Pages

Sabtu, 27 November 2010

FF BIDAM - DEOKMAN, Our Love Story Bag 3

BAGIAN III

Scene = This is my payback

Ruang Kerja Ratu di sore hari


“Yang Mulia… Yang Mulia…!!!” Alcheon terburu-buru mendatangi ke ruangan Deokman.

Deokman: “Ada apa..?”

Alcheon: “Sangdaedung Bidam berhasil Yang Mulia, dia telah kembali.. sekarang ada depan Aula Wolseon..!”

Rona wajah Deokman berbinar cerah, dia langsung bergegas pergi menuju Aula Wolseon, Chunchu, Kim Yongchun, Kim Seohyun mengikuti di belakangnya.


Lapangan Aula Wolseon

Semua anggota pemberontak baik yang hidup atau yang sudah mati berkumpul disana. Bidam tengah berlutut ketika Ratu Deokman dan rombongan tiba disana, semua memberi hormat.

Bidam: “Yang Mulia, hamba Sangdaedung Bidam menyerahkan pada Yang Mulia ratu para pemberontak yang ingin menggulingkan kekuasaan Yang Mulia dan mengatasnamakan nama hamba-Sangdaedung Bidam- sebagai pemimpin pemberontakan ini. Mohon Yang Mulia menghukum mereka, dan hamba akan menerima keputusan dan hukuman Yang Mulia sebagai tanggung jawab atas pimpinan tertinggi Dewan Hwabek yang gagal membina anggotanya” Bidam menundukkan kepala.

Deokman: “Apakah ada anggota lain yang berhasil lolos?”

Bidam: “Mohon maaf Yang Mulia, hamba tidak berhasil mengejar sebagian pemberontak yang melarikan dari Benteng Menghwa, semua pemberontak yang ada di Benteng sudah menyerah dan dibawa kemari..!”

Baru saja Bidam selesai mengatakan hal itu Yushin datang dan membawa laporan bahwa pemberontak yang lain sudah ditumpas di Gunung Nangsan. Deokman tersenyum dan mengekspresikan bahwa ia sangat puas.

Deokman: “Dengarkan semua!!, saat ini pemberontak sudah ditumpas habis dan aku tidak akan mengampuni satu orangpun yang terlibat. Disaat Negara kita akan bersiap untuk unifikasi 3 kerajaan, pemberontak malah datang menghadang, ini merupakan aib bagi Negara kita. Dengan berakhirnya pemberontakan ini maka dengan ini aku akan meletakkan dasar dari tujuan utama kita, semua prajurit, semua hwarang dan nando, semua jendral perang, dan semua rakyatku harus bisa bersatu, bahu membahu dan berusaha sekuat tenaga kita untuk menyatukan 3 kerajaan menuju satu Shilla yang Besar. Aku yakin bahwa kita akan mencapai tujuan kita dengan baik dan lancar. Aku akan mengadakan pertemuan semua pejabat istana dan memberikan keputusan mengenai hal ini dalam 2 hari ke depan.”

Bidam hanya menatap Deokman pasrah, tapi tatapan Deokman mengatakan bahwa ia sangat berterima kasih pada Bidam.

Lalu Yushin berteriak “HIDUP YANG MULIA RATU…HIDUP YANG MULIA RATU…..lalu semua orang ikut mengelu-elukan Sang Ratu dan semua berlutut ala para prajurit perang. Deokman sangat puas dan merasa bangga sekaligus lega, lalu dia meninggalkan lapangan.


Scene : Please stand by me

Ruang Tidur Sangdaedung Bidam

Bidam sedang diobati oleh tabib, Bidam berbaring lemas karena dia banyak mengeluarkan darah sejak dilukai oleh Bojong di pundak dan lengannya, lecet dan memar memenuhi badannya. Setelah diobati, tabib memberikan pil tidur supaya Bidam dapat beristirahat. Saat Bidam tidur, Deokman datang dan berpapasan dengan tabib.

Deokman: “Bagaimana keadaannya..?”

Tabib: “Luka Sangdaedung tidaklah begitu parah tapi karena banyak kehilangan darah maka tubuhnya akan lemas tapi saya telah memberinya obat Yang Mulia. Sekarang Sangdaedung sedang tidur, besok pagi dia akan bangun kembali”

Deokman: “Bagus, berikan yang terbaik untuknya”kata Deokman lega. “Sekarang pergilah, aku akan melihat keadaannya”

Tabib: “Baik Yang Mulia”lalu tabibpun pergi. Deokman masuk ke kamar Bidam dan duduk disebelah Bidam yang sedang tertidur pulas lalu mengelus wajah Bidam dengan lembut..

“Aku akan menjagamu sepanjang malam ini disini”kata Deokman pelan, dia memandang wajah Bidam dengan penuh kasih sayang sambil sesekali disekanya keringat yang membasahi wajah dan tubuh Bidam. Karena letih Deokmanpun tertidur disisi ranjang Bidam sambil tanggannya mengenggam tangan Bidam.

Saat hampir subuh, Bidam terbangun dan merasakan pundaknya sakit luar biasa, Bidam pun mengerang, karena erangan Bidam lalu Deokman pun terbangun.

Deokman: “Kau sudah sadar, syukurlah, kau baik-baik saja kan?”tanya Deokman cemas. Bidam terkejut melihat Deokman tapi hati Bidam menjalar hangat dan bahagia ketika dilihatnya bahwa Deokman sepanjang malam menungguinya.

“Yang Mulia.. mengapa Yang Mulia melakukan ini?”kata Bidam sambil menahan sakit.Dia mencoba untuk duduk tapi dicegah Deokman

“Lebih baik kau berbaring dulu, lukamu masih parah..Bidam”kata Deokman lembut

“Tidak Yang Mulia, hamba sudah sering mengalami luka seperti ini, ini tidak seberapa bagiku”Bidam mencoba duduk kembali, Deokman menyerah ia membantu Bidam duduk, dan berjalan ke meja untuk mengambil segelas air untuk Bidam. Ia meminumkan gelas itu ke bibir Bidam, Bidam terlihat kikuk tapi toh ia minum juga,

“terima kasih Yang Mulia” sahut Bidam. Deokman menyimpan gelas itu kembali di atas meja.Lalu ia duduk di samping Bidam dan berkata

“Bidam, dibalik ini semua, aku sangat bahagia semua berakhir dengan baik, aku tidak bisa menutup mataku bahwa ini pasti berat untukmu harus menghadapi semua pengikutmu, terutama…”Deokman tertahan lalu melanjutkan ”bagaimanapun juga sebagian dari mereka adalah keluargamu, aku sangat berterima kasih padamu, kau selalu melakukan hal yang berat, seperti yang kau lakukan pada Mishil dulu, aku tahu kau melakukannya untukku” Bidam hanya tersenyum tipis

“Bidam, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu. Maafkan aku jika di matamu aku terlihat lebih mencintai shilla, aku memang tidak berani mengungkapkannya. Aku harus selalu berhati hati dengan tindakanku sebagai raja. Aku berusaha menekan perasaanku sebagai seorang wanita. Aku bahkan menutup diriku untuk menerima cinta, aku takut cinta akan melemahkan aku. Maafkan aku jika kau merasa aku tidak mencintaimu, aku tidak pernah mencintai seorang pria seperti aku mencintaimu, Bidam”

Hati Bidam jadi sedih dan merasa bersalah mendengar pengakuan Deokman, ‘hal ini terjadi karena kebodohanku bukan salahmu Deokman’batin Bidam.

“Bidam..maukah kau memaafkan aku” kata Deokman pelan dengan mata berkaca-kaca, Bidam menatap mata Deokman dalam-dalam,ditatapnya mata Deokman dan dia tidak mau wanita itu menangis.

“ini bukan salahmu Yang Mulia, semua ini terjadi karena kebodohanku.. Yang Mu…”tidak sempat Bidam melanjutkan, Deokman langsung memotong

“Maukah kau memanggil namaku Bidam, aku mau sekali mendengarnya..”harap Deokman, “Tapi Yang Mu..”

“Bidam.. tolong..”. Bidam menelan ludahnya dan mengatakan

“Deokman..Deokman..”pelan, Deokman memejamkan matanya nampak menikmati sekali suara Bidam yang memanggil namanya,air matanya menetes.

“Aku ingin kau terus begitu Bidam, tetap memanggil namaku… aku.. aku.. ingin kau disisiku, mendampingiku, dan mencintaiku sebagai wanita, maukah kau melakukannya.”ujar Deokman penuh harap sambil menghapus air mata dengan tangannya.

“Deokman..”jawab Bidam lembut “Di dunia ini tidak ada lagi yang kuharapkan selain hidup bersamamu dan selalu ada disampingmu tapi aku merasa tidak pantas karena aku adalah penghianat dan telah menyalahgunakan kepercayaanmu, rasanya aku tidak pantas ada dihadapanmu…”

“Tidak Bidam..”Deokman mengambil tangan Bidam dan mengenggamnya erat

“aku sangat membutuhkan kau disisiku dan akan aku jelaskan pada seluruh dunia bahwa kau tidak bersalah, dan aku akan menggunakan kekuasaanku sebagai raja negeri ini untuk membersihkan namamu, aku janji Bidam..”tatap Deokman

“jangan lagi kau merasa menghianatiku, aku tidak mau mendengarnya lagi..”lanjut Deokman.

Mereka saling bertatapan mesra, Bidam melepaskan genggaman tangan Deokman karena tangan yang satu lagi sulit digerakkan akibat luka yang dibalut ketat, lalu tangannya menarik dagu Deokman lembut ke arah wajahnya, Bidam mendekatkan bibirnya ke bibir Deokman, Deokman memejamkan mata dan merekapun berciuman mesra dan hangat cukup lama untuk pertama kalinya.

Setelah itu Deokman berdiri pelan, ditatapnya Bidam,

“sudah hampir pagi, kau pasti lapar akan kusuruh para dayang menyiapkan makanan, kau sarapan saja dulu, aku akan kembali ke istana Ingang”kata Deokman.

“Kau juga harus makan Deokman..”jawab Bidam. Deokman tersenyum lalu berlalu pergi keluar kamar tidur Bidam.

To Be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar