Pages

Jumat, 21 Mei 2010

Chapter 24 : I Can See You're Smiling at Me eventhough You're Not Here Beside Me

Keesokan harinya. Kowon.

Pagi-pagi buta, Yushin sudah mengadakan apel pagi . Hanya saja pada apel kali ini, Yushin dan para prajurit lainnya memakai pakaian rakyat biasa agar tidak menarik perhatian. Dari 30 prajurit yang berangkat bertempur, tinggal 15 orang yang sehat, 8 orang terluka parah dan 7 orang meninggal. Untuk mengenang jasa mereka yang telah meninggal, Yushin ikut turun tangan memakamkan mereka. Pada apel pagi kali ini, Yushin memilih 12 pasukan yang sehat yang akan mencari Bi Dam sedangkan 3 orang lainnya bertugas merawat yang terluka. 12 orang tersebut dibagi menjadi 3 kelompok yang dipimpin Wolya, Godo, dan Yushin sendiri, dibantu mata-mata Kerajaan, ketiga kelompok itu berpencar mencari Bi Dam.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Deok Man melihat Bi Dam berpakaian perang lengkap berdiri di hadapannya menggegam kedua tangannya lalu mengecup keningnya "jaga anak kita baik-baik, Deok Man.." bisiknya. "Bi Dam?" Deok Man membuka matanya perlahan. Ia menoleh ke sampingnya yang kosong, tempat suaminya biasa berbaring menyambutnya di pagi hari. "kami menunggumu di sini Bi Dam..cepatlah pulang.." gumamnya. Lalu ia duduk dan mengusap perutnya yang berbunyi. "hmm..lapar ya?sebentar ya.." katanya tersenyum sambil mengusap perutnya. Ketika Deok Man akan turun dari tempat tidurnya, terdengar suara dari balik pintu "Tuan Putri?apakah Tuan Putri sudah bangun?hamba membawakan sarapan untuk Tuan Putri.."kata Soo Hye "masuklah"jawab Deok Man. Soo Hye berjalan hati-hati, kedua tangannya membawa nampan. Diletakannya nampan itu di atas meja, dan satu persatu mangkuk yang dibawanya dibuka. Deok Man bangun dari tempat tidurnya dan duduk di depan meja. Deok Man mengambil sendoknya dan bersiap makan "hmmm..bubur ayam jamur dan sayur daging"gumamnya. Soo Hye berdiri memeluk nampannya tersenyum senang melihat kondisi Tuan Putrinya sudah membaik. Deok Man memperhatikan tingkah dayangnya itu "kenapa Soo Hye?apa ada yang aneh?"tanyanya heran. "ah saya hanya senang melihat Tuan Putri menyantap masakan saya dengan lahap..oh ya Tuan Putri apakah hari ini Tuan Putri ingin belajar bermain sitar?Tuan Suk Ho menanyakannya..lagipula senar sitar yang putus sudah saya ganti" jawab Soo Hye. "tentu saja aku mau..beritahu guru bahwa hari ini aku akan belajar dengannya.."jawab Deok Man semangat. "baik Tuan Putri"jawab Soo Hye.

Sore hari. Kowon.
Wolya berjalan menghampiri Yushin. Mereka sedang berada di salah satu desa nelayan di tepi Pantai Kowon. Yushin menoleh ke arah Wolya "Bagaimana apa kau berhasil menemukannya?"tanyanya Wolya menggeleng "kami sudah berusaha berlayar mendekati lokasi tempat Bi Dam jatuh, namun ombak dan anginnya sangat besar, kapal kami nyaris karam.."katanya. Yushin menunduk memasang wajah muram "aku juga sama..kata nelayan di sini, mereka tidak melihat mayat atau tubuh yang hanyut kemarin..aku harap Godo akan membawa berita baik.."katanya. Tak lama kemudian, Godo muncul. Wajahnya nampak muram. Ia menunduk memberi hormat kepada Yushin dan Wolya "hasilnya nihil Panglima, kami sudah bertanya ke berbagai tempat tapi tak satupun orang yang menemukan orang hanyut dari pantai..apa jangan-jangan kata mereka itu benar?"katanya muram. "apa itu?"tanya Wolya. "kata nelayan yang di pantai tadi, jika tubuhnya tidak terdampar di pantai, berarti orang itu sudah mati tenggelam di tengah laut apalagi di saat cuaca buruk seperti ini.." air mata Godo menetes. "tapi aku tidak mau mempercayai katanya.."teriaknya lalu ia berusaha menghapus air matanya. Yushin menepuk-nepuk bahu Godo. "apa rencanamu selanjutnya Yushin?kau harus segera pulang..kau harus mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi.." Mendengar itu, Godo berang terhadap Wolya "Jenderal, mengapa kau berkata demikian? Perdana Menteri belum ditemukan..kita tak boleh meninggalkannya..apa Jenderal tidak peduli dengannya?"katanya sambil maju menggertak Wolya namun Yushin berhasil menahannya. Wolya diam berjalan tenang mendekat, tiba-tiba membentak Godo"kau kira aku tak peduli dengannya hah?!aku juga peduli..tapi kepentingan Shilla lebih penting..bagaimana jika Goguryo dan Bakje tiba-tiba menyerang Shilla di saat pemimpin perangnya tidak ada?apa kau pikirkan itu?Tentu Perdana Menteri mengerti itu... kau ingat kan perintah terakhirnya apa?"bentaknya. Godo hanya terdiam. Wolya menoleh ke arah Yushin "jadi Panglima apa keputusanmu?" Yushin menghela napas, berat baginya untuk membuat keputusan ini. "aku tahu ini sangat berat bagimu Godo, Wolya..aku pun juga merasa sangat berat melakukan ini.." Godo mengangguk sambil menyeka air matanya dengan lengan bajunya. " tapi kita harus bergerak sesuai rencana awal..dan kita akan lakukan pencarian terakhir hari ini dan bersiap pulang..Wolya, Godo, persiapkan pasukan"katanya. "baik" kata Godo dan Wolya menunduk memberi hormat. Yushin segera menaiki kudanya dan memandang laut yang terbentang di hadapannya "maafkan aku Bi Dam.."pikirnya. Lalu ia memacu kudanya pergi.

Malam hari Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Deok Man duduk di tempat tidurnya, membaca puisi karya suaminya itu berulang kali. Setelah selesai, ia memasukannya kembali ke dalam amplopnya dan menyimpannya dalam kotak di lemarinya, lalu berbaring di tempat tidurnya dan memejamkan matanya. "meskipun kau tak bisa melihatku..kuharap kau tahu bahwa aku juga selalu mencintaimu, Bi Dam” gumamnya dalam hati. Dalam angannya ia dapat melihat Bi Dam tersenyum kepadanya dan mendengarnya memanggil namanya "Deok Man..Deok Manku.."panggilnya. Deok Man tersenyum “selamat tidur, Bi Dam.."gumamnya sebelum tidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar