Pages

Sabtu, 19 Februari 2011

Our Future Still Continue Chapter 81: Entering The Fortress



Tengah Malam
Benteng Hwangsanbeol, Baekje
 Dengan perlahan Shin Ae melakukan tugasnya, tapi rupanya Daemusin sudah tidak sabar. Ia meminta Shin Ae agar berdiri saja di samping pintu. Shin Ae pun mengangguk menurut  dengan air mata tertahan di wajahnya. Daemusin berjalan dan duduk di sisi tempat tidur Deok Man dan berbisik padanya “maafkan aku karena harus melakukan ini padamu…tapi jika tidak begini, maka kau tak akan bisa menjadi milikku…” dengan wajah tersenyum puas lalu mencium leher Deok Man dan mulai mengoyak pakaiannya.

Luar Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
“Jenderal sepertinya Kim Yushin menarik mundur pasukannya..” lapor salah seorang prajurit. “kejar mereka!!jangan sampai mereka lari!!” seru Jenderal  Yul Gang dari atas kudanya. “rupanya kau sudah di amabang kematian Kim Yushin... bukan Gybaek yang akan membunuhmu tapi aku…” pikir  Jenderal Yul Gang sambil  tersenyum puas.  “SIAPKAN PASUKAN BERKUDA!!KEJAR KIM YUSHIN!!”

“PASUKAN MUNDUR!!” seru Kim Yushin. “Panglima mereka mengejar kita dengan pasukan berkuda..” lapor salah seorang prajurit yang ikut berlari mundur bersama Yushin. Tapi ia justru dibuat kebingungan karena Yushin justru malah tersenyum dan berkata “bagus..”

“ayo cepat-cepat…” seru Kim Yushin yang berdiri di balik pohon pada pasukannya yang berlari melewatinya. “Panglima kami adalah baris terakhir…” seru sekelompok pasukan yang menghampiri Yushin.  “apakah itu masih kalian bawa?” tanya Yushin. Mereka pun mengangguk. “bagus..sekarang ayo kita pasang itu..” ujar Kim Yushin. “PASUKAN BARIS TERAKHIR MUNDUR!!” seru Yushin.

“lapor Jenderal…pasukan Jenderal Yul Gang sedang mengejar Kim Yushin…” lapor seorang prajurit Baekje. “mereka sudah sampai dimana?” tanya Gyebaek.  “hampir mencapai tepi sungai..” jawab prajurit itu. Tiba-tiba Gyebaek teringat akan pesan Daemusin padanya. “dalam situasi seperti ini…Kim Yushin akan berusaha melakukan serangan bertahap untuk menghancurkan kita..karena itu kau berhati-hatilah…” “Jenderal apakah kita tidak ikut mengejarnya?kita harus membantu pasukan Jenderal Yul Gang?” tanya Jenderal Tae Hyun.  “jangan sekarang..ada hal yang ingin kupastikan..” ujar Gyebaek.

“splash..splassh..” Yushin dan pasukannya yang terakhir berlari memasuki sungai.  Para pasukan itu membuka tasnya dan mengeluarkan gelondongan besi berduri dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan yang digunakan dalam pertempuran di Lembah Kumhwa. Mereka melemparkannya tersebar ke sungai.  “toplak..toplak..” terdengar suara derap kuda dari belakang.  “itu mereka..” seru Kim Yushin “kalian cepatlah sembunyi…dan kirim tanda kepada Jenderal Baek Ui dan Yesung untuk bergerak..” serunya. “baik Jenderal..” jawab pasukan itu.
“kejar mereka!!” seru Yul Gang sambil memacu kudanya. “baik!!” jawab pasukan berkuda yang ada di depan Yul Gang. Mereka pun memacu kudanya cepat-cepat sampai akhirnya berlari melintasi sungai yang membuat kuda mereka tak mampu lagi berlari.

Kuda mereka meringkik kesakitan begitu melintasi sungai dan menjatuhkan diri bersama dengan para penunggangnya. “aargh..” teriak para penunggangnya.  Yul Gang bernasib bagus karena ia berhasil menghentikan kudanya begitu melihat nasib para pasukan berkudanya yang ada di baris depan.  “periksa ada apa di sunga itu!!” serunya pada para prajuritnya. Para prajuritnya hanya bisa menuruti perintahnya lalu berjalan memasuki sungai. “ouch!!” salah seorang prajurit mengaduh. Ia meraba-raba di dalam air yang sekarang berwarna darah itu dan menarik sesuatu dari dalamnya. Gelondongan besi berduri. “Jenderal ini penyebabnya..” seru prajurit itu sambil menunjukkannya pada Yul Gang. “sialan kau Kim Yushin!!” geram Yul Gang dalam pikirannya. “kau coba lewat sana….pastikan di sana tak ada duri-duri sialan itu..” seru Yul Gang pada pasukannya yang ada di sisi kanannya. “dan kau lewat sini…” perintahnya pada pasukannya yang berdiri di sisi kirinya.  “KEJAR PASUKAN KIM YUSHIN DAN HABISI MEREKA!!” seru Yul Gang menyemangati pasukannya. Tapi rupanya yang dikejar sekarang berniat melakukan serangan balik. Dari hutan di seberang sungai terdengar suara terompet ditiup dan panah-panah pun melesat dari arah hutan. “SERANG MEREKA!!” seru Jenderal Shin. “SAATNYA SERANGAN BALIK!!” seru Yushin sambil mengacungkan pedangnya ke atas.

Benteng Hwangsanbeol, Baekje. 
 “gyaa…” seru seorang pasukan yang baru saja ditusuk Bi Dam dengan pedangnya. Dari sebaris pasukan yang menyerangnya hanya tinggal seorang yang masih tersisa.  Karena takut, prajurit itu berusaha melarikan diri sebelum akhirnya pedang Bi Dam mengehentikan kaki kirinya melangkah “katakan dimana Deok Man?” seru Bi Dam sambil mengacungkan sisi tajam pedangnya di leher orang itu. “Deok Man??sa..saya..tidak tahu Tuan…”  jawab orang itu dengan penuh ketakutan. Bi Dam pun semakin geram   “Tuan Putri Deok Man?? Putri dari Shilla??” bentaknya. “sa..saya tidak tahu Tuan..sungguh..” ujar orang itu. Bi Dam pun bisa melihat dari mata prajurit yang ketakutan itu bahwa ia tidak berbohong. “tentu saja ia tidak tahu siapa Deok Man, Tuan Sangdadeung Bi Dam…” seru salah seorang yang berdiri di ujung lorong yang gelap. “siapa kau?!!” Bi Dam melepaskan prajurit yang ditahannya tadi. “seluruh prajurit di benteng ini haya tahu kalau aku membawa budak wanita untuk Panglima Daemusin…mereka tidak tahu identitas wanita itu sebenarnya..” jawab orang itu. Setelah dilepas Bi Dam, prajurit itu segera lari terbirit-birit. “siapa kau?!tunjukkan dirimu!!” bentak Bi Dam dengan suara lebih keras.  “kau akan mengenaliku setelah kau melihat wajahku..” orang itu berjalan maju dan cahaya obor yang menempel di dinding membuat Bi Dam bisa melihat wajah orang itu. “Bajingan!!kau mata-mata rupanya!!” seru Bi Dam. Cha Seung Won tersenyum puas melihat raut Bi Dam yang marah.
Seung Won berjalan mendekat mengitari mayat-mayat yang tergeletak di lantai.  Bi Dam sudah menggenggam erat pedang di tangannya. “dimana Deok Man?” tanyanya dengan penuh emosi. “jika bukan karena kau yang mengenalkan dirimu kepadaku..mungkin aku tak tahu dimana kau tinggal dan bagaimana wajah Tuan Putri Deok Man…”  jawab Seung Won sambil mengeluarkan pedangnya dari sarungnya. “bohong!!kau pasti sudah menyelidiki kami sebelumnya!” bentak Bi Dam. “aku ragu ketika kau menghadapi anak buahku yang menyerangmu saja..kau sampai terluka, bahkan istrimu nyaris saja terbunuh…kurasa kau bukanlah lawan yang sebanding denganku…kau lemah Bi Dam..” Seung Won melanjutkan komentarnya. Bi Dam hanya mendengus kesal “katakan padaku dimana Deok Man!!”  “malam itu ketika aku menyerang rombongannya…istrimu terlihat begitu berani sama seperti dirimu..ia menantangku duel satu lawan satu…tapi apa yang terjadi? ia kujatuhkan dengan mudahnya…” “keparat kau!!jadi kau yang menyerang dan menculiknya!!” Bi Dam segera mengeluarkan pedangnya dan berlari menyerang Seung Won. Seung Won hanya tersenyum lalu juga maju dan ikut menyerang “TRAANG!!” kedua pedang mereka beradu.

“ambilkan pedangku..” ujar Daemusin yang baru saja selesai mengenakan jubahnya.  Shin Ae bergerak maju sambil membawakan pedang dengan gagang warna coklat. Daemusin mengambilnya dari tangan Shin Ae dan menyandangnya di pinggangnya, kemudian berjalan menuju pintu.Di depan pintu, langkah Daemusin pun terhenti “setelah kau selesa, jika kau tak tahan dengan semua ini, kau bisa berangkat dengan para pengawal menuju kediamanku di Hongsong…tinggalah di sana…rumah beserta isinya adalah milikmu…lakukanlah apa yang kau suka..” kata Daemusin. Shin Ae hanya diam. “sraak..” Daemusin membuka pintu di depannya. Tiba-tiba Shin Ae bergerak maju dan memeluk Tuannya itu dari belakang. Daemusin hanya diam. Merasakan kedua tangan Shin Ae memeluk erat perutnya. “aku ingin terus berada bersama Tuan sampai kapan pun..” “jika itu memang maumu..lakukanlah..” gumam Daemusin sambil menggenggam erat tangan Shin Ae sesaat sebelum ia melepaskan kedua tangan itu dari perutnya. Ia pun melangkah keluar dari kamar itu dengan pengawalan prajurit bersenjata di depannya. “Tuan…” gumam Shin Ae.

Luar Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
Melihat serangan dari lawan, Yul Gang pun semakin geram tapi ia tak mau mengambil resiko, ia pun memilih untuk mundur.  “PASUKAN BARIS DEPAN MUNDUR!!” Namun rupanya sudah terlambat ia memberikamn komando itu, karena sebagian besar pasukannya usdah dilumat oleh pasukan Shilla.
“pasukan garis depan berhasil dipukul mundur…” Jenderal Shin melapor kepada Yushin  yang sekarang berkuda di sampingnya.  “bagus..tapi kita harus waspada..karena sepertinya rencana kita bisa dibaca oleh Baekje entah oleh Daemusin atau Gyebaek atau jenderal yang lain...tapi yang pasti pasukan baris tengah mereka pasti  sudah menunggu kita di luar hutan ini..kalian berhati-hatilah karena pasukan barisan tengah Baekje sangatlah banyak..jangan tergesa melakukan serangan..” ujar Yushin. Jenderal Shin dan Yul pun mengangguk “siap Panglima!” “PASUKAN BARIS BELAKANG!!SIAPKAN PELONTAR!!” seru Yushin.

“munduuuur!!!” seru Jenderal Yul Gang sambil memimpin pasukan Baekje yang berlarian keluar dari hutan. “apa yang terjadi? kenapa mereka mundur?” pikir Gyebaek. “PASUKAN BAEKJE BARIS DEPAN BENTUK BARISAN!!” seru Gyebaek. Mendengar perintah dari Gyebaek, para pasukan yang berlarian itu pun kemudian membentuk barisan di depan pasukan Gyebaek. “Jenderal Yul Gang!laporkan padaku apa yang terjadi!” tanya Gyebaek. Jenderal Yul Gang pun turun dari kudanya dengan kepala tertunduk. Mau tidak mau ia harus mengakui bahwa ini kesalahannya melakukan penyerangan tergesa-gesa, padahal seharusnya ia belajar dari apa yang dialami Seong Bin. “maafkan saya Jenderal..saya terlalu tergesa-gesa melakukan serangan…hampir saja saya termakan jebakan mereka” “benar sesuai dugaan Panglima..” pikir Gyebaek. Yul Gang pun sudah bersiap menerima hukuman dari Gyebaek namun yang didengarnya justru berbeda. “kembali ke kudamu, Jenderal..aku akan membagi pasukan barisan tengah menjadi dua..dan aku mempercayakan mereka kepadamu..” perintah Gyebaek. “siap Jenderal!kepercayaanmu tak akan pernah kusia-siakan!” jawab Jenderal Yul Gang sambil memberi hormat.  “PASUKAN BENTUK FORMASI BERLAPIS!!SIAPKAN BARIKADE!!” seru Gyebaek.  Tak lama kemudian dari hutan, berlarian pasukan Shilla dengan tombak dan perisai di kedua tangan mereka. “SERANG BAEKJE!!”  seru pasukan Shilla penuh semangat.

Benteng Hwangsanbeol
“TRAANG!!”  Bi Dam dan Seung Won beradu pedang di depan wajah mereka. “kalau kau ingin mencari tahu siapa yang salah, seharusnya kau menyalahkan dirimu sendiri Bi Dam…salahkan dirimu sendiri…karena kau terlalu lemah..dan karena kau bodoh..” ujar Seung Won di sela-sela duel mereka. Bi Dam pun berusaha mendorong Seung Won, tapi Seung Won berhasil berkelit dan menyerang balik hingga perut Bi Dam terluka. “rupanya kau sangat marah padaku ya?” tanya Seung Won.  Bi Dam hanya menunjukkan matanya yang penuh amarah sambil menahan perutnya yang berdarah.   Seung Won pun menertawakan Bi Dam dengan tawa khasnya. “jangan kau pedulikan dia Bi Dam..yang terpenting sekarang adalah Deok Man..kau harus segera menolong istrimu…” pikir Bi Dam berusaha meredakan emosi yang hampir saja kembali meledak. Namun emosinya benar-benar meledak begitu ia mendengar perkataan Seung Won berikutnya. “dan sekarang kau tahu Bi Dam apa yang dilakukan istrimu di sini?ia menjadi gundik Bi Dam..ia menjadi pelacur dari Daemusin…hidup nyaman dalam kurungan…dan sepertinya Daemusin senang dengan pelacur barunya itu…”  Tanpa berkata apa pun, sambil menggenggam pedang dengan kedua tangannya,  Bi Dam berlari berusaha menyerang Seung Won. Tapi Seung Won sudah bersiap menangkis serangan itu. Dengan satu serangan pedangnya dari arah bawah, “TRAANG!!” Pedang Bi Dam pun terlepas dan terpental ke atas. Seung Won pun berancang-ancang melakukan serang berikutnya untuk menebas Bi Dam. Namun Bi Dam melakukan gerakan tak terduga. Secapt angin, Ia meloncat dan meraih pedangnya di udara kemudian langsung menghujamkan pedangnya  tepat di dada Seung Won. “urrgh..” Seung Won jatuh berlutut, tak mampu berkata apa-apa selain mengeluarkan darah dari mulutnya. Bi Dam mencabut pedangnya yang sekarang berlumuran darah dari dada Seung Won. “kau boleh mengataiku apapun yang kau mau sepuasmu..tapi jangan pernah berani menghina istriku dengan mulut kotormu itu…” “bruuk..” Seung Won pun jatuh ke tengkurap ke lantai tak bernyawa.  Bi Dam pun kembali berjalan menuju pintu besi di hadapannya.

Luar Benteng Hwangsanbeol.
“MAJU!!” seru Jenderal Tae Hyun  sambil memacu kudanya. “PASUKAN PEMANAH BERSIAP!!ARAHKAN KE BARISAN BELAKANG PASUKAN SHILLA!!” seru Jenderal Hodong. Ribuan pemanah bersiap dengan panah api di pada busur mereka. “TEMBAK!!” seru Jenderal Hodong. “kali ini aku tak akan membiarkan kau meraih kemenangan Yushin…” pikir Gyebaek  “PASUKAN BAEKJE!BENTUK FORMASI MATA PANAH!!SIAPKAN PENYERANGAN FRONTAL!!”  serunya.  dua orang prajurit yang berdiri di kiri dan kanannya meniup terompet yang kemudian diikuti oleh beberapa prajurit lain dari masing-masing barisan.

Melihat panah-panah api mengangkasa, Yushin dan para jenderalnya segera menginstruksikan pasukannya untuk berlindung. Namun hujan panah api tetap saja memakan korban yang cukup banyak dari pasukan Shilla.  Yushin pun tak mau kalah. “PASUKAN PELONTAR!!TEMBAK!!” serunya.  Bola-bola api melesat ke udara dan mengenai barisan pasukan Baekje. “kita harus segera masuk dalam formasi mereka!!pimpin pasukan kalian  untuk memecah formasi Baekje…aku akan memimpin dari tengah..” ujar Yushin pada keempat jenderalnya.  “siap Panglima…” jawab keempat jenderalnya. “uoong!!” terdengar suara terompet berbunyi. “suara apa itu?”  tanya keempat Jenderal. “sepertinya pemimpin perang mereka menginstruksikan sesuatu..” ujar Yushin yang juga kaget mendengar suara itu. “tapi apapun itu kita harus siap menghadapinya..”  

Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
“haiik!!” Alcheon menahan serangan pedang sekelompok prajurit yang mengepung dirinya lalu mendorong pedang-pedang itu ke atas dan menebas lawan-lawanya dengan satu gerakan melingkar yang sempurna.  Lawan-lawannya pun terkapar di tanah. Alcheon menghapus peluh di keningnya tapi sepertinya itu sia-sia karena muncul lagi sekompi pasukan yang mengejarnya  “itu dia penyusupnya!!serang…”  Alcheon pun kembali ke posisi siap. “maju kalian!”  
“braak..” Bi Dam mendobrak satu persatu pintu di hadapannya. “Deok Man!!” serunya. Namun semuanya kosong atau hanya diisi pengawal yang kemudian lansung menyerangnya.  Bi Dam pun kembali menaiki tangga yang ditemuinya dan memeriksa ruangan dari setiap lantai yang diinjaknya.  Ia pun menaiki tangga. Dan kali ini hanya ada satu ruangan yang ada di ujung lorong dan itu dijaga oleh sekompi prajurit bersenjata.

Senin, 14 Februari 2011



Baekje army at Hwangsanbeol battle

ide: Art of War karya Sun Tzu
cr piku: Red Cliff I

sekali lagi mohon maaf bila ada kesamaan cerita atau scene atau apa deh (stress authornya) tapi sama sekali ga ada niat untuk jeplak... tapi umumnya kalo jaman dulu (dari yg w baca di internet) jika unggul pasukannya cukup jauh biasanya, mereka lebih utamain pasukan pedang n tombak mereka di depan trus ada pasukan sayap kiri n kanan buat ngepung lawannya. and ini salah satu contoh bentuk strateginya. Pasukan Cao Cao pake strategi ini buat mengalahkan Liu Bei.

Battle at Kumhwa Valley

fomasi lingkaran Pasukan Jenderal Seong Bin dari Baekje.

ide: - Book Art of War written by Sun Tzu
- QSD (formasi lingkaran yang diteriakin Deok Man itu lho ^^)
cr piku: Red cliff I


mohon maaf bila ada kesamaan cerita atau scene atau apa deh (stress authornya) tapi sama sekali ga ada niat untuk jeplak... ini hasil penafsiran strategi setelah melototin buku art of war karya General Sun Tzu.. (katanya strategi lingkaran emang efektif lho kalo dikepung banyak orang, tentu aja efektifnya tergantung dari kemampuan c pemimpin n prajuritnya..)

Our Future Still Continue Chapter 80: Battle Begins




Ruang Kerja Perdana Menteri, Istana Ingang, Shilla.
“apakah pasukan penjaga Seoraboel sudah siap?” tanya Kim Yong Chun. Baek Jong mengangguk “sudah… dalam jarak  92 ri, 5.000 pasukan sudah ditempatkan untuk melindungi Seoraboel..” “dan proses evakuasi penduduk di wilayah perbatasan?” “sudah..hampir seluruhnya dievakuasi ke kota-kota yang cukup jauh dari wilayah perang…tapi ada sedikit masalah..” ujar Baek Jong. “apa itu?” tanya Kim Yong Chun “para bangsawan menanyakan bagaiaman caranya membawa seluruh kekayaan dan keluarga mereka?” Kim Yong Chun menghela napas panjang  “di saat seperti ini mereka masih saja memikirkan harta…untuk itu nanti aku yang bicara pada mereka..” Lalu Kim Yong Chun menatap Kim Seo Hyun yang duduk di sisi kanannya. “lalu bagaimana dengan tempat persembunyian Yang Mulia?apakah sudah siap?” “sudah…hanya tinggal menunggu kedatangan Yang Mulia Raja saja..” jawab Kim Seo Hyun. “tapi bukankah Yang Mulia memutuskan untuk menetap di Seoraboel?” sahut Baek Jong. “aku akan berusaha membujuknya..kita tidak bisa menggantungkan diri pada harapan kecil bahwa Panglima Kim Yushin bisa memenangkan pertempuran tidak seimbang ini…setidaknya sekalipun Seoraboel jatuh..jangan sampai takhta ikut jatuh ke tangan Baekje…” ujar Kim Yong Chun. Kim Seo Hyun dan Baek Jong mengangguk mengerti.  Kim Yong Chun pun bangun dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangannya diikuti Jenderal Baek Jong.

“aku sungguh tak habis pikir, di saat seperti ini para bangsawan itu masih memikirkan harta mereka…” ujar Kim Yong Chun.  Namun Baek Jong hanya diam saja. Kim Yong Chun menghentikan langkahnya  “apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” Baek Jong pun tersadar dari lamunannya “oh tidak..” “jujurlah…kau tak akan bisa memikirkan negara jika kau masih mempunyai pikiran di tempat lain..” ujar Kim Yong Chun. ”maafkan saya Tuan Perdana Menteri..hanya saja saya sedang memikirkan istri dan keluarga saya..” jawab Baek Jong   “apakah ada masalah?” tanya Kim Yong Chun “saya hanya bingung jika nanti kemungkinan yang terburuk terjadi, saya harus mempercayakan istri dan anak-anak saya kepada siapa?Dae Jia  bilang ia bisa menjaga dirinya sendiri dan anak-anak..akan tetapi tetap saja..” “bukankah Nyonya Dae Jia sedang mengandung?” tanya Kim Yong Chun. Baek Jong mengangguk “kedua orang tua Dae Jia sudah tiada..dan ia adalah putri tunggal begitu juga saya…saya pun tak ingin melarikan dir dari kewajiban saya sebagai kepala pengawal..hanya saja tak ada yang menjaganya..” Kim Yong Chun tersenyum dan menepuk bahu Baek Jong  “kau ajak istri dan anak-anakmu ke kediamanku nanti malam…mereka bisa ikut mengungsi bersama istri dan anak-anakku nanti..istriku dan putra-putraku yang dewasa bisa menjaga mereka…” Baek Jong nampak sungkan dan ragu “tetapi Tuan apakah itu tidak..”  “janganlah sungkan…kau sudah berjuang demi negara ini..dan kau harus menerima tawaranku…”  Baek Jong pun segera membungkukkan badannya “ terima kasih Tuan Perdana Menteri..kebaikanmu akan kuingat seumur hidupku..”

 Siang hari
Benteng Hwangsanbeol, Baekje
“kondisinya cukup lemah..tapi syukurlah tidak demam…mungkin sebentar lagi ia akan sadar..” ujar tabib sambil memeriksa kening dan denyut nadi Deok Man. “syukurlah Tuan Putri..” gumam Shin Ae.  Daemusin hanya terdiam menatap Deok Man yang terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidurnya. “hamba mohon menghadap Panglima..” seru seseorang dari balik pintu. “masuklah..” jawab Daemusin. Seorang prajurit masuk dan memberi hormat “keenam jenderal menunggu Panglima untuk hadir di ruang pertemuan..katanya ada pergerakan dari Pasukan Shilla..” Daemusin terdiam sejenak menatap Deok Man sebelum akhirnya berjalan  keluar meninggalkan kamar Deok Man.
“sraaak..” Daemusin melangkah masuk ke dalam ruang pertemuan. Keenam Jenderal berdiri dan memberi hormat kepadanya. Daemusin pun duduk di tengah “ada pergerakan apa lagi dari Shilla?” “5.000 pasukan Shilla mendirikan kemah dalam radius 46 ri dari benteng ini…mereka melanggar batas wilayah yang disepakati Baekje-Shilla sebelumnya…” jawab Gyebaek.  “hmm..bukankah mereka baru pindah saja ke benteng yang ditinggalkan itu?Benteng Jinju kah?” tanya Daemusin. “ya Panglima..” jawab Gyebaek. “kita harus menyerang kemah itu…mereka sudah lancang melanggar batas wilayah Baekje..” ujar Tae Hyun. Jenderal Hodong berdiri dari duduknya. Jenderal  yang mengenakan topeng merah  untuk menutupi separuh wajahnya yang terluka akibat perang sebelumnya.  “izinkan saya untuk menyerang kemah itu…” serunya. “adakah jenderal yang memimpin pasukan di kemah itu?” tanya Daemusin. “menurut laporan yang memimpin adalah Jenderal Baek Ui, Panglima..” jawab Jenderal Hodong “hmm...pengendara kuda terbaik di Shilla ya..” Daemusin tersenyum kecil mendengarnya.  “kurasa tenagamu lebih dibutuhkan untuk mendampingi Jenderal Gyebaek nanti, Jenderal Hodong…” Hodong pun nampak kecewa dan duduk kembali di tempat. “Jenderal  Seong Bin!” panggil Daemusin. “ya..Panglima..” jawab Seong Bin.  “kudengar kau keberatan dengan terpilihnya Gyebaek menjadi pemimpin perang ini?” tanya Daemusin sambil menatap lurus  Seong Bin. Seong Bin pun nampak panik  “ti..tidak Panglima..itu tidak benar..justru saya mendukung terpilihnya Jenderal Gyebaek menjadi pemimpin perang..” “kalian tahu…kemenangan tak akan bisa dicapai jika tidak ada kesatuan antara pemimpin dan anak buahnya…” “kami mengerti Panglima..” jawab keenam jenderal tersebut. “kalau begitu Jenderal Seong Bin tunjukkan padaku kesetiaan dan kemampuanmu terhadap Baekje…mungkin aku bisa membuat pertimbangan ulang mengenai posisimu..bawa pasukan 6.0000 pasukan Wa dan 4.000 pasukanmu, hancurkan kemah itu dan habisi mereka sampai tak tersisa..” “baik Panglima..” jawab Seong Bin sambil memberi hormat lalu pergi melangkah keluar. “Jenderal Tae Hyun, Jenderal Hodong, Jenderal  Yul Gang!” panggil Daemusin. “siap Panglima!” jawab merek serempak. “sebentar lagi 10.000 pasukan yang tersisa akan tiba..aku perintahkan kepada kalian untuk membagi rata pasukan itu di antara kalian dan bersiap untuk pertempuran nanti malam..”   “baik Panglima!” jawab mereka. Lalu mereka pun berdiri memberi hormat dan pergi keluar dari ruangan itu.   “kurasa akan lebih baik jika hanya kalian berlima yang berperang untuk Baekje nanti malam..” ujar Daemusin. “maksud Panglima, kabar yang tadi itu..” namun belum selesai Gyebaek berbicara, Daemusin sudah bangun dari duduknya dan memotong pembicaraannya “buktikan pada mereka Gyebaek..bahwa aku tidak salah menunjukmu memimpin Baekje berperang nanti malam..” Gyebaek mengangguk “siap Panglima!” Lalu Daemusin berjalan keluar meninggalkan ruangan pertemuan itu.


Wilayah perbatasan Baekje-Shilla (15 km dari Hwangsanbeol)
Baek Ui sudah bersiap di atas kudanya sambil memberikan komando dari sana. “jenderal..jenderal..”salah seorang prajurit berlari-lari tergopoh-gopoh. “ada apa?” tanya Baek Ui. “Jenderal..mereka sudah keluar dari Benteng dan menuju ke sini!!” Mendengar itu, Baek Ui segera menyerukan perintah “PASUKAN BERSIAP!!!”
Seong Bin bersama 10.000 pasukannya mengejar pasukan Baek Ui yang telah meninggalkan kemah. “bunuh merek semua!!!” seru Seong Bin. Baek Ui dan pasukannya berusaha menghindar dari pengejar mereka.  Mereka menerobos hutan di depan mereka. “baguslah mereka masih mengejar..” ujar Baek Ui sambil menoleh ke belakang. “hiaa.." ia memacu kudanya lebih cepat. Menuntun pasukannya dan pengejarnya menuju medan pertempuran yang sebenarnya.


Lembah Kumhwa (16 km dari Hwangsanbeol)
“sraak..sraaak..” para pasukan berkuda sibuk hilir mudik dengan dedaunan panjang yang diseret oleh kuda mereka.Debu dan pasir coklat berhembus memenuhi  udara. Baek Ui dan pasukannya muncul menerobos debu dan pasir tebal di hadapan mereka. Begitu juga Seong Bin yang masih ngotot mengejar mereka. Mendadak Baek Ui beserta pasukannya berbelok ke arah  kanan dan bersamaan dengan itu ribuan anak panah menyerbu menghujam Seong Bin dan pasukannya. Seong Bin berhasil dan sebagian besar pasukannya berhasil selamat sementara yang lain tidak. Begitu debu dan pasir yang berhembus di udara surut, Seong Bin dan pasukannya yang selamat baru menyadari bahwa sekarang mereka sudah terkepung. Mereka sudah terjebak di tengah lingkaran pasukan Shilla yang mengepung mereka. “bentuk formasi lingkaran!!” seru Seong Bin. Para pasukan Seong Bin segera membentuk formasi lingkaran, dengan Seong Bin berada di tengah. “MAJU!!”  seru Seong Bin. Pasukan Shilla pun mencoba merapatkan lingkaran dan membongkar formasi lingkaran pasukan Seong Bin namun tak berhasil karena rapatnya pertahana perisai pasukan Seong Bin. Dengan kompak pasukan berperisai bergantian keluar dan masuk dengan pasukan bertombak Seong Bin yang bertugas menyerang pasukan Shilla.   Bi Dam, Yushin bersama kedua jenderalnya  melihat dari luar lingkaran “Panglima..kurasa kita bisa menggunakan itu..”   ujar Yesung.  Yushin mengangguk “Jenderal Yesung dan Jenderal Baek Ui majulah ke sana…bongkar formasi mereka” “baik Panglima..” jawab Im Jong dan Shin serempak.

Seong Bin bisa melihat Yushin yang berdiri menatapnya dari kejauhan “hei Yushin!!turunlah kalau berani!!” serunya.  Dengan tombak panjang di tangannya, Seong Bin menikam prajurit Shilla yang mencoba  mendekati formasi lingkarannnya. “plak..plak..” Baek Ui dan Yesung memacu kudanya memasuki arena pertempuran. Mereka berdua menarik rantai yang terseret di tanah lalu mengelilingi formasi lingkaran Seong Bin ke arah yang berlawanan. Lalu Baek Ui dan Yesung  menarik rantai itu, dan dari tanah muncul gelondongan besi berduri yang terpasang pada rantai yang terseret di tanah. Baek Ui dan Yesung memacu kudanya ke arah  yang berlawanan sehingga rantai itu mengikat formasi lingkaran Seong Bin dan memecah formasi lingkaran itu dengan gelondongan besi berduri.  Formasi itu pun akhirnya pecah. “hancurkan mereka!!jangan sampai mereka membentuk formasi lagi!!!” teriak Baek Ui sambil mengacungkan golok panjangnya ke atas. Ribuan pasukan Shilla pun segera menyerbu pasukan Baekje itu tanpa ampun. “heaa!!” Seong Bin dengan dua pedang di tangannya menebas setiap pasukan Shilla yang mencoba menyerangnya. Melihat bahwa kemampuan Seong Bin , Yesung pun memutuskan untuk maju melawannya “haiiik!!”  Ia berlari dengan mata pedang tertuju pada Seong Bin. “traang!!” Dengan kedua pedangnya Seong Bin menahan serangan Yesung. Mereka pun terlibat dalam duel sengit dan saling menunjukkan ilmu pedang masing-masing. Yesung bisa saja menjatuhkan Seong Bin namun Seong Bin lebih dulu menghindar dan melemparkan pasir yang digenggamnya ke arah Yesung. “bruuk” Seong Bin menendang Yesung yang tak bisa melihat jatuh ke tanah. “haiiik!! mati kau!!” seru Seong Bin sambil mengambil ancang-ancang untuk menghujamkan pedangnya. “traang!!”  Golok panjang Baek Ui mencegah itu semua terjadi. 

“sekarang lawanmu adalah aku..” ujar Baek Ui. “kau!!jahanam Baek Ui yang menjebakku!!mati kau!!” seru Seong Bin sambil menarik pedangnya yang tertahan golok panjang Baek Ui. Setiap senjata memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Golok panjang Baek Ui memang memiliki wilayah serang yang lebih luas namun juga membatasi macam bentuk serangannya. Dan dua pedang Seong Bin lebih ringan dan bisa digunakan untuk bertahan dan menyerang dengan baik meskipun jangkauan serangnya tidak sejauh golok panjang.  “akan kubunuh kau!!lalu panglimamu!!” seru Seong Bin penuh emosi.  Ia berusaha mematahkan golok panjang Seong Bin. Namun Baek Ui tidak diam begitu saja. Ia menarik ke belakang golok panjangnya ke belakang, dan Seong Bin melihat ini sebagai kesempatan untuk menyerangnya. “haiiik!!mati kau!!!” seru Seong Bin sambil mengarahkan kedua mata pedangnya ke depan. Namun rupanya ini juga dimanfaatkan Baek Ui. Dengan satu gerakan memutar cepat, Ia menarik golok panjangnya kuat-kuat dan menebas Seong Bin.  Seong Bin pun terkapar di tanah tak bernyawa. “huft..tak akan kubiarkan kau menghancurkan partenerku!!” gumam Baek Ui menatap mayat Seong Bin.

“Baek Ui..” Yesung berjalan ke arahnya. “kau tak apa-apa?” tanya Yesung. Baek Ui menggelengkan kepala. Para pasukan Seong Bin yang sudah kehilangan pemimpinnya mencoba untuk kabur . Namun Yesung bersama pasukan di bawah komandonya tidak membiarkannya. Setelah selesa membunuh prajurit Baekje yang terakhir, Yesung mengangkat pedangnya begitu juga Baek Ui. Para pasukan Shilla pun bersorak gembira. Yushin tersenyum melihat kegembiraan para prajuritnya. Tapi masih kekhawatiran di wajahnya. “tampaknya Daemusin menguji kita..” ujar Bi Dam. Yushin mengangguk “sebagian besar dari pasukan yang dibawa ke sini adalah pasukan Wa…” jawab Yushin. Bi Dam mengangguk “tapi setidaknya jumlah pasukan mereka sudah berkurang…sedikit meringankan beban kita untuk perang nanti malam…” “mengenai perang nanti malam…apakah kau sudah siap?” tanya Yushin sambil menatap Bi Dam yang berdiri di sampingnya. “lebih dari siap..bahkan nyawaku sudah siap untuk dikorbankan…” jawab Bi Dam sambil menggenggam erat pedangnya.

Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
“ada apa?kenapa wajah kalian seperti itu?” tanya Daemusin begitu duduk di tempat duduknya. “pasukan Jenderal Seong Bin gagal menaklukan pasukan Shilla..” jawab Jenderal Tae Hyun agak takut. Daemusin sama sekali tidak menunjukkan keterkejutannya sama sekali dan hanya berkata “bibit yang busuk sebaiknya dipisahkan dan dibuang sebelum ditanam bersama bibit…” Kelima jenderal di situ terdiam. Mereka mengintrospeksi diri mereka masing-masing. “lalu bagaimana bisa mereka dikalahkan?” tanya  Daemusin. “mereka memancing pasukan Jenderal Seong Bin sampai ke Lembah Kumhwa..selebihnya kami tidak tahu karena tak ada satu pun pasukan yang tersisa kembali...” “hmm..10.000 pasukan hilang sudah rupanya..” komentar Daemusin santai. Ia bangun dari tempat duduknya dan menunjuk pada peta di belakang. “ada pepatah mengatakan jangan menjala ikan yang banyak sekaligus dengan jala yang kecil…inilah pepatah yang berlaku untuk Shilla sekarang…” ujar Daemusin. Lalu ia menoleh menghadap kepada jendera-jenderalnya yang sekarang berjumlah 5 orang. “jika ini memang keinginan mreka..kita akan berikan mereka ikan yang banyak agar mereka tenggelam!!persiapkan segalanya!!hancurkan mereka nanti malam!!” serunya.  “siap Panglima!!” jawab kelima jenderal itu serempak.

Sore hari.
Benteng Jinju (20 km dari Hwangsanbeol), Shilla.
“Panglima..pasukan Baekje sudah mulai bersiap..penduduk kota Hwangsanbeol mulai diungsikan..” ujar salah seorang prajurit melapor kepada Yushin. “rupanya mereka memutuskan untuk benar-benar bertempur habis-habisan kali ini..” sahut Baek Ui. “baiklah kita berangkat sekarang…kita laksanakan rencana yang sudah kita buat tadi..LAKSANAKAN!!” “siap Panglima!!” jawab Baek Ui, Shin, Yul, dan Yesung serempak. Yushin pun menoleh ke arah Bi Dam dan Alcheon “kalian harus bergerak cepat sebelum gerbang kota Hwangsanbeol ditutup..” Bi Dam dan Alcheon pun mengangguk.

Wilayah Luar  Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
Hari sudah mulai gelap, para pasukan Baekje sudah bersiap-siap  di luar benteng membentuk formasi yang dibuat oleh Daemusin.  “PASUKAN BERSIAP!!!” seru Gyebaek dari tengah. “PASUKAN TIMUR SIAP!!” sahut Jenderal Hodong yang menggantikan posisi Seong Bin. “PASUKAN BARAT SIAP!!” seru Jenderal Tae Hyun. “PASUKAN BARIS DEPAN SIAP!!” seru Jenderal Yul Gang dari baris depan.  Gyebaek duduk di atas kudanya sambil menunggu tanda dimulainya perang. Menunggu serangan awal dari lawan. Genderang perang pun dibunyikan.

Malam hari.
Wilayah perbatasan Shilla-Baekje (6 km dari Hwangsanbeol)
“sepertinya mereka sudah bersiap…” ujar Jenderal Shin. Puluhan ribu titik obor menyala dari depan Benteng Hwangsanbeol.  “ini sudah saatnya kita bergerak…kita harus berusaha membendung serangan mereka…buat mereka sebisa mungkin agar tidak sampai merebut kota-kota di belakang garis wilayah ini..” “baik Panglima!!” jawab keempat jenderal serempak.  Jenderal Shin dan Jenderal Yul segera menaiki kuda mereka dan menuju barisan depan.  Bi Dam dan Alcheon pun ikut menaiki kudanya. “kalian juga berhati-hatilah..” ujar Yushin. Bi Dam dan Alcheon mengangguk kemudian segera memacu kudanya mengikuti rombongan pasukan Jenderal Shin dan Jenderal Yul.

Wilayah Luar  Benteng Hwangsanbeol, Baekje
“Jenderal…mereka sudah mulai bergerak!!” seru salah seorang prajurit baris depan. Jenderal Yul Gang pun segera menyerukan tanda “MUSUH SUDAH BERGERAK!!SEMUANYA BERSIAP!!”  para pasukan yang dipimpin Yul Gang sudah mengangkat perisainya ke atas kepala guna menghindari panah yang jatuh.

 “PASUKAN CROSSBOW DAN BERTOMBAK SIAP!!” Jenderal Yul menyerukan komando. Jenderal Shin juga ikut memberikan komando pada pasukannya  “SIAPKAN PANAH KALIAN!!”. Pasukannya pun segera bersiap dengan persenjataan mereka.  Ribuan panah api sudah siap untuk ditembakkan. “TEMBAK!!” serunya.

Ribuan panah api melesat ke udara dan menghujam pasukan Baekje, namun mereka sudah bersiap dengan perisai mereka. Hanya sedikit dari mereka yang terkena hujan panah itu. Tapi itu membuat mereka lengah dari serangan berikutnya.

“PASUKAN CROSSBOW TEMBAK!!PASUKAN BERTOMBAK MAJU!!” seru Jenderal Yul. “aku akan segera menjemputmu Deok Man..” gumam Bi Dam sambil melihat cincin milik istrinya yang sekarang tergantung di lehernya bersama Seoyopdo. Lalu ia menoleh kepada Alcheon yang ada disebelahnya “Alcheon..saatnya kita pergi..” Alcheon mengangguk. Mereka segera ikut bergabung dengan rombongan pasukan tombak . Menyelinap di antara mereka menuju kota Hwangsanbeol.
Salah seorang prajurit berlari tergopoh-gopoh menghadap Yushin “Panglima…Jenderal Yul dan Jenderal Shin sudah bergerak maju…” Yushin mengangguk Lalu menoleh ke arah kedua jenderalnya, Baek Ui dan Yesung “kalian berdua bersiaplah..aku akan segera maju..” Baek Ui dan Yesung pun mengangguk. “hiaa..” Yushin memacu kudanya.


Gerbang Kota Hwangsanbeol.
“sraak..sraak..” Bi Dam dan Alcheon berjalan menyelinap di antara semak-semak. Mereka berhenti sejenak untuk melihat situasi didepan gerbang kota. “gerbang benar-benar dijaga ketat dan pastinya segera ditutup..kita harus segera bergerak cepat..” bisik Bi Dam. Alcheon mengangguk “kita bisa manfaatkan gerobak itu..” tunjuknya pada sebuah gerobak milik rombongan pedagang yang ikut mengantri pada barisan yang ingin masuk ke dalam kota. Bi Dam mengangguk “jika kita terpisah, kita bertemu di tempat kita bersembunyi di pepohonan waktu itu..” Sambil memperhatikan prajurit penjaga yang berjaga di sekitar barisan rombongan, Bi Dam dan Alcheon menyelinap ke dalam gerobak salah satu rombongan itu. 

“berhenti!!” seru prajurit penjaga gerbang kota.  Rombongan saudagar itu pun berhenti. “ada apa Tuan?” tanya seorang laki-laki tua yang sepertinya pemimpin dari rombongan pedagang itu. “belum lama ini ada seorang penyusup masuk kemari…kami diperintahkan untuk memeriksa setiap orang yang masuk ke sini..” jawab prajurit penjaga itu. “ba..baiklah..kalau begitu..” jawab laki-laki tua itu. “Hyeopso Baekchung periksa semuanya!!kalian kan yang mengenali wajah penyusup itu?” perintah prajurit itu. “si..siap..” jawab prajurit yang bernama Hyeopso dan Baekchung itu.
Jantung Bi Dam dan Alcheon berdebar keras. “periksa semuanya dengan teliti!!” seru suara orang dari balik gerobak. Bi Dam meringkuk di balik kotak yang memuat berbagai macam kain. “Alcheon, aku ada ide..bantu aku..”  bisik Bi Dam.


Wilayah Luar Benteng Hwangsanbeol, Baekje
Lengah dalam mengantisipasi serangan lawan, membuat pasukan Baekje bertumbangan. Melihat pasukannya bertumbangan, Jenderal Yul Gang pun menyerukan perintah  kepada pasukannya yang masih bertahan “MAJU!!”  Mendengar seruan Yul Gang, Gyebaek pun mengambil langkah berikutnya “SEMUA PASUKAN MAJU!!” serunya. 

“PASUKAN BERTOMBAK MAJU!!” seru Kim Yushin yang sekarang berada di belakang Jenderal Shin dan Yul. Jenderal Shin dan Yul menoleh ke belakang. “kalian berpencar sekarang…aku ingin mereka percaya bahwa akulah yang memimpin pasukan ini..” ujar Kim Yushin. Shin Dan Yulpun mengangguk dan mereka berpencar ke arah yang berbeda.

Gerbang Kota Hwangsanbeol.
“sraak..”kain penutup gerobak disibakkan.  “kain-kain ini berantakan sekali..” komentar salah satu prajurit yang memeriksa. “mu..mungkin karena guncangan di jalan Tuan..jadinya agak sedikit berantakan..” jawab pemimpin rombongan itu.  “tapi bisa saja ini dijadikan tempat persembunyian penyusup..” prajurit itu menghunuskan pedangnya dan menatap tumpukan kain itu dengan seksama “Tu..Tuan jangan…” pemimpin rombongan dagang itu memohon.  Namun prajurit itu tak peduli lalu menusuk-nusuk tumpukan kain itu. Namun nihil hasilnya. “hei!! komandan meminta kita segera menutup pintu gerbangnya!!” terdengar suara teriakan dari arah gerbang. “Tu..Tuan..tolong izinkan kami masuk..kami tak membawa penyusup..anak-anakku masihkecil..kasihani kami..” pemimpin rombongan dagang itu hampir menangis memohon.   Prajurit itu pun menyarungkan pedangnya. “ setelah rombongan ini masuk tututp gerbangnya!!!” serunya. “te..terima kasih Tuan..” ujar pemimpin rombongan dagang itu.  Mendengar  itu barisan orang yang mengantri di rombongan dagang itu berusaha untuk menyerobot untuk masuk. Terjadi kekacauan di depan gerbang kota. Para prajurit bersenjata segera membentuk barikade. “kalian cepat masuklah!!” teriak prajurit penjaga itu. “ba..baik Tuan..” jawab pemimpin rombongan dagang itu. Ia dan rombongannya segera masuk ke dalam kota.  “huuuft..” terdengar suara hela nafas lega dari dalam kotak yang ada dalam gerobak pembawa kain tadi.

“bruuk..” Bi Dam dan Alcheon mengangkat kotak yang tadi mereka gunakan untuk bersembunyi. Lalu diam-diam menyelinap keluar dari gerobak dan bersembunyi di balik tumpukan barang-barang pengungsi. “huft..hampir saja..” gumam Alcheon. Bi Dam menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan diri. “ayo kita jalan!!” gumamnya.

Dengan mengendap-endap, Bi Dam dan Alcheon  berjalan menuju pintu air, tempat aliran air sungai masuk ke dalam Benteng.  “aku akan berjaga..” gumam Alcheon.  Bi Dam pun dengan ujung gagang pedangnya berusaha membuka gembok yang mengunci pintu air itu. “traang..traaang..” “Bi Dam..sepertinya ada prajurit..kau harus cepat..”  Bi Dam pun semakin keras memukul gembok itu “traaang..” akhirnya terbuka juga. Mereka pun segera masuk ke dalam dan menutup pintu itu.

Wilayah Luar Benteng Hwangsanbeol, Baekje
Pertempuran sengit antara pasukan Shilla dengan Baekje pun tak terelakan. Keunggulan jumlah yang cukup jauh membuat pasukan Shilla terdesak mundur. “haiik!!” Yushin menebas setiap pasukan Baekje yang mencoba menjatuhkannya.  Dilihatnya dari kejauhan Gyebaek bersama pasukan yang dipimpinnya dan kondisi pasukannya sendiri yang sudah berjatuhan, membuat Yushin meneriakkan komando “MUNDUR SEMUA SAMPAI KE HUTAN!!”
“MUNDUR SEMUA” Mendengar teriakan Yushin, Baek Ui dan Yesung pun saling menatap dan mengangguk. Ini saatnya mereka bergerak. Mereka pun memacu kudanya cepat-cepat sambil memimpin pasukan berpakaian gelap di belakang mereka.

BENTENG HWANGSANBEOL
“gelap sekali..aku tak bisa melihat apa-apa di depan..” bisik Alcheon. “rasakan saja aliran airnya…air ini akan menuntun kita ke dalam benteng..” gumam Bi Dam sambil meraba-raba air yang berada di bawah lututnya. “itu ada cahaya di sana..” ujar Alcheon.  “kecipak..kecipuk..” mereka berjalan pelan-pelan menuju cahaya itu.Mereka tiba di sebuah teralis besi kotak.  “sepertinya kita ada didalam kamar mandi prajurit..” ujar Alcheon. “klang..” ia membuka gerendel pintu itu dan satu persatu mereka keluar dari sana. “ayo kita keluar dari sini..” ujar Bi Dam.

Mereka berjalan mengendap-endap keluar.  Terdengar suara derap langkah prajurit yang hilir mudik ke sana kemari. Namun baru saja, mereka akan keluar dari lorong menuju lapangan tengah Benteng, salah seorang prajurit memergoki mereka dar belakang “hei siapa kalian…PENYUSUP!!” Bi Dam pun segera bergerak cepat, dengan satu tebasan pedang, ia membungkam prajurit itu. Namun sepertinya ada prajurit lain yang menyadari kegaduhan ganjil itu. “Bi Dam kau pergi saja duluan..biar aku yang membereskannya…waktu kita tidak banyak..”  ujar Alcheon. Bi Dam pun mengangguk dan segera pergi meninggalkan Alcheon.

Daemusin berdiri di pelataran, melihat titik-titik api dan mendegar seruan-seruan yang terjadi di luar bentengnya. Wajahnya nampak puas melihat itu semua. “tap..tap..” terdengar suara langkah kaki dari belakang dan terhenti cukup dekat dengan Daemusin. “Tuan Panglima…ada laporan penting..” ujar Bangsawan Seung Won sambil memberi hormat. Daemusin pun menoleh “laporan penting apa?” Seung Won menelan ludahnya dulu sebelum berbicara. Ia merasa takut untuk mengatakan ini sampai-sampai tak berani menatap Daemusin.  “prajurit penjaga wilayah luar..menemukan gembok pintu air telah dirusak..sepertinya ada penyusup masuk..te..tetapi saya sudah meminta prajurit penjaga Benteng untuk berpatroli di dalam Benteng dan memeriksa setiap saluran air dalam Benteng..” Tapi justru reaksi Daemusin sangat berbeda dari yang dipikirnya. Ia malah tertawa “tentu saja seekor tikus pasti berusaha untuk masuk ke sini jika aku menyimpan makanan yang lezat di sini..” Seung Won pun nampak bingung dengan reaksi Daemusin itu dan berusaha ikut tertawa “i..iya Tuan…itu hanya tikus…saya akan segera membunuhnya..”  Daemusin pun tertawa semakin keras “jangan sampai aku mendengar kau justru malah dibunuh tikus itu..perketat penjagaan di sini..aku tak ingin tikus itu melengang dengan mudahnya masuk ke dalam sini….setidaknya berikan 1-2 luka padanya jika kau mampu..atau kau akan menjadi pecundang yang lebih buruk daripada seekor tikus..”  Daemusin lalu berjalan masuk ke dalam. “ba..baik Tuan..” jawab Seung Won sambil meberi hormat. “sebentar lagi semuanya akan menjadi milikku..” gumam Daemusin.

“minumlah teh hangat ini Tuan Putri…mungkin ini tak bisa menenangkan pikiran Tuan Putri..tapi setidaknya membuat badan Tuan Putri merasa lebih baik” ujar Shin Ae.  Setelah dibujuk, akhirnya Deok Man menegak tehnya juga. “izinkan aku keluar Shin Ae..aku ingin melihat pasukan negeriku…” ujar Deok Man memohon. “maafkan saya Tuan Putri..tapi saya tidak izinkan Tuan Panglima untuk membawa Tuan Putri keluar..bahkan untuk masuk ke sini saja sulit..” jawab Shin Ae. “tapi kau benarkan tentang kabar kemenangan di Lembah Kumhwa itu..itu bukan kabar bohong kan?” tanya Deok Man. Shin Ae tersenyum mengangguk “itu benar Tuan Putri...” “syukurlah..setidaknya..Panglima Yushin punya kekuatan moral lebih untuk menghadapi ini...” “tapi cukup sampai di sini saja kabar gembiranya Tuan Putri..”  ujar Daemusin yang tiba-tiba masuk. Deok Man hanya diam saja menatapnya. “perang baru berjalan sebentar..tapi Yushin sudah menarik mundur pasukannya..” ujar Daemusin.  Deok Man hanya diam saja. Lalu seorang prajurit  datang menghadap Daemusin dan melapor  “Panglima…penyusup berhasil membunuh 5 penjaga di lantai bawah…dan sepertinya ia menuju ke sini…” Deok Man mendengar pembicaraan itu dan berteriak “Bi Dam!!”   “rupanya Seung Won memang tidak berguna…” geram Daemusin dengan wajah  setengah kesal. “Shin Ae apakah kau sudah melaksanakan perintahku?” tanya Daemusin. “su..sudah Tuan..sebentar lagi obatnya akan bereaksi..”jawab Shin Ae. “o..obat? apa maksud kalian?” tanya Deok Man. Tiba-tiba Deok Man merasa kepalanya pening dan sangat berat. Pandangannya menjadi kabur.  “ma..maafkan saya Tuan Putri…tapi saya tidak bisa menolka perintah Tuan Daemusin..” ujar Shin Ae. “kalian..” Badan Deok Man pu rubuh di atas ranjangnya.  Daemusin pun tersenyum puas “Shin Ae lakukan perintahku selanjutnya…”   Shin Ae pun menatap Deok Man yang tak sadarkan diri dengan wajah sedih. “maafkan saya Tuan Putri..tapi saya tidak bisa menolak keinginan Tuan Panglima..” gumamnya sambil membuka pakaian Deok Man.

“itu dia bangunannya..” gumam Bi Dam dari balik jendela.Sekarang ia berada dalam ruangan tempat istirahat prajurit.  Ia menoleh ke belakang dan yang ada hanya mayat-mayat bergulingan dan tetesan darah yang mengalir dari pedangnya dan lukanya. “hanya luka kecil..” ujar Bi Dam sambil memeriksa luka di lengan kirinya. Ia pun kembali berlari keluar dari pintu menuju bangunan yang ditujunya.   

Jumat, 11 Februari 2011

formasi pasukan rancangan Daemusin


Daemusin & Shin Ae

Our Future Still Continue Chapter 79: There Is Always Hope




Di hari yang sama
Siang hari

Benteng Bulcheon, Kota Taejon, Shilla.
Setelah melewati diskusi yang akhirnya berubah menjadi perdebatan yang panjang dan sengit mengenai strategi dan waktu penyerangan, Yushin pun menengahi para jenderalnya. “saat matahari akan tenggelam besok, Baekje akan menyerang kita…”  “apa?” para jenderal pun terkejut mendengar perkataan Yushin. “kurasa pria secerdas Daemusin tidak akan membuang waktunya…sebisa mungkin ia akan menyerang kita saat kekuatannya telah penuh..” “Alcheon mohon menghadap Panglima Yushin..ada kabar penting..” seru Alcheon dari balik pintu. “kabar penting?” pikir Yushin. “masuklah..”  “sraak..” Alcheon melangkah masuk. Nampak ketegangan terpancar pada wajahnya.  “ada apa?apakah terjadi sesuatu?” tanya Yushin. “Daemusin baru saja mendeklarasikan perang di Hwangsanbeol..ia berniat melakukan penyatuan 3 negara, dan itu semua dimulai dari Shilla besok malam..”  Dan dalam sekejap ruangan pun kembali kisruh.  “apakah mungkin menghadapi 80.000 pasukan hanya dengan 25.000 pasukan dengan hanya persiapan seperti ini?”

Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
Daemusin menggambarkan formasi pasukan rancangannya di atas kertas besar di meja. “aku umumkan  menyerahkan posisi pemimpin untuk penyerangan besok kepada Jenderal Gyebaek..”ujarnya begitu selesai menggambar. Keenam jenderal Baekje termasuk Gyebaek pun terkejut mendengarnya.” Perintah Panglima, saya laksanakan..” jawab Gyebaek sambil menundukkan kepalanya.   “Jenderal  Yul Gang memimpin pasukan baris depan..aku yakin pasukan bertombaknya bisa membongkar barisan depan Shilla nanti..” mujar Daemusin sambil menunjuk pada gambar segitiga. Ia mulai menjelaskan formasi dan posisi masing-masing jenderal yang ditunjuknya di atas gambar. “Jenderal Hodong kau akan menjadi wakil Jenderal Gyebaek memimpin di tengah, siapkan para pemanah…  Jenderal  Seong Bin kau memimpin pasukan berkudamu di sisi timur.. Jenderal  Tae Hyun, kau memimpin penyerangan dari sisi barat..satukan kekuatan kalian dan bawa kemenangan bagi Baekje!”   “baik Panglima!” jawab keenam jenderal itu serempak.  Setelah rapat selesai, Daemusin pun meninggalkan ruangan.  “ia masih berdiri di sana rupanya..” gumam  Daemusin begitu melihat sesosok punggung yang dikenalnya.

“Ketiga,aku akan membuat shilla bisa mewujudkan impiannya yang paling mustahil..” ujar Deok Man kepada Gukseon Munno. “dengan cara apa?bagaimana?” tanya Gukseon Munno. Deok Man pun menjawabnya dengan mantap ”dengan harapan…harapan akan unifikasi 3 negara..aku akan membuat para bangsawan dan rakyat disesaki dengan harapan itu..” Kenangan lama saat ia masih menjadi Tuan Putri  kembali berputar di kepalanya.  “tapi aku tahu setelah melalui ini semua, aku akan mengawali hidup yang baru…bukan sebagai Putri Deokman lagi tetapi sebagai Deokman, ibu dari Yun Ho dan Yoo Na..istri dari seorang pria yang kucintai bernama Bi Dam…kita akan menetap di Chu A Gun sebagai keluarga normal yang bahagia….anak-anak bisa tumbuh dan bermain bersama anak-anak sebaya mereka dengan bebas..sedangkan kau dan aku tersenyum menatap mereka tumbuh dewasa..cukup hanya kita berdua yang merasakan beratnya kehidupan di Istana..aku ingin mereka tumbuh dan menentukan masa depan mereka sendiri..” “bahkan aku pun tak bisa melakukan apa-apa untuk melindungi impianku sendiri..” gumam Deok Man. Perasaan takut, cemas,dan marah bercampur dalam hatinya. Rasanya suasana hatinya sangat buruk. Ia berharap setidaknya angin kencang yang menerpanya bisa membawa pergi hatinya. Ia pun memejamkan matanya.  “ini adalah mimpi kita berdua..jadi kita akan mewujudkannya bersama..” gumam Bi Dam tersenyum sambil merangkul bahu Deok Man. Secara refleks, Deok Man memegang bahu kirinya. Berharap suaminya berada di sisinya sekarang, menemaninya melewati semua ini.  “Bi Dam..” gumamnya.

Sementara itu Daemusin berdiri bersandar pada dinding, memandangi Deok Man dari belakang.

Kota Gincheon, Shilla
“ada apa gerangan ramai-ramai seperti ini?” tanya Daemusin di tengah keramaian orang. Salah seorang dari kerumunan itu pun menoleh “kau orang baru ya?hari ini Yang Mulia Ratu akan mengunjungi desa dekat sini..” sebelah alis Daemusin terangkat “seorang Ratu bekunjung ke sebuah desa?prestasi apa yangberhasil dicapai desa itu sehingga seorang ratu pun mengunjunginya?” “desa itu berhasil menjadi penghasil pangan untuk 4 kota besar di sekitarnya..oleh karena itu Yang Mulia Ratu berkunjung ke sini untuk mengangkat salah seorang petani di sana untuk dijadikan teladan di desa-desa yang lain…”   “pergi ke sini hanya untuk itu saja?” komentar Daemusin. Orang itu pun menjadi agak kesal “sebaiknya kau lihat saja sendiri…kuharap pemikiranmu berubah setelah melihat langsung..Yang Mulia Ratu benar-benar peduli pada rakyatnya..mencintai rakyatnya seperti anak-anaknya sendiri..” Daemusin pun berpikir dua kali. Misinya di kota ini untuk mengantarkan saudagar dari Wei sudah selesai, apakah ia akan langsung pulang ke Wei atau mengikuti saran orang itu. Dan akhirnya ia pun memilih pilihan terakhir. Dan benar saja kata orang itu, bahwa melihatnya langsung akan mengubah cara berpikirnya dan juga menggerakan hatinya untuk pertama kalinya.

 “waktu sudah berlalu cukup lama sejak saat itu..kupikir tidak akan ada seorang pun yang akan bisa memilikimu..sekarang kau ada di depanku..dan kali ini aku tidak akan melepasmu..kau dan 3 han ini akan menjadi milikku..” pikir Daemusin sambil tersenyum kecil.

Sore hari

Benteng Bulcheon, kota Taejon.
Yushin beserta keempat jenderalnya keluar dari ruangan. “apakah kau sudah membuat rencana?Daemusin baru saja mengumumkan..” tanya Bi Dam sambil berjalan di samping Yushin. “ya kita akan bergerak sekarang…tak jauh dari Hwangsanbeol..ada sebuah benteng yang tidak terpakai..kurasa kita bisa menetap di sana dan membuat rencana selanjutnya..persiapkan dirimu..” Bi Dam pun mengangguk. “Jenderal Yesung, pastikan persediaan pangan kita yang belum terkirim terkirim ke Benteng Jinju, tempat kita akan menetap nanti..” “baik..”jawab Yesung. “Jenderal Baek Ui, aku ingin kau beserta pasukanmu berangkat lebih dahulu..pastikan tak ada mata-mata Baekje yang berkeliaran di sana dan sekitarnya…” “baik Panglima..” jawab Baek Ui. “Jenderal Yul dan  Jenderal Shin, persiapkan pasukan kalian kita akan berangkat..setelah menerima tanda dari Jenderal Baek Ui..” “siap Panglima!” jawab Yong Ha dan Shin serempak.

Benteng Hwangsanbeol, Baekje.
“Tuan Putri masuklah..langit sudah mulai gelap, sebentar lagi akan turun hujan..beristirahatlah di dalam kamar..sudah hampir seharian Tuan Putri berdiri di sini..” ujar Shin Ae memohon. Deok Man menggelengkan kepalanya “bagaimana bisa aku beristirahat dalam kamar, sementara negaraku sekarang pasti sedang bersiap-siap untuk perang ini..negara dimana suami dan anak-anakku berada sekarang..” Shin Ae pun tak bisa berkata apa-apa lagi begitu melihat kesedihan di wajah Deok Man. Shin Ae pun berjalan meninggalkan Deok Man sendirian di pelataran. Ia berpapasan dengan Daemusin yang berdiri dekat sana bersandar pada dinding. Shin Ae hanya menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Ia tak tahu harus berbicara apa pada Daemusin sejak kejadian semalam. Hatinya merasa perih begitu mengingatnya.

Malam hari

Benteng Jinju (20 km dari Hwangsanbeol), Shilla.

Bi Dam, Alcheon dan Yushin yang bersama keempat jenderalnya mengadakan rapat bersama untuk membahas strategi lebih mendalam. Aturan mengenai rapat militer tidak lagi berlaku di tengah situasi genting seperti ini. “jarak dari sini ke Hwangsanbeol adalah kira-kira 61 ri jauhnya..dan akan menjadi area pertempuran ini…” Yushin menunjuk maket wilayah Shilla Baekje. “dengan kontur tanah yang berbukit-bukit cukup menyulitkan kita untuk bergerak cepat..padahal Baekje terkenal akan kecepatannya.” komentar Jenderal Yul. “tapi itu menjadi keuntungan bagi kita..karena dengan begitu, Baekje tidak bisa secara langsung menemukan kita..” sahut Alcheon. Sementara yang lain saling mengungkapkan pendapatnya,  Bi Dam hanya diam. Matanya tertuju pada semut-semut yang berbaris di depannya. Berbaris membawa segumpal remah kue yang ukurannya sangat besar untuk ukuran semut. Sedangkan Yushin memperhatikan dengan seksama pendapat para jenderalnya sambil berpikir. “80.000 pasukan Baekje..apakah kita akan melawannya sekaligus?” tanya Yesung “kurasa kita bisa memecah belah pasukan mereka..” tiba-tiba Bi Dam ikut berkomentar. “hah?” Yushin dan yang lainnya menghentikan pembicaraan mereka dan menatap Bi Dam. “lihat semut-semut ini, mereka berusaha membawa remah roti ini dengan cara membagi-bagi..ibaratkan saja Baekje itu adalah remah roti dan kita adalah semut-semut ini..semut-semut ini tentu saja tak akan sanggup membawa remah kue ini..begitu juga kita..kita tak bisa melawan mereka sekaligus..” “tapi bagaimana kita bisa menarik perhatian mereka?Pasukan Baekje bukanlah tipe pasukan yang bergerak berkelompok-kelompok…sulit untuk memecah mereka..” “kita tarik perhatian mereka..” ujar Yushin. “apa?” “benar kata Bi Dam ..kita harus membuat mereka terpecah belah..mungkin Baekje adalah pasukan yang terorganisir dalam 1 kelompok..namun bagaimana dengan pasukan Wa yang tergabung di dalamnya?dari semua pendapat yang kuperhatikan kalian semua terlalu fokus pada 80.000 pasukan itu bukan kepada pasukan Baekje itu sendiri…pasukan Wa mungkin bisa membantu Baekje namun kesetiaan mereka bukanlah kepada Baekje melainkan kepada negaranya sendiri, Wa dan mereka punya cara mereka sendiri dalam berperang..coba kalian pikirkan bagaimana jika kalian semua menjadi mereka?apa yang akan kalian lakukan jika menghadapi perang seperti ini..” para jenderal dan Alcheon pun mengangguk mengerti. Yushin menunjuk pada peta yang menggambarkan aliran sungai. “kita bisa membuat jebakan di sini agar kita tidak harus menghadapi mereka sekaligus..” “hmm..kita bisa memanfaatkan hasil karya Komandan Seolji di sini..” sahut Jenderal Shin. “betul tepat sekali..” jawab Yushin. Alcheon pun ikut turun tangan menunjuk pada peta “kita bisa memanfaatkan tanah lapang dibalik bukit ini untuk menyerang mereka..namun formasi apa yang akan kita gunakan?apakah menyerang secara frontal?”  “untuk itu..aku ada ide..” ujar Bi Dam dan Yushin serempak. Keempat Jenderal dan Alcheon menatap mereka dengan wajah heran dan bingung, sementara Yushin dan Bi Dam hanya bisa tertawa kecil.
Keesokan harinya.

“Tuan Putri?apakah Tuan Putri sudah bangun?saya membawakan makanan..” ujar Shin Ae dari balik pintu kamar Deok Man. Karena khwatir lantaran tak ada jawaban, Ia pun memutuskan untuk masuk. “braak” dilihatnya kamar kosong dan makan malam yang semalam ia letakkan di sini tidak tersentuh dan tempat tidur nampak rapi seakan tidak tersentuh semalam. “padahal Tuan Putri berkata akan menyantap makan malamnya nati di kamar..ya Tuhan apa jangan-jangan..” Shin Ae segera meletakkan nampannya lalu berlari keluar kamar. “apakah Tuan Putri tetap berada di luar meskipun hujan?” pikirnya

Daemusin berjalan menuju pelataran, “ciplak..cipluk..” ada sebagian lantai yang becek karena hujan kecil semalam. “rupanya ia tak ada..” gumamnya sambil menatap pelataran. Sambil merenggangkan badannya, ia pun menoleh ke samping. “tidak mungkin..” gumamnya terkejut.

Deok Man duduk bersandar merapat pada dinding sambil memeluk kedua lututnya. Daemusin segera menghampirinya. “kau menunggunya?” tanya Daemusin. Deok Man mengangguk. Perasaan kesal dan cemburu pun segera memicu letupan amarah dalam diri Daemusin. “kau di sini semalaman membuang si-sia waktumu hanya untuk menunggunya?menunggu orang yang menghambat dan hampir saja menghancurkan impian terbesarmu?orang yang memberontak terhadapmu…” “putusnya hubungan Shilla dengan Tang bukanlah salahnya…pemberontakan itu pun juga kesalahan aku juga..jika bukan karena dia, aku dan Shilla tidak akan bisa mempunyai impian itu dan aku tidak akan bisa memiliki impianku sendiri…” jawab Deok Man pelan tanpa menoleh. “tapi sekarang lihat akibatnya negaramu di ambang kehancuran!!ia bahkan tak bisa melindungimu..kenapa kau terus membelanya?!!ia tak pantas mendapatkan dirimu!!” bentak Daemusin. “ya…mungkin benar katamu..seandainya dia tak ada, aku tak perlu melihat semua ini…merasakan semua sakit dan kekhawatiran ini..karena aku pasti sudah mati dan meninggalkan dunia fana ini…terlepas dari pantas atau tidaknya menurut pandangan orang aku pun tak peduli..karena ketika semua dunia memandangku sebagai pemimpin hanya dia yang memandangku sebagai manusia, sebagai wanita..ia sudah memberikan kebahagiaan yang kupikir tak akan bisa kumiliki selamanya meskipun karena itu ia harus dicap sebagai pengkhianat…” “kau!!” geram Daemusin. “dan aku yakin ia dan Shilla pasti bisa menghadapi ini dan meraih kemenangan…” “apa yang membuatmu begitu yakin, Tuan Putri?25.000 melawan 80.000..mustahil kalian menang..” Deok Man tersenyum kecil “karena selalu ada harapan…harapan yang akan membuat semua impian besar yang mustahil menjadi mungkin…di saat sesulit apa pun harapan itu akan selalu a..da…” Deok Man pun jatuh pingsan.