Pages

Sabtu, 27 November 2010

FF BIDAM-DEOKMAN, Our Love Story

Atas undangan sista Miyakozuka. T untuk ikut meramaikan blog ini...

akhirnya saya ikut bergabung untuk menulis FF Bideok dengan versi yang berbeda... memang ada persamaan setting dengan milik sista Miya, karena imajinasi saya hanya terpaku pada kisah QSD yang telah tamat ditayangkan... ya daripada kebanyakan ngomong,, silakan baca saja yaaa!!

Semoga suka atas tulisan FF pertama saya... Gamsahapnida!!


Para Bideoklovers yg terhormat… hm..hm..hm…

Masih nyesek dengan ending QSD yang tragis, dramatis, dan bikin menangis berhari-hari?? that's why so...

Ini FF yang aq buat untuk memuaskan hasrat kalian terhadap kelanjutan kisah cinta Bidam Deokman, tapi maap ya kalo ada penulisan nama tempat, orang atau daerah yang salah salah dikit, harap dimaklum namanya juga mengarang bebas.

(lupakan episode 62) cerita ini dimulay dari eps. 61 ketika Jukbang menyerahkan surat dari Deokman kemudian Bidam menyuruh Santak menyelidiki kasus pembunuhan itu, nah dari situ…. This is the story begin :

PROLOG

Setelah menerima surat dari Deokman melalui Jukbang dan Bidam menyuruh Santak menyelidiki kasus pembunuhan terhadap dirinya, hati Bidam menjadi galau, dia tahu ada sesuatu yang janggal mengenai peristiwa ini.

Bidam menjadi binggung siapakah yang harus dia percaya Deokman atau Yeomjong. Akhirnya Bidam memutuskan untuk menyelidikinya sendiri, segera setelah itu Bidam secara diam-diam menyelinap pergi dari Benteng Menghwa, tujuannya hanya satu, dia harus menemui Deokman seorang diri apapun resikonya. Tapi saat ini sulit baginya untuk melenggang bebas ke istana mengingat sekarang dia telah dianggap penghianat oleh pihak istana. Maka Bidam memilih untuk memasuki istana melalui jalan rahasia, untung saja selama Bidam menjabat sebagai Komisaris Dewan Keamanan dia mengetahui seluk beluk jalan rahasia yang menghubungkan istana dengan dunia luar. (ingat eps ??,..lupa.. ketika Raja Jeonpyeong melarikan diri dari pemberontakan Mishil).

Scene = Finding the truth

Ruang kerja Ratu

Deokman memanggil Jukbang datang

“Yang Mulia, hamba datang”

“duduklah, ada yang ingin kutanyakan” Jukbang pun duduk

“apakah kau benar-benar melihatnya, Sangdaedung Bidam, bagaimana keadaannya?”

“benar Yang Mulia, saya melihatnya. Saya langsung memberikan surat dari Yang Mulia kepadanya, lalu dia membaca surat itu dengan.. dengan gemetar dan tampak gusar”

“Penasehat Jukbang.. di dunia ini ada kalanya seseorang tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, seperti diriku, aku memang ditakdirkan untuk tetap berjalan sendirian di jalan yang sempit ini. Keinginanku untuk hidup bersamanya sudah tidak mungkin lagi…” air mata Deokman menetes, Jukbang memperhatikannya dan mengerti perasaan Deokman, dengan hati-hati Jukbang bertanya

“Yang Mulia, apa Yang Mulia?, maafkan saya, mencintai Sangdaedung Bidam?”

“cinta? Sekarang itu tidak penting lagi, tidak ada cinta bagi seseorang seperti aku”

“maaf Yang Mulia, tapi saya harus memberitahukan hal ini.. melihat Yang Mulia begitu sedih”

“ada apa penasehat Jukbang, katakanlah”

“Pangeran Chuncu, ehh.. Pangeran Chuncu menemui Sangdaedung Bidam secara pribadi di kediamannya sebelum Yang Mulia memerintahkan Sangdaedung pergi ke daerah Chunwha, apakah ini ada hubungannya dengan perubahan sikap Sangdaedung Bidam”

“apa? Kau tahu apa yang Chuncu katakan padanya”

“hamba hanya mendengar Pangeran Chuncu bergumam bahwa Pangeran Chuncu akan mempercepat kehendak langit dan merubah pikiran seseorang, setelah itu dia bergegas menuju kediaman Sangdaedung Bidam padahal saat itu Pangeran Chuncu belum begitu pulih dari lukanya” Deokman tampak terdiam sesaat mendengar perkataan Jukbang lalu menunduk memejamkan mata

“Yang Mulia.. Sangdaedung Bidam dan Panglima Yushin sungguh pribadi yang sangat berbeda”

“maksud-mu?”tanya Deokman membuka matanya dan menoleh pada Jukbang

“Panglima Yushin adalah orang yang dapat menekan dan menutupi segala perasaannya terhadap satu situasi tertentu dan bertindak hati-hati sedangkan Sangdaedung Bidam adalah orang yang sangat ekpresif dalam mengungkapkan perasaannya tanpa perduli apapun. Yang Mulia.. saya harap Yang Mulia bisa memutuskan yang terbaik bagi Yang Mulia sendiri, seperti Yang Mulia telah lakukan pada Panglima Yushin”

“kau tidak mengerti penasehat Jukbang, saat ini situasinya sangat berbeda, Bidam telah melakukan pemberontakan secara terang-terangan”

“tapi yang mengetahui keberadaan Sangdaedung Bidam ada di benteng itu hanya segelintir orang saja, Yang Mulia”

Mata Deokman berbinar cerah mendengar kata-kata Jukbang yang terakhir, Deokman tersenyum tipis dan mungkin saja Deokman mempunyai ide untuk menyelamatkan Bidam.

Kamar tidur ratu

Bidam memasuki jalan rahasia yang langsung menuju istana Ingang kediaman Ratu Deokman, syukurlah semua berjalan dengan lancar, hingga Bidam tiba di depan kamar ratu.

Digesernya pintu kamar tersebut, dan dia melihat Ratu Deokman sedang duduk diam. Deokman sendiri sedang memikirkan Bidam, hal ini sangat menguras emosinya mengingat dia harus mengambil keputusan untuk menuduh Bidam pemberontak dan kemungkinan Bidam harus dihukum mati… ‘Mengapa kau melakukan ini padaku, mengapa?? tidak…tidak..aku tidak mau kehilangan dia, bidam..bidam..!!’jerit Deokman dalam hati sambil mengeleng-gelengkankan kepalanya. Lalu Deokman mendengar pintu bergeser kemudian dengan terkejut dilihatnya sosok pria yang selama ini menghantui pikirannya. Melihat Bidam yang datang sontak Deokman langsung berdiri,

“Bidam..! kau…apa yang kau lakukan disini?” tanya Deokman kaget. Bidam terpaku sesaat kemudian menjatuhkan diri berlutut

“Yang Mulia maafkan hamba, hamba telah lancang bertanya pada anda, tapi hamba ingin tahu satu hal, mengapa Yang Mulia mengirim seseorang untuk membunuh hamba, jika Yang Mulia begitu menginginkan kematian hamba, hamba rela mati dihadapan Yang Mulia sekarang juga” kata Bidam sambil menyerahkan pedang dikedua tangannya ke arah Deokman dengan kepala masih menunduk. Deokman tercenggang

“Bukankah hamba telah bersumpah dihadapan Yang Mulia bahwa hamba akan melayani dan menyerahkan jiwa raga hamba pada Yang Mulia ratu. Aku memang orang yang kurang ajar yang berani mencintai rajanya tanpa berpikir bahwa Yang Mulia sudi membalas cintaku juga, tapi aku sudah merasa senang dan bahagia bahwa cinta saya pada Yang Mulia adalah tulus dan itu cukup bagiku. Bila hamba menjadi halangan untuk tujuan dan cita-cita Yang Mulia, hamba akan menyerah demi Yang Mulia dan Shilla?” ujar Bidam dengan getir menahan semua sakit hatinya.

“Bidam kau telah salah paham padaku, mengapa kau tidak pernah percaya padaku…?”

“Apa kau pikir aku yang telah mengirim orang….” kata Deokman tertahan lalu menghela nafas “Bidam, aku tidak mungkin mengirim seseorang untuk membunuh pria yang kucintai juga..!!” lanjut Deokman dengan nada lebih pelan.

“A..a..apa..??”Bidam tercekat mendengar perkataan Deokman yang terakhir “Ja..jadi..kau..tidak..!!”lanjut Bidam sekarang dia mulai berdiri

“Ya..”tukas Deokman cepat “Yeom Jong lah orangnya, dia dalang dari semua ini… aku sudah menyuruh Alcheon untuk menyelidikinya, mengapa kau tidak menyelidikinya juga…?”tanya Deokman

“Aku..aku..sudah.. tapi..!!” Bidam binggung dia harus berkata apa, seluruh tubuhnya lemas Bidam merasa bodoh karena begitu mudahnya dia masuk perangkap para pengikutnya. Bidam berdiri terhuyung pedangnya pun lepas dari tangannya.

“Bidam..!! begitu tipiskah batas kepercayaanmu padaku, tidakkah kau mengerti alasan mengapa aku menyuruhmu pergi karena aku ingin kau tidak diperdaya mereka lagi, aku tahu cepat atau lambat mereka akan memanfaatkan namaku untuk membuat kau percaya bahwa aku hanya mempermainkanmu..lalu akhirnya kau akan terlibat jauh dan aku tidak menginginkan itu terjadi”lanjut Deokman.

“Yang Mulia, aku..aku minta maaf, aku begitu bodoh.. maafkan aku, tapi sekarang aku sudah dinyatakan sebagai penghianat, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang…”ujar Bidam pelan, hatinya mencelos.

“Tidak ada jalan lain…, kau harus membereskan semua ini cepat, para pengikutmu semuanya!!, sebelum pasukan Yushin menyerang Benteng Menghwa malam ini, aku harap mereka tidak menemukanmu disana jadi aku dengan mudah akan mengubah keputusan tentang kau dan akan kupastikan semua tidak ada yang membantahku”kata Deokman.

“Ya…aku mengerti sekarang..Yang Mulia”kata Bidam, matanya berkilat penuh dendam ‘akan kuhabisi kalian semua satu persatu’kata Bidam dalam hati.

“Semua akan kubereskan Yang Mulia, aku hanya minta Yang Mulia percaya padaku saat ini”ujar Bidam sambil memberi hormat

“Aku akan kembali sebelum pasukan yushin datang, jadi semua akan baik-baik saja” lanjut Bidam.

Deokman mengangguk tanda setuju, senyum mengembang diwajahnya, rasa rindu dan lega menyelubungi hatinya hingga Deokman berkata

“Bidam.. kau tahu, aku benar benar sangat ingin hidup bersamamu” wajah Deokman merona merah.

Mereka berdua sesaat saling tatap, tiba-tiba Bidam mendekat cepat dan merangkul pundak Deokman, Bidam memeluk Deokman erat, pelukan Bidam terasa sangat hangat menyebar di tubuhnya sehingga Deokman membalas memeluk Bidam juga, lalu mereka bertatapan sangat dekat dengan kening saling menempel, Bidam dengan lembut mengecup kening Deokman, Deokman merasa kaget dan terkejut, untuk pertama kalinya mereka melakukan kontak fisik sedekat ini, lalu Bidam melonggarkan pelukannya dan menatap mata Deokman mesra dan penuh keyakinan “Aku akan kembali padamu…Yang Mulia”ujar Bidam, ia langsung membalikkan badannya hendak pergi..

“Bidam…berhati-hatilah!!”seru Deokman, Bidam mengangguk tersenyum tanpa mengatakan apa-apa bidam keluar dari kamar ratu.



to be continued

3 komentar:

  1. Aduch,,,, Gongju ketinggalan fic baru nich.
    Okeh dee, sist Miloke...Lanjoot yach....~~~~ ^^V

    BalasHapus
  2. @gongju: salam kenal __^^
    iyaa nee,,,,,atas undangan sist miya, jd ff-quw dposting di maree....
    Makasee y udah baca.....

    BalasHapus
  3. huwa. . .
    bru nemu ckarng fanficx bidoek. .
    baca ini feelx dpt bgt. .
    gomawo~

    BalasHapus