Pages

Senin, 15 November 2010

Our Future Still Continue Chapter 60: Their First Words




2 hari sebelum keberangkatan.
Siang hari. Ruang kerja Perdana Menteri Bi Dam.
Bi Dam sedang memeriksa laporan-laporan di ruangannya sendirian. Laporan-laporan mengenai persiapan keberangkatan Deok Man ke Kekaisaran Tang.  “hamba mohon menghadap Tuan Perdana Menteri..”  seru seorang kasim dari balik pintu. “masuk..” jawab Bi Dam. Kasim itu pun masuk dan member hormat kepada Bi Dam. “ada dua surat untuk Tuan..” kata kasim itu seraya menyerahkan dua buah amplop merah kepada Bi Dam.  Bi Dam mengambilnya dan segera membacanya. Ia tersenyum lega begitu membaca surat itu dan segera mengirim balasannya. “saya sangat berterima kasih atas bantuannya Tuan Putri..saya tidak tahu harus minta bantuan kepada siapa lagi yang bisa saya percaya selain kepada  Tuan Putri..saya harap permintaan saya ini tidak merepotkan atau menyusahkan Tuan Putri..hormat saya..Perdana Menteri Bi Dam… ” Setelah memasukkannya ke dalam amplop baru, ia membuka suratnya yang lain. “Yushin?” Bi Dam melihat segel di surat itu. Ia segera membacanya

“Bi Dam aku menemukan ada seseuatu yang janggal dengan penyerangan Goguryeo ke Wonju..mata-mataku menemukan informasi bahwa mereka menyerang karena mereka mendengar kabar bahwa Shilla akan menginvansi mereka dalam waktu 3 bulan…apa kau tahu mengenai soal ini?Baekje sendiri tidak pernah setenang ini sejak Raja Uija memutuskan untuk berhenti beraliansi militer dengan Goguryeo…dan mengenai Kekaisaran Tang..aku sendiri juga tidak mengerti kenapa undangannya datang bersamaan di saat seperti ini…kurasa ada sesuatu dibalik semua ini..lalu mengenai penyerangan ke kediamanmu..apakah kau sudah menemukan pelakunya?dan mengenai keinginan Tuan Putri untuk pergi ke Tang dan mencoba membuka aliansi kembali tidak sebaiknya ditunda dulu…mungkin ini jalan yang tepat tapi bukan yang terbaik saat ini...Yushin”

Bi Dam pun mulai menulis surat balasannya.

Mengenai pelakunya, belum ada bukti konkret yang menuju ke sana..hanya pedang buatan Tang saja buktinya.. apakah memang Kekasiaran Tang ada dibalik semua ini aku juga tak yakin…namun aku sedang menyelidikinya…tapi alangkah lebih baik kalau kita berjaga-jaga terhadap Baekje dan Goguryeo..Perbatasan Baekje untuk sementara ini akan kuawasi dengan ketat karena Putri Deok Man akan melewati beberapa daerah perbatasan di sana...tapi kurasa aku butuh bantuanmu untuk mengawasinya juga selain daerah-daerah itu…mengenai keberangkatannya harinya sudah ditetapkan..kau sendiri juga pasti paham bagaimana sifatnya jika menghadapi ini...dan mengenai masalah Goguryeo aku akan ikut menyelidikinya…terkadang aku sendiri juga merasa bahwa ini peristiwa beruntun ini mempunyai benang merah..namun aku tak tahu itu apa..dan berita yang terakhir kudengar dari orangku di sana ..mereka terus memasok senjata dari Wa…kuharap kau selalu siaga dan berhati-hati...Bi Dam
Lalu ia memasukkan surat itu ke dalam amplop yang lain lalu menyerahkannya kepada kasim itu. “kirim keduanya secepat mungkin..” perintahnya. “baik Tuan..” kasim itu memberi hormat lalu pergi keluar dari ruangan.

Sore hari. Kamar Putri Deok Man
“aku pulang..” seru Bi Dam begitu melangkah masuk ke dalam kamar. Namun yang ada di situ hanya Soo Hye yang sedang menyelimuti Yun Ho dan Yoo Na yang sedang tidur. “Tuan Putri sedang berada  di kamar mandi Tuan..” ujar Soo Hye.  Bi Dam melangkah ke tempat tidur kedua anaknya. Sudah lama sekali, ia tidak bercengkrama dengan kedua anaknya. Oleh karena itu segera menyelesaikan pekerjaannya hari ini dan segera pulang karena  ia sangat merindukan itu. “mereka berdua tertidur sejak tadi siang..mungkin sebentar lagi mereka akan bangun untuk makan malam..” ujar Soo Hye. Bi Dam mengangguk mengerti.  Setelah mengecup kening kedua anaknya, Bi Dam duduk di meja bundar. Ia membuka kotak yang diambilnya dari kediamannya tadi dan mengambil sebuah gulungan kertas.  Ia membuka gulungan itu perlahan.”apakah Deok Man benar-benar yakin dengan ini?”  ditatapnya denah calon kediaman barunya di Chu A Gun.  “tentu saja aku yakin..” Bi Dam menoleh. Deok Man sudah berdiri di belakangnya. Ia lalu duduk di sebelah suaminya.  “kau tidak percaya ya?atau kau keberatan dengan ini?” tanyanya. “bukan..bukan begitu…aku hanya berpikir apakah kau yakin untuk pindah ke sana..aku bisa mencari tempat yang lebih baik lagi di kota lain untuk kita menetap … kita belum sempat mendiskusikan bagaimana kelak nanti kita akan hidup di sana…apakah rumah ini terlalu kecil untukmu..kehidupan di sana akan jauh berbeda dengan kehidupan yang sudah kau jalani di sini..aku ..” Deok Man tersenyum dan meletakkan tangannya di atas tangan Bi Dam. “aku yang memilih Chu A Gun bukan?” tanyanya. Bi Dam mengangguk. Deok Man mengambil denah itu dari hadapan Bi Dam dan melihatnya. “selama kalian bersamaku, tempat ini akan menjadi tempat yang paling nyaman untuk ditinggali..mengenai masalah bagaimana kita hidup kelak, kurasa dengan lahan-lahan yang kita miliki kita bisa hidup dari bertani atau berdagang…kita akan membangun semuanya dari nol lagi tapi itu semua akan terasa menyenangkan karena kita melakukannya bersama-sama…”Bi Dam mengangguk mengerti dan tersenyum. “kalau begitu, aku akan meminta para tukang bangunan untuk membangunnya segera…agar setelah semua urusan kita di sini selesai, kita bisa segera pindah ke sana..” “ya..” jawab Deok Man tersenyum.
“ap..ppa..o..mma”  Bi Dam dan Deok Man menoleh ke belakang. Dilihatnya kedua anaknya sudah bangun dari tidurnya  dan duduk menatap mereka. “a..ppa..o..mma..” celoteh mereka. “mereka memanggil kita Bi Dam..kata-kata pertama mereka..” ujar Deok Man bercampur kaget dan gembira. Bi Dam tersenyum lebar dan segera bangun dari duduknya untuk menggendong mereka.  Deok Man menggendong Yun Ho dan Bi Dam menggendong Yoo Na. “o..mma..” celoteh Yun Ho. “akhirnya mereka memanggil kita dengan benar…tidak sebagai baba atau bamma lagi..” canda Bi Dam. “ya..untuk pertama kalinya mereka memanggilku omma…” air mata bahagia mengalir  dari pipi Deok Man. Bi Dam tersenyum melihat kebahagiaan istrinya. Kebahagiaan mereka sebagai orangtua.  Lalu mereka berdua mengecup pipi kedua anaknya. Yun Ho dan Yoo Na tertawa geli karenanya.
“makan malam sudah siap..” kata Soo Hye sambil membawa nampan dan meletakkannya di atas meja. Bi Dam dan Deok Man menoleh. “Soo Hye..lihat..”  kata Bi Dam. “a..ppa..” celoteh Yoo Na.  “omma..” sahut Yun Ho. “ya ampun..kata pertama tuan muda Yun Ho dan nona Yoo Na..” ujar Soo Hye gembira “saya ikut gembira Tuan..Tuan Putri..”  Lalu Bi Dam dan Deok Man duduk di meja bundar sambil memangku kedua anaknya untuk makan malam. “apakah Tuan Putri ingin saya menyuapi mereka?” tanya Soo Hye. “kurasa biar aku dan Bi Dam saja yang menyuapi mereka..kau boleh pergi  makan malam Soo Hye..” jawab Deok Man.  “baik Tuan Putri…” jawab Soo Hye sambil memberi hormat dan pergi. “nah ayo kita makan..” kata Bi Dam sambil mengambil sendok dan mangkuk untuk anaknya. Deok Man tersenyum melihatnya. Ia pun juga mulai menyuapi putranya. “ayo..Yun Ho..aaa” kata Deok Man. Yun Ho membuka mulutnya dan melahap makanannya. Meskipun tidak semirip Yun Ho, Yoo Na juga memiliki kemiripan dengan Bi Dam dalam hal makanan. Dan ini membuat Deok Man senang, karena kedua anaknya mudah makannya dan tidak memilih-milih makanan. Setelah selesai menyuapi kedua anaknya, Bi Dam dan Deok Man meletakkan kedua anaknya di tempat bermain mereka. “nah sekarang giliran kita yang makan..apa kau mau kusuapi Deok Man?” canda Bi Dam. Deok Man hanya tersenyum lalu mulai mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. “kau mau lagi?” tanyanya. “nanti saja akan ku ambil lagi..” jawab Bi Dam sambil menerima mangkuk dari istrinya. Mereka pun mulai menyantap makan malam mereka.   

Malam hari.
“selamat tidur Yun Ho..Yoo Na..” gumam Bi Dam menatap kedua anaknya tertidur lelap di pembaringannya. Deok Man tersenyum menatap kedua anaknya tertidur lelap. Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan dirinya karena untuk pertama kalinya ia dipanggil omma oleh kedua anaknya. Bi Dam tersenyum melihat kebahagiaan istrinya dan merangkul bahunya  “sekarang kita yang harus beristirahat…” lalu mereka berdua berjalan ke tempat tidur mereka untuk beristirahat.  “Bi Dam?” panggil Deok Man “ya?” Bi Dam menoleh menatap istrinya yang berbaring di sampingnya.  “aku tahu karena keberangkatanku kau sibuk tapi bisakah besok malam…” “besok aku akan menemanimu seharian penuh..” sela Bi Dam. Deok Man menoleh menatap suaminya. “ya besok aku akan seharian penuh bersama keluargaku…bersama istriku dan anak-anakku..tugas-tugasku untuk besok sudah kubereskan hari ini..jadi tak perlu ada yang dikhawatirkan..dan mengenai persiapan keberangkatanmu semuanya dipastikan sudah siap saat kau berangkat..” “Bi Dam..” gumam Deok Man. Bi Dam lalu mengecup kening istrinya. “sekarang tidurlah..lusa kau akan berangkat…jangan sampai kau kelelahan sebelum berangkat..” ”ya..” Deok Man tersenyum memejamkan matanya sambil memeluk erat lengan suaminya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar