Pages

Rabu, 22 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 22

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 22

Scene : SHE’S GOT GOOD SKILL

2 hari kemudian..

Saat menjelang subuh (sekitar jam ½ 5 pagi), Deokman tiba-tiba terbangun dan membangunkan Bidam.

“Bidam, maaf ya membangunkanmu, tapi aku lapar” kata Deokman saat Bidam terbangun, masih setengah mengantuk dan menguap.

“kau lapar?” tanya Bidam tersenyum kecil, Deokman mengangguk.

“baiklah kau ingin makan apa?” tanya Bidam lagi, sekarang ia berusaha untuk menghilangkan kantuknya.

“rasanya aku ingin makan bubur jagung buatanmu untuk sarapan” jawab Deokman,

Bidam hanya tersenyum mendengar permintaan Deokman, hal ini untuk keempat kalinya. Saat pertama, Deokman minta dibelikan bola-bola manisan di pasar katanya untuk mengurangi rasa mualnya.

Kedua Deokman minta buah mangga dan apel yang masih muda dan berasa asam.

Ketiga saat tengah malam, Deokman minta dibuatkan sup kacang merah pedas dengan kuah kaldu ayam yang kental.

Semua hal itu dipenuhi dan dilakukan Bidam dengan sabar dan tanpa mengeluh karena tahu Deokman sedang mengidam, lagipula permintaannya tidak aneh-aneh dan cukup wajar.

Bidam pun bangkit dari tidurnya,

“Baiklah istriku sayang, akan aku buatkan, kau tidur lagi saja ya” kata Bidam sambil mengecup kening Deokman dan Deokman pun menurut untuk mencoba tidur lagi.

Bidam pun keluar dari kamarnya menuju dapur, biasanya menjelang subuh begini, para pelayan belum bangun. Tapi saat menuju dapur dilihatnya sosok seseorang memainkan pedang kayu dan berlatih. Bidam melihat ternyata Xiou Lie yang sedang berlatih di halaman belakang lalu dia memperhatikannya cukup lama.

“caramu memegang dan memainkan pedang kayu itu cukup pandai dan terlatih, apa kau belajar dari suatu perguruan?” tanya Bidam mengagetkan Xiou Lie. Xiou Lie langsung menunduk memberi hormat dan menjawab.

“maaf Tuan, saya tidak melihat Tuan”

“kau.. ambil pedang kayu itu” Bidam menunjuk pada pedang kayu yang berjejer di papan penyimpanan pedang kayu untuk latihan.

Lalu Bidam melakukan beberapa gerakan menyerang ringan pada Xiou Lie, Xiou Lie berhasil menangkalnya. Setelah selesai Bidam, melemparkan pedang ke arah Xiou Lie dan Xiou Lie menangkapnya dengan baik.

“Bagus sekali.. simpan itu” kata Bidam sambil berlalu cuek menuju arah dapur.

Setelah menyimpan pedang Xiou Lie segera berlari menyusul Bidam di dapur. Bidam tengah mengambil bahan-bahan untuk memasak bubur.

“Tuan.. Tuan.. sedang apa disini? apa Tuan perlu sesuatu, saya akan menyiapkannya” ujar Xiou Lie.

“aahh.. bagus kau datang, kau tahu dimana Pelayan Ma menyimpan rempah bumbu masakan?” tanya Bidam pada Xiou Lie. Xiou Lie langsung mengambil bumbu itu dan menyerahkannya pada Bidam. Bidam tanpa banyak bicara, menunjuk hal ini hal itu yang harus dikerjakan Xiou Lie untuk membantunya di dapur.

“apa Tuan mau masak bubur?” tanya Xiou Lie, sibuk membawa beberapa bahan.

“kau belum menjawab pertanyaanku, kau berlatih pedang dimana?” Bidam balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Xiou Lie sebelumnya.

“oh itu.. saya diajarkan kakek saya, karena saya tinggal di gunung dan disana daerahnya rawan, banyak perampok, jadi saya diajarkan untuk mempertahankan diri” jawab Xiou Lie, sambil mulai menyisir jagung.

“kakekmu sungguh mengajarkanmu dengan baik” kata Bidam sambil memberi kode pada Xiou Lie agar mengaduk-aduk buburnya secara teratur, sambil menunggu buburnya matang, Bidam duduk di kursi dapur dan menyenderkan kepalanya pada tiang dapur, karena masih mengantuk akhirnya Bidam tertidur dengan posisi seperti itu.

Bidam tidak melihat ketika sedang tertidur Xiou Lie memperhatikan Bidam dan menatapnya terus menerus sambil mengaduk buburnya.

Bidam tiba-tiba terbangun ketika mendengar Deokman memanggil namanya.

“Bidam, kau masih ada didapur?!” suara Deokman mendekat ke arah dapur.

Dengan sekali loncatan, Bidam meraih sendok pengaduk di tangan Xiou Lie, dan langsung mengaduk buburnya ketika Deokman muncul dari pintu dapur. Ini tujuannya agar Deokman tidak tahu bahwa ia sebenarnya tertidur saat membuat bubur tadi, Bidam tidak mau Deokman merasa bahwa dia merepotkan dirinya.

“apa kau sudah selesai?” tanya Deokman riang, melihat Xiou Lie berdiri di samping Bidam.

“oh.. kau dibantu Xiou Lie, ya?” tanya Deokman lagi, Bidam hanya mengangguk tersenyum.

“tunggu aku di ruang makan, sebentar lagi siap dan sudah matang” kata Bidam sambil mencicipi buburnya dan bergumam “sudah pas”

“tidak, aku mau makan di kamar saja denganmu, ayo..biar Xiou Lie yang menyelesaikannya, Xiou Lie tolong ya?” ujar Deokman sambil mengandeng tangan Bidam dan mengajak Bidam keluar dapur.

Ketika Bidam dan Deokman keluar, mereka tidak melihat Xiou Lie mendengus sebal ke arah mereka.

SCENE : in another place

Seorang wanita berusia muda memakai pakaian mirip hwarang masuk terburu-buru ke dalam suatu ruangan, berupa kamar yang sederhana bahkan kurang terawat.

“Jenderal..” panggilnya. Pria yang dipanggil jenderal itu membalikkan badannya dan menatap wanita itu.

“Bagaimana?” tanyanya pada wanita itu.

“tahap awal telah kita laksanakan jenderal, tampaknya semua berjalan lancar, saya sudah menerima berita darinya” jawab wanita itu.

“Baiklah Bo Young, sekarang kita tinggal menunggu waktu yang tepat. Aku ingin kita tidak terburu-buru dan ingat kau harus menjaga jarak dengannya. Sedangkan keadaan disini biar aku yang menangani. Saat ini pihak raja sedang menyelidiki semua pihak yang terlibat kudeta” jawab sang jenderal.

Wanita yang dipanggil Bo Young menganggukan kepalanya tanda mengerti, menghormat dan pergi meninggalkan ruangan.

“Semoga kau berhasil Jin Yi” gumam sang Jenderal setelah pintu tertutup.

Benteng Dabeol –

Benteng Shilla yang terdekat dengan Saitama – Goguryo

“Panglima, ini daftar nama tawanan yang kita tawan dari Saitama” seorang perwira berpangkat kapten menyerahkan gulungan surat kepada Panglima Kim Yushin.

Yushin membaca gulungan surat ini dengan seksama.

“hmm.. jadi kita akhirnya berhasil memaksa mereka bahwa diantara tawanan itu ada salah satu pemimpin pemberontakan, Jenderal Wang Tae Jong beserta anak buahnya dan jumlah tawanan 50 orang” ujar Yushin sambil menyungingkan senyum tanda senang.

“apa kita akan mengirim tawanan ke Soerabeol?” tanya kapten itu.

“Kukira tidak perlu, kita hanya memindahkan mereka ke Benteng Sokham yang lebih kuat daya pertahanannya, disana terdapat 5000 prajurit dibawah pimpinan Jenderal Inhyun. Selama perjanjian Shilla dan Goguryeo belum disepakati, kita akan menahan mereka disana” kata Yushin.

“aku akan kembali ke Soerabeol, panggil Jenderal Deok Chung, dia akan kuperintahkan untuk menjaga keamanan di Saitama” perintah Yushin.

Sang kapten pun pergi melaksanakan perintah Yushin.

Scene : BIDAM WANTS

Sore hari, rumah Sangdaedung

Ruang kerja

“Kita harus cepat bersiap Bidam, sore ini perayaan panen tahunan di istana” kata Deokman sambil menutup buku yang dibacanya tanda sudah selesai, dia menatap Bidam yang sedang menulis sesuatu. Deokman mendekati Bidam dan berdiri di sampingnya, Bidam sangat serius hingga tidak menyadari kehadiran Deokman. Deokman memiringkan kepalanya untuk melihat apa yang ditulis Bidam.

“kau sedang menulis apa?” tanya Deokman.

“eh.. aku hanya mencoba membukukan ilmu pedangku yang diberikan oleh guru Munno” jawab Bidam.

“benarkah?” Deokman terlihat tertarik dan mengambil buku yang sedang di tulis Bidam. Dan melihat judulnya.

“Tai-Chi?” gumam Deokman.

“ya, itu ilmu yang kupelajari sendiri dengan melihat guru Munno berlatih. Aku harap suatu hari aku bisa mengajarkan sendiri pada anakku” kata Bidam sambil mengelus perut Deokman, Deokman tersenyum sambil meletakkan buku itu di meja.

“kau belum tahu anak kita laki-laki atau perempuan, bidam” Deokman meletakkan tangannya di atas tangan Bidam.

“laki-laki atau perempuan sama saja, aku akan tetap mengajar mereka ilmu pedang, agar mereka kuat dan pintar seperti ibunya”

“agar mereka juga berilmu tinggi dan baik hati seperti ayahnya” balas Deokman, Bidam tersenyum dan mengecup perut istrinya.

“Kau mandi duluan nanti aku menyusul setelah kau selesai” saran Bidam, Deokman mengangguk dan menuju kamar mandi.


Setelah beberapa menit kemudian…

Deokman masuk ke kamarnya dan melihat Bidam tengah duduk.

“pergilah mandi! Aku sudah selesai nanti aku siapkan pakaian untukmu untuk perayaan nanti” perintah Deokman masih memakai jubah mandi.

“oh..hhmm..” jawab Bidam melamun, segera ia bangkit dan akan melangkah keluar kamar.

Namun niatnya untuk mandi diurungkan ketika melihat Deokman tengah menyisir rambut panjangnya.

“sini biar aku sisirkan” kata Bidam sambil meraih sisir dari tangan Deokman dan dengan lembut menyisirkan rambut istrinya.

“nanti kita terlambat” ujar Deokman mengingatkan sambil berusaha merebut sisir dari tangan Bidam tapi Bidam mengenggamnya erat.

“apakah hari ini aku sudah mengatakan padamu bahwa kau cantik” jawab Bidam seolah-olah mengindahkan perkataan Deokman sebelumnya, Deokman hanya tersenyum dan bercermin melihat bayangan dirinya dan Bidam.

Kemudian Bidam mengecup belakang leher Deokman dan menyusuri ke telinga Deokman lalu berbisik. Deokman sedikit bergidik karena geli.

“kau sangat cantik Deokman dan aku menginginkan dirimu” tangan Bidam melepaskan jubah mandi Deokman dengan sigap, sehingga Deokman kini polos tanpa berpakaian. Tangan Bidam mengusap lembut pundak Deokman dan mengecupnya, lalu membalikkan badan Deokman agar berhadapan. Bidam tersenyum penuh arti pada Deokman tanda bahwa Bidam sedang ingin bercinta dengannya.

“tapi nanti kita terlambat” protes Deokman kedua kalinya tapi Bidam keburu mencium bibirnya dan mengulumnya, suatu ciuman yang menuntut dan bernafsu hingga Deokman tidak bisa protes lagi karena lidah Bidam telah memenuhi rongga mulutnya, sehingga Deokman tidak bisa mengatakan apapun kecuali desahan pendek.

Bidam kemudian mengendong Deokman ke ranjang dan membaringkannya lalu Bidam melepaskan pakaiannya sendiri dan menempatkan dirinya diatas tubuh Deokman.

“Bidam, nanti kita terlambat” kata Deokman lembut. Tangan Bidam mulai meraba-raba bagian sensitifnya di bagian atas dan bagian bawah.

“biar mereka menunggu kita” bisiknya pelan di telinga Deokman sambil mencium dan mencumbu Deokman. Deokman pasrah atas keinginan suaminya dan membiarkan Bidam mencumbunya dirangkulnya Bidam erat-erat, kemudian mereka bercinta penuh gairah.

“sepertinya aku harus mandi lagi” gumam Deokman pada Bidam yang masih berada di atas tubuhnya berkeringat.

“ayo kita mandi bersama-sama” jawab Bidam tersenyum lebar dengan wajah jahil, Deokman mendorong lembut Bidam agar pindah ke sisinya.

“kali ini benar-benar mandi” kata Deokman pura-pura marah.

“baiklah Tuan Putri “ ujar Bidam bangkit lalu memakaikan jubah mandi pada Deokman dan dirinya lalu menarik tangan Deokman ke kamar mandi, mereka saling tertawa-tawa bahagia.

Namun mereka tidak menyadari ada sorot mata yang sinis dan penuh kebencian yang mengarah pada tingkah polah mereka, mata milik Xiou Lie.

“yuk kita berangkat” ajak Bidam ketika melihat Deokman telah selesai berhias.

Deokman mengangguk mengiyakan dan mengulurkan lengannya, lalu Bidam menyambutnya dan mengandeng Deokman. Deokman sangat cantik sekali memakai gaun Tuan Putri dengan kombinasi warna biru muda dan merah muda sedangkan Bidam memakai pakaian warna favoritnya hitam dikombinasikan dengan jubah rompi warna abu gelap.

“istriku memang paling cantik” puji Bidam, matanya terus menatap Deokman disampingnya saat mereka ada di dalam tandu, Deokman tersipu.

“kau juga sangat tampan suamiku” jawab Deokman sambil menyenderkan kepalanya di bahu Bidam. (tidak ada seorangpun yang menyangkal bahwa bidam memang sangat tampan, author tidak tahan untuk memuji), Bidam tersenyum dan mengengam tangan Deokman erat.

“benar kata orang-orang, andai seorang wanita tengah hamil, aura kecantikannya akan semakin memancar, aku benar-benar membuktikannya sendiri dengan melihatmu bahwa mereka memang benar, semakin hari kau semakin cantik Deokman. Dan aku tahu kenapa itu terjadi?” ujar Bidam.

“kenapa?” tanya Deokman penasaran.

“karena si wanita itu bahagia, membayangkan menjadi seorang ibu yang penuh kasih sayang akan membuat hati jadi lebih gembira, itulah sebabnya wajah calon ibu itu lebih berseri-seri” jawab Bidam.

“kau benar, aku juga merasa demikian, aku bahagia sekali” timpal Deokman.

“hanya saja tidak semua ibu seperti itu..” nada Bidam berubah getir mengingat dia malah dibuang mishil kala waktu bayi, Deokman tahu Bidam mulai meratapi lagi.

“sudahlah, kita berbeda dengan mereka, kita akan memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita, menyambut kehadiran mereka dengan gembira dan membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang, kita akan melakukannya, kau dan aku” tegas Deokman memegang lengan Bidam erat.

“ya, tentu saja. aku tidak mau mereka mengalami nasib yang sama seperti yang kita alami” jawab Bidam sambil mengecup kening Deokman, Deokman mengangguk tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar