang akan menjadi gurumu.." "guruku?" ujar Zhi Youn, lalu ia segera membungkuk memberi hormat kepada calon gurunya itu "mohon bimbingannya Guru.." katanya. Ekspresi Tuan Han datar menanggapinya. "kau baru bisa memanggilku guru, jika kau bisa lulus ujian dariku.."
"ujian?" tanya Zhi Youn berusaha meyakinkan dirinya apa yang tadi didengarnya. Tuan Han meletakkan sebuah gulungan di hadapan Zhi Youn. "buktikanlah kau layak untuk mendapatkan ilmu dariku.." katanya sambil menatap tegas Zhi Youn. Zhi Youn ragu-ragu mengambil gulungan itu tapi anggukan dari Kim Yong Chun membuatnya percaya diri "baik Tuan.." jawab Zhi Youn.

Sabtu, 07 Agustus 2010

Chapter 41 part. 02: Can I be a Good Father?

“Yang kedua adalah Shilla menjalin kerjasama dengan Kekaisaran Tang…Shilla dan Tang mempunyai musuh yang sama…” ujar Bi Dam. “tapi bukankah hubungan diplomatik kita dengan Tang kurang begitu baik terutama sejak ada kejadian waktu itu..” kata Yushin. ”aku tahu… baik kita maupun Tang belum ada yang membahas hubungan diplomatik lagi selain tentang perdagangan..sejak saat itu..“ Sekilas kejadian itu terulang lagi dalam kilasan ingatannya. Karena ulah para pengikutnya yang bersekongkol dengan utusan Tang, Bi Dam nyaris saja dijadikan kambing hitam atas kesalahan yang tak pernah dilakukannya. Menukar pernikahan Deok Man yang kala itu menjadi Ratu dengan sejumlah bantuan bala tentara dari Kekaisaran Tang. “karena bukan pihak kita maupun Tang yang bersalah..kita sudah berusaha menjelaskannya melalui utusan ..namun mereka belum mengirim balasannya..” jawab Yushin. “tapi cepat atau lambat baik Shilla maupun Tang harus membuka kerjasama kembali…jika rumor ini juga terdengar di sana mereka pun akan berpikiran sama..kita harus menunggu kebijakan Tang dalam hal ini…kita harus menunggu kondisi dimana kita dan Tang dalam posisi sama-sama saling membutuhkan..” Yushin mengangguk setuju “ dan selama kita dalam proses menunggu..aku akan mengusahakan rencana yang pertama kali kau sebutkan terlaksana..dan pengembangan senjata dipercepat..” lalu ia bangkit dari duduknya. Bi Dam ikut berdiri dari duduknya dan berjalan di sampingnya “jangan paksakan dirimu kawan…lebih baik kau menguasai daerah yang bisa kau kuasai dulu daripada kau kehilangan semuanya nanti..” Yushin mengangguk. Lalu mereka berdua berjalan meninggalkan ruang kerja Bi Dam.
“Bi Dam..aku sudah dengar kondisi dan penyakit Tuan Putri… kuharap ada sesuatu yang bisa kubantu..mungkin aku bisa bantu carikan obat atau tabib terbaik..” ujar Yushin dengan nada muram. Bi Dam menepuk pundak kawannya itu dan tersenyum “yang paling penting jangan sampai wajah murammu terlihat olehnya… kau tahukan ia paling tidak suka jika orang terlalu khawatir padanya..” katanya. “aku juga sedang berjuang mengupayakan segala sesuatu yang terbaik untuknya..dan terima kasih untuk tawarannya..” “Bi Dam..aku tahu dan yakin hanya kaulah yang bisa mengerti dan mencintai Tuan Putri seutuhnya..baik sebagai penguasa maupun sebagai wanita…aku bersyukur bahwa kaulah yang dipilih Tuan Putri menjadi pendamping hidupnya..aku doakan kebahagiaan kalian..” kata Yushin dalam hati kecilnya
Lalu mereka berdua berjalan menuju halaman.
Halaman Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
“ayo sini lempar bolanya ke bibi..” kata Deok Man yang duduk di kursinya sambil menunggu operan bola dari Hyun Wo. Hyun Wo melemparnya dengan pas dan Deok Man menangkapnya, lalu mengoperkannya kepada Soo Hye. Hyu Wo pun mengejar Soo Hye berusaha mengambil bolanya. Deok Man tertawa bahagia melihat Soo Hye kewalahan dikejar Hyun Wo. “Hyun Woo..” panggil Yushin. “ayah..” seru Hyun Wo lalu berlari ke arah Yushin.. “kau tidak nakal kan?” tanya Yushin. Hyun Wo menggeleng.
“kamu senang ya bermain di sini?” tanya Bi Dam sambil mengusap kepalanya. Hyun Wo tersenyum mengangguk. Bi Dam menggandeng tangan Hyun Wo dan mereka bertiga berjalan menuju gazebo, tempat dimana Deok Man sudah duduk dan menunggu mereka. “maafkan kelakuan anak hamba Tuan Putri jika ia tadi nakal..” kata Yushin. Deok Man menggeleng “ia tidak nakal kok..ia anak yang manis..iya kan Hyun Wo?” tanyanya sambil mengusap pipi Hyun Wo. Hyun Wo tersenyum nyegir mengangguk. Lalu tak lama kemudian Soo Hye datang membawa kue-kue dan minum dan menghidangkannya di atas meja dalam gazebo. Bi Dam mempersilahkan Yushin dan Hyun Wo duduk dan menikmati hidangannya. Karena masih kecil, Hyun Wo belum bisa mencapai tempat duduknya yang tinggi, oleh karenanya Yushin memangkunya. “Hyun Wo berapa usiamu sekarang?” tanya Bi Dam. “5 tahun paman..” jawab Hyun Wo. “ayo Hyun Wo dimakan kuenya..” kata Deok Man sambil tersenyum. “terima kasih Bibi..selamat makan..” jawab Hyun Wo lalu mulai menyantap kuenya dengan lahap. “Hyun wo..” tegur Yushin. Bi Dam dan Deok Man tertawa melihatnya. “tak perlu sungkan Yushin…”kata Bi Dam. Lalu mereka bertiga mulai menyantap hidangannya sambil mengobrol.
Setelah beberapa kemudian dan hari mulai gelap, Yushin dan putranya pamit undur diri. “terima kasih atas jamuannya Tuan Putri…Bi Dam..” katanya sambil memberi hormat. Di sampingnya, Hyun Wo sambil memeluk bolanya ikut memberi hormat, “terima kasih Bibi..Paman atas jamuannya..” Deok Man tertawa melihatnya “ia benar-benar mengikutimu Panglima Yushin..kapan-kapan Hyun Wo main ke sini lagi ya..” Hyun Wo tersenyum nyengir mengangguk. Lalu mereka berdua masuk ke dalam tandunya dan berangkat pulang. Deok Man dan Bi Dam berjalan berdampingan masuk ke dalam kediamannya. Mereka duduk di ruang makan sambil menunggu makan malam dihidangkan. Bi Dam duduk termenung diam. “Bi Dam?” panggil Deok Man yang duduk di hadapannya. “ah iya..” jawab Bi Dam. “kau sedang memikirkan apa?apa ada masalah?” tanya Deok Man sambil duduk mendekat. Bi Dam diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan istrinya itu “entah mengapa aku merasa ragu..dan takut gagal..” jawabnya. “takut gagal?” tanya Deok Man. “iya aku takut kalau aku tidak bisa menjadi ayah yang baik..menjadi ayah yang baik seperti Yushin…takut tidak bisa memberikan teladan yang baik untuk anak-anak kita…” “Bi Dam..” panggil Deok Man. “akhirnya aku mengerti kenapa guru bisa sangat begitu shock ketika tahu aku meracuni orang-orang desa itu… sempat terbayang dalam pikiranku bagaimana jika nanti anak kita juga berbuat demikian…aku pasti akan lebih shock dari guru..aku telah gagal mengatur pengikutku..aku takut aku juga akan gagal menjadi kepala keluarga dan teladan bagi anak-anak..takut sifat-sifat burukku akan muncul dalam diri anak-anak kita.. apakah aku bisa menjadi ayah yang baik seperti Yushin..” Deok Man menggengam salah satu tangan Bi Dam dan meletakkannya di atas perutnya “aku dan anak-anak kita percaya kau pasti bisa menjadi ayah yang baik, ayah yang bertanggung jawab, ayah yang akan menyayangi dan melindungi keluarganya dengan sepenuh hati…” “Deok Man…” “mungkin ada beberapa teladan yang bisa kau contoh dari orang lain namun kau tak perlu menjadi orang lain utnuk menjadi ayah yang baik..cukup menjadi dirimu sendiri…aku yakin kau akan menjadi ayah baik sama seperti kau yang sudah menjadi suami yang terbaik bagiku..dan ketika kau melakukan kesalahan aku akan mengingatkanmu..dan begitu juga sebaliknya..kau juga akan mengingatkanku untuk menjadi ibu yang baik..kita berdua akan berusaha menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anak kita” Bi Dam mengecup kening istrinya “terima kasih Deok Man..” lalu mengusap perutnya “kita berdua akan menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anak kita..” gumamnya. Deok Man tersenyum mengangguk.
 Chapter 07 Side Story: The Feelings

Kediaman Bangsawan Il Myung Min.
"Zhi Youn..ayah pulang dulu..kau jangan nakal ya..belajar yang benar.." kata Bangsawan Seolju sambil mengusap kepala putrinya. "ya ayah..hati-hati di jalan.." jawab Zhi Youn. Yoo Seon menghampiri kakaknya lalu memberikan sebuah kotak yang terbungkus kain merah kepada kakaknya itu "kakak..aku punya sedikit oleh-oleh untuk kakak ipar..." "terima kasih adik.. kutitipkan putriku padamu..sampaikan salamku pada adik ipar..jaga diri kalian baik-baik.." jawab Seolju. Yoo Seon tersenyum mengangguk "baik kak..kakak juga harus berhati-hati di jalan.." "selamat jalan Paman..hati-hati di jalan yaa.." ujar Yoo Hee, Yuri, dan Young In serempak. Seolju mengangguk tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam tandunya, dan berangkat pulang. "tenang saja ayah..aku berjanji untuk tidak mengecewakan ayah.." gumam Zhi Youn.

Malam hari. Pelataran Istana.
"sraaak.." pintu ruang kementrian terbuka. Beberapa pejabat keluar dengan wajah lelah bercampur lega. Kim Yong Chun keluar paling akhir dari ruangan itu. Alcheon yang sudah menunggunya di luar dari tadi memberi hormat kepadanya "sepertinya ide nona Zhi Youn berhasil.." ujarnya. "ya..aku dan Perdana Menteri berbagi tugas menghadapi masalah ini..dan berkat ide anak itu, masalah ini bisa cepat selesai..oleh karena itu aku ingin melaporkannya sendiri kepada Yang Mulia sekarang.." jawab Kim Yong Chun tersenyum puas sambil menunjukkan gulungan laporan yang ada di tangannya. Lalu mereka berdua berjalan bersama menuju ruang kerja Raja. "untung saja Zhi Youn mengusulkan kenalannya jadi gudang persediaan pangan pasukan bisa dibangun kembali lebih cepat.." ujar Kim Yong Chun. "ia tidak mudah panik dan memiliki banyak ide dalam menghadapi masalah.." gumam Alcheon. "wah..wah sepertinya kau sudah menyukainya ya?" goda Yong Chun. Wajah Alcheon jadi memerah. "i..itu hanya sekedar penilaian saya saja..tidak lebih.." elaknya. Yong Chun tertawa puas melihat ekspresi Alcheon. "Tuan Yong Chun.." Kim Yong Chun pun berusaha menghentikan tawanya "jika kau tertarik dengannya..kurasa itu adalah hal yang wajar untuk pria lajang sepertimu.." "tetapi Tuan..saya tidak..." sergah Alcheon. Kim Yong Chun menghentikan langkahnya "kau mungkin bilang tidak sekarang karena kau belum mengerti perasaanmu sendiri namun bisa saja perasaanmu itu berubah..simpanlah perkataanmu itu untuk nanti.." "baik Tuan.." "baiklah aku akan masuk memberikan laporan ini kepada Yang Mulia.."ujar Kim Yong Chun sambil membuka pintu di hadapannya dan melangkah masuk. Alcheon memberi hormat padanya. "aku belummemahami perasaanku sendiri?" tanyanya dalam hati sambil berdiri menatap gelapnya langit malam.

Kediaman Bangsawan Il Myung Min
“nona aku percaya pada rencanamu.. bicaralah..” kata-kata Alcheon kembali terngiang dalm teliga Zhi Youn. Lalu wajahnya yang tersenyum muncul dalam benaknya. “Tuan Alcheon..”gumam Zhi Youn . “Zhi Youn..Zhi Youn..” panggil Yuri. “ah..iya?” Zhi Youn tersadar dari lamunannya. “diajak ngobrol kok malah sambil melamun sih?jangan-jangan kau sedang kau sedang memikirkan dia ya?” goda Yuri. Zhi Youn buru-buru menarik selimutnya. “ti..tidak..siapa yang melamun..aku tidak sedang memikirkan Tuan Alcheon..ups..” Zhi Youn sadar ia telah keceplosan. Ia menoleh ke belakang, Yoo Hee, Yuri, dan Young In tersenyum nyegir. “kau ketahuan Zhi Youn..” cengir Yoo Hee. Lalu mereka bertiga segera menarik selimutnya untuk menginterogasinya. Zhi Youn hanya bisa pasrah tak bisa kabur.
“hmm jadi benar ya kau memikirkannya?” goda Yoo Hee.”ayolah masa kau tak mau cerita pada kami?” goda Young In. Zhi Youn masih menutup rapat mulutnya. “kalau begitu kami akan..” Yuri berjalan mendekatinya. “eh tunggu..kau mau apa?” sergah Zhi Youn. “mengelitikimu..” seru Yuri sambil mengelitiki sepupunya itu. Young In dan Yoo Hee pun ikut turun tangan. Zhi You tertawa terbahak-bahak karena geli. “stop..stop..” Zhi Youn mengangkat tangan menyerah. Yuri dan kedua saudaranya pun berhenti mengelitikinya. “kalian ini selalu saja…” ujar Zhi Youn sambil merapikan bajunya. “kan kita sudah berjanji tak ada rahasia di anatara kita kita harus saling berbagi cerita..” sahut Young In. Zhi Youn pun terdiam. Ia ingat dulu ia sendiri yang membuat janji itu waktu mereka berempat masih kecil. “jadi benarkan kau memikirkannya?” goda Yoo Hee. Zhi Youn mengangguk. Ia tertunduk malu. Wajahnya terasa panas ketika mengakuinya. Keitga bersaudara itu pun tertawa terbahak-bahak. “kalian ini..aku menjawab kalian malah tertawa?” protes Zhi Youn. “lucu saja melihat wajahmu malu-malu begitu..” sahut Yuri. Zhi Youn hanya bisa cemberut pasrah melihat ketiga saudara sepupunya menertawakannya. Yoo Hee berjalan menghampirinya lalu duduk di sampingnya. “bukannya kami meledekmu..tapi rasanya aneh melihatmu bisa melamun seperti itu..pasti ada hal yang benar-benar mengganjal hatimu kan?”tanyanya. Zhi Youn hanya diam. Tapi hati kecilnya membenarkan itu. Hatinya tertambat pada seseorang Kepala Pengawal Raja bernama Alcheon. Namun ia tidak menyadari perasaan apa itu sebenarnya. “wajahnya sih cukup tampan..tapi sepertinya ia adalah orang yang kaku dan serius…” komentar Young In. “ti..tidak kok..Tuan Alcheon..bukanlah orang yang seperti itu…” jawab Zhi Youn membela. Yuri, Yoo Hee, dan Young In hanya tersenyum kepadanya. “a..aku cuma mengatakan yang sebenarnya..” ujar Zhi Youn sambil mengalihkan pandangannya dari ketiga saudara sepupunya itu. “aa..pasti kau sudah jatuh cinta padanya ya?” goda Yuri “jatuh cinta padanya? mana mungkin?aku baru saja berkenalan dengannya beberapa hari..jadi tidak mungkin..” sahut Zhi Youn. Tapi ketiga saudaranya hanya tersenyum nyegir. “huuh ..ya sudah kalau kalian tidak percaya..selamat tidur..” gerutu Zhi Youn sambil menarik selimutnya dan tidur kembali. “kami percaya kok..wajahmu yang memerah itu tak bisa menipu..” goda Yoo Hee. Yuri dan Young In tertawa terbahak-bahak. “selamat tidur Zhi Youn..”seru mereka sambil kembali ke tempat tidur masing-masing. “pasti kau sudah jatuh cinta padanya ya?” kata-kata itu terngiang kembali berulang-ulang. “uugh..” Zhi Youn membuka selimutnya. Ketiga saudaranya sudah terlelap di temapt tidur mereka masing-masing. ”aku jatuh cinta padanya?mungkinkah?” pikirnya. Hatinya langsung terasa hangat begitu memikirkannya.