Pages

Minggu, 12 Desember 2010

Our Future Still Continue Chapter 67 part. 02: A Terrible Night


“huft…dinginnya…untung saja hujannya sudah berhenti…” ujar Il Woo sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya di depan api unggun.  “tap..tap..”  tedengar suara langkah kaki mendekat. Shi Yoon mengambil busurnya dan siap mengambil posisi. “siapa itu?” ujarnya. Langkah kaki semakin mendekat, dan sosok yang berjalan mulai terlihat karena ada cahaya api unggun. “kau?” Il Woo  meletakkan busurnya kembali. Rupanya hanya salah satu anak laki-laki yang ada dalam rombongan tadi. “kau mau apa?malam-malam seperti ini?” tanya Il Woo. “perutku sakit..aku ingin buang air…” ujarnya sambil memegang perutnya.  “kau tidak meminta ibumu atau ayahmu menemanimu?sungai memang tak begitu jauh tapi ini sudah larut malam..bisa-bisa kau tersesat atau celaka nanti..”  tanya Il Woo. “ayah dan ibuku sudah tidur..dan mereka tak juga bangun ketika aku membangunkan mereka…”  ujar bocah itu terburu-buru, ia lalu kembali berjalan melewati Il Woo menuju sungai yang terletak lumayan jauh di belakang kemah.  “tunggu..aku akan mengantarmu..” ujar Il Woo. “cepatlah tuan..aku sudah tak tahan..” keluh anak kecil itu. Il Woo masuk ke dalam kemahnya  “Dae Gil tolong kau jaga sebentar di sini..aku mau ke sungai menemani bocah desa itu sebentar..” “yaa..” jawab Dae Gil sambil mengusap kedua matanya yang mengantuk.  

Perbatasan Wonju. Kamp Militer Goguryeo
“sraak..” seorang prajurit melangkah masuk ke dalam kemah dan memberi hormat. Eulji yang sedang menggosok pedangnya berdiri memunggunginya tidak mengacuhkannya “lapor Panglima..semua persiapan sudah siap.. dan Tuan Perdana Menteri memerintahkan agar menunggu instruksinya sebelum menyerang”  ujar prajurit itu.   Eulji memainkan pedangnya dan tiba-tiba melemparkan ke hadapan prajurit itu hingga prajurit itu harus melompat menghindari pedangnya yang menghujam ke tanah. Eulji menatap bawahannya itu dengan tatapan yang menyeramkan. Prajurit itu pun segera memberi hormat dan cepat-cepat keluar dari kemah. Eulji mengambil pedangnya lalu mengarahkannya ke peta wilayah Shilla. “akhirnya..sudah tiba saatnya aku bergerak.. Panglima terhebat bukanlah Kim Yushin atau Daemusin..tetapi aku Song Eulji dari Goguryeo..” ujarnya sebelum ia menebas peta Shilla menjadi dua.

Jalur Kumi - Taejon, Shilla.
Deok Man membaca kembali surat dari suaminya “kurasa sebaiknya, aku membalas suratnya setelah aku sampai di Taejon..jika ia tahu aku tidur di luar,ia pasti akan sangat khawatir..” Ia pun menyimpan suratnya  lalu menarik selimutnya untuk tidur. “selamat tidur Yun Ho..Yoo Na..dan selamat tidur Bi Dam..” gumamnya sambil memejamkan mata.
 “hei bocah kau yakin bisa sendiri?aku akan turun jika kau tak bisa…hati-hati..jangan sampai kau terpleset..” seru Il Woo dari atas tepi sungai. Namun tak ada jawaban dari bawah.   “bocah ini bisa tidak sih sebenarnya?” pikirnya. “paman..paman..tolong aku ada ular…”tiba-tiba terdengar suara teriakan dari bawah.”ular?astaga..” Il Woo pun segera berlari menuruni jalan menurun berbatu yang cukup licin. “hei bocah dimana kau?” seru Il Woo sambil mengangkat obornya tinggi-tinggi. “di sini paman..” sahut bocah itu sambil melambaikan tangannya. “ah ya aku melihatmu..dimana ular..” “traang..” tiba-tiba muncul seseorang berpakaian dan penutup wajah hitam memukul Il Woo dari belakang dengan tongkat. “siapa kau?” ujar Il Woo yang menahan tongkat itu dengan kedua pergelangan tangannya. “haiik..” orang itu tiba-tiba membenturkan kepalanya dengan kepala Il Woo.

 “huuft..lama sekali Il Woo…kemana dia?” keluh Dae Gil sambil menggosok kedua tangannya. “kalau kau lelah masuklah…biar aku yang menggantikanmu..” ujar Bi Ryu yang keluar balik tenda “atau aku yang menggantikanmu..” sahut Yong Joon dari balik punggung Bi Ryu “dan aku juga..” Shi Yoon menimpali dari belakang Yong Joon. Dae Gil tersenyum menatap ketiga kompatriotnya itu “terima kasih kawan…tapi kalian berdua  juga perlu istirahat…kurasa sebentar lagi Il Woo akan kembali..”  “tap..tap..” terdengar suara langkah kaki  mendekat. Bi Ryu sudah bersiaga dengan kapaknya.”kurasa itu bocah yang tadi diantar oleh Il Woo…tapi dimana Il Woo’nya?” ujar Dae Gil. “paman..tolong..paman..” ujar bocah itu terengah-engah. “ada apa?apa yang terjadi?” ujar Yong Joon begitu ia menghampiri bocah itu. Bocah itu mengatur nafasnya sebelum ia menjelaskan semuanya "paman pemanah tadi terpeleset jatuh ke sungai karena menolongku tadi..”  "apa?"  sergah Yong Joon, Bi Ryu, Shi Yoon dan Dae Gil bersamaan. “lalu sekarang bagaimana?apa kau lihat terakhir ia terbawa kemana?” tanya Yong Joon. “sekarang ia tersangkut di tengah tak sadarkan diri..aku tak bisa menolongnya sendiri.." Shi Yoon menghela napas lega begitu mendengarnya ”huuft ..untunglah..ia tak terbawa arus..” . “kalau begitu aku saja aku yang menolongnya..” ujar Bi Ryu sambil menatap Yong Joon menunggu tanggapan darinya. Yong Joon mengangguk mengizinkan. Bi Ryu pun meletakkan golok besarnya dan mengambil obor  “ayo bocah..antarkan aku ke sana..” “baik paman..” jawab bocah itu. Bersama bocah itu, Bi Ryu berlari masuk ke dalam hutan. “aku akan menyiapkan air hangat..” ujar Shi Yoon sambil menaruh panci di atas api. Dae Gil menepuk bahu Yong Joon  “hmm..kurasa sebaiknya ku siapkan obat-obatan..dan pakaian ganti untuknya..”  “sraak..” terdengar suara pintu terbuka. “Nyonya..” Shi Yoon, Yong Joon dan Dae Gil serempak memberi hormat begitu melihat siapa yang keluar. “aku tadi mendengar..ada yang meminta tolong…apa yang terjadi?” tanya Deok Man. “Il Woo mengalami jatuh terpleset di sungai....tapi Nyonya tak perlu khawatir karena Bi Ryu sedang menolongnya …” Yong Joon mencoba menjelaskan. Deok Man lalu berjalan keluar dari gubuk dan duduk di depan api unggun. “aku akan ikut merawatnya bersama kalian..” “Nyonya..tapi..” namun sebelum Dae Gil selesai. “ini perintah..” jawab Deok Man sambil tersenyum penuh kemenangan. Shi Yoon, Yong Joon dan Dae Gil pun tak bisa berkata apa-apa lagi. “hmm.. Dae Gil..kurasa sebaiknya kau bangunkan para pengawal untuk berjaga di sekeliling, sementara kita fokus menolong Il Woo..biar aku yang menyiapkan obat-obatannya..” kata Yong Joon.  “ya akan kulakukan..” jawab Dae Gil. Ia pun segera pergi  menuju tempat peristirahatan para pengawal, sementara Yong Joon sedang mempersiapkan obat-obatan dan Deok Man memasak air bersama Shi Yoon.

“hei teman-teman..maaf bila aku mengganggu tapi..” De Gil melangkah masuk ke dalam tempat para pengawal berisitirahat. “Astaga..” Dae Gil terkejut begitu melihat pemandangan di hadapannya, para pengawal tergeletak di tanah dengan kondisi mulut berbusa putih. Ia pun segera memeriksa beberapa dari mereka, namun sudah tak ada lagi denyut nadi.  Ia pun menoleh ke sekeliling dan menyadari bahwa para penduduk desa yang menumpang bersama mereka tak ada. “kemana mereka?sial!!” ujar Dae Gil sambil meninju tanah. Ia pun segera berlari keluar “teman-teman…ada kabar buruk..” serunya sambil berlari keluar. Yong Joon dan Shi Yoon pun menoleh begitu mendengar teriakan Dae Gil. “shuut..dart..dart” beberapa panah api melesat di depannya, menancap di gubuk, dan segera membakarnya.
Yong Joon yang melihat itu segera menarik Deok Man ke belakang tumpukan barang bawaan untuk berlindung sambil membawa senjata milik Bi Ryu “lindungi Nyonya…” Shi Yoon dengan tombak di tangannya ikut berjaga di sebelah Deok Man.  Dae Gil yang berhasil menghindar dari lesatan panah pun ikut bersiaga. “apa yang terjadi?dimana para pengawal?” tanya Yong Joon. Dae Gil berusaha mengatur nafasnya dulu sebelum  “mereka sudah mati…dilihat dari mayatnya mereka diracun..” Yong Joon, Shi Yoon, dan Deok Man terkejut begitu mendengarnya “ma..mati?lalu para penduduk desa itu?kemana mereka?” tanya Yong Joon.  “mereka tak ada..aku curiga mereka juga ada di balik semua ini..” jawab Dae Gil yang sudah mengeluarkan pedang dari sarungnya. “apakah mereka gerombolan perampok pedagang yang mengincar kita?” tanya Shi Yoon. “kurasa bukan..jika memang mereka perampok kurasa yang mereka incar dulu harusnya kita yang menjaga barang-barang ini di samping bukan pengawal…” jawab Dae Gil. “jika bukan pengincar harta..berarti akulah yang diincar..” ujar Deok Man tiba-tiba. “Nyonya?”  sergah Shi Yoon dan Dae Gil serempak.  “Dae Gil, Shi Yoon tidak peduli mereka adalah perampok atau bukan…yang penting kita harus melindungi Nyonya…” ujar Yong Joon “Deok Man hanya diam di tengah-tengah ketiga pengawalnya yang melindunginya. Meskipun ini bukan untuk pertama kalinya, namun perasaan takut selalu ada meskipun hanya sedikit. Dan itu semua sekarang menyatu bersama dengan perasaan bersalah dan kaget lantaran mendengar perkataan Dae Gil.  Mereka berempat menatap ke arah semak-semak tempat anak panah itu berasal.  “apakah ada barang penting yang tertinggal di dalam Nyonya?” tanya Shi Yoon. “tidak..tidak ada..” jawab Deok Man. “Bi Ryu dan Il Woo tak kunjung muncul..apa yang terjadi dengan mereka?” pikir Yong Joon. “sraak..sraak..”  semak-semak di hadapan mereka bergerak-gerak. “Dae Gil!” panggil Yong Joon.  Dae Gil pun berdiri mendekat. “jika jumlah musuh ternyata jauh lebih banyak dari kita… begitu aku memberi tanda, kau harus membawa Nyonya lari dari sini secepat mungkin..kalian bisa bersembunyi di goa-goa gunung yang tak jauh dari sini..aku dan Shi Yoon akan berusaha mencegah mereka mencapai kalian…kau mengerti?” gumam Yong Joon. “baik!” jawab Dae Gil.  Dae Gil pun segera bersiaga di samping Deok Man.  “aku tak akan meninggalkan kalian..” ujar Deok Man sambil mengambil sebuah pedang dari kotak perbekalan. “maafkan kami jika lancang, Nyonya..tapi ini adalah prinsip kami untuk melindungi Tuan kami di atas nyawa kami sendiri…” jawab Yong Joon. “srak..srak..” semak-semak di depan mereka bergerak-gerak, lalu tampak sinar api dibaliknya. “haiik..” muncul sekelompok orang berpakaian hitam dengan penutup wajah mengacungkan pedang ke arah mereka.  “bunuh semuanya!!” seru penunggang kuda hitam yang berdiri di belakang kelompok itu. Melihat jumlah lawan yang sangat tidak seimbang Yong Joon pun memberi aba-aba “Dae Gil! sekarang!!” Dae Gil pun segera  menarik tangan Deok Man dan berlari. “jangan sampai wanita itu lolos!!” seru penunggang kuda itu. “haaiiik..” seru kedua belah pihak. Dengan sekuat tenaga, Yong Joon menghempaskan lima lawannya sekaligus dengan golok besar milik Bi Ryu. “larilah..larilah sejauh mungkin..” pikirnya sambil menatap Dae Gil dan Deok Man yang berlari. Melihat Deok Man lari, penunggang kuda hitam itu berusaha mengejarnya, namun dengan tombaknya, Shi Yoon berhasil menjegal kudanya, sehingga lawannya terhempas dari kudanya. “tak akan kubiarkan kau mengejarnya..” ujar Shi Yoon.   “kau!!” geram lawannya sambil mengeluarkan pedangnya. “haaiik” mereka kemudian saling mengadu senjata masing-masing.

Secepat mungkin, Dae Gil dan Deok Man berlari ke dalam hutan, di bawah cahaya Bulan, mereka berlari melewati semak belukar dan pohon-pohon. “shuut..dart..dart..” beberapa panah melesat di samping mereka dan menancap di pepohonan. “sial!!”  gumam Dae Gil. Ia menoleh ke belakang. Dilihatnya ada beberapa panah yang siap menembakkan panah ke arahnya. “awas Nyonya..” Dae Gil mendorong Deok Man agar terhindar dari lesatan panah yang mengincar nyawanya.

Tengah malam.
Kamar Putri Deok Man, Istana Ingang.
“ugh..Deok Man..” gumam Bi Dam gelisah dalam tidurnya. “ctaarrr..” suara petir yang menggelegar membangunkan dirinya dari tidurnya. “oaa..oaa” tak hanya dirinya saja namun begitu juga dengan si kembar.  Bi Dam memijat-mijat kepalanya  “ugh..mimpi apa aku tadi..” Ia pun bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke tempat tidur  kedua anaknya. “sraak..” pintu kamar terbuka, rupanya Soo Hye ikut terbangun begitu mendengar tangisan si kembar.  “Tuan..” Soo Hye memberi hormat. “popok mereka berdua tidak basah..kurasa mereka hanya kaget karena petir tadi..” ujar Bi Dam. “ya hujan dan petir ini mengagetkan  saja bisa orang dewasa apalagi Tuan Muda dan Nona yang masih kecil..” jawab Soo Hye sambil berusaha menenangkan Yoo Na yang menangis dalam gendongannya. “kuharap di sana tidak hujan seperti ini..kuharap tak ada sesuatu yang buruk menimpa mereka..” gumam Bi Dam sambil menatap wajah istrinya yang terpajang dalam lukisan keluarga mereka. “saya harap juga begitu Tuan..” kata Soo Hye. “Deok Man..” gumam Bi Dam dalam hati.  

Jalur Kumi - Taejon, Shilla.
“argh” Shi Yoon mengerang kesakitan. Dua buah anak panah menghujam lengan kanan dan kaki kirinya. “traang..” dengan satu tebasan, tombaknya terlepas jauh dari tangannya. “Shi Yoon!!” seru Yong Joon berlari berusaha menolong temannya. “shuuut..dart..” sebuah panah menghujam paha kirinya sehingga ia terjatuh ke tanah. “argh” erangnya.  “kalian semua akan berakhir hari ini...” ujar orang yang menjadi lawan duel Shi Yoon sambil menunggangi kudanya kembali dan menatap Shi Yoon dan Yong Joon yang sekarang sudah ditahan dengan tatapan menghina.  “apakah wanita sudah ditemukan?” tanyanya pada bawahannya. “masih dalam pengejaran Tuan..pengawalnya yang satu lagi masih bertahan..”  “dasar bodoh!!apakah kalian sekelompok tak mampu menghadapi 1 ekor hwarang saja?” bentak penunggang kuda itu. “baiklah akan kukejar mereka..suatu kehormatan untukku untuk bisa bertemu dengan wanita peletak dasar unifikasi Shilla..” kata orang itu lagi. “kauu!!! Tak akan kubiarkan!!” seru Yong Joon sambil memberontak dan berusaha menjatuhkan penunggang kuda itu dengan pedang yang dirampasnya. Namun sebelum ia mencapai musuhnya, dirinya sudah terjatuh lenih dulu dihajar oleh kaki kuda yang menghantam dadanya. “aku tak akan jatuh untuk yang kedua kalinya..” ujar penunggang kuda itu. “urus mereka!!hiaa!!” ujar orang itu sambil memacu kudanya. “tak akan kubiarkan kau!!argh!!” seru Shi Yoon yang berusaha mengejar namun para penjaganya memukulinya dengan gagang pedang tepat di atas lukanya.  

“traang..” Deok Man menangkis pedang lawannya. “haaik..” seru Dae Gil sambil menusuk lawannya itu. “sepertinya sudah tak ada lagi..” gumam Deok Man sambil memandang sekeliling dan menghapus peluh dari keningnya. “Nyonya..nyonya tak apa-apa?” tanya Dae Gil yang sekarang berjalan dengan terpincang-pincang. Deok Man berusaha memapah Dae Gil untuk duduk “aku baik-baik saja..lukamu..aku akan mengobati lukamu dulu..”   Ada 2 anak panah yang bersarang di badan Dae Gil. Satu di lengan kanan dan yang satu lagi di betis kirinya. Dengan pelan-pelan, Deok Man mencabut panah di betisnya dulu. “uugh..” Dae Gil menggertakan giginya, menahan rasa sakit. Setelah dicabut, Deok Man membebat luka itu dengan kain ikat kepala Dae Gil sambil berharap pendarahannya akan berhenti. “toplak..toplak..” terdengar suara derap kuda mendekat. “awas!!”  Dae Gil mendorong Deok Man keras-keras. Sebuah panah melesat dan berhasil  menggores wajah Dae Gil. Penunggang kuda itu memacu kudanya semakin cepat ke arah Deok Man. “larii Nyo..” seru Dae Gil. Namun sebelum Dae Gil menyelesaikan kata-katanya, penunggang kuda itu sudah memukulnya dengan gada miliknya, Dae Gil pun terpental ke tanah tak sadarkan diri. Deok Man yang terjatuh ke tanah segera bangun dan mengambil pedangnya. “akhirnya aku bisa berhadapan denganmu..suatu kehormatan aku bisa bertemu denganmu Tuan Putri Deok Man..” kata penunggang kuda itu begitu turun dari kudanya. “apa maumu?” tanya Deok Man yang sudah bersiap dengan pedangnya. “menyerahlah Tuan Putri..aku tak ingin membuatmu merasakan sakit..” jawab orang itu sambil berjalan mendekat. “aku tak akan menyerah..tak akan pernah..” seru Deok Man.  “kalau begitu..aku tak akan segan lagi..tidak peduli kau adalah wanita..haiik..” penunggang kuda itu berlari menyerang Deok Man. Deok Man pun  bersiap-siap juga menyerang. “traang..” pedang Deok Man pun terpental dari genggamannya. “brruuk..” dan dengan  sekuat tenaga, penunggang kuda itu mendorong Deok Man hingga ia terjatuh ke tanah. Karena kepalanya terantuk dengan batu, Deok Man pun tak sadarkan diri.   Tangan kirinya mencengkram leher Deok Man erat-erat dan tangan kananya mengacunkan pedang  tepat di urat nadi lehernya.”dengan begini..tak akan ada lagi kegagalan untuk malam ini..” gumam orang itu tersenyum puas dan keji.

Benteng Bulcheon, Kota Taejon.
“tap..tap..” seorang komandan berjalan hilir mudik di dalam ruangannya. Ada masalah yang membuat dirinya tertahan di dalam ruangannya ini selarut ini. “perwira Il Jung mohon menghadap..” seru seseorang dari balik pintu ruangannya. “masuk..” ujar komandan itu. “sraak..” perwira itu pun masuk dan memberi hormat. “ “bagaimana?apakah mereka sudah tiba?” tanya komandan itu. “belum komandan..tak ada tanda-tanda rombongan mereka sudah tiba di kota ini..” jawab Il Jung. “lalu apakah pasukan yang kuminta sudah kau kirim keluar untuk mencarinya?” “sudah komandan..namun belum ada kabar mereka bertemu dengan rombongan Tuan Putri..” Komandan itu pun segera menyandangkan pedang di pinggangnya  “aku akan membentuk dan memimpin kelompok pencarian juga ..kau menjadi wakilku di sini dan tulislah surat kepada Kepala Pengawal Istana Alcheon, katakan padanya, bahwa rombongan Tuan Putri sepertinya terhalang cuaca buruk sehingga belum tiba di Taejon malam ini dan kita juga sedang melakukan pencarian terhadapnya..aku tak bisa berdiam lama-lama di sini hanya menunggu kabar..” “baik  komandan..” jawab Il Jung sambil memberi hormat kepada komandannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar