Pages


Senin, 29 November 2010

FF BIDAM - DEOKMAN, Our Love Story Bag. 4

FF BIDAM - DEOKMAN, Our Love Story Bag. 4

BAgian 4

Scene : I‘m sorry you have to ACCEPT THIS

Tempat Favorit Deokman

Kasim mengumumkan kedatangan Sangdaedung Bidam.

Bidam menghadap Deokman dan memberi hormat, Deokman menoleh dan tersenyum.

Deokman: “Kau datang..”

Bidam: “Ya Yang Mulia, Yang Mulia memanggil hamba”

Deokman: “Bagaimana keadaanmu sekarang?”

Bidam: “Hamba jauh lebih baik, terima kasih atas perhatian Yang Mulia, tabib istana telah mengobati hamba dengan baik”

Deokman tertawa pelan, Bidam heran ‘apa ada yang salah diperkataanku’batin Bidam. Sambil tersenyum Deokman berkata

“rasanya aneh kau memanggilku dengan Yang Mulia, Bidam aku ingin kau hanya memanggil namaku kalau kita berdua saja seperti ini, aku mau kau melakukannya” Bidam mengerti sekarang

“Hamba tentu saja akan melakukannya tapi tidak di tempat terbuka seperti ini, akan tidak baik bagi kehormatan Yang Mulia”ujar Bidam,

“Ya tentu saja, aku tahu, terima kasih Bidam”jawab Deokman riang.

“Bidam..!”nada Deokman lebih serius sekarang “kau tahu besok adalah pertemuan para pejabat dan petinggi negara di wolseon, mereka tentunya ingin mendengar keputusanku mengenai kejadian pemberontakan itu, aku sudah memikirkannya dan mengambil keputusan, tapi sebelum itu aku harus memberitahumu terlebih dulu”

“Hamba siap mendengarkan Yang Mulia”

“Bidam..aku akan tetap mempertahankamu sebagai perdana menteri Shilla”

“apa Yang Mulia yakin? Ini akan memicu reaksi penolakan dari berbagai kalangan.. mengingat hal yang terjadi kemarin”

“apa kau memintaku untuk melepaskan jabatanmu dan memberikan kau hukuman?”

“bila itu perlu, demi Yang Mulia, hamba siap?”

Deokman tertunduk mendengus pelan, Bidam melihatnya dan merasa Deokman berada dalam pilihan sulit.

“Baiklah, sementara aku akan melepaskan tanggung jawabmu sebagai Sangdaedung. Tapi Bidam, pada saat ini aku mohon bantuanmu, aku ada sebuah rencana yang mungkin akan berat untukmu tapi aku yakin kau pasti mampu melakukannya dan aku harap kau bisa menerimanya, Apa kau keberatan?”

“Hamba selalu siap untuk melakukan yang terbaik bagi Yang Mulia, kalau boleh tahu rencana apa Yang Mulia siapkan untukku?”

“Aku ingin kau merebut benteng Daia kembali, bukan Yushin atau siapapun tapi harus kau yang melakukannya, karena Bidam… setelah kejadiaan ini banyak orang yang meragukan kesetiaanmu dan aku..sangat ingin menikah denganmu, aku tidak mau orang-orang hanya berpendapat kau hanya berlindung dibalik namaku. Mereka..Shilla.. perlu pembuktian bahwa kau memang layak menjadi pendampingku. Saat ini aku belum siap turun tahta seperti yang aku janjikan padamu lalu hidup damai bersamamu, karena aku ingin menstabilkan keadaan terlebih dahulu. Bila semua sudah siap aku akan melepaskan tahta ini dan hidup bersamamu. Aku berjanji Bidam..” kata Deokman sungguh-sungguh.

“Aku mengerti Yang Mulia, tentu ini sangat berat untuk Yang Mulia, Yang Mulia tidak perlu cemas, hamba Bidam akan melakukan yang terbaik bagi Yang Mulia dan negara ini”jawab Bidam hormat.

Deokman: “terima kasih Bidam” Deokman menatap Bidam, raut muka Deokman penuh sesal, Bidam balas menatapnya lembut ‘aku mengerti Deokman,aku menerimanya dan akan merebut benteng daia untukmu, aku juga ingin hidup damai disisimu’batin Bidam.

Deokman: “Aku ingin siang ini kita makan bersama, datanglah ke ruang makanku siang nanti Bidam”

Bidam: “Baik Yang Mulia, bila tidak diperlukan lagi hamba pamit” Deokman mengangguk, Bidam memberi hormat dan membalik badannya, Deokman menatap punggung lelaki yang dicintainya itu dan membatin ‘aku mohon maaf Bidam, kau harus menerimanya’

Scene : WALK IN THE SAME PATH

Ruang Kerja Perdana Menteri

Bidam tengah meneliti beberapa laporan dan membereskan beberapa laporan lama.

“sreek”pintu bergeser. Bidam melihat siapa yang datang ternyata Santak. “Sangdaedung Bidam.. syukurlah aku menemukanmu disini..”ujar Santak

“Santak..!! darimana saja kau??” Santak langsung berlutut “Ampunilah saya Sangdaedung.. hamba tidak bisa memenuhi tugas hamba karena pada saat hamba tahu siapa dalangnya tiba-tiba anak buah Yeomjong mengejar dan akan membunuh hamba dan hamba terjatuh dari bukit, mohon Sangdaedung mengampuni hamba…!!”kata Santak bergetar. Bidam tersenyum “Sudahlah Santak pemberontakan sudah berakhir sekarang, kau tahu itu kan! Semua telah kembali normal, aku ampuni kau” mendengar itu Santak tampak senang dan langsung berdiri “terima kasih Sangdaedung, hamba berjanji akan melayani Sangdaedung dengan baik, jika Sangdaedung berkenan” Bidam tersenyum sambil duduk “Kau.. bantu aku membereskan laporan-laporan ini!”kata Bidam.

Kemudian “sreek”pintu bergeser tenyata Pangeran Chuncu yang datang.

“apa kau sedang sibuk Sangdaedung?”tanya Chuncu

“ah tidak hanya merapikan beberapa laporan”jawab Bidam

“Aku ingin berbicara sesuatu denganmu Sangdaedung,kalau kau bersedia”kata Chuncu “Oh..tentu saja” Bidam mengangkat alisnya pada Santak tanda dia harus menyingkir.

Chunchu langsung duduk dan berkata

“Tampaknya kita harus meluruskan kesalahpahaman ini”kata Chunchu

“sebelum pangeran melanjutkan, perlu pangeran ketahui bahwa sekarang pangeran tidak perlu takut padaku. Aku bukanlah orang yang akan mengancam tahtamu lagi justru sebaliknya aku akan selalu mendukungmu dan memberi yang terbaik bagi Shilla, terutama bagi Yang Mulia, mungkin ini terdengar klise tapi aku memang sangat mencintainya dan tidak akan pernah mengecewakannya lagi, dan aku yakin Yang Mulia pun mempunyai perasaan yang sama padaku”

“ya kau betul Sangdaedung, kini kau bukan lagi ancaman bagiku. Itukah sebabnya kau memberikan buku topografi 3 negara pada Panglima Yushin?”

“kau sudah mengetahuinya”

“tentu saja, Yang Mulia juga sudah tahu.. aku hanya heran mengapa kau menyimpannya begitu lama sebelum akhirnya kau memutuskan untuk memberikannya pada Panglima Yushin”

“karena hal yang sebenarnya kuinginkan kini telah aku dapatkan, dan aku berterus terang padamu Pangeran Chunchu, buku itu akan menjadi kartu As ku bila semua berjalan tidak sesuai dengan yang kuinginkan”

“tentu saja..,aku memahaminya, tapi sekarang sudah tidak perlu lagi bukan? tinggal selangkah lagi kau bisa memiliki Yang Mulia”

Bidam tersenyum hambar mendengar kata-kata Chunchu, lalu Chunchu melanjutkan

“Aku datang kesini hanya ingin memastikan bahwa selanjutnya kita bisa berjalan di tempat yang sama sekarang, seperti dahulu” Chuncu tersenyum.

“Ya.. seperti dahulu” Bidam balas tersenyum

Bidam membalasnya.

“nah, aku rasa aku harus pergi sekarang” Chuncu berdiri dan pamit, Bidam ikut berdiri dan memberi hormat.

Scene : The Conclusion

Aula Wolseon

Keesokkan harinya…

Semua pejabat dan petinggi negara berkumpul dan berdiri di posisi masing-masing, termasuk Bidam yang berdiri di sebelah depan kanan singgasana ratu.

Penjaga pintu mengumumkan Yang Mulia datang, semua memberi hormat. Setelah Deokman duduk dan menatap para hadirin sesaat…

“Hari ini akan kuputuskan mengenai peristiwa pemberontakan ini”.

Seorang kasim mengambil gulungan surat dan Deokman membukanya.

“Saya menghukum mati semua pemberontak yang ikut terlibat dalam pemberontakan tersebut dan mencopot semua gelar dan tanda jasa Bangsawan. Sangdaedung Bidam terbukti tidak terlibat dalam pemberontakan tersebut dan dengan ini saya akan membersihkan namanya kembali namun untuk sementara Sangdaedung Bidam harus melepaskan tanggung jawabnya sebagai Sangdaedung dan tugas Sangdaedung akan diambil alih oleh Bangsawan Kim Youngchun. Saya akan memberikan tugas khusus kepada Sangdaedung Bidam sebagai bukti kesetiannya pada penguasa sah kerajaan Shilla”

Kemudian Deokman menghela nafas dan melanjutkan

“Dan satu lagi pengumuman dari saya, saya akan tetap melanjutkan pernikahan kerajaan dengan Sangdaedung Bidam dalam 2 minggu ke depan, aku minta semua dapat dilaksanakan dan dipersiapkan dengan baik”

Suasana rapat menjadi gaduh, ada yang pro dan kontra menerima keputusan ratu. Deokman menatap tajam pada semua hadirin satu persatu lalu kegaduhanpun berhenti.

“Baik Yang Mulia, selamat atas penikahan anda” Kim Youngchun bicara untuk meredakan suasana sambil mengepalkan kedua tangannya tanda memberi selamat akhirnya semua hadirin mengikutinya. Deokman menoleh ke arah Bidam dan tersenyum puas, Bidam membalas senyumnya dengan lemah.

Ruang Kerja Ratu

Semua berkumpul di meja kerja ratu : Panglima Yushin, Pangeran Chuncu, Penasihat kerajaan Kim Yongchun, Menteri Pertahanan Kim Seohyun, Perdana Menteri Bidam.

Deokman: “aku akan memberikan program kerja bagi kalian sekarang ini, sebagai dasar dari tujuan kita untuk menyatukan 3 kerajaan, untuk jangka pendek sekarang ini, aku harap untuk sementara ini urusan tentang ad-ministrasi negara dipegang penuh Bangsawan Kim Youngchu”

“baik Yang Mulia”

Deokman: “Chunchu kau akan kutugaskan untuk mengawasi sektor penelitian dan pengembangan dalam ilmu pengetahuan, aku ingin penduduk shilla bisa memperoleh pendidikan yang baik sehingga mereka dapat menerapkan ilmunya di berbagai sektor, tapi untuk saat ini kau hanya fokus ke bidang pengembangan senjata. Tolong kau perhatikan para ilmuwan Shilla dan penelitian mereka.

Chunchu: “baik Yang Mulia”

Deokman: “Menteri pertahanan untuk saat ini kau harus mengkonsentrasikan dalam menambah jumlah personil militer kita, di berbagai pos aku rasa harus ada peningkatan jumlah tentara termasuk alokasi logistiknya.

Kim Seohyun : “baik Yang Mulia”

Deokman: “Yushin, tolong kau seleksi beberapa hwarang atau para kolonel yang cakap untuk berada di bawah komando Bidam”

Bidam: “maksud Yang Mulia”

Deokman: “aku akan membentuk pasukan khusus dibawah pelatihan dan komandomu, ini untuk melancarkan rencana awalku seperti yang pernah aku katakan, Bidam.. aku percaya pada kemampuanmu untuk hal ini”

Bidam : “jadi pasukan ini dilatih khusus untuk bisa menjadi mata-mata dan pasukan sergap cepat”

Deokman: “ya, ini untuk meminimalkan jumlah tentara yang bergabung bila diperlukan untuk menyerang musuh”

Bidam : “selanjutnya apa yang jadi rencana Yang Mulia”

Deokman: “aku ingin merebut kembali benteng daia dan ini adalah tugasmu Bidam, dan sekaligus melakukan invasi ke kota Baeksong-Baekje ini akan kudelegasikan kepada Panglima Yushin, aku sudah pernah membahasnya dengan Panglima. Aku pikir ini saat yang tepat karena rumor bahwa di Shilla terjadi pemberontakkan akan membuat musuh mengira kita mempunyai masalah intern dan kemungkinan kecil Shilla mengadakan serangan, hal ini menguntungkan bagi kita. Aku mohon rencana ini dipersiapkan secepatnya”

Chunchu: “Jadi akan ada 2 serangan sekaligus ke daerah Baekje, mengapa harus Sangdaedung sendiri yang turun tangan?”

Deokman: “ya, betul sekali. Aku sengaja memerintah Bidam untuk merebut benteng Daia, mengingat kejadian pemberontakan itu, banyak para pejabat kita yang meragukan kesetiannya, aku tidak mau di pemerintahanku ada kecurigaan lagi, apabila Bidam berhasil merebut benteng Daia maka Bidam telah berjasa pada Shilla dan secara otomatis semua tidak ada yang meragukannya lagi”

Semua: “Baik.. Yang Mulia”

Deokman: “aku kira sekarang cukup, kalian boleh pergi”

*tbc*



Tidak ada komentar:

Posting Komentar