Pages

Senin, 29 November 2010

FF OLS; Piku Hwarang asuhan Sangdaedung Bidam

Inilah piku 2 orang hwarang Shilla sebagai anak buah Sangdaedung Bidam di FF Bideok, Our Love Story...
porsi peran mereka akan sering ditampilkan di FF OLS bagian 10, 11, 12, dan 13





















Noh Min Woo sebagai Hwarang Jungsae, pemimpin dari kelompok Hwarang di bawah Sangdaedung Bidam









































Lee Dong Hae sebagai Hwarang Hanwook


















Lee Jun Ki sebagai Han Sang Ji putra dari Gubernur Bangsawan Han Sang Myul

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 10

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 10

SCENE : SMUGGLER

Daerah Cholyuk.. Perbatasan Shilla - Baekje

Bidam segera mempersiapkan dirinya untuk pulang ke Soerabeol, karena keamanan pasca invasi ke Baeksong telah ditangani oleh Yushin. Bidam pulang hanya membawa beberapa nando dan 2 orang hwarang anak didiknya; Jungsae rang dan Hanwook rang.

Bidam sengaja mengambil jalan memutar menuju arah Soerabeol karena ingin melihat dan memantau bagaimana keadaan daerah Shilla. Ketika rombongan Bidam melewati daerah Cholyuk, dia melihat ada beberapa petani membawa hasil panennya, dari kemarin selama dalam perjalan dari Baeksong dia melihat beberapa rombongan petani melakukan hal yang sama.

“apakah sekarang musim panen?” gumamnya lalu menoleh ke arah belakang

“Hanwook rang!” panggil Bidam dari atas kudanya, Hanwook mengarahkan kudanya mendekati Bidam

“ya Sangdaedung”

“coba kau tanya rombongan petani itu, hasil panennya akan dibawa kemana?”

Hanwook-rang menuruti dan mendekati rombongan petani yang berjumlah 4 orang.

“tunggu!!” serunya menghentikan petani itu, mereka pun berhenti

“mau dibawa kemana hasil panen ini?” tanya hanwook-rang

Salah satu pria petani maju, bisa ditebak dia adalah pimpinan rombongan.

“kami akan membawa hasil panen pada pengepul gandum untuk dijual” jawabnya

Bidam turun dari kudanya dan mendekati mereka lalu bertanya

“Apakah sekarang musim panen?” tanya Bidam pada petani itu, petani itu tampak gugup karena yang dihadapannya adalah seorang pria dengan pakaian perang kerajaan yang sepertinya mempunyai pangkat tinggi tapi petani itu tidak tahu bahwa pria yang bertanya padanya adalah Sangdaedung Shilla.

“ya..ya..benar tuan” jawab pria itu

Bidam merasa heran mendengar jawaban pria itu, lalu

“periksa isi gerobaknya!” perintah Bidam pada Hanwook-rang lalu Hanwook-rang dan beberapa prajurit membongkar isi gerobak dan anggota rombongan petani tampak ketakutan, si pimpinan petani berusaha menghentikan pemeriksaan dengan memohon

“tuan..tuan..ini hanyalah hasil panen, kami tidak membawa apa-apa?”

“membawa apa?” Bidam balik bertanya curiga, sadar bahwa pimpinan petani itu telah salah ucap dan terpancing, pria itu lalu berusaha melarikan diri tapi Jungsae-rang dengan cepat mengejarnya dan berhasil ditangkap meskipun pria itu agak melawan.

“Sangdaedung, ini hanya tumpukan gandum biasa, tidak terdapat apa-apa” lapor Hanwook-rang setelah selesai memeriksa

“uraikan ikatan gandumnya, aku yakin mereka menyembunyikan sesuatu” perintah Bidam sambil memandang tajam pria yang berhasil ditangkap Jungsae-rang.

Ikatan gandum diurai dan tampak ada hal yang aneh berapa helaian gandum terlihat gemuk seperti membungkus sesuatu dan benar helaian gandum itu dipilin dan membungkus sebatang besi seukuran sumpit dan terdapat sekitar 100 batang yang disembunyikan dalam tumpukan. Bidam mengambil batang besi dan menunjukkannya persis didepan wajah pria itu.

“apa ini? apakah kalian berusaha menyelundupkan besi-besi ini, kemana?” tanya Bidam

“jawab!”seru Jungsae-rang

Pria itu memalingkan muka dan menutup mulut

“apa kau mau mati ya! Dia itu Sangdaedung Shilla, apa kau mau mengabaikan perintahnya!!” ancam Jungsae-rang

“sudah Jungsae-rang” sergah Bidam

“sebaiknya kau bekerja sama dengan kami, kemudian kami akan mempertimbangkan untuk mengampunimu” kata Bidam pada pria itu, suaranya agak melunak. Pria itu mengangguk tanda setuju.

Di suatu tempat, tepi sungai di daerah Cholyuk..

Jungsae-rang dan Bidam sedang berbicara

“Sepertinya kita harus mengadakan penyelidikan mengapa ada penyelundupan besi dari Shilla dan kepada siapa mereka menjualnya” perintah Bidam

“Tapi Sangdaedung, apakah seharusnya masalah ini dilimpahkan saja ke gubernur setempat” kata Jungsae-rang

“tidak, kita harus menyelidikinya sendiri, dan tidak boleh percaya pada siapapun karena kita tidak tahu siapa saja yang terlibat dalam hal ini” jawab Bidam, Jungsae-rang menganguk-angguk

“maaf Sangdaedung, apa yang membuat anda curiga pada mereka sehingga kami diperintahkan untuk memeriksa mereka. Padahal bukankah sudah biasa bila kita melihat petani membawa hasil panennya”

“suatu hal kecil yang diabaikan pada akhirnya membuka sesuatu hal yang besar. Kau tahu Jungsae-rang, sebentar lagi kita akan meninggalkan musim dingin dan berganti musim semi. Setahuku menjelang musim semi adalah musim tanam bukan musim panen, hal ini dimana-mana sama tidak pernah berubah. Tapi petani itu bilang bahwa ini hasil panennya dan dia menegaskan ‘tidak membawa apa-apa’ lalu ditambah dengan usahanya melarikan diri yang sangat bodoh dan sia-sia. Dari situlah aku merasa curiga ternyata kecurigaanku terbukti” jelas Bidam, Jungsae-rang mengangguk-angguk kepalanya.

“apa Hanwook-rang sudah kembali?" tanya Bidam lagi

“belum, dia masih memeriksa pengepul gandum itu” jawab Jungsae-rang

“cari tahu darimana mereka mendapatkan besi-besi itu” perintah Bidam, lalu Jungsae-rang pergi dan Bidam segera menganti pakaian zirahnya dengan pakaian biasa.

“aku harus menemui seseorang” gumamnya tapi Bidam menarik nafas tanda mengeluh

FF BIDAM - DEOKMAN, Our Love Story bag. 9

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 9a

Scene : THIS IS FOR OUR GLORY

Benteng Daia

“Lapor Jenderal, tentara Shilla yang diperkirakan sekitar 800 orang bergerak akan menuju kota Baeksong” lapor seorang prajurit Baekje.

“Kurang ajar, Bantu pertahanan kota Baeksong sekarang juga keluarkan pasukan di benteng 200 orang” perintah Jenderal Yoosang. ‘berarti jumlah pasukan di benteng adalah 200 orang, hmm.. jumlah ini cukup untuk menahan pasukan Shilla bila mereka menyerang kemari’ pikir sang jenderal.

Kamp di dekat Benteng Daia

Bidam tengah memakai pakaian penyusup, sedang bersiap dan membagi-bagikan tugas.

Bidam : “Resimen penyusup ikut aku sekarang, kita akan masuk ke dalam benteng sore hari, setelah kita masuk dan memberikan kode, pasukan crossbow maju dan melakukan serangan di gerbang utama sampai pasukan Baekje keluar benteng, mereka akan binggung dari mana arah panah berasal, maka mereka akan berjaga di sekitar area depan gerbang, kemudian pasukan alat berat maju untuk mengkonsentrasikan jumlah pasukan baekje berkumpul di gerbang utama.

Pasukan lain akan masuk setelah aku membuka gerbang barat, kelemahan benteng daia adalah gerbang utara kemungkinan mereka akan menjaga ketat area ini. Semua harus ada di pos masing-masing dan melakukan tugasnya. Mengerti!!” Semua menjawab siap.

Salah satu hwarang bertanya “kode apa yang akan kita gunakan untuk memberitahu pasukan lain agar maju?”

Bidam menjawab “ini..”dikeluarkannya kotak besar yang didalamya terdapat 4 ekor burung merpati.

Hwarang Jungsae bertanya : “disini ada banyak burung merpati Sangdaedung, bagaimana kita akan membedakannya?”

Bidam : “burung ini akan bersinar bila langit telah gelap, bila kalian lihat ada burung merpati yang bulunya bersinar terbang di langit maka kalian harus mulai bergerak. Mengerti!”

’bersinar..? bagaimana bisa bulu burung bersinar’pikir Jungsae binggung.

Ruang kerja ratu

“Yang Mulia, tabib Lee datang menghadap!” seru penjaga pintu

“Kapten Alcheon keluarlah..” kata Deokman pada Alcheon yg berdiri di sampingnya

“Apa Yang Mulia merasa sakit lagi?” tanya Alcheon

“Tidak, ini hanya pemeriksaan rutin. Alcheon aku mohon jangan kau beritahukan pada siapapun tentang hal ini, terutama pada Bidam” kata Deokman.

“tapi Yang Mulia, Sangdaedung adalah suami Yang Mulia, sebaiknya dia diberitahukan tentang kondisi Yang Mulia agar tidak terjadi salah paham nantinya” saran Alcheon

“aku pasti akan memberitahukannya tapi nanti bukan sekarang, pokoknya hanya kau yang tahu tentang kondisiku ini, sekarang suruh tabib Lee untuk memeriksaku” kata deokman tegas. Alcheon pun menurut.

“Bagaimana kondisiku?” tanya deokman pada tabib Lee

“Yang Mulia, kondisi Yang Mulia sekarang sudah jauh lebih baik karena Yang Mulia rajin meminum obat yang hamba berikan, melihat perkembangan ini saya rasa pengobatan akupuntur dapat dijalankan sekarang” jelas tabib Lee.

“Baiklah, kapan dimulainya terapi akupuntur itu?” tanya Deokman.

“Saya rasa 1 minggu lagi, Yang Mulia dapat memulainya karena saya harus memastikan lebih lanjut titik-titik yang ditusuk tidak menimbulkan efek samping” jawab tabib Lee

“Baik, ingat tabib Lee tidak boleh ada yang tahu tentang hal ini, mengerti?” tegas Deokman. “baik Yang Mulia, hamba permisi” jawab tabib Lee pamit.

Scene : THE STRATEGY ON SET

Benteng Daia

Dengan cepat 2 orang berpakaian hitam membunuh penjaga luar gerbang barat tanpa bersuara dan menariknya ke ilalang tinggi, dengan cepat pula 2 orang penyusup melepaskan pakaian penjaga dan mengenakannya, ini untuk tujuan menyamar lalu mereka kembali ke pos gerbang.

Lalu menjelang malam tiba saat pengantian penjaga, 4 orang penjaga Baekje keluar gerbang kemudian mereka bernasib sama dengan 2 rekannya sebelumnya, akhirnya Resimen Bidam berhasil menyamar sebagai penjaga gerbang barat luar dan dalam.

Penjaga gerbang luar palsu melepaskan seragam pasukan dan memasangnya pada sebuah kayu yg berkaki tiga lalu diberdirikan alih-alih penjaga. Dan memasuki benteng dengan hati-hati lalu bersembunyi, kemudian dilanjutkan oleh 2 orang yang lain melakukan hal yg sama dan bersembunyi, tinggal 2 orang saja yang berpakaian penjaga di dalam gerbang dalam benteng dan mondar-mandir seperti layaknya tugas penjaga. Mereka tampak sudah hafal sekali tempat persembunyian yang ideal dan aman, lalu salah seorang mengeluarkan kotak dan mengeluarkan isinya lalu diterbangkannya satu burung merpati yang bulunya bersinar terang, selang 5 menit kemudian burung merpati yang lain dilepaskan begitu seterusnya sampai 4 burung selesai dilepaskan.

Komandan pasukan crossbow melihat burung bersinar di udara lalu memerintahkan untuk siap membidik. Hujan panahpun menuju ke benteng daia, sebagian besar penjaga terkena, suasana dalam bentengpun heboh. Pasukan Baekje yang ada di dalam benteng bersiap-siap menuju gerbang utama, sebagian kelompok pasukan menuju gerbang utara.

Gerbang utama dibuka beberapa prajurit garis depan keluar dan mereka disambut dengan hujan panah yang semuanya sesuai sasaran lalu pasukan alat berat Shilla maju. Karena melihat ada serangan di depan gerbang, pasukan Baekje maju menghalangi pasukan alat berat Shilla.

Karena hujan panah tidak berhenti dan mengenai penjaga yang ada di atas benteng maka bagian atas bentengpun kosong tak terjaga, begitupun dengan pasukan garis depan Baekje yang bertempur di gerbang utama sehingga pasukan alat berat Shilla dapat mudah merangsek ke depan .

Mendengar pertempuran berlangsung di depan lalu penjaga gerbang barat palsu membuka pintu dan pasukan Shilla yang dari tadi bersembunyi di luar benteng keluar, jumlahnya sekitar 20 orang. Mereka maju dan bertempur di dalam benteng. Lalu Resimen penyusup keluar dan mulai membunuh para musuh. Melihat mereka diserang dari luar dan dalam benteng, akhirnya seluruh pasukan Baekje yang sekarang berjumlah ±80/90 orang menyerah. Setelah dipreteli senjata dan seragamnya, semua pasukan Baekje ditawan termasuk Jenderal Yongsan.

“Lapor Sangdaedung, semua pasukan telah menyerah dan benteng Daia berhasil kita kuasai” lapor seorang kolonel Shilla.

“Bagus, kirim berita pada pasukan di Baeksong, kita berhasil merebut Benteng Daia, dan laporkan korban di pihak kita” perintah Bidam yg masih memakai baju penyusup,

“Siap Sangdaedung” hormat kolonel dan pergi.

Para penyusup yang berjumlah 5 orang lainnya berkumpul di dekat Bidam (selanjutnya Resimen ini disebut Resimen Bidam),

“Ini kemenangan yang cepat, aku bangga kalian semua melakukannya dengan baik sekali, nyaris tanpa cacat, padahal ini adalah pertempuran pertama kalian heh?” puji Bidam bangga sambil menatap anak didiknya satu persatu.

“Ya Sangdaedung, ini sangat mengembirakan bisa merebut benteng dengan mudah, ini berkat stategi dan taktik Sangdaedung yang cerdas sekali” Jungsae balik memuji.

“Ya betul Sangdaedung, ini berkat anda!” kata yang lain hampir bersamaan.

“Baik, ini kerja keras kita semua demi Shilla yg kita cintai, sekarang aku akan membagi tugas berjaga; Hwarang Hanwok (ban hijau tua) kau bertugas di gerbang barat, Hwarang Iljung (ban ungu) gerbang utara, Hwarang Dong (ban hijau muda) gerbang selatan, Hwarang Jiwon (ban biru muda) gerbang utama, Hwarang Jungsae (ban merah) kau bertugas di dalam benteng, laporkan segera bila ada gerak-gerik mencurigakan!” perintah Bidam.

“SIAP Sangdaedung!!”. Bidam berlalu diiringi dengan sikap hormat para hwarang.


FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 9B

Scene : I MISS YOU SO MUCH

Kamar Bidam di Benteng Daia

Bidam menulis surat pada Deokman,

“ratuku, aku telah mempersembahkan kemenangan untukmu, kau pasti sangat senang mendengarnya, sekarang aku tinggal menunggu berita dari Yushin dan menunggu pasukan yang lain untuk menjaga benteng. Istriku, aku sangat merindukanmu, aku hanya memikirkan dirimu dalam setiap langkahku dan berusaha melakukan yang terbaik untukmu. Aku ingin cepat kembali dan bertemu denganmu. Bidam” tulis Bidam, dan meletakkan surat dalam selongsong yang ada di kaki burung merpati lalu menerbangkannya keluar.

“Selamat malam Deokman, aku mencintaimu” gumam Bidam sambil mencium cincinnya.

Kamar tidur ratu

Esok paginya, ketika Deokman sedang menghirup teh datang Dayang Choisun,

“Yang Mulia ini burung merpati kiriman Sangdaedung:kata Choisun sambil menyerahkan sangkar kecil ditangannya pada Deokman, Deokman meraih burung itu dan mengambil selongsong yang ada dikakinya dan membaca surat dari Bidam sambil tersenyum. Lalu Deokman menulis surat balasan

“aku sangat senang mendengarnya, aku tahu kau mampu melakukannya. Aku akan mengirim surat pada gubernur provinsi agar segera mengirim pasukan untuk ditempatkan di benteng daia, agar kau cepat kembali. Aku juga benar-benar rindu padamu dan ingin segera bertemu denganmu. Aku sangat mencintaimu, bidam. Deokman” tulis Deokman. Merpatipun dibawa keluar oleh Choisun untuk diterbangkan.

“Bidam, terima kasih kau telah melakukannya untukku” gumam Deokman sambil menatap dan mengusap gelang ditangannya.

Scene : EASY PAL.. I’M COMING

Benteng Daia

Berita tentang kemenangan Bidam merebut Benteng Daia membuat Yushin semangat dalam melakukan serangan ke kota Baeksong, namum menyerang kesana tak semudah yang dibayangkan, pasukan Baekje juga bersemangat mempertahankan wilayahnya ditambah serangan dari belakang yang berasal dari pasukan yang keluar dari Benteng Daia. Semua itu membuat pasukan Yushin agak kewalahan.

“Lapor Sangdaedung!” lapor kurir dari pasukan Yushin.

“Ya” jawab Bidam yang saat ini sedang mengadakan pertemuan di ruang rapat benteng. “Pasukan telah berhasil menguasai perbatasan kota tetapi kami dengan terpaksa mundur kembali karena kamp kita diserang musuh, Panglima Yushin mohon bantuan Tuan secepatnya, agar situasi ini dapat diselesaikan segera” kata kurir menyampaikan pesan dari Yushin.

“Baik, sampaikan pada Yushin bahwa kami akan membantu bila pasukan provinsi telah datang untuk menjaga benteng ini”balas Bidam. Kurirpun memberi hormat dan pergi. “Pasukan provinsi kemungkinan akan datang besok, setelah mereka datang kita akan membantu Panglima Yushin” kata Bidam kepada para peserta rapat.

Bidam menerima surat balasan dari Deokman sore harinya lalu dengan cepat membalasnya “Ratuku, aku harus membantu Yushin dalam misinya jadi aku akan menuju medan perang lagi, ini demi kejayaan Shilla. Aku juga mencintaimu, sangat sangat mencintaimu. Doakan aku agar kami berhasil, jaga dirimu jangan terlalu lelah. Kau tidak perlu membalas surat ini lagi, tunggu berita dariku selanjutnya. Aku sungguh rindu padamu deokmanku. Bidam”

Pasukan provinsi datang keesokkan harinya, setelah mengadakan instruksi-instuksi pada jenderal yang menjaga Benteng Daia. Hari itu juga Bidam dan pasukannya menyusul Yushin di perbatasan kota Baeksong.

Kamp di perbatasan kota Baeksong

Yushin dengan gembira menyambut pasukan Bidam, dan mereka langsung menyusun beberapa strategi & siasat untuk menduduki Baeksong. Setelah mengadakan pertemuan dengan beberapa jenderal, semua meninggalkan ruangan hanya tinggal Yushin dan Bidam.

“Panglima Yushin, tunggu, ada yang ingin aku tanyakan” kata Bidam

“ya”

“apakah ini rencana Yang Mulia, membuat 2 serangan ke daerah yang berdekatan agar aku dengan mudah menguasai benteng daia?”

“aku tahu. Kau cepat atau lambat akan menyadarinya”

Bidam mengelengkan kepala dan tersenyum samar.

“Bukan karena Yang Mulia tidak percaya pada kemampuanmu, tapi Yang Mulia bertindak sebagai pribadi untuk membantu dirimu” lanjut Yushin

“lalu mengapa kau menyetujuinya”

”apa aku harus menjawabnya? Anggap saja sogokan darimu waktu menyerahkan buku itu kini telah kubayar lunas”

Bidam menanggapi jawaban Yushin dengan senyum tipis.

Hasil strateginya adalah diputuskan agar Resimen Bidam melakukan pengintaian dan secara diam-diam membunuh para kurir penyampai pesan agar pesan dari benteng perbatasan tidak sampai ke markas Baekje. Strategi ini efektif karena setelah 4 hari kemudian pasukan Baekje di perbatasan tidak melakukan hal-hal yang berarti dan tidak ada tanda-tanda markas besar Baekje memberi bantuan lagi.

Serangan pada benteng perbatasan dimulai, dengan cepat pasukan Yushin & Bidam menguasai benteng perbatasan dan mulai merangsek ke tengah kota. Melihat kotanya diserang Pasukan Baekje pun tak tinggal diam dan melawan.

Pertempuran hebat terjadi, dan mereka mulai menduduki kota dan mengadakan perjanjian agar pasukan Baekje meninggalkan kota dengan sukarela dan menyerahkannya pada Shilla, dan dari para tawanan dari Benteng Daia dan Baeksong akan dipulangkan.

Tapi pihak Baekje menolak dan mengempur Shilla dari arah barat kota, akhirnya mereka membagi tugas agar Bidam dan pasukannya mempertahankan kota dan Yushin menahan pasukan Baekje dari barat.

Selama perang berlangsung Bidam sesekali mengirim Deokman surat tapi Bidam minta Deokman tidak membalasnya kembali karena takut salah sampai. Begitupun Deokman, selama perang berlangsung Deokman rajin mengunjungi kuil dan berdoa dengan khusuk agar Bidam selamat dan pasukan Shilla menang.

Akhirnya pasukan Baekje menyerah dan mundur, dan mereka menguasai kota Baeksong lalu mengamankan daerah sekitar.

Berita tentang kemenangan Yushin dan Bidam sampai di istana, seluruh istana dan rakyat sangat senang mendengarnya.

Akhirnya surat resmi dari kerajaan datang yang isinya mengatakan bahwa Sangdaedung dipersilahkan kembali ke Soerabeol dan kembali melaksanakan tugasnya sebagai perdana menteri Shilla. Sementara Panglima Yushin diminta untuk menjaga dan mempertahankan stabilitas di kota Baeksong dengan bekerja sama dengan gubernur provinsi setempat. Bidam sangat senang mendengar surat itu, artinya ia kembali bertemu dengan Deokman yang sangat dirindukannya setelah hampir 1 bulan tidak bertemu.

“Deokmanku akhirnya aku kembali padamu, kau tahu aku bisa mati karena sangat merindukanmu, lebih baik aku mati karena sebilah pedang daripada aku mati karena menahan rindu seperti ini. Aku ingin selalu berada di dekatmu, tapi sekarang aku sangat gembira karena awan mendung yang menyelimuti hatiku sudah menghilang digantikan oleh sinar matahari yang cerah yaitu sinar dari wajahmu” tulis Bidam dalam suratnya dan segera diposkan oleh merpati.

FanFiction : BIDAM-DEOKMAN; Our Love Story bag 8

Scene : Am I selfish?

2 minggu kemudian..

Ruang Kerja Ratu

Semua berkumpul di meja kerja ratu : Panglima Yushin, Pangeran Chuncu, Menteri Pertahanan Kim Seohyun, Perdana Menteri Bidam.

Deokman: ‘Bagaimana persiapan militer kita?”

Yushin : “Semua berjalan dengan lancar Yang Mulia, saya sudah siapkan pasukan untuk menyerang Baeksong sekitar 700 orang, pengembangan senjata militer kita mengalami kemajuan pesat terutama pada alat-alat berat yang akan sangat efektif untuk menyerang benteng, saya juga sudah menyelidiki geografis kota Baeksong dan menerapkan stategi yang cocok untuk dapat menduduki kota Baeksong dengan mudah”

Deokman: “Bagus, aku percaya pada kemampuan Panglima Yushin, ini akan menjadi awal penyatuan 3 kerajaan, sekarang bagaimana dengan persiapan benteng daia?”

Bidam : “Pasukan elite telah siap Yang Mulia, pasukan ini mampu bergerak lebih cepat, saya hanya akan membawa pasukan sekitar 150 orang untuk mengoperasikan alat2 berat. Lagipula kami sudah mengembangkan senjata panah, seperti Yang Mulia pernah lihat. saya sudah menunjuk beberapa hwarang yang dilatih khusus yang akan menjadi tim penyusup benteng, Resimen ini akan berusaha membuka gerbang dari dalam sehingga pasukan penyerang dapat masuk dengan mudah”

Deokman: “baiklah aku yakin kau mampu melakukannya Bidam, aku berharap semua rencana dan strategi dapat dijalankan dengan lancar, menteri pertahanan apa logistic untuk para pasukan siap?”

Kim Seohyun : semua sudah didistribusikan Yang Mulia.

Setelah rapat selesai, semua meninggalkan ruangan. Ketika Bidam hendak keluar dilihatnya Deokman murung. Bidam mengurungkan niatnya dan kembali duduk.

“Ada apa? Kau terlihat murung, apa yang kau pikirkan?”tanya Bidam

“aku memikirkan tentang perang ini, karena ada kau didalamnya maka aku sangat cemas” jawab Deokman,

“seharusnya kau tidak perlu terlalu cemas, semua telah dipersiapkan sebaik mungkin dan lusa kami akan berangkat ke medan perang, jangan khawatir kita pasti akan menang. Kau percaya padaku kan?”hibur Bidam, Deokman menoleh

“akhir-akhir ini aku sering berpikir bahwa aku terlalu egois, melalui perang ini aku seperti mendekatkanmu pada kematian… tidak..tidak..aku tak mau kehilanganmu Bidam”kata Deokman sambil mengeleng-gelengkan kepalanya sedih. Melihat itu Bidam beranjak ke belakang kursi Deokman dan memegang kedua pundaknya, Bidam meremas pundak Deokman pelan tanda menguatkan

“Kau tidak egois, itu hanya salah satu resiko sebagai seorang penguasa, dan kita selalu sepakat bahwa kepentingan negara harus diletakkan diatas kepentingan pribadi. Jangan kau menjadi lemah karena hal ini Deokman. Aku tidak mau kau terlihat muram di depan para pasukan yang akan berangkat lusa, kau harus selalu terlihat semangat dan percaya diri.”Bidam menasehati. Deokman balas meremas tangan Bidam yang masih memegang pundaknya.

“Kau selalu menguatkan dan mengingatkan aku Bidam, terima kasih”kata Deokman.

Malam harinya saat Deokman akan masuk ke kamar, seorang pengawal istana menyampaikan pesan dari Bidam untuk Deokman, yang isinya agar Deokman beristirahat lebih dulu, tidak perlu menunggunya karena malam ini ia sibuk sekali melakukan berbagai persiapan untuk perang, dan benar saja saat keesokkan harinya Deokman tidak menemukan tanda-tanda Bidam tidur dikamarnya. “sudah 4 hari kau tidak menemaniku disini Bidam, aku sangat merindukanmu”gumam deokman mengeluh.

Scene : I’ll be back for you

1 hari sebelum pergi perang..

Ruang kerja Sangdaedung

“Santak!”panggil Bidam di ruang kerjanya

“Ya Sangdaedung”jawab Santak tergopoh-gopoh.

“Mana pesananku, kau bilang hari ini selesai”kata Bidam

“Ya.. ini sudah ada Sangdaedung”jawab Santak sambil menyerahkan kotak indah berwarna merah. Bidam membukanya dan tersenyum melihat isi dari kotak itu.

Kamar tidur ratu

Hari menjelang malam kala Deokman baru datang kembali ke istana setelah mengadakan perjalanan ke beberapa tempat untuk menginspeksi hasil pertanian dan menemui beberapa ilmuwan di kantor riset & pengembangan bersama Chuncu. Setelah membaca beberapa laporan di ruang kerjanya Deokman beranjak ke kamarnya untuk istirahat. Kala Deokman masuk dilihatnya Bidam sedang menunggunya, di atas meja sudah tersedia beberapa hidangan. Bidam tersenyum dan menyambut Deokman dengan berdiri dan memberi hormat.

“selamat datang Yang Mulia, Yang Mulia pasti sangat lelah dari perjalanan tadi”sambut Bidam, Deokman tersenyum

“apa Yang Mulia inginkan terlebih dahulu, mandi atau makan malam? Hamba bidam siap melayani Yang Mulia”lanjut bidam

“Bidam kau ini kenapa? tidak perlu bersikap formal begitu disini tidak ada orang lain”kata Deokman tersenyum, Bidam meraih tangan Deokman dan mengecupnya

“aku akan menjadi pelayanmu malam ini sebagai penganti malam-malam sebelumnya karena aku tidak bisa berada disisimu”ujar Bidam,

“kau mau apa dulu, mandi atau makan? Aku sudah mempersiapkan semuanya”lanjut Bidam. “kurasa aku akan makan dulu, ppff..sebenarnya tadi siang aku sudah makan tapi seleraku muncul ketika melihat makanan ini, sepertinya aku mengenali menu malam ini..”Deokman duduk dan memperhatikan hidangan tersebut

“apa kau yang menyiapkan semua ini?karena sebelumnya dayang istana tidak pernah menyajikan menu seperti ini”tanya Deokman. Disana ada nasi dan mantau, ayam kukus, sayur asin, daging panggang dan kue ketan. Deokman tahu ini makanan favorit Bidam, tapi ia juga menyukainya karena dulu ia sering memakannya ketika dalam pelarian baik waktu pelarian dengan Yushin atau pelarian karena kudeta Mishil, pokoknya kalau bersama Bidam, ia pasti makan menu seperti ini.

“Bukan aku yang memasaknya tapi kusuruh dayang menghidangkan menu ini, kau suka?”ujar Bidam, sambil kedua tangannya menopang dagu dengan sikap santai.

“aku suka sekali, ayo kita makan!’ajak Deokman semangat.

“nanti suatu hari aku akan memasak untukmu, aku sendiri!”kata Bidam. Deokman tersenyum mengangguk. Setelah selesai makan..

“ayo kita mandi.. aku ingin kita berendam bersama-sama”ajak Bidam, sambil menuntun Deokman ke kamar mandi, Deokman menuruti senang.

Seusai mandi, Deokman merasakan ada sesuatu yang menganjal di dalam bantalnya ketika dia hendak membaringkan kepala di tempat tidurnya ‘aneh..ada apa sih?’batin Deokman heran, dibaliknya bantal tersebut dan disana ada kotak kecil berwarna merah.

“Kau sudah menemukannya?”ujar Bidam sambil naik ke atas ranjang.

“Apa ini?”tanya Deokman

“Bukalah”jawab Bidam. Deokman membukanya dan terdapat gelang emas dengan tinggi 3cm berbentuk ukiran tulisan kanji “Deokman Bidam”yang membentuk di sepanjang gelang tersebut.

“ini bagus sekali, pasti sulit membuatnya”kata Deokman gembira sambil terus memandangi gelang tersebut. Bidam tersenyum dan memasangkan gelang di tangan kanan Deokman,

“ini kupesan dari ahli pembuat perhiasan yang terbaik di Soerabeol, aku senang kau menyukainya, Deokman”kata Bidam.

“aku suka sekali, aku tidak akan pernah melepaskannya dari tanganku sama seperti aku tidak mau melepaskanmu dari sisiku, Bidam”kata Deokman.

“aku mencintaimu, ratuku”kata Bidam sambil mengecup kening Deokman lalu berkata “Sekarang tidurlah..kau harus beristirahat Deokman” kata Bidam

“Kaupun harus tidur Bidam, kau akan bertempur besok” kata Deokman sambil berbaring. “selamat tidur Deokman”kata Bidam sambil mengecup kening Deokman, dan merebahkan dirinya di ranjang, menarik Deokman agar tidur dalam pelukannya.

Keesokkan harinya, Bidam bersiap-siap mengenakan baju zirah perang, Deokman membantunya, sampai Bidam lengkap dengan pakaian perangnya.

“Kau harus berhati-hati, dan pegang janjimu untuk kembali padaku”kata Deokman

“Aku pasti akan kembali padamu dan membawa kemenangan untukmu”jawab Bidam.

Setelah Bidam mengecup kedua pipi istrinya, mereka siap ke luar.

Didepan istana telah berkumpul pasukan-pasukan Shilla siap untuk diberangkatkan. Bidam dan Yushin memberikan yel penyemangat pasukan dan berangkat. Deokman menatapnya dari gerbang

‘kau harus menang Bidam, harus.. aku menantimu disini’batin Deokman

“Aku yakin mereka akan menang Yang Mulia”kata Chunchu dari belakang membuat Deokman terkejut seolah bisa mendengar suara hati Deokman.

“Ya mereka harus menang”jawab Deokman.

SPECIAL SCENE (inside bag.8)

“ayo kita mandi.. aku ingin kita berendam bersama-sama”ajak Bidam, sambil menuntun Deokman ke kamar mandi, Deokman menuruti senang.

Bidam membantu melepaskan perhiasan-perhiasan dan membuka pakaian Deokman satu persatu dan menguraikan rambutnya lalu setelah dengan Deokman selesai ia melakukan hal yang sama pada dirinya. “Bress, mereka masuk ke dalam bak mandi besar yang terbuat dari keramik tebal yang didominasi warna merah dan emas dengan ornament khas korea.

Bidam dengan lembut membersihkan badan dan punggung Deokman, begitupun Deokman pada Bidam. Mereka menikmati hangatnya air yang menyelubungi tubuh mereka. Lalu Bidam mengangkat tubuh Deokman dan memangkunya berhadapan, dan bertatapan mesra, kedua rambut mereka basah.

“Aku merasa berat melepaskanmu pergi besok, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak khawatir kepadamu. Bidam, berjanjilah bahwa kau akan kembali padaku”gumam Deokman “Aku berjanji aku pasti akan kembali padamu Deokman”jawab Bidam

“Aku pasti akan sangat merindukanmu” kata Deokman. Bidam tersenyum dan

“Aku ingin kau melakukan ini..”kata Bidam, lalu ia mengecup kening Deokman lalu berkata “ini kulakukan agar kau selalu mengingatku dan memikirkan diriku”

kemudian mengecup matanya

“ini kulakukan agar kau selalu melihat dan memperhatikanku”

lalu hidungnya

“ini kulakukan agar dalam setiap helaan nafasmu kau dapat merasakan kehadiranku”

lalu pipinya

“ini kulakukan agar air mata yang menetes kepipimu adalah air mata kebahagian untukku”

lalu telinganya

“ini kulakukan agar kau selalu mendengar suaraku”

lalu bibirnya

“ini kulakukan agar kau selalu memanggil namaku”

Bidam menyudahi aksi kecupannya

“Deokman, maukah kau melakukannya?”tanya bidam lembut

“..Bidam ini indah sekali, aku bahagia mendengarnya, tentu saja aku mau melakukannya sepanjang hidupku” Deokman terharu, Bidam tersenyum

“Terima kasih Deokman” bisik Bidam lalu mencium bibir Deokman, Deokman membalasnya dengan mengalungkan tangannya ke leher Bidam erat-erat. Lalu mereka menikmati sensasi bercinta dalam bak mandi tersebut, dilakukan dengan penuh gairah karena mereka akan berpisah besok.

FF BIDAM - DEOKMAN, Our Love Story Bag. 7

BAGIAN 7

Scene : you always make me proud and happy

Bidam dan Deokman bukan seperti pengantin biasa, yang bisa berduaan disetiap kesempatan mengingat Deokman masih menjadi ratu dan mempunyai tugas yang banyak, sedangkan BIdam sehari-harinya dikonsentrasikan untuk melatih pasukannya dalam rangka merebut benteng daia.

Di pagi hari ke 3 : Deokman membuka matanya bangun tidur, ia menoleh kesampingnya dan melihat Bidam sudah tidak ada disampingnya.. ‘pasti dia sudah pergi berlatih’gumamnya. “Yang Mulia..Yang Mulia sudah bangun?”tanya Choisun dari luar kamar. “ya..masuklah!”jawab Deokman. Choisun masuk sambil membawa nampan teh. Deokman berdiri dan berjalan menuju meja,

“Yang Mulia, Sandaedung Bidam menitipkan ini pada hamba, katanya bila Yang Mulia bangun hamba disuruh menyerahkan surat ini”kata Choisun sambil menyerahkan amplop merah. Deokman menerimanya.

“Apa Yang Mulia mau minum tehnya sekarang?” Deokman mengangguk

“jam berapa Sandaedung pergi tadi?”tanya Deokman

“waktu menjelang subuh tadi, Yang Mulia…Hamba akan menyiapkan mandi dan pakaian Yang Mulia sekarang bila Yang Mulia tidak membutuhkan apa-apa lagi” jawab Choisun.

“ya.. baiklah. Choisun, ingat kau harus menyerahkan obat padaku bila Sandaedung tidak ada didekatku, aku tidak mau Sandaedung tahu bahwa aku meminum obat itu, mengerti!”lanjut Deokman.

“Baik Yang Mulia, hamba mengerti”Choisun menghormat dan pergi ke kamar mandi yang terletak disebelah kamar Deokman.

Deokman membaca surat dari Bidam sambil meminum tehnya, ‘Selamat pagi istriku yang cantik..’ Deokman tersenyum membacanya, lalu melanjutkan membaca ‘Selamat pagi istriku yang cantik, nyenyak sekali tidurmu tadi malam, aku senang memperhatikan kau tidur sangat damai rasanya.. aku makin mencintaimu Deokmanku. Bila kau senggang datanglah ke tempat latihanku, disana ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu sekalian aku juga ingin melihatmu. Bidam.’ Deokman tersenyum lalu melipat surat dan memasukkan kedalam amplop.

Tempat Latihan Hwarang

Bidam tampak sedang mengawasi para hwarang bermain pedang, sambil sesekali membetulkan gerakan mereka. Di sisi lain sekelompok nando sedang latihan memanah memakai crossbow. Deokman memasuki lapangan latihan, lalu seorang penjaga gerbang berseru “Yang Mulia Ratu datang!” Semua menoleh dan memberi hormat. Deokman mendekati Bidam, rasanya Deokman ingin sekali menyeka peluh yang bercucuran di dahi Bidam tapi hal itu tidak mungkin dilakukannya, dia hanya memandang bidam dengan pandangan sayang. Bidam tersenyum melihatnya.

“Yang Mulia..kau datang”kata Bidam menundukkan kepalanya sedikit. Deokman tersenyum dan memandang sekelilingnya

“katanya ada yang ingin kau tunjukkan padaku, apa itu?”Deokman penasaran.

“Ya.. sebentar, sebaiknya kita duduk di atas sana”kata bidam menunjukkan podium. Rombongan ratupun pergi kesana, Bidam berjalan disisi Deokman. Setelah sampai dan Deokman duduk. Bidam berseru

“Hwarang Jungsae kemarilah bawa crossbow itu” salah satu hwarang memakai seragam warna merah menuju ke arah bidam sambil membawa crossbow. Bidam mengambilnya dan memperlihatkan pada Deokman

“Yang Mulia inilah yang akan hamba tunjukkan pada Yang Mulia”kata Bidam sambil menyerahkan senjata itu

“apa itu?”tanya Deokman

“Yang Mulia lihat di dinding diatas sana ada boneka target jaraknya sekitar 700 m"kata bidam sambil menunjuk ke dinding yang dipenuhi beberapa boneka yang ditempel ke dinding

“ya aku melihatnya, tapi itu sangat jauh, apa panah ini bisa mengenai target itu?”tanya Deokman, Bidam tersenyum dan mengarahkan crossbow ke dekat wajah Deokman,

“Yang Mulia lihat ada kaca yang dipasang di tengahnya, coba Yang Mulia lihat melalui kaca itu”kata Bidam memberi petunjuk, Deokman melihat target melalui kaca itu dan ternyata benar target tampak jelas

“jadi ini semacam teropong yang bisa melihat jauh!”ujar Deokman

“ya benar, Hwarang Jungsae coba kau bidik 3 target sekaligus”perintah bidam.

Hwarang Jungsae menembak target 3 kali dan dilakukan cepat hanya 10 detik. Boneka target yang terkena bidikan diturunkan dan dibawa ke podium ternyata semua tepat mengenai sasaran. Deokman terpana dan kagum pada kehebatan senjata ini

“jadi ini senjata otomatis yang kau maksud dan ditambah teropong untuk memanah dengan tepat”kata Deokman masih kagum

“ya benar, jadi Yang Mulia tidak perlu khawatir, kita mempunyai kekuatan yang baru melalui senjata ini, ini sangat efektif untuk digunakan dalam menyerang benteng”jelas Bidam.

“ini adalah ide Sandaedung Bidam untuk menambah teropong dalam senjata ini, Yang Mulia”ujar Hwarang Jungsae.

“Benarkah? Sandaedung, aku sangat menghargainya”jawab Deokman. Bidam tersenyum ‘kau memang selalu membuatku kagum bidam, aku bangga padamu, seandainya tidak ada siapapun disini aku akan memelukmu erat’Deokman membatin.

Scene : TOO BUSY

Kamar tidur ratu

Deokman terjaga, saat ia merasa ada seseorang naik ke tempat tidurnya, saat itu ia sedang menghadap ke samping, membelakangi Bidam.

“Bidam..”gumamnya. ia merasa ada tangan yang hangat dan kuat memeluknya dari belakang, rasa nyaman menjalari tubuhnya

“kau sudah tidur Deokman, apa aku membangunkanmu?”Bidam berbisik di telinganya, Deokman dengan lembut menarik tangan Bidam agar pelukannya lebih erat.

“Aku sangat merindukanmu Bidam, sudah bebarapa hari ini kau tidak disampingku” kata Deokman

“aku minta maaf, aku takut menganggumu”jawab Bidam sambil mengecup telinga Deokman. Deokman membalikkan badannya dan dilihatnya Bidam sedang tersenyum lembut, rambutnya dan poninya terurai hanya memakai ikat kepala, sedikit basah karena terciprat air mandi. Deokman membelai wajah Bidam.

“aku menyesal membuat kau menjadi sangat sibuk begini, kau pasti sangat letih”kata Deokman

“ini sudah menjadi kewajibanku karena aku harus mengejar target agar semua siap pada saatnya lagipula waktu penyerangan sebentar lagi, setelah semua selesai, semua akan berjalan normal kembali, kau tak perlu menyesal Deokman”kata Bidam menenangkan

“ini resiko kita menjalani rumah tangga seperti ini, rasanya aku ingin cepat2 turun tahta dan hidup bahagia denganmu sebagai suami istri layaknya”kata Deokman.

“kau harus menjalankan tugasmu Deokman, tapi ingat kau selalu jadi yang terbaik untukku”jawab bidam sambil mengecup kening istrinya. Deokman membenamkan wajahnya ke dada Bidam, Bidam membelai rambutnya lalu mengangkat wajah Deokman dan mencium bibirnya hangat dan merekapun larut bercinta dalam malam yang dingin

Keesokan paginya Bidam bangun lebih dulu dan melihat Deokman masih terlelap di sampingnya, Bidam dengan hati-hati turun dari ranjang, tapi

“Bidam..”gumam Deokman sambil membuka matanya,

“selamat pagi Deokmanku”sapa Bidam,

“selamat pagi juga”jawab Deokman.

“Bidam hari ini aku ingin kita sarapan bersama, maukah kau menemaniku? Aku tahu kau akan berlatih tapi kali ini maukah kau luangkan waktu untukku?” tanya Deokman penuh dengan harapan agar Bidam menyetujuinya

“tentu saja, aku akan menemanimu sarapan”jawab Bidam, Deokman lega mendengarnya dan tersenyum manja.

FF BIDAM - DEOKMAN, Our Love Story Bag 6

BAGIAN 6

Scene : The Wedding ceremony

Aula Utama Istana

Aula tampak riuh, para tamu sudah berdatangan, rakyat sudah menonton di luar istana. Semua tampak senang dan gembira menyambut upacara besar ini yang diselenggarakan sangat mewah dan meriah. Bidam tampak gelisah berdiri di altar pernikahan, ia sangat tampan memakai baju adat pernikahan Shilla berwarna dasar putih dengan lis merah dan bordiran emas.

‘YANG MULIA RATU SEONDEOK, CALON PENGANTIN WANITA TIBA” protocol acara mengumumkan.

Pintu gerbang samping kiri terbuka dan Deokman berjalan bersama rombongan keluarga kerajaan mendekati altar. Deokman sangat cantik mengenakan mahkota ratu dan memakai pakaian adat pernikahan Shilla dengan warna yang sama seperti yang dikenakan Bidam. Melihat Deokman datang Bidam tersenyum bahagia dan takjub melihat kecantikan dan keanggunan Deokman. Mereka berdiri bersebelahan menghadapi altar. Dan upacara pernikahanpun dimulai lalu diakhiri oleh berbagai atraksi dan acara jamuan makan yang mewah, disela-sela atraksi Bidam tak henti-hentinya menatap Deokman disebelahnya yang sekarang sudah resmi jadi istrinya, merasa diperhatikan Bidam, Deokman menoleh tersenyum

“Apa kau bahagia..?”tanya Deokman

“Aku rasa aku akan meledak saking bahagianya”jawab Bidam, Deokman tertawa kecil “Deokman, aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, mencintaimu, menyayangimu, dan mendampingimu sampai maut memisahkan kita karena aku sangat mencintaimu bukan karena kau adalah ratu dan penguasa tapi karena kau adalah deokman, deokmanku dan kaulah harta dan anugerah yang terindah dalam hidupku. Aku tidak bisa hidup tanpamu dan aku akan selalu bersamamu selamanya”kata Bidam sambil memegang erat tangan Deokman. Deokman sangat bahagia mendengarnya, ia meremas tangan Bidam tanda bahwa ia juga merasakan hal yang sama.

“Bidam.. aku juga mencintaimu, dan aku akan melakukan hal yang sama untukmu”jawab Deokman tersenyum bahagia.

Setelah atraksi selesai dan semua kerabat kerajaan, para tamu pejabat petinggi negara, para utusan-utusan kerajaan tetangga memberikan selamat pada mempelai, pengantin diarak keluar istana dan berkeliling disekitar istana untuk menyapa rakyat yang ingin melihat dan memberikan selamat pada ratu dan suaminya.

Hari sudah sore saat upacara dan acara pernikahan selesai. Bidam dan Deokman pun kembali menuju istana Ingang untuk beristirahat, kemudian menjelang malam..

Scene : first night

Kamar tidur ratu

“Apa Yang Mulia sudah siap?”tanya Choisun sambil merapihkan tatanan rambut Deokman yang digerai panjang dengan sedikit hiasan jepit diatasnya, Deokman memakai pakaian tidur putih berkain lembut melayang (sifon) dan memakai jubah luar berwarna merah border emas.

”apa aku terlihat cantik?” Deokman memandang wajahnya di cermin, ia merasa sedikit gugup entah kenapa karena ini malam pertamanya.

“Yang Mulia sangat cantik, Sangdaedung Bidam sangat beruntung mendapatkan Yang Mulia”ujar Choisun sambil tersenyum.

“baiklah aku siap, kau keluarlah”sahut Deokman

“baik Yang Mulia”Choisun mundur keluar sambil memberi hormat.

Deokman memilih duduk di tepi ranjang sambil menunggu Bidam datang

“kenapa aku tegang sekali ya, pfffhh”gumam Deokman.

‘srreekk’pintu membuka, dilihatnya Bidam yang datang memakai pakaian dengan warna yang sama dengan dirinya. Deokman berdiri mencoba tersenyum wajar karena ia merasa sangat tegang. Melihat Deokman yang tegang, Bidam dengan santai mendekati Deokman lalu nyengir sambil tertawa kecil mencoba mencairkan suasana. Akhirnya deokman ikut tertawa kecil juga

”apa kau menertawakan aku?”tanya Deokman.

“bukan itu maksudku, hanya saja aku terlalu senang hari ini jadi aku tidak bisa mengendalikan emosiku, maafkan aku”jawab Bidam, Deokman hanya tersenyum.

Bidam mendekati Deokman dan menatap dalam-dalam mata Deokman dengan wajah serius, Deokman jadi salah tingkah ditatap begitu

“ada apa?”tanya Deokman.

“Apakah ini benar kau Deokman? Kau sangat cantik sekali Deokman, aku hampir tidak percaya bahwa akhirnya aku bisa memilikimu…katakan padaku apa aku bermimpi, bila ya, aku tidak mau bangun”ujar Bidam sambil mendekat ke arah Deokman. Deokman memeluk Bidam dan bergumam

“kau tidak bermimpi, sekarang aku resmi jadi milikmu, jadi istrimu” saat berpelukan ketegangan Deokman berubah jadi perasaan hangat yang nyaman menjalar ke seluruh tubuhnya.

“aku sangat mencintaimu, deokman, deokmanku”sahut Bidam. Deokman sangat senang mendengar kata-kata Bidam. Lalu Bidam melonggarkan dengan lembut pelukan Deokman dan mengarahkan bibirnya ke bibir Deokman dan menciumnya, Deokman membalas ciuman Bidam, ia membiarkan dirinya hanyut dalam kehangatan dan kelembutan bibir yang saling bertautan, tangan Bidam merangkul pinggang Deokman dan Deokman membalas dengan mengalungkan lengannya ke leher Bidam.Ciuman Bidam beralih dari bibir menyusuri leher Deokman pelan dan lembut, sementara itu tangan Bidam perlahan membuka satu persatu pakaian Deokman, setelah semua ditanggalkan, Bidam membaringkan Deokman di ranjang dan menatap Deokman dari atas sampai bawah, Deokman tersenyum malu dan menarik Bidam agar berbaring juga disisinya lalu merekapun larut dalam kebahagiaan malam pertama sebagai suami istri.

“aku mencintaimu Deokman”bisik Bidam di telinga Deokman sesaat setelah bercinta.

”aku juga mencintaimu Bidam, sangat mencintaimu”jawab Deokman pelan, kepalanya perlahan dibaringkan ke dada Bidam, Bidam membelai dan mencium rambut Deokman, dan mereka pun tertidur.

Matahari menerobos masuk dan kicauan burung terdengar, Deokman membuka mata dan menoleh ke sampingnya, dilihatnya Bidam menopang kepala dengan tangannya sedang memperhatikan dirinya, poni rambut Bidam menutupi sebagian matanya tapi Deokman bisa melihat jelas kalau Bidam sedang menatapnya lembut

“selamat pagi Deokman”kata Bidam tersenyum

“selamat pagi juga”jawab Deokman tersenyum,

“sudah lama bangun?”tanya Deokman

“cukup lama untuk memperhatikan tidur istriku yang cantik ini”canda Bidam

“aah kau ini”jawab Deokman manja, tangan Deokman mengulur keatas untuk merapikan poni Bidam yang menutupi matanya. Bidam ingat pertama kali Deokman menyentuh rambutnya kala Bidam limbung dan sedih karena kematian mishil lalu Deokman menghiburnya dan memeluknya erat dengan penuh kasih sayang. Saat itu ia merasa sangat bahagia dan melupakan kesedihannya.

“Bidam”kata Deokman lembut membuyarkan lamunannya.

“ya”

“aku boleh bertanya sesuatu?” Deokman menarik tangannya tapi diraih Bidam dan digenggam lembut

“ya tentu saja” sekarang tangan Deokman dikecupnya.

“kapan kau pertama kali jatuh cinta kepadaku?” tanya Deokman, Bidam tersenyum

“kenapa kau ingin tahu?”balas Bidam lembut

“jawablah Bidam, tolong..”rajuk Deokman.

“hhmm, aku mulai memperhatikanmu ketika kau memakai pakaian tuan putri yang diberikan kakakmu waktu kau melarikan diri bersama yushin, terus terang kau sangat cantik sekali dan itu pertama kalinya aku tertarik dan jatuh cinta dengan seorang gadis yaitu kau, lalu aku benar-benar tidak bisa melepaskanmu dari pikiranku ketika kau berniat ke soerabeol untuk merebut tahta setelah kematian kakakmu, pendirianmu yang teguh, percaya diri, cerdas, penuh ambisi, cantik, sekaligus baik hati membuat aku kagum dan makin jatuh cinta padamu” Deokman tersenyum simpul mendengarnya

“tapi… sayangnya cintaku bertepuk sebelah tangan… waktu itu istriku ini mencintai pria lain…”canda Bidam sambil menarik hidung Deokman, Deokman menepis tangan Bidam dan membalas menarik hidung Bidam juga, Bidam kaget

“aduh..”ujar Bidam sambil mengernyitkan hidungnya dengan bentuk yang aneh, mereka berdua tertawa.

“tapi sekarang aku hanya mencintaimu, pria yang sekarang jadi suamiku”sahut Deokman

“ya, perlu penantian dan perjuangan yang panjang untuk mendapatkanmu”ujar Bidam serius.

“kau ingat waktu pertama kali kita bertemu, kau mengerdipkan mata padaku, kenapa?”tanya Deokman riang

“karena kau cantik, padahal aku belum tahu kau ini laki-laki atau bukan, tapi dari sekilas melihat saja..walaupun kau memakai pakaian laki-laki..kau cantik, aku pikir laki-laki yang cantik” Bidam dan Deokman tertawa

“sekarang giliranmu.. kapan kau mulai jatuh cinta padaku?”lanjut Bidam.

“aku tidak mau menjawabnya..”elak Deokman sambil membalikkan badan memunggungi Bidam,

“kau harus menjawabnya..”ujar Bidam sambil berusaha membalikkan punggung Deokman yang polos tanpa sehelai benangpun, Deokman tertawa kecil

“aku tidak mau..”jawab Deokman.

“eehh..deokman kau ini.. akan kuhukum kau”kata Bidam sambil menciumi leher dan punggung Deokman gemas. Deokman tertawa geli

“Bidam..sudah..sudah..ampun..” Deokman menyerah ia membalikkan badannya dan Bidam tertawa gemas memperlihatkan giginya yang putih berderet rapi ‘kau memang tampan bidam’kata Deokman dalam hati. Deokman menarik wajah Bidam dengan kedua telapak tangannya, ia ingin agar Bidam menciumnya kali ini Deokman sedikit agresif, tapi Bidam menyukainya. Dan pagi itu mereka saling bertautan kembali penuh cinta.

Mereka sangat menikmati waktu bersama-sama, mereka memutuskan untuk sarapan di kamar dan mandi bersama, lalu berjalan ke taman istana sambil sesekali menerima beberapa ucapan selamat dari para pejabat dan bangsawan yang ditemui sepanjang jalan ke taman. Mereka tak henti-hentinya saling menatap dan tersenyum bahagia seperti sepasang remaja yang jatuh cinta.



FF BIDAM - DEOKMAN, Our love Story Bag. 5

BAGIAN 5

Scene : BEST FRIEND

Ruang kerja Panglima Yushin

“Apa kau memberitahukan pada Yang Mulia tentang buku itu?” tanya Bidam pada Yushin

“ya.. kau tahu Yang Mulia tampak senang sekali dan bersemangat, Yang Mulia tidak mengira kau memiliki benda yang sangat berharga untuk mewujudkan cita-citanya”

Bidam hanya tersenyum puas mendengarnya.

“aku lega, akhirnya semua bisa teratasi dengan baik”

“kau tahu Yushin, selama ini aku sangat iri padamu dan mencoba bersaing denganmu! Tapi Yang Mulia, tidak pernah meragukanmu dia selalu percaya padamu”

“aku tahu! Tapi pada akhirnya kau yang mampu merebut hatinya” Yushin berkata tapi dengan nada getir yang ditahan.

“aku bukan orang sepertimu Yushin, kau memang ditakdirkan untuk jadi pahlawan dalam sejarah” Mereka berdua diam sesaat seperti ada setan yang lewat.

“Bidam.. aku senang kau akhirnya bisa menikah dengan Yang Mulia, seperti yang sudah kubilang hanya kau yang bisa menjaganya dan menghiburnya, bagaimana persiapanmu.. kawan..”

“terima kasih Yushin, tentu aku akan berusaha untuk membahagiakannya, kau jangan khawatir, mengenai persiapan pernikahan..aku kira aku tidak mempersiapkan apa2, aku tidak pernah tahu, memangnya kalau mau menikah untuk pria seperti kita, apa yang harus kita persiapkan? Kau kan lebih berpengalaman”tanya Bidam wajah menyelidiki senyum jahil tergambar di wajahnya.

“Kau ini.. huh..beruntung kau menikah dengan penguasa negeri ini jadi semua sudah dipersiapkan oleh kerajaan”canda Yushin.

“Ah.. ya.. kalau kau tahu jawabannya lalu mengapa kau bertanya” selidik Bidam

“aku hanya basa basi saja”tukas Yushin. Ha..ha.. mereka berdua tertawa.

“Bagaimana dengan pasukan elite itu?, aku butuh referensimu”tanya Bidam serius

“Ya, aku sudah mendata beberapa nama tapi lebih baik kau seleksi sendiri”jawab Yushin sambil menyerahkan kertas catatan.

“Hmmm.. lebih baik aku menyeleksinya mulai dari hari ini, kira-kira kapan kita siap untuk merebut benteng daia dan kota Baeksong?”tanya Bidam

“Lebih cepat lebih baik, aku menargetkan dalam waktu 1 bulan kita harus siap melakukan penyerangan, aku harap kau juga siap”jawab Yushin. Bidam hanya mengangguk, dan membaca daftar nama tersebut lalu mereka berdua pergi ke tempat latihan hwarang untuk mengadakan seleksi.

Scene : This is our love ring

Kamar tidur ratu

Walau Bidam dan Deokman berada dalam lingkungan istana tapi mereka jarang bertemu itu karena kesibukan Bidam dalam melatih pasukannya, Bidam hanya sesekali melihat Deokman saat larut malam, itupun kalau Deokman belum tidur.

Sesudah melakukan latihan, Bidam kembali menuju ruangannya,tapi hari ini ia tidak melihat Deokman, bahkan berpapasanpun tidak, ia merasa rindu pada wanita yang dicintainya itu dan memutuskan untuk menuju istana Ingang.

’mudah-mudahan deokman belum tidur, aku akan menemuinya sebentar’.

“apa Yang Mulia sudah tidur?”tanyanya pada penjaga pintu,

“saya pikir belum Sandaedung Bidam, karena baru saja dayang mengantarkan obat untuk Yang Mulia ratu”jawab penjaga pintu.

‘obat? Obat apa? Apa deokman sakit’pikir Bidam cemas. Bidam masuk ke ruangan ratu

“Yang Mulia, apa Yang Mulia sudah tidur, ini hamba Bidam apa aku boleh masuk?”tanya Bidam diluar kamar ratu

“Bidam.. masuklah”jawab Deokman ‘sreek..’pintu membuka dan dilihatnya Deokman sedang meminum cangkir obat.

“Yang Mulia, apa Yang Mulia baik-baik saja?, apa Yang Mulia minum?”tanya Bidam cemas dia mendekati Deokman berdiri disamping kursi Deokman.

“Oh.. ini adalah herbal, bukan obat hanya vitamin agar aku tidak mudah lelah, kau tidak perlu cemas begitu Bidam”tatapnya pada Bidam. Mendengar itu Bidam lega dan beranjak duduk di depan Deokman.

“Kau habis pulang melatih ya, kau tampak lelah sekali,kau mau minum ini juga, herbal ini baik untukmu, mulai besok aku akan menyuruh tabib membuatkan ini untukmu juga” kata Deokman tersenyum.Ia berdiri dan menuangkan herbal itu ke dalam cangkir dan menyerahkannya ke Bidam. Bidam meminumya dan Bidam menyipitkan matanya, rasanya aneh asam dan pahit. Melihat itu deokman tertawa kecil, beberapa tetes masih bersisa di bibir Bidam dan Deokman dengan sigap menghapus sisa obat di bibir Bidam dengan tanggannya. Bidam terkejut mendapat perhatian seperti ini.

Deokman tersenyum, Bidam meraih tangan Deokman dan meletakkan dipipinya lalu dikecupnya tangan itu, terhirup bau harum dari kulit Deokman membuat Bidam semakin merindukan Deokman.

“Aku sangat merindukanmu Deokman” Bidam melepaskan tangan Deokman. Deokman hanya tersenyum sebagai jawaban pernyataan Bidam

“Sebaiknya kau mengurangi waktu berlatihmu mengingat kita akan menikah dalam 1 minggu lagi, aku tidak mau nanti di hari pernikahan kita kau tampak begitu lelah”ujar Deokman “baiklah, aku akan mengurangi waktu berlatihku”sahut Bidam.

“Bidam sudahkan kau ke kuil untuk memohon restu…, aku akan kesana besok, lebih baik kita pergi bersama-sama, ini adalah salah satu tradisi Shilla. Aku akan menyuruh dayang mempersiapkan pakaianmu untuk ke kuil”lanjut Deokman

“Baiklah..besok kita akan ke kuil bersama, terima kasih Yang Mulia”.sanggup Bidam “sekarang sudah sangat larut, lebih baik Yang Mulia tidur”kata Bidam sambil menarik lengan Deokman menuju ke ranjang deokman, dia membuka selimut dan mengulurkan tangannya agar deokman naik ke tempat tidur. Deokman menurut lalu Bidam menarik selimut Deokman dan duduk di samping ranjang.

“Bidam tunggu..”deokman ingat sesuatu, lalu bangkit duduk dan membuka laci lemari disisi ranjangnya dan mengeluarkan kotak perhiasan lalu dibukanya kotak itu. Ternyata isinya adalah cincin yang pernah dikembalikan Bidam.

“Aku ingin kau memakainya kembali Bidam, karena kau telah kembali disisiku”kata Deokman, ditariknya tangan Bidam dan memasukkan cincin itu di jari tengahnya. Bidam memperhatikan semuanya dengan terharu

“Terima kasih Deokman, aku berjanji akan selalu menjaganya, aku mencintaimu..” Bidam mengecup kening Deokman,

“sekarang tidurlah, aku akan ada disisimu sampai engkau terlelap” Bidam membaringkan Deokman dan menarik selimutnya.

“Apa kau masih selalu berdebar?”tanya Bidam sambil meletakkan tangannya diatas dada Deokman dan menepuk-nepuknya. Deokman mengelengkan kepala dan tersenyum “sekarang aku selalu menikmati debaran jantungku karena setiap kali aku mengingatmu hatiku berdebar dan berubah menjadi hangat, aku merasa sangat nyaman sekali dan aku bahagia karenanya”sahut Deokman, Bidam membalas tersenyum. Akhirnya Deokmanpun tidur, lalu Bidam beranjak, dikecupnya lagi kening Deokman penuh kasih sayang sebelum dia pergi.

FF BIDAM - DEOKMAN, Our Love Story Bag. 4

FF BIDAM - DEOKMAN, Our Love Story Bag. 4

BAgian 4

Scene : I‘m sorry you have to ACCEPT THIS

Tempat Favorit Deokman

Kasim mengumumkan kedatangan Sangdaedung Bidam.

Bidam menghadap Deokman dan memberi hormat, Deokman menoleh dan tersenyum.

Deokman: “Kau datang..”

Bidam: “Ya Yang Mulia, Yang Mulia memanggil hamba”

Deokman: “Bagaimana keadaanmu sekarang?”

Bidam: “Hamba jauh lebih baik, terima kasih atas perhatian Yang Mulia, tabib istana telah mengobati hamba dengan baik”

Deokman tertawa pelan, Bidam heran ‘apa ada yang salah diperkataanku’batin Bidam. Sambil tersenyum Deokman berkata

“rasanya aneh kau memanggilku dengan Yang Mulia, Bidam aku ingin kau hanya memanggil namaku kalau kita berdua saja seperti ini, aku mau kau melakukannya” Bidam mengerti sekarang

“Hamba tentu saja akan melakukannya tapi tidak di tempat terbuka seperti ini, akan tidak baik bagi kehormatan Yang Mulia”ujar Bidam,

“Ya tentu saja, aku tahu, terima kasih Bidam”jawab Deokman riang.

“Bidam..!”nada Deokman lebih serius sekarang “kau tahu besok adalah pertemuan para pejabat dan petinggi negara di wolseon, mereka tentunya ingin mendengar keputusanku mengenai kejadian pemberontakan itu, aku sudah memikirkannya dan mengambil keputusan, tapi sebelum itu aku harus memberitahumu terlebih dulu”

“Hamba siap mendengarkan Yang Mulia”

“Bidam..aku akan tetap mempertahankamu sebagai perdana menteri Shilla”

“apa Yang Mulia yakin? Ini akan memicu reaksi penolakan dari berbagai kalangan.. mengingat hal yang terjadi kemarin”

“apa kau memintaku untuk melepaskan jabatanmu dan memberikan kau hukuman?”

“bila itu perlu, demi Yang Mulia, hamba siap?”

Deokman tertunduk mendengus pelan, Bidam melihatnya dan merasa Deokman berada dalam pilihan sulit.

“Baiklah, sementara aku akan melepaskan tanggung jawabmu sebagai Sangdaedung. Tapi Bidam, pada saat ini aku mohon bantuanmu, aku ada sebuah rencana yang mungkin akan berat untukmu tapi aku yakin kau pasti mampu melakukannya dan aku harap kau bisa menerimanya, Apa kau keberatan?”

“Hamba selalu siap untuk melakukan yang terbaik bagi Yang Mulia, kalau boleh tahu rencana apa Yang Mulia siapkan untukku?”

“Aku ingin kau merebut benteng Daia kembali, bukan Yushin atau siapapun tapi harus kau yang melakukannya, karena Bidam… setelah kejadiaan ini banyak orang yang meragukan kesetiaanmu dan aku..sangat ingin menikah denganmu, aku tidak mau orang-orang hanya berpendapat kau hanya berlindung dibalik namaku. Mereka..Shilla.. perlu pembuktian bahwa kau memang layak menjadi pendampingku. Saat ini aku belum siap turun tahta seperti yang aku janjikan padamu lalu hidup damai bersamamu, karena aku ingin menstabilkan keadaan terlebih dahulu. Bila semua sudah siap aku akan melepaskan tahta ini dan hidup bersamamu. Aku berjanji Bidam..” kata Deokman sungguh-sungguh.

“Aku mengerti Yang Mulia, tentu ini sangat berat untuk Yang Mulia, Yang Mulia tidak perlu cemas, hamba Bidam akan melakukan yang terbaik bagi Yang Mulia dan negara ini”jawab Bidam hormat.

Deokman: “terima kasih Bidam” Deokman menatap Bidam, raut muka Deokman penuh sesal, Bidam balas menatapnya lembut ‘aku mengerti Deokman,aku menerimanya dan akan merebut benteng daia untukmu, aku juga ingin hidup damai disisimu’batin Bidam.

Deokman: “Aku ingin siang ini kita makan bersama, datanglah ke ruang makanku siang nanti Bidam”

Bidam: “Baik Yang Mulia, bila tidak diperlukan lagi hamba pamit” Deokman mengangguk, Bidam memberi hormat dan membalik badannya, Deokman menatap punggung lelaki yang dicintainya itu dan membatin ‘aku mohon maaf Bidam, kau harus menerimanya’

Scene : WALK IN THE SAME PATH

Ruang Kerja Perdana Menteri

Bidam tengah meneliti beberapa laporan dan membereskan beberapa laporan lama.

“sreek”pintu bergeser. Bidam melihat siapa yang datang ternyata Santak. “Sangdaedung Bidam.. syukurlah aku menemukanmu disini..”ujar Santak

“Santak..!! darimana saja kau??” Santak langsung berlutut “Ampunilah saya Sangdaedung.. hamba tidak bisa memenuhi tugas hamba karena pada saat hamba tahu siapa dalangnya tiba-tiba anak buah Yeomjong mengejar dan akan membunuh hamba dan hamba terjatuh dari bukit, mohon Sangdaedung mengampuni hamba…!!”kata Santak bergetar. Bidam tersenyum “Sudahlah Santak pemberontakan sudah berakhir sekarang, kau tahu itu kan! Semua telah kembali normal, aku ampuni kau” mendengar itu Santak tampak senang dan langsung berdiri “terima kasih Sangdaedung, hamba berjanji akan melayani Sangdaedung dengan baik, jika Sangdaedung berkenan” Bidam tersenyum sambil duduk “Kau.. bantu aku membereskan laporan-laporan ini!”kata Bidam.

Kemudian “sreek”pintu bergeser tenyata Pangeran Chuncu yang datang.

“apa kau sedang sibuk Sangdaedung?”tanya Chuncu

“ah tidak hanya merapikan beberapa laporan”jawab Bidam

“Aku ingin berbicara sesuatu denganmu Sangdaedung,kalau kau bersedia”kata Chuncu “Oh..tentu saja” Bidam mengangkat alisnya pada Santak tanda dia harus menyingkir.

Chunchu langsung duduk dan berkata

“Tampaknya kita harus meluruskan kesalahpahaman ini”kata Chunchu

“sebelum pangeran melanjutkan, perlu pangeran ketahui bahwa sekarang pangeran tidak perlu takut padaku. Aku bukanlah orang yang akan mengancam tahtamu lagi justru sebaliknya aku akan selalu mendukungmu dan memberi yang terbaik bagi Shilla, terutama bagi Yang Mulia, mungkin ini terdengar klise tapi aku memang sangat mencintainya dan tidak akan pernah mengecewakannya lagi, dan aku yakin Yang Mulia pun mempunyai perasaan yang sama padaku”

“ya kau betul Sangdaedung, kini kau bukan lagi ancaman bagiku. Itukah sebabnya kau memberikan buku topografi 3 negara pada Panglima Yushin?”

“kau sudah mengetahuinya”

“tentu saja, Yang Mulia juga sudah tahu.. aku hanya heran mengapa kau menyimpannya begitu lama sebelum akhirnya kau memutuskan untuk memberikannya pada Panglima Yushin”

“karena hal yang sebenarnya kuinginkan kini telah aku dapatkan, dan aku berterus terang padamu Pangeran Chunchu, buku itu akan menjadi kartu As ku bila semua berjalan tidak sesuai dengan yang kuinginkan”

“tentu saja..,aku memahaminya, tapi sekarang sudah tidak perlu lagi bukan? tinggal selangkah lagi kau bisa memiliki Yang Mulia”

Bidam tersenyum hambar mendengar kata-kata Chunchu, lalu Chunchu melanjutkan

“Aku datang kesini hanya ingin memastikan bahwa selanjutnya kita bisa berjalan di tempat yang sama sekarang, seperti dahulu” Chuncu tersenyum.

“Ya.. seperti dahulu” Bidam balas tersenyum

Bidam membalasnya.

“nah, aku rasa aku harus pergi sekarang” Chuncu berdiri dan pamit, Bidam ikut berdiri dan memberi hormat.

Scene : The Conclusion

Aula Wolseon

Keesokkan harinya…

Semua pejabat dan petinggi negara berkumpul dan berdiri di posisi masing-masing, termasuk Bidam yang berdiri di sebelah depan kanan singgasana ratu.

Penjaga pintu mengumumkan Yang Mulia datang, semua memberi hormat. Setelah Deokman duduk dan menatap para hadirin sesaat…

“Hari ini akan kuputuskan mengenai peristiwa pemberontakan ini”.

Seorang kasim mengambil gulungan surat dan Deokman membukanya.

“Saya menghukum mati semua pemberontak yang ikut terlibat dalam pemberontakan tersebut dan mencopot semua gelar dan tanda jasa Bangsawan. Sangdaedung Bidam terbukti tidak terlibat dalam pemberontakan tersebut dan dengan ini saya akan membersihkan namanya kembali namun untuk sementara Sangdaedung Bidam harus melepaskan tanggung jawabnya sebagai Sangdaedung dan tugas Sangdaedung akan diambil alih oleh Bangsawan Kim Youngchun. Saya akan memberikan tugas khusus kepada Sangdaedung Bidam sebagai bukti kesetiannya pada penguasa sah kerajaan Shilla”

Kemudian Deokman menghela nafas dan melanjutkan

“Dan satu lagi pengumuman dari saya, saya akan tetap melanjutkan pernikahan kerajaan dengan Sangdaedung Bidam dalam 2 minggu ke depan, aku minta semua dapat dilaksanakan dan dipersiapkan dengan baik”

Suasana rapat menjadi gaduh, ada yang pro dan kontra menerima keputusan ratu. Deokman menatap tajam pada semua hadirin satu persatu lalu kegaduhanpun berhenti.

“Baik Yang Mulia, selamat atas penikahan anda” Kim Youngchun bicara untuk meredakan suasana sambil mengepalkan kedua tangannya tanda memberi selamat akhirnya semua hadirin mengikutinya. Deokman menoleh ke arah Bidam dan tersenyum puas, Bidam membalas senyumnya dengan lemah.

Ruang Kerja Ratu

Semua berkumpul di meja kerja ratu : Panglima Yushin, Pangeran Chuncu, Penasihat kerajaan Kim Yongchun, Menteri Pertahanan Kim Seohyun, Perdana Menteri Bidam.

Deokman: “aku akan memberikan program kerja bagi kalian sekarang ini, sebagai dasar dari tujuan kita untuk menyatukan 3 kerajaan, untuk jangka pendek sekarang ini, aku harap untuk sementara ini urusan tentang ad-ministrasi negara dipegang penuh Bangsawan Kim Youngchu”

“baik Yang Mulia”

Deokman: “Chunchu kau akan kutugaskan untuk mengawasi sektor penelitian dan pengembangan dalam ilmu pengetahuan, aku ingin penduduk shilla bisa memperoleh pendidikan yang baik sehingga mereka dapat menerapkan ilmunya di berbagai sektor, tapi untuk saat ini kau hanya fokus ke bidang pengembangan senjata. Tolong kau perhatikan para ilmuwan Shilla dan penelitian mereka.

Chunchu: “baik Yang Mulia”

Deokman: “Menteri pertahanan untuk saat ini kau harus mengkonsentrasikan dalam menambah jumlah personil militer kita, di berbagai pos aku rasa harus ada peningkatan jumlah tentara termasuk alokasi logistiknya.

Kim Seohyun : “baik Yang Mulia”

Deokman: “Yushin, tolong kau seleksi beberapa hwarang atau para kolonel yang cakap untuk berada di bawah komando Bidam”

Bidam: “maksud Yang Mulia”

Deokman: “aku akan membentuk pasukan khusus dibawah pelatihan dan komandomu, ini untuk melancarkan rencana awalku seperti yang pernah aku katakan, Bidam.. aku percaya pada kemampuanmu untuk hal ini”

Bidam : “jadi pasukan ini dilatih khusus untuk bisa menjadi mata-mata dan pasukan sergap cepat”

Deokman: “ya, ini untuk meminimalkan jumlah tentara yang bergabung bila diperlukan untuk menyerang musuh”

Bidam : “selanjutnya apa yang jadi rencana Yang Mulia”

Deokman: “aku ingin merebut kembali benteng daia dan ini adalah tugasmu Bidam, dan sekaligus melakukan invasi ke kota Baeksong-Baekje ini akan kudelegasikan kepada Panglima Yushin, aku sudah pernah membahasnya dengan Panglima. Aku pikir ini saat yang tepat karena rumor bahwa di Shilla terjadi pemberontakkan akan membuat musuh mengira kita mempunyai masalah intern dan kemungkinan kecil Shilla mengadakan serangan, hal ini menguntungkan bagi kita. Aku mohon rencana ini dipersiapkan secepatnya”

Chunchu: “Jadi akan ada 2 serangan sekaligus ke daerah Baekje, mengapa harus Sangdaedung sendiri yang turun tangan?”

Deokman: “ya, betul sekali. Aku sengaja memerintah Bidam untuk merebut benteng Daia, mengingat kejadian pemberontakan itu, banyak para pejabat kita yang meragukan kesetiannya, aku tidak mau di pemerintahanku ada kecurigaan lagi, apabila Bidam berhasil merebut benteng Daia maka Bidam telah berjasa pada Shilla dan secara otomatis semua tidak ada yang meragukannya lagi”

Semua: “Baik.. Yang Mulia”

Deokman: “aku kira sekarang cukup, kalian boleh pergi”

*tbc*



Our Future Still Continue Chapter 66: The Second Day




Hari kedua
Siang hari.
“sraak..” Yeon Gaesomun melangkah keluar dari ruangannya. “sraak..” seorang pejabat berjalan mengejarnya “Tuan..tunggu sebentarTuan.. apakah Tuan benar-benar yakin akan  mengirim pasukan kita ke sana?lalu kita akan bertempur dalam jumlah hanya segini..bagaimana jika ternyata ia gagal atau menipu?” ujar  pejabat itu. Yeon Gaesomun menghentikan langkahnya “apakah kau meragukanku pejabat Han?” tanyanya dengan tatapan menghujam. “ti..tidak Tuan..hanya saja..jika kita benar-benar melakukan ini…”  “kau pikir Wa bisa beraliansi dengan kita itu karena siapa?” “jika ia ingin menghancurkan kita untuk apa ia membantu kita beraliansi dengan Wa?kau pikir aku tak memikirkannya masak-masak…yang harus kau pikirkan adalah..SHILLA TIDAK BOLEH BERALIANSI DENGAN TANG!!”  seru Yeon Gaesomun. “ba..baik..Tuan..saya mengerti..akan saya laksanakan..” jawab pejabat itu gemetar. Yeon Gaesomun segera membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan pejabat itu “ya..Shilla tidak akan pernah beraliansi dengan Tang…kupastikan itu…”  gumamnya.

Tepi Danau Anapji, Shilla
“ssst..ssst..” Bi Dam sedang menggendong putranya yang belum juga tidur. “hmm..sepertinya memang hanya Deok Man yang bisa menidurkan Yun Ho dengan cepat…” gumamnya. “Perdana Menteri Bi Dam..” Bi Dam menoleh dan segera memberi hormat “Yang Mulia..” “apakah kau sedang menidurkan anakmu?” tanya Yang Mulia Raja. “ya Yang Mulia…seharusnya ia sudah tidur siang sekarang..”  jawab Bi Dam. “aa..baba..” Yun Ho berceloteh sambil menepuk-nepuk pipi ayahnya. “sst..Yun Ho kamu harus tidur siang…” ujar Bi Dam sambil menatap putranya.  Sekilas muncul dalam benak Yang Mulia Raja sosok Bi Dam yang dulu selalu mengerjainya, yang selalu ia hindari, dan ia benci karena ibunya, Mishil adalah orang yang membunuh kedua orangtuanya. Ia ingat bagaimana ia memprovokasi Bi Dam. Ia tidak percaya bahwa Bi Dam benar-benar tulus mencintainya bibinya dan tidak mengincar takhtanya. Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Ia yakin bahwa Bi Dam pasti akan mengincar takhtanya jika pernikahan kerajaan benar-benar terwujud. Pandangan itu terus ia pegang sampai suatu saat segalanya berubah, ia melihat sendiri bagaimana Bi Dam melindungi bibinya dari tembakan panah. Ia sadar bahwa kata-kata Yang Mulia Ratu ternyata memang benar.  Tak akan ada menyangka bahwa sosok pria yang sedang menggendong anaknya di hadapannya ini adalah  Bi Dam yang dulu berwajah kejam dan dingin seperti pembunuh. Di antara mereka, banyak masalah dan kesalahapahaman dan tak ada kata maaf ataupun memaafkan yang pernah terucap. “Tapi itu semua sudah berlalu, di lembaran yang baru ini itu semua tidak akan terulang lagi..” pikir Yang Mulia Raja begitu tersadar dari lamunannya. “kuharap Putri Deok Man bisa segera pulang dan berkumpul dengan keluarganya kembali..” ujar Yang Mulia Raja tersenyum  menatap Yun Ho yang melambaikan tangan ke arahnya.  “ya Yang Mulia..” jawab Bi Dam tersenyum.
Sore hari. 

Kota Kumi
“inikah kota Kumi?” tanya Deok Man dari tandunya. “ya  Nyonya..dan kita baru saja melewati gerbang kota ” jawab  Il Woo. “tolong turunkan aku..” ujar Deok Man. Para pengawal pun berhenti dan menurunkannya tandunya perlahan. “aku ingin melihatlebih dekat  kota ini..” ujar Deok Man begitu keluar dari tandunya. Yong Joon segera memberikan instruksi tanpa suara  Bi Ryu dan Dae Gil mengawal di depan Deok Man, sementara ia, Shi Yoon dan Il Woo mengawalnya dari belakang. Kota Kumi merupakan tempat singgah bagi orang-orang yang melakukan perjalanan dari kota Taegu menuju Taejon jadi kota ini cukup ramai dipadati orang-orang baik penduduk asli maupun pendatang. “ramainya kota ini..” ujar Dae Gil sambil menahan silaunya sinar matahari sore yang menerpa matanya.   “apa kau sadar ada yang mengikuti kita?” bisik Yong Joon pada kedua temannya. “ya..kami tahu..ada yang mengikuti kita sejak kita tiba di gerbang..” jawab Il Woo. “tapi bisa saja itu pengawalan di kota ini..Tuan Perdana Menteri bilang ia akan meminta pengawal dari kota ini untuk diam-diam mengawal Tuan Putri..” ujar Shi Yoon  “sebelum kita tahu orang ini siapa..kita harus lebih waspada menjaga Tuan Putri.kalian mengerti?” tanya Yong Joon. “kami mengerti..” jawab Shi Yoon dan Il Woo pelan serempak. “oaa..oaa..” terdengar suara tangis bayi. “aduh..aduh sabar ya Jun Ho..” “Yun Ho?” Deok Man berhenti melangkah dan menoleh ke samping. Dilihatnya. Seorang pria yang sedang kewalahan menggendong putranya yang menangis “omma sedang pergi..jadi appa yang hari ini bersamamu..cup..cup..Jun Ho anak manis..” Terbayang dalam benak Deok Man, bahwa pria itu adalah Bi Dam yang sedang kewalahan menenangkan kedua anak kembar mereka yang menangis rewel “Bi Dam..Yun Ho..Yoo Na..” gumamnya. “ada apa Nyonya?” tanya Dae Gil sambil memandang heran. Deok Man tersadar dari lamunannya “hmm tak ada apa-apa..” katanya lalu kembali berjalan. “setelah semua ini selesai, kita akan segera bersama-sama lagi..”  pikir Deok Man.

Malam hari
Hongsong, Baekje.
Para Bangsawan Baekje yang berpihak pada Panglima Daemusin berkumpul di rumah bangsawan di kota itu “Bangsawan Lee apakah kau tahu kenapa kita harus berkumpul di sini?kau kan yang menulis surat kepada kami” tanya bangsawan di sebelahnya. “aku sendiri juga tak tahu, tiba-tiba Panglima memintaku untuk mengumpulkan kalian di tempatku..” jawab Bangsawan Lee.  Semuanya pun gaduh dengan pertemuan mendadak ini. “sraak..” pintu ruangan terbuka. Semuanya diam melihat siapa yang datang. “tap..tap..tap..” Panglima Daemusin melangkah masuk dan duduk di tengah-tengah mereka. “akulah yang meminta kalian berkumpul di sini..” ujarnya. “maaf Panglima…untuk apa Panglima mengumpulkan kami di sini?” tanya salah satu bangsawan. “harinya sudah ditetapkan…” jawab Daemusin sambil membuka selembar kertas di tengah meja agar semua bisa melihatnya. Semuanya tercengang  “secepat inikah?”  komentar para bangsawan. “lalu bagaimana dengan Perdana Menteri apakah kita harus menyingkirkannya?” tanya Bangsawan Lee. “aku sudah membuat rencana mengenai itu dan  kau yang akan melaksanakannya mengenai itu Bangsawan Lee…” jawab Daemusin. “baik Panglima..” Daemusin mengangkat gelasnya “aku ingin kalian semua siap menghadapi ini…kekuatan militer negeri ini sudah di tangan kita..kita hanya perlu memiliki negeri ini sepenuhnya…untuk Baekje..” lalu ia meminum minumannya. Bangsawan Lee ikut mengangkat gelas “untuk Panglima Daemusin dan kita yang hadir di sini..” para Bangsawan lain ikut mengangkat gelasnya. “ya untuk Panglima Daemusin dan kita yang hadir di sini..”

Kota Kumi.
Deok Man sudah terlelap dalam tidurnya. Sementara itu Dae Gil berjaga di luar. Hari ini adalah gilirannya untuk jaga. ”sraak..” terdengar suara dari arah semak-semak halaman yang  berada di seberang kamar Deok Man. Dae Gil mengambil pedangnya lalu mengetuk pintu kamar tempat teman-temannya istirahat. “sraak..” pintu terbuka pelan, Yong Joon dan Il Woo keluar dari kamarnya. “ada apa?” bisik Yong Joon. “sst..kurasa ada orang di sana..” jawab Dae Gil pelan. Awan gelap yang menyelimuti bulan pun bergerak, sekilas mereka bisa melihat ada bayangan orang dari balik pohon di dekat sana. “sekarang!” ujar Yong Joon.  Ia dan Dae Gil berlari menuju pohon itu sementara Il Woo bersiap dengan busurnya di depan kamar Deok Man. “sraaak..” orang itu pun berlari kabur dari mereka. Yong Joon dan Dae Gil berlari mengejarnya. “ke sana..” tunjuk Dae Gil. Ada bayangan orang di balik pohon itu.  Mereka diam-diam mengendap-endap dari belakang pohon itu. “serahkan dirimu…” seru Dae Gil sambil mengacungkan pedangnya. “ma..maafkan aku…” orang itu segera berlutut mencium tanah di hadapannya. Dae Gil masih mengacungkan pedangnya “kau?!” Yong Joon menarik orang itu bangun dan segera mengeledahnya dengan pedang Dae Gil masih teracung pada orang itu. “apa ini?cincin?” ujar Yong Joon menunjukkan sebuah kantung kecil berisi cincin emas. Orang itu mengangguk gemetar ketakutan. “apa yang kau lakukan di sana tadi?jawab!!” seru Dae Gil mengacungkan pedangnya semakin dekat.  “a..aaku..” laki-laki  itu gemetar sekali bahkan sampai mengompol. Yong Joon meminta Dae Gil menjauhkan pedangnya. “sebenarnya apa yang kau lakukan tadi?” laki-laki itu pun terduduk lemas di hadapan mereka “a..aku hanya mengambil cincinku yang terjatuh tadi siang di sana..aku sudah mencarinya sejak sore tadi..dan baru menemukannya tadi..ini adalah cincin untuk kekasihku..aku sudah menabung cukup lama untuk ini dan aku tak mau kehilangannya..” “lalu kenapa kau lari?” seru Dae Gil. “kalian berlari sambil membawa pedang..tentu saja aku lari..lagipula aku masuk ke sini diam-diam…pemilik penginapan ini sangat tidak menyukaiku…aku kira kalian pengawalnya jadi aku pun kabur…“ “apa kau percaya pengakuannya?” tanya Dae Gil kepada ketuanya. “ia tak membawa senjata…dan sepertinya jawabannya jujur..ditambah lagi..” jawab Yong Joon seraya melirik tanah basah yang diduduki orang itu. “ya sudahlah..kau pergilah..” ujar Dae Gil kesal sambil menyarungkan pedangnya. “te..terima kasih tuan..” kata orang itu sambil membungkukkan badannya berulang-ulang. Dae Gil dan Yong Joon berjalan kembali menuju kamar mereka “ada-ada saja orang itu..” komentar Dae Gil. “hmm..sudahlah..setidaknya ia bukan penjahat..” ujar Yong Joon.

Desa Kumi (di luar kota)
“tap..tap..” seorang laki-laki berlari menuju gerbang desa, tempat dimana seseorang sudah menunggunya. “bagaimana?” tanya laki-laki yang menunggunya itu. “pengawalannya cukup ketat mereka terdiri dari 5 orang..dan sepertinya mereka bukan pengawal biasa…mereka mempunyai keahlian beladiri dan senjata sepertinya..” jawab laki-laki itu sambil mengontrol nafasnya yang terengah-engah. “lalu kenapa celanamu basah?” “ah itu bukan urusanmu sekarang mana bayaranku?” jawab laki-laki bercelana basah itu. “cring..cring..” laki-laki itu mengeluarkan sekantung uang dan menyerahkannya kepadanya “jangan tampakkan wajahmu di sana lagi..pergilah kau jauh-jauh dari sini..” laki-laki bercelana basah itu menatap sekantong uangnya dengan mata berbinar-binar tidak mempedulikan lawan bicaranya “tentu..aku pun sudah tak ingin lagi berada di kota ini...senang berbisnis denganmu”  lalu ia membalikkan punggungnya dan berjalan sambil menghitung uang dalam kantongnya. “jika mereka bukan pengawal biasa..berarti mereka adalah hwarang…” pikir laki-laki yang memberikan kantong uang tadi “ya mereka adalah hwarang Shilla..”

Minggu, 28 November 2010

Another Characters at OFSC

dan tak lupa juga para tokoh penting lainnya..
(mohon maaf bila ada kesamaan tokoh, ini hanya kebetulan fiksi belaka)

Lee Jae Yong as Yeon Gaesomun, Prime Minister of Goguryeo
Yeon Gaesomun adalah orang kedua setelah Raja yang memimpin pemerintahan di Goguryeo, namun semua urusan pemerintahan bisa dibilang Yeon Gaesomun lah yang memegang semuanya. Kemampuannya dalam berpolitik diakui oleh seluruh kerajaan bahkan oleh Baekje dan Shilla sendiri. Tak ada yang meragukannya kesetiaannya terhadap Goguryeo. Oleh karena itu, ia mati-matian mencegah rencana Unifikasi 3 negara yang dilakukan Shilla  dengan segala cara.


Yoo Oh Sung as Eulji, High General of Goguryeo
Eulji adalah Panglima milter Goguryeo. Jika Yeon Gaesomun diibaratkan sebagai otak Goguryeo maka  Eulji adalah tangan dan kakinya. Kemenangan Panglima Yushin dari Shilla atas Goguryeo pada perang sebelumnya sangat mencoreng wajahnya, oleh karena itu dengan bantuan Wa, ia berniat menghancurkan Shilla.







Ji Sung as King Uija of Baekje












Raja Uija adalah Raja Baekje yang ke 31. Ia dan Perdana Menteri Yeon Gaesomun adalah saingan politik Ratu Seondeok dan Raja Muyeol dari Shilla. Karena memikirkan kesejahteraan rakyatnya, Raja Uija memutuskan untuk mundur dari aliansinya dengan Goguryeo dan melaksankan gencatan senjata dengan Shilla. Namun kebijakannya ini tidak disukai kaum bangsawan Baekje.



Son Il Gook as Daemusin, High General of Baekje

Panglima militer Baekje. Putra Raja Baekje sebelumnya dari selir,  ia adalah kandidat utama putra mahkota sebelum Uija, putra Raja dari Permaisuri lahir. Sewaktu masih kecil, ia dan ibunya diasingkan ke Wei oleh Permaisuri karena dianggap sebagai ancaman bagi Uija. Ia pun tumbuh besar di Wei dan belajar beladiri dan militer di sana, dan berhasil menjadi yang terbaik di sana. Tak lama setelah Uija naik takhta, ia dipanggil oleh adik tirinya itu kembali ke Baekje untuk mengisi posisi Jenderal karena prestasinya. Lalu karena Panglima Baekje meninggal, ia pun diangkat menjadi Panglima militer Baekje.

Sabtu, 27 November 2010

Our Future Still Continue Chapter 65: The Letters




Keesokan harinya.

Pagi hari
Kamar Putri Deok Man. Istana Ingang
“ayo Yun Ho..aaa..” Bi Dam sedang menyuapi putranya yang duduk di pangkuannya. Yun Ho pun segera melahapnya.  “pintarnya..anak appa makanannya sudah habis..” puji Bi Dam. “ayo nona  Yoo Na..makanannya tinggal sedikit lagi..”  ujar Soo Hye yang sedang menyuapi Yoo Na, tapi Yoo Na mengalihkan pandangannya seakan-akan mencari sesuatu. “omma?” celotehnya sambil memandang ke arah tempat tidur  ayah dan ibunya. “nona Yoo Na..ayo makanannya tinggal sedikit lagi..” bujuk Soo Hye. Tapi Yoo Na masih saja mengalihkan pandangannya dari makanannya dan memanggil ommanya. Soo Hye menatap tuannya. “sepertinya Yoo Na mulai merindukan ommanya..” begitulah isi pikiran mereka berdua. Bi Dam pun segera meminta Soo Hye menggendong Yun Ho dan ia mengambil Yoo Na darinya. “ayo Yoo Na sini sama appa ya..” ujar Bi Dam sambil mengambil mangkuk  putrinya “appa?” panggil Yoo Na. “iya sayang..ayo makanannya dihabiskan..aaa..” bujuk Bi Dam. Yoo Na pun menurut appanya dan melahap makanannya. “pintar ya putri appa..” puji Bi Dam sambil mengecup pipi putrinya. “kyaa..” Yoo Na tertawa geli. Setelah selesai makan, Bi Dam meletakkan mereka di tempat bermain mereka. “hamba mohon menghadap Tuan Perdana Menteri..” seru seseorang dari balik pintu. “masuklah..” jawab Bi Dam. “sraak..” seorang kasim melangkah masuk dan memberi hormat. “ada apa?” tanya Bi Dam. “ada surat Tuan…seekor burung merpati hitam membawanya ke sini tadi di pelataran depan …saya pikir burung itu kepunyaan Tuan..” jawab kasim itu sambil menyerahkan gulungan kertas kecil kepada Bi Dam. “ah ya..itu memang milikku..terima kasih..” jawab Bi Dam sambil menerima surat itu. Kasim itu memberi hormat dan pergi keluar. Bi Dam membaca surat itu segera.

“Tuan, kami telah tiba dengan selamat di Taegu. Sekarang Nyonya sedang beristirahat dalam kamarnya di penginapan. Besok pagi kami akan berangkat sesuai rencana yang Tuan buat. Hormat saya, Bi Ryu ”

Bi Dam menghela napas lega begitu membacanya “syukurlah mereka sampai dengan selamat … kuharap kau selalu baik-baik saja Deok Man…” gumamnya sambil tersenyum menatap wajah istrinya yang ada di lukisan keluarga mereka.

Siang hari.
Perbatasan Wonju. Kamp militer Goguryeo. 
“siapkan semua barisan..” perintah Panglima Perang Goguryeo, Panglima Eulji dari atas kudanya. “tap..tap” seorang kurir pengantar surat datang menghadapnya dan memberi hormat “ada surat untuk Tuan…”  Eulji menerima suratnya lalu membacanya. “hmm..” ia tersenyum puas begitu membaca surat itu. “ya tak akan ada kegagalan kali ini..” gumamnya puas.


Perbatasan Wonju. Kamp Militer Shilla.
Setelah membaca surat dari Bi Dam yang diterimanya tadi pagi, Yushin segera mengumpulkan para jenderalnya di dalam kemahnya untuk membahas strategi apa yang akan mereka gunakan selajutnya dan masalah mengenai Goguryeo-Baekje “jadi bagaimana menurut kalian?” tanya Yushin. “saya rasa lebih baik kita  fokus pada pertahanan kita di sini…mengenai Baekje saya rasa itu hanya rumor belaka…kita belum melihat ada pergerakan pasukan dari mereka…lagipula bukankah Raja Uija sendiri tidak menghendaki Baekje terlibat perang lagi...ditambah Goguryeo sudah meminta tambahan pasukan dari Wa..pasti sekarang jumlah pasukan mereka lebih banyak dari kita..” jawab salah Jenderal Hyun Su. “huft..semoga saja Tuan Putri cepat menyelesaikan urusan diplomasi dengan Tang..” keluh jenderal yang duduk di sebelah Baek Ui. “apa maksudmu?” tanya Yushin. Ada amarah tersembunyi dalam nada bicaranya. “yah Panglima pasti paham..dengan adanya aliansi semuanya akan selesai…Goguryeo..Baekje..semua beres..” jawab orang itu. “jika ternyata Tang tidak ingin membuat aliansi..lalu apa yang AKAN KALIAN LAKUKAN?” bentak Yushin sambil menggebrak meja.  Semuanya pun terdiam. “kita tak bisa bergantung pada harapan bahwa kita akan beraliansi..itu baru hanya kemungkinan…” Yushin melanjutkan. Semua Jenderal hanya diam dan suasana menjadi tegang.  “hmm..kupikir kita bisa mengirim Jenderal Baek Ui dan Jenderal Ye Sung ke daerah perbatasan…4000 tentara kurasa cukup untuk setidaknya menahan Baekje agar tidak bisa mencapai ibukota…dan kita bisa meminta tambahan pasukan dari para bangsawan di bawah pimpinan Perdana Menteri Bi Dam untuk melindungi Seoraboel jika ternyata yang terburuk benar-benar terjadi meskipun jumlahnya tak seberapa…” ujar Wolya meredakan ketegangan. Yushin menghela napas panjang melepas emosinya “ya..kurasa sebaiknya begitu…Jenderal Baek Ui..Jenderal Ye Sung?” “Ya Panglima..” jawab Baek Ui dan Ye Sung serempak. “kalian berdua bawalah pasukan kalian sekarang diam-diam ke wilayah sekitar perbatasan Shilla-Baekje terutama yang berbatasan langsung…laksanakan!” “siap Panglima!” jawab Baek Ui dan Ye Sung. “kurasa rapat kali ini cukup sampai di sini…” Yushin menggulung peta yang ada di mejanya.  Para jenderal pun berdiri memberi hormat dan berjalan keluar satu persatu.  Hanya tinggal Wolya dan Yushin berdua. “kau pasti mengkhawatirkannya bukan? masihkah kau memendam perasaanmu padanya?” tanya Wolya di belakang sahabat baiknya itu. Yushin hanya terdiam tak menjawab.

20 KM di luar Kota Taegu.
Deok Man dan rombongannya sedang beristirahat sejenak di tepi hutan. Berbeda dengan kemarin, kali ini mereka harus melewati jalan darat. “apakah Nyonya ingin handuk dingin?” tanya  Dae Gil ramah, menawarkan. “hmm tidak..terima kasih Dae Gil..” jawab Deok Man. “apakah tempat yang kita tuju masih jauh?” tanya Deok Man. “saya rasa sudah cukup dekat Nyonya… kira-kira 30 ri jaraknya dari sini..mungkin sebelum sore kita sudah bisa tiba di sana..” jawab Shi Yoon. “hmm..begitu ya..” Deok mengangguk mengerti dan  bangun dari duduknya “apakah Nyonya sudah ingin berangkat?” tanya Il Woo. “iya..agar kita bisa beristirahat lebih lama di penginapan..” jawab Deok Man  sebelum ia masuk ke dalam tandunya. “baiklah ayo semuanya siap-siap..” seru Yong Joon menginstruksikan pengawal lain.