Pages

Jumat, 21 Mei 2010

Chapter 05

Keesokan paginya, Deok Man terbangun. Mual dan kram perutnya kembali menyerang. Di sampingnya, Bi Dam masih terlelap sambil menggenggam tangannya. Menatap wajah Bi Dam yang terlelap, membuat Deok Man tersenyum. Dan mata Bi Dam mulai membuka, dengan lembut, ia membelai wajah Deok Man. "selamat pagi"sapa Deok Man. Lalu Bi Dam mengecup kening istrinya "selamat pagi juga"sapanya. Lalu tangannya membelai perut Deok Man "selamat pagi anakku." Deok Man tersenyum, meletakkan tangannya di atas tangan Bi Dam "selamat pagi ayah." Mereka bangun lalu berjalan keluar kamar. Deok Man berjalan ke dapur, dan Bi Dam pergi ke taman untuk berlatih pedang. Waktu pun berlalu. Deok Man menghampiri Bi Dam di taman, melihat suaminya bermain pedang, ia kagum dengan kemampuan berpedang Bi Dam "Bi Dam, sarapan sudah siap" kata Deok Man. Bi Dam pun menyarungkan pedangnya, dan merangkul bahu Deok Man, berjalan menuju ruang makan.
Setelah selesai sarapan, Bi Dam mandi. Di kamar, Deok Man sedang menjahit sapu tangan miliknya. Ia membuat tulisan nama Bi Dam dan namanya sendiri di kedua ujung saputangan tersebut. Dan ia tersenyum melhat hasilnya
Setelah selesai mandi, Bi Dam mulai mengenakan baju dan pelindung tubuhnya. Deok Man membantu memakaikan jubah dan pelindung bahunya. Pedang telah digantung di pinggang. Sepatu telah dikenakan. Waktu keberangkatan sudah semakin mendekat.
"aku ingin duduk di taman, maukah kau menemaniku?" tanya Deok Man. Dengan segera, Bi Dam menggandeng tangan Deok Man, berjalan menuju taman.

di taman
Deok Man duduk di sebelah Bi Dam. Menyandarkan badannya di samping Bi Dam. Sambil menggenggam tangan Bi Dam erat-erat. Deok Man mengeluarkan sapu tangan yang sudah ia jahit tadi. Ia memberikannya kepada Bi Dam "ini untukmu"kata Deok Man. "bukankah ini sapu tangan kesayanganmu?"tanya Bi Dam heran. "meskipun aku tak bisa bersamamu di sana, aku harap ini dapat membuatmu ingat hatiku selalu bersamamu dimanapun kau berada." "terima kasih Deok Man" kata Bi Dam sambil memeluk istrinya.
Tak terasa waktu berjalan cepat. Sore harinya sekelompok pasukan Kerajaan tiba di gerbang Kediaman Perdana Menteri Bi Dam untuk menjemput Jenderal Bi Dam. Bi Dam dan Deok Man berjalan menuju gerbang. Pasukan menundukkan kepala memberi hormat. "ya, barang yang akan kubawa ada di sana, tolong taruh di kudaku" tunjuk Bi Dam kepada salah satu pengawal. Di sisinya, Deok Man mulai melepaskan genggaman tangannya. Bi Dam menoleh kepadanya, memunggungi para pasukan, kedua tangannya memegang wajah istrinya itu. "jaga baik-baik dirimu Deok Man dan anak kita" bisik Bi Dam seraya mengecup kening Deok Man lalu berlutut mengecup perut istrinya "ayah berangkat" bisik Bi Dam. lalu Bi Dam berdiri dan mengecup bibir Deok Man. Deok Man agak terkejut namun senang. "aku akan kembali segera ke sisi kalian berdua."kata Bi Dam. "kami menunggumu pulang Bi Dam..hati-hati, jangan lupa untuk istirahat dan makan" jawab Deok Man seraya membelai perutnya. Lalu, Bi Dam berjalan keluar, ditemani para pasukannya, ia menunggangi kuda hitamnya menuju Benteng utara. Air mata Deok Man tak sanggup ia tahan lagi. "ayah pasti akan kembali anakku" seraya membelai perutnya. Lalu ia masuk menuju rumahnya.

Tengah malam.
Bi Dam dan pasukannya akhirnya tiba di Benteng Utara. "Jenderal Bi Dam tiba"teriak penjaga gerbang benteng. Seluruh pasukan Benteng Utara segera berbaris. "hormat kami, Jenderal Bi Dam"teriak pasukan. Bi Dam segera turun dari kudanya dan berdiri di hadapan mereka. "aku Jenderal Bi Dam yang akan memimpin kalian melindungi benteng ini dari Ryugu, sekarang kembalilah ke kamp kalian untuk beristirahat agar kalian siap besok." "siap jenderal"jawab para pasukan. Setelah itu, Bi Dam segera kembali ke kampnya, di sana para kolonel sudah menunggunya. Lalu, Bi Dam menjelaskan kepada mereka situasi sebenarnya dan strategi yang sudah ia buat. Para kolonel dan Bi Dam sepakat untuk melaksanakan itu besok pagi. Setelah para kolonel keluar dari kampnya, Bi Dam melepas jubah perangnya dan memakai pakaian hitamnya yang biasa untuk beristirahat. Lalu ia duduk menulis sebuah surat. Dengan sandi yang diajarkan gurunya, ia menulis surat kepada Deok Man. "Deok Man, aku telah tiba di utara, dan aku baik-baik saja. Bagaimana kabarmu dan anak kita?aku harap baik-baik saja. Aku sudah membuat strategi pertahanan, doakanlah aku agar ini berhasil. Bi Dam." Lalu ia mengeluarkan sebuah kotak. Kandang merpati. Ia mengeluarkan burung merpati putih yang biasa ia gunakan saat masih di Departemen Audit. Ditaruhnya surat itu dalam tabung kecil yang terikat di kaki kanan merpati itu. Lalu dilepaskannya merpati itu terbang ke udara. "aku harap ini sampai ke rumah"pikir Bi Dam. Kemudian ia pergi ke tempat tidurnya dan beristirahat.

Keesokan paginya.
Deok Man yang tidur sendirian masih terlelap dalam tidurnya. Namun rasa mual tiba-tiba membangunkannya. Setelah ia terbangun, ia melihat merpati putih berdiri di ambang jendela kamarnya. Dan ia tahu itu adalah milik Bi Dam. Dipegangnya merpati itu, lalu suratnya ia ambil. Sambil duduk, Deok Man membaca surat dari suaminya itu. Ia sangat senang mengetahui suaminya baik-baik saja. Ia pun segera membalasnya. Dengan menggunakan sandi yang sama. "aku sangat senang mengetahui kau baik-baik saja Bi Dam. Kami berdua di sini juga baik-baik saja. Hari ini aku akan ke kuil sepulang dari istana. Aku selalu mendoakanmu Bi Dam. Jagalah dirimu baik-baik di sana. Jangan lupa untuk beristirahat dan makan. Aku mencintaimu. Deok Man." Lalu setelah suratnya dimasukkan,dilepaskannya burung itu terbang di udara. "Aku merindukanmu Bi Dam" bisik Deok Man.
Setelah itu, Deok Man keluar dari kamarnya untuk sarapan dan bersiap-siap berangkat ke istana.
Di Benteng Utara
Setelah bangun dari tidurnya dan sarapan, Bi Dam segera bersiap-siap. Pakaian perang dan pedangnya, ia kenakan. Lalu ia keluar dari kampnya untuk mulai melaksanakan strateginya. Ia memerintahkan para pasukannya untuk memasang jebakan yang telah ia rancang di sekitar benteng. Patroli penjagaan juga semakin ia perketat guna menghindari adanya mata-mata.

di Istana.
Deok Man berjalan menuju ruang kerjanya di Istana. Hari itu, ia harus memeriksa dan mengevaluasi laporan hasil panen dari Soeraboel. Dari laporan tersebut, Deok Man harus memutuskan berapa banyak yang harus disimpan kerajaan dan berapa banyak yang harus dibagikan kepada rakyat dan yang bisa dikirim kepada pasukan yang sedang berperang. Setelah pekerjaannya beres, ia berangkat ke kuil dekat istana. Setibanya di sana, Deok Man berlutut dan berdoa "lindungilah suamiku di sana, bimbinglah dia agar rencananya dapat berjalan dengan baik, dan ia dapat kembali ke sini dengan selamat."

di Benteng Utara.
Dari pengintaian yang dilakukan oleh para pasukannya, Bi Dam mendapat laporan bahwa 300 tentara Ryugu sedang menuju ke arahnya dan mungkin yang lain akan menyusul. Meskipun dari jumlah pasukan Bi Dam lebih unggul, dia ingin jumlah pasukannya yang mati dapat ditekan. Ia memutuskan untuk memimpin pasukannya besok memancing pasukan musuh ke daerah jebakan.
Setelah persiapan untuk besok beres, ia memerintahkan pasukannya untuk berlatih kemampuan beladiri masing-masing. Lalu, Bi Dam kembali ke kampnya. Di atas mejanya, burung merpati putih miliknya sudah berdiri di sana. Ia segera memegangnya dan mengambil suratnya. Ia sangat senang membaca surat tersebut. "aku juga sangat mencintaimu Deok Man"bisik Bi Dam. Lalu ia membalas suratnya. Ia memberitahukan bahwa ia akan bertempur besok dan meminta Deok Man untuk tidak membalas surat ini sampai ada berita dari istana mengenai akhir dari pertempurannya ini.
"aku juga sangat mencintaimu, Deok Man. Bi Dam" tulis Bi Dam di akhir surat.

Malam hari.
Selesai makan malam, Deok Man memutuskan untuk membaca buku di kamarnya. Ia membaca buku sastra roman kuno. Buku itu ia sukai karena berisi nasihat-nasihat yang baik mengenai hidup berkeluarga. Ketika sedang larut dalam buku yang ia baca, merpati putih hinggap di jendela kamarnya. Deok Man segera menghampirinya dan mengambil surat yang dibawanya. Berita bahwa besok Bi Dam akan bertempur menyebabkan hati Deok Man gelisah dan berdebar keras. "Bi Dam pasti menang"bisik Deok Man berulang-ulang. Dan sesuai permintaan Bi Dam, ia tidak membalas suratnya. Karena hari sudah mulai larut, Deok Man memutuskan untuk tidur. "selamat tidur Bi Dam"bisik Deok Man. "Selamat tidur Deok Man"bisik Bi Dam sambil menatap langit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar