Pages

Jumat, 21 Mei 2010

Chapter 15

Pagi hari. Kediaman Perdana Menteri Bi Dam
"selamat pagi Tuan Putri"sapa Bi Dam melihat Deok Man membuka matanya. "namaku bukan Tuan Putri, Bi Dam.."balas Deok Man. Bi Dam mengecup kening istrinya. "Deok Man"bisiknya. Deok Man tersenyum mendengarnya. Hari ini Yang Mulia Raja akan mengadakan pertemuan untuk mengumumkan keputusan Raja Huang Tang atas Wang Zi dan yang terlibat. Sebagai Perdana Menteri tentu Bi Dam harus mempersiapkan segala sesuatunya. Deok Man dan Bi Dam segera bersiap-siap untuk menghadiri pertemuan itu. Setelah sarapan dan berpakaian rapi, mereka berangkat. Di dalam tandu, Deok Man duduk menyandar pada bahu Bi Dam. "kira-kira apa ya keputusan Raja Huang Tang?"tanya Deok Man. "mungkin mereka akan dihukum di negeri Wei..karena mereka berasal dari sana..tetapi ada juga kemungkinan mereka dihukum di sini jika Raja Huang Tang mau."kata Bi Dam. "humm..dan nasib Putri Huang Shi?dengan adanya kejadian ini bukankah sudah jelas bahwa Pangerang Huang Chung adalah orang jahat?"tanya Deok Man. "mengenai hal itu, aku juga tak bisa memprediksikannya..meskipun Putri Huang Shi sudah berusaha dekat dengan rakyatnya tapi karena wanita menjadi raja itu berlawanan dengan tradisi, rakyat menolak Putri Huang Shi menjadi pewaris takhta, ditambah lagi selama ini Pangeran Huang Chung selalu berpura-pura baik di depan rakyatnya dan ia memiliki pejabat-pejabat tinggi yang mendukungnya.. Raja tahu semuanya namun beliau menutupinya karena tak ingin terjadi konflik dan demi melindungi Putri Huang Shi.. Mungkin kejadian ini akan membuka mata Raja untuk mengungkapkan kebenarannya kepada rakyat agar rakyat menerima Putri Huang Shi..."jawab Bi Dam. "aku harap Raja Huang Tang bisa membuat rakyatnya dan istana menerima Putri Huang Shi sebagai pewaris takhta..aku yakin Putri Huang Shi bisa menjadi pemimpin Wei yang baik.."kata Deok Man. "aku juga berharap demikian.."kata Bi Dam.

Ruang Pertemuan Istana
Seluruh pejabat telah hadir. Deok Man berdiri di seberang Bi Dam. "Yang Mulia Raja memasuki ruangan"teriak pengawal. Semua memberi hormat kepada Yang Mulia Raja. Tak lama kemudian, Putri Huang Shi dan para utusan Wei memasuki ruangan. Er Wu tak nampak di sana. Lalu mereka memberi hormat, "hormat kami Yang Mulia, kami menghadap untuk mengantar surat dari Yang Mulia Raja Huang Tang untuk anda dan menyerahkan tanda jasa kepada Perdana Menteri Bi Dam atas jasanya.."kata Putri Huang Shi. Bi Dam kaget, lalu ia maju ke hadapan Putri Huang Shi. "Aku sebagai wakil Yang Mulia Raja Huang Tang dengan bangga menganugerahkan kalung giok ini sebagai tanda jasa kepada Perdana Menteri Bi Dam atas jasanya kepada Kerajaan Wei"kata Putri Huang Shi. Lalu Putri Huang Shi mengalungkannya kepada Bi Dam. Kalung giok berwarna hijau berbentuk lingkaran. "hamba menerimanya dengan penuh rasa terima kasih"kata Bi Dam memberi hormat. "itu melambangkan tanda jasa dan persahabatan."bisik seseorang di belakang Deok Man. Er Wu bersembunyi di balik tirai. Deok Man kaget lalu menoleh ke belakang "Er Wu?..kenapa kau bersembunyi di sana?"bisik Deok Man. "maafkan saya Tuan Putri, sesuai perintah Raja, keberadaan saya tak boleh diketahui siapa-siapa..tapi saya ingin mendengar surat Raja langsung."bisik Er Wu mohon ampun. Deok Man hanya tersenyum menghela napas lalu kembali menghadap depan.
Putri Huang Shi menyerahkan surat kepada Raja. Raja menerimanya dan membacanya.
"Panglima Yushin, aku mengutusmu ke Kerajaan Wei mengantarkan Wang Zi dan tahanan lainnya besok siang, di sanalah mereka akan dihukum.."perintah Raja. Lalu Raja membaca surat yang satu lagi. "ini surat untukmu Putri Huang Shi..Raja Huang Tang memintamu segera pulang. Beliau bilang Beliau sudah menjelaskan semuanya kepada rakyat, dan rakyat menyambutmu sebagai pewaris takhta Wei berikutnya."kata Raja. Putri Huang Shi, Er Wu dan seluruh utusan Wei kaget dan senang mendengarnya. Bi Dam dan Deok Man tersenyum lega mendengarnya. "penobatanmu sebagai pewaris takhta akan segera dilaksanakan..kau bisa pulang ke negerimu bersama rombongan Panglima Yushin, Putri Huang Shi."kata Raja. "saya menerima tawaran Yang Mulia dengan penuh rasa terima kasih"kata Huang Shi sambil membungkukan badan kepada Raja. Setelah semua selesai dibahas, pertemuan pun ditutup. Ketika ruangan hampir kosong, Bi Dam menghampiri Deok Man. Er Wu keluar dari tempat persembunyiannya menghampiri Putri Huang Shi. "hamba ikut senang Tuan Putri.."kata Er Wu. "selamat Putri Huang Shi, kami ikut senang mendengarnya."kata Deok Man dan Bi Dam. "terima kasih."kata Putri Huang Shi menangis bahagia. Er Wu dengan sigap mengeluarkan saputangan dan menghapus air mata Putri Huang Shi. "berarti ini hari terakhirku bersama kalian di sini.."kata Putri Huang Shi. "aku ingin nanti kalian berdua makan malam bersamaku..apakah Putri Deok Man dan Perdana Menteri Bi Dam berkenan hadir?"tanya Putri Huang Shi. "dengan senang hati kami menerima undangan Putri."jawab Deok Man. Lalu Deok Man dan Bi Dam pamit undur diri kembali ke ruang kerja mereka.
Karena hari sudah hampir sore, Deok Man memutuskan untuk pulang lebih cepat untuk bersiap-siap menghadiri makan malam. Ia berjalan ke ruang kerja Bi Dam. Bi Dam sedang duduk sendiri membaca buku di ruangannya. "Tuan Putri Deok Man memasuki ruangan"teriak penjaga di luar ruangan Bi Dam. Lalu Deok Man masuk. Melihat Deok Man, Bi Dam langsung berdiri dan menundukkan kepala. "hanya kita berdua disini Bi Dam"tawa Deok Man. "hormat saya Tuan Putri"canda Bi Dam. Deok Man dan Bi Dam duduk. Bi Dam tahu maksud kedatangan Deok Man, ia segera membereskan laporannya, "ayo kita pulang"kata Bi Dam sambil mengulurkan tangannya. Deok Man menggandeng tangannya sambil tersenyum, lalu mereka berjalan keluar dari ruangan Bi Dam.
Sesampainya di rumah, Bi Dam dan Deok Man berjalan masuk ke kamarnya. "kau mandilah dahulu, aku akan menyiapkan pakaianmu.."kata Deok Man. "baiklah"jawab Bi Dam. Bi Dam keluar kamar menuju kamar mandi. Deok Man mempersiapkan pakaiannya dan Bi Dam. Ketika ia sedang membereskan lemari pakaiannya, Bi Dam yang mengenakan jubah mandinya masuk ke kamar. "ini pakaianmu.."kata Deok Man memberikan pakaian Bi Dam "ya..kau sekarang mandilah"jawab Bi Dam seraya mengambil pakaiannya. Deok Man keluar kamar menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan persiapan selesai, mereka bersiap pergi. "kita berangkat?"sambut Bi Dam di depan pintu rumah sambil mengulurkan tangan ke arah Deok Man. Deok Man mengenggam tangan Bi Dam sambil tersenyum.

Ruang Perjamuan di Istana.
Raja, Permaisuri, Putri Huang Shi, dan Er Wu berjalan memasuki ruangan. Di belakang mereka, Bi Dam, Deok Man, dan Yushin menyusul. Mereka mengambil tempat duduk mereka masing-masing. "kita mulai perjamuannya"kata Raja. Mereka semua mulai makan."Tuan Putri Deok Man dan Tuan Perdana Menteri, datanglah ke Wei nanti..kami akan menerima Tuan Putri dan Tuan Perdana Menteri dengan senang hati"kata Er Wu. "ya, kalian datanglah berkunjung."kata Putri Huang Shi. "dengan senang hati, tentu nanti kami akan berkunjung ke sana"jawab Deok Man. Bi Dam juga mengiyakan. Lalu mereka semua berbincang-bincang akrab. Menjelang akhir perjamuan, Raja mengangkat gelasnya "semoga Putri Huang Shi tiba dengan selamat di Wei dan dapat menjadi pemimpin Wei yang bijaksana."Semua mengangkat gelasnya. "terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia Raja menerima kami di sini, dan kebaikan anda semua, selamanya saya akan mengingat ini semua dalam hati saya...terima kasih.."kata Putri Huang Shi seraya menundukkan kepalanya. "terima kasih kembali Putri, kami harap hubungan kita terus berlanjut baik anda maupun Wei."kata Raja. Semua tersenyum kepada Putri Huang Shi.
Hari pun sudah mulai larut dan perjamuan telah selesai, mereka semua kembali ke ruangan dan kediaman mereka masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar