Pages

Minggu, 24 April 2011

Jo Hyun Jae as dr. Ahn Jong Geun (Mr. Lee's private doctor)

The Hidden Wounds Chapter 04: First Meeting

genre: angst,romance, mystery 

Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun
- Jo Hyun Jae as dr. Ahn Jong Geun

I didn't own the characters. It's just a fanfiction :)
**********************************************************************************

-May 3rd 2009, 07:55 AM Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“tok..tok..” terdengar suara pintu diketuk.

“masuk…” jawab Lee Yo Won yang masih sibuk menandatangani beberapa berkas yang ada di mejanya.

Pintu pun terbuka, Yuri dengan kemeja putih dan vestnya yang berwarna coklat muda membungkuk memberi hormat “selamat pagi Wakil Direktur…”

“selamat pagi Nona Yuri..” jawab Yo Won sambil tersenyum.


“tak kusangka Wakil Direktur sudah hadir di sini sepagi ini..security di bawah mengira aku pasti sudah melupakan sesuatu sehingga Wakil Direktur harus datang sepagi ini..” ujar Yuri.


“hmm..bukan..aku hanya ingin memastikan sesuatu…mengenai kapasitas di beberapa kilang minyak… entah kenapa dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya, penerimaan  dari kilang nomor  3 di Ulsan dan Kilang nomor 1 di Daesan  ada ketidaksamaan hasil…”  


Yuri pun jadi bingung “ketidaksamaan hasil?tapi setahu saya tidak ada perubahan laporan yang berarti dari awal tahun sampai bulan kemarin …semuanya stabil mungkin hanya selisih beberapa puluh barrel setiap bulannya..terutama kilang-kilang yang ada di Daesan dan Ulsan..kilang-kilang tersebut selalu memberikan kontribusi maksimal ..berapa yang dihasilkan selalu sama dengan yang dikirim…hanya saja memang pendapatan menjadi menurun karena ketidakstabilan harga minyak…”

“coba kau lihat ini…” Yo Won menunjukkan sebuah berkas. “ini data yang kubaca dari kantor cabang di Inggris sebelum aku tiba di sini..ada perbedaan hasil…para ahli di sana melaporkan adanya penurunan pengiriman dari kilang-kilang berdasarkan hasil survey mereka yakni 750.000..tapi kenapa di sini di laporan penerimaan  tetap sejumlah 850.000…”

Yuri tercengang dengan apa yang dilihatnya. “kalau begitu ada kemungkinan…adanya penyelundupan…dan dari waktu bermasalahnya itu…” ujarnya dengan wajah shock.

“ya..bersamaan dengan adanya isu San Hao Group akan membeli saham Tae Wang…tapi kita tak bisa menuduh jika tak ada bukti..bisa jadi orang dalam kita sendiri yang melakukannya..” ujar Yo Won.

“iya..” jawab Yuri. Ia masih tidak menyangka bahwa di perusahaan multinasional seperti ini ternyata ada penyelundupan.

“Nona Yuri..aku memerlukan informasi dan data lengkap mengenai siapa saja yang terlibat dalam proses pengiriman sampai dengan pencatatan…serta apakah ada orang dari San Hao Group yang mendekati mereka..” ujar Yo Won.

“ya… Wakil Direktur..akan segera saya siapkan..” jawab Yuri dengan mantap. Kemudian ia berjalan keluar meninggalkan ruangan.

Yo Won pun menghela napas panjang dan menyandarkan dirinya pada kursinya yang empuk  “Ya Tuhan sebenarnya apa yang terjadi?” gumamnya.

-08:25 AM Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“saya Shim Gun Wook…mohon kerjasamanya..” ujar Gun Wook sambil membungkukkan badannya.

“mohon kerjasamanya..” sahut  6 staff lainnya yang berada di ruangan yang ada di ruangan berukuran 6x10 meter itu.

“nah..Gun Wook…selamat bekerja..” ujar seorang pria dengan ID card bernama Ju Bae Ho dan jabatan Manager Divisi Produksi menepuk-nepuk bahu Gun Wook.

Gun Wook hanya tersenyum kecil lalu berjalan masuk ke dalam biliknya tempat ia bekerja. Ia pun duduk dan mulai bekerja.

 -08:45 San Hao Group Building, Seoul-

“ayah.. kenapa ayah mengirim Gun Wook-oppa bekerja untuk kakak?”  ujar Mo Ne begitu masuk ke dalam ruangan ayahnya.  Tuan Hong pu menghentikkan pembicaraan dengan sekretarisnya.

“Nona Hong..” sekretaris Tuan Hong memberi hormat.

Mo Ne tetap memasang wajah jutek terhadapnya. Ia masih belum terima kalau sekretaris ayahnya itu mencoba menggoda Gun Wook kemarin. Sekretaris Tuan Hong pun pergi keluar, meninggalkan ayah dan putrinya ini berbincang berdua saja.

“Mo Ne tak bisakah kau mengetuk pintu dulu?” tanya Tuan Hong sambil meletakkan berkas yang tadi dibacanya.

“ayah kenapa Gun Wook –oppa…”

“Mo Ne ia hanya orang asing!…kau tahu dengan jelas bahwa ayah dan ibu tak akan membiarkanmu berdekatan dengan orang asing..” ujar Tuan Hong dengan nada tegas.

“ayah, ia pria baik ayah…” ujar Mo Ne. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.

Tuan Hong pun bangkit dari kursinya dan berjalan menuju. “ayah sudah memberikannya pekerjaan yang baik sesuai permintaanmu..tapi untuk memberikan putri ayah..ayah tidak bisa..lebih baik kau jauhi dia sebelum ayah berubah pikiran…” ujarnya begitu berpapasan dengan putrinya.

Air mata Mo Ne pun jatuh menetes membasahi pipinya.

 -10:05 AM Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“tap..tap..” satu persatu karyawan yang ada di lantai 58 memberi hormat pada seorang pria berjas hitam yang melewati mereka.

“selamat datang Tuan Hong..”  ujar salah satu karyawan yang memberi hormat.

Hong Gi Hoon berjalan dengan penuh rasa bangga dan percaya diri. Ia berdiri di depan pintu sebuah ruangan. Ruang  Pertemuan Besar. Sebuah ruangan yang biasa dipakai untuk pertemuan dengan jumlah anggota yang lebih banyak.

“oleh karena itu aku ingin menyelidiki  darimana asalnya selisih ini dan meminta kerja sama dari kalian untuk menemukkannya…”  ujar Lee Yo Won dari meja ujung meja. Kesepuluh anggota dewan direksi ada di samping kanannya. Dan di sisi kirinya ada manager yang bertanggung jawab atas produksi, pengiriman, dan pencatatan serta General Manager.

“tok..tok..” terdengar suara ketukan dari luar.

“masuk..” jawab Yo Won. Pintu pun dibuka. Gun Wook membukakan pintu sementara Gi Hoon melangkah masuk.

“ah Wakil Direktur Hong…” seru Oh Jae Bong yang segera berdiri dan memberi hormat, begitu juga dengan para anggota dewan direksi dari San Hao Group dan para manager. Bisa dikatakan kedudukan Hong Gi Hoon dan Lee Yo Won setara. Hanya saja yang menjalankan perusahaan tetaplah Yo Won selaku wakil dari Direktur  Lee.

Gun Wook sambil membawa beberapa file berjalan mengikuti  di belakang Gi Hoon.

“Manager Ju, ini file-filenya…” ujar Gun Wook seraya menyerahkan file-file itu kepada managernya. Matanya tertuju pada orang yang duduk di ujung meja sebelum teralih karena Manager Ju berbisik padanya. Untuk pertama kalinya, Gun Wook melihat Lee Yo Won dalam satu ruangan. Yo Won sempat memperhatikannya namun perhatiannya teralih karena Gi Hoon menawarkan jabat tangan padanya.

“beritahu pada Sekretaris Min…jika ada pria bernama Kim Chul Gyu menelepon..katakan aku akan menghubunginya kembali…”bisik Manager Ju Bae Ho.

“baik Manager..” jawab Gun Wook. Ia menatap lagi Yo Won yang baru saja menolak dengan halus ciuman tangan Gi Hoon, sebelum akhirnya ia meninggalkan ruangan.

“maaf Wakil Direktur Hong…saat ini kita sedang bekerja..” Yo Won sambil menarik tangannya.

“kurasa di sini tidak akan ada yang protes..wajar bagi seorang pria bersikap gentleman..” ujar Gi Hoon sambil tersenyum lebar menatap yang ada di ruangan itu. Beberapa anggota dewan direksi dan manager pun tertawa.

“kurasa akan lebih gentleman lagi jika kita bisa memulai rapatnya segera..kita tak bisa membiarkan Nona Shin Yuri menunggu lebih lama untuk presentasi..” jawab Yo Won dengan senyum tipisnya.

“baiklah kalau begitu…” ujar Gi Hoon sambil mengangkat kedua tangannya kemudian duduk di kursi kosong di barisan manager.

“baikalah kalau begitu saya Shin Yuri akan memulai presentasinya mengenai masalah perbedaan laporan penerimaan…” ujar Yuri seraya memberi hormat.

-  11:00 AM, Geumcheon-gu, Seoul –

Tuan Lee berbaring di atas tempat tidurnya sementar dokter pribadinya sedang melakukan pemeriksaan dengan tensi meter.  “syukurlah tensi darah Tuan Lee sudah menurun cukup baik…”  ujar dr. Ahn Jong Geun seraya melepas stetoskop dari telinganya. Dokter berusia 26 tahun ini adalah putra tunggal dari dr. Ahn Jae Hwan, dokter spesialis jantung ternama yang menjadi dokter pribadi Tuan Lee. Namun karena ada pasien dr. Ahn Jae Hwan yang kondisinya kritis dan butuh operasi, maka Tuan Lee pun mengizinkan agar dr. Ahn Jong Geun yang memeriksa dirinya.

“ dokter..apakah saya sudah bisa kembali bekerja besok?” tanya Tuan Lee.

dr. Ahn Jong Geun pun hanya tersenyum “bisa Tuan..namun bukan besok hari yang tepat…” jawabnya seraya merapikan kembali tensimeternya.

“aku tak ingin menyusahkan putriku…ia menggantikanku untuk menghadapi masalah-masalah yang harus kuhadapi…” ujar Tuan Lee seraya menatap langit-langit kamarnya.

 “oh ya, saya baru saja mendengar dari ayah…kalau Nona Lee sudah kembali dari Inggris…ayah ingin sekali bertemu dengannya…kata beliau Nona Lee adalah dokter kecil yang suka mengikutinya…” dr. Ahn berusaha mengganti suasana.

Tuan Lee pun tertawa “ya..dulu Yo Won selalu mengikuti dr. Ahn senior ketika ia datang ke sini…Yo Won selalu memperhatikannya ketika ia memeriksa kesehatanku secara rutin…dr. Ahn senior yang mengajarkan Yo Won cara menggunakan tensi meter…” ia pun menoleh ke arah dr. Ahn “ah dr. Ahn apa kau pernah melihat putriku?” tanyannya.

“belum..” jawab dr.  Ahn.

Tuan Lee pun berusaha bangun dari tempat tidurnya. Dibantu dr. Ahn, ia berjalan menuju meja kerjanya.

“ini foto terbaru kami…”ujar Tuan Lee dengan wajah bangga menunjukkan sebuah pigura. Foto dirinya mengenakan jas hitam sedang duduk sementara putrinya berdiri di sampingnya tersenyum manis mengenakan dress berwarna putih.

Ahn Jong Geun pun tertegun sesaat “sangat cantik…” batinnya.

Tuan Lee bisa melihat ekspresi kekaguman dr. Ahn lalu bertanya “apakah dr. Ahn sudah memiliki kekasih?”

dr. Ahn pun tersadar dari lamunannya “ah..belum Tuan…untuk masalah itu, saya kurang beruntung…sulit sekali mencari pendamping yang bisa menerima pekerjaan saya…mungkin jodoh saya adalah pasien dan perawat rumah sakit..” ujarnya bercanda.

Tuan Lee pun ikut tertawa dan menepuk-nepuk bahu dr. Ahn. “sekali-sekali kau datanglah makan malam bersama kami…ajak ayahmu...atau datang ke pesta yang akan kubuat…”

“pesta?” tanya dr. Ahn.

“ya..pesta penyambutan kepulangan putriku..ini pertama kalinya ia menetap lama di sini semenjak ia berangkat studi ke Inggris..” jawab Tuan Lee.

“akan saya usahakan, Tuan Lee..terima kasih atas undangannya..” jawab dr. Ahn seraya membungkukkan badan.

Tuan Lee pun lagi-lagi tertawa sambil menepuk-nepuk bahu dr. Ahn.

-12:05 PM Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“BLAM!!”  pintu ruang divisi produksi dibuka dan ditutup dengan kasar.

“aku sudah katakan padamu Chul Gyu..bahwa aku akan menghubungimu!!kita sedang dalam masalah…” bentak Ju Bae Ho pada ponselnya. Ia berjalan menuju ruangan tempatnya kerja.

Ruangan divisi produksi pun kosong karena sedang jam istirahat, namun sebenarnya masih ada 1 orang yang berada di ruangan itu. Dari dalam biliknya, Gun Wook mendengarkan makian managernya pada lawan bicaranya. “BLAAM..” Ju Bae Ho membanting pintu  ruangannya.

“Kim Chul Gyu..Kim Chul Gyu…”  pikir Gun Wook.  “sepertinya menarik…”

Ia lalu mengambil ponselnya dan mulai mengetik sebuah email.

“aku butuh informasi mengenai Kim Chul Gyu dan Manager Divisi Produksi  Tae Wang, Ju Bae Ho…” begitu isi email yang diketik Gun Wook pada ponsel touch screennya.

12:10 PM Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“tok..tok..” terdengar suara pintu ruang direktur diketuk.

“masuk..” jawab Yo Won yang masih sibuk menandatangani beberapa berkas.

Gi Hoon pun  membuka pintu, berjalan masuk, dan berdiri di depan meja Yo Won dengan kedua tangan di belakang.

“ah ada apa Wakil Direktur Hong?” tanya Yo Won yang sudah berhenti menulis.

Gi Hoon  menyerahkan sebuket bunga mawar berwarna merah kepada Yo Won.

“ini hadiah selamat datang dariku…meskipun terlambat…” ujar Gi Hoon sambil tersenyum.

Yo Won pun menerimanya sambil tersenyum “ah..terima kasih Wakil Direktur Hong…”

“mungkin jika di luar kantor, kau bisa memanggilku Gi Hoon, Nona Lee..” ujar Gi Hoon.

Yo Won pun hanya mengangguk dan menatap buket bunga yang di tangannya kemudian meletakannya di cabinet yang ada di belakang kursinya.

“apakah Nona Lee bersedia untuk pergi makan siang bersamaku?ada restoran Italia yang enak di dekat sini..” tanya Gi Hoon.

Yo Won pun mengambil ponsel dan dompet dari tas LVnya “maaf saya sudah ada janji dengan asisten saya…mungkin di lain waktu Wakil Direktur  Hong…” kemudian ia bangun dari kursinya dan ditemani Gi Hoon ia berjalan menuju lift.

“jadi dimana Nona Lee akan makan siang hari ini?” tanya Gi Hoon.

“di kafetaria…”  jawab Yo Won.

“drrrt…drrrt..” ponsel di saku Gi Hoon bergetar. “halo..” Gi Hoon segera mengangkatnya tanpa melihat siapa peneleponnya.

“Wakil Direktur Hong…ada yang harus kita bicarakan…mengenai masalah yang tadi…ini sangat gawat…Direktur Hong sepertinya sudah mengetahuinya…” ujar lawan bicara Gi Hoon.

“PING” pintu lift di hadapan mereka terbuka. “Wakil Direktur Hong…apakah anda tidak mau masuk?” tanya Yo Won.

Gi Hoon hanya melambaikan tangan. Yo Won masuk sendirian ke dalam lift dan lift pun ditutup.

“bagaimana ayah bisa tahu?” tanya Gi Hoon dengan nada membentak.


-12:20 PM Cafetaria Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

Yo Won ditemani Yuri menikmati makan siangnya bersama semeja. Ia memilih untuk menyantap bibimbap sementara Yuri menyantap chicken teriyaki ricenya

“saya sudah mengumpulkan yang Wakil Direktur butuhkan di meja tadi..” ujar Yuri sambil mengaduk lemon teanya dengan sedotannya.

“ya..aku sempat membacanya sekilas tadi..” jawab Yo Won.  “bibimbap di sini enak sekali..” ujarnya setelah mencoba bibimbapnya.

“iya memang bibi pembuat di sini sangat terkenal…Direktur Lee sendiri juga sangat menyukai bibimbapnya ” jawab Yuri.

“drrt…drrrt…”  ponsel Yuri yang ada di meja bergetar. “sebuah sms…”  pikir Yuri begitu melihat ponselnya.  Ia segera membuka sms tersebut.
“selamat makan!! Tetap semangat ya hari ini bekerjanya J hwaiting!! -Choi Soo Hyun ♥  Shin Yuri-” Yuri hanya membacanya sambil tersenyum geli.

Yo Won pun ikut tersenyum melihat ekspresi asistennya itu. “bisa kutebak itu pasti dari kekasihmu kan?”

Wajah Yuri pun memerah “i..iya Wakil Direktur..”  jawabnya dengan wajah tertunduk malu. Ia pun menulis sms balasan sebelum ia menyantap makanannya kembali  “Shin Yuri  ♥ Choi Soo Hyun too”

“oh ya Nona Yuri nanti aku minta tolong bawakan vas kosong satu ya ke ruanganku…” ujar Yo Won. Yang sudah selesai menghabiskan makan siangnya.

“vas?vas bunga?” tanya Yuri.

Yo Won mengangguk “ya..Wakil Direktur Hong tadi membawakan sebuket mawar untukku…dan akan kupajang di ruanganku..”

“Wakil Direktur Hong?” tanya Yuri. Setelah menoleh ke kanan dank e kiri, Yuri kemudian mendekatkan wajahnya kepada Yo Won “wakil direktur bolehkah saya memberikan saran..”

“ya apa itu?” tanya Yo Won yang penasaran.

“lebih baik Wakil Direktur jangan terlalu dekat dengan Wakil Direktur Hong..karena Wakil Direktur Hong  itu terkenal sebagai playboy kelas kakap dan perusak hubungan orang…”

Yo Won pun menanggapinya dengan tertawa “playboy kelas kakap dan perusak hubungan orang?”

Yuri dengan sungguh –sungguh mengangguk “sebulan yang lalu, Tuan Muda Hong mendekati seorang model padahal model itu sudah  bertunangan…akhirnya kandaslah pertunangan mereka…namun ternyata Tuan Muda Hong hanya bermain-main..begitu juga kemarin, Tuan Muda Hong dikabarkan sudah meninduri kekasih boss gangster, sampai-sampai boss gangster itu marah dan menyerang yacht Tuan Muda Hong yang sedang melangsungkan pesta…”

“darimana kau tahu berita-berita seperti itu?kurasa tidak mungkin berita seperti itu dipublikasikan… terlebih lagi dengan reputasi San Hao Group..”

“iya..saya juga mengetahuinya dari keka..ah maksud saya dari…” Yuri bingung bagaimana mengungkapkannya pada bossnya.

“dari pacarmu…” jawab Yo Won sambil tersenyum.

“i..iya..ia bekerja di sebuah stasiun televisi swasta..jadi dia tahu mengenai masalah itu…jadi jika hubungan Wakil Direktur dengan kekasih Wakil Direktur terganggu..saya sangat menyarankan agar menjauhi  Wakil Direktur Hong..apalagi Wakil Direktur sangat cantik dan menawan seperti ini pastinya Tuan Muda Hong juga akan mengincar anda…” jawab Yuri.

Yo Won pun tertawa “statusku single Nona Yuri…kurasa pujianmu itu terlalu berlebihan untukku…tapi akan kuikuti saranmu karena aku pun juga tak ingin terjebak oleh playboy…”

“mwo?kukira Wakil Direktur sudah mempunyai kekasih…maafkan saya Wakil Direktur..” Yuri pun segera menundukkan kepalanya meminta maaf.

Yo Won hanya tertawa “sudahlah…mengenai percintaan kurasa aku memang kurang beruntung…memang belum lama aku sempat menjalin sebuah hubungan…namun akhirnya kandas…ada kekuranganku yang menyulitkanku…" tatapan Yo Won sempat menerawang sesaat  sebelum akhirnya bangun dari duduknya "tapi ya sudahlah…sudah mau jam 1 lebih baik kita kembali ke atas…”

“ah iya..baik..”  Yuri segera mengambil ponsel dan dompetnya. Mereka berdua kemudian meninggalkan cafeteria dan berjalan menuju lift.

Diam-diam Yuri melirik bossnya  yang berjalan di sampingnya “Wakil Direktur memiliki kekurangan apa hingga bilang seperti itu?dengan penampilan dan kepribadian yang baik seperti ini, hanya laki-laki gila saja yang menolaknya..” pikirnya. “ah ya sudahlah..mungkin pria Inggris memang aneh…”


-04:45 PM Cafetaria Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“BLAM!” pintu ruang manager divisi produksi ditutup, Ju Bae Ho berjalan dengan tergesa-gesa menuju pintu keluar ruangan divisi. “ah Shim Gun Wook kau belum pulang?” ujarnya begitu melihat ternyata masih ada satu karyawan lagi yang belum pulang.

“iya.. Senior Hang meminta saya menganalisis kemungkinan produksi minyak bulan ini…” jawab Gun Wook sambil berdiri.

“ah kenapa tak kau lanjutkan di rumah saja? kalau begitu aku pulang dulu…” ujar Ju Bae Ho.

“ya..selamat jalan Manager…” Gun Wook membungkukkan badannya memberi hormat.

Ju Bae Ho berjalan keluar meninggalkan Gun Wook sendirian di ruangan itu.

“drrt..drrt…” sebuah email masuk.

Gun Wook mengenali siapa pengirim email itu dan langsung membukanya.

Ia pun tersenyum puas begitu melihat isinya. “ternyata inilah Ju Bae Ho sebenarnya..”

-05:10 PM Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“untunglah hari ini lebih cepat selesai dari kemarin sehingga Soo Hyun-ssi tidak perlu menunggu lama…” ujar Yo Won menggoda asistennya.

“ah..Wakil Direktur…” wajah Yuri pun menjadi memerah.

“nah kita turun ke bawah..” Yo Won memencet tombol lift. Bersamaan dengannya tangan seseorang juga memencet tombol yang sama.

“eh..” Yo Won pun menoleh. Di sebelahnya berdiri seorang pria dengan tas kerja berwarna hitam di tangan kanannya. Pria yang mengantar dokumen untuk Manager Ju saat rapat tadi.

Gun Wook tersenyum sopan dan membungkuk memberi hormat.

“PING” lift pun terbuka.

Yo Won pun tersenyum padanya “yuk kita turun bersama…” Mereka kemudian masuk ke dalam lift dan turun bersama.  Yuri dan Yo Won berdiri di sisi kanan sementara Gun Wook berdiri di pojok  kiri belakang.

“jadwal kunjungan ke kilang 3 Daesan dan kilang 1 Ulsan sudah dikonfirmasi ke sana dan sudah saya masukkan ke dalam jadwal  Wakil Direktur..jadi jam 10 besok dipastikan Wakil Direktur berangkat ke sana..” ujar Yuri seraya membaca tabbynya.

Yo Won mengangguk mengerti “terima kasih Nona Yuri…”

“PING” lift terbuka mereka sudah tiba di lantai dasar. Berbeda dengan Yuri dan Yo Won, Gun Wook berjalan menuju escalator yang membawanya menuju basement.

“sepertinya ia karyawan baru…” gumam Yuri.

“hm?” sahut Yo Won.

“Shim Gun Wook…staff Divisi Produksi…saya belum melihat nama itu tadi di daftar karyawan bulan kemarin…” jawab Yuri.

“silahkan Nona…” Jo Min Shik sudah membukakan pintu belakang mobil untuk nonanya itu.

“selamat jalan Wakil Direktur..” ujar Yuri lalu memberi hormat.

“yah kau juga Nona Yuri…hati-hatilah di jalan dengan Soo Hyun-ssi…” canda Yo Won dari balik jendela yang terbuka.

“haiss..Wakil Direktur..” wajah Yuri lagi-lagi memerah.


-  05:35 PM Heritage Club-

“gluk..gluk…” Gi Hoon menegak habis segelas vodka  yang ada di tangannya.

Sementara itu, Tuan Oh Jae Bong duduk dengan gelisah.

“rekening untuk transfer uangnya tidak menggunakan namamu kan?” tanya Gi Hoon.

“tentu saja tidak Tuan..saya menggunakan nama orang yang sudah meninggal namun tidak ada keluarganya…” jawab Tuan Oh.

“lalu kau belum pernah bertemu langsung dengan dia?” tanya Gi Hoon kali ini sambil menatap Tuan Oh.

“tentu saja tidak…hanya melalui telepon dan itupun suara saya disamarkan…jadi Wakil Direktur tak perlu khawatir…” jawab Tuan Oh.

“dan uang yang kau terima kau atas namakan?” tanya Gi Hoon.

“atas nama Heritage Club..sebagai deviden dan komisi penjualan lukisan dan barang seni lainnya..”

Gi Hoon mengangguk mengerti “bagus…kalau begitu ayah tidak punya alasan untuk mencurigaiku…”

Ia kemudian berdiri meninggalkan tempat duduknya dan mengancingkan jas abu-abunya kemudian berjalan keluar dari ruangan eksklusif khusus member club.

“berarti tidak ada masalah kan?” tanya Tuan Oh yang berjalan di belakang mengikuti Tuan Muda Hong itu.

  “tidak..tapi kau harus waspada…” ujar Gi Hoon.

Tuan Oh menengok ke kanan ke kiri seakan-akan ada yang salah. “dimanakah Kurator Jang?biasanya ia ada di sini dan menyambut Wakil Direktur..sudah lama aku tidak melihatnya?”

“mungkin ia sedang berlibur…” sahut Hong Gi Hoon.

Kemudian mereka berjalan sampai ke lobby club, dimana Mercedes sport C-class hitam miliknya sudah terparkir.

“selamat jalan Wakil Direktur…” Tuan Oh membungkukkan badannya sementara Gi Hoon masuk ke dalam mobilnya sampai mobil itu pun pergi.

“sial…rupanya anak muda ini bisa juga serius selain bermain wanita…” pikir Tuan Oh seraya menghapus peluh dari keningnya dengan sapu tangannya.

 -  11:00 PM, Geumcheon-gu, Seoul –

“aku sudah melihat gambar-gambar yang kau kirimkan tadi..jadi Ju Bae Ho pernah terlibat skandal seks?” Gun Wook sedang menelepon dengan ponselnya.

“bukan pernah tapi masih sampai sekarang..” sahut lawan bicaranya.

“tapi kemana ia mengirim uangnya?apakah ada kaitannya dengan orang dalam lainnya?” tanya Gun Wook.

“untuk itu masih kuselidiki..karena nama rekeningnya bukanlah nama karyawan baik dari San Hao Group maupun Tae Wang…namun ada kejanggalan karena pengambilan untuk rekening ini dilakukan oleh orang yang berbeda dan dari bank-bank yang berbeda cabang di berbagai daerah…” jawab lawan bicaranya itu.

“baiklah..akan kutransfer separuh imbalanmu hari ini dan separuhnya setelah selesai..” sahut Gun Wook.

“baik..” jawab lawan bicaranya.

Gun Wook pun segera mematikan ponselnya dan menyandarkan dirinya pada kursinya  yang empuk.

“kuharap kalian bertiga selalu mendukungku selalu dari surga..” ujarnya dengan tatapan sedih menatap foto keluarganya dalam sebuah pigura.