Pages

Rabu, 15 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 21

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 21

Scene : MORNING SICK

2 Bulan Kemudian:

Semenjak Deokman mengandung, Deokman memang tidak bernafsu makan, sedikit bau masakan atau bau yang menyengat membuatnya mual dan muntah, berkali-kali Bidam menanyakan hal ini pada Young Ae dengan wajah panik tapi jawabannya selalu sama bahwa ini adalah hal yang wajar bagi kehamilan dengan usia muda karena mengidam, nanti juga hal ini akan hilang dengan sendirinya.

Bidam dengan sabar dan penuh perhatian pada Deokman untuk menyemangati agar Deokman mau makan, walaupun demikian Deokman tetap beraktivitas dan bekerja seperti biasanya, meski Bidam sudah memperingatkannya tapi Deokman berkilah bahwa ia tidak mau selalu berdiam diri dan bermalas-malas karena hal itu membuat Deokman jadi bosan. Lagipula Deokman sudah terbiasa bekerja keras, Bidam hanya pasrah menerima jawaban Deokman.

“Kau jangan terlalu mencemaskan aku seperti itu, Bidam. Aku akan baik-baik saja, aku kan tidak sakit. Kau jadi tidak memperhatikan dirimu sendiri. Aku jadi tidak enak hati” kata Deokman suatu saat ketika mereka berjalan di istana kala mau pergi pulang.

“Tidak, kau dan anak kita sangat penting bagiku” kilah Bidam

“Tapi tetap saja, kau harus mengfokuskan pikiranmu pada pekerjaanmu, kau kan sedang mempersiapkan rencana perjanjian dengan Goguryo mengenai tawanan yang sudah Shilla tangkap di Saitama, lagipula Saitama sudah kita kuasai, kau perlu menata ulang keadaan disana” saran Deokman

“Ya.. aku juga sedang mengerjakannya. Deokman, aku pikir kau memerlukan dayang atau pelayan yang bisa mendampingimu kemana-mana sementara aku bekerja. Aku akan mencarikannya untukmu, di istana kan banyak dayang-dayang, kau bisa memilihnya salah satu” pinta Bidam

“baik, aku akan membicarakannya dengan permaisuri, sebenarnya aku enggan di ikuti seperti bayangan…” Deokman tidak jadi meneruskan kata-katanya ketika melihat raut muka Bidam berubah mau marah.

“ya.. aku akan mengambil seorang dayang, kau senang?” lanjut Deokman menyerah, mendengar Deokman berkata begitu Bidam merubah rautnya wajahnya jadi lega kembali

“aku senang..terima kasih Deokman” jawab Bidam sambil mengusap punggung Deokman.

Akhirnya mereka sampai ditandunya.

“kau pulang duluan ya.. nanti aku menyusul, aku baru ingat ada sesuatu yang harus aku selesaikan” kata Bidam sambil mengantar Deokman naik tandu.

“baiklah aku tunggu kau di rumah, sampai nanti” kata Deokman

“hati-hati” balas Bidam menutup tirai tutup tandu dan menyuruh pembawa tandu untuk pergi. Setelah tandu Deokman menjauh, Bidam masuk kembali ke area istana.


Scene : NEW MAID GIRL

Di rumah Sangdaedung :

Deokman sampai dirumah dan segera keluar dari tandunya, pelayan mereka sekaligus koki mereka bernama Pelayan Ma menyambutnya bersama seorang gadis pelayan lain yang baru dilihat Deokman

“Nyonya Tuan Putri, sudah datang. Selamat datang nyonya” sambut Pelayan Ma menunduk begitu pula dengan gadis disampingnya

“Ya, Pelayan Ma. Siapa dia?” balas Deokman tersenyum dan bertanya

“Nama hamba Xiou Lie, nyonya. Saya mohon agar nyonya menerima saya bekerja disini” si gadis memperkenalkan diri

“apa Pelayan Ma tahu siapa gadis ini?” tanya Deokman pada Pelayan Ma

“ah.. nyonya, tadi saya mengalami kejadian yang mengerikan” tukas Pelayan Ma

”apa maksud-mu?” tanya Deokman

“tadi saya ke pasar dan saya dirampok, oh.. saya takut sekali karena rampok itu mengambil semua uang yang diberikan nyonya untuk belanja, karena saya tidak memberikannya lalu perampok itu mau melukai saya, saya mau dibacoknya seperti ini..” jelas Pelayan Ma sambil mengarahkan tangannya pada lehernya. Deokman mendengarkan dengan serius, lalu Pelayan Ma melanjutkan

“untung saja ada Xiou Lie, datang dan menolong saya, lalu Xiou Lie mengeluarkan pedangnya dan berkelahi dengan perampok itu tapi perampok itu kalah lalu langsung lari ketika Xiou Lie mau membawanya ke kantor polisi. Untung ada Xiou Lie, nyonya kalau tidak…” kata Pelayan Ma sambil bergidik

“syukurlah kalau Pelayan Ma selamat, sebaiknya Pelayan Ma berikan saja uangnya daripada kau celaka” ujar Deokman

“ah..tidak Nyonya, enak saja.. itu kan uang belanja selama 1 bulan, perampok itu dapat untung besar. Nanti bagaimana dengan tanggung jawab saya” kilah Pelayan Ma

“tapi nyawa lebih berharga, Pelayan Ma. Oh.. jadi kau yang menyelamatkan Pelayan Ma”

“ya Nyonya, saya tidak tega melihat seorang wanita seperti Tuan Putri Ma teraniaya begitu” jawab Xiou Lie

“lalu mengapa kau ingin bekerja disini?” tanya Deokman

“maaf Nyonya, saya sudah lancang mengajaknya kemari, tapi saya jadi tidak tega pada gadis ini setelah mendengar kisah hidupnya” tukas Pelayan Ma.

Kemudian Deokman duduk di bangku di bawah pohon persik yang ditanam di tengah halaman rumahnya.

“ceritakanlah padaku..” pinta Deokman pada Xiou Lie

“saya.. saya.. berasal dari jauh, tempat tinggal saya jauh sekali di gunung Hanggeok-san di dekat perbatasan Shilla dan Goguryeo” jelas Xiou Lie

“ya.. aku tahu nama daerah itu. Tapi aku belum pernah kesana” Deokman memotong

“betul nyonya, gadis ini yatim piatu dan hanya tinggal bersama kakeknya” timpal Pelayan Ma

“lalu.. sedang apa kau di Soerabeol?” tanya Deokman lagi

“saya sedang dalam perjalanan ke Negeri Tang. Setelah kakek saya meninggal, saya baru tahu bahwa ayah saya ternyata masih hidup dan tinggal di Negeri Tang, saya pergi untuk mencarinya, tapi ternyata dalam perjalanan bekal saya habis dan terpaksa saya tidak bisa melanjutkan perjalanan saya”

Mendengar cerita Xiou Lie, Deokman jadi teringat akan dirinya dulu yang sengaja meninggalkan padang pasir Taklamakan untuk mencari ayahnya dan sendiri menjalani perjalanan jauh, mengalami kehabisan bekal dan ditipu, Deokman jadi tersenyum kecil mengingatnya.

“Lalu kau ingin bekerja disini untuk mengumpulkan uang dan melanjutkan perjalananmu, begitu?” tanya Deokman membuat kesimpulan

“Betul nyonya, saya kasihan melihat gadis Xiou Lie, ketika saya menawarinya untuk makan sebagai tanda berterima kasih, dia langsung makan dengan lahap seperti sudah tidak makan berhari-hari” potong Pelayan Ma

“Benarkah..?” Deokman bertanya

“Pelayan Ma, saya jadi malu, jangan ceritakan hal itu pada Nyonya” tukas Xiou Lie menunduk

“Sudahlah, kau boleh bekerja disini bersama Pelayan Ma” kata Deokman

”Benarkah.. Nyonya menerima saya, saya sangat bersyukur, terima kasih Nyonya, terima kasih” seru Xiou Lie sambil setengah berloncat-loncat kegirangan. Deokman pun berdiri dan beranjak masuk rumah tapi langkahnya terhenti dan memanggil Xiou Lie,

“Xiou Lie” Deokman memanggil

“ya Nyonya” jawab Xiou Lie

“Negeri Tang sangat luas, tidak mudah mencari ayahmu bila kau tidak tahu siapa nama dan tempat tinggalnya” kata Deokman

“Saya hanya tahu namanya Hua Xing Lou, dia tinggal di kota Mingtao. Itu saja yang hamba tahu, Nyonya” jawab Xiou Lie

“Ya baiklah.. Pelayan Ma, tolong kau siapkan makan malam untuk Tuan Sangdaedung, karena sebentar lagi Tuan akan datang, dan kau Xiou Lie, mintalah petunjuk Pelayan Ma” kata Deokman lalu dia pun masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat dan mandi.

Hari menjelang malam ketika Bidam sampai dirumah, Deokman menunggu Bidam datang sambil melanjutkan membaca buku yang baru dipilihnya. Waktu luang Deokman, diisinya dengan membaca buku-buku yang dianggapnya menarik dan menambah ilmu pengetahuannya. Bidam juga suka membawakan buku-buku baru untuk Deokman baca.

“Aku pulang!” seru Bidam sambil masuk ke rumah, Deokman segera keluar dari ruang baca dan menyambutnya

“Selamat datang” jawab Deokman tersenyum

“Kau pasti lelah dan lapar kan? Mau makan atau mandi dulu?” tanya Deokman

“hhmm..mau makan dulu saja, pasti kau belum makan juga kan? karena menungguku, kasihan anak kita belum kau beri makan” kata Bidam sambil merangkul istrinya

“baiklah, kita makan dulu” balas Deokman

Lalu mereka berjalan ke ruang makan, setelah mereka duduk, Deokman memanggil Pelayan Ma dan menyuruh dia menyiapkan hidangan. Kemudian beberapa saat kemudian makan malam pun dihidangkan oleh Pelayan Ma dan Xiou Lie, Bidam melihat Xiou Lie.

“Dia siapa? pelayan baru?” tanya Bidam pada Deokman ketika Pelayan Ma dan Xiou Lie keluar dari ruang makan

“Ya.. dia baru bekerja hari ini, kau tahu tidak, kisah hidupnya unik, akan kuceritakan padamu sambil makan” Deokman lalu mengambil mangkuk nasi untuk Bidam dan mengambilkan beberapa lauk di atasnya. Lalu mereka pun makan dan Deokman pun bercerita pada Bidam tentang Xiou Lie.

“Lucu ya, jalan hidupnya hampir sama denganmu dulu. Sama-sama mencari ayahnya dan pandai berkelahi” kata Bidam pada Deokman sambil mengunyah makanannya.

“ya.. karena itu dia kuterima bekerja disini. Aku memahami perasaannya” ujar Deokman

“Rasanya aku pernah melihat wajahnya di suatu tempat tapi dimana ya?” ujar Bidam sambil mengingat-ingat

“Kau bilang dia tinggal di gunung Hanggeok-san, aku juga pernah tinggal disana dengan guru Munno beberapa bulan, mungkin saja aku pernah melihatnya disana” tukas Bidam

“Mungkin, kau tanyakan saja nanti” saran Deokman

“Ah.. tidak perlu, sekarang bagaimana keadaanmu? Apa masih merasa mual?” tanya Bidam tersenyum lembut

“Sedikit, tapi malam ini aku merasa lapar, rasanya aku sanggup menghabiskan semua nasi di mangkukku ini” jawab Deokman

“Makanlah yang banyak, demi kau dan anak kita” kata Bidam sambil mengusap lembut perut Deokman.

Setelah selesai makan, maka Bidam pun mandi dan Deokman menunggunya sambil menyiapkan pakaian tidur untuk dirinya dan Bidam. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Bidam menyuruh Deokman untuk tidur lebih dulu karena ia harus menyelesaikan laporan untuk besok diserahkan pada Yang Mulia Raja.

Deokman pun menurut karena ia benar-benar mengantuk. Setelah mengucapkan selamat tidur dan mencium pipi Deokman, Bidam pun masuk ke ruang kerja.

Di ruang kerja sambil mengerjakan laporan, Bidam mengingat Xiou Lie, dan mencoba mengingat-ingat dimana dia pernah melihat wajah Xiou Lie, rasanya tidak asing dan Bidam merasa dia pernah melihat Xiou Lie di suatu tempat tapi bukan di gunung Hanggeok-san.

“heh.. kenapa aku jadi mengingatnya, aneh..” gumam Bidam pada dirinya sendiri lalu melanjutkan pekerjaannya.


TBC




Sebagai gambaran mungkin inilah yang menurutku cocok untuk memerankan Xiou Lie,
(no flame pliss) ini hanya fict belaka..





















Tiffanny SNSD as Xiou Lie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar