Pages

Senin, 29 November 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 10

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 10

SCENE : SMUGGLER

Daerah Cholyuk.. Perbatasan Shilla - Baekje

Bidam segera mempersiapkan dirinya untuk pulang ke Soerabeol, karena keamanan pasca invasi ke Baeksong telah ditangani oleh Yushin. Bidam pulang hanya membawa beberapa nando dan 2 orang hwarang anak didiknya; Jungsae rang dan Hanwook rang.

Bidam sengaja mengambil jalan memutar menuju arah Soerabeol karena ingin melihat dan memantau bagaimana keadaan daerah Shilla. Ketika rombongan Bidam melewati daerah Cholyuk, dia melihat ada beberapa petani membawa hasil panennya, dari kemarin selama dalam perjalan dari Baeksong dia melihat beberapa rombongan petani melakukan hal yang sama.

“apakah sekarang musim panen?” gumamnya lalu menoleh ke arah belakang

“Hanwook rang!” panggil Bidam dari atas kudanya, Hanwook mengarahkan kudanya mendekati Bidam

“ya Sangdaedung”

“coba kau tanya rombongan petani itu, hasil panennya akan dibawa kemana?”

Hanwook-rang menuruti dan mendekati rombongan petani yang berjumlah 4 orang.

“tunggu!!” serunya menghentikan petani itu, mereka pun berhenti

“mau dibawa kemana hasil panen ini?” tanya hanwook-rang

Salah satu pria petani maju, bisa ditebak dia adalah pimpinan rombongan.

“kami akan membawa hasil panen pada pengepul gandum untuk dijual” jawabnya

Bidam turun dari kudanya dan mendekati mereka lalu bertanya

“Apakah sekarang musim panen?” tanya Bidam pada petani itu, petani itu tampak gugup karena yang dihadapannya adalah seorang pria dengan pakaian perang kerajaan yang sepertinya mempunyai pangkat tinggi tapi petani itu tidak tahu bahwa pria yang bertanya padanya adalah Sangdaedung Shilla.

“ya..ya..benar tuan” jawab pria itu

Bidam merasa heran mendengar jawaban pria itu, lalu

“periksa isi gerobaknya!” perintah Bidam pada Hanwook-rang lalu Hanwook-rang dan beberapa prajurit membongkar isi gerobak dan anggota rombongan petani tampak ketakutan, si pimpinan petani berusaha menghentikan pemeriksaan dengan memohon

“tuan..tuan..ini hanyalah hasil panen, kami tidak membawa apa-apa?”

“membawa apa?” Bidam balik bertanya curiga, sadar bahwa pimpinan petani itu telah salah ucap dan terpancing, pria itu lalu berusaha melarikan diri tapi Jungsae-rang dengan cepat mengejarnya dan berhasil ditangkap meskipun pria itu agak melawan.

“Sangdaedung, ini hanya tumpukan gandum biasa, tidak terdapat apa-apa” lapor Hanwook-rang setelah selesai memeriksa

“uraikan ikatan gandumnya, aku yakin mereka menyembunyikan sesuatu” perintah Bidam sambil memandang tajam pria yang berhasil ditangkap Jungsae-rang.

Ikatan gandum diurai dan tampak ada hal yang aneh berapa helaian gandum terlihat gemuk seperti membungkus sesuatu dan benar helaian gandum itu dipilin dan membungkus sebatang besi seukuran sumpit dan terdapat sekitar 100 batang yang disembunyikan dalam tumpukan. Bidam mengambil batang besi dan menunjukkannya persis didepan wajah pria itu.

“apa ini? apakah kalian berusaha menyelundupkan besi-besi ini, kemana?” tanya Bidam

“jawab!”seru Jungsae-rang

Pria itu memalingkan muka dan menutup mulut

“apa kau mau mati ya! Dia itu Sangdaedung Shilla, apa kau mau mengabaikan perintahnya!!” ancam Jungsae-rang

“sudah Jungsae-rang” sergah Bidam

“sebaiknya kau bekerja sama dengan kami, kemudian kami akan mempertimbangkan untuk mengampunimu” kata Bidam pada pria itu, suaranya agak melunak. Pria itu mengangguk tanda setuju.

Di suatu tempat, tepi sungai di daerah Cholyuk..

Jungsae-rang dan Bidam sedang berbicara

“Sepertinya kita harus mengadakan penyelidikan mengapa ada penyelundupan besi dari Shilla dan kepada siapa mereka menjualnya” perintah Bidam

“Tapi Sangdaedung, apakah seharusnya masalah ini dilimpahkan saja ke gubernur setempat” kata Jungsae-rang

“tidak, kita harus menyelidikinya sendiri, dan tidak boleh percaya pada siapapun karena kita tidak tahu siapa saja yang terlibat dalam hal ini” jawab Bidam, Jungsae-rang menganguk-angguk

“maaf Sangdaedung, apa yang membuat anda curiga pada mereka sehingga kami diperintahkan untuk memeriksa mereka. Padahal bukankah sudah biasa bila kita melihat petani membawa hasil panennya”

“suatu hal kecil yang diabaikan pada akhirnya membuka sesuatu hal yang besar. Kau tahu Jungsae-rang, sebentar lagi kita akan meninggalkan musim dingin dan berganti musim semi. Setahuku menjelang musim semi adalah musim tanam bukan musim panen, hal ini dimana-mana sama tidak pernah berubah. Tapi petani itu bilang bahwa ini hasil panennya dan dia menegaskan ‘tidak membawa apa-apa’ lalu ditambah dengan usahanya melarikan diri yang sangat bodoh dan sia-sia. Dari situlah aku merasa curiga ternyata kecurigaanku terbukti” jelas Bidam, Jungsae-rang mengangguk-angguk kepalanya.

“apa Hanwook-rang sudah kembali?" tanya Bidam lagi

“belum, dia masih memeriksa pengepul gandum itu” jawab Jungsae-rang

“cari tahu darimana mereka mendapatkan besi-besi itu” perintah Bidam, lalu Jungsae-rang pergi dan Bidam segera menganti pakaian zirahnya dengan pakaian biasa.

“aku harus menemui seseorang” gumamnya tapi Bidam menarik nafas tanda mengeluh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar