Pages

Minggu, 07 November 2010

Our Future Still Continue Chapter 54: Yeon Gaesomun's Plan



Istana. Ruang Kerja Raja.
“tidak..jangan Yang Mulia..jangan..” sergah Bi Dam. Deok Man menoleh menatap kea rah suaminya “Bi Dam..” gumamnya.  “hamba mempunyai alasan kuat mengapa Yang Mulia tidak boleh mengizinkan Tuan Putri pergi..” “alasan apa Perdana Menteri Bi Dam?” tanya Deok Man dingin. Sekarang Deok Man berdiri berhadap-hadapan dengan suaminya.  Bi Dam mengalihkan pandangannya dari Deok Man dan menatap Yang Mulia “hamba sudah tahu siapa yang mengincar nyawa Tuan Putri..orang dari negeri Tang lah yang berada dibalik semua ini…” “apa?” Yang Mulia Raja, Kim Yong Chun, dan Kim Seo Hyun. Bi Dam menunjukkan barang buktinya, berupa pedang yang tadi diselidiki Bangsawan Il Myung Min. “lihat.. ini adalah lambang negeri Tang..” kata Bi Dam. “tapi bukankah di negeri Tang senjata pedang itu dapat beredar dengan bebas?” tanya Kim Seo Hyun. “pedang memang bisa diperjual belikan secara bebas, tetapi crossbow yang kita temukan itu penggunaannya hanya sebatas pada bidang militer…dan itu berlaku di kerajaan manapun juga..” “jadi kemungkinan besar ada pihak pejabat Tang yang mengincar nyawa Putri Deok Man?apa motifnya?”  ujar Kim Yong Chun. “itu hanya sebatas asumsi saja Yang Mulia..bukan bukti yang mengarah tepat ke satu orang...saya mohon izinkan saya pergi ke Kekaisaran Tang untuk membuka hubungan diplomatik kita kembali…saya yang menutup maka saya juga yang harus membukanya..demi kebaikan negeri ini..”  ujar Deok Man memecah ketegangan. “Yang Mulia, hamba menyarankan agar Yang Mulia mengirim ahli diplomatik kerajaan untuk menggantikan Tuan Putri ke sana..atau hamba saja yang pergi ke sana…hamba akan mengusahakan yang terbaik untuk diplomatik negara kita dengan Tang..” “Perdana Menteri Bi Dam…” gumam Deok Man sambil menatap suaminya. “demi kebaikan Tuan Putri…Tuan Putri sebaiknya tidak pergi keluar dari Shilla sampai pelakunya ditangkap dan dijatuhi hukuman. ..demi kebaikanmu Tuan Putri..hamba mohon..Tuan Putri  jangan pergi..”  ujar Bi Dam. Matanya yang tulus menatap istrinya. Deok Man mengalihkan pandangannya dan memunggungi suaminya. “jangan kau bawa perasaan pribadimu dalam urusan kerajaan..Perdana Menteri Bi Dam..di negara ini, statusku masih Putri Deok Man, anggota Kerajaan Shilla…tak ada yang bisa memerintahku selain Yang Mulia sendiri…daripada kau mencari pelakunya lebih baik kau fokus pada negeri ini..jangan sampai diserang lagi..” katanya tegas. “Tuan Putri…”  gumam Bi Dam.  Setelah terdiam sejenak, Kim Yong Chun dan Kim Seo Hyun undur diri untuk kembali memantau situasi di Wonju dan sekitarnya. Sementara Bi Dam dan Deok Man masih berdiri di hadapan Yang Mulia Raja.  “lebih baik kau juga ikut memantau Wonju dan wilayah sekitarnya..Perdana Menteri Bi Dam…” ujar Deok Man dingin. “baik Tuan Putri…Yang Mulia…hamba akan mencarikan jalan yang terbaik untuk semua masalah ini… “  jawab Bi Dam sambil member hormat kepada Yang Mulia Raja dan Deok Man lalu berjalan keluar dari.   “maafkan aku Bi Dam..” ujar Deok Man di dalam hatinya yang merasa perih.

Malam hari. Ruang kerja Perdana Menteri.
“sraak..” Bi Dam diikuti Kim Yong Chun dan Kim Seo Hyun melangkah masuk ke dalam ruangan. Rupanya masih ada beberapa pejabat yang bekerja, memeriksa laporan. “Perdana Menteri, kami mendapat sejumlah laporan pergerakan pasukan Wa di Goguryeo..sepertinya bantuan pasukan Wa baru tiba tadi di Goguryeo…” kata salah seorang pejabat menyerahkan gulungan laporan untuknya. Bi Dam membaca laporan itu dengan seksama lalu menggulungnya kembali “kerja bagus..awasi pergerakan mereka terus..pantau jumlah senjata dan pasukan yang dikirim oleh Wa..” katanya. “baik..” jawab pejabat itu. Bi Dam mulai memeriksa laporan yang menumpuk di hadapannya.

Ruang Kerja Raja.
Yang Mulia Raja dan Deok Man duduk diam di dalam ruangan. “Putri Deok Man sebaiknya kau pertimbangkan lagi keputusanmu untuk pergi..”  Yang Mulia Raja memulai pembicaraan.  Deok Man menatap Yang Mulia Raja “saya sudah mempertimbangkannya masak-masak Yang Mulia… saya rasa akan tiba suatu saat kita kembali menjalin hubungan dengan Tang..saya yang sudah menutup hubungan aliansi militer kita dengan Tang…maka saya lah yang harus membukanya…Tang dan Shilla memiliki musuh yang sama…”  Yang Mulia Raja menghela napas panjang dan tersenyum “kejadian di waktu lalu itu bukan salah Putri…aku pun juga akan bertindak sama jika diperlakukan demikian…itu bukan salahnmu Tuan Putri..kau boleh memikirkan negara namun jangan lupa keselamatan dirimu sendiri…” Deok Man tersenyum menatap keponakannya yang sudah menjadi raja itu “terima kasih atas perhatian Yang Mulia..namun saya akan tetap memohon izin Yang Mulia untuk meyelesaikan masalah aliansi ini..ada alasan kuat dibalik semua ini..” ujarnya.  “alasan kuat apa itu Putri?” tanya Yang Mulia Raja. “alasannya adalah…”

Goguryeo. Ruang Kementerian.
“Tuan Perdana Menteri…pasokan senjata dari Wa sudah sampai dan sudah dismpan di gudang…” ujar Menteri Pertahanan Goguryeo. “bagus…lalu apakah ada kabar pergerakan pasukan Shilla?” tanya Perdana Menteri Goguryeo, Yeon Gaesomun. “tidak ada Tuan…dari laporan mata-mata kita tak ada pergerakan signifikan selain menambah pertahanan di wilayah perbatasan…sepertinya aliansi Shilla-Tang yang pernah dikhawatirkan…tak akan pernah terjadi”  Yeon Gaesomun tersenyum sambil mengayun-ngayunkan kipasnya “bagus..bagus..semuanya berjalan sesuai rencana..tak akan kubiarkan mereka beraliansi..apapun caranya..” pikirnya

Tengah malam. Ruang kerja Perdana Menteri.
Hanya tinggal Bi Dam seorang yang berada di ruangan itu. Ia duduk sambil menyandarkan kepalanya pada tangannya. “jangan kau bawa perasaan pribadimu dalam urusan kerajaan..Perdana Menteri Bi Dam..di negara ini, statusku masih Putri Deok Man, anggota Kerajaan Shilla…tak ada yang bisa memerintahku selain Yang Mulia sendiri…daripada kau mencari pelakunya lebih baik kau fokus pada negeri ini..jangan sampai diserang lagi..” kata-kata Deok Man itu terngiang olehnya. Ia tahu pasti Deok Man tak akan suka jika ia mengutamakan Deok Man di atas negara, tapi dengan situasi seperti ini apakah Deok Man tetap bertahan pada pendiriannya?apakah Deok Man tak memikirkan keselamatannya sendiri? Semua pikiran itu berkecamuk di dalam pikiran Bi Dam.  Ia pun memejamkan matanya berusaha menjernihkan pikirannya.

Kamar Putri Deok Man.
“traak..traak..” Deok Man terbangun dari tidurnya dan menatap ke arah pintu masuk kamarnya. Namun tak ada siapa-siapa. Rupanya itu bunyi ranting-ranting pohon yang tertiup angin. Deok Man kembali berbaring di tempat tidurnya, menatap separuh dari tempat tidurnya yang kosong di sisinya. “demi kebaikan Tuan Putri…Tuan Putri sebaiknya tidak pergi keluar dari Shilla sampai pelakunya ditangkap dan dijatuhi hukuman. ..demi kebaikanmu Tuan Putri..hamba mohon..Tuan Putri  jangan pergi..” ia teringat kata-kata dan tatapan tulus Bi Dam kepadanya tadi.  Deok Man memejamkan matanya mencoba menahan air matanya yang berusaha mengalir dari matanya. “maafkan aku Bi Dam…tapi ini semua kulakukan demi masa depan yang lebih baik..” gumam Deok Man.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar