Pages

Minggu, 19 Desember 2010

Our Future Still Continue Chapter 69: The Movement




Di hari yang sama.
Siang hari.
Istana Ingang.
Yang Mulia Raja ditemani Alcheon berjalan menuju ruangannya melewati pelataran Istana. “toplak..toplak..” terdengar suara derap kuda. “hiaa..” seru Bi Dam yang berpakaian hitam-hitam sambil memacu kudanya semakin cepat. “Perdana Menteri Bi Dam?” gumam Alcheon. Bi Dam memacu kudanya semakin cepat melewati halaman depan Istana. “Kepala Pengawal Alcheon..cepat kau susul dia..ikuti kemana dia pergi..!!” perintah Yang Mulia Raja tiba-tiba. “ba..baik Yang Mulia..” ujar Alcheon sambil memberi hormat.

Perbatasan Wonju. Kamp Militer Shilla.
Yushin berjalan menaiki tangga menuju puncak menara pengawas “bagaimana?apakah ada tanda-tanda menyerang?”  tanyanya pada Wolya yang sudah dari tadi berdiri mengawasi. “belum..sepertinya mereka masih bersiap-siap..” jawab Wolya. “sepertinya mereka sangat dendam terhadap Shilla sampai-sampai pasukan Pyongyang mereka bawa serta…” ujar Im Jong yang ikut mengawasi di situ. Yushin meminta teropong dari tangan Wolya dan melihat keadaan benteng musuh dengan matanya sendiri. “dimana mereka?” gumam Yushin. “mereka? maksudmu?” tanya Wolya. “pasukan tambahan dari Wa..aku hanya melihat mereka beberapa..namun tidak sampai berlapis-lapis..” jawab Yushin. Wolya tak percaya lalu mengambil teropong itu dan menggunakannya. “kau benar..jumlah mereka tak seperti yang dilaporkan..kemana mereka?” ujar Wolya setelah melihatnya sendiri.  Im Jong yang ikut mendengarkan, tiba-tiba tersentak “tunggu..apa jangan-jangan mereka diam-diam mengirim pasukan Wa untuk menyerang ke sini..”  Setelah berpikir sejenak, Yushin pun mengemukakan hasil pemikirannya “ada beberapa kemungkinan mengenai hilangnya pasukan Wa ini..lebih baik kita minta mata-mata kita untuk ke sana dan memastikan mereka semua ada di benteng itu..kita jangan panik dan bertindak gegabah..” “baik Panglima..” jawab Im Jong dan Wolya serempak.

Sore hari.
Ruang Kerja Raja, Istana Ingang.
Yang Mulia Raja mengadakan rapat tertutup dengan Kim Yong Chun, Kim Seo Hyun, dan Jenderal Baek Jong. Dalam rapat itu, Yang Mulia Raja memutuskan mengangkat Kim Yong Chun sebagai Sangdaedeung sementara menggantikan Bi Dam yang tak bisa hadir lalu mengangkat Jenderal Baek Jong sebagai Siburyeong sementara menggantikan Alcheon yang diperintah olehnya untuk mengikuti Bi Dam. Yang Mulia Raja pun tak lupa mengatakan alasan mengapa ia mendadak melakukan ini. Dan ketiga pejabat tu pun shock begitu mendengarnya.  “aku meminta agar hanya aku dan kalian bertiga saja yang tahu mengenai ini bahkan Permaisuri pun jangan sampai mengetahuinya…aku tak ingin ia memikirkan hal-hal yang berat di saat sedang mengandung…lalu besok pagi aku akan mengumumkan kepada para pejabat lain bahwa Bangsawan Bi Dam dan Bangsawan Alcheon sedang melaksanakn misi mata-mata dariku di wilayah lain..” ujar Yang Mulia Raja mengakhiri rapatnya. “lalu mengenai Tuan Putri..apa yang harus kami lakukan?” tanya Kim Yong Chun. “mengenai itu…itu juga harus dirahasiakan sampai kita mendapat kabar apakah benar bahwa Putri Deok Man benar-benar…” Yang Mulia Raja tak bisa melanjutkan kata-katanya. “baik Yang Mulia …hamba mengerti…hamba akan memastikan semua rahasia ini terjaga..”  jawab Jenderal Baek Jong tiba-tiba. Ia bisa mengerti perasaan Yang Mulia yang pasti masih shock mendengar kabar itu. Yang Mulia tersenyum mengangguk.

Jalur Seoraboel-Taegu.
Berbeda dengan rute  perjalanan yang diambil Deok Man, Bi Dam memilih melewati jalur darat karena meskipun sangat melelahkan, ia akan lebih cepat sampai di tempat tujuan, dibandingkan harus menunggu kedatangan kapal besok pagi. Dan meskipun itu melelahkan, otaknya tidak mengenal itu. Hanya ada satu hal yang ada dalam benak,hati dan pikirannya. Deok Man, satu-satunya hal yang ia pikirkan sekarang. Kelelahan dan teriakan Alcheon memanggil-manggilnya dari belakang tak  menggubris dirinya. “Deok Man kau masih hidup kan?semua berita itu bohong kan?” pikirnya berulang-ulang.

Istana Pyongyang, Goguryeo.
Yeon Gaesomun mentup laporan yang terakhir dibacanya. Ia gusar lantaran belum ada kabar sama sekali dari Baekje, padahal pelaksanaan rencana yang sudah ia buat, tinggal beberapa hari lagi. Namun ia berusaha menutupi kegundahannya itu dari para pengikutnya. Tidak ada kata panik dalam hidup seorang Yeon Gaesomun. Semua rencananya selalu dan pasti berhasil.  “apakah dia belum memberi kabar sama sekali?apakah ada pergerakan  militer di sana” tanyanya. “belum tuan..belum ada …” jawab salah satu pejabat. “hamba mohon menghadap Tuan Perdana Menteri..” ujar seseorang dari balik pintu. “masuk..” jawab Yeon Gaesomun. “sraak..” seorang kasim masuk dan member hormat. “Tuan, Yang Mulia Raja meminta Tuan segera menghadap..” Yeon Gaesomun hanya meijat-mijat kepalanya, tidak menggubrisnya. “apakah ada masalah dengan Yang Mulia?” tanya salah satu pejabat. “bukan begitu tuan..Yang Mulia Raja hanya ingin menanyakan kemana Prajurit penjaga ibukota dibawa?” jawab kasim itu. Yeon Gaesomun pun melambaikan tangannya seakan-akan menyuruh kasim itu pergi  “nanti saja aku akan menemuinya. ..” jawab Yeon Gaesomun.

Malam hari
Ruang Kerja Raja, Istana Ingang.
“kurasa pertemuan hari ini sudah selesai…” ujar Yang Mulia Raja sambil menutup gulungan yang baru saja selesai dibacanya. “hamba mohon menghadap Yan Mulia…” ujar seseorang dari balik pintu. “masuklah..” jawab Yang Mulia Raja. Seorang kasim masuk lalu memberi hormat “ada surat penting untuk Tuan Perdana Menteri Bi Dam, namun hamba tidak menemukan Tuan dimanapun..jadi hamba akan menyerahkannya kepada Yang Mulia..”  “surat penting?” tanya Yang Mulia Raja. “ya Yang Mulia..surat ini dikirimkan dengan merpati tercepat milik Kerajaan Wei..” jawab kasim itu sambil menyerahkan sebuah amplop merah yang berstempelkan cap kerajaan Wei. Yang Mulia Raja melihat sekeliling amplop itu dan menemukan nama pengirimnya. “Putri Huang Shi?” gumamnya. “baiklah..aku akan menyerahkan surat ini kepada Tuan Perdana Menteri..” “baik Yang Mulia…” jawab kasim itu sambil memberi hormat lalu pergi. Yang Mulia Raja pun merasa dilemma, di suatu sisi ia penasaran dengan isi surat penting ini dan di sisi lain, ia tahu ini bukan haknya membaca surat yang ditunjukkan bukan untuk dirinya. “Yang Mulia, jika hamba boleh berpendapat  hamba rasa surat itu bukan surat pribadi tapi seperti korespondensi resmi antar kerajaan…kalau tidak, tidak mungkin surat itu diberi stempel kerajaan dan dikirim dengan merpati kerajaan…mungkin isinya menyangkut masalah eksternal kerajaan yang sedang didiskusikan antara Pejabat Bi Dam dan Tuan Putri Huang Shi”  Jenderal Baek Jong mengusulkan. “begitukah?” tanya Yang Mulia Raja ragu menatap kedua pejabat lainnya, meminta pendapat. Kim Yong Chun dan Kim Seo Hyun mengangguk. Yang Mulia Raja pun membuka amplop itu dan mulai membaca isinya yang terdiri dari 3 lembar kertas. “ternyata keputusanku membaca ini sangat tepat…” gumam Yang Mulia Raja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar