Pages

Senin, 06 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 16

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 16

Scene : RED DOT

Kamar tidur ratu

“Deokman, ini kenapa?” tanya Bidam sambil menunjuk leher Deokman yang terdapat titik merah kecil di beberapa titik di lehernya, hal ini diketahui Bidam saat Bidam mengecup leher Deokman. Deokman terkejut mendengar pertanyaan Bidam

“oh..beberapa hari ini aku merasa agak gatal-gatal di badanku, entahlah mungkin aku salah makan atau menderita alergi tertentu” jawab Deokman tenang

“kau alergi apa? Setahuku kau tidak pantang makan apapun Deokman” tanya Bidam

“nanti aku tanyakan pada tabib” jawab Deokman cepat-cepat

“di tanganmu juga ada titik merah, aku memperhatikannya” kata bidam lagi sambil memperhatikan lengan Deokman, lengan kimononya ditarik ke atas. Deokman hanya memperhatikan diam.

“sepertinya merah ini bukan karena gatal tapi seperti bekas tusukan jarum, aku tahu sedikit tentang akupuntur, apa ini karena akupuntur?” tanya Bidam menatap mata Deokman menyelidiki

“bukan..ini hanya gatal” jawab Deokman tegas

“sudahlah kita tidur ya, aku mengantuk sekali..” lanjut Deokman membalikkan tubuhnya memunggungi Bidam.

Bidam menurut dan memeluk Deokman dari belakang walaupun ia masih sangat penasaran, dan masih bertanya-tanya kenapa Deokman seperti menutup-nutupi sesuatu. Ia enggan bertanya lagi karena sepertinya Deokman tidak mau membahas hal itu.

Deokman tidak tidur dan ia sama sekali tidak mengantuk, matanya berkaca-kaca.

“Selamat tidur Deokman, aku mencintaimu” bisik Bidam, kata-kata yang selalu dia ucapkan untuk mengantar tidur Deokman.

<>

Deokman mengingat kata-kata tabib Lee

“tabib lee, apa ada kemungkinan aku akan sembuh?” tanya Deokman

“mohon maaf Yang Mulia, saya tidak bisa menjawabnya, karena penyakit yang mulia berhubungan dengan jantung, organ yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia” jawab Tabib Lee

“Lalu untuk apa pengobatan yang sedang aku jalani ini?”

“Pengobatan ini dilakukan untuk mempelancar aliran darah yang masuk ke jantung juga membuat jantung Yang Mulia berdetak dengan teratur dan kuat. Apa Yang Mulia akhir-akhir ini pada saat berbaring masih merasakan sesak pada dada Yang Mulia”

“tidak, aku bahkan bisa tertidur lebih nyaman sekarang, dan jantungku sudah mulai berdegup agak tenang padahal biasanya selalu berdebar keras”

“itu tandanya obat yang saya berikan sudah mulai bereaksi, Yang Mulia. Hanya saja..”

“Hanya saja apa?”

“Mohon maaf Yang Mulia, bila hamba lancang. Mengingat bahwa Yang Mulia sudah menikah sekarang, obat yang saya berikan akan menimbulkan efek samping”

“efek samping? Katakanlah apa itu?”

“Selama pengobatan berlangsung, obat yang saya berikan akan membuat rahim Yang Mulia, menjadi kering sehingga Yang Mulia tidak bisa mengandung seorang anak. Maafkan saya Yang Mulia?”

“Apa?, aku tidak akan bisa hamil dan mengandung? Itu yang kau maksudkan?”

“Ya Yang Mulia”

<>

Deokman pun diam tak menjawab ucapan selamat tidur dari Bidam, hanya air matanya menetes. Mengingat kata-kata Tabib Lee itu.

‘maafkan aku Bidam, aku harus sembuh dan menjalani semua ini. Aku harap kau mengerti dan tidak kecewa padaku’ kata Deokman dalam hati.

Merasakan tangan Bidam melingkari perutnya hangat dan nafas Bidam yang berhembus di rambutnya, membuat Deokman merasa bersalah karena ia belum mampu memberikan Bidam sesuatu yang diharapkan pasangan yang sudah menikah, yaitu seorang anak dalam kandungannya.

Scene : Why she’s lie to me

“Ah..sialan, dokumen itu tertinggal di kamar” gerutu Bidam gusar di kantornya ketika ia mulai mau menulis laporan. Bidam terpaksa kembali ke istana ingang, ke kamar ratu.

Saat ia melewati ruang makan dilihatnya dayang yang waktu itu menyajikan nampan pada Deokman sedang membereskan nampan dan cangkir, yang ia yakini bahwa itu adalah bekas minuman Deokman.

“apa ini?” tanya bidam pada dayang itu sambil mengambil cangkir lalu menciumi baunya dan mencicipi sisa obat ditangannya, rasanya sangat pahit getir.

“aneh biasanya Deokman meminum herbal vitamin tapi rasanya tidak pahit begini, ini pasti ramuan obat, memangnya Deokman sedang sakit?” gumam Bidam bertanya-tanya.

Bidam menanyakan pada dayang itu obat apa ini tapi dayang tersebut tampak gugup dan ketakutan lalu ia mengelengkan kepalanya. Bidam kesal karena dayang tidak menjawab

“kau tahu aku ini siapa heh! Aku suami Yang Mulia dan Sangdaedung negeri ini, aku berhak tahu Yang Mulia sakit apa? dan ini obat apa? kau harus menjawabnya!” bentak Bidam kesal. Dayang hanya mengelengkan kepala menunduk tidak berani menjawab

“ampun tuan Sangdaedung, hamba tidak bisa menjawabnya, hamba takut Yang Mulia ratu akan murka. Bila tuan Sangdaedung memaksa, saya rela dihukum mati tuan. Silahkan Sangdaedung menghukum hamba” kata dayang itu menghiba. Bidam tahu bila ia memaksa dan menghukum dayang maka akan timbul konflik dengan Deokman.

“Baiklah aku tidak akan bertanya padamu tentang obat apa ini. Kau hanya perlu menjawab sejak kapan Yang Mulia minum obat ini? Pertanyaanku tidak bertentangan dengan perintah Yang Mulia bukan?” selidik Bidam. Dayang dengan ragu-ragu menjawab

“Yang Mulia minum obat ini sesudah jatuh sakit sejak dimulainya pemberontakan itu” jawab dayang takut-takut menunduk. Mendengar jawaban dayang, Bidam terhenyak kaget memegang kursi untuk menahan badannya yang limbung

“jadi Deokman sakit karena pemberontakan itu, karena aku? dia harus menderita seperti ini, harus menjalani akupuntur dan menyembunyikannya dariku?” pikir Bidam penuh sesal, Bidam mulai menyalahkan dirinya sendiri

‘seharusnya aku tahu, Deokman ini adalah salahku..salahku’ Bidam membatin.

Dengan gelisah dan terburu-buru Bidam segera menyelesaikan pekerjaannya. Ada sesuatu yang lebih penting yaitu berbicara dengan Deokman. Segera ia mencari Deokman ke seluruh istana tapi ia tidak menemukannya, Bidam mulai panic karena setahunya hari ini Deokman tidak mempunyai jadwal ke luar istana

‘apa Deokman ada urusan mendadak? Tapi pasti ia akan bilang padaku” pikir Bidam. Lalu ia menemui Chunchu dan menanyakan dimana Deokman.

“tidak aku tidak tahu Yang Mulia ada dimana, aku di ruanganku sepanjang hari ini. Jadwal keluar istana baru besok itupun hanya ke kantor riset saja” jawab Chunchu pasti.

“lalu kau ada dimana, Deokman?” gumam Bidam sambil berkeliling istana. Lalu Santak datang

“Sangdaedung, kata salah seorang penjaga istana, ia melihat Yang Mulia menuju ke rumah sakit istana” kata santak. Tanpa mengucapkan apa-apa Bidam bergegas menuju rumah sakit istana, dan benarlah dia melihat Alcheon sedang berdiri di depan pintu rumah sakit.

“Kapten Alcheon!!” serunya mendekati Alcheon yang terlihat terkejut kala melihat Bidam memanggilnya dan mendekatinya.

“ApaYang Mulia ada disini? Sedang ada urusan apa?” tanya Bidam. Alcheon terlihat kikuk dan tengah-tengah mencari jawaban pertanyaan Bidam, tapi ia tidak menemukan alasan yang tepat, yang keluar hanya kata-kata eh..eh.. tidak jelas.

“Bagaimana pengobatan Yang Mulia, apa berjalan lancar?” pancing Bidam

“eh.. jadi Sangdaedung sudah tahu. Yang Mulia sudah menceritakan padamu?” sahut Alcheon dengan wajah lega karena ia tidak perlu mencari jawaban bohong. Bidam mengangguk pelan.

“aku sangat mengkhawatirkannya” kata Bidam sambil melirik ke arah rumah sakit

“semua karena salahku” lanjut Bidam lagi

“Sangdaedung jangan merasa begitu karena sampai sekarang penyakit Yang Mulia tidak pernah kambuh lagi. Yang Mulia sepertinya sedang semangat melakukan pengobatan, Yang Mulia pernah mengatakan padaku sekarang tengah dilakukan pengembangan untuk pengobatan penyakit jantung. Memang tidak akan sembuh setidaknya penyakitnya tidak bertambah parah seperti raja Jinpyeong. Sangdaedung harus selalu mendukungnya” kata Alcheon lancar dan polos tidak menyadari bahwa dirinya sedang dipancing Bidam.

DEG, Bidam sangat terkejut mendengar kata-kata Alcheon

‘jadi kau sakit jantung Deokman’ batin Bidam sedih, rasanya ia ingin menjerit putus asa

‘kenapa harus kau?’ tanyanya lagi dalam hati. Bidam menekan suaranya sedatar mungkin

“jadi Raja Jinpyeong meninggal karena penyakit itu?” tanyanya pada Alcheon, tetap saja suara tercekat Bidam yang keluar

“ya” jawab Alcheon tanpa curiga.

“aku akan masuk dulu” sahut Bidam berjalan memasuki rumah sakit.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar