Pages

Senin, 29 November 2010

FF BIDAM - DEOKMAN, Our Love Story bag. 9

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 9a

Scene : THIS IS FOR OUR GLORY

Benteng Daia

“Lapor Jenderal, tentara Shilla yang diperkirakan sekitar 800 orang bergerak akan menuju kota Baeksong” lapor seorang prajurit Baekje.

“Kurang ajar, Bantu pertahanan kota Baeksong sekarang juga keluarkan pasukan di benteng 200 orang” perintah Jenderal Yoosang. ‘berarti jumlah pasukan di benteng adalah 200 orang, hmm.. jumlah ini cukup untuk menahan pasukan Shilla bila mereka menyerang kemari’ pikir sang jenderal.

Kamp di dekat Benteng Daia

Bidam tengah memakai pakaian penyusup, sedang bersiap dan membagi-bagikan tugas.

Bidam : “Resimen penyusup ikut aku sekarang, kita akan masuk ke dalam benteng sore hari, setelah kita masuk dan memberikan kode, pasukan crossbow maju dan melakukan serangan di gerbang utama sampai pasukan Baekje keluar benteng, mereka akan binggung dari mana arah panah berasal, maka mereka akan berjaga di sekitar area depan gerbang, kemudian pasukan alat berat maju untuk mengkonsentrasikan jumlah pasukan baekje berkumpul di gerbang utama.

Pasukan lain akan masuk setelah aku membuka gerbang barat, kelemahan benteng daia adalah gerbang utara kemungkinan mereka akan menjaga ketat area ini. Semua harus ada di pos masing-masing dan melakukan tugasnya. Mengerti!!” Semua menjawab siap.

Salah satu hwarang bertanya “kode apa yang akan kita gunakan untuk memberitahu pasukan lain agar maju?”

Bidam menjawab “ini..”dikeluarkannya kotak besar yang didalamya terdapat 4 ekor burung merpati.

Hwarang Jungsae bertanya : “disini ada banyak burung merpati Sangdaedung, bagaimana kita akan membedakannya?”

Bidam : “burung ini akan bersinar bila langit telah gelap, bila kalian lihat ada burung merpati yang bulunya bersinar terbang di langit maka kalian harus mulai bergerak. Mengerti!”

’bersinar..? bagaimana bisa bulu burung bersinar’pikir Jungsae binggung.

Ruang kerja ratu

“Yang Mulia, tabib Lee datang menghadap!” seru penjaga pintu

“Kapten Alcheon keluarlah..” kata Deokman pada Alcheon yg berdiri di sampingnya

“Apa Yang Mulia merasa sakit lagi?” tanya Alcheon

“Tidak, ini hanya pemeriksaan rutin. Alcheon aku mohon jangan kau beritahukan pada siapapun tentang hal ini, terutama pada Bidam” kata Deokman.

“tapi Yang Mulia, Sangdaedung adalah suami Yang Mulia, sebaiknya dia diberitahukan tentang kondisi Yang Mulia agar tidak terjadi salah paham nantinya” saran Alcheon

“aku pasti akan memberitahukannya tapi nanti bukan sekarang, pokoknya hanya kau yang tahu tentang kondisiku ini, sekarang suruh tabib Lee untuk memeriksaku” kata deokman tegas. Alcheon pun menurut.

“Bagaimana kondisiku?” tanya deokman pada tabib Lee

“Yang Mulia, kondisi Yang Mulia sekarang sudah jauh lebih baik karena Yang Mulia rajin meminum obat yang hamba berikan, melihat perkembangan ini saya rasa pengobatan akupuntur dapat dijalankan sekarang” jelas tabib Lee.

“Baiklah, kapan dimulainya terapi akupuntur itu?” tanya Deokman.

“Saya rasa 1 minggu lagi, Yang Mulia dapat memulainya karena saya harus memastikan lebih lanjut titik-titik yang ditusuk tidak menimbulkan efek samping” jawab tabib Lee

“Baik, ingat tabib Lee tidak boleh ada yang tahu tentang hal ini, mengerti?” tegas Deokman. “baik Yang Mulia, hamba permisi” jawab tabib Lee pamit.

Scene : THE STRATEGY ON SET

Benteng Daia

Dengan cepat 2 orang berpakaian hitam membunuh penjaga luar gerbang barat tanpa bersuara dan menariknya ke ilalang tinggi, dengan cepat pula 2 orang penyusup melepaskan pakaian penjaga dan mengenakannya, ini untuk tujuan menyamar lalu mereka kembali ke pos gerbang.

Lalu menjelang malam tiba saat pengantian penjaga, 4 orang penjaga Baekje keluar gerbang kemudian mereka bernasib sama dengan 2 rekannya sebelumnya, akhirnya Resimen Bidam berhasil menyamar sebagai penjaga gerbang barat luar dan dalam.

Penjaga gerbang luar palsu melepaskan seragam pasukan dan memasangnya pada sebuah kayu yg berkaki tiga lalu diberdirikan alih-alih penjaga. Dan memasuki benteng dengan hati-hati lalu bersembunyi, kemudian dilanjutkan oleh 2 orang yang lain melakukan hal yg sama dan bersembunyi, tinggal 2 orang saja yang berpakaian penjaga di dalam gerbang dalam benteng dan mondar-mandir seperti layaknya tugas penjaga. Mereka tampak sudah hafal sekali tempat persembunyian yang ideal dan aman, lalu salah seorang mengeluarkan kotak dan mengeluarkan isinya lalu diterbangkannya satu burung merpati yang bulunya bersinar terang, selang 5 menit kemudian burung merpati yang lain dilepaskan begitu seterusnya sampai 4 burung selesai dilepaskan.

Komandan pasukan crossbow melihat burung bersinar di udara lalu memerintahkan untuk siap membidik. Hujan panahpun menuju ke benteng daia, sebagian besar penjaga terkena, suasana dalam bentengpun heboh. Pasukan Baekje yang ada di dalam benteng bersiap-siap menuju gerbang utama, sebagian kelompok pasukan menuju gerbang utara.

Gerbang utama dibuka beberapa prajurit garis depan keluar dan mereka disambut dengan hujan panah yang semuanya sesuai sasaran lalu pasukan alat berat Shilla maju. Karena melihat ada serangan di depan gerbang, pasukan Baekje maju menghalangi pasukan alat berat Shilla.

Karena hujan panah tidak berhenti dan mengenai penjaga yang ada di atas benteng maka bagian atas bentengpun kosong tak terjaga, begitupun dengan pasukan garis depan Baekje yang bertempur di gerbang utama sehingga pasukan alat berat Shilla dapat mudah merangsek ke depan .

Mendengar pertempuran berlangsung di depan lalu penjaga gerbang barat palsu membuka pintu dan pasukan Shilla yang dari tadi bersembunyi di luar benteng keluar, jumlahnya sekitar 20 orang. Mereka maju dan bertempur di dalam benteng. Lalu Resimen penyusup keluar dan mulai membunuh para musuh. Melihat mereka diserang dari luar dan dalam benteng, akhirnya seluruh pasukan Baekje yang sekarang berjumlah ±80/90 orang menyerah. Setelah dipreteli senjata dan seragamnya, semua pasukan Baekje ditawan termasuk Jenderal Yongsan.

“Lapor Sangdaedung, semua pasukan telah menyerah dan benteng Daia berhasil kita kuasai” lapor seorang kolonel Shilla.

“Bagus, kirim berita pada pasukan di Baeksong, kita berhasil merebut Benteng Daia, dan laporkan korban di pihak kita” perintah Bidam yg masih memakai baju penyusup,

“Siap Sangdaedung” hormat kolonel dan pergi.

Para penyusup yang berjumlah 5 orang lainnya berkumpul di dekat Bidam (selanjutnya Resimen ini disebut Resimen Bidam),

“Ini kemenangan yang cepat, aku bangga kalian semua melakukannya dengan baik sekali, nyaris tanpa cacat, padahal ini adalah pertempuran pertama kalian heh?” puji Bidam bangga sambil menatap anak didiknya satu persatu.

“Ya Sangdaedung, ini sangat mengembirakan bisa merebut benteng dengan mudah, ini berkat stategi dan taktik Sangdaedung yang cerdas sekali” Jungsae balik memuji.

“Ya betul Sangdaedung, ini berkat anda!” kata yang lain hampir bersamaan.

“Baik, ini kerja keras kita semua demi Shilla yg kita cintai, sekarang aku akan membagi tugas berjaga; Hwarang Hanwok (ban hijau tua) kau bertugas di gerbang barat, Hwarang Iljung (ban ungu) gerbang utara, Hwarang Dong (ban hijau muda) gerbang selatan, Hwarang Jiwon (ban biru muda) gerbang utama, Hwarang Jungsae (ban merah) kau bertugas di dalam benteng, laporkan segera bila ada gerak-gerik mencurigakan!” perintah Bidam.

“SIAP Sangdaedung!!”. Bidam berlalu diiringi dengan sikap hormat para hwarang.


FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 9B

Scene : I MISS YOU SO MUCH

Kamar Bidam di Benteng Daia

Bidam menulis surat pada Deokman,

“ratuku, aku telah mempersembahkan kemenangan untukmu, kau pasti sangat senang mendengarnya, sekarang aku tinggal menunggu berita dari Yushin dan menunggu pasukan yang lain untuk menjaga benteng. Istriku, aku sangat merindukanmu, aku hanya memikirkan dirimu dalam setiap langkahku dan berusaha melakukan yang terbaik untukmu. Aku ingin cepat kembali dan bertemu denganmu. Bidam” tulis Bidam, dan meletakkan surat dalam selongsong yang ada di kaki burung merpati lalu menerbangkannya keluar.

“Selamat malam Deokman, aku mencintaimu” gumam Bidam sambil mencium cincinnya.

Kamar tidur ratu

Esok paginya, ketika Deokman sedang menghirup teh datang Dayang Choisun,

“Yang Mulia ini burung merpati kiriman Sangdaedung:kata Choisun sambil menyerahkan sangkar kecil ditangannya pada Deokman, Deokman meraih burung itu dan mengambil selongsong yang ada dikakinya dan membaca surat dari Bidam sambil tersenyum. Lalu Deokman menulis surat balasan

“aku sangat senang mendengarnya, aku tahu kau mampu melakukannya. Aku akan mengirim surat pada gubernur provinsi agar segera mengirim pasukan untuk ditempatkan di benteng daia, agar kau cepat kembali. Aku juga benar-benar rindu padamu dan ingin segera bertemu denganmu. Aku sangat mencintaimu, bidam. Deokman” tulis Deokman. Merpatipun dibawa keluar oleh Choisun untuk diterbangkan.

“Bidam, terima kasih kau telah melakukannya untukku” gumam Deokman sambil menatap dan mengusap gelang ditangannya.

Scene : EASY PAL.. I’M COMING

Benteng Daia

Berita tentang kemenangan Bidam merebut Benteng Daia membuat Yushin semangat dalam melakukan serangan ke kota Baeksong, namum menyerang kesana tak semudah yang dibayangkan, pasukan Baekje juga bersemangat mempertahankan wilayahnya ditambah serangan dari belakang yang berasal dari pasukan yang keluar dari Benteng Daia. Semua itu membuat pasukan Yushin agak kewalahan.

“Lapor Sangdaedung!” lapor kurir dari pasukan Yushin.

“Ya” jawab Bidam yang saat ini sedang mengadakan pertemuan di ruang rapat benteng. “Pasukan telah berhasil menguasai perbatasan kota tetapi kami dengan terpaksa mundur kembali karena kamp kita diserang musuh, Panglima Yushin mohon bantuan Tuan secepatnya, agar situasi ini dapat diselesaikan segera” kata kurir menyampaikan pesan dari Yushin.

“Baik, sampaikan pada Yushin bahwa kami akan membantu bila pasukan provinsi telah datang untuk menjaga benteng ini”balas Bidam. Kurirpun memberi hormat dan pergi. “Pasukan provinsi kemungkinan akan datang besok, setelah mereka datang kita akan membantu Panglima Yushin” kata Bidam kepada para peserta rapat.

Bidam menerima surat balasan dari Deokman sore harinya lalu dengan cepat membalasnya “Ratuku, aku harus membantu Yushin dalam misinya jadi aku akan menuju medan perang lagi, ini demi kejayaan Shilla. Aku juga mencintaimu, sangat sangat mencintaimu. Doakan aku agar kami berhasil, jaga dirimu jangan terlalu lelah. Kau tidak perlu membalas surat ini lagi, tunggu berita dariku selanjutnya. Aku sungguh rindu padamu deokmanku. Bidam”

Pasukan provinsi datang keesokkan harinya, setelah mengadakan instruksi-instuksi pada jenderal yang menjaga Benteng Daia. Hari itu juga Bidam dan pasukannya menyusul Yushin di perbatasan kota Baeksong.

Kamp di perbatasan kota Baeksong

Yushin dengan gembira menyambut pasukan Bidam, dan mereka langsung menyusun beberapa strategi & siasat untuk menduduki Baeksong. Setelah mengadakan pertemuan dengan beberapa jenderal, semua meninggalkan ruangan hanya tinggal Yushin dan Bidam.

“Panglima Yushin, tunggu, ada yang ingin aku tanyakan” kata Bidam

“ya”

“apakah ini rencana Yang Mulia, membuat 2 serangan ke daerah yang berdekatan agar aku dengan mudah menguasai benteng daia?”

“aku tahu. Kau cepat atau lambat akan menyadarinya”

Bidam mengelengkan kepala dan tersenyum samar.

“Bukan karena Yang Mulia tidak percaya pada kemampuanmu, tapi Yang Mulia bertindak sebagai pribadi untuk membantu dirimu” lanjut Yushin

“lalu mengapa kau menyetujuinya”

”apa aku harus menjawabnya? Anggap saja sogokan darimu waktu menyerahkan buku itu kini telah kubayar lunas”

Bidam menanggapi jawaban Yushin dengan senyum tipis.

Hasil strateginya adalah diputuskan agar Resimen Bidam melakukan pengintaian dan secara diam-diam membunuh para kurir penyampai pesan agar pesan dari benteng perbatasan tidak sampai ke markas Baekje. Strategi ini efektif karena setelah 4 hari kemudian pasukan Baekje di perbatasan tidak melakukan hal-hal yang berarti dan tidak ada tanda-tanda markas besar Baekje memberi bantuan lagi.

Serangan pada benteng perbatasan dimulai, dengan cepat pasukan Yushin & Bidam menguasai benteng perbatasan dan mulai merangsek ke tengah kota. Melihat kotanya diserang Pasukan Baekje pun tak tinggal diam dan melawan.

Pertempuran hebat terjadi, dan mereka mulai menduduki kota dan mengadakan perjanjian agar pasukan Baekje meninggalkan kota dengan sukarela dan menyerahkannya pada Shilla, dan dari para tawanan dari Benteng Daia dan Baeksong akan dipulangkan.

Tapi pihak Baekje menolak dan mengempur Shilla dari arah barat kota, akhirnya mereka membagi tugas agar Bidam dan pasukannya mempertahankan kota dan Yushin menahan pasukan Baekje dari barat.

Selama perang berlangsung Bidam sesekali mengirim Deokman surat tapi Bidam minta Deokman tidak membalasnya kembali karena takut salah sampai. Begitupun Deokman, selama perang berlangsung Deokman rajin mengunjungi kuil dan berdoa dengan khusuk agar Bidam selamat dan pasukan Shilla menang.

Akhirnya pasukan Baekje menyerah dan mundur, dan mereka menguasai kota Baeksong lalu mengamankan daerah sekitar.

Berita tentang kemenangan Yushin dan Bidam sampai di istana, seluruh istana dan rakyat sangat senang mendengarnya.

Akhirnya surat resmi dari kerajaan datang yang isinya mengatakan bahwa Sangdaedung dipersilahkan kembali ke Soerabeol dan kembali melaksanakan tugasnya sebagai perdana menteri Shilla. Sementara Panglima Yushin diminta untuk menjaga dan mempertahankan stabilitas di kota Baeksong dengan bekerja sama dengan gubernur provinsi setempat. Bidam sangat senang mendengar surat itu, artinya ia kembali bertemu dengan Deokman yang sangat dirindukannya setelah hampir 1 bulan tidak bertemu.

“Deokmanku akhirnya aku kembali padamu, kau tahu aku bisa mati karena sangat merindukanmu, lebih baik aku mati karena sebilah pedang daripada aku mati karena menahan rindu seperti ini. Aku ingin selalu berada di dekatmu, tapi sekarang aku sangat gembira karena awan mendung yang menyelimuti hatiku sudah menghilang digantikan oleh sinar matahari yang cerah yaitu sinar dari wajahmu” tulis Bidam dalam suratnya dan segera diposkan oleh merpati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar