Pages

Senin, 06 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 17

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 17



Scene : GIVE ME YOUR PAIN



Di dalam ruangan rumah sakit, Bidam melihat beberapa dayang dan asisten tabib menunggu di salah satu kamar periksa. Bidam segera tahu kalau Deokman ada didalamnya, ia mendekati seorang dayang, mengatakan sesuatu, dayang tersebut mengangguk dan masuk ke dalam kamar.



“maafkan hamba Yang Mulia, tuan Sangdaedung ada disini. Ia ingin melihat Yang Mulia, apa dia dipersilahkan masuk?” tanyanya pada Deokman yang sedang di akupuntur oleh asisten wanita tabib Lee di beberapa titik nadi. Lengannya ditusuk beberapa dengan jarum akupuntur. Deokman terkejut mendengar Bidam ada disini



“kenapa Bidam disini? Apa dia sudah tahu?” pikirnya heran, tapi Deokman segera menguasai keadaan dengan anggunnya Deokman bertanya pada tabib Lee



“apa sudah selesai?” saat melihat asisten wanita tabib Lee sedang mencabuti jarum di lengannya



“ya Yang Mulia, sedikit lagi hanya beberapa titik di leher Yang Mulia” jawab Tabib Lee. Deokman menghela nafas



“baiklah, suruh Sangdaedung masuk” perintahnya pada dayang tersebut, tidak berapa lama kemudian Bidam masuk, dilihatnya Deokman tengah diperiksa nadinya oleh tabib Lee sendiri lalu dia menyuruh asistennya menusukkan jarum di titik nadi yang ditunjukkan tabib Lee. Deokman mengernyitkan sedikit kala jarum menusuk nadi di lehernya sementara dayang yang lain mengelap keringat di dahi Deokman. Bidam tidak berkata apa-apa hanya menyaksikan dan menatap Deokman dengan tatapan kasihan dan sedih.



“sudah selesai Yang Mulia” kata tabib Lee lalu seorang dayang menyajikan obat.



“berapa lama lagi Yang Mulia menjalani pengobatan ini?” tanya Bidam datar pada tabib Lee



“melihat denyut nadi Yang Mulia berangsur-angsur normal dan baik, saya kira untuk akupuntur dapat dilakukan sebanyak 2 kali lagi, tuan Sangdaedung” jawab Tabib Lee. Deokman terlihat lega mendengarnya



“Baiklah, kalian semua keluarlah, aku akan berbicara dengan Sangdaedung” kata Deokman. Semua beringsut mundur dan pergi. Setelah semua keluar, Bidam mendekati dan duduk di samping Deokman, ditatapnya Deokman dengan penuh sayang lalu dilapnya dahi dan leher Deokman yang masih berpeluh



“apakah itu sakit?” tanya Bidam pelan, Deokman menunduk



“kau tidak marah padaku?” balas Deokman



“Deokman, aku mungkin tidak memahami maksud-mu menyembunyikan penyakitmu padaku, untuk itu aku berhak dapat penjelasan darimu bukan? Aku tidak mungkin marah padamu setelah melihat kau sakit seperti ini. Deokman, aku ingin kau tahu aku sangat menyayangimu, aku tidak mau melihatmu menderita” kata Bidam sambil merangkul pundak Deokman, Deokman menyenderkan kepalanya di bahu Bidam.



“aku tahu kau wanita yang kuat tapi aku ingin selalu ada disampingmu, aku ingin kita berdua melaluinya bersama” lanjut Bidam mengusap lembut pundak Deokman



“maafkan aku Bidam, aku menyembunyikannya darimu karena aku tidak mau membuatmu khawatir dan membuatmu berubah padaku kala kau tahu tentang penyakitku ini. Aku sudah lama mengetahuinya karena ini adalah penyakit keturunan yang kapanpun bisa kambuh” jawab Deokman sedih



“Harusnya aku tahu waktu itu kau mengeluh sakit padaku tapi aku malah …ini karena aku kan? Aku yang membuatmu jadi sakit begini, karena perbuatanku, kebodohanku, karena pemberontakan itu, ini semua salahku!!” kata Bidam gusar lalu ia berdiri tiba-tiba dan berlutut di depan Deokman



“Andai saja..aku tidak berbuat bodoh, kau tidak akan kambuh, kau akan baik-baik saja, aku penyebabnya, aku sangat bersalah padamu, aku tidak pantas kau maafkan” kata Bidam sambil menatap Deokman, suaranya tercekat menahan tangis tapi sia-sia tetes air matanya tidak dapat ditahan jatuh begitu saja di pipinya. Deokman memegang tangan Bidam erat lalu diletakkan di atas pangkuannya



“inilah mengapa aku tidak mau mengatakannya padamu, kau akan menyalahkan dirimu sendiri, aku tidak mau kau begitu, aku mohon jangan lagi kau merasa bersalah” jawab Deokman ibu jarinya menghapus air mata Bidam lembut



“karena aku kau jadi menderita, andai saja aku bisa menanggung sakitmu, aku rela” ujar Bidam, Deokman menarik tangan Bidam dan diletakkan didadanya sambil tersenyum



“kau adalah jantung keduaku, kau yang membuat jantung ini berdegup kencang karena sentuhanmu juga berdenyut tenang karena cintamu, Bidam selama kau disisiku jantung ini akan baik-baik saja jadi tetaplah disisiku” jawab Deokman lembut lalu menarik pundak Bidam agar Bidam kembali duduk disampingnya. Deokman menatap Bidam



“berjanjilah kau tidak akan menyalahkan diri sendiri lagi karena ini menyakitkan bagiku” kata Deokman sambil tersenyum lembut. Bidam balas tersenyum dan mengangguk pelan.



“aku janji..akan menurutimu..tapi aku juga mohon sebaiknya kau menggantikan tabib Lee dengan tabib wanita yang benar-benar mampu mengobatimu” kata Bidam, Deokman heran



“memangnya kenapa dengan tabib Lee?” tanya Deokman



“Tabib Lee memang mempunyai kemampuan untuk mengobatimu, tapi tetap saja bagiku terlihat canggung karena bukan dia sendiri yang menusukkan jarum di nadimu tapi asisten wanitanya, itu membuatku khawatir bila ternyata dia melakukan kesalahan, tentu akan berakibat fatal. Karena ini menyangkut kau, aku benar-benar khawatir, deokman. Juga karena aku punya alasan pribadi” papar Bidam



“alasan pribadi? Apa itu?”



“aku merasa darahku naik melihat kau disentuh pria lain selain aku, aku merasa tersiksa” jawab Bidam malu, Deokman tersenyum simpul mendengar kecemburuan Bidam



“ya ampun dia kan cuma tabib yang mengobatiku” jawab Deokman geli,



“tetap saja, aku tak rela..” balas Bidam



“memang ada tabib wanita yang sehandal tabib istana yang bisa mengobatiku?” tanya Deokman



“aku mengenal seorang tabib wanita yang ilmu pengobatannya tinggi, dia adalah sahabat guruku.Tapi sebelumnya aku harus tanya dia dulu apa dia benar-benar bisa mengobatimu. Kalau dia tidak kompeten yah terpaksa aku menahan diriku” jawab Bidam



“terserah kau saja, aku akan menurut pada suamiku yang pencemburu” balas Deokman bercanda. Bidam tertawa mendengar jawaban Deokman.



“kau ini masih belum berubah Bidam, kau sangat polos dan apa adanya, aku menyukainya” Deokman tertawa. Bidam senang karena melihat Deokman ceria lagi



“aku mencintaimu Deokman” bisik Bidam sambil mengecup kening Deokman. Lalu Deokman bersiap-siap dan mereka pergi meninggalkan rumah sakit.



SCENE : LIKE A FOOL..



Kamar ratu..

Bidam memenuhi janjinya untuk mengganti tabib Lee dengan tabib wanita bernama Young Ae. Dia tabib terkenal dan terbaik di Soerabeol yang kebetulan juga adalah sahabat Munno dan mengenal Bidam, Bidam juga sangat tahu kapasitasnya.



“Sebelum hamba kemari untuk bertemu Yang Mulia, saya sudah mendiskusikan penyakit Yang Mulia dengan Tabib Lee dan langsung membaca riwayat pengobatan Yang Mulia segera setelah Tuan Sangdaedung meminta hamba untuk menangani Yang Mulia, juga ramuan obat Yang Mulia selalu minum. Tabib Lee telah melakukan hal yang terbaik bagi penyakit Yang Mulia” papar Young Ae



“Jadi bagaimana keadaan Yang Mulia sekarang, Young Ae?” tanya Bidam



Lalu Young Ae memeriksa seluruh nadi Deokman di beberapa titik nadi penting dan merasakan setiap denyutannya. Setelah memeriksa denyut nadi Deokman



“Kukira tabib istana benar Yang Mulia, akhir-akhir ini jantung Yang Mulia berdetak sangat teratur dan tidak menunjukkan gejala-gejala khusus. Jadi saya menyimpulkan Yang Mulia sehat” kata Young Ae, Deokman sangat lega mendengarnya



“Young Ae, benarkah sudah tidak apa-apa? Apa penyakitnya sudah sembuh” tanya Bidam lagi



“Andai dikatakan sembuh tidak juga Sangdaedung, hanya saja kondisi Yang Mulia lebih baik dari sebelumnya dan jika kondisi seperti ini dipertahankan dan Yang Mulia tidak mengalami stress berat, Yang Mulia bisa hamil dan mengandung anak” jawab Young Ae meyakinkan,

Deokman secara refleks memegang perutnya sambil tersenyum heran ketika mendengar jawaban Young Ae, rasanya ia tidak percaya dengan pendengarannya ketika Young Ae mengatakan ia bisa mengandung seorang anak.



“Benarkah? Tapi Tabib Lee bilang.. bahwa rahimku akan kering sehingga aku tidak bisa hamil” timpal Deokman



“Betul Yang Mulia, pada saat pengobatan obat itu akan menimbulkan efek samping namum efek itu akan memudar dengan sendirinya seiring dengan berkurangnya dosis yang tabib berikan. Sehingga rahim Yang Mulia dapat berfungsi normal dan dapat menerima calon janin”



“Benarkah, aku sangat senang mendengarkan, aku kira aku tidak bisa memberikan keturunan pada suamiku” sahut Deokman ceria



“tunggu.. sebenarnya apa yang sedang kau dan Yang Mulia bicarakan ini?” tanya Bidam pada Young Ae, lalu ia cepat-cepat melanjutkan



“Yang Mulia sudah mengetahui sebelumnya bahwa ada efek samping dari obat Yang Mulia minum, dan Yang Mulia tidak memberitahukan aku sama sekali” sergah Bidam gusar, Bidam merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa sama sekali tentang kondisi Deokman, istrinya. Bidam mengeleng-gelengkan kepalanya pada Deokman tanda ia kecewa.



“Bidam..” sahut Deokman pelan berusaha menenangkan Bidam, tapi Bidam mengacuhkannya.



“Young Ae katakan padaku, apa yang terjadi bila ternyata Yang Mulia hamil saat sedang menjalani terapi” tanya Bidam dengan nada tidak sabar. Young Ae hanya memandang Deokman dengan pandangan ’bagaimana ini Yang Mulia, apa aku harus menjawabnya’



“Young Ae, aku bertanya padamu sebagai suami Yang Mulia” sergah Bidam lagi seolah bisa membaca keragu-raguan Young Ae.



“Sangdaedung, bila Yang Mulia hamil saat sedang terapi, Yang Mulia akan mengalami keguguran dan tentunya akan memperburuk kondisi Yang Mulia” jawab Young Ae



“begitu ya..” ujar Bidam pelan, tapi mata Bidam menatap Deokman dengan pandangan menyelidiki.



“Bidam..” panggil Deokman pelan, pada Bidam yang berjalan mondar mandir gelisah setelah Young Ae pergi meninggalkan mereka berdua. Bidam pun duduk berhadapan dengan Deokman di meja bundar.



“harusnya kau mengatakan padaku dari awal Deokman, mengapa kau sembunyikan hal itu dariku, aku bisa menahan diriku untuk tidak..”



“Bidam..!” potong Deokman tenang tapi tajam.



“kumohon berhentilah mempermasalahkan hal itu, apa kau mau kita membahasnya terus.. bukankah Young Ae sudah mengatakan bahwa aku tidak apa-apa, dan mengatakan bahwa aku dapat mengandung seorang anak darimu, apa kau tidak bahagia mendengarnya” lanjut Deokman,



“Deokman, aku.. merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa tentangmu, itulah sebabnya aku gusar. Aku pikir kita saling berbagi, Deokman” jawab Bidam



“aku akan selalu berbagi apapun denganmu, aku janji.. Bidam, aku minta maaf tentang hal ini. Tapi sekarang aku lega bahwa keinginan kita untuk membangun sebuah keluarga dapat terwujud, aku sangat bahagia. Kau tidak mau merusak kebahagianku bukan?” Deokman bertanya pada Bidam sambil tersenyum manis dan mengulurkan tangannya ke arah Bidam, membuat Bidam luluh.



“aku..memang tidak bisa marah padamu, Deokman. Aku maafkan kau..” jawab Bidam tersenyum lebar dan mengenggam tangan Deokman erat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar