Pages


Kamis, 26 Mei 2011

The Hidden Wounds Chapter 07: Hide and Seek

genre: angst,romance, mystery 

Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun
- Jo Hyun Jae as dr. Ahn Jong Geun

I didn't own the characters. It's just a fanfiction :)
**********************************************************************************

-May 7th 2010, 13:00 PM, Geumcheon-gu, Seoul -
“bruuk” Gun Wook meletakkan sebuah koper besi di atas meja dalam ruang rahasia miliknya. “trak..trak..” ia membuka kunci pada koper itu dan membukanya. Sebuah pistol jenis Colt seri M1991AI berwarna silver lengkap dengan peredamnya yang masih terpisah dan dua cartridge pelurunya menantinya di dasar koper. Gun Wook mengambil pistol itu dan melihatnya dengan seksama sebelum akhirnya ia memasang peredam pada pistol itu lalu disimpan di balik pinggang dan kedua cartridge ke dalam celana jeans hitamnya. Kemudian ia mengenakan jaketnya yang berwarna coklat memnyembunyikan v-neck yang berwarna hitam polos. Ia pun menatap dirinya yang ada di dalam cermin. “I’m ready…” gumamnya.

-13:05 PM Kediaman Keluarga Lee, Seocho-gu, Seoul -
Sambil membawa tas olahraganya, Yo Won berjalan keluar dari pintu masuk rumahnya ditemani  So Hwa.  Ia menghentikkan langkahnya tepat di samping sedan Audi A4 silver yang sudah menantinya.

“apa Nona yakin tidak ingin supir yang mengantar Nona?” tanya So Hwa.
Yo Won pun tersenyum menggeleng “aku sudah hafal jalan bi..lagipula tempat fitnessnya dan pusat perbelanjaannya searah dengan kantor…”

So Hwa hanya bisa tersenyum dan menghela napas panjang. Senyum Yo Won pun semakin melebar karena artinya bibinya tidak bisa protes lagi. Ia pun segera membuka pintu pengemudi dan memasukkan tasnya ke belakang.

“oh iya Bi, nanti setelah ayah pulang tolong ingatkan ayah untuk meminum obatnya lagi…obatnya yang siang ini lupa dibawa tadi…”

“baik nona..” angguk So Hwa.

“aku pergi…” Yo Won pun masuk ke dalam mobilnya dan mulai menyalakan mesinnya.

“hati-hati di jalan Nona…” ujar So Hwa.
Yo Won menoleh dan  tersenyum dari balik kaca lalu mulai memacu mobilnya perlahan.

-03:30 PM Gyeonggi Harbor Complex, Gyeonggido-
“brrmm…” sebuah mobil Audi silver berhenti di area parkiran umum pertokoan yang berada tepat di seberang pelabuhan barang Gyeonggi. Hari itu hari Sabtu jadi banyak pekerja pelabuhan serta masyarakat sekitar menghabiskan waktunya di kawasan pertokoan itu sehingga kawasan itu ramai sekali.

Yo Won pun keluar dan mengucni mobilnya lalu sambil membawa tas olahraganya, ia ikut masuk di tengah keramaian orang.  Ia berjalan menuju toilet umum yang ada di samping sebuah minimarket dan masuk ke dalamnya.  Sepuluh menit kemudian, keluarlah seseorang berjaket coklat,  berambut pendek dengan topi hitam keluar dari toilet itu.
Sambil diam-diam memperhatikan sekelilingnya, orang itu berjalan lurus memasukki gerbang pelabuhan, menembus kerumunan orang-orang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Orang itu berjalan terus sampai akhirnya ia tiba di tempat yang sepi dan bersembunyi di balik peti kemas.

“fiiuuh…” sambil memegang dadanya yang berdebar-debar, Yo Won menghela napasnya panjang-panjang.  



-03:40 PM, Seoul.
“ting tong!”

Yuri dan  Soo Hyun berdiri di depan pintu apartemen.
“tuut..tuut..tut…tut..” Yuri pun segera menekan tombol bergambar telepon yang berwarna merah pada ponselnya.
“tidak diangkat juga?” tanya Soo Hyun.
Yuri mengangguk “aneh apa Wakil Direktur lupa ya?padahal Wakil Direktur minta diingatkan”

“mungkin Nona Lee masih mencari cara yang lebih efisien dan akan menghubungimu nanti..” sahut Soo Hyun.
“mungkin…” gumam Yuri.

“braak…”pintu di depan mereka terbuka. Seorang pria berkaos putih dengan badan yang cukup kekar dan berkulit putih menyambut mereka.  “selamat datang…” sapa pria itu.
“hyung! maaf aku tak bisa menjemputmu di bandara semalam…” Soo Hyun memeluk kakaknya.

“no problemo…aku tahu kau harus memantau berita soal pemilihan umum semalaman…” sahut pria itu.
Pria itu pun juga tersenyum menatap Yuri “rupanya kalian langgeng yah…aku senang melihatnya…kuharap kalian segera menyusulku menikah…” ujar kakaknya  Soo Hyun.

Wajah Yuri pun memerah dan Soo Hyun pun juga salah tingkah.
“Yobo, siapa yang datang?” terdengar suara wanita dari dalam apartemen.
“adikku dan calon istrinya!” sahut pria itu.  “ayo kalian berdua silahkan masuk..maaf agak sedikit berantakan…”

“terima kasih kak Si Won…” jawab Yuri.

-04:00 PM, Gyeonggi Harbor Complex, Gyeonggido-
“hei..hei…pindahkan itu semua cepat!!” terdengar seruan Kim Chul Gyu dari atas geladak kapal sambil menunjuk-nunjuk ke arah anak buahnya yang sedang bekerja.

Dari kejauhan Yo Won mengamati aktifitas di kapal itu dan sekitarnya. “bagaimana aku bisa menyelinap ke sana untuk memeriksanya?” pikirnya sambil mengamati satusatunya tangga yang terhubung dengan kapal. Dan tangga itu hanya 20 m dari tempat Chul Gyu berdiri. Yo Won melirik jam tangannya dengan gelisah.  ““waktuku tinggal 1 jam.. aku harus memastikannya sebelum kapal itu pergi..”

“drrt…drrt..” ponsel di saku Chul Gyu bergetar. “hallo!” seru Chul Gyu yang mengangkat teleponnya. Ia berjalan hilir mudik ke depan belakang kanan dan kiri  sampai akhirnya berjalan menjauh dari tangga masuk ke kapal. Dan kesempatan ini tidak disia-siakan Yo Won, ia pun segera berlari menuju tangga itu dan masuk ke dalam kapal.
Yo Won pun segera masuk ke dalam kabin kapal. “dari sini seharusnya aku berjalan lurus sampai menemukan tangga…” pikirnya sambil melihat sebuah kertas kecil yang ada di telapak tangannya. Sebuah denah kapal yang digambarnya dengan tergesa-gesa.  Ia menoleh ke kanan dan ke kiri ”dimana tangganya?” pikirnya.  “tap..tap..tap..”  terdengar suara langkah kaki beberapa orang di belakang Yo Won.

“ada orang!” Yo Won pun panik.  Sekarang ia sedang berada di lorong yang buntu dan pasti akan segera ketahuan jika orang-orang tersebut melintas di samping lorong ini. Yo Won menoleh ke sekelilingnya  berharap  ada celah untuk dirinya sembunyi. Dan ia pun menemukan sesuatu. Sebuah lubang berbentuk persegi empat. Di atas lubang itu tertulis “put the trash bag here” Tanpa berpikir lebih lama Yo Won segera memasukan kakinya satu persatu ke dalam lubang itu. Setelah seluruh badannya masuk, ia pun melepaskan pegangannya dan meluncur ke bawah. “gusraak…bruug” terndengar suara bergema dari lubang itu.

“tap..tap…”  dua orang kru kapal berjalan sambil membawa polybag hitam besar di kedua tangannya. Mereka berdua berjalan menuju lubang persegi, tempat pembuangan sampah.  Satu persatu, mereka memasukkan kantong-kantong besar itu  ke dalam lubang.  Setelah selesai, mereka berdua  kembali berjalan ke arah sebaliknya.
“bruug…bruug…” keempat kantung hitam itu meluncur melewati saluran pipa besi dan mendarat dengan tepat di atas bak besi kuning besar tumpukan polybag yang berisi sampah lainnya. Sementara itu Lee Yo Won, tergeletak  tengkurap di lantai tak sadarkan diri.

-04:45 PM, Gyeonggi Harbor Complex, Gyeonggido-
Gun Wook berjalan dengan  melewati rombongan para pekerja yang baru saja selesai bekerja dengan santainya. Dibalut dengan jaket yang berwarna coklat dengan lengan tergulung, membaur di tengah-tengah  mereka ditambah dengan topi berwarna hitam, membuat wajahnya tidak begitu terlihat. Ia berjalan menuju sebuah kapal tanker besar  dengan cat merah dan hitam di sepanjang perut kapal. yang sedang menepi. “uwooong…” terdengar suara sirine dari kapal, para pekerja. Para pekerja mulai berlarian menuju kapal, begitu juga Gun Wook yang ikut masuk ke kapal membaur bersama para pekerja lainnya.

“angkat jangkarnya…” seru  Kim Chul Gyu yang sedang berada di atas dengan walkie talkie miliknya. “baik kapten!!” terdengar jawaban dari walkie talkienya. “saaassh….buuummm…kraaak…” terdengar suara semburan air dan suara rantai jangkar ditarik ke atas.

Para kru kapal sibuk berlarian ke sana kemari untuk memastikan segala sesuatunya beroperasi dengan benar. Gun Wook ikut membantu kru-kru yang sedang menarik sebuah rantai yang berukuran cukup besar dan panjang. Ia memandangi satu persatu kru-kru yang bekerja di situ. Semuanya bertubuh kekar dan bertampang layaknya para anggota gangster  atau pekerja kasar dengan tato di lengan mereka dan tindik di telinga mereka, karena pekerjaannya tinggal sedikit, perlahan ia pun mulai meninggalkan tempatnya dan berjalan menuju tempat dimana Kim Chul Gyu berada.
Gun Wook berdiri tepat di balik tembok, tak jauh .

“tenang saja begitu dari sini..semua barang bukti yang ada akan kubuang…akan kuubah kapal ini seperti semula..jadi jika ada pemeriksaan menyeluruh…aku berani menjamin tidak akan ada yang mengetahuinya…aku sudah meminta orang-orangku untuk mengembalikannya seperti sedia kala…” seru Kim Chul Gyu yang sedang menelepon dengan ponselnya. “dan akan kujual semuanya ke pasar gelap sehingga tak akan ada yang bisa melacaknya…teknologi manipulasi seperti ini pasti sangat menjual…” lanjutnya.

“teknologi manipulasi?apa maksudnya?” pikir Gun Wook. Ia pun berniat untuk mendengarkan pembicaraan Chul Gyu lebih lanjut namun ada sebuah tangan yang besar menepuk bahunya.

-05:10 PM, Kediaman Keluarga Lee, Seocho-gu, Seoul -
Mobil Mercedes E-class hitam berhenti tepat di tangga depan kediaman Keluarga Lee. dr. Ahn Jeong Gun  keluar dari tempat pengemudi dan membukakan pintu di belakangnya.

“kau tidak perlu repot-repot dr. Ahn…” ujar  Tuan Lee sambil menepuk bahu dr. Ahn.  Tuan Lee menoleh ke sampingnya, ke arah sahabatnya, dr. Ahn senior yang menjadi teman sebangkunya di belakang tadi.

“putramu benar-benar anak yang berbakti..” puji Tuan Lee. dr. Ahn senior hanya tersenyum mendengar putranya dipuji.

“selamat datang Tuan…” So Hwa segera menyambut tuannya dengan hormat.

“ah So Hwa..apakah  putriku sudah pulang?aku ingin mengenalkan dr. Ahn padanya..” ujar Tuan Lee.

“maaf Tuan..nona belum pulang Tuan…” jawab So Hwa.

“ah sayang sekali padahal aku ingin mengenalkannya pada dr. Ahn..bagaimana kalau kalian beristirahat sebentar di dalam?” tanya Tuan Lee.

“ah terima kasih Tuan Lee…akan tetapi sore ini, saya dan ayah ada janji dengan pasien di rumah sakit…” ujar  dr. Ahn sambil membungkukkan badan.

Tuan Lee pun tertawa “dia benar-benar mirip denganmu Jae Hwan saat muda..”

“baiklah kalau begitu...hati-hati di jalan untuk kalian berdua..terima kasih telah menemaniku bermain golf hari ini…” ujar Tuan Lee.

“sudah menjadi hak dan kewajibanku sebagai teman dan dokter untuk menemanimu..” jawab Ahn Jae Hwan. 

Tuan Lee menepuk bahu sahabatnya itu “kalau begitu hati-hatilah kalian di jalan..”

“kalau begitu kami permisi dulu Tuan Lee..” ujar Ahn Jong Geun sambil memberi hormat. Lalu ia dan ayahnya pun  masuk ke dalam mobil.

Sebelum mobil melaju, kaca penumpang belakang terbuka “jangan lupa minum obatmu setelah ini…” ujar Ahn Jae Hwan.

Tuan Lee pun tertawa “iya..iya..begitu masuk akan segera kuminum..” jawabnya.
Kemudian mobil pun melaju menuju pagar yang sudah dibukakan. Tuan Lee ditemani So Hwa berjalan masuk ke dalam rumah.

“apakah Tuan ingin makan sekarang?” tanya So Hwa.

“tidak, aku ingin makan malam bersama putriku…aku akan menunggunya pulang…” jawab Tuan Lee.

-05:15 PM, Tae Wang Petroleum Corp. Tanker Ship-
Sambil membawa kantong hitam besar di kedua tangannya, Gun Wook berjalan menuruni tangga. Ia hampir saja menigira kalau dirinya ketahuan namun ternyata kru kapal yang bertangan besar dan berotot kekar tadi hanya memintanya membuang sampah.  Sambil mengamati satu persatu pintu yang ada, ia pun tiba di pintu yang berwarna hijau dengan tulisan “storage and recycling room”  Ia pun segera mendorong pintu itu dan masuk ke dalamnya.
Hawa pengap dan lembab segera menyambutnya. Hanya ada sedikit cahaya dari lampu dan dari luar yang menyinari ruangan itu. Untungnya tempat sampah yang ia datangi adalah untuk sampah kering untuk didaur ulang bukan untuk sampah basah. Gun Wook berjalan dan menaruh kantong-kantong polybag hitam itu di atas bak terbuka yang sudah terisi penuh dengan kantong-kantong hitam lainnya.

“gusrak..” rupanya ada salah satu kantong polybag yang jatuh karena terdorong oleh kantong yang ditarunhya. Gun Wook pun menghela napas panjang, ia segera berjalan ke samping bak dan memungut kantong itu, tapi kantong itu segera terlepas dari tangannya begitu ia melihat apa yang tergeletak di lantai belakang bak. Lebih tepatnya siapa.
“Lee Yo Won..” gumamnya.

Gun Wook segera berlari dan mengangkat Yo Won dari lantai. “bagaimana ia bisa ada di sini?” pikirnya.

-05:56 PM, Tae Wang Petroleum Corp. Tanker Ship-
“ugh..”  kedua mata Yo Won mulai membuka perlahan. Yang ada di depan matanya hanyalah lampu yang bersinar remang-remang. Ia pun berusaha bangun dan tangan di belakangnya yang membantunya.

“kau..” gumam Yo Won begitu menoleh melihat siapa yang membantunya.

“ouch..” Yo Won merasakan nyeri di kepalanya. Ada sebuah memar berwarna merah yang terbentuk di pelipis kanannya.

 “Wakil Direktur?apakah Wakil Direktur baik-baik saja?” tanya Gun Wook dengan wajah khawatir.

“aku baik-baik saja…” ujar Yo Won. “kenapa kau bisa berada di sini?” tanyanya.
Gun Wook hanya  diam saja. “apa kau bekerja di sini?atau menyelidiki sesuatu?” tanya Yo Won.

“braak..” terdengar suara pintu dibuka. Gun Wook segera mengambil jaketnya yang tadi dijadikan bantalan kepala untuk Yo Won dan membantu Yo Won untuk segera  berdiri.  Ia memapahnya dan merangkulnya untuk bersembunyi di sebuah celah yang tidak terkena cahaya.
Seorang pria bertubuh kekar masuk ke dalam ruangan itu dan melemparkan dua kantong hitam yang ada di kedua tangannya ke atas bak.

“bruuk..” lagi-lagi ada kantong yang jatuh dari bak karena bak itu sudah terlalu penuh.

“brengsek..” ujar pria itu. Ia berjalan mendekat memutari bak untuk mengambil kantong itu.
Dari celah yang sempit dan gelap yang hanya berjarak beberapa langkah dari situ, Gun Wook dan Yo Won hanya diam memperhatikan pria itu. Berharap pria itu tidak menyadari kehadiran mereka.

“ssh..ssh…” Yo Won bisa merasakan setiap hembusan nafas Gun Wook yang menyapu keningnya.  Setiap hembusan nafasnya seakan-akan berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar keras.  Kepala Yo Won pun bersandar pada dada Gun Wook. Ia bisa mendengar jantung pria itu juga berdebar keras sama sepertinya dari balik v-neck shirt hitamnya.
Gun Wook bisa merasakan kedua tangan Yo Won gemetar. Ia pun meraih tangannya dan mengenggamnya erat. Yo Won agak terkejut karenanya.
Pria bertubuh kekar itu segera mengambil kantong yang jatuh tanpa menggubris hal yang lain dan segera berjalan menuju pintu keluar. “braak..” suara pintu tertutup.
Yo Won pun segera menarik tangannya dari Gun Wook dan berjalan keluar dari tempat persembunyian mereka.

“aku tak tahu kau ada di pihak siapa atau kau mendukung siapa…tapi jika kau ternyata kau bukan di pihakku..aku tak ingin kau mengangguku…” ujar Yo Won sambil memunggungi Gun Wook.

“tap..tap” terdengar suara langkah kaki mendekat. Yo Won pun sudah menyiapkan dirinya entah untuk berlari kabur atau melakukan bela diri jika seandainya Gun Wook ternyata tidak berpihak padanya.

“aku ada pihak Wakil Direktur dan aku akan membawa Wakil Direktur pulang dan diobati…” jawab Gun Wook yang sekarang berdiri di sampingnya
Yo Won pun menoleh dan tersenyum tipis “kalau begitu bantu aku..ada yang ingin aku periksa…” ujarnya.

-07:00 PM, Tae Wang Petroleum Corp. Tanker Ship-
Gun Wook berjalan di belakang Yo Won. Mereka berdua mengendap-endap di kabin kapal.  “sepertinya sekarang sudah jam makan malam sehingga kabin kapal pun sepi..” gumam Gun Wook.

Yo Won pun berhenti berjalan dan melirik jam tangannya. “sekarang jam 7 tepat…pasti Bibi dan ayah akan mencariku..apa yang harus kulakukan…ponselku tertinggal di mobil…” pikirnya sesaat. “tidak..aku harus fokus dulu pada hal ini..aku bisa menjelaskannya pada ayah nanti..” pikirnya. Ia pun kembali berjalan.

Gun Wook pun hanya mengikutinya sambil mengamati keadaan sekeliling mereka. Ia mengikuti  Yo Won yang berjalan menaiki tangga dengan perlahan.  Mereka tiba di sebuah ruangan yang cukup luas dengan jendela-jendela lebar  di sekitar mereka dan beberapa rak buku dengan sebuah meja besar di tengah ruangan yang penuh dengan kertas.

“sepertinya ini ruang navigasi…” gumam Yo Won sambil menatap kertas-kertas yang ada di atas meja.

“Wakil Direktur coba lihat ini…” panggil Gun Wook.

Yo Won pun segera menghampiri Gun Wook yang berdiri tak jauh darinya. Sebuah layar berwarna menampilkan peta  wilayah Asia, dan dua titik di atasnya. Titik yang berwarna hijau dan berwarna merah. Di atas kedua titik itu terdapat kotak kecil yang menampilkan angka-angka titik koordinasi tempat

“ini adalah posisi dimana kita berada…” ujar Gun Wook sambil menunjuk ke arah titik yang hijau. “lihat subordinatnya terus berubah..”
Yo Won pun mengangguk.

“dan ini adalah tujuan kapal berikutnya…sepertinya kapal ini dijalankan dengan kemudi otomatis…dan tujuan berikutnya akan dicapai dalam waktu  1 jam 5 menit dari sekarang…”

“tunggu sebentar ini masih di tengah laut kan? kenapa mereka harus berhenti di sana?” Yo Won menunjuk pada titik merah di atas layar itu.  

“mengenai hal itu…aku punya dugaan..”jawab Gun Wook.

“dugaan?” tanya Yo Won.

“ada kemungkinan bahwa kapal ini akan singgah ke pasar gelap…” jawab Gun Wook.

“pasar gelap?” kedua alis Yo Won terangkat.

“ya…beberapa hari yang lalu aku sempat membaca blog dari seorang jurnalis bahwa ada kecurigaan bahwa ada pasar gelap di perairan internasional tak jauh dari Wilayah Laut RRC…bisa jadi ini adalah tempatnya..namun itu baru sebatas dugaan..”  jawab Gun Wook.

“berarti ada kemungkinan selama ini minyak yang hilang ini diselundupkan ke pasar gelap…apakah ini ada kaitannya dengan latar belakang Kim Chul Gyu yang sempat terlibat organisasi mafia?” ujar Yo Won.

“cerdas…” pikir Gun Wook.

“braak..” terdengar suara pintu dibuka dan langkah kaki  dari bawah. Gun Wook dan Yo Won pun menoleh. Gun Wook segera menarik tangan Yo Won, ia membuka pintu samping yang menghubungkannya dengan pelataran luar. Mereka berdua bersandar di balik tembok.

“tap..tap..” terdengar suara kaki menaiki tangga. Seorang pria berkaos putih masuk ke dalam ruangan itu. Ia memeriksa layar monitor yang tadi dilihat Gun Wook dan Yo Won.  “tuh kan sudah kubilang langit malam ini pasti cerah dan tidak berubah…” gerutu pria itu.  Pria itu pun berjalan kembali menuju tangga dan turun meninggalkan ruangan.
Gun Wook diam-diam mengintip dari jendela untuk memastikan semuanya aman.

“apakah ada tempat yang ingin Wakil Direktur ingin periksa?” tanya Gun Wook.

“sebenarnya aku ingin memeriksa ruang kapten untuk mencari data tapi aku teringat sesuatu..”

“apa itu?” tanya Gun Wook.

“bahwa kapal ini memiliki sistem yang hampir sama dengan Kilang Minyak Daesan dalam hal penyimpanan..jadi semua data serba terkomputerisasi…oleh karena itu aku ingin memeriksa ruang monitoring tanker kapal ini…” ujar Yo Won.

“bingo…” pikir Gun Wook. “itu yang aku inginkan dari tadi…”

“baik Wakil Direktur..” jawab Gun Wook.

Minggu, 08 Mei 2011

Cover The Hidden Wounds :D (untuk sementara)

Sabtu, 07 Mei 2011

The Hidden Wounds Chapter 06: Behind Them




genre: angst,romance, mystery 

Starring:
-  Kim Nam Gil as Shim Gun Wook
- Lee Yo Won as herself
- Seo Young Hee as Sohwa (Yo Won’s Nanny)
- Lee Moon Shik As Uncle Min (Driver Jo Min Shik)
- Ahn Seong Gi as Lee Seong Gi 
- Chung Jung Myung as Hong Gi Hoon
- Jung So Min as Hong Mo Ne
- Kim Hye Ok as Madam Hong 
- Choi Il Hwa as Hong Myung Hwan
- Ham Eunjung (T-ara) as Shin Yuri
- Kim Soo Hyun as Choi Soo Hyun
- Jo Hyun Jae as dr. Ahn Jong Geun

I didn't own the characters. It's just a fanfiction :)
**********************************************************************************

- May 6th 2009, 11:15 AM Tae Wang Emporium Tower, Seoul-

“Nona Yuri, apakah setelah jam makan siang jadwalku kosong?” tanya Yo Won yang baru saja selesai menandatangani berkas yang tadi dibawakan Yuri.

Yuri pun segera memeriksa tabbynya “setelah makan siang, akan ada presentasi dari Manager Divisi Marketing dan Sponsorship mengenai rencana perusahaan untuk ikut serta dalam kompetisi F1 yang akan dibuka di Sirkuit Yeongnam nanti…dan setelah itu jadwal Wakil Direktur kosong…” Yo Won hanya mengangguk kepalanya lalu melirik jam tangannya.

“apakah Wakil Direktur ingin melakukan sesuatu?” tanya Yuri.

“sebenarnya aku ingin pergi ke Pelabuhan Gyeonggi…” jawab Yo Won.

“mwo?Pelabuhan Gyeonggi?untuk apa?” Yuri terkejut mendengarnya.

“aku ingin mengetahui apakah jumlah minyak di kapal tanker dari Daesan jumlahnya sama dengan saat dikirim..sebelum diekspor, kapal tanker harus transit lebih dulu di Pelabuhan Gyeonggi itu diperiksa…lalu baru berangkat ke Terusan Suez dan kemudian tiba di Eropa..oleh karena itu aku ingin memastikan sendiri apakah ada penyelundupan atau tidak saat tiba di Gyeonggi…pastinya mereka menyimpan catatan muatan barang setiap kapal yang sebelum-sebelumnya…” jawab Yo Won.

“hmm..kalau Wakil Direktur ingin ke sana, saya akan memasukkannya ke dalam jadwal Wakil Direktur dan menyiapkan supir untuk ke sana…”  ujar Yuri seraya memainkan tabbynya.

“terima kasih Nona Yuri..” jawab Yo Won.

“hei Gun Wook?” kau tidak makan siang?” tanya salah seorang staff Divisi Produksi, rekan kerja laki-laki Gun Wook menghampiri meja Gun Wook.

“ya nanti aku akan menyusul..” jawab Gun Wook.

“kau sedang browsing tentang apa?” tanya temannya sambil menunjuk layar komputer Gun Wook.

“ah..aku hanya ingin membaca berita internasional saja sambil menunggu email dari manager penanggung jawab Kilang di Rusia…” jawab Gun Wook.

“oke..kalau begitu aku dan yang lain duluan…” jawab rekan kerjanya itu, lalu ia keluar dari ruangan Divisi Produksi diikuti rekan kerja Gun Wook yang lain.
Gun Wook kembali membaca tulisan-tulisan yang muncul di situs berita yang dibacanya. “Pasar Gelap di Laut Cina Selatan, Surga bagi Para Pemberontak.” Sebuah artikel berita dari website stasiun televisi  SBC yang ditulis oleh Choi Soo Hyun. Gun Wook mengklik link artikel tersebut dan kemudian membacanya. 
Begitu selesai membacanya, ia segera membuka ponselnya dan kemudian memasukkan lokasi Laut Cina Selatan ke dalam peta yang ada di ponselnya. Ia pun bersandar pada kursinya sambil menatap layar komputernya yang sudah dimatikan
“jika aku berhasil membongkar ini..maka akan semakin mudah aku menghancurkan dia..” gumamnya pada wajahnya yang tercermin kaca layar komputer.
    
-03:10 PM Gyeonggi Harbor Complex, Gyeonggido-

“blaam..blaamm…” Yo Won dan Yuri berjalan keluar dari mobil Hyundai Equuz hitam yang membawa mereka. Sekarang mereka berada di tempat parkir Pelabuhan Gyeonggi. “kita harus bisa bertemu dengan Kepala Gudang Pelabuhan Tae Wang…” ujar Yo Won.

“tadi kata penjaga gerbang…kita cukup berjalan lurus sampai ujung dan belok ke kanan dan berjalan menuju Gudang
Pelabuhan nomor 10..” jawab Yuri sambil membuka notesnya. Kali ini tabbynya ditinggal di mobil karena habis baterai.

“baiklah ayo kita jalan..” ujar Yo Won.

“maaf Nona Lee, apakah tidak sebaiknya saya menemani Nona…Pelabuhan barang seperti ini bukanlah tempat dimana para wanita umumnya berada..” ujar Jo Min Shik yang juga ikut keluar dari mobil.

Yo Won hanya tersenyum “kami hanya pergi sebentar Paman…sebaiknya Paman menunggu di sini saja…”

“tenang saja Paman…aku sabuk hitam taekwondo..” seru Yuri sambil memamerkan lengannya. Jo Min Shik hanya bisa menghela napas panjang dan tersenyum “baiklah saya akan menunggu nona di sini…”
Yo Won hanya tertawa melihat gaya assistannya itu dan berjalan diikuti Yuri. 

“UOOONG!!” terdengar suara mesin-mesin pemindah container yang tersusun melintas di atas kepala Yo Won dan Yuri.  Para pekerja pelabuhan yang melintas dekat mereka laki-laki menatap Yo Won dan Yuri dengan heran. “hei lihat ada wanita di sini…sungguh pemandangan langka…” celetuk salah seorang dari mereka yang diikuti tawa yang lain, meskipun begitu Yo Won tetap berjalan dengan percaya diri diikuti Yuri yang sedang mengamati ke sekeliling pelabuhan.

“ah itu dia gudang pelabuhan nomor 10..” Yuri menunjuk pada sebuah bangunan besar berbentuk seperti hangar pesawat hanya saja ini di atas air dengan angka 10 terpampang pada dindingnya yang berwarna kelabu.

-03:30 PM Gyeonggi Harbor Storage No. 10, Gyeonggido-

“ya tenang saja Manager Ju…saya sudah melakukan persiapan semaksimal mungkin…” seru Kim Chul Gyu yang sudah menelepon dengan ponselnya. Lalu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, ia berjalan menuju pojokkan tempat peti-peti dan drum minyak diletakkan. “mengenai oplosannya sudah disiapkan juga…” bisik Chul Gyu.

“hei lihat..ada dua wanita cantik berjalan ke sini…” seru salah seorang pekerja pelabuhan dari jendela lantai atas gudang. Para pekerja yang lain pun ikut berlarian ke jendela.”wah..wah jarang sekali kita kedatangan wanita..” Kim Chul Gyu yang baru saja mematikan ponselnya pun ikut bergabung bersama rekan-rekan kerjanya. “ada apa?ada apa?” ujarnya sambil berusaha menembus keramaian. “waah..cantiknya…” gumam Chul Gyu.

“hei..hei apa yang kalian lihat?” Seorang pria dengan nama Son Jong Hwan dibordir di seragamnya memukul kepala para pekerja dengan koran yang digulung. Ia pun melihat ke jendela. Matanya terbelalak begitu melihat siapa yang datang

“astaga...” pikirnya. Ia pun segera menghadap ke arah para pekerjanya “segera bersiap rapikan tempat ini!!Wakil Direktur Lee datang!!” serunya. Ia segera mengenakan topi biru dengan logo Tae Wang dan berlari menuruni tangga. Begitu mengetahui siapa kedua wanita itu, Chul Gyu pun menelan ludah. “gawat..jangan-jangan mereka ingin menyelidiki masalah pengiriman minyak…aku harus sembunyi…”
Yo Won dan Yuri berjalan masuk ke dalam gudang pelabuhan.

“tang!tang!tang!” terdengar suara derap langkah kaki banyak orang menuruni tangga besi. Puluhan pekerja gudang pelabuhan berlarian menuju lantai dasar, tempat dimana Yo Won dan Yuri berdiri.

“selamat datang Wakil Direktur…” ujar Son Jong Hwan dengan napas agak terengah-engah. Bersama dengan para pekerja yang berbaris, ia memberi hormat kepada Yo Won.

“ah apakah anda Kepala Gudang Pelabuhan ini?” tanya Yo Won.
Son Jong Hwan mengangguk dan membungkukkan badan “saya Son Jong Hwan, Kepala Gudang Pelabuhan Nomor 10 Gyeonggi..”

“ah syukurlah kalau begitu…sebenarnya kami bermaksud datang untuk meminta data terkait pengiriman kapal dari Kilang 1 Daesan dan Kilang 3 Ulsan..bisakah kami meminta data terbarunya sekarang?” tanya Yo Won.

“tentu…silahkan lewat sini..” ujar Son Jong Hwan sambil mempersilahkan Yo Won dan Yuri naik ke atas.

“sial…sial..rupanya dia turun tangan sendiri untuk mengatasi masalah ini…” geram Chul Gyu dari balik peti dan drum minyak. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan bersiap untuk menelpon. Namun tangannya terhenti ketika akan menekan tombol call pada nama Manager Ju yang terpampang di layar. Kemudian ia pun tersenyum lebar

“daripada aku menelponnya lebih baik aku saja yang mengerjai mereka agar mereka tidak lagi datang ke sini…” gumamnya. Ia pun segera keluar dari tempat persembunyiannya dan sambil mengendap-endap berjalan keluar.

-03:40 PM Uiwang, Gyeonggido-

“Hallo…Senior Kang..maafkan aku sepertinya hari ini aku tak bisa membawa laporan dari lab ke kantor hari ini mobilku tiba-tiba mogok tak jauh dari lab..” kata Gun Wook yang sedang menelpon dengan ponselnya di dalam mobilnya yang mati, di tepi jalan raya.

“ah..tidak apa-apa…kau bawa saja hasilnya besok…sekarang kau bawa mobilmu ke bengkel…kau perlu nomor Derek mobil?aku punya bengkel langganan..” jawab lawan bicaranya itu.

“ah terima kasih Senior…aku juga sudah menelpon derek mobil dan sekarang sedang menunggunya..maaf telah merepotkanmu…” jawab Gun Wook.

“oh untunglah kau sudah menelponnya..ya..ya..tidak apa-apa…kutunggu hasil labnya besok..” kata rekan kerjanya itu.
baik senior Kang..terima kasih banyak..”

“ya..sama-sama..sampai besok..” “tut..tut..tut..”  telepon pun terputus.

Gun Wook tersenyum tipis menatap ponselnya lalu memutar kunci mobilnya yang sudah terpasang pada kemudinya.
“brrm..brrm..” mobil SUV infiniti FX hitamnya pun menyala. Gun Wook segera memacu mobilnya menuju jalan raya.

-03:42 PM Gyeonggi Harbor Storage No. 10, Gyeonggido-

“ini datanya…” Son Jong Hwan menyerahkan sebuah file holder kepada Yo Won. Yo Won pun segera membukanya dan membacanya bersama dengan Yuri.

“angka-angka ini apakah benar-benar murni bahwa muatan yang dibawa ke semuanya adalah hasil dari Kilang 1 Daesan dan Kilang 3 Ulsan?” tanya Yo Won.

Son Jong Hwan pun nampak bingung dengan maksud pertanyaan itu. “tentu saja Wakil Direktur, kami melakukan prosedur pemeriksaan sesuai dengan peraturan yang berlaku…kami melihat dari kedalaman tangki yang diisi dengan minyak lalu memeriksa juga kandungan isinya..apakah sesuai dengan yang dipesan atau tidak..” jawabnya.
Yo Won dan Yuri pun yang duduk bersebelahan saling bertukar pandangan. “ah kalau begitu apakah kami bisa bertemu Kim Chul Gyu?” tanya Yuri.

“Kim Chul Gyu?saya akan segera memanggilnya. Son Jong Hwan pun berjalan keluar dair ruangannya. “hei panggil Kim Chul Gyu ke ruanganku!!”serunya dari pelataran tangga. Para pekerja pun pada bergantian menoleh ke sekeliling mereka dan mulai memanggil-manggil nama Kim Chul Gyu. “Kim Chul Gyunya tidak ada…” seru salah seorang pekerja dari bawah.

“apa?bukankah tadi dia ada di sini?” pikir Son Jong Hwan. Ia pun kembali masuk dalam ruangannya.

“maaf Wakil Direktur..sepertinya Kim Chul Gyu sedang keluar…mungkin hari senin nanti saya bisa meminta dia datang ke kantor pusat untuk menemui Wakil Direktur..” ujar Son Jong Hwan.

“ah tidak perlu…aku hanya ingin menanyakan sesuatu saja…” jawab Yo Won. Kemudian ia pun berdiri dari tempat duduknya.

“kalau begitu kami pamit undur diri…kamu harap kedatangan kami yang mendadak tidak menganggu aktivitas kerja di sini…”  ujar Yo Won.

“ah…seharusnya saya yang meminta maaf kepada Wakil Direktur dan asisstannya karena kondisi kantor yang berantakan seperti ini…” ujar Song Jong Hwan sambil membungkukkan badan. Kemudian ia mengantarkan Yo Won dan Yuri sampai keluar gudang pelabuhan.

“jika benar datanya demikian..berarti penyimpangan datanya bisa terjadi di pelabuhan akhir atau di sepanjang perjalanan…” ujar Yuri dengan gaya sambil berpikir.

“aku sudah meminta data dari kantor cabang yang di Jerman…katanya pihaknya sempat bertengkar dengan pihak gudang pelabuhan mengenai masalah ini…pihak pelabuhan ngotot bahwa hasilnya sama sesuai dengan pesanan dan mereka bersikeras tidak melakukan penggelapan hasil ataupun penyelundupan dan menuduh pihak kantor cabang yang melakukan kesalahan hitung atau yang melakukan penyelundupan…tapi pihak kantor cabang bilang bahwa begitu mereka mengukur kembali minyak yang dikeluarkan dari truk pembawanya..hasilnya berkurang... ” sahut Yo Won.

“masalah ini seperti benang kusut saling terikat satu sama lain sehingga sulit menemukan pangkalnya…” ujar Yuri.

Yo Won menarik napas dalam-dalam “ya..oleh karena itu aku ingin meluruskan benang kusut ini…”

Yuri pun mengepalkan tangan kanannya “aku Shin Yuri akan selalu berusaha segenap tenaga membatu Wakil
Direktur..Hwaiting!!” serunya pada Yo Won.

Yo Won pun pun tertawa “terima kasih ya Nona Yuri…”

Mereka mendadak berhenti berjalan. “lho kok jalannya ditutup?kenapa ada peti kemas di sini?” seru Yuri.
Yo Won menoleh ke kanan. Ada gang yang cukup besar di antara peti-peti kemas yang cukup untuk dilalui orang dewasa. “sepertinya kita  bisa lewat sini…” katanya. Yo Won dan Yuri pun berjalan masuk ke dalam gang itu.

Sementara itu dari atas ruang pengendali transtainer yang tinggi, Kim Chul Gyu hanya tersenyum lebar melihat 2 titik hitam kecil berjalan masuk di antara celah-celah peti kemas. “pelabuhan bukanlah tempat untuk para wanita seperti kalian…” gumamnya.

“peti kemas ini panjang sekali…” komentar Yuri sambil melihat peti kemas yang ada di kanan dan kirinya. Mereka pun terus berjalan sambil mencari celah untuk keluar sampai akhirnya mereka melihat ada pertigaan dengan 1 jalan keluar lurus di depan. “itu dia…” seru Yuri. Mereka pun berjalan menuju ke sana namun dari gang-gang yang lain muncul 6 laki-laki berpakaian urakan layaknya preman.

“wah..wah..rupanya ada dua wanita cantik tersesat di sini..” ujar salah satu dari mereka yang berpakaian kaos hitam. Mereka pun berjalan maju mendekat.

Yuri segera berdiri di depan bossnya dan memasang kuda-kuda “kalian mau apa hah?” serunya.

“nona Yuri…” gumam Yo Won di belakang.

“kami menginginkan kalian nona-nona cantik…ayo teman-teman…” sahut salah seorang mereka yang bertumbuh paling gempal.  Mereka kemudian berlari menuju Yo Won dan Yuri.

“Wakil Direktur berlindung di belakangku…” ujar Yuri. “heaaa!!” ia berlari ke depan, melompat dan melakukan tendangan. 3 dari geromblan itu pun jatuh ke belakang.

“Wakil Direktur ayo kita lari…” seru Yuri sambil menarik tangan Yo Won kemudian berlari.

“kejar mereka!!” seru para gerombolan itu.

Yo Won dan Yuri berlari melintasi gang yang ada.  Yo Won menoleh ke belakang, para gerombolan itu masih mengejar mereka.

“mau kemana kau nona?aku tak akan membiarkanmu lari!!” seru salah seorang dari gerombolan itu dengan kebejatan tercermin di wajahnya.

“dug..dug..dug..” Yo Won bisa merasakan jantungnya mendadak berdetak lebih cepat. Keringat dingin mengaliri wajahnya. “Ya Tuhan jangan sekarang..” gumamnya gemetar.

“sraaat…” Kedua kaki Yuri melesat di atas pasir saat berbelok. Namun ternyata yang menanti mereka adalah tembok. Para pengejar mereka pun tertawa puas begitu melihat Yo Won dan Yuri terjebak.

“Wakil Direktur…apa Wakil Direktur baik-baik saja?wajah Wakil Direktur pucat sekali…” tanya Yuri dengan khawatir.

“ya..aku baik-baik saja..” jawab Yo Won sambil menyembunyikan kedua tangannya yang gemetar di belakang.
Para gerombolan itu berjalan mendekat. “ternyata kalian memilih mengejar kami..baiklah kalau kalian lebih memilih untuk menerima tendanganku lagi..” bentak Yuri.
Para gerombolan itu hanya tersenyum lebar.

“Wakil Direktur..begitu aku mulai menghajar mereka Wakil Direktur harus lari…” ujar Yuri sambil memasang kuda-kudanya

“nona Yuri…aku tak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini…”

“Hentikan!!” terdengar suara laki-laki dari belakang tembok. Kemudian dari atas tembok melesat bayangan manusia dan mendarat tepat di antara gerombolan. “sraaat…” suara sepatu yang menyapu pasir di jalan.

“Hyun!!” seru Yuri.

“lawan kalian adalah aku…” seru Choi Soo Hyun.

“sialan…maju semua!!” seru pria bertumbuh gempal. Para gerombolan itu pun berlari menuju Soo Hyun.

-04:15 PM Uiwang, Gyeonggido-

Dari dalam mobilnya, Gun Wook duduk diam dengan mata mengawasi orang-orang yang keluar masuk pemandian umum yang berada tak jauh dari mobilnya.

“aku sudah menyelidiki alamat rekening tujuan transfer Ju Bae Ho namun setelah kuselidiki rupanya identitas yang digunakan untuk rekening itu adalah identitas orang yang sudah meninggal." ia teringat akan percakapan di ponsel yang barusan ia lakukan. 

Sambil melihat foto di tangannya, ia mengamati wajah-wajah orang-orang yang keluar masuk. “itu mereka…” gumamnya begitu melihat 3 orang pria dengan tato bergambar jangkar kapal di lengan kanan mereka yang kekar. Ketiga pria itu berjalan masuk ke dalam pemandian umum itu. Gun Wook kemudian turun dari mobilnya dan berjalan menuju pemandian umum itu. Gun Wook membayar sejumlah uang pada penjaga pemandian umum yang duduk di meja tengah kemudian mengambil baskom kecil yang berisi handuk, shampoo, dan sabun lalu berjalan menuju ruang ganti pria. Hanya ada dirinya dan 3 orang pria bertato itu. Gun Wook memilih untuk bergnati pakaian di lorong loker yang berbeda dengan mereka


“kalian tahu apa reaksi istriku begitu melihat uang yang kuberikan padanya pada hari ini?ia langsung memelukku dengan gembira dan mengajakku bercinta…” seru salah seorang dari mereka yang berambut cepak. Teman-temannya pun menertawakannya.

“sayang setelah ini kita harus kembali hidup susah…gara-gara seorang wanita yang menyusahkan, Chul Gyu harus menghentikan bisnisnya itu..” sahut salah seorang pria yang mengenakan anting di telinga kanannya.

“hah ya sudahlah yang penting sekarang kita bersenang-senang..toh Chul Gyu sendiri pastinya akan mengusahakan bisnisnya kembali berjalan..ia kan juga memperoleh uang yang banyak dari sini..” sahut temannya yang baru saja selesai melepaskan celananya.  Setelah selesai menanggalkan pakaian mereka dan mengenakan handuk di pinggang, merekapun berjalan ke arah ruang pemandian.

-04:23 PM Gyeonggi Harbor Storage No. 10, Gyeonggido-

“lari!!” seru para gerombolan itu sambil berlari memapah teman mereka yang terluka. “sial..” gumam Soo Hyun menghapus darah dari pipinya. Ia pun segera menghampiri Yuri dan Yo Won “kalian tidak apa?untung saja tadi reporter dan kameramenku sempat melihat kalian berlari-lari..dan aku mendegar teriakanmu…” ujar Soo Hyun yang masih terengah-engah.

“ya..aku baik-baik saja tapi sepertinya Wakil Direktur..” jawab Yuri sambil menatap Yo Won dengan wajah khawatir. Yo Won menggenggam erat lengannya seakan-akan takut jika ia melepaskannya ia akan jatuh. “Wakil Direktur, anda baik-baik saja kan?” tanya Yuri dengan khawatir.

Yo Won menarik  napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “ya aku baik-baik saja…”  jawabnya sambil menatap Soo Hyun dan Yuri. Ia pun perlahan melepaskan genggaman tangannya dan kemudian tersenyum dan membungkukkan badannya “aku baik-baik saja hanya sedikit kelelahan…terima kasih karena telah menolongku…”

“kalau begitu lebih baik kita segera kembali ke mobil agar Wakil Direktur bisa beristirahat…” ujar Yuri yang masih khawatir.

-09:15 PM Uiwang, Gyeonggido-

Gun Wook berjalan keluar dari sebuah bar karaoke dan masuk ke dalam mobilnya yang diparkir tak jauh dari sana. Ia mengeluarkan ponselnya dan memasukkan sederet nomor lalu menelepon.

“kau sudah tentukan senjata yang cocok?” terdengar suara lawan bicaranya menyahut.

“aku menginginkan Colt M1991AI lengkap dengan peredamnya dikirim malam ini juga..”

“pelurunya?” tanya lawan bicaranya

“dua catridge cukup untuk besok..” jawab Gun Wook.

-  09:16 PM Kediaman Keluarga Lee, Seocho-gu, Seoul –

Yo Won sedang duduk di meja kerjanya sambil menelepon, dengan laptop di hadapannya menampilkan data-data diri orang-orang.

“Wakil Direktur…lebih baik besok kita kirim beberapa orang dari yang kurekomendasikan itu ke sana untuk menyelidikinya diam-diam…orang-orang ini dulu adalah kepercayaan Direktur Lee jika harus menyelidiki dan menilai sesuatu…jadi pastinya bisa dipercaya..” terdengar suara Yuri dari telepon tersebut.

“saranmu akan kupertimbangkan Nona Yuri…nanti akan kuberitahu mengenai keputusanku besok pagi..terima kasih Nona Yuri atas data-datanya dan maaf karena telah merepotkanmu malam-malam begini…” jawab Yo Won yang sedang mempelajari data-data yang baru saja dikirim Yuri via email.

“Wakil Direktur tidak perlu sungkan seperti itu..justru saya merasa bersalah karena saya tidak menjadwal kegiatan Wakil Direktur dengan baik sehingga Wakil Direktur bisa kelelahan seperti tadi..maafkan saya..” ujar Yuri dengan nada penuh rasa bersalah.

“sudahlah tidak perlu dipikirkan lagi…staminaku memang tidak begitu bagus…kalau begitu selamat beristirahat Nona Yuri…selamat berakhir pekan besok…” kata Yo Won sambil tersenyum.

“sama-sama Wakil Direktur…selamat malam..” balas Yuri.

Telepon pun terputus. Yo Won meletakkan telepon cordlessnya di meja dan kembali fokus pada laptopnya.
“apakah sebaiknya aku mengikuti saran Yuri atau menyelidikinya sendiri?” pikir Yo Won.
Terngiang kembali dalam benaknya kejadian buruk yang menimpanya di pelabuhan tadi siang. Ketika segerombolan laki-laki mengejar dirinya dan asistennya.

“aku akan lebih berhati-hati besok...” gumam Yo Won sambil memejamkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“mau kabur kemana kau?..aku tak akan membiarkanmu lari?” tiba-tiba terngiang suara seorang pria. Suara yang berbeda dengan suara pria yang tadi mengejarnya tadi siang. Dan terlintas dalam benaknya sebuah bayangan hitam sedang mengejarnya-ngejarnya. Lalu sebuah seringai yang sangat jahat. “dug..dug..dug..” jantung Yo Won mendadak berdetak cepat. Kedua tangannya gemetar. Keringat dingin mengalir membasahi keningnya.

“nona Yo Won!!” So Hwa yang berdiri di depan pintu segera meletakkan nampannya yang membawa segelas susu dan berlari memeluk Yo Won.

“nona..nona tenanglah…” ujar So Hwa yang sekarang sudah memeluk nonanya itu dari belakang.

“bibi…kenapa itu selalu muncul dalam benakku bi..kenapa…bahkan di saat penting seperti ini itu terus menghantuiku…” gumam Yo Won gemetar sambil memeluk kedua lengan bibinya yang memeluknya.

So Hwa hanya bisa memeluk Yo Won dengan mata yang berkaca-kaca “tenanglah nona…itu tak akan kembali terjadi…”

-09:23 PM Seongwon Apartement, Yongsan-gu, Seoul-  

Yuri meletakkan telepon rumahnya ke tempatnya semula kemudian kembali menatap laptopnya.
“bagaimana?” tanya Soo Hyun yang sekarang duduk di sampingnya. Duduk di atas karpet berwarna hijau muda di ruang keluarga apartemen Yuri.

“Wakil Direktur bilang ia akan mempertimbangkan usulanku…” jawab Yuri yang baru saja mengklik icon turn off.

Soo Hyun menuangkan teh ke dalam mug lalu menyerahkannya kepada Yuri. “untuk sementara ini kusarankan kau dan Nona Lee jangan pergi ke pelabuhan itu..siapa tahu gerombolan itu akan balas dendam dan ada anggota pemberontak asing atau sindikat black market yang mengganggu kalian…”

“mwo?pemberontak asing di Pelabuhan Barang Republik Korea?” kedua alis Yuri terangkat.

Soo Hyun terdiam sebentar seakan-akan mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya berbicara “itu baru dugaan…sebenarnya tadi diam-diam aku juga sedang menyelidikinya tadi di sana…berkaitan dengan masalah pemberontak asing dan black market…”

Yuri pun  segera menarik tangannya yang dari tadi digenggam Soo Hyun “mwo?bukankah tadi Hyun di sana untuk meliput mengenai masalah impor dari Jepang?jadi Hyun selama ini diam-diam sudah keluar masuk dalam black market dan mencari informasi di sana?!” Yuri pun segera bangun dari duduknya

Soo Hyun segera mengenggam tangan Yuri “dengarkan aku dulu…aku tahu kau pasti tidak akan menyukai ini tapi jika aku berhasil mengungkapnya maka negara ini akan terbebas dari ancaman perompakkan…kau tahu kenapa akhir-akhir ini kapal kita sering dibajak?itu semua karena adanya kerjasama dari pihak dalam..oleh karena itu aku ingin menyelidikinya..”
Yuri tetap saja berdiri memunggungi kekasihnya itu.

“Hyun tahukan kenapa sekarang aku hanya tinggal sendiri?” tanya Yuri.

“Yuri…” gumam Soo Hyun.

“ibuku sudah meninggal sejak kecil..aku dan ayah tidak punya sanak keluarga lain…ayahku yang kuyakini bekerja sebagai wartawan koran ternyata adalah seorang mata-mata negara…dan begitu aku menyadarinya ternyata ayah sudah tak bernyawa karena diam-diam menyelidiki mata-mata Korea Utara setahun yang lalu…dan sekarang kau diam-diam menyelidiki hal yang sama bahayanya…bagaimana nanti jika…” Yuri berdiri dengan kedua tangan terkepal gemetar.

Soo Hyun memeluk kekasihnya itu dari belakang “itu tak akan terjadi…aku tidak bergerak sendirian…kami bergerak dalam sebuah tim…dan kami tidak melakukan hal-hal yang bahaya yang seperti kau yang pikirkan..kami hanya menyelidiki sesuai dengan prosedur jurnalis bukan militer maupun mata-mata…” Kemudian ia memutar badan Yuri sehingga ia bisa melihat wajah Yuri yang sudah berlinang air mata. Dengan kedua jempolnya, ia menghapus air mata Yuri yang sudah berjatuhan kemudian mendekapnya dalam pelukannya.

“aku tak mau ditinggal sendirian lagi..” isak Yuri.

“aku berjanji akan selalu di sisimu Yuri.…” gumam Soo Hyun sambil memeluk kekasihnya itu dengan erat.