Pages

Senin, 29 November 2010

FF BIDAM - DEOKMAN, Our Love Story Bag. 7

BAGIAN 7

Scene : you always make me proud and happy

Bidam dan Deokman bukan seperti pengantin biasa, yang bisa berduaan disetiap kesempatan mengingat Deokman masih menjadi ratu dan mempunyai tugas yang banyak, sedangkan BIdam sehari-harinya dikonsentrasikan untuk melatih pasukannya dalam rangka merebut benteng daia.

Di pagi hari ke 3 : Deokman membuka matanya bangun tidur, ia menoleh kesampingnya dan melihat Bidam sudah tidak ada disampingnya.. ‘pasti dia sudah pergi berlatih’gumamnya. “Yang Mulia..Yang Mulia sudah bangun?”tanya Choisun dari luar kamar. “ya..masuklah!”jawab Deokman. Choisun masuk sambil membawa nampan teh. Deokman berdiri dan berjalan menuju meja,

“Yang Mulia, Sandaedung Bidam menitipkan ini pada hamba, katanya bila Yang Mulia bangun hamba disuruh menyerahkan surat ini”kata Choisun sambil menyerahkan amplop merah. Deokman menerimanya.

“Apa Yang Mulia mau minum tehnya sekarang?” Deokman mengangguk

“jam berapa Sandaedung pergi tadi?”tanya Deokman

“waktu menjelang subuh tadi, Yang Mulia…Hamba akan menyiapkan mandi dan pakaian Yang Mulia sekarang bila Yang Mulia tidak membutuhkan apa-apa lagi” jawab Choisun.

“ya.. baiklah. Choisun, ingat kau harus menyerahkan obat padaku bila Sandaedung tidak ada didekatku, aku tidak mau Sandaedung tahu bahwa aku meminum obat itu, mengerti!”lanjut Deokman.

“Baik Yang Mulia, hamba mengerti”Choisun menghormat dan pergi ke kamar mandi yang terletak disebelah kamar Deokman.

Deokman membaca surat dari Bidam sambil meminum tehnya, ‘Selamat pagi istriku yang cantik..’ Deokman tersenyum membacanya, lalu melanjutkan membaca ‘Selamat pagi istriku yang cantik, nyenyak sekali tidurmu tadi malam, aku senang memperhatikan kau tidur sangat damai rasanya.. aku makin mencintaimu Deokmanku. Bila kau senggang datanglah ke tempat latihanku, disana ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu sekalian aku juga ingin melihatmu. Bidam.’ Deokman tersenyum lalu melipat surat dan memasukkan kedalam amplop.

Tempat Latihan Hwarang

Bidam tampak sedang mengawasi para hwarang bermain pedang, sambil sesekali membetulkan gerakan mereka. Di sisi lain sekelompok nando sedang latihan memanah memakai crossbow. Deokman memasuki lapangan latihan, lalu seorang penjaga gerbang berseru “Yang Mulia Ratu datang!” Semua menoleh dan memberi hormat. Deokman mendekati Bidam, rasanya Deokman ingin sekali menyeka peluh yang bercucuran di dahi Bidam tapi hal itu tidak mungkin dilakukannya, dia hanya memandang bidam dengan pandangan sayang. Bidam tersenyum melihatnya.

“Yang Mulia..kau datang”kata Bidam menundukkan kepalanya sedikit. Deokman tersenyum dan memandang sekelilingnya

“katanya ada yang ingin kau tunjukkan padaku, apa itu?”Deokman penasaran.

“Ya.. sebentar, sebaiknya kita duduk di atas sana”kata bidam menunjukkan podium. Rombongan ratupun pergi kesana, Bidam berjalan disisi Deokman. Setelah sampai dan Deokman duduk. Bidam berseru

“Hwarang Jungsae kemarilah bawa crossbow itu” salah satu hwarang memakai seragam warna merah menuju ke arah bidam sambil membawa crossbow. Bidam mengambilnya dan memperlihatkan pada Deokman

“Yang Mulia inilah yang akan hamba tunjukkan pada Yang Mulia”kata Bidam sambil menyerahkan senjata itu

“apa itu?”tanya Deokman

“Yang Mulia lihat di dinding diatas sana ada boneka target jaraknya sekitar 700 m"kata bidam sambil menunjuk ke dinding yang dipenuhi beberapa boneka yang ditempel ke dinding

“ya aku melihatnya, tapi itu sangat jauh, apa panah ini bisa mengenai target itu?”tanya Deokman, Bidam tersenyum dan mengarahkan crossbow ke dekat wajah Deokman,

“Yang Mulia lihat ada kaca yang dipasang di tengahnya, coba Yang Mulia lihat melalui kaca itu”kata Bidam memberi petunjuk, Deokman melihat target melalui kaca itu dan ternyata benar target tampak jelas

“jadi ini semacam teropong yang bisa melihat jauh!”ujar Deokman

“ya benar, Hwarang Jungsae coba kau bidik 3 target sekaligus”perintah bidam.

Hwarang Jungsae menembak target 3 kali dan dilakukan cepat hanya 10 detik. Boneka target yang terkena bidikan diturunkan dan dibawa ke podium ternyata semua tepat mengenai sasaran. Deokman terpana dan kagum pada kehebatan senjata ini

“jadi ini senjata otomatis yang kau maksud dan ditambah teropong untuk memanah dengan tepat”kata Deokman masih kagum

“ya benar, jadi Yang Mulia tidak perlu khawatir, kita mempunyai kekuatan yang baru melalui senjata ini, ini sangat efektif untuk digunakan dalam menyerang benteng”jelas Bidam.

“ini adalah ide Sandaedung Bidam untuk menambah teropong dalam senjata ini, Yang Mulia”ujar Hwarang Jungsae.

“Benarkah? Sandaedung, aku sangat menghargainya”jawab Deokman. Bidam tersenyum ‘kau memang selalu membuatku kagum bidam, aku bangga padamu, seandainya tidak ada siapapun disini aku akan memelukmu erat’Deokman membatin.

Scene : TOO BUSY

Kamar tidur ratu

Deokman terjaga, saat ia merasa ada seseorang naik ke tempat tidurnya, saat itu ia sedang menghadap ke samping, membelakangi Bidam.

“Bidam..”gumamnya. ia merasa ada tangan yang hangat dan kuat memeluknya dari belakang, rasa nyaman menjalari tubuhnya

“kau sudah tidur Deokman, apa aku membangunkanmu?”Bidam berbisik di telinganya, Deokman dengan lembut menarik tangan Bidam agar pelukannya lebih erat.

“Aku sangat merindukanmu Bidam, sudah bebarapa hari ini kau tidak disampingku” kata Deokman

“aku minta maaf, aku takut menganggumu”jawab Bidam sambil mengecup telinga Deokman. Deokman membalikkan badannya dan dilihatnya Bidam sedang tersenyum lembut, rambutnya dan poninya terurai hanya memakai ikat kepala, sedikit basah karena terciprat air mandi. Deokman membelai wajah Bidam.

“aku menyesal membuat kau menjadi sangat sibuk begini, kau pasti sangat letih”kata Deokman

“ini sudah menjadi kewajibanku karena aku harus mengejar target agar semua siap pada saatnya lagipula waktu penyerangan sebentar lagi, setelah semua selesai, semua akan berjalan normal kembali, kau tak perlu menyesal Deokman”kata Bidam menenangkan

“ini resiko kita menjalani rumah tangga seperti ini, rasanya aku ingin cepat2 turun tahta dan hidup bahagia denganmu sebagai suami istri layaknya”kata Deokman.

“kau harus menjalankan tugasmu Deokman, tapi ingat kau selalu jadi yang terbaik untukku”jawab bidam sambil mengecup kening istrinya. Deokman membenamkan wajahnya ke dada Bidam, Bidam membelai rambutnya lalu mengangkat wajah Deokman dan mencium bibirnya hangat dan merekapun larut bercinta dalam malam yang dingin

Keesokan paginya Bidam bangun lebih dulu dan melihat Deokman masih terlelap di sampingnya, Bidam dengan hati-hati turun dari ranjang, tapi

“Bidam..”gumam Deokman sambil membuka matanya,

“selamat pagi Deokmanku”sapa Bidam,

“selamat pagi juga”jawab Deokman.

“Bidam hari ini aku ingin kita sarapan bersama, maukah kau menemaniku? Aku tahu kau akan berlatih tapi kali ini maukah kau luangkan waktu untukku?” tanya Deokman penuh dengan harapan agar Bidam menyetujuinya

“tentu saja, aku akan menemanimu sarapan”jawab Bidam, Deokman lega mendengarnya dan tersenyum manja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar