Pages

Senin, 29 November 2010

FF BIDAM - DEOKMAN, Our love Story Bag. 5

BAGIAN 5

Scene : BEST FRIEND

Ruang kerja Panglima Yushin

“Apa kau memberitahukan pada Yang Mulia tentang buku itu?” tanya Bidam pada Yushin

“ya.. kau tahu Yang Mulia tampak senang sekali dan bersemangat, Yang Mulia tidak mengira kau memiliki benda yang sangat berharga untuk mewujudkan cita-citanya”

Bidam hanya tersenyum puas mendengarnya.

“aku lega, akhirnya semua bisa teratasi dengan baik”

“kau tahu Yushin, selama ini aku sangat iri padamu dan mencoba bersaing denganmu! Tapi Yang Mulia, tidak pernah meragukanmu dia selalu percaya padamu”

“aku tahu! Tapi pada akhirnya kau yang mampu merebut hatinya” Yushin berkata tapi dengan nada getir yang ditahan.

“aku bukan orang sepertimu Yushin, kau memang ditakdirkan untuk jadi pahlawan dalam sejarah” Mereka berdua diam sesaat seperti ada setan yang lewat.

“Bidam.. aku senang kau akhirnya bisa menikah dengan Yang Mulia, seperti yang sudah kubilang hanya kau yang bisa menjaganya dan menghiburnya, bagaimana persiapanmu.. kawan..”

“terima kasih Yushin, tentu aku akan berusaha untuk membahagiakannya, kau jangan khawatir, mengenai persiapan pernikahan..aku kira aku tidak mempersiapkan apa2, aku tidak pernah tahu, memangnya kalau mau menikah untuk pria seperti kita, apa yang harus kita persiapkan? Kau kan lebih berpengalaman”tanya Bidam wajah menyelidiki senyum jahil tergambar di wajahnya.

“Kau ini.. huh..beruntung kau menikah dengan penguasa negeri ini jadi semua sudah dipersiapkan oleh kerajaan”canda Yushin.

“Ah.. ya.. kalau kau tahu jawabannya lalu mengapa kau bertanya” selidik Bidam

“aku hanya basa basi saja”tukas Yushin. Ha..ha.. mereka berdua tertawa.

“Bagaimana dengan pasukan elite itu?, aku butuh referensimu”tanya Bidam serius

“Ya, aku sudah mendata beberapa nama tapi lebih baik kau seleksi sendiri”jawab Yushin sambil menyerahkan kertas catatan.

“Hmmm.. lebih baik aku menyeleksinya mulai dari hari ini, kira-kira kapan kita siap untuk merebut benteng daia dan kota Baeksong?”tanya Bidam

“Lebih cepat lebih baik, aku menargetkan dalam waktu 1 bulan kita harus siap melakukan penyerangan, aku harap kau juga siap”jawab Yushin. Bidam hanya mengangguk, dan membaca daftar nama tersebut lalu mereka berdua pergi ke tempat latihan hwarang untuk mengadakan seleksi.

Scene : This is our love ring

Kamar tidur ratu

Walau Bidam dan Deokman berada dalam lingkungan istana tapi mereka jarang bertemu itu karena kesibukan Bidam dalam melatih pasukannya, Bidam hanya sesekali melihat Deokman saat larut malam, itupun kalau Deokman belum tidur.

Sesudah melakukan latihan, Bidam kembali menuju ruangannya,tapi hari ini ia tidak melihat Deokman, bahkan berpapasanpun tidak, ia merasa rindu pada wanita yang dicintainya itu dan memutuskan untuk menuju istana Ingang.

’mudah-mudahan deokman belum tidur, aku akan menemuinya sebentar’.

“apa Yang Mulia sudah tidur?”tanyanya pada penjaga pintu,

“saya pikir belum Sandaedung Bidam, karena baru saja dayang mengantarkan obat untuk Yang Mulia ratu”jawab penjaga pintu.

‘obat? Obat apa? Apa deokman sakit’pikir Bidam cemas. Bidam masuk ke ruangan ratu

“Yang Mulia, apa Yang Mulia sudah tidur, ini hamba Bidam apa aku boleh masuk?”tanya Bidam diluar kamar ratu

“Bidam.. masuklah”jawab Deokman ‘sreek..’pintu membuka dan dilihatnya Deokman sedang meminum cangkir obat.

“Yang Mulia, apa Yang Mulia baik-baik saja?, apa Yang Mulia minum?”tanya Bidam cemas dia mendekati Deokman berdiri disamping kursi Deokman.

“Oh.. ini adalah herbal, bukan obat hanya vitamin agar aku tidak mudah lelah, kau tidak perlu cemas begitu Bidam”tatapnya pada Bidam. Mendengar itu Bidam lega dan beranjak duduk di depan Deokman.

“Kau habis pulang melatih ya, kau tampak lelah sekali,kau mau minum ini juga, herbal ini baik untukmu, mulai besok aku akan menyuruh tabib membuatkan ini untukmu juga” kata Deokman tersenyum.Ia berdiri dan menuangkan herbal itu ke dalam cangkir dan menyerahkannya ke Bidam. Bidam meminumya dan Bidam menyipitkan matanya, rasanya aneh asam dan pahit. Melihat itu deokman tertawa kecil, beberapa tetes masih bersisa di bibir Bidam dan Deokman dengan sigap menghapus sisa obat di bibir Bidam dengan tanggannya. Bidam terkejut mendapat perhatian seperti ini.

Deokman tersenyum, Bidam meraih tangan Deokman dan meletakkan dipipinya lalu dikecupnya tangan itu, terhirup bau harum dari kulit Deokman membuat Bidam semakin merindukan Deokman.

“Aku sangat merindukanmu Deokman” Bidam melepaskan tangan Deokman. Deokman hanya tersenyum sebagai jawaban pernyataan Bidam

“Sebaiknya kau mengurangi waktu berlatihmu mengingat kita akan menikah dalam 1 minggu lagi, aku tidak mau nanti di hari pernikahan kita kau tampak begitu lelah”ujar Deokman “baiklah, aku akan mengurangi waktu berlatihku”sahut Bidam.

“Bidam sudahkan kau ke kuil untuk memohon restu…, aku akan kesana besok, lebih baik kita pergi bersama-sama, ini adalah salah satu tradisi Shilla. Aku akan menyuruh dayang mempersiapkan pakaianmu untuk ke kuil”lanjut Deokman

“Baiklah..besok kita akan ke kuil bersama, terima kasih Yang Mulia”.sanggup Bidam “sekarang sudah sangat larut, lebih baik Yang Mulia tidur”kata Bidam sambil menarik lengan Deokman menuju ke ranjang deokman, dia membuka selimut dan mengulurkan tangannya agar deokman naik ke tempat tidur. Deokman menurut lalu Bidam menarik selimut Deokman dan duduk di samping ranjang.

“Bidam tunggu..”deokman ingat sesuatu, lalu bangkit duduk dan membuka laci lemari disisi ranjangnya dan mengeluarkan kotak perhiasan lalu dibukanya kotak itu. Ternyata isinya adalah cincin yang pernah dikembalikan Bidam.

“Aku ingin kau memakainya kembali Bidam, karena kau telah kembali disisiku”kata Deokman, ditariknya tangan Bidam dan memasukkan cincin itu di jari tengahnya. Bidam memperhatikan semuanya dengan terharu

“Terima kasih Deokman, aku berjanji akan selalu menjaganya, aku mencintaimu..” Bidam mengecup kening Deokman,

“sekarang tidurlah, aku akan ada disisimu sampai engkau terlelap” Bidam membaringkan Deokman dan menarik selimutnya.

“Apa kau masih selalu berdebar?”tanya Bidam sambil meletakkan tangannya diatas dada Deokman dan menepuk-nepuknya. Deokman mengelengkan kepala dan tersenyum “sekarang aku selalu menikmati debaran jantungku karena setiap kali aku mengingatmu hatiku berdebar dan berubah menjadi hangat, aku merasa sangat nyaman sekali dan aku bahagia karenanya”sahut Deokman, Bidam membalas tersenyum. Akhirnya Deokmanpun tidur, lalu Bidam beranjak, dikecupnya lagi kening Deokman penuh kasih sayang sebelum dia pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar