Pages

Kamis, 23 Juni 2011

The Hidden Wounds Official Cover 



p.s : I don't own the original picture, it's just fanmade picture that I made :)

The Hidden Wounds Chapter 11: Higher Point

genre: angst,romance, mystery 

Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun
- Jo Hyun Jae as dr. Ahn Jong Geun

I didn't own the characters. It's just a fanfiction :)
**********************************************************************************

- 11:44 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“PING”  pintu lift lantai 60 terbuka, Gun Wook berjalan keluar dari lift. Ia mengacingkan dan merapikan jasnya kemudian berjalan menuju pintu di ujung lorong sebelah kirinya. Langkahnya tegap dengan kedua tangan terkepal keras. “tap…tap..” ia berhenti tepat di depan pintu ruang Direktur. Gun Wook menghela napas panjang sebelum ia akhirnya mengetuk pintu.

“tok..tok…” suara pintu Ruang Direktur diketuk.

“masuk…” jawab Tuan Lee yang sedang duduk sendirian di ruangannya.

“krieet..blaam..” Gun Wook membuka pintu Ruang Direktur dan menutupnya pelan-pelan.
Gun Wook menundukkan kepalanya memberi hormat.

- 11:46 AM, Seoul-
“KENAPA KITA BISA KECOLONGAN SEPERTI INI HAH??” bentak Gi Hoon yang sedang menelpon dengan ponselnya di dalam jaguar hitamnya yang dikemudikan supir.

“AKU SUDAH KATAKAN PADAMU UNTUK MEMERIKSA SEGALA SESUATUNYA!!” bentak Gi Hoon. Ia pun menutup teleponnya dan membantingnya. “AAARGH..SIAL..SIAL…” seru Gi Hoon.

 - 11:47 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
Gun Wook mengangkat kepalanya dan menatap Tuan Lee yang duduk di hadapannya. Tuan Lee terdiam menatap Gun Wook. “Direktur memanggil saya?” tanya Gun Wook.

“ah iya..silahkan duduk Shim Gun Wook-ssi..” ujar Tuan Lee. Gun Wook pun duduk  di sofa hitam berhadapan dengan Lee Seong Gi.

“aku memanggilmu ke sini untuk secara pribadi mengucapkan terima kasih padamu karena sudah menolong putriku waktu itu…akan selalu kuingat budi baikmu seumur hidupku…” kata Tuan Lee.

“sama-sama Direktur..” jawab Gun Wook.

“hmm..sebelumnya apa aku pernah bertemu denganmu?sepertinya kau nampak familiar…mungkin salah satu anggota keluargamu adalah temanku?” tanya Tuan Lee.

Gun Wook pun menggelengkan kepala “tidak Direktur…ini untuk pertama kalinya saya bertemu dengan anda…”

Tuan Lee mengambil map dari meja di depannya “oh begitu..aku kira kita pernah bertemu sebelumnya…kalau begitu aku langsung ke topic pembicaraan saja…aku sudah membaca latar belakang pendidikanmu dan sepertinya kau hari ini ikut berperan dalam rencana putriku untuk menjaga pangsa pasar Tae Wang di Asia..apa kau berhasil?”

Gun Wook menyerahkan sebuah map biru “kali ini Tae Wang terpaksa harus kehilangan Vietnam, Kamboja, dan Myanmar…”

Tuan Lee menerima map itu dan membacanya  kemudian menutupnya.  “dari sini aku dapat menilai kau mempunyai kemampuan negosiasi dan kecerdikan di samping kecerdasanmu…tapi hanya ada satu yang belum bisa kupastikan…”
Gun Wook pun hanya diam memperhatikan.

“apakah kau bisa aku percaya untuk perkara yang lebi besar?” tanya Tuan Lee.

- 11:58 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“PING” Lift lantai 60 terbuka, Yo Won dan Yuri berjalan keluar dari lift.

“begitu nanti selesai makan siang, tolong hubungkan aku dengan Presiden Mohammad Ali Mahmed, aku ingin berterima kasih padanya atas pengertian OPEC kali ini..” ujar Yo Won.

“baik Wakil Direktur…” jawab Yuri.

“permisi…” gumam Gun Wook yang berjalan dengan tergesa-gesa, berpapasan dengan Yuri dan Yo Won lalu masuk ke dalam lift yang hampir menutup.

“kenapa dengan orang itu?” komentar Yuri.

Yo Won menoleh menatap pintu lift yang tertutup.

“Wakil Direktur?” panggil Yuri.

“ah iya…” Yo Won kembali menghadap ke depan dan berjalan menuju Ruang Direktur.

 “hmm..sebelumnya apa aku pernah bertemu denganmu?sepertinya kau nampak familiar…mungkinkah salah satu anggota keluargamu adalah temanku?”  Kilas balik percakapannya tadi dengan Lee Seong Gi muncul kembali.

“BANG” Gun Wook meninju dinding lift dengan tangan kanannya.

“pelan-pelan akan kubuat kau mengingat siapa diriku…” ujar Gun Wook dengan senyum tertahan

“PING” lift lantai 58 terbuka, Gun Wook pun berjalan keluar.

- 12:01 PM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“benarkah?Shim Gun Wook-ssi berhasil menjaga kontrak kita dengan negara-negara itu?” tanya Yo Won dengan wajah tidak percaya. Tuan Lee tersenyum mengangguk.

“terima kasih Tuhan…” gumam Yo Won tersenyum bahagia.

Tuan Lee pun ikut tersenyum melihat senyum putrinya “oleh karena itu aku memberinya jabatan baru..” 

Kebingungan pun terlukis di wajah Yo Won “jabatan baru?”

- 12:05 PM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“PING” Gun Wook keluar dari lift bersamaan dengan karyawan-karyawan yang lain. Lantai Dasar Tae Wang Petroleum Emporium Tower pun padat dengan karyawan-karyawan yang ingin pergi makan siang kel luar.

tiba-tiba ada tangan yang merangkul lengan Gun Wook “oppa!”

Gun Wook pun menoleh ke samping kanannya. Hong Mo Ne sudah berdiri di sampingnya tersenyum manis padanya.
Gun Wook  pun mau tidak mau pun membalas senyumnya “Nona Hong…”

“apa oppa akan pergi makan siang di luar?makan siang dimana?aku ingin ikut..” ujar Mo Ne sambil menggandeng tangan kanan Gun Wook. Gun Wook hanya bisa menghela napas panjang dan  mengangguk.

- 12:57 PM, Seoul-
Yuri dan Soo Hyun berjalan berdampingan menyebrangi jalan sambil bergandengan tangan.

“lalu bagaimana dengan kelanjutannya?apakah kau berhasil melobi Presiden OPEC itu?” tanya Soo Hyun. Yuri pun hanya diam dan menundukkan kepalanya.

Soo Hyun pun menjadi khawatir “Yuri?semuanya baik-baik saja kan?”

Tiba-tiba Yuri mendongak dan mengacungkan tanda victory sambil tersenyum puas “sukses!” serunya. Soo Hyun pun menghela napas lega dan tertawa melihat jawaban kekasihnya itu.

“pertamanya aku juga agak takut kalau akan gagal..tapi untunglah Mr. Ali Mahmed menjawab dengan baik teleconferenceku tadi…” jawab Yuri.

“kalau begitu setelah aku menjemputmu kita akan merayakannya…” ujar Soo Hyun.

Yuri pun tersenyum mengangguk. “tapi sebenarnya ada hal yang mengganjal…”

“ada hal yang mengganjal?apa itu?” tanya Soo Hyun.

“Hyun tahu kan pria yang bersama dengan Wakil Direktur waktu turun dari helikopter waktu itu?” tanya Yuri.

Soo Hyun pun berusaha mengingat-ingat “oh..pria itu…aku hanya melihatnya sekilas..tapi kenapa dengannya?”

“ia baru saja diangkat menjadi  asisten kedua oleh Direktur Lee..ia yang bertugas membantu Wakil Direktur mengawasi produksi,riset serta lapangan…” ujar Yuri.

“lalu apa kau ada masalah apa dengannya?” tanya Soo Hyun.

“aku pun juga tidak tahu…hanya saja aku merasa kami tidak akan mejadi rekan sekerja yang baik…tadi saja ia membuatku kesal…manusia yang bertampang dingin satu gedung Tae Wang..untung saja aku tidak satu ruangan dengannya..” celoteh Yuri.

Soo Hyun pun tersenyum dan merangkul kekasihnya itu “mungkin karena ia orang baru jadi kau menganggapnya begitu…”

“mungkin…” jawab Yuri.

“tapi jika ia ternyata benar-benar menyebalkan dan menyakitimu…katakan padaku…aku yang akan memberinya pelajaran..” ujar Soo Hyun.

 Yuri pun tertawa mendengarnya “setelah ini Hyun akan kemana?apakah akan meliput berita di Blue House lagi?”

Soo Hyun pun menggelengkan kepalanya “tidak setelah ini, aku akan pergi ke Heritage Club…”

“Heritage Club?bukankah di sana pers atau wartawan dilarang masuk?” tanya Yuri.

Kedua bahu Soo Hyun terangkat “anggota parlemen yang ingin kuwawancarai inginnya bertemu di sana..jadi mereka tak bisa melarangku masuk kali ini…”Yuri pun tersenyum.

“nah sudah sampai… “ ujar Soo Hyun. Langkah kaki mereka berdua pun berhenti tepat di atas trotoar di depan Tae Wang Petroleum Corp. Tower.

“aku akan menjemputmu tepat jam 5..” kata Soo Hyun.

Yuri pun tersenyum mengangguk “hati-hati yaa…”

Soo Hyun pun tersenyum lalu mengecup kening kekasihnya itu “kau juga harus jaga dirimu…”

“ya..” jawab Yuri.

Soo Hyun pun melepaskan jemarinya dari genggaman Yuri  “kalau begitu sampai nanti…”

Yuri pun melambaikan tangannya “sampai nanti…” Kim Soo Hyun membalas lambaiannya lalu membalikkan badannya dan kembali berjalan.

“hmm..” Yuri menghela napas panjang dan membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu lobby. “semangat!”

 - 05:45 PM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“bruuuk…” Gun Wook memindahkan sebuah kotak coklat ke atas meja dalam ruangan yang akan menjadi ruang kerjanya besok pagi.  Ruangannya memang tidak sebesar dengan ruangan divisinya, tapi bisa dikatakan cukup besar jika hanya digunakan dirinya seorang diri. Awalnya ruangan ini adalah ruangan yang digunakan untuk rapat dengan para anggota Dewan Direksi tapi akhirnya ini menjadi ruang perpustakaan kecil milik Direktur dan kemudian dibagi dua untuk dijadikan ruangan untuk Gun Wook sekarang. Gun Wook menatap setiap sudut ruang kerjanya. Senyum puas terukir di wajahnya.

- 05:57 PM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“blaam..” Yo Won menutup dan mengunci ruang kerjanya dan berjalan menuju lift sambil membawa tas kerjanya  dan beberapa dokumen yang harus diperiksanya. 

“PING” Lift di hadapannya membuka, Yo Won pun masuk ke dalamnya. “pip..” ia menekan tombol G, pintu lift pun bergerak menutup namun tiba-tiba membuka kembali

“Shim Gun Wook-ssi..” gumam Yo Won. Gun Wook pun memberi hormat dan berjalan masuk ke dalam lift. Ia berdiri di pojok kanan lift sementara Yo Won berada di sisi kiri.

“lho?kok tidak mau menutup?” gumam Yo Won 

Rupanya lift tidak mau menutup karena tombol tujuan belum ditekan, Gun Wook dan Yo Won bersamaan maju ke depan panel tombol dan menekan tombol G bersamaan. Yo Won bisa merasakan hembusan nafas Gun Wook  dari belakangnya dan melihat tatapan Gun Wook yang terhadapnya terpantul di dinding lift di hadapannya.  Membuat jantungnya berdebar keras dan dirinya menjadi kikuk. Sama seperti dengan yang dirasakannya sewaktu mereka berada di atas kapal.

 “pip” lift pun menutup dan meluncur ke bawah.

Gun Wook dan Yo Won pun kembali berdiri ke posisinya semula.“apakah kau merasa nyaman dengan ruangan barumu Shin Gun Wook-ssi?” tanya Yo Won yang masih agak kikuk.

“ya Wakil Direktur…” jawab Gun Wook.

“untung saja hari ini semuanya berjalan dengan baik…” ujar Yo Won sambil tersenyum pada Gun Wook.

Gun Wook pun ikut tersenyum “saya pun ikut senang Wakil Direktur…”

“PING” lift pun tiba di lantai dasar. Mereka berdua berjalan sampai ke lobby, dimana Hyundai Equuz hitam sudah menanti Yo Won.

“sampai besok Shim Gun Wook-ssi..” ujar Yo Won sebelum masuk ke dalam mobilnya.

Gun Wook mengangguk “selamat jalan Wakil Direktur”
Hyundai Equuz hitam pun melaju meninggalkan lobby. Gun Wook pun berjalan ke arah yang berlawanan, ke tempat dimana motor sport hitamnya menanti.

-09:30 PM , Heritage Club, Seoul –
“APA YANG BISA KAU LAKUKAN SELAIN BERMAIN WANITA DAN MENGHAMBUR-HAMBURKAN UANG HAH?!!” bentak Tuan Hong sebelum akhirnya ia menampar pipi putranya itu. Sebuah tamparan yang meninggalkan bekas luka di bibirnya sampai sekarang.

“PRAANG!!”  Gi Hoon meremukkan gelas yang dipegangnya dan membantingnya. Terlintas dalam benaknya wajah Yo Won yang tersenyum penuh kemenangan. “ SIALAN!” serunya sambil berdiri

“braak..” seorang wanita berlari  masuk ke dalam ruangan. “Gi Hoon-ssi!apa yang terjadi?” ujarnya khawatir. Wanita itu pun terkejut melihat tangan kanan Gi Hoon yang berdarah. “tanganmu terluka…”   
Samar-samar Gi Hoon melihat bayangan wajah Yo Won dalam diri wanita yang mengkhawatirkannya itu, Jang Se Jin, kurator lukisan di Heritage Club, bawahan ibunnya.  Gi Hoon pun menggelengkan kepalanya, memastikan alam sadarnya tetap berada di tempatnya.  Tapi rupanya alcohol sudah mengalir kuat dalam darahnya

“Gi Hoon-ssi kau baik-baik saja kan?ada masalah apa?mungkin aku bisa membantumu?” ujar Jang Se Jin  seraya mengusap wajah Gi Hoon.

“aku menginginkanmu…” gumam Gi Hoon kemudian menarik wanita dan mendorongnya jatuh ke sofa dan mencium bibirnya sambil menahan kedua tangannya. “aku ingin kau jadi milikku..” bisik Gi Hoon di telinga Jang Se Jin. 
Wajah Jang Se Jin pun memerah “Gi..Gi Hoon-ssi…”  

Tanpa menunggu lama, Gi Hoon pun  menciumnya dan menciumnya lagi, membuatnya  takluk padanya sebelum mulai melucuti pakaiannya. “aku bersumpah kau akan menjadi milikku Lee Yo Won…dan akan membalas semua perbuatanmu padaku..” pikirnya.

-  09:35 PM Kediaman Keluarga Lee, Seocho-gu, Seoul -

“ayah, ini minumnya…” Yo Won duduk di samping tempat tidur ayahnya dan menyerahkan segelas air putih pada Tuan Lee yang baru saja menelan beberapa butir obat . Tuan Lee pun segera meminumnya hingga habis.

“setelah ayah pulang semuanya baik-baik saja kan?” tanya Tuan Lee.

Yo Won tersenyum mengangguk.Tuan Lee mengusap wajah putrinya itu “hmm..syukurlah…ayah ingin segera kembali ke kantor begitu ayah diizinkan dokter…ayah sudah menimpakan banyak masalah padamu…”

“jangan bicara begitu ayah…aku sangat senang jika bisa meringankan beban pekerjaan ayah…” ujar Yo Won seraya menggenggam tangan ayahnya.

“ayah harap dengan adanya Shim Gun Wook-ssi, ia bisa membantumu memegang produksi dan riset di samping Nona Yuri yang sudah membantumu…”

Yo Won mengangguk “kami akan bekerja keras ayah..”

“sebenarnya ayah masih menyimpan rasa penasaran pada dirinya…sepertinya ayah pernah bertemu dengannya  atau melihatnya entah kapan dan dimana..tapi ia bilang tidak..” ujar Tuan Lee.

Mendengar itu, pikiran Yo Won pun melayang pada kejadian yang dialaminya tadi di lift. Tatapan Gun Wook padanya terlintas dalam benaknya. Tatapan yang membuat jantungnya berdebar keras.

“Yo Won..Yo Won..” panggil Tuan Lee.

Yo Won pun tersadar dari lamunannya “ah iya ayah…”

“ayah hampir saja lupa untuk memberitahukanmu besok kita diundang makan malam oleh  dr. Ahn dan keluarganya..ayah harap besok kau jangan pulang terlambat..” ujar Tuan Lee.

Yo Won mengangguk “baik ayah...”

-  11:12 PM Geumcheon-gu, Seoul –
Seorang pria menggandeng putranya yang masih berusia 6 tahun “Seong Gi, kenalkan ini putraku…”

Gun Wook kecil melihat pria itu tersenyum padanya dan membungkuk  di dekat telinganya “aku akan membunuh ayah dan ibumu, nak..”  bisik pria itu di telinganya.

Gun Wook pun segera terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah. Ia menatap sekelilingnya.“itu hanya mimpi..” pikirnya.

Ia bangun dari kursi malas tempat dirinya tadi tertidur dan berjalan menuju kamar mandi.“splash..” Gun Wook membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari kran wastafel di kamar mandinya. Ia merendam wajahnya dalam air wastafel.

Seorang pria menggandeng putranya yang masih berusia 6 tahun “Seong Gi, kenalkan ini putraku…”
Lee Seong Gi yang masih muda, pun tersenyum pada anak sahabat yang sudah lama tidak dijumpainya itu  “siapa namamu nak?”

Anak kecil itu menatap orang asing yang dikenalkan ayahnya itu sebentar sebelum ia membungkukkan badannya memperkenalkan diri “salam kenal paman, namaku…”

“splaash..” Gun Wook mengangkat wajahnya dari dalam air. “namaku Shim Gun Wook dan aku akan membuatmu mengingat siapa diriku..membayar semua kepercayaanmu sama seperti kau membayar kepercayaan ayahku padamu…”
Lalu dengan handuk tergantung di leher, Gun Wook berjalan keluar dari kamar mandi kembali ke ruang kerjanya yang tersembunyi di balik dinding.  Ia mengambil ponselnya yang tertinggal di atas meja.

“sraat..” selembar foto terjatuh dari papan tulis tempat Gun Wook menempelkan semua foto targetnya. Gun Wook mengambil foto itu. Foto Lee Yo Won yang sedang tersenyum memberikan kado kepada seorang anak negro. Senyum yang sama yang  ditunjukkan untuknya. Senyum yang tulus tanpa maksud apapun. Alih-alih Gun Wook menempelkannya di tempat semula berdampingan dengan foto Tuan Lee,ia menempelkannya di sisi papan yang masih kosong, menatapnya sejenak sebelum kemudian mematikan lampu ruang kerjanya  dan berjalan keluar.


The Hidden Wounds Chapter 11!Coming Soon!




P.S: I don't own this picture. It's just a fanfic :)

Minggu, 19 Juni 2011

The Hidden Wounds Chapter 10: Hurricane

genre: angst,romance, mystery 

Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun
- Jo Hyun Jae as dr. Ahn Jong Geun

I didn't own the characters. It's just a fanfiction :)
**********************************************************************************

- May 10th 2009,  10:25 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
Dalam balutan dress kerjanya yang berwarna hitam, Yo Won berjalan diikuti Yuri menuju ruang rapat. Di dalam ruangan sudah menanti GM Jun Noh Min dan seorang pria lain yang Yo Won kenali sebagai Manager Divisi Personalia. Mereka berdua menyambut Yo Won dengan hormat.

“selamat pagi GM Jun dan Manager Im.” Sapa Yo Won seraya meletakkan berkas-berkasnya di atas meja.

“pada rapat kali ini, aku ingin membahas mengenai siapa yang akan mengisi jabatan Manager Dvisi Produksi berikutnya…kita tidak bisa membiarkan posisi ini kosong terlalu lama…”

GM Jun mengangguk “saya mengerti Wakil Direktur..saya dan Manager Im sudah mempertimbangkan siapa calon yang cocok itu….dari segi pengalaman dan latar belakang pendidikan serta rekomendasi dari Dewan Direksi…”  Ia pun menyerahkan sebuah map berwarna biru kepada Yo Won.

Yo Won menerima dan segera membaca isinya. “sebenarnya aku juga memiliki calon untuk posisi ini…dan aku ingin mengajukkannya kepada kalian…”

GM Jun dan Manager Im sempat bertukar pandang sebentar sebelum GM Jun bertanya “siapa calon yang Wakil Direktur pilih?”

Yo Won pun menyerahkan map yang tadi dibawanya kepada GM Jun. “aku tahu ia masih baru di sini..tapi dengan latar belakang pendidikan dan pengalamannya di lapangan serta kontribusinya di sini kurasa ia cocok untuk berada di posisi itu..”  

-   10:30 AM San Hao Group Building, Seoul-
“tok..tok..” terdengar suara pintu Ruang Direktur diketuk .

“masuk..” jawab Tuan Hong yang sedang memperhatikan layar TV yang terpasang di dinding.

“klak..” pintu pun terbuka, Gi Hoon berjalan masuk dan memberi hormat pada ayahnya. Tuan Hong menunjuk layar TV di hadapannya, Gi Hoon pun melihat apa yang ditunjuk ayahnya.

“Katrina Hurricane Attacked U.S” Gi Hoon membaca headline yang tertulis di layar TV. Dilihatnya gambar-gambar rumah-rumah yang hancur dan terendam air hingga setinggi atap.

“ini akan menjadi kesempatan emas bagi kita…” kata Tuan Hong yang nampak santai menonton berita di TV. Ia pun menunjuk layar TV “lihat gambar itu..”

Gi Hoon pun melihat apa yang ditunjuk ayahnya “maksud ayah, ayah ingin memanfaatkan lumpuhnya Kilang Tae Wang di
Amerika?”

“tentu saja…kita harus memanfaatkan ini sebaik-baiknya...untuk beberapa bulan ke depan, kita bisa merebut pangsa pasar Tae Wang di wilayah Asia…” Tuan Hong pun menoleh,menatap putranya “tapi kita harus melakukan dua serangan telak untuk itu…dan itu menjadi tugasmu untuk menghancurkan Tae Wang dari dalam…”

Gi Hoon pun tersenyum “tentu saja ayah…aku pasti melakukannya..”

 - 11:35 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
GM Jun bangun dari tempat duduknya diikuti Manager Im “kami harap Wakil Direktur mempertimbangkan lagi mengenai  ini…situasi internal sekarang sudah memanas…saya berharap Wakil Direktur bisa memahami situasi ini dan dengan bijak membuat keputusan secepatnya…” kemudian mereka membungkukkan badan dan berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan Yo Won yang masih duduk di tempatnya dan Yuri.

“Nona Yuri, menurutmu jika aku tetap berpegang teguh apakah Dewan Direksi akan menentangku?” tanya Yo Won.

“saya rasa iya…calon yang Wakil Direktur inginkan pastinya akan dipandang sebelah mata oleh para anggota Dewan yang memegang calon yang lebih senior dan tentu saja yang bisa mereka kontrol…akan tetapi jika boleh sebenarnya  saya ingin menanyakan sesuatu pada Wakil Direktur …”

Yo Won pun menoleh “apa itu?”

Yuri pun mengambil kursi dan duduk di sebelah Yo Won “sebenarnya saya sendiri juga terkejut dengan calon pilihan Wakil Direktur…jika saya lihat dari latar belakang pendidikan dan pengalamannya sebelum masuk ke Tae Wang sangatlah mendukung..namun saya merasa apakah pengangkatannya tidak terlalu cepat? tidak semua karyawan memiliki pola pikir yang sama dengan Wakil Direktur…maksud saya, lebih baik orang ini tetap berada di posisinya untuk beradaptasi dengan  kultur  Tae Wang, jika ia memang berpotensi, cepat atau lambat karirnya di sini pasti akan bersinar dan menanjak…baik karyawan yang senior, junior, maupun para manager tentu tidak bisa berkilah untuk tidak mendukungnya…”

Yo Won mengangguk mendengarkan.

“dan lagipula calon yang diajukkan GM Jun, saya rasa orangnya cukup baik, latar belakang pendidikannya bagus, pengalamannya cukup banyak, dipandang senior oleh para karyawan meskipun yah mungkin terlihat dekat pada Dewan Direksi tapi dengan kecerdasan Wakil Direktur saya rasa Wakil Direktur bisa mengontrol orang tersebut…”

Yo Won pun terdiam, memahami setiap pendapat Yuri dan mengangguk  “kurasa seharusnya aku sendiri juga bekerja sebagai staff dulu sebelum menduduki posisi ini…”

Yuri pun melambai-lambaikan kedua tangannya “ah..Wakil Direktur bukan maksud saya untuk menyinggung…maafkan saya…” kemudian ia bangun dari kursinya dan membungkukkan badannya meminta maaf.

Yo Won pun menoleh sambil tersenyum “justru aku seharusnya berterima kasih padamu karena telah mengingatkanku bahwa aku tak bisa menggunakan cara yang sama seperti saat aku berada di luar untuk menjalankan perusahaan ini…aku hampir saja melupakan itu…”

Yuri menghela napas lega “syukurlah…Wakil Direktur dapat memahaminya…”

Yo Won kembali menatap map di hadapannya “kuharap keputusan yang kupilih sekarang akan membawa kemajuan bagi perusahaan ini…”

“tok..tok..” terdengar suara ketukan pintu dari luar.

Yuri dan Yo Won pun menoleh. “masuklah…” kata Yo Won.

GM Jun membuka pintu ruang rapat dan memberi hormat. “Wakil Direktur harap segera melihat berita di televisi sekarang…” katanya dengan terburu-buru.

Yuri pun segera mengambil remote televisi  dan menyalakan LCD TV yang terpasang di dinding ruang rapat.

“Katrina Hurricane Attacked U.S, Crude Oil Price Rise and Rise Again.”  Judul headline berita yang terpampang di layar televisi. Cuplikan gambar-gambar kondisi di tempat terjadinya bencana pun ditayangkan. Rumah-rumah yang tenggelam karena banjir, orang-orang yang mengungsi, dan cuplikan gambar kilang-kilang minyak yang porak-poranda.
Yo Won dan Yuri melihatnya dengan tatapan terkejut. “Ya Tuhan…” gumam Yo Won sambil menutup mulutnya dengan tangan.

“Wakil Direktur... kabar terburuknya…salah satu kilang besaar Tae Wang yang di U.S ikut terkena musibah ini…pasar kita di Asia mulai khawatir akan kemampuan supply Tae Wang untuk memenuhi permintaan mereka…” ujar GM Jun.

“segera adakan rapat dengan para Manager Divisi..” jawab Yo Won yang masih menatap layar TV.

“baik Wakil Direktur..akan tetapi untuk Divisi Produksi siapa yang akan menjadi managernya?” tanya GM Jun.

“aku sudah memilih Ha Yong Choon-ssi untuk posisi itu..” jawab Yo Won.

 GM Jun memberi hormat “baik Wakil Direktur…” kemudian ia berjalan keluar dari ruangan. Ada senyum tipis terlukis di wajahnya.

- 11:45 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“BLAAM..” terdengar suara pintu ruang Divisi Produksi terbuka dan tertutup.

“ada berita gawat!!” seru rekan kerja Gun Wook yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Rekan kerjanya yang bernama Go Do.

Gun Wook yang sedang  memfotocopy berkas pun menoleh.

“berita apa?” tanya rekan kerja Gun Wook yang lain.

“Kilang Minyak Tae Wang di Amerika terkena Badai Katrina!para Manager sedang membahas masalah ini!” jawab Go Do.

“lalu siapa yang mewakili Divisi Produksi?apakah ada manager baru sudah terpilih?apakah ia salah satu dari kita?” tanya yang lain.

“sudah..tapi bukan kita…Wakil Direktur menunjuk Ha Yong Choon-ssi dari Divisi Riset dan Pengembangan…”
Satu ruangan divisi pun kisruh dengan terpilihnya manager baru mereka.

Mendengar itu, Gun Wook hanya menggenggam erat berkas tebal di tangannya dengan keras dalam diam.

- 07:35 PM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“ctak..” Gun Wook menekan tombol enter keyboard komputernya. “rtt..rrtt..” printer yang berada tak jauh darinya pun berbunyi dan mulai menelan satu per satu kertas putih dan mengeluarkannya dalam kondisi penuh dengan tulisan disertai gambar grafik.

Gun Wook mengambil kertas-kertas tersebut kemudian menyusunnya dengan rapi dan mejepitnya dengan paper clip.

“LAPORAN PRODUKSI DAN CADANGAN MINYAK TAE WANG” tercetak di lembar kertas yang paling atas.
Ia pun mematikan komputernya kemudian mengambil jas dan tasnya, lalu mematikan lampu ruangan sebelum ia berjalan keluar. Lantai 58 sudah kosong. Tidak ada lagi karyawan yang bekerja hilir mudik, hanya dua pria paruh baya petugas cleaning service saja yang sibuk berjalan keliling dengan lap dan vacuum cleaner di tangannya.

“drrt..drrt..”ponsel di saku Gun Wook bergetar.  Gun Wook pun menghentikan langkahnya, mengambil dan melihat ponselnya. “Hong Mo Ne is calling…” Ini untuk keenam kalinya Nona Hong itu menelpon dan mengirimkan email  kepadanya sejak sore tadi untuk mengajaknya makan malam dan sudah lima kali Gun Wook tidak menggubris itu semua. Dan Gun Wook akan membiarkannya lagi kali ini.

“Selamat Malam Wakil Direktur…” sapa seorang petugas  cleaning service.

Yo Won yang sedang membawa berkas-berkas dengan kedua tangannya pun menghentikan langkahnya dan menyapa “selamat malam juga..” Ia pun kembali berjalan menuju Ruang Berkas yang ada di ujung lorong  dan masuk ke dalamnya.

“ia masih di sini?” pikir Gun Wook yang melihatnya.

- 07:40 PM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“bruuk..” Yo Won menaruh berkas-berkas yang baru saja diambilnya ke atas meja.  Ia pun duduk dan mulai membuka berkas-berkas itu.

“ini data 2006 dan 2007…lalu yang 2008..” Yo Won membuka berkas-berkasnya satu persatu dengan cepat.

Ia pun bangun dari duduknya untuk mencari berkas yang lain dari rak. Tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang dan berbayang menjadi dua.

“krieet..”bangkunya terdorong ke belakang dan hampir saja Yo Won jatuh  jika tidak ada orang yang menahannya.
Kedua mata mereka pun beradu pandang. “Shim Gun Wook-ssi..” gumamnya.

Gun Wook hanya menghela napas panjang dan memapah Yo Won untuk berdiri.

“terima kasih Shim Gun Wook-ssi…” ujar Yo Won

“apa Wakil Direktur baik-baik saja?” tanya Gun Wook dengan wajah khawatir.

Yo Won pun tersenyum “ya aku baik-baik saja…ngomong-ngomong apa yang sedang kau lakukan di sini?”

“aku hanya ingin mengembalikan ini..” jawab Gun Wook seraya menunjukkan sebuah berkas.

“ah ini data 2008 yang aku cari sejak tadi…” ujar Yo Won senang begitu melihat apa yang dipegang Gun Wook.

Gun Wook pun  mengambil lagi berkas yang dipegangnya “besok pagi baru akan kuberikan..”

“eh..” Yo Won pun terkejut begitu berkas itu ditarik dari tangannya.

“Wakil Direktur harus pulang dan beristirahat…” ujar Gun Wook.

“tidak…tidak bisa aku ingin menyelesaikan pekerjaanku sekarang…berikan padaku..” kata  Yo Won.

“tak akan kuberikan..” jawab Gun Wook.

Yo Won pun berusaha mengambil berkas itu dari tangan Gun Wook. Namun Gun Wook berhasil menahan tangannya kemudian menarik tangannya sehingga Yo Won sekarang berdiri di depannya. Mereka berdua berdiri di dinding yang terbuat dari kaca.

“bagaimana seseorang bisa memimpin perusahaan ini jika tidak bisa menjaga kesehatan dirinya sendiri…”  ujar Gun Wook.

Yo Won melihat dengan matanya sendiri, wajahnya yang memucat dan nampak begitu lelah terpantul di dinding itu “ya aku tahu…”

 Gun Wook pun mulai melepaskan genggamannya. Yo Won pun kembali ke mejanya dan mulai merapikan berkas-berkas itu, tapi sebelum itu dibawa olehnya, Gun Wook sudah membawanya lebih dulu. Yo Won hanya menghela napas kemudian berjalan menuju pintu.

- 07:50 PM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“PING” pintu lift terbuka, Yo Won dan Gun Wook pun masuk ke dalam. Yo Won menekan tombol G dan lift pun menutup.
Mereka pun berdiri dalam diam sampai akhirnya Yo Won memulai pembicaraan.

“aku belum sempat berterima kasih padamu atas pertolonganmu saat kita berada di atas kapal waktu itu dan membalas semuanya..maafkan aku dan terima kasih…” Yo Won pun menundukkan kepalanya.

Gun Wook hanya bersandar pada dinding lift dan menghela napas “seorang pemimpin tidak boleh dengan mudahnya mengucapkan kata maaf dan terima kasih pada bawahannya..”

Yo Won pun tersenyum dan menggeleng “aku berterima kasih padamu karena aku Lee Yo Won..Shim Gun Wook-ssi…”

Gun Wook pun menoleh dan menatap Yo Won “kalau Lee Yo Won-ssi ingin berterima kasih, maka ia harus menjaga kesehatannya baik-baik…”.

“PING” Lift pun terbuka, mereka pun berjalan menuju lobby.
Hyundai  Equuz hitam sudah menanti di depan. Supir Jo segera  membukakan pintu untuk Yo Won.

Yo Won pun mengambil berkas-berkas yang ada di tangan Gun Wook “terima kasih karena telah membawakannya…”    ujarnya sambil tersenyum.

“sama-sama Wakil Direktur…” jawab Gun Wook.

Yo Won pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan lobby. Gun Wook pun segera berjalan menuju tempat parkir, tempat dimana motornya berada.

Sementara itu dari kejauahan, Hong Mo Ne memperhatikan itu semua sambil memegang setir mobilnya erat-erat.“oppa…jadi karena inikah kau tidak membalas teleponku?” gumamnya dengan mata berkaca-kaca.

-  10:25 PM, Kediaman Keluarga Lee,  Seocho-gu, Seoul –
“srak..srak…”di atas meja kerjanya, Yo Won membuka satu per satu lembar berkas dan kemudian mencatatnya dalam kertas lain.  Sesudah semua berkas selesai dibacanya, Ia membaca ulang semua yang sudah dicatatnya.

“jika data-data ini benar maka aku bisa melakukan ini untuk menjaga pangsa pasar di Asia…” pikir Yo Won.  “dan sekarang yang harus kulakukan adalah membuat slide untuk rapat besok…” katanya  sambil meregangkan badannya,
kemudian ia bangun dari duduknya untuk mengambil laptop miliknya yang masih tersimpan dalam tas kerjanya.

Namun sebelum ia mengambilnya, langkahnya sudah terhenti begitu ia berdiri di depan cermin besar yang ada di dalam kamarnya. Meskipun dirinya sudah mencuci mukanya, tetap saja kelelahan tidak bisa disembunyikan oleh raut wajahnya
Ia pun melihat sosok GunWook berdiri di belakangnya

“bagaimana seseorang bisa memimpin perusahaan ini jika tidak bisa menjaga kesehatan dirinya sendiri…”  ujar Gun Wook.

Yo Won pun tersenyum “ya aku tahu itu…terima kasih Gun Wook-ssi sudah mengingatkanku..tapi aku harus menyelesaikan ini sebentar, sebelum aku pergi tidur…”   kemudian membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan cermin.

-  11:00 PM Geumcheon-gu, Seoul -
“slurp…” Gun Wook berbaring di kursi malasnya sambil menegak vodka dari gelasnya.

 “drrt..drrt..” ponselnya yang tergeletak di atas meja, bergetar. Gun Wook pun mengambilnya dan  mengangkatnya.

“aku sudah menyelidiki hal yang kau minta…saat ini Hong Myung Hwan masih berada di Vietnam..dari sumber yang kupunya pihak Vietnam besok akan menandatangani kontrak secara diam-diam dengan San Hao Group dan akan segera mengumumkannya begitu mereka memutuskan kontrak perjanjian dengan Tae Wang…” ujar lawan bicaranya itu.

“lalu setelah ini dia akan kemana?” tanya Gun Wook

“Thailand, Kamboja, Myanmar,Filipina, Indonesia…ia akan membidik negara-negara kawasan Indocina yang mejadi lahan industri produksi barang-barang…negara-negara yang akan segera panik jika tahu pasokan minyak untuk mereka terngganggu…oh ya nomor-nomor telepon orang dalam kementerian yang kuminta sudah kukirim daftar via email..untuk hal ini kau harus membayarnya dua kali lipat dari biasanya…”

Gun Wook pun merebahkan dirinya “hmm..baiklah pembayarannya akan kutransfer seperti biasa…”

“aku penasaran untuk apa kau memintaku untuk menyelidiki ini…bukankah kau seharusnya bersyukur karena ini berarti kejatuhan Tae Wang akan semakin cepat…apa kau sudah berubah pikiran?oh ya kudengar Manager Divisi Produksi yang baru sudah diangkat..sayang sekali itu bukan dirimu…” ejek lawan bicara Gun Wook.

Gun Wook pun mendengus “itu bukan urusanmu” lalu mematikan ponselnya

Ia kembali berbaring di atas kursi malasnya dan menegak vodkanya. “aku membantunya?” gumamnya seraya memandang gelas vodkanya.

Terngiang dalam benaknya senyum Yo Won padanya saat di lift tadi “aku berterima kasih padamu karena aku Lee Yo Won..Shim Gun Wook-ssi…”

Gun Wook pun tertawa kecil “hmph..konyol…”

- May 11th 2009,  08:15 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“Director of San Hao Group met Minister of Natural Resources and Environment Vietnam” Yo Won menonton cuplikan berita di ruangannya ditemani Yuri yang berdiri di sampingnya.

“tok..tok..” pintu ruang Direktur diketuk.

“masuk..” jawab Yo Won.

Gun Wook pun membuka pintunya dan memberi hormat. “ini berkas data tahun 2008..” kata Gun Wook sambil menyerahkan sebuah map coklat.

“terima kasih..” Yo Won pun menerimanya  dan kembali  fokus ke berita yang ditayangkan di TV.
Gun Wook ikut melihat apa yang dilihat Yo Won.

“sepertinya San Hao Group sudah melakukan gerak cepat..mereka memanfaatkan kesempatan di saat kilang Tae Wang terkena bencana…dasar licik…” ujar Yuri.

“tapi begitulah dunia bisnis Nona…siapa yang mampu memanfaatkan kesempatan akan menjadi pemenangnya…” sahut Gun Wook.

Yuri pun menoleh dan menatap Gun Wook dengan tatapan setengah jengkel.

Yo Won membuka map yang diberikan Gun Wook padanya dan membacanya sebentar sebelum ia menutupnya “oleh karena itu..kita harus membuat langkah cepat…jangan sampai kita kecurian lagi…tapi sebelum aku mengeluarkan  aku ingin memastikan satu hal ini denganmu Nona Yuri..”

Ia pun juga menatap Gun Wook yang berada di di hadapannya “dan aku juga ingin memastikan hal itu denganmu Shim Gun Wook-ssi…aku membutuhkan bantuan kalian berdua…”

- 10:00 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“braak..” Yuri membuka pintu ruang rapat, Yo Won pun melangkah masuk. Para anggota Dewan Direksi berdiri dan memberi hormat padanya terkecuali Hong Gi Hoon yang hadir di sana. Ia tetap duduk dan tersenyum tipis pada Yo Won. Yo Won tidak menggubris hal itu dan fokus pada rapat yang akan dipimpinnya “selamat pagi para anggota Dewan Direksi yang terhormat, pada pagi hari ini saya akan membuka rapat guna membahas masalah krisis yang sedang kita hadapi sekarang ini…”

“dan untuk menyelesaikan masalah krisis  akibat rusaknya kilang minyak di Amerika, saya sudah membuat rencana jangka pendek dan panjang untuk itu…” ujar Yo Won seraya menatap ke wajah seluruh anggota dewan.

Yuri pun menyalakan proyektor sehingga muncul tampilan slide pada layar. Yo Won berjalan ke samping layar proyektor dan berdiri di sana “saya sudah mengadakan rapat dengan para manager dan memutuskan untuk membuka cadangan minyak yang dimiliki Tae Wang guna mengatasi kurangnya pasokan minyak Tae Wang di pasar asia..”  Seketika itu juga ruangan pun menjadi kisruh. 

“Wakil Direktur Lee apakah anda yakin dengan keputusan ini?” tanya Tuan Im Ho yang duduk dekat dengannya.

“sudah Tuan Im…saya sudah memperhitungkannya dengan matang dan akan saya jelaskan rinciannya pada presentasi nanti…” jawab Yo Won.

“hei Wakil Direktur Lee…” seru Gi Hoon.
Satu ruangan pun diam dan semua mata tertuju pada Hong Gi Hoon yang sudah bangun dari duduknya.

“apakah sudah gila melakukan semua ini?” tanya Gi Hoon yang sekarang berjalan mengelilingi meja.
Yo Won menatap Gi Hoon dengan tatapan serius “apa maksudmu Wakil Direktur Hong?”

“para anggota Dewan Direksi yang terhormat…setiap perusahaan minyak diwajibkan membuat alokasi minyak cadangan tentu kalian tahu untuk apa itu bukan?”
Semua anggota dewan diam dan memperhatikan.

“dan sekarang Wakil Direktur Lee ingin membukanya untuk kepentingan penjualan di Asia…kita bisa bayangkan sanksi apa yang bisa OPEC berikan jika kita melaksanakan perintah yang dikatakannya?” seru Gi Hoon seraya menunjuk Yo Won.

“Wakil Direktur Hong…saya harap anda bisa kembali ke kursi anda sekarang…” ujar Yo Won.

“kau tidak bisa memerintahku Nona Lee…kedudukan kita sama di sini…sekarang kita dengarkan apakah ada anggota
Dewan Direksi yang mendukungmu untuk ini, siapa yang mendukung angkat tangan..”

“voting tidak akan dimulai sebelum presentasi ini selesai…Wakil Direktur Hong saya harap anda bisa kembali ke tempat duduk anda…”

“angkat tangan siapa yang setuju mendukung Wakil Direktur Lee untuk ini?angkat tangan!” seru Hong Gi Hoon.
Kesabaran Yo Won pun mulai menurun “Wakil Direktur Hong!saya yang memimpin rapat di sini jadi tolong hormati perintah saya!”

Gi Hoon pun nampak terkejut namun tertawa “tapi secara struktur posisiku sama denganmu Wakil Direktur Lee…jika kau mengusirku dari rapat ini maka rapat ini pun akan bubar…”

“braak..” tiba –tiba pintu ruangan terbuka.

Semua yang hadir di ruanganpun tercengang melihat siapa yang baru saja datang, tak terkecuali YoWon dan Gi Hoon.
“a..ayah..” gumam Yo Won.

“Wakil Direktur Hong, aku harap kau bisa kembali ke tempat dudukmu agar bisa rapat ini bisa dimulai…aku Lee Seong Gi,  Direktur Tae Wang Petroleum Corp. yang memintamu melakukan itu.. ” ujar Tuan Lee yang berdiri dengan berpegang pada sebuah tongkat kayu di tangan kanannya.

Hong Gi Hoon pun tak bisa berkata apa-apa lagi, hanya bisa kembali ke kursinya.

Yo Won pun mempersilahkan ayahnya duduk di kursi utama sementara ia berdiri untuk melakukan presentasi.  
“baiklah saya akan memulai presentasinya…pertama-tama saya akan menjelaskan kondisi  Kilang Minyak Tae Wang di Amerika…”

- 10:15 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
Gun Wook berjalan sambil membaca berkas yang sedang dipegangnya menuju lift.

“hei tahu tidak? Direktur Lee sudah kembali…” ujar seorang karyawati yang berdiri di depan lift sebelah.
Gun Wook pun tidak jadi menekan tombol lift yang ada di depannya.

“benarkah?”  sahut teman karyawati itu.

“benar aku tidak bohong…tadi aku lihat dan mata kepalaku sendiri…ia masuk ke dalam ruang rapat” jawab karyawati itu.

“PING” lift di hadapan kedua karyawati itu membuka dan mereka berdua masuk di dalamnya.
Gun Wook pun tertawa kecil “jadi Lee Seong Gi ada di sini?”

- 10:55 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“apakah ada pertanyaan lagi?” tanya Yo Won yang berdiri seorang diri di depan layar proyektor.
Namun para anggota Dewan Direksi dan Hong Gi Hoon hanya diam saja.

“braak..” Yuri membuka pintu ruang rapat pelan-pelan dan berjalan menghampiri Yo Won.

“Wakil Direktur…OPEC sudah setuju mereka mendukung rencana Wakil Direktur…” bisik Yuri.

Yo Won pun tersenyum “para anggota Dewan Direksi sekalian…pihak OPEC sudah setuju dengan rencana ini dan siap mendukung…”

Hong Gi Hoon pun mengangkat tangan kanannya “tunggu itu berarti Wakil Direktur Lee sudah melakukan rencanan ini tanpa persetujuan kami?ini menyalahi ketentuan…” Tuan Oh pun mengangguk menyetujui dengan senyum culasnya.

“saya belum melakukan apa pun..saya hanya berkonsultasi pada pihak OPEC dan mereka setuju untuk itu…dan sekarang tinggal tergantung pada anggota Dewan Direksi sekalian…”

Masing-masing anggota Dewan Direksi pun saling menoleh satu sama lain.
Tuan Im Ho, salah satu anggota Dewan Direksi pun mengangkat tangannya “saya dan Tuan Bae akan mendukung rencana Wakil Direktur Lee..”

“terima kasih Tuan Im, Tuan Bae…” jawab Yo Won.“lalu bagaimana dengan yang lain?”  namun tak ada jawaban.

“yang menolak silahkan angkat tangan…” kata Tuan Lee. Dan tidak ada satu pun yang angkat tangan. Gi Hoon hanya menahan kekesalannya dalam diam.

“kalau begitu..aku memutuskan bahwa Tae Wang Petroleum Corp. akan melaksanakan rencana yang dibuat Wakil Direktu Lee Yo Won…” ujar Tuan Lee.

Yo Won pun membungkukkan badannya kepada para anggota Dewan “terima kasih…”

Lalu satu per satu anggota Dewan Direksi meninggalkan ruang rapat, mereka masih membicarakan rencana Yo Won yang bisa dibilang agak controversial. Membuka cadangan minyak perusahaan yang ditetapkan OPEC untuk dijual ke pasaran.

Yo Won pun duduk di samping ayahnya. Tuan Lee pun tersenyum dan mengusap pipi putrinya. “ayah sangat bangga padamu…”

Yo Won menggelengkan kepalanya “jika bukan karena ayah…tidak  mungkin rapat itu akan berjalan…aku memang harus banyak belajar agar bisa memimpin rapat…”

“apa yang kau lakukan sudah benar putriku…seharusnya mereka yang belajar etika sebelum rapat…” jawab Tuan Lee.

“saya sependapat dengan Direktur…” sahut Yuri yang baru saja mematikan proyektor.

Yo Won pun tersenyum “oh ya kenapa Ayah tiba-tiba datang ke kantor?bukankah dokter belum mengizinkan ayah?”
Lee Seong Gi pun tertawa kecil “ayah hanya ingin mengunjungi putri ayah…ayah dengar ada masalah dengan kilang minyak di Amerika jadi ayah ke sini untuk mencari informasi…lagipula ayah juga ingin bertemu dengan seseorang…”

“bertemu seseorang?” tanya Yo Won.

“ya..ayah ingin bertemu dengan orang yang sudah menolongmu di kapal waktu itu..ayah ingin mengucapkan terima kasih padanya karena ia sudah menjaga dan menolong putri ayah…ia bekerja di sini bukan..ayah tadinya ingin bertemu dengannya sebelum ke sini..tapi ayah lupa siapa namanya” jawab Lee Seong Gi.

“maksud ayah Shim Gun Wook-ssi..”

- 11:45 AM, Tae Wang Emporium Tower, Seoul-
“thank you very much for your understanding Sir..I hope this accident didn’t affect our contract and relationship..” ujar Gun Wook yang sedang berbicara dengan telepon yang ada di mejanya.

“you are welcome Mr Shim, my secretary has sent the softcopy via email and the hardcopy via mail..these documents have been assigned by the minister…you can check it now..” sahut lawan bicaranya itu.

“yes sir, I’ve received it..thank you very much for your cooperation…saya sangat berterima kasih*” jawab Gun Wook.  

Gun Wook pun mengakhiri pembicaraannya di telepon lalu memberi tanda check list pada kertas yang bertuliskan nama-nama negara yang disusunnya. Thailand diurutan pertama, diikuti Kamboja, Myanmar, Malaysia, Singapore, Filipina, Australia, dan Indonesia. Semua mendapat tanda check list kecuali Vitenam,Myanmar dan Kamboja yang sudah direbut oleh San Hao Group. Gun Wook pun nampak puas dengan hasil ini. Ia pun mereganggkan badannya dan bersandar pada kursinya.

“hei Gun Wook kau dipanggil ke Ruang Direktur…” ujar Go Do yang sekarang berdiri di sampingnya.

Gun Wook pun kembali menegakkan badannya. “apakah Wakil Direktur mencariku?” tanyanya.

“bukan..tapi Direktur yang ingin bertemu denganmu…” jawab Go Do.

*dalam bahasa Indonesia