Pages

Jumat, 21 Mei 2010

Chapter 13 : Kidnapped?

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Mendengar suara kicauan burung-burung, Bi Dam terbangun dari tidurnya. Di sisinya, Deok Man masih terlelap, diamatinya wajah istrinya itu. Perlahan Deok Man membuka matanya. "selamat pagi"kata Bi Dam tersenyum. Deok Man mengusap wajah Bi Dam "selamat pagi." "apa kegiatanmu hari ini Deok Man?"tanya Bi Dam. "hmmm...hari ini aku akan tabib lalu ke Istana, memeriksa beberapa laporan.."jawab Deok Man. "ke tabib?kau sakit?"tanya Bi Dam dengan wajah khawatir meletakkan telapak tangannya di atas kening Deok Man. "aku baik-baik saja Bi Dam, aku ke sana untuk minta diracikan obat..kemarin aku mendapat banyak tanaman obat dari penduduk desa yang aku kunjungi. katanya itu bagus untuk ibu hamil.."jawab Deok Man. "..mereka baik sekali.."kata Bi Dam. Deok Man tersenyum mengangguk. "aku sudah tak sabar ingin menggendong bayi kita, melihatnya tumbuh" kata Deok Man sambil mengusap perutnya. "begitu juga aku..aku sangat menyayangimu Deok Man dan anak kita.."kata Bi Dam sambil mengusap perut Deok Man. "kami juga menyayangimu, Bi Dam."kata Deok Man meletakkan tangannya di atas tangan Bi Dam. Karena pagi ini Bi Dam harus menghadiri pertemuan dengan para utusan Wei mengenai kerjasama Shilla dengan Wei, Bi Dam harus segera bersiap-siap. Mereka segera bangun, bersiap-siap, dan keluar untuk sarapan. Setelah sarapan, Bi Dam bergegas berangkat ke Istana "aku pergi.."seru Bi Dam. Deok Man berdiri di ambang pintu rumahnya "selamat jalan..hati-hati". Lalu Deok Man juga berangkat menemui tabib. Setelah tanaman obat itu diracik, Deok Man kembali ke rumah untuk menyimpan racikan obat dan membuat bekal makan siang untuk dirinya dan Bi Dam, kemudian berangkat ke Istana.

Istana.
Bi Dam masih menghadiri pertemuan. Putri Huang Shi juga hadir namun hanya diam dan mengeluarkan beberapa pendapat saja, lalu segera keluar dari ruangan setelah selesai. Seusai berbincang dengan beberapa pejabat, Bi Dam keluar dari ruangan menuju ruangannya. Ia terkejut. Di dalamnya Putri Huang Shi duduk menangis, dilihatnya Bi Dam berdiri di hadapannya, ia segera berdiri dan memeluknya.
Deok Man berjalan menuju ruang kerja Perdana Menteri. "Bi Dam pasti senang dibawakan bekal ini.."katanya dalam hati. Lalu ia berdiri di depan pintu ruang kerja Bi Dam yang tidak tertutup rapat. Terdengar suara isak tangis dari dalam. Deok Man pun mengintip. Dilihatnya punggung Bi Dam dari belakang, dan wajah Putri Huang Shi menangis.
"Perdana Menteri Bi Dam tinggalkanlah negeri ini, dampingilah aku di Wei....tolonglah aku menghadapi para pejabat itu..ayah akan membawaku pulang.."isak Putri Huang Shi lalu ia memeluk erat Bi Dam dan menciummnya. Bi Dam terkejut. Di balik pintu, Deok Man kaget melihat dan mendengar hal itu, ia ingin mendengar reaksi Bi Dam namun terdengar ada suara langkah kaki pengawal mendekat. Deok Man pun memutuskan pergi, meninggalkan bekal untuk Bi Dam di dekat pintu.
Bi Dam segera melepaskan dirinya dari pelukan Putri Huang Shi "maafkan saya Tuan Putri, saya akan berusaha sekuat tenaga membantu Tuan Putri tetapi saya tidak bisa menikah dengan Tuan Putri..saya sangat mencintai istri saya..maafkan saya..saya tidak bisa melakukannya Tuan Putri.." Karena reaksi Bi Dam seperti itu, Putri Huang Shi berlari keluar sambil menahan tangisnya. Bi Dam hanya menggelengkan kepala. Ketika ia akan menutup pintu, dilihatnya bekal dari Deok Man "ya ampun..jangan-jangan Deok Man melihatnya.." Lalu Bi Dam segera berlari mencari Deok Man.
Setelah berjalan tanpa tujuan, Deok Man memutuskan untuk beristirahat di taman dekat kuil. Ia terus memikirkan apa reaksi Bi Dam mengenai hal itu. "aku yakin ia pasti menolaknya..ya pasti.."pikir Deok Man meneguhkan hatinya.
Sementara itu, Bi Dam berjalan mengelilingi Istana. Ia memeriksa ruang kerja Deok Man, perpustakaan, taman Istana namun tidak ada. Ketika sedang berjalan mengitari halaman luar Istana, Bi Dam melihat suatu kejadian. "astaga.."gumam Bi Dam.
Putri Huang Shi terus berlari tanpa tujuan sambil menahan tangisnya. "kenapa aku tidak bisa seperti Deok Man?dia dikelilingi orang-orang berbakat yang memujanya..dan dengan mudahnya ia melepas takhta demi cinta..kenapa dunia tidak adil kepadaku?ibu,ayah, bahkan Er Wu..semuanya meninggalkanku"isak Putri Huang Shi. Ketika ia sedang berjalan mengitari halaman luar Istana yang sepi, 8 orang berbaju hitam datang dari belakangnya membekapnya hingga pingsan dan membawanya ke dalam tandu.
Bi Dam yang melihat penculikan Putri Huang Shi, segera membuntuti mereka. Mereka masuk ke dalam hutan di luar Soeraboel. Ketika hari sudah mulai sore, mereka tiba di sebuah pondok di tengah hutan dan membawa Putri Huang Shi ke dalam lalu mereka berjaga di luar. Bi Dam mendengarkan pembicaraan mereka sembunyi-sembunyi. "ah mudah sekali menculik putri ini..hahaha"kata salah seorang penculik. "betul..sekarang kita tinggal menunggu pasukan Pangeran Huang Chung membawanya besok..orang-orang Istana pasti tidak mengira ada penculikan hahaha.."kata yang lain. "yaa, kata orang dalam yang bekerja sama dengan kita, ia sudah mengarang cerita bahwa Putri Huang Shi lari bersama salah seorang Pejabat Tinggi Shilla..Kebetulan pejabat itu juga menghilang..lihat ini suratnya..hahaha"kata yang lain. "nah ayo kita rayakan keberhasilan kita..bersulang"sahut yang lain. Mereka bersulang dan terus menegak minuman keras hingga mereka mabuk dan tertidur. Lalu Bi Dam mulai beraksi.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Deok Man menanti kepulangan Bi Dam di ruang makan. Hatinya merasa gelisah. Tiba-tiba bayi dalam perutnya menendang. "ibu tahu kamu pasti juga mengkhawatirkan ayahmu ya..ibu yakin sebentar lagi ia pasti pulang"bisik Deok Man sambil mengusap perutnya. Lalu ia mendengar suara derap kuda dan pintu gerbang depan terbuka. Seorang pelayan datang menghampiri Deok Man "maaf Nyonya, Kepala Pengawal Raja ingin bertemu anda..ada hal penting yang ingin disampaikan"kata pelayan itu. "persilahkan ia masuk dan menunggu di ruang tamu, aku akan menemuinya."kata Deok Man. "ada apa Alcheon datang malam-malam begini?.."pikir Deok Man. Di ruang tamu, Alcheon memberi hormat kepada Deok Man lalu menyampaikan kabar tentang hilangnya Putri Huang Shi dan Perdana Menteri Bi Dam. Deok Man sangat terkejut mendengarnya. "para utusan Wei menuduh Perdana Menteri Bi Dam yang telah membawa Putri Huang Shi, karena kata salah seorang dari mereka melihat Putri Huang Shi terakhir kali sedang berada di ruang Perdana Menteri, mulanya saya dan Yang Mulia Raja tak percaya namun tak ada tanda-tanda bahwa Tuan Perdana Menteri pulang ke rumah. Menurut kesaksian beberapa pengawal, mereka melihat Putri Huang Shi berlari menuju halaman luar Istana, lalu tak lama kemudian Tuan Perdana Menteri berjalan ke sana. Kata mereka wajah Tuan Perdana Menteri nampak kebingungan mencari seseorang. Di halaman luar nampaknya ada jejak namun sudah dihapus.. saya sendiri dan Yang Mulia Raja tidak percaya bahwa Tuan Perdana Menteri melakukan hal itu..saya masih menyelidikinya..besok siang para utusan Wei akan menemui Yang Mulia Raja menuntut Tuan Perdana Menteri dihukum" "tidak mungkin Bi Dam melakukan hal itu..tidak mungkin.."kata Deok Man masih shock. Karena hari sudah malam, Alcheon pamit undur diri. Deok Man masuk ke kamarnya lalu termenung. "aku percaya kau tidak mungkin melakukannya Bi Dam..aku percaya padamu.."gumamnya.

Di Hutan.
Diam-diam, Bi Dam mengendap-endap. Ia mengambil surat yang ditunjukkan oleh para penculik tadi, lalu masuk ke dalam pondok. "Tuan Putri bangun, kita harus segera pergi dari sini."bisik Bi Dam membangunkan Putri Huang Shi. Putri Huang Shi pun terbangun. "ada dimana aku?"katanya setengah sadar. Bi Dam menjelaskan semuanya hingga Putri Huang Shi sadar. Kemudian mereka kabur diam-diam. Bi Dam tahu kemana tujuan mereka.

Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Deok Man bersiap-siap untuk tidur. Meskipun ia merasa gelisah, namun ia berusaha untuk tidur demi kesehatan bayinya. Lalu terdengar suara gaduh dari luar jendela kamarnya. Deok Man pun terbangun. Ia mengintip keluar, dan melihat ada sosok seseorang.
Kemudian Deok Man mengambil pedang milik Bi Dam dari atas lemari dan berjalan keluar menuju pelataran luar ruang baca diam-diam. "kau berhenti"seru Deok Man mengacungkan pedangnya dari belakang penyusup itu. Penyusup itu membalik badannya sambil mengangkat kedua tangannya. "ini rumahku, mau apa kau?"teriak Deok Man mengacungkan pedangnya. "ssst..apakah nyonya adalah istri Perdana Menteri Bi Dam?tolong izinkan saya bertemu dengannya..saya bawahan Tuan Putri Huang Shi..saya Er Wu dari Wei.."kata penyusup itu sambil membuka penutup wajahnya.".benarkah kau bukan musuh?jika bukan kenapa kau menyusup.."tanya Deok Man. "bukan Nyonya..itu karena tidak boleh ada yang tahu saya ke Shilla, Nyonya..Yang Mulia Raja Huang Tang diam-diam mengutus saya untuk menjaga putrinya..namun ternyata sesampainya di sini Tuan Putri sudah hilang..saya harus menyelidikinya.."kata Er Wu. Deok Man tetap mengacungkan pedangnya dan meminta Er Wu membuang senjata yang ia bawa. "jadi apa tujuanmu ke sini?"tanya Deok Man masih menggenggam erat pedangnya lalu duduk di pelataran. "saya ingin menyelidiki hilangnya Tuan Putri..tadi saya sudah menyelidiki halaman tempat terakhir Tuan Putri terlihat, nampak ada bekas jejak namun dihapus..oleh karena itu saya harus mencari keterangan.."kata Er Wu. "tunggu, kau bilang Raja Huang Tang yang mengutusmu?bukankah beliau lebih menyukai putranya dibandingkan Putri Huang Shi?"tanya Deok Man. "tidak..itu hanya pura-pura saja, untuk melindungi Tuan Putri Huang Shi..hamba tahu Tuan Putri Huang Shi juga salah paham mengenai hal ini..maaf nyonya bolehkah saya menanyakan beberapa hal?"kata Er Wu. Deok Man menganggukan kepala. "kapan Nyonya terakhir kali melihat atau bersama Tuan Perdana Menteri?apakah ada yang aneh atau berubah?"tanya Er Wu. Deok Man agak bingung bagaimana ia menyebut kejadian yang ia lihat di ruangannya.
"aku melihatnya terakhir kali saat ia sedang berbicara dengan Putri Huang Shi di ruang kerja Perdana Menteri..tidak ada yang aneh atau berubah.. "jawab Deok Man. "Menurut Nyonya, apakah benar Tuan Perdana Menteri yang membawa lari Putri Huang Shi?"lanjut Er wu. "tidak..aku percaya ia tidak melakukan itu..aku yakin itu.."kata Deok Man. Er Wu duduk beristirahat dan mengenggegam saputangan putih."Putri Huang Shi, kau berada dimana?"bisiknya sambil menghela napas. Deok Man melihat ada bordiran nama Huang Shi dan Er Wu di salah satu sisi saputangan itu. "saputangan yang bagus..kau sangat mengkhawatirkannya ya?lebih dari sekedar perasaan prajurit terhadap tuan putri..aku bisa mengerti perasaanmu." tanya Deok Man. "bagi saya Tuan Putri adalah segalanya. Ia selalu menderita namun tetap tegar..namun saya gagal membantunya menghadapi Pangeran Huang Chung..terlebih lagi dengan tugas saya sebagai penyusup di kubu Huang Chung diam-diam, telah membuat Tuan Putri sakit hati karena ia mengira saya mengkhianatinya..saya memang tak berguna..saya tidak pantas mencintainya.."kata Er Wu. "kau tak boleh berkata seperti itu..perasaanmu terhadapnya dapat mendorongnya untuk tetap semangat untuk menghadapi semua masalahnya dan menghilangkan rasa kesepiannya..pantas atau tidak mencintai seseorang tidak ditentukan oleh bakat atau kegunaan, Er Wu.."kata Deok Man. Er Wu diam mendengarkan "terima kasih Nyonya atas nasihatnya, maafkan saya sudah lancang ke sini dan menggangu Nyonya..sekarang saya pamit undur diri.."kata Er Wu sambil berdiri. "kau akan tinggal dimana? menginaplah saja di sini..besok para utusan Wei akan menuntut Raja agar mencari dan menghukum Perdana Menteri..aku butuh bantuanmu untuk mencari bukti bahwa suamiku tidak bersalah..maukah kau membantuku?"tanya Deok Man. "siap, saya akan membantu"jawab Er Wu. Lalu Deok Man mempersilahkan Er Wu masuk dan beristirahat di kamar tamu. Kemudian Deok Man kembali ke kamarnya untuk beristirahat. "cepatlah pulang Bi Dam..kami menunggumu.."gumam Deok Man sambil memejamkan matanya.
"aku akan segera pulang Deok Man"kata Bi Dam dalam hati sambil menatap langit yang gelap. Bi Dam dan Putri Huang Shi sedang duduk beristirahat. "apakah kita akan langsung ke Istana?"tanya Putri Huang Shi. "tidak..kita akan ke tempat teman yang dapat membantu mengungkap masalah ini..sudah dekat rumahnya.."jawab Bi Dam. Bi Dam kembali termenung. "kau pasti sedang memikirkan Putri Deok Man.."ujar Putri Huang Shi. Bi Dam mengangguk "beliau pasti sedang bertanya-tanya saya ada dimana sekarang.." "enaknya punya seseorang yang mengkhawatirkanmu, menunggumu pulang dan yang dikhawatirkan..huft..tapi sebelumnya, terima kasih sudah menolongku..dan maaf sudah membuatmu terlibat dalam masalah ini."kata Putri Huang Shi.
"sama-sama Tuan Putri..di suatu tempat, pasti juga ada yang mengkhawatirkan Tuan Putri dan yang Tuan Putri pikirkan.."kata Bi Dam. "tidak..tidak ada.. ya sudah tak perlu dibahas lagi..ayo kita berjalan lagi..aku ingin cepat pulang.."elak Putri Huang Shi. "baiklah"jawab Bi Dam. Mereka berdiri dan melanjutkan perjalanan.
Setelah berjalan jauh. Akhirnya Bi Dam dan Putri Huang Shi tiba di tempat tujuan. Kediaman Panglima Yushin. Mereka berdiri di depan gerbang rumahnya yang dijaga 2 pengawal. "maaf bisakah kau memanggil Panglima Yushin, aku Perdana Menteri Bi Dam dan Putri Huang Shi ingin membicarakan hal yang sangat penting dengannya.."kata Bi Dam kepada salah satu pengawal. Pengawal tersebut bingung dilaksanakan atau tidak karena hari sudah sangat larut malam tapi ini permintaan Perdana Menteri dan penting. akhirnya Pengawal tersebut masuk ke dalam dan meminta pelayan memberitahukan pesan Bi Dam kepada Yushin. Tak lama kemudian, Bi Dam dan Putri Huang Shi dipersilahkan masuk dan menunggu di ruang tamu. "Bi Dam apa yang terjadi?seluruh istana gempar mencari kau dan Tuan Putri.."kata Yushin ketika masuk ruang tamu. Bi Dam menceritakan kejadian penculikan tersebut dan meminta Yushin untuk mengirim pengawal segera untuk menangkap para penculik dan prajurit Wei yang rencananya akan menjemput mereka. Yushin segera menulis surat perintah kepada pelayannya untuk dikirim ke markas pusat. "aku senang kau dan Tuan Putri kembali dengan selamat..dan yang terjadi tidak seperti yang dituduh oleh utusan Wei itu"kata Yushin. Lalu, Yushin menceritakan apa yang terjadi di Istana. Bi Dam dan Putri Huang Shi terkejut mendengarnya. "jadi mereka berniat menjadikan Perdana Menteri sebagai kambing hitamnya..untung Perdana Menteri sudah punya barang bukti.."kata Putri Huang Shi. "bagaimana reaksi Tuan Putri Deok Man?"tanya Bi Dam dengan wajah setengah sedih. "aku belum sempat menjelaskan kejadian di ruanganku dan sekarang ada tuduhan ini..pasti itu semakin menyakiti hatinya."pikir Bi Dam. "aku tak tahu..Alcheon yang pergi ke kediamanmu..tapi aku yakin pastinya Tuan Putri tidak akan mempercayai tuduhan itu.. Ia sangat mempercayaimu..percayalah.."jawab Yushin menenangkan sahabatnya. "ya, aku percaya padanya..aku tak mau mengulang kebodohan yang sama.."jawab Bi Dam. Lalu Yushin meminta Bi Dam dan Putri Huang Shi beristirahat. Ada 2 kamar tamu telah disiapkan untuk mereka. Mereka pun masuk ke kamarnya masing-masing dan beristirahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar