Pages

Sabtu, 30 Oktober 2010

Our Future Still Continue Chapter 51: Investigation



Siang hari. Istana.
“sraak…” Deok Man melangkah keluar dari ruangannya. Kedua anaknya sedang tidur ditemani Soo Hye.  Sambil membawa bekal untuk suaminya, ia berjalan menuju ruang kerja Sangdaedeung.  Baru saja akan mencapai pintu, terdengar suara dari balik pintu, “menurutmu mungkinkah ada pejabat atau bangsawan yang mengincar nyawa Tuan Putri?bukti-bukti dan analisis Perdana Menteri bisa merujuk pada semuanya…”  Deok Man mengenali suara itu adalah suara Kim Yong Chun.  “  aku sendiri juga tak yakin…seharusnya tidak ada, karena para pemberontak beserta kroni-kroninya telah diberantas..keluarga mereka sudah tak punya kuasa dan kedudukan lagi…kuharap akan ada bukti yang mampu meperjelas semua ini..” “Pejabat Kim Seo Hyun…” pikir Deok Man. “sraak…”  pintu  ruang kerja Sangdaedeung terbuka, Kim Seo Hyun bersama Kim Yong Chun melangkah keluar meninggalkan ruangan, sementara Deok Man menahan dirinya dibalik pilar. “Bi Dam sedang meyelidiki ini semua?” pikirnya.

Kediaman Bangsawan Il Myung Min.
“traang..traang..” para pandai besi sedang memukulkan godam mereka ke atas sebilah pedang. “jangan sampai besinya melengkung..” perintah Bangsawan Il Myung Min mengawasi para pekerjanya. “paman..paman..”  Bangsawan Il Myung Min menoleh mendengar dirinya dipanggil. Rupanya salah satu dari keponakannya sudah pulang . “Zhi Youn..kenapa kau tergesa-gesa begitu?” tanya Il Myung Min. “paman…aku butuh bantuan paman..ada orang penting yang ingin bertemu paman” jawab Zhi Youn dengan nafas terputus-putus. “hah?orang penting?” sahut Il Myung Min.  Zhi Youn pun mengajak pamannya menemui orang penting yang dimaksudkannya itu. “Selamat siang Tuan Il..” sambut tamu yang disebut orang penting oleh keponakannya itu. “astaga..” Bangsawan Il Myung Min langsung terperanjat begitu melihat orang penting itu.

Istana.Ruang Kerja Raja.
“Yang Mulia, apa YangMulia akan menerima undangan itu?” tanya Permaisuri.  “aku juga tidak tahu..di saat  sedang ada masalah seperti ini muncul undangan seperti ini…tapi jika benar Goguryeo mengadakan aliansi dengan Wa…kita harus bertindak cepat..”  “lalu bagaimana tanggapan Perdana Menteri Bi Dam?” tanya Permaisuri. “untuk itu…aku sendiri juga tidak tahu…ia hanya diam saja mendengar itu semua..” jawab Yang Mulia Raja. “apa yang akan menjadi keputusanmu?Perdana Menteri Bi Dam..” pikirnya.

Menjelang malam. Kamar Putri Deokman.
“apakah makan malam sudah siap Soo Hye?” tanya Deok Man yang sedang duduk menyusui putranya. “sudah Tuan Putri…” jawab Soo Hye yang sedang menepuk-nepuk punggung Yoo Na dalam gendongannya.  “hamba mohon menghadapa Tuan Putri..” seru seorang kasim dari luar. Soo Hye segera berjalan keluar untuk bertemu dengan kasim itu. “Tuan Perdana Menteri memberikan pesan ini untuk Tuan Putri..” kata kasim itu sambil memberika segulung perkamen. “pesan?dari Tuan?apakah Tuan yang memberikan ini padamu?” tanya Soo Hye. “bukan..tapi salah seorang pengawalnya yang memberikan ini..” jawab kasim itu.  Soo Hye pun kembali masuk ke dalam. “ada apa Soo Hye?” tanya Deok Man yang sedang menepuk-nepuk punggung Yun Ho  dalam gendongannya. “seorang kasim mengantarkan surat dari Tuan untuk Tuan Putri..” jawab Soo Hye seraya memberikan surat itu kepada Deokman.  “dari Bi Dam?” pikirnya. Ia langsung mebuka surat itu dan membacanya.
Deokman, malam ini aku akan pulang terlambat…
Kau tak perlu menyiapkan makan malam untukku dan menungguku pulang..
Makan dan tidurlah lebih dulu bersama anak-anak..
Bidam
“apakah Bi Dam sendiri yang memberikan ini?” tanya Deok Man. “hamba juga menanyakan hal yang sama…namun jawab kasim itu, katanya pengawal Tuan yang memberikan surat ini..” “pengawal?berarti Bi Dam sedang berada di luar Istana?dimana dia sekarang dan apa yang sedang dilakukannya?” pikir Deok Man. Ia pun teringat akan percakapan antara Pejabat Kim Seo Hyun dan Kim Yong Chun tadi siang. “apakah ia sedang menyelidiki pelakunya?” pikir Deok Man.

Tengah malam. Kamar Putri Deok Man
“sraak..” Bi Dam berusaha menggeser pintu sepelan mungkin. Melangkah perlahan ke dalam.  Dilihatnya kedua anaknya sudah tidur lalu dikecupnya kening mereka satu persatu. Ia pun segera berganti pakaian tidur yang ternyata sudah disiapkan istrinya di atas tempat tidur. “Deok Man..” gumamnya sambil menatap istrinya yang sudah terlelap. Ia mendekat lalu membetulkan selimut istrinya lalu mengecup keningnya  “mimpi yang indah Deok Man…” bisik Bi Dam sambil membelai kening istrinya. Lalu ia pun berbaring di sebelahnya dan menarik selimutnya untuk tidur. “Bidam..” gumam Deok Man perlahan membuka matanya.

Jumat, 29 Oktober 2010

Our Future Still Continue chapter 50: Back to The Palace



Tengah malam menjelang pagi. Istana.

“Yang Mulia..hamba mohon menghadap..Yang Mulia..ada berita darurat Yang Mulia… ” seru Kepala Pengawal  Alcheon memohon dari balik pintu kamar peristirahatan Raja. “Alcheon menghadap? ada apa gerangan..” pikir Yang Mulia Raja terbangun dari tidurnya, begitu juga Permaisuri ikut terbangun. “masuklah..” perintahnya. Alcheon melangkah masuk dan memberi hormat. “maafkan hamba jika mengganggu istirahat Yang Mulia Raja dan Permaisuri..kediaman Tuan  Perdana Menteri Bi Dam diserang oleh sekelompok penyusup..dan sasaran mereka adalah nyawa Tuan Putri Deok Man…”  “apa?bagaimana bisa?” Yang Mulia terkejut mendengar kabar itu. “lalu bagaimana keadaan mereka?mereka sekeluarga baik-baik saja kan?” tanya Permaisuri  khawatir. “Tuan Putri Deok Man dan keluarga baik-baik saja, hanya saja ada seorang kasim yang terbunuh, dan kerusakan bangunan yang cukup parah…” “aku perintahkan kau menjemput mereka sekeluarga dan para pelayannya ke sini... dengan pengawalan tentunya..dan siapkan tempat untuk mereka menetap ..” titah Yang Mulia Raja. “baik Yang Mulia..” Alcheon menunduk memberi hormat lalu pergi.

Pagi harinya. Istana.
“ssst…ssst..tidurlah anak manis..” gumam Deok Man sambil menyelimuti kedua anaknya yang terlelap di hadapannya. “kau  juga harus beristirahat,  Deok Man..” ujar Bi Dam yang berdiri di sampingnya, sudah bersiap dengan pakaian sangdaedeungnya.  Deok Man menoleh dan menatapnya.  Meskipun  Bi Dam hanya diam tak mengungkit-ungkit kejadian tadi malam, Deok Man yakin suaminya itu memikirkannya dalam-dalam dalam benaknya. Ia tahu itu adalah hal yang wajar bila Bi Dam, suaminya mengkhawatirkannya tapi ia tidak ingin itu menjadi beban masalah yang mengganggunya.  Sebenarnya Deok Man agak kurang setuju untuk tinggal di Istana, tapi kondisi rumah yang “berantakan” dan demi keamanan anak-anaknya serta yang lainnya, Deok Man mengangguk saja ketika Bi Dam berkata akan memberitahu keluarga kerajaan tentang kejadian yang menimpa mereka. Dan Deok Man juga yakin jika ia menolak, pasti Bi Dam akan mengirim sebatalyon pasukan terlatih untuk menjaganya. “iya…oh ya nanti siang aku akan mengantarkan makan siang untukmu ke ruanganmu…bolehkah?” “akan aku tunggu..” jawab Bi Dam tersenyum  lalu mengecup kening istrinya  “aku berangkat…” lalu tak lupa juga ia mengecup kening kedua anaknya sebelum pergi melangkah keluar dari kamar. “selamat jalan..” jawab Deok Man.   “Syukurlah Bi Dam masih bersikap seperti biasa…” gumamnya sambil menatap punggung suaminya.  “apapaun caranya akan kutemukan pelakunya dan akan kubuat dirinya menyesal seumur hidup karena telah melakukan ini semua…” pikir Bi Dam sambil mengepalkan tinjunya.

Ruang Kerja Perdana Menteri. Istana.
Kabar bahwa kediaman Perdana Menteri Bi Dam diserang dan Putri Deok Man nyaris terbunuh hanya tersebar di kalangan terbatas saja, sesuai “permintaan” Deok Man yang tak ingin kabar ini mengganggu jalannya pemerintahan. Bi Dam tetap melaksanakan tugas hari-harinya seperti biasa seakan-akan tak terjadi apapun.  Sesudah semua pejabat selesai melapor padanya dan keluar satu per satu, menyisakan Bi Dam bertiga dengan Kim Yong Chun dan Kim Seo Hyun.  “apakah ada kemajuan?sudah diketahui siapa yang ada dibalik semua ini?” tanya Bi Dam yang sedang memijat-mijat keningnya.  “ bagian persediaan senjata di semua pos gudang senjata di seluruh negeri sudah diperiksa, tak satu pun yang melapor adanya kehilangan…dan mengenai aktivitas prajurit di Seoraboel, tak ada yang satu pun keluar dari kampnya semalam….” jawab Kim Seo Hyun. “berarti bisa dibilang kemungkinan orang dalam pelakunya adalah tipis..apakah Perdana Menteri menyelidiki tempat lain juga?” tutur Kim Yong Chun membuat kesimpulan. “orang-orangku sendiri baru saja berangkat ke Goguryeo, Baekje, dan Tang..hasilnya mungkin baru bisa didapat secepatnya nanti malam..”  ujar Bi Dam.  “siapa gerangan pelakunya yang berani melakukan ini semua?”  Kim Seo Hyun bertanya-tanya. Bi Dam berpikir sejenak mengingat segala hal yang sudah ia simpulkan saat ia mencoba untuk tidur tadi. “dugaanku yang pertama pelakunya bisa dibilang profesional, bisa juga orang dalam atau orang luar yang jelas punya kekuasaan yang cukup besar untuk bisa memperoleh semua senjata ini...semuanya adalah hasil tempaan kualitas bagus yang umumnya hanya dipakai militer.." ujarnya mengungkapkan pemikirannya.  “sraak..” pintu ruang kerja terbuka. Seorang kasim melangkah masuk dan member hormat kepada Bi Dam. “maaf Tuan..Yang Mulia menunggu Tuan Perdana Menteri di ruang kerjanya sekarang..”  katanya. Bi Dam pun segera bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruang kerjanya.  Sementara Kim Yong Chun dan Kim Seo Hyun masih berada di dalam ruangan. “mungkinkah orang Shilla yang melakukan ini?” pikir mereka.

Ruang Kerja Raja. Istana
“Perdana Menteri Bi Dam menghadap Yang Mulia..”  seru seorang kasim dari balik pintu. “masuk..” jawab Raja yang sedang duduk di dalam ruang kerjanya. Bi Dam melangkah masuk lalu member hormat sebelum ia duduk di samping Raja. “apakah sudah ada perkembangan?” tanya Yang Mulia Raja.  “belum Yang Mulia…tapi hamba sudah mengerahkan semuanya untuk menyelidiki ini semua..” jawab Bi Dam. “apakah kau punya seseorang yang dijadikan tersangka?yang seseuai dengan analisismu yang kau sebutkan tadi pagi..”  Bi Dam terdiam sejenak berpikir sebelum akhirnya menjawab “belum ada Yang Mulia.. belum ada bukti yang cukup kuat mengarah ke satu orang..” “Putri Deok Man mungkin bisa berkata jangan terlalu memikirkan masalah ini..fokus pada masalah negara..akan tetapi bagaimana aku bisa menjadi pemimpin yang melindungi rakyatku..jika aku tak bisa melindungi keluargaku sendiri..” tutur Raja.  “kepala pengawal Raja menghadap Yang Mulia..” seru seorang kasim. “masuk..” jawab Yang Mulia Raja. Alcheon melangkah masuk lalu memberi hormat. “Yang Mulia...utusan dari Tang datang ingin menghadap Yang Mulia…” Yang Mulia mengangkat sebelah alisnya  “aneh..seharusnya mereka baru datang bulan depan seperti biasa..ada apakah gerangan?” tanyanya sambil beranjak dari duduknya. Bidam dan Alcheon pun juga berpikiran sama. Ditemani Bidam dan Alcheon, Yang Mulia Raja masuk ke dalam ruangan tempat utusan dari Tang menunggunya

Sabtu, 23 Oktober 2010

Chapter 49: I Believe that You Can Save Me

Jarak ujung pedang hanya tinggal 2 langkah lagi. Mendengar langkah musuh semakin dekat, Deok Man membuka matanya dan segera menghindar ke samping. Ia pun bersiap memukul orang yang mengincar nyawanya itu. Namun sebelum kepalan tangannya menyentuh orang itu, 3 buah anak panah melesat menghujam tepat di bahu,lengan, pahan kanan pemimpin penyusup itu. "bruuk..aargh" ia pun jatuh terkapar di tanah.  Deok Man melihat ke arah datangnya. "Bi Dam.." gumamnya. "Deok Man.." seru Bi Dam yang segera berlari menghampiri istrinya.  Ia berlari memeluk istrinya erat-erat. "Bi Dam.." gumam Deok Man dalam pelukan suaminya. "dug..dug..dug" ia bisa merasakan detak jantung Bi Dam yang berdebar sangat keras dan cepat. Bi Dam melepas pelukannya dan menatap istrinya dengan tatapan marah bercampur khawatir. "kau..hampir membuat jantungku nyaris lepas.. bagaimana jika aku salah sasaran dan kau juga gagal menghindar.." omelnya sambil mengatur nafasnya yang masih tersenggal-senggal. "aku yakin kau pasti bisa menolongku..Bi Dam.." jawab Deok Man tersenyum menenangkan. Hati Bi Dam pun luluh melihat senyum istrinya itu. "Tuaan..Tuan Putri.." Soo Hye berjalan menghampiri keduanya. "Yun Ho..Yoo Na.." seru kedua orangtuanya. Kedua anaknya mulai menangis. Sepertinya mereka khawatir dengan orangtuanya. Bi Dam segera menggendong putranya dan Deok Man menggendong putrinya. "ssst..anak manis ibu di sini.." ujar Deok Man sambil menepuk-nepuk putrinya. Lalu ia menatap dayangnya yang setia "terima kasih Soo Hye telah menjaga kedua anakku..budi baikmu akan kuingat selamanya" “suatu kehormatan hamba bisa melayani Tuan Putri..jujur hamba sangat menyayangi Tuan dan Nona kecil…hamba akan berusaha menjaga mereka dengan segenap kemampuan hamba apapun yang terjadi..” jawab Soo Hye tersenyum.  "kau lemah Bi Dam..hahaha.." Bi Dam dan Deok Man tersentak kaget mendengarnya, lalu  menoleh ke arah tempat pemimpin penyusup itu terkapar bersimbah darah. Bi Dam menyerahkan putranya kepada Soo Hye, lalu mengacungkan pedang ke hadapan orang yang hampir saja membunuh istrinya itu dan membuka penutup wajahnya. "siapa kau?dan apa tujuanmu?siapa yang membayarmu?" bentak Bi Dam. "orang lemah sepertimu menggertakku?..perempuan ini hidup karena ia beruntung saja..tapi kuyakin nanti nyawanya pasti akan melayang..tanpa bisa kau lindungi..pembalasan yang setimpal bukan.." ledek orang itu "tunggu.. jadi nanti akan ada lagi kejadian seperti ini?" gumam Soo Hye. Deok Man hanya diam mendengarkannya. "kau!!" Bi Dam naik pitam dan mengacungkan pedangnya semakin dekat, dan di saat bersamaan, penyusup itu tiba-tiba menarik ujung pedang itu lalu menyayat urat nadi lehernya sendiri dan langsung mati seketika. Bi Dam terkejut melihatnya. Darah penyusup itu terciprat ke wajahnya. Soo Hye dan Deok Man menutup mata kedua anaknya agar tidak melihat itu semua. Bi Dam menyarungkan pedangnya dan menatap mayat di hadapannya dengan tatapan penuh amarah.

"kau lemah Bi Dam..perempuan ini hidup karena ia beruntung saja..tapi kuyakin nanti nyawanya pasti akan melayang..tanpa bisa kau lindungi.." kata-kata itu terus terngiang dalam benaknya. "Bi Dam lukamu.." ujar Deok Man sambil menghapus darah di wajah suaminya dengan saputangannya. Bi Dam menggenggam pergelangan tangan istrinya dan menatap wajahnya.  Terbersit dalam benaknya jika ia terlambat sedikit saja, mungkin Deok Manlah yang terkapar bersimbah darah. Cukup sekali saja baginya merasakan kehilangan Istrinya untuk selamanya. Cukup sekali saja ia melihatnya meregang nyawa di hadapannya. Deok Man tersenyum menatap suaminya lalu menggenggam tangan suaminya erat-erat “kita pulang..Bi Dam..” ujarnya. Bi Dam tersadar dari lamunannnya dan mengangguk. “kita pulang..”jawabnya.

Minggu, 17 Oktober 2010

Chapter 48: The Target?


Di lain tempat, para penyusup menyebar memasuki kediaman Bi Dam. “tak ada di sini..” kata salah seorang dari mereka. “di kamar juga tak ada..”sahut yang lain. Bi Dam bergerak diam-diam, bersembunyi di balik tembok mengamati apa yang sedang dilakukan para tamu yang tak diundang itu di kediamannya. “siapa mereka dan apa yang mereka incar?” pikirnya “tap..tap..tap..” suara langkah kaki seseorang mendekat ke arahnya. Bi Dam bersiap dengan pedangnya untuk menyerang sewaktu-waktu jika orang itu menemukannya. Dan benar saja begitu orang itu menengok ke arah tempatnya bersembunyi, Bi Dam segera menariknya dan membunuh orang itu dalam sekali sayatan di leher sebisa mungkin tanpa suara. Tapi sial  “praang..” penyusup itu sempat menarik vas bunga di dekatnya hingga jatuh. “ada apa di sana?” tanya penyusup lain yang mendengar kegaduhan itu.  Bi Dam hanya diam dan berusaha menyembunyikan mayat korbannya. Pemimpin dari penyusup itu meminta bawahannya untuk tetap tenang lalu berjalan ke tengah halaman dan berteriak “bunuh semuanya yang ada di sini dan bakar semuanya sampai habis…” para bawahannya hanya menatap heran perintah pemimpinnya sebelum akhirnya mengerti makna perintah itu “baik..” jawab mereka. Keringat dingin langsung mengalir deras di kening Bi Dam begitu mendengar teriakan itu. Terbayang olehnya nasib Deok Man beserta anak-anaknya jika masih berada di tempat persembunyian mereka. Berharap mereka sudah pergi dari sini.

Deok Man dari balik dinding berusaha sebisa mungkin mendengar apa yang terjadi di luar sana. Namun nihil “Tuan Putri..apakah tidak sebaiknya kita pergi dari sini seperti yang dikatakan Tuan?” tanya Soo Hye. Deok Man hanya diam. Yang ada di benaknya sekarang adalah bagaimana kondisi Bi Dam sekarang  dan siapa penyusup itu. “oaa..” Yoo Na mulai terbangun dari tidurnya. Suhu ruangan yang cukup gerah membuat tidurnya tidak nyaman. “sst..sst..anak baik..” Soo Hye berusaha menenangkan nona kecilnya itu. Yun Ho pun juga mulai bereaksi sama. Akhirnya Deok Man memutuskan untuk segera keluar dari sini sesuai permintaan suaminya tadi. Sebelum beranjak dari tempatnya, Deok Man menatap sejenak dinding tempat suaminya keluar tadi “Bi Dam..berhati-hatilah..kami menunggumu di Istana..”

“bunuh semua pelayan dan bakar semuanya..” seru pemimpin penyusup itu. Bi Dam menatap sejenak ke arah kamar anaknya “kuharap kalian sudah berlindung di Istana sekarang..Deok Man..” lalu ia segera beranjak dari tempat persembunyiannya sambil menggenggam pedangnya erat-erat “tak akan kubiarkan..” geramnya.
Bi Dam pun melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. Para penyusup itu sudah menunggunya dengan pedang dan crossbow di tangan. “prok..prok..” pemimpin penyusup itu tepuk tangan “menyambutnya” “akhirnya sang tuan rumah muncul juga..” “siapa kalian?dan apa mau kalian?” geram Bi Dam. “bunuh dia..” perintah pemimpin penyusup itu kepada bawahannya.  Anak buahnya segera beramai-ramai mengarahkan pedangnya ke arah Bi Dam. “traang..” Bi Dam menangkis setiap serangan mereka. “tembak dia..”  perintah pemimpin penyusup kepada 3 anak buahnya yang membawa crossbow. Mereka pun segera membidik Bi Dam “shuut..dart..dart..”  Bi Dam segera menarik salah satu penyusup untuk dijadikannya pelindung dari panah-panah itu. Pemimpin penyusup itu pun geram lalu mengambil crossbow anak buahnya dan membidiknya “shuut..” bersamaan dengan menghindar dari panah, Bi Dam juga menghindar dari serangan pedang yang bertubi-tubi menyerangnya. Panah itu memang meleset namun berhasil menggores pipinya. “haiiik..” teriak Bi Dam sambil menghempaskan tubuh lawannya dengan pedangnya. Pasukan berpedang sudah habis dibantainya. Para penyusup yang membawa crossbow segera menggantikannya teman-temannya yang sudah tewas menyerang Bi Dam dengan pedang kembar mereka, sementara pemimpin mereka hanya mengamatinya. Sementara Bi Dam berusaha menjatuhkan satu lawannya yang tersisa, seorang penyusup lain muncul dari atas atap. “sasaran berhasil ditemukan..ia kabur bersama seorang pelayan tak jauh dari sini..” seru penyusup itu.  Bi Dam langsung tersentak mendengarnya. “jadi Deok Man yang mereka incar..” gumamnya. “baikalah aku yang membereskannya..kau turun ke sini dan bunuh orang ini..” jawab pemimpinnya sambil menunjuk Bi Dam. “kauu!!!..langkahi mayatku dulu sebelum menyentuh Deok Man!!” seru Bi Dam penuh emosi. Namun pemimpin itu hanya diam lalu pergi melompat ke atas atap. “Deok Man..” hanya itu yang ada pikiran Bi Dam sekarang. Dengan cepat, ia segera menangkis serangan lawannya yang sekarang menjadi dua lalu menebas mereka.. “Deok Man…tak akan kubiarkan ia menyentuhmu!!” geramnya.

“Tuan Putri lewat sini..” ujar Soo Hye yang berjalan di depan Deok Man. Di bawah sinar bulan  mereka berjalan melintasi jalan setapak yang disebut Bi Dam tadi. “Deok Man..” Deok Man terhenti sebentar dan menoleh ke belakang. “sepertinya tadi ada suara yang memanggilku..” gumamnya. “ada apa Tuan Putri?” tanya Soo Hye sambil menatap ke arah yang sama. “ah tidak..bukan apa-apa..” jawab Deok Man. “sraak..” Soo Hye dan Deok Man terdiam. Mereka sadar bahwa tak hanya mereka yang ada di situ. “keluarlah..” seru Deok Man. “prok..prok..” terdengar suara tepuk tangan dari balik bayangan pohon, pemimpin penyusup itu berjalan ke hadapan Deok Man dan Soo Hye “ucapan yang sangat berani dari mulut seseorang yang kuhabisi sebentar lagi..akhirnya kutemukan juga kau..Putri Deok Man...” Soo Hye berusaha melindungi tuan putrinya namun Deok Man meminta dayangnya itu untuk berlindung di belakangnya. “jadi akulah yang kau incar?dimana Bi Dam?dimana suamiku?apa tujuanmu?” tanya Deok Man berusaha setenang mungkin. Pemimpin penyusup itu tersenyum mengejek dari balik penutup mulutnya “istri yang baik..masih mengkhawatirkan suaminya..di saat ajalnya sendiri sudah mendekat..dan mengenai tujuanku..tujuanku itu tak lebih dari sekedar emas..kau tahu kepalamu itu diberi harga 2 peti emas..” “jadi ia hanya orang suruhan..lalu siapa yang menyuruhnya?” pikir Deok Man. Lalu ia segera menarik pedangnya dan mengacungkannya ke arah Deok Man “ada permintaan terakhir yang ingin kau sampaikan?” tanyanya. “aku minta kau segera menyerah..aku yakin Bi Dam akan segera menolong kami..” jawab Deok Man lantang. “percaya diri sekali…” sahut pemimpin penyusup itu yang berjalan semakin mendekat ke arahnya. Ia lalu menatap Yun Ho dan Yoo Na yang masih terlelap dalam gendongan Deok Man dan Soo Hye. “setelah kau mati..kedua anak manis ini pun akan menyusul ibunya..ke neraka..” sambungnya. Deok Man pun tahu bahwa ancaman ini bukan main-main. “Tuan Putri..” bisik Soo Hye di sampingnya “ Soo Hye.. begitu ia berada 10 langkah dariku, kau pergilah ke Istana secepat mungkin bersama mereka..jaga mereka baik-baik..jangan pedulikan aku..” bisik Deok Man sambil menyerahkan Yun Ho kepada dayangnya. “tapi Tuan Putri..” sergah Soo Hye. “ikuti perintahku..” jawab Deok Man. “sekalipun kalian mencoba kabur..” pemimpin penyusup itu berjalan semakin mendekat. Hanya terpaut 20 langkah dari Deok Man.” pasti tak akan kubiarkan..mati kau!!!haiik”  Pemimpin penyusup itu berlari sambil mengacungkan pedangnya ke arah Deok Man.  “Soo Hye!!lari!!” seru Deok Man. Soo Hye pun segera berlari mengikuti perintahnya. Deok Man merentangkan kedua tangannya. Berharap Soo Hye berhasil kabur bersama kedua anaknya sejauh mungkin “mati kau!!” mata pedang pun semakin mendekat ke arah Deok Man. Terpaut 5 langkah lagi darinya. Deok Man memejamkan matanya. . “Bi Dam...” gumamnya.  “jleeb..” bersamaan dengan terdengarnya suara tusukan, darah pun terciprat ke udara. “Tuan Putri!!!” teriak Soo Hye.

Chapter 47: The Intruders

Tengah malam. Kediaman Perdana Menteri Bidam.
“oaa..oaa..” terdengar suara tangis bayi dari kamar sebelah. Mendengar tangisan anaknya, Deok Man terbangun dari tidurnya. Bi Dam juga terjaga dari tidurnya. “mereka terbangun ya?” tanya Bi Dam sambil membuka selimutnya. “kau tidurlah…kau pasti lelah..biar aku saja yang ke sana..” kata Deok Man tersenyum sambil memasang kembali selimut Bi Dam. “jika kau butuh bantuanku..segera bangunkan aku..” tukas suaminya. Deok Man mengangguk lalu berjalan keluar kamarnya. Karena sudah sangat lelah dengan pekerjaannya hari ini, Bi Dam kembali terlelap dalam tidurnya.

“sraak..” Deok Man melangkah masuk ke dalam kamar kedua anaknya. Soo Hye yang sedang sibuk menenangkan tangisan keduanya, memberi hormat. “popok nona Yoo Na basah, sedangkan tuan muda Yun Ho sepertinya haus..” Deok Man menghela napas lega, lalu mengambil Yun Ho dari gendongan Soo Hye. “ssst..kamu pasti lapar ya..sebentar yaa..” kata Deok Man sambil duduk menenangkan putranya.

Luar Kediaman Perdana Menteri Bi Dam
Sekelompok orang berbaju hitam berkumpul di balik tembok samping kediaman. “lakukan ini serahasia mungkin..jangan sampai ada yang ketahuan atau tertangkap hidup-hidup..lebih baik mati daripada tertangkap di sini..bunuh semua yang melawan..” kata salah seorang dari mereka yang sepertinya adalah pimpinan dari kelompok tersebut. Para penyusup lain mengangguk menyanggupi perintah itu. Kemudian mereka melemparkan tali ke atas tembok dan mulai memanjatnya.

“kaak..kaak..” suara teriakan burung gagak, membangunkan Bi Dam yang baru saja terlelap. “berisik sekali gagak itu..membuatku kaget saja..” keluhnya. Ia menoleh ke sampingnya, dan masih kosong. Istrinya belum kembali ke kamar. “suara tangisannya sudah berhenti..berarti sebentar lagi ia akan kembali..” pikirnya. Ia pun kembali menarik selimutnya. Namun bayangan orang-orang melintas di halaman samping kamarnya, membuat ia benar-benar terjaga dan mengambil pedang miliknya dari rak.

“selamat tidur anak-anakku..” gumam Deok Man sambil mengecup kening putra-putrinya. Deok Man menatap Soo Hye yang masih menemaninya “kau juga tidurlah Soo Hye..terima kasih telah menjaga anak-anakku..” Soo Hye tersenyum lalu memberi hormat “ya Tuan Putri..” “sraak..” pintu kamar terbuka. “Bi Dam?kenapa kau..” tanya Deok Man bingung melihat suaminya membawa pedang di tangannya. “ssstt..” Bi Dam mengisyaratkan untuk dia, lalu melihat sekelilingnya, bahwa penyusup-penyusup itu belum masuk. Kemudian berjalan menarik tangan istrinya “Deok Man, kau bersama Soo Hye bawa anak-anak lalu bersembunyi di sini..” ujar Bi Dam yang berusaha menggeser lemari di hadapannya.  “bersembunyi?a..apa maksudmu Bi Dam? kenapa kau membawa pedang?” tanya Deok Man yang semakin bingung. Belum sempat Bi Dam menjawabnya, teriakan seorang kasim sudah menjawabnya lebih dahulu. “penyusup..penyusup..arrgh..” “penyusup?Bi Dam?” tanya Deok Man tak percaya. Bi Dam hanya diam dan segera menggeser lemari di hadapannya lalu menarik tuas dibaliknya. “kalian masuklah ke sini, berlindunglah di sini.. jika kondisi semakin mendesak dan aku tak kembali menjemput kalian segera.. pergilah ke ujung lorong ini dan tarik tuas di sana..ada pintu kecil  menuju keluar, ikuti jalan setapak lalu pergilah berlindung di Istana.. ” Mendengar itu,  Soo Hye segera menggendong Yoo Na yang terlelap lalu masuk ke dalam lorong rahasia itu. Bi Dam segera menggendong Yun Ho lalu menyerahkannya kepada istrinya. “lalu bagaimana denganmu Bi Dam?siapa mereka?” tanya Deok Man cemas. “aku akan menyusul nanti..aku juga tak tahu siapa mereka..tapi siapapun mereka..yang penting kalian harus segera pergi dari sini…jaga diri kalian baik-baik..” Bi Dam segera menarik lagi tuasnya, sehingga pintu rahasia itu kembali tertutup, lalu ia menggeser kembali lemarinya. “Bi Dam…” seru Deok Man dari balik pintu. “Tuan Putri..tenanglah..hamba yakin Tuan pasti selamat..” ujar Soo Hye. Deok Man menatap sejenak pintu di hadapannya “kau harus selamat Bi Dam..” Lalu sambil menggendong putranya, Deok Man berlindung bersama kedua anaknya dan Soo Hye.

Senin, 04 Oktober 2010

Chapter 46: Your Majesty's Plan

7 bulan kemudian.
Kamp Militer Baekje. Malam hari.
seorang prajurit Baekje berjalan masuk ke dalam sebuah kemah lalu memberi hormat. "Jenderal, Yang Mulia Raja mengirim titah langsung.." katanya sambil menyerahkan sebuah gulungan kepada pria yang dipanggilnya jenderal itu. Ini adalah pertama kalinya, prajurit itu bertatap muka langsung dengan jenderalnya. "separuh wajahnya benar-benar ditutupi topeng..benar apa yang dikatakan teman-teman.." pikirnya. "apa yang kau lihat?wajahkukah?" tegur pria bertopeng itu. "ti..tidak Jenderal.." jawab prajurit itu takut. Pria bertopeng itu mengembalikan gulungannya dan meminta prajurit itu keluar dari kemahnya. "saatnya sudah tiba.." gumamnya sambil tersenyum sinis menatap peta 3 kerajaan di hadapannya.

5 hari kemudian. Shilla
“aku pulang…” seru Bi Dam begitu keluar dari tandunya. “kami disini Bi  Dam…” sahut suara yang sangat ingin didengarnya. Bi Dam pun berjalan menuju gazebo di halaman samping. “lihat ayah sudah pulang..” kata Deok Man sambil melambaikan tangan kedua anaknya yang sedang duduk  di pangkuannya. Bi Dam berjalan menghampiri mereka lalu mengambil putri kecilnya dari pangkuan istrinya. “aku pulang..” katanya sambil mengecup kening istrinya. “selamat datang..” jawab Deok Man tersenyum. “Yun Ho…Yoo Na..kalian tidak nakal kan hari ini?” kata Bi Dam sambil mengelitiki kedua anaknya. Yun Ho dan Yoo Na hanya berceloteh dan tertawa geli. “kita masuk?” tanya Bi Dam. Deok Man mengangguk dan segera bangun dari duduknya sambil menggendong Yun Ho lalu berjalan masuk ke dalam rumah.

Sembari menunggu makan malam, Bi Dam mandi berendam air panas. Tentu saja ia tidak mandi sendirian. Ia mandi bersama kedua anaknya. “Bi Dam..mereka jangan terlalu berendamnya..” ujar Deok Man dari balik pintu kamar mandi.  “yaa..sebentar lagi.. mereka baru saja berendam” sahut Bi Dam yang sedang berendam sambil menggendong kedua anaknya yang asyik bermain air. Tak lama kemudian “sraak” pintu kamar mandi terbuka, Deok Man masuk ke dalam kamar mandi, sambil membawa sebuah handuk besar. “ini..” kata Bi Dam sambil menyerahkan kedua anaknya satu per satu kepada istrinya. Deok Man segera membungkus kedua anaknya yang basah dalam handuk. “senang ya mandi sama ayah?” kata Deok Man sambil mengeringkan badan kedua anaknya itu. Ia pun berjalan keluar dari kamar mandi sambil menggendong mereka. Bi Dam tersenyum menatap mereka. “fiuuh..” gumamnya sambil merendam dirinya lebih dalam. “sraak” pintu kamar mandi terbuka lagi. Deok Man melangkah masuk. Bi Dam menoleh “apakah ada yang tertinggal?” tanyanya.
Deok Man menggeleng . “aku ingin berendam bersamamu.. bolehkah?” tanyanya. Bi Dam hanya tersenyum lebar lalu kembali berendam. Deok Man mengerti makna senyum itu lalu membuka pakaiannya dan membilas dirinya dahulu sebelum berendam.

“ah nyamannya..” kata Deok Man sambil melangkah masuk ke dalam bak mandinya yang besar. Ia duduk berendam  di samping suaminya. “apa kau sudah menerima laporan yang kau minta?aku sudah mengirimnya tadi siang..” tanya Bi Dam. Deok Man tersenyum mengangguk “aku harap kebijakan ini tak hanya bisa dirasakan oleh wilayah Shilla saja..tapi begitu juga dengan wilayah Baekje dan Goguryeo yang sudah ditundukkan..” “kau ingin memenangkan hati mereka ya?” tanya Bi Dam sambil menatap istrinya dengan penuh kasih sayang. “aku tak ingin ada masalah seperti pemberontakan Gaya timbul lagi..semua wilayah yang ditaklukan Shilla adalah Shilla..jadi baik penduduk wilayah asal maupun yang ditaklukan..mereka punya hak dan kewajiban yang sama..” Bi Dam membelai rambut istrinya yang tergerai panjang “kau pasti bisa memenangkan hati mereka Deok Man..sama seperti kau memenangkan hati rakyat Shilla..” Deok Man tersenyum mengangguk sambil menggenggam tangan suaminya. “oh ya ada kabar yang harus kusampaikan padamu..” ujar Bi Dam.  “kabar apa?” tanya  Deok Man penasaran. “dalam waktu dekat, Yang Mulia berniat mengangkat Alcheon sebagai Perdana Menteri..dan aku dipindahtugaskan..” “kau dipindah tugaskan?” tanya Deok Man. “ya.. Yang Mulia akan membentuk badan khusus… khusus intelijen..tugasnya seperti kementerian audit..tetapi hanya khusus menyelidiki kegiatan di kerajaan-kerajaan sekitar Shilla..dan rencanannya aku yang bertugas memimpin kementerian itu..sehingga tugas intelijen tidak dipegang lagi kementerian pertahanan…bagaimana menurutmu?” “hmm..kurasa memang perlu dibentuk badan khusus intelijen seperti itu.. ditambah lagi di masa-masa seperti sekarang ini aku yakin Baekje dan Goguryeo sudah memilikinya..kita harus selangkah lebih dari mereka kan?..” tukas Deok Man penuh semangat. “tak akan kubiarkan Shilla dimata-matai dan disusupi terus..aku berjanji..” jawab Bi Dam sambil tersenyum.  Deok Man tersenyum lalu menyandarkan dirinya di bahu suaminya. “aku yakin kau akan melakukan yang terbaik..dan aku akan selalu berada di sisimu, mendukungmu Bi Dam..” jawabnya. “ya..terima kasih Deok Man..”jawab Bi Dam tersenyum sambil bersandar pada kepala istrinya