Pages

Jumat, 12 November 2010

Our Future Still Continue Chapter 58: Everything I Do, I Do It For You



Siang hari. Ruang Pertemuan Raja.
Tak lama setelah Bi Dam dan Deok Man memberikan keputusan bersama mereka, Yang Mulia Raja segera mengumumkannya kepada seluruh pejabat di ruang pertemuan “jadi Tuan Putri Deok Man yang akan menjadi diplomat Shilla?tapi Yang Mulia bukankah Tuan Putri Deok Man sendiri yang memutuskan hubungan dengan Shilla?” tanya salah seorang pejabat golongan dua. “benar  Yang Mulia …bagaimana jika ternyata Kaisar Tang masih marah terhadap kita karena pemutusan hubungan sepihak oleh Tuan Putri waktu itu…” sahut pejabat golongan bawah lainnya. Bi Dam hanya mengepal tangannya menahan emosinya. Para pejabat itu tidak tahu bagaimana sulitnya dan beratnya untuk menghasilkan keputusan ini. “harap tenang..” seru Kim Yong Chun.  Deok Man mulai berbicara dan bangun dari duduknya “memang aku yang memutuskan hubungan dengan Tang… namun ada alasan yang kuat mengapa aku melakukan itu…” Ia berjalan turun dan berdiri di tengah. “oleh karena itu..aku akan bertanggung jawab dengan memenuhi undangan Kaisar Taizong..dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi wakil Shilla dalam usaha membangun aliansi kembali dengan Tang…kuharap kalian semua mendukungku…”  serunya dengan penuh charisma dan ketegasan.  Bi Dam segera menundukkan kepalanya diikuti juga Kim Yong Chun dan Kim Seo Hyun. Kemudian  para pejabat lain ikut menundukkan kepala. “Ya Tuan Putri..kami siap mendukung Tuan Putri..” seru mereka bersamaan.

Kamar Putri Deok Man.
Waktu keberangkatan Deok Man hanya tinggal menghitung hari. 7 hari lagi Deok Man akan berangkat dari Seoraboel menuju Tang
“hmm kenyangnya..terima kasih atas makanannya.. ” ujar Bi Dam sambil meletakkan sumpit dan mangkuknya.  Deok Man yang sedang menyuapi Yoo Na di pangkuannya tersenyum menatapnya.Lalu  Bi Dam mengambil Yoo Na dari pangkuan istrinya dan menggantikannya menyuapinya. “ayo sini appa yang suapi..jadi omma bisa makan siang juga..” Deok Man hanya tersenyum melihat suaminya yang dengan telaten dan sabar menyuapi putri mereka. “nah habis..pintarnya putri appa..” puji Bi Dam sambil mengecup pipi putrinya. Putrinya pun tertawa geli.  Ia lalu meletakkan Yoo Na di sebelah Yun Ho di atas tempat tidur mereka sehingga mereka bisa bermain bersama di bawah pengawasan Soo Hye. Bi Dam berdiri di hadapan cermin, merapikan pakaiannya. “sudah mau pergi?” tanya Deok Man yang sekarang berdiri di sampingnya. Bi Dam mengangguk “ya..aku ada rapat dengan para menteri siang ini..” Deok Man merapikan mantelnya. Bi Dam mengecup kening istrinya. “aku berangkat..” gumamnya. “selamat jalan..Bi Dam..”  gumam Deok Man. “oh ya..kurasa..malam in iaku akan pulang larut malam..jadi kau tidak perlu menyiapkan makan malam untukku dan menungguku pulang..tidurlah lebih dulu..” ujar Bi Dam sebelum melangkah keluar meninggalkan ruangan.  Deok Man mengangguk mengerti. 

Ruang Kerja Perdana Menteri.
“pejabat Kim Seo Hyun..apakah kau sudah menyiapkan anak buah terbaikmu  untuk mengawal Tuan Putri Deok Man?” tanya Bi Dam “sudah Tuan Perdana Menteri…ini adalah daftarnya..hanya mereka yang masih menetap di Seoraboel..yang lainnya sedang bertugas di wilayah perbatasan Shilla dengan Bakje dan Goguryeo..” jawab Kim Seo Hyun sambil menyerahkan sebuah gulungan. Bi Dam membacanya dengan seksama “setidaknya masih ada mereka yang mengawal…aku ingin mereka menunjukkan kemampuan mereka padaku hari ini..” Bi Dam menutup kembali daftarnya. “siap Tuan..”  jawab Kim Seo Hyun.

Siang menjelang sore. Kamp Latihan Prajurit Namsan. 15 KM dari Seoraboel.
“haiikk..” terdengat suara seruan  prajurit yang berlatih. Di kamp pelatihan ini, hanya para calon prajurit terbaik yang bisa memasukinya, sehingga begitu selesai dari sini, mereka akan menjadi prajurit unggulan yang siap ditempatkan dimana pun.  Bi Dam bersama Kim Seo Hyun berjalan mengelilingi kamp. “jadi dimana mereka yang terpilih itu?” tanya Bi Dam. “itu mereka di sana..” Kim Seo Hyun menunjuk ke tengah lapangan. Ada 5 pemuda yang sedang berlatih pedang, tombak dan memanah. Bi Dam pun berjalan ke sana “mari kita uji kemampuan mereka..” seringainya.

Malam hari. Kamar Putri Deok Man.
“ctaar..” suara petir membelah langit. “Deok Man yang sudah berbaring di tempat tidurnya sesekali menatap ke arah pintu. Berharap Bi Dam segera muncul dari balik pintu itu. “pasti ini sangat melelahkannya..melakukan ini semua bahkan sampai selarut ini..Bi Dam..” gumam Deok Man.
“sraak..” Bi Dam menggeser pintunya pelan-pelan. Hari  sudah hampir tengah malam. Ia melangkah masuk perlahan. Dilihatnya Deok Man dan kedua anaknya sudah tidur lelap, Ia pun tersenyum. Lalu ia melepas handuk yang menggantung di bahunya dan meletakkannya di mejanya. Di atas meja itu sudah tergeletak, pakaian tidur untuknya. Bi Dam tersenyum lalu segera melepas jubah mandinya dan memakai pakaian tidurnya. “ouch..” erangnya. Ia lupa bahwa ada 3 lebam sekarang di tubuhnya ditambah luka kecil akibat tergores tombak akibat latih tanding yang dilakukannya tadi bersama kelima orang calon pengawal istrinya. Memang hanya 3 tapi cukup membuatnya meringis. Bi Dam pun mencoba melepas lengan bajunya perlahan. “Bi Dam..kau terluka..” Bi Dam terkejut mendengar suara itu.  Deok Man sudah terbangun dari tidurnya dan berjalan menghampirinya. Ia segera memeriksa luka-luka di tubuh suaminya. Wajahnya berubah menjadi sangat khawatir dan cemas.  Bi Dam tersenyum menenangkan “aku baik-baik saja..tadi aku mencoba menguji kemampuan para calon pengawalmu…dan hasilnya cukup memuaskan..” Deok Man segera mengambil kotak obat dan mengoleskan obat di atas lebam-lebam Bi Dam “kau jangan memaksakan dirimu…belum lama ini kau baru saja bertarung dan terluka..sekarang..” Bi Dam menggenggam kedua tangan istrinya ,menatap matanya dalam-dalam  dan tersenyum “ini semua bukanlah hal yang berat untukku.. aku akan melakukan apapun ..untukmu”  Deok Man meletakkan tangannya di pipi Bi Dam “kau selalu mengorbankan dirimu untukku…Bi Dam...” “hidupku tak akan berarti apa-apa tanpa kau di sisiku..ini semua karena aku sangat mencintaimu Deok Man..” gumam Bi Dam tersenyum. Deok Man mendekatkan wajahnya dan menciumnya. Bi Dam tersenyum lalu membalas ciumannya.

3 komentar:

  1. Wah ganti theme's blog. Jadi makin nice ajah blog'na.
    SweeT banget scene BiDeok'na, suka bangeeet... *hugs author*.
    Thanks for sweet moment'na. Dapet banget feel'na. :) Oke dech... Lanjuuuut~

    BalasHapus
  2. Pendek bgt chapter ini. Gak puas... *lempar bantal ke author*. Mau lagi yang cweet"nya *puppy eyes*. Chapter besok panjangin yah...
    Btw, chaptr ini sweeeeeeeeetttt bangeeeetttt... ;).
    ~BiDeok is the best couple all over the world~
    XD

    BalasHapus
  3. hhw..iya nie..gy pengen ganti suasana..

    doakan ilhamnya lancar biar chapternya bisa panjang..hhe

    BalasHapus