Pages

Sabtu, 27 November 2010

Our Future Still Continue Chapter 65: The Letters




Keesokan harinya.

Pagi hari
Kamar Putri Deok Man. Istana Ingang
“ayo Yun Ho..aaa..” Bi Dam sedang menyuapi putranya yang duduk di pangkuannya. Yun Ho pun segera melahapnya.  “pintarnya..anak appa makanannya sudah habis..” puji Bi Dam. “ayo nona  Yoo Na..makanannya tinggal sedikit lagi..”  ujar Soo Hye yang sedang menyuapi Yoo Na, tapi Yoo Na mengalihkan pandangannya seakan-akan mencari sesuatu. “omma?” celotehnya sambil memandang ke arah tempat tidur  ayah dan ibunya. “nona Yoo Na..ayo makanannya tinggal sedikit lagi..” bujuk Soo Hye. Tapi Yoo Na masih saja mengalihkan pandangannya dari makanannya dan memanggil ommanya. Soo Hye menatap tuannya. “sepertinya Yoo Na mulai merindukan ommanya..” begitulah isi pikiran mereka berdua. Bi Dam pun segera meminta Soo Hye menggendong Yun Ho dan ia mengambil Yoo Na darinya. “ayo Yoo Na sini sama appa ya..” ujar Bi Dam sambil mengambil mangkuk  putrinya “appa?” panggil Yoo Na. “iya sayang..ayo makanannya dihabiskan..aaa..” bujuk Bi Dam. Yoo Na pun menurut appanya dan melahap makanannya. “pintar ya putri appa..” puji Bi Dam sambil mengecup pipi putrinya. “kyaa..” Yoo Na tertawa geli. Setelah selesai makan, Bi Dam meletakkan mereka di tempat bermain mereka. “hamba mohon menghadap Tuan Perdana Menteri..” seru seseorang dari balik pintu. “masuklah..” jawab Bi Dam. “sraak..” seorang kasim melangkah masuk dan memberi hormat. “ada apa?” tanya Bi Dam. “ada surat Tuan…seekor burung merpati hitam membawanya ke sini tadi di pelataran depan …saya pikir burung itu kepunyaan Tuan..” jawab kasim itu sambil menyerahkan gulungan kertas kecil kepada Bi Dam. “ah ya..itu memang milikku..terima kasih..” jawab Bi Dam sambil menerima surat itu. Kasim itu memberi hormat dan pergi keluar. Bi Dam membaca surat itu segera.

“Tuan, kami telah tiba dengan selamat di Taegu. Sekarang Nyonya sedang beristirahat dalam kamarnya di penginapan. Besok pagi kami akan berangkat sesuai rencana yang Tuan buat. Hormat saya, Bi Ryu ”

Bi Dam menghela napas lega begitu membacanya “syukurlah mereka sampai dengan selamat … kuharap kau selalu baik-baik saja Deok Man…” gumamnya sambil tersenyum menatap wajah istrinya yang ada di lukisan keluarga mereka.

Siang hari.
Perbatasan Wonju. Kamp militer Goguryeo. 
“siapkan semua barisan..” perintah Panglima Perang Goguryeo, Panglima Eulji dari atas kudanya. “tap..tap” seorang kurir pengantar surat datang menghadapnya dan memberi hormat “ada surat untuk Tuan…”  Eulji menerima suratnya lalu membacanya. “hmm..” ia tersenyum puas begitu membaca surat itu. “ya tak akan ada kegagalan kali ini..” gumamnya puas.


Perbatasan Wonju. Kamp Militer Shilla.
Setelah membaca surat dari Bi Dam yang diterimanya tadi pagi, Yushin segera mengumpulkan para jenderalnya di dalam kemahnya untuk membahas strategi apa yang akan mereka gunakan selajutnya dan masalah mengenai Goguryeo-Baekje “jadi bagaimana menurut kalian?” tanya Yushin. “saya rasa lebih baik kita  fokus pada pertahanan kita di sini…mengenai Baekje saya rasa itu hanya rumor belaka…kita belum melihat ada pergerakan pasukan dari mereka…lagipula bukankah Raja Uija sendiri tidak menghendaki Baekje terlibat perang lagi...ditambah Goguryeo sudah meminta tambahan pasukan dari Wa..pasti sekarang jumlah pasukan mereka lebih banyak dari kita..” jawab salah Jenderal Hyun Su. “huft..semoga saja Tuan Putri cepat menyelesaikan urusan diplomasi dengan Tang..” keluh jenderal yang duduk di sebelah Baek Ui. “apa maksudmu?” tanya Yushin. Ada amarah tersembunyi dalam nada bicaranya. “yah Panglima pasti paham..dengan adanya aliansi semuanya akan selesai…Goguryeo..Baekje..semua beres..” jawab orang itu. “jika ternyata Tang tidak ingin membuat aliansi..lalu apa yang AKAN KALIAN LAKUKAN?” bentak Yushin sambil menggebrak meja.  Semuanya pun terdiam. “kita tak bisa bergantung pada harapan bahwa kita akan beraliansi..itu baru hanya kemungkinan…” Yushin melanjutkan. Semua Jenderal hanya diam dan suasana menjadi tegang.  “hmm..kupikir kita bisa mengirim Jenderal Baek Ui dan Jenderal Ye Sung ke daerah perbatasan…4000 tentara kurasa cukup untuk setidaknya menahan Baekje agar tidak bisa mencapai ibukota…dan kita bisa meminta tambahan pasukan dari para bangsawan di bawah pimpinan Perdana Menteri Bi Dam untuk melindungi Seoraboel jika ternyata yang terburuk benar-benar terjadi meskipun jumlahnya tak seberapa…” ujar Wolya meredakan ketegangan. Yushin menghela napas panjang melepas emosinya “ya..kurasa sebaiknya begitu…Jenderal Baek Ui..Jenderal Ye Sung?” “Ya Panglima..” jawab Baek Ui dan Ye Sung serempak. “kalian berdua bawalah pasukan kalian sekarang diam-diam ke wilayah sekitar perbatasan Shilla-Baekje terutama yang berbatasan langsung…laksanakan!” “siap Panglima!” jawab Baek Ui dan Ye Sung. “kurasa rapat kali ini cukup sampai di sini…” Yushin menggulung peta yang ada di mejanya.  Para jenderal pun berdiri memberi hormat dan berjalan keluar satu persatu.  Hanya tinggal Wolya dan Yushin berdua. “kau pasti mengkhawatirkannya bukan? masihkah kau memendam perasaanmu padanya?” tanya Wolya di belakang sahabat baiknya itu. Yushin hanya terdiam tak menjawab.

20 KM di luar Kota Taegu.
Deok Man dan rombongannya sedang beristirahat sejenak di tepi hutan. Berbeda dengan kemarin, kali ini mereka harus melewati jalan darat. “apakah Nyonya ingin handuk dingin?” tanya  Dae Gil ramah, menawarkan. “hmm tidak..terima kasih Dae Gil..” jawab Deok Man. “apakah tempat yang kita tuju masih jauh?” tanya Deok Man. “saya rasa sudah cukup dekat Nyonya… kira-kira 30 ri jaraknya dari sini..mungkin sebelum sore kita sudah bisa tiba di sana..” jawab Shi Yoon. “hmm..begitu ya..” Deok mengangguk mengerti dan  bangun dari duduknya “apakah Nyonya sudah ingin berangkat?” tanya Il Woo. “iya..agar kita bisa beristirahat lebih lama di penginapan..” jawab Deok Man  sebelum ia masuk ke dalam tandunya. “baiklah ayo semuanya siap-siap..” seru Yong Joon menginstruksikan pengawal lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar