Pages

Minggu, 26 Desember 2010

Our Future Still Continue Chapter 71: The End of Dreams



Malam hari
Jalur Kumi - Taejon, Shilla.
“TIDAKK!!” Alcheon mendengar raungan tangis Bi Dam kemudian  ikut melangkah masuk ke dalam. Dilihatnya Bi Dam sedang menangis berlutut di hadapan mayat seorang perempuan . Mayat yang lagi-lagi tak berkepala, namun dari reaksi Bi Dam dan dari kalung Seoyopdo yang tergantung di lehernya, Alcheon tahu bahwa yang dihadapannya itu adalah Tuan Putrinya. “Tu..Tuan Putri..” gumam Alcheon gemetar. Air matanya menetes dari kedua matanya. Tak lama kemudian, komandan dari pasukan itu pun juga masuk  ke dalam karena kaget mendengar teriakan Bi Dam  “Tu..Tuan…” Dilihatnya kedua atasannya itu menangis. “Ya Tuhan..ternyata benar… Tuan Putri sudah..” gumam komandan itu gemetar. “DIAM!!!” raung Bi Dam lagi. Alcheon dam komandan itu keluar dari ruangan itu. “matilah aku..ini salahku..” gumam komandan itu. Alcheon hanya terdiam saja .Dengan  Air mata tak henti-hentinya mengalir, ia berjalan di bawah hujan.  Terlintas  dalam benaknya, ketika Deok Man baru diangkat menjadi Putri lalu mengangkat Alcheon sebagai pengawal pribadinya dan pengawalnya di Istana. Bahkan untuk keberangkatannya ke Tang, Putri Deok Man mempercayakan rencana pengawalannya kepada Alcheon. “aargh” teriaknya sambil meninju pohon di sampingnya. 

Keesokan harinya. Pagi hari
Perbatasan Wonju. Kamp Militer Shilla
“wah bagaimana ini?apa yang harus kita lakukan?” itu yang ada di pikiran setiap jenderal yang hadir dalam kemah Yushin dari malam kemarin hingga pagi ini. Mereka semua sedang mengadakan rapat darurat membahas pengiriman pasukan  Wa dari Goguryeo ke Baekje yang dimulai sejak kemarin malam. “30.000? itu jumlah yang terlalu besar untuk hanya melakukan sebuah kudeta..” ujar salah satu jenderal mengemukakan pendapat. Wolya pun ikut mengemukakan pendapat “dari informasi terakhir yang kudapat, hanya sebatas informasi bahwa jumlah pasukan militer Baekje adalah 30.000..tidak diketahui dengan pasti siapa yang lebih mendominasi apakah Raja Uija atau Daemusin..tapi kurasa jika Daemusin benar-benar didukung oleh bangsawan pastinya jumlah pasukan yang ia kuasai akan lebih besar  terlebih lagi Raja Uija juga kurang disukai oleh kalangan militer karena dianggap membuat kemunduran dalam militer..” “kira-kira apakah yang akan ia lakukan dengan 30.000 pasukan itu?menjadikannya pasukan pribadi untuk membantunya kudeta ataukah ada hal lain?” Im Jong pun ikut berpendapat.  “jika untuk hal lain di  luar kudeta, kurasa tidak mungkin seorang Yeon Gaesomun meminjamkan 30.000 tentaranya..para jenderal juga tahu bahwa, ketika Raja Uija memutuskan untuk berhenti berperang, Yeon Gaesomun juga ikut mengambil keuntungan atas itu…berarti kerajaan saingannya hanya tinggal kita Shilla…”  Para jenderal pun saling mengungkapkan pendapatnya masing-masing. Ada yang bilang 30.000 pasukan itu dikirim untuk bantuan kudeta, ada yang bilang bahwa itu untuk menyerang Shilla namun ragu-ragu, ada yang bilang itu untuk pengalih perhatian saja, dan lainnya. Yushin hanya memejamkan mata mencoba berpikir dengan tenang dan jernih. Mencoba berpikir awal mula dari semua peperangan ini.  “jika Goguryeo berniat  menyerang Shilla dengan alasan Shilla akan menyerang mereka, mengapa mereka mengirimkan pasukan itu padahal jumlah pasukan mereka bisa dibilang hanya berbeda tipis dengan pasukan Shilla…” ia pun mencoba menyusun kronologis kejadian dengan menuliskannya di atas kertas… “ “3 bulan lalu, muncul rumor Shilla akan menyerang Goguryeo di  Wonsun, tak lama kemudian Daemusin dan Yeon Gaesomun mengadakan pertemuan, lalu terbentuklah aliansi Goguryeo dengan Wa yang sepertinya terjadi karena bantuan hubungan baik Daemusin dengan Wa..mengapa Daemusin tak melakukannya untuk dirinya sendiri?lalu sekarang diam-diam pasukan Wa dikirim ke Baekje untuknya..apakah rencana kudetanya itu mendadak?kurasa tak mungkin ini rencana dadakan..” “Panglima?” tiba-tiba Wolya memanggilnya. Yushin pun menoleh “apakah ada hal yang kau temukan?” tanya Wolya. Yushin pun menggelengkan kepalanya “belum..aku belum menemukan benang merahnya…” “baiklah anggaplah kita tidak tahu Goguryeo mengirimkan pasukan Wa untuk Baekje..berarti kita akan menyerang mereka dengan kekuatan penuh kan?bagaimana ternyata ini hanya pengecoh dari Goguryeo saja agar pikiran kita terpecah…” ujar salah satu Jenderal berpendapat. Namun Jenderal yang lain mengemukakan pendapatnya yang berbeda “jika hanya sebagai pengecoh kenapa mereka harus sampai serepot itu melakukan ini semua?lagipula jumlah mereka kurang lebih seimbang dengan kita…apakah keyakinan mereka sebegitu besarnya memberikan atau meminjamkan pasukan Wa kepada Baekje..”  “meminjam?berarti pasukan itu akan dikembalikan…Daemusin bertemu Yeon Gaesomun lalu  meminjam pasukan dan senjata  itu untuk kudeta sebagai imbalan atas jasa Daemusin membantu aliansi Wa dengan Goguryeo  lalu akan dikembalikan kepada Goguryeo agar Goguryeo bisa berperang…tapi meskipun begitu bukankah 30.000 adalah jumlah yang terlalu besar untuk dipinjamkan?” Wajah Yushin pun semakin kusut memikirkannya. Ia mencoba untuk menjernihkan pikirannya dan membaca suratnya kembali  untuk membuat kronologisnya kembali  “Baekje diduga kuat mencuri  100 pedang dari kapal Tang…..” salinan suratnya terpotong sampai disitu saja. “apa lagi yang sebenarnya ditulis Putri Huang Shi untuk Bi Dam sampai dipotong seperti ini?lagipula untuk apa mereka mencuri 100 pedang itu jika mereka bisa mendapat yang lebih banyak dari Goguryeo dan Wa?” pikir Yushin. Tiba-tiba terbersit dalam pikirannya penyerangan di kediaman Bi Dam beberapa waktu yang lalu. “tunggu kalau tak salah Bi Dam pernah  mengatakan bahwa senjata yang digunakan dari penyusupnya adalah pedang dari Tang..lalu tak lama kemudian Tuan Putri mendapatkan undangan dari Tang..jangan-jangan motif penyusup waktu itu adalah mencegah Tuan Putri pergi ke Tang, mencegah adanya aliansi dengan mengadu domba antara Shilla dan Tang..berarti bukanlah Tang pelakunya dan bukan Goguryeo yang mengatur ini semua.. ” Yushin pun memejamkan matanya mencoba mengerti jalan pikiran para lawannya. “aku mengerti sekarang..” gumamnya tak lama kemudian  

Jalur Kumi - Taejon, Shilla.
Alcheon melangkah masuk ke dalam gubuk sambil membawa semangkuk bubur, dilihatnya Bi Dam masih duduk bersandar pada dinding sambil memeluk kedua lututnya dan menggenggam pedangnya erat-erat. Alcheon menatap jenazah Tuan Putrinya yang sudah ditutup dengan kain putih. Kedua matanya yang sudah memerah pun kembali meneteskan air mata. “Tuan Perdana Menteri..tuan belum makan sejak berangkat dari Seoraboel….aku membuatkan semangkuk bubur untukmu..” katanya sambil berjongkok di samping Bi Dam. Namun Bi Dam hanya terdiam saja tak bergeming. Melihat kondisi Bi Dam, Alcheon merasa Bi Dam masih membutuhkan waktu sendiri. Ia pun meletakkan bubur itu di dekat Bi Dam dan pergi keluar.  “demi unifikasi 3 negara, ia melakukan ini semua, demi masa depan negara ini, ia mengorbankan dirinya..agar anak-anak bisa tumbuh dengan bebas… agar aku dan dirinya bisa hidup sebagai keluarga yang bahagia seperti  kebanyakan keluarga pada umumnya..” gumam Bi Dam gemetar. Air matanya belum berhenti mengalir sejak semalam.  Lalu ia pun berdiri dari duduknya, “aku!!aku yang akan mewujudkan impianmu, Deok Man..akan kubunuh mereka semua!!Goguryeo!Baekje!dan orang yang membunuhmu dan yang ada di balik ini semua!!” teriaknya di hadapan jenazah istrinya. Ia pun berjalan keluar meninggalkan ruangan. Alcheon yang sedang menerima surat dari seorang kurir Istana terkejut mendengar seruan Bi Dam, ia pun berjalan menuju  gubuk tempat dimana Bi Dam berada. “hiaa..” Bi Dam yang sedang menunggangi kuda melintas di hadapannya. “Tuan!!Tuan mau kemana?” teriak Alcheon, namun Bi Dam tidak menggubrisnya. “Ya Tuhan jangan-jangan Bi Dam mau..” Alcheon pun segera berlari menuju kudanya, menungganginya, lalu mengejar Bi Dam.

Perbatasan Shilla- Baekje.  (30 KM dari Hwangsanbeol, 7 KM dari kota Taejon)
 “jangan!!” seorang bocah yang duduk di samping kakek itu, berdiri dan mendorong Baek Ui dengan bahunya lantaran kedua tangannya terikat di belakang. Baek Ui pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh duduk ke belakang. Para prajurit pun segera mengambil senjatanya dan bergerak menangkap bocah itu, namun sebelum ia tertangkap, ia sudah jatuh pingsan lebih dulu ke tanah. “sluurp..” Baek Ui pun tersentak dari lamunannya “hei bocah pelan-pelan kalau makan…” ujarnya menasehati. Namun bocah itu tak menggubrisnya dan masih sibuk menyeruput kuah sup dengan suara berisik. Baek Ui melihat betapa lahapnya bocah itu. “kenapa kau melihatku terus?” tanya bocah itu ketus. Baek Ui pun terkejut mendengar akhirnya ada satu dari tawanannya yang berbicara dengannya. “tidak..tidak apa-apa..aku hanya penasaran, apakah sudah tidak makan beberapa hari ini kah sehingga makanmu bisa secepat ini, mengalahkan prajuritku yang kuhukum tidak makan 3 hari..”  jawab Baek Ui santai. Bocah itu masih sibuk dengan nasi dan lauk pauknya  “jika kau menyiapkan semua ini untuk memintaku bicara..percuma saja..”  Baek Ui pun menggelengkan kepalanya “bukan..tabib memintaku menyiapkan ini katanya kau pingsan dan demam karena tubuhmu kurang gizi…sehingga stamina dan daya tahan tubuhmu turun drastis..” “baiklah aku percaya ..tapi aku tetap tak akan bicara apapun..” sahut bocah itu. “aku Jenderal Baek Ui dari Shilla, namamu siapa bocah?” tanya Baek Ui  sambil menyeruput tehnya. Namun bocah itu hanya diam saja menikmati makanannya. “baiklah kurasa ada seseorang yang suka dipanggil bocah seumur hidupnya..” ujar Baek Ui dalam nada meledek. “In Seong..namaku In Seong bukan bocah..” jawab bocah itu ketus. “In Seong apakah kau ingin bebas?” tanya Baek Ui. “tentu saja..lihat saja begitu aku sehat kembali aku akan membebaskan diriku dan yang lainnya dari orang jahat sepertimu.!!” ujarnya sambil mengacungkan sumpitnya ke arah Baek Ui. Prajurit di sebelah bocah itu pun geram melihat tingkah laku bocah itu dan nyaris saja memukulnya jika Baek Ui tidak melarangnya. “jangan sok menjadi pahlawan!!” seru bocah itu. “aku akan membebaskanmu jika kau bekerjasama denganku..” ujar Baek Ui. “kalian semua prajurit sama saja…menjanjikan sesuatu untuk mendapatkan yang kalian inginkan, namun begitu kalian sudah mendapatkannya, kalian akan membuang kami, menyiksa kami..oleh karena itu aku tak mau jadi prajurit..prajurit itu penjahat..”  “apakah prajurit yang menyiksa ibumu?” tanya Baek Ui. In Seong pun terkejut “darimana kau tahu tentang ibuku?” “aku hanya menebak..kau terus mengigau tentang prajurit yang akan menyakiti ibumu..kata tabib sepertinya kau mengalami trauma yang cukup hebat, sehingga pingsan cukup lama…kurasa trauma ini berhubungan dengan apa yang kau igaukan semalam ” air mata pun menetes dair kedua mata In Seong “kalian semua sama saja..mencari tahu kelemahan kami, lalu mendorong kami agar kami mau menuruti perintah kalian..kalian semua sama saja!!” gumamnya gemetar. Baek Ui mengambil pisau kecil milik In Seong  “jika kau tak percaya baiklah..” tiba-tiba ia mengiris ujung jari telunjuknya hingga berdarah, lalu menulis tanda tangannya di atas 2 kertas kemudian memberinya stempel resmi. “kita buat perjanjian di atas sini dan kita …jika aku melanggar aku bersedia kau bunuh..”   In Seong menatap ragu  dan berpikir sejenak. “bolehkah aku meminta 2 hal lainnya selain pembebasanku, kakek serta yang lainnya?” “yah boleh jika itu setimpal dengan informasi yang kudapat..” jawab Baek Ui.  “aku ingin mereka semua mendapat lahan atau setidaknya sewakan kepada mereka lahan yang dapat memberi kami semua hidup..banjir bandang kemarin telah menghancurkan desa dan lahan kami..” Baek Ui mengernyitkan keningnya  “banjir bandang?tunggu..sebenarnya kau berasal darimana?aku tidak pernah mendengar Shilla mengalami banjir bandang..” In Seong pun menggeleng “aku tak akan menjawab jika kau belum menyetujui yang kutawarkan..”  Baek Ui pun menghela napas “anak-anakku saja tidak bisa berdebat seperti ini denganku..” pikirnya “lebih baik aku dengarkan permintaanmu yang terakhir itu. “aku ingin kau mendengarkanku bercerita mengenai ibuku..mungkin tak berhubungan dengan masalah kerajaan..karena kemarin aku dan  yang lainnya hanya menyerang kelompok pedagang kecil…tapi bisakah kau mendengarkan ceritaku?” Baek Ui mengangguk  lalu ia menulis di atas kertas itu bahwa dirinya akan membebaskan In Seong dan yang lainnya dan memberikan  tanah kualitas baik miliknya seluas  800 seok  untuk mereka “baiklah aku sudah menerima 3 permintaanmu..nah sekarang terserah kau akan memulainya darimana..” “baiklah..aku akan menjawab pertanyaan Tuan mengenai asalku..”

Jalur Kumi - Taejon, Shilla.
Hujan kembali turun, namun itu tidak membuat Bi Dam menurunkan kecepatannya.  “Bi Dam kau mau kemana?!!” teriak Alcheon dari belakang. Namun Bi Dam tak peduli. Ia sudah tak peduli dengan semuanya. Apalah artinya hidup jika ia sekarang sudah kehilangan wanita yang berarti segalanya untuknya. “ctaar!!” suara petir membelah langit pagi yang gelap karena awan mendung. “Bi Dam berhentilah!!Tuan Putri tentu tidak ingin dirimu menjadi seperti ini...kau akan membuang nyawamu sia-sia”  Bi Dam tak peduli. “hiaa!!” ia memacu kudanya semakin cepat. “ctaar!!” tiba-tiba kilat petir menyambar pohon di dekatnya sehingga pohon itu tumbang di depan Bi Dam. Kuda yang ditunggangi Bi Dam pun berhenti mendadak dan mengangkat kedua kaki depannya karena kaget. Bi Dam berusaha menenangkan namun  tak bisa, pelananya terlepas dan ia pun terjatuh ke belakang. “brukk” Bi Dam bisa merasakan bagian belakang kepalanya berdarah terantuk batu, air hujan menetes membasahi wajahnya. Pandangan kedua matanya semakin kabur. “Deok Man …apakah ini saatnya aku menyusulmu?jemputlah aku agar aku bisa bersama dirimu..” gumamnya. Kedua matanya pun menutup. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar