Pages

Jumat, 10 Desember 2010

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story BAGIAN 20

FAN FIC BIDAM – DEOKMAN, Our Love Story

BAGIAN 20



Scene : THE EX-QUEEN’S NEW DUTY



Istana : Ruang kerja raja

Mereka berdua menghadap raja Chunchu dan permaisuri Bolryang



“ah..kalian sudah datang Sangdaedung Bidam dan Tuan Putri Deokman, aku mencari kalian kemarin malam tapi katanya kalian sudah meninggalkan istana dan tinggal di rumah baru, apa benar?” tanya Chunchu



“benar Yang Mulia, kami sudah merencanakan hal ini. maafkan kami bila tidak memberitahukan Yang Mulia. Ada keperluan apa Yang Mulia mencari kami?” sahut Bidam



“ah tidak, sebenarnya tidak ada yang penting, hanya saja aku menyayangkan Tuan Putri tidak tinggal di istana lagi. Padahal aku selalu ingin berdiskusi dengan Tuan Putri setiap saat” jawab Chunchu, mendengar itu Deokman tersenyum bagaimanapun Chunchu adalah keponakannya, Chunchu sudah menganggap Deokman sebagai pengganti sosok ibunya.



“Yang Mulia, anda dapat memanggil saya kapanpun bila Yang Mulia memerlukan saya, saya pasti akan membantu Yang Mulia” jawab Deokman



“aku harap Tuan Putri tidak berhenti bekerja. Aku akan menempatkan Tuan Putri sebagai menteri pertanian dan kesejahteraan rakyat yang bertugas mengurusi segala sesuatu tentang pengembangan pertanian dan stok pangan kita di berbagai daerah termasuk kesejahteraan mereka. Apa Tuan Putri bersedia?” tanya Chunchu



“tentu saja Yang Mulia, aku akan berusaha semampuku” jawab Deokman



“Sangdaedung, aku ingin kau tetap fokus ke peningkatan kekuatan militer kita, aku perlu penasihat sepertimu mengingat panglima Yushin jarang ada di tempat untuk maju ke medan perang. Kau juga tetap mempunyai akses untuk mengambil pasukan yang kau latih selama ini jika diperlukan kemudian untuk tata ad-ministrasi negara aku menyerahkannya pada pamanku, Kim Youngchun. Aku akan segera membahas tentang rencana kita untuk mengadakan invasi ke Goguryo tepatnya ke Saitama karena menurut investigasi kami keadaan disana sedang kacau karena adanya kudeta. Sangdaedung, tolong persiapkan pertemuan tentang masalah ini nanti siang” perintah Chunchu



“baik Yang Mulia” sahut Bidam



Scene : PLAN FOR NEW CONQUER



Setelah pertemuan dengan Chunchu, Bidam dan Deokman berjalan menuju ke kantornya masing-masing



“apa kau pikir rencana Yang Mulia tidak terburu-buru, karena bila benar ada kudeta disana, untuk menstabilkannya akan lebih sulit lagi, karena bila kita salah memihak pada satu kubu yang berseteru maka akibatnya akan fatal?” tanya Deokman



“kau pernah dengar istilah ‘memancing di air keruh’ kurasa itulah rencana Yang Mulia?” jawab Bidam sambil mengerutkan keningnya berpikir.



“maksud-mu?” tanya Deokman



“istriku, sepertinya kupikir kita tidak perlu menstabilkannya juga menguasai Saitama, juga tidak memihak salah satu kubu. Saat kudeta terjadi kita hanya mendekati orang-orang yang mempunyai kepentingan berbeda lalu memperburuk keadaan” sahut Bidam menerka-nerka



“oh..aku mengerti sekarang... cara yang licik memang, tapi sudahlah! Itulah mengapa aku benci politik, politik sangat menjijikan”kata Deokman dengan nada mencemooh. Bidam mengangguk mengiyakan.



“nah sudah sampai, silahkan Yang Mulia Tuan Putri masuk ke kantor barumu” kata Bidam sambil membukakan pintu, Deokman tersenyum lalu melangkah masuk.



“aku sengaja menempatkan kantormu disini agar dekat dengan bangunan Tuan Putri tinggal, jadi bila kau merasa lelah, kau bisa langsung beristirahat di kamarmu” jelas Bidam. Deokman mengangguk.



“Kalau sempat akan kuusahakan untuk makan siang bersama denganmu disini, nah.. selamat bekerja Tuan Putri Deokman, jangan terlalu lelah ya! Aku mencintaimu” lanjut Bidam lagi. Deokman tersenyum mengangguk lalu Bidam keluar dari kantor Deokman



Siangnya Deokman menerima pesan agar Deokman makan siang dahulu karena ia belum selesai mengadakan rapat dengan raja, yushin dan para petinggi perang lainnya untuk merembukkan rencana invasi ke Saitama. Kemudian Bidam masuk ke ruangan Deokman sore harinya dan membawa kue-kue kecil dan teh, dilihatnya Deokman sedang memeriksa beberapa laporan. Bidam menunggu Deokman selesai lalu memakan kue-kue itu sambil sesekali menyuapi Deokman kue. Deokman tampak serius sekali tapi juga senang karena Bidam menemaninya.



“Ya sudah selesai, ayo kita pulang!”ajak Deokman.



Selama perjalanan pulang Deokman menanyakan pada Bidam hasil pertemuannya, lalu Bidam menjelaskan bahwa kini tengah diadakan persiapan agar pasukan Shilla yang dipimpin Yushin akan berangkat ke Saitama tapi rencana mereka bukan untuk menguasai kota itu tapi membawa beberapa perwira perang yang sedang melakukan kudeta untuk ditawan.



“Hhmm…kemudian para tawanan itu akan kita jadikan senjata sebagai alat perundingan dengan Goguryo, tapi kita harus berhati-hati juga Bidam, Shilla akan dianggap terlalu ikut campur” ujar Deokman



“tepat sekali, tapi Yang Mulia berpendapat kita memang harus menunjukkan ketertarikan kita pada hal-hal yang terjadi dalam pemerintahan Goguryo maupun Baekje karena tujuan kita ingin menguasai mereka dan menjadikan mereka satu Shilla jadi kita memang harus selalu ikut campur dan dianggap menganggu kenyamanan mereka” jawab Bidam



“ya, aku tahu dengan rencana ini, kita tidak perlu mengadakan kontak senjata secara terbuka, adakalanya perundingan bisa menghasilkan keuntungan yang lebih dibanding berperang mengorbankan nyawa, kemudian setelah itu apa Yang Mulia rencanakan?” tanya Deokman lagi



“Kurasa Shilla akan mengadakan beberapa perundingan politik mengenai perluasan batas wilayah Shilla dan Goguryo dan perjanjian genjatan senjata yang tentunya akan memberi keuntungan bagi ke dua belah pihak dengan menggunakan para tawanan pemberontak itu” jawab Bidam



“Rencana yang sangat bagus dan di saat yang tepat, kuharap semua dapat berjalan lancar dan berhasil” sahut Deokman sambil tersenyum.



“Kuharap juga begitu” ujar Bidam membalas senyum Deokman





Deokman menarik kesimpulan bahwa ia tidak salah memilih Chunchu sebagi penganti dirinya karena terbukti Chunchu sangat agresif sekali melakukan penyatuan 3 negara. Lalu mereka pun tiba di rumah dan beristirahat.



Scene : FINALLY…



3 minggu kemudian



Deokman terbangun dari tidurnya, sangat pusing dan perutnya mual serta badannya berkeringat. Lalu dia bangkit dari ranjangnya, dilihatnya Bidam masih terlelap tidur. Deokman ingin minum segelas air hangat sehingga ia memutuskan untuk pergi ke dapur untuk meminta segelas air hangat lalu menyuruh pelayan menyiapkan sarapan.



Saat kembali ke kamarnya tenyata Bidam sudah bangun dan menyuruh Bidam agar mandi terlebih dahulu sementara ia menyiapkan pakaian untuk dirinya dan Bidam. Bidam menuruti Deokman untuk mandi setelah ia mengecup pipi Deokman dan mengucapkan selamat pagi.



Saat membuka lemari untuk mengambil pakaian Bidam dan dirinya, Deokman merasa sangat sangat pusing, kepalanya terasa berputar dan mual di perutnya makin menjadi hingga ia tidak sanggup menahan dirinya lalu BRUG, Deokman pingsan sambil menarik pakaian dari dalam lemari hingga beberapa pakaian terbawa dan jatuh ke bawah bersamaan dengan jatuhnya Deokman.



Beberapa saat kemudian ketika Bidam kembali dari kamar mandi, sambil bersiul dan mengeringkan rambutnya lalu dilihatnya Deokman terbaring di lantai, seketika Bidam panik



“Deokman..Deokman..kau kenapa? Oh..Tuhan..PELAYAN..PELAYAN..CEPAT KESINI!!” teriak Bidam sambil memeriksa detak jantungnya ‘masih berdenyut’ lalu membopong Deokman ke ranjang dan membaringkannya



“Ya tuan..anda memanggil..” jawab pelayan



“Panggil Tabib Young Ae!! kalau dia tidak ada di tempat, kau cari tabib lain dan cepat bawa kesini, nyonya pingsan!!” perintah Bidam, pelayan itu cepat-cepat pergi.



“Deokman..Deokman.. kau kenapa?” tanya Bidam sambil memegang erat tangan Deokman lalu sesekali Bidam menepuk pipi Deokman lembut agar Deokman siuman, Deokman membuka matanya, Bidam sangat senang melihat Deokman siuman.



“aku..aku mau muntah!!” kata Deokman, lalu dengan cepat Bidam membawa bejana perunggu yang berisi bunga segar yang ditempatkan pada meja disisi ranjang mereka, bunga dan airnya dibuang ke lantai lalu Deokman benar-benar muntah ke dalam bejana itu, Bidam menepuk-nepuk punggung Deokman. Setelah selesai Bidam mengambil segelas air dan meminumkannya pada Deokman.



“apa sudah baikan? Bagaimana sekarang?” tanya Bidam masih dengan wajah panik, Bidam takut sekali penyakit Deokman kambuh, ia tidak mau Deokman menderita dan melihat Deokman sakit rasanya menyakitkan. Deokman hanya mengangguk lemah, wajahnya sangat pucat, tangannya terasa dingin berkeringat, lalu Bidam mengenggam tangan Deokman erat.



“aku sudah memanggil Young Ae, dia akan kesini memeriksamu, bersabarlah” kata Bidam lembut menatap mata Deokman. Tidak lama kemudian Young Ae datang, lalu cepat memeriksa Deokman



“aku menemukannya sudah tergeletak pingsan dilantai, setelah siuman Deokman langsung muntah, aku takut sekali..” kata Bidam menjelaskan. Young Ae memeriksa Deokman dengan teliti lalu tersenyum senang. Bidam heran kenapa Young Ae tersenyum



“Tuan Putri tidak apa-apa Tuan Sangdaedung, ini sakit biasa yang disebabkan karena Tuan Putri sedang mengandung” jawab Young Ae tersenyum pada Deokman dan Bidam. Deokman terkejut lalu tersenyum bahagia sedang Bidam masih dengan wajah binggung

“apa kau bilang..istriku mengandung? Deokmanku hamil? Anak?” tanya Bidam butuh penjelasan lebih lanjut



“ya Tuan Sangdaedung..Tuan Putri..istri Tuan Sangdaedung sedang mengandung seorang anak, sekarang kehamilannya menginjak 1 bulan, Tuan Putri pingsan karena pengaruh dari janin yang dikandungnya. Sudah biasa bila sedang hamil muda, si ibu mengalami pusing-pusing dan mual karena perubahan kondisi dalam tubuh tapi hal ini tidak berlangsung lama, paling lama gejala ini akan berakhir bila si janin sudah menginjak usia 3 atau 4 bulan jadi Tuan Sangdaedung tidak perlu khawatir” jelas Young Ae.



Lalu Young Ae memberi ramuan vitamin dan menasehati hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan, Deokman dan Bidam mendengarkan dengan seksama dan tak henti-hentinya tersenyum bahagia. Setelah semua selesai Young Ae pun pamit.



“Kau sangat luar biasa Deokman, kau memberiku hadiah yang indah” puji Bidam sambil mengecup kening Deokman.



“Aku juga sangat bahagia setelah hampir 4 bulan kita menunggu akhirnya aku bisa memberikanmu seorang anak” jawab Deokman tersenyum bahagia



“aku akan pergi ke istana dan memberitahukan kabar ini pada semua orang..aku ingin seluruh dunia tahu, aku akan menjadi seorang ayah..” kata Bidam berbinar-binar kentara sekali Bidam tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya



“pergilah..” jawab Deokman sambil tertawa geli melihat tingkah Bidam



“hari ini kau istirahat di rumah, jangan kemana-mana!” perintah Bidam pada Deokman.



Deokman menganguk-angguk sambil tersenyum lalu Bidam segera berpakaian Sangdaedung dan pergi, Deokman masih mendengar teriakan Bidam di luar yang berseru



“Deokmanku hamil..aku akan menjadi seorang ayah.. yuuhuu..!!” Deokman tersenyum geli dibuatnya.



Kabar tentang kehamilan Deokman cepat tersebar ke seluruh istana, semua memberi selamat termasuk raja dan permaisuri sangat senang mendengarnya, mereka mengundang Deokman dan Bidam untuk makan siang bersama keesokan harinya, permaisuri memberi Deokman hadiah berupa kain tebal dan lembut yang bagus sekali untuk dijadikan seprai dan selimut calon bayi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar