Pages

Jumat, 10 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 19

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 19



Scene : OUR DREAM HOUSE



Menjelang sore di istana, Bidam tengah berjalan berdampingan dengan Deokman



“kukira sekarang waktunya kita pergi” kata Bidam



“kemana?” tanya Deokman



Tanpa menjawab, Bidam menarik tangan Deokman agar masuk dalam tandu, dalam tandu Bidam mengeluarkan sapu tangan dan meminta Deokman agar menutup matanya dengan sapu tangan itu karena ia akan mengajak Deokman ke suatu tempat dan Deokman tidak boleh membukanya sebelum sampai di tujuan. Deokman binggung tapi ia menurut saja.



Beberapa waktu kemudian, tandupun berhenti di depan gerbang kayu kokoh berwarna merah lalu Bidam menuntun Deokman masuk ke dalam gerbang, Bidam menghentikan langkahnya dan berdiri di belakang Deokman lalu membukakan penutup mata Deokman. Deokman mengerjap-gerjapkan matanya dan melihat ke sekelilingnya ternyata dia berada di sebuah halaman rumah yang kokoh dan indah yang didominasi warna merah pada kusen-kusen kayunya, di tengahnya halaman ditanami pohon persik yang rindang yang dikelilingi oleh bunga-bunga aster warna-warni.



“kau mau masuk atau hanya berdiri disini?” tanya Bidam tersenyum melihat Deokman terpesona.



“rumah kita..” gumam Deokman



“tentu saja aku mau masuk!” jawab Deokman. Bidam mengulurkan lengannya dan Deokman mengandeng pada lengan Bidam erat.



“kau belum melihat bagian tengah rumah ini, aku harap kau menyukainya” kata Bidam



Lalu mereka sampai di tengah rumah, rumah itu terdiri dari 3 bangunan utama membentuk huruf U di tengahnya terdapat taman yang lumayan luas yang ditanami pohon cemara berukuran kecil yang membentuk barisan lalu berbagai tanaman perdu dan bunga disekeliling jalan setapak menuju sebuah kolam ikan yang dihuni ikan-ikan koi warna emas, merah, kuning yang hidup riang bersama ikan hias lainnya, di ujung jalan setapak terdapat anak-anak tangga lalu disambung jembatan kayu kecil, dibawah jembatan tersebut adalah kolam ikan, yang menghubungkan dengan bangunan gazebo yang kokoh kayu-kayunya dicat warna hitam, warna favorit Bidam, dalam gazebo tersebut terdapat bangku yang panjang tempat bersantai dan meja dihadapannya namun yang menarik adalah pemandangan dalam gazebo, disini mereka bisa melihat areal pesawahan lalu sungai kecil di sisinya dan bukit-bukit pegunungan yang indah di ujung pesawahan karena letak gazebo cukup tinggi untuk melihat semua itu.



Di bagian samping kanan ada miniature tebing yang dialiri air hingga mirip air terjun mini yang mengalir ke kolam ikan. Tebing ini sekaligus menutup area dalam rumah dengan halaman depan.



“kukira ini akan jadi tempat favoritku Bidam, ini sangat luar biasa, sangat indah!” puji Deokman berseri-seri kagum dengan taman buatan Bidam.



“kupikir juga begitu, aku senang kau menyukainya, ayo kita ke ruangan lain” ajak Bidam.



Lalu mereka menuju bangunan di seberang taman dan memasuki lorong dalam.

Lalu Bidam menunjukkan kamar tidur mereka yang nyaman. Deokman senang melihatnya diperhatikan seksama sekeliling ruangan dan mencoba duduk di ranjang yang empuk yang dilapisi seprai dan selimut yang hangat.



“kau mau lihat isi lemarinya?” kata Bidam, Deokman lalu membuka lemari di dalamnya terdapat beberapa potong pakaian Deokman yang dia belum pernah pakai sebelumnya lalu pakaian Bidam yang dinominasi warna hitam tentunya.



“pakaian ini.. kau yang membuatnya?” tanya Deokman kagum, dia tidak menyangka Bidam membuat beberapa pakaian untuknya



“bukan aku yang membuatnya tapi tukang jahit, aku tidak bisa membuat pakaian wanita, aku hanya membeli bahan-bahannya saja tapi sebelumnya aku minta maaf, aku terpaksa mencuri satu bajumu agar ukurannya cocok denganmu” kata Bidam tersenyum lebar, Deokman tertawa geli mendengarnya



“nanti akan kuhukum kau karena pencurian itu” canda Deokman tersenyum lebar.



Bangunan ini yang berada di seberang gazebo adalah bangunan utama yang terdiri dari kamar Deokman & Bidam lalu 2 kamar mandi dan 2 kamar kosong yang dibuat Bidam untuk kamar anak-anak mereka kelak. Kamar-kamar ini berada pisahkan dengan bagian teras bangunan oleh lorong dalam



Saat memasuki ruang baca dan ruang kerja,



“ini ruang kerja kau dan aku, aku sengaja menempatkan 2 meja disini jadi kita bisa bekerja bersama-sama di ruangan ini. Aku juga telah memindahkan beberapa buku kesukaanmu juga membeli beberapa buku untuk menambah koleksi kita. Bagaimana nyonya apa ada yang kurang atau yang nyonya tidak sukai?”jelas Bidam sambil tersenyum lebar



“Bidam..aku..aku..tidak menyangka kau menyiapkan ini begitu sempurna, bahkan ini sama sekali di luar bayanganku. Aku sangat senang dan bahagia. Kau sangat luar biasa”puji Deokman riang



“apa benar kau telah membangun rumah ini sejak lama?”tanya Deokman lagi, Bidam tersenyum kecil agak tersipu



“benar, selama ini aku menyiapkan rumah impianku, selama aku membangunnya yang kuingat hanya dirimu, berandai-andai tinggal dan hidup di rumah ini bersama membangun keluarga…terjadi begitu saja…seandainya pun kita tidak bisa bersama, aku akan tetap memberikannya untukmu, walaupun kau tak memerlukannya karena kau tinggal di istana tapi aku tetap selalu mengharapkanmu..”ujar Bidam pelan. Deokman merasa tidak enak hati karena ucapan Bidam.



“impianmu dan impianku sama Bidam, aku sangat menghargainya, aku mencintaimu..” gumam Deokman, lalu Deokman memeluk Bidam. Bidam tersenyum bahagia kini dia dapat mewujudkan impiannya untuk membangun keluarga dengan wanita yang selalu dia harapkan dan sangat dicintainya itu.



Malam itu setelah mandi, mereka menikmati makan malam pertama di rumah mereka, Bidam dan Deokman memutuskan untuk pergi ke gazebo, menikmati suara gemericik air dan bulan purnama yang bulat sempurna, mereka saling berbincang-bincang santai, malam semakin dingin dan Bidam mengajak Deokman untuk masuk ke kamar, saat Deokman berdiri Bidam dengan sigap mengendong Deokman dalam pelukannya.



“kita akan menikmati malam pertama di rumah baru kita”bisik Bidam, Deokman hanya tersipu.



Bidam membaringkan Deokman dan dengan perlahan Bidam mulai mengecup bibir Deokman. Deokman membalas dengan merangkul leher Bidam dan memejamkan mata.

Malam yang dingin itu berubah menjadi hangat.. sangat hangat.



Scene : THEIR FIRST MORNING



Keesokan paginya, Deokman masih terlelap saat Bidam bangun, tangan Deokman diletakan di atas dada Bidam, Bidam memandang wajah Deokman lalu dengan hati-hati mengecup kepala Deokman, Deokman perlahan membuka matanya dan tersenyum memegang pipi Bidam lembut



“selamat pagi”sapa Deokman



“selamat pagi istriku, apa tidurmu nyenyak semalam?” tanya bidam pelan sambil mengelus rambut Deokman, Deokman mempererat pelukannya dan menghela nafas



“kau membuatku nyaman Bidam, dimanapun itu asalkan bersamamu aku akan selalu tidur lelap” jawab Deokman, Bidam tersenyum.



“kau mau sarapan apa? Aku akan memasak untukmu”tanya Bidam



“benarkah? Aku sangat rindu masakanmu seperti dulu, aku ingin makan apapun yang kau masak” jawab Deokman.



Deokman memang pintar dalam segala hal tapi untuk urusan masak ia agak kurang mahir dibandingkan Bidam. Pernah dulu waktu dalam pelarian, Deokman memasak untuk yushin dan Bidam, hasilnya membuat mereka sakit perut, diiringi dengan candaan mereka, Deokman bersumpah tidak mau masak lagi, lebih baik dia membaca buku katanya atau bermain catur dan membiarkan Bidam yang memasak untuk mereka.

Karena Bidam sering memasak untuk munno dan sering bepergian jadi variasi masakannya cukup banyak lagipula semua masakannya enak-enak dan Deokman menyukainya. Bukan salah Deokman tidak bisa memasak karena hampir seluruh masa remaja dan dewasanya tidak pernah menyentuh dapur, ia harus menjalani kehidupan keras, menyamar jadi laki-laki dan nando.



“baiklah, sudah lama juga aku tidak memasak, aku berharap masakanku enak” ujar Bidam bangkit meraih pakaiannya dan memakainya.



Deokman tersenyum geli, mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Setelah Bidam keluar kamar, Deokman pun bangun memakai kimono dan menyuruh pelayan menyiapkan air hangat untuk mandi.



Setelah Deokman mandi dan tengah berdandan, Bidam datang dan mengatakan ia sudah selesai memasak, Deokman menyuruhnya untuk mandi dulu lalu sarapan bersama-sama.



“Ayo makanlah”kata Bidam sambil mengambil beberapa lauk dan disimpan di mangkok Deokman, Deokman tersenyum



“Selamat makan” balas Deokman mulai menyuap makanannya, Bidam langsung makan dengan lahap dan makan dengan porsi besar



“Pelan-pelan, nanti tersedak” Deokman memperingatkan kala Bidam mulai batuk-batuk kecil dan mengambilkan Bidam minum, Bidam minum dengan terburu-buru. Deokman memperhatikan tingkah Bidam dengan geli



“kau ini…nafsu makanmu sangat besar, juga nafsu ‘itu’”gumam Deokman sambil tertawa geli



“apa..?” tanya Bidam sambil menelan makanan di mulutnya



“nafsu ‘itu’ apa?”



“ah.. tidak lupakan” jawab Deokman tersenyum malu, Bidam mengerti apa yang dimaksud Deokman



“nafsu makanku memang besar dan makanku juga banyak itu karena bawaan lahir, tapi kalau nafsu ‘itu’ itu semua karena salahmu” jawab Bidam cuek tapi memasang wajah jahilnya



“salahku.. kenapa itu bisa salahku?”tanya Deokman gusar



“karena ku selalu terlihat cantik dan menarik di setiap waktu, itu menyebabkan aku selalu bergairah melihatmu” jawab Bidam sambil tersenyum lebar.



“masa sih.. hhmm…Coba kau bilang hal itu kalau aku sudah tua, keriput dan peyot, apakah kau tetap akan mengatakan hal yang sama” goda Deokman



“tentu saja, sampai kapanpun, bila kita bersama sampai tua nanti, bagiku kau adalah yang tercantik dan terindah di dunia ini, mataku hanya selalu melihatmu sebagai wanita yang terbaik yang pernah kutemui” jawab Bidam sungguh-sungguh



“aku percaya padamu, Bidam. Kau juga pria yang selalu kucintai seumur hidupku”



“harus itu..” balas Bidam pendek mengangguk-angguk serius. Deokman hanya tersenyum simpul lalu meneruskan makannya. Deokman juga makan sangat lahap dan tak henti-hentinya memuji masakan Bidam. Kemudian mereka berdua bersiap-siap ke istana menghadap raja.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar