Pages


Rabu, 14 Juli 2010

Side Story Chapter 03: First Chatting

Kediaman Bangsawan Kim Yong Chun.
"Paman..tadi mereka itu siapa?" tanya Zhi Youn. "yang berbaju merah itu adalah Kolonel Go Do..yang berbaju hitam adalah Kepala Pengawal Raja Kim Alcheon.." jawab Kim Yong Chun "aku merasa Tuan Alcheon adalah orang yang setia,disiplin dan teratur.." tutur Zhi Youn. "bagaimana kau tahu?" tanya Yong Chun. "dari pedangnya..dari gagangnya aku tahu itu pedang sudah lama, namun mata pisaunya tampak seperti sering diasah dan dirawat sehingga tetap bersih..bagi seorang ksatria..pedang adalah hidupnya.." Zhi Youn menjelaskan. Yong Chun tertawa mendengarnya "pengamatanmu bagus sekali..luar biasa.." pujinya. Lalu Zhi Youn bersama Kim Yong Chun melangkah masuk ke dalam ruang tamu. Di sana, Seolju sudah duduk menunggu "ayah.." panggil Zhi Youn takut karena cara ayahnya duduk pasti ayahnya sedang marah. "jika ini bukan di rumah pejabat Kim Yong Chun..ayah pasti sudah memarahimu..kau ini sebenarnya kemana..para pelayan mencarimu kemana-kemana tapi kau tak ada..." "maafkan aku ayah.."gumam Zhi Youn menyesal. "sudahlah..Zhi Youn tadi hanya tersesat dalam perjalanan ke sini.." Para pelayan Kim Yong Chun menyajikan makanan kecil dan minuman, lalu Yong Chun mempersilahkan mereka menyantapnya. "paman..ayo ceritakan padaku tentang Tuan Putri.." seru Zhi Youn. "Zhi Youn.."tegur ayahnya. Kim Yong Chun tertawa sambil mengelus janggutnya "sebenarnya aku berniat untuk memberi lebih dari sekedar cerita.." paparnya "maksudmu? tanya Seolju. "kalau diizinkan dan ia mau..aku ingin mendidiknya di sini...ia memiliki potensi.." "aku belajar di sini?" Kim Yong Chun tersenyum mengangguk "apakah kau mengizinkannya Seolju?" Seolju terdiam memikirkannya "aku takut ia akan menyusahkanmu dan bibinya di sini..aku saja kesulitan mendidiknya.." katanya "ayah aku berjanji tak akan menyusahkan bibi dan paman..dan akan belajar sungguh-sungguh..aku mohon.." pinta Zhi Yeon. Ayahnya menghela napas dalam-dalam "baiklah..ayah akan mengizinkan..tapi jika kau berulah..kau harus pulang dan dihukum.." “terima kasih ayah..” Zhi Yeon menundukkan kepalanya.

Keesokan paginya.
Istana.
Zhi Yeon ikut seta dengan ayahnya dan Bangsawan Kim Yong Chun ke Istana untuk bertemu dengan Yang Mulia Raja. “Zhi Yeon…ayah akan menghadap Yang Mulia Raja..kau tunggu di sini saja..” ujar Seolju. Zhi Yeon mengangguk “baik ayah..”
Seolju dan Kim Yong Chun masuk ke dalam Ruang Kerja Raja, sementara Zhi Yeon berdiri dipelataran luar Istana. “kau sedang apa sendirian di sini Nona?” Zhi Yeon kaget mendengar suara itu dan menoleh. Alcheon yang berdiri di belakangnya dan memanggilnya. Zhi Yeon memberi hormat kepada Alcheon “saya hanya menunggu ayah saya Tuan…” Alcheon berdiri di sampingnya lalu mereka terdiam sejenak. Masing-masing berpikir topik pembicaraan apa yang akan mereka bahas “ah..maaf..” ujar mereka bersamaan. “Tuan saja yang duluan..” “Nona saja yang duluan” ujar mereka lagi-lagi bersamaan. “Tuan saja yang lebih dulu..” kata Zhi Yeon. “baiklah..aku hanya ingin tahu apakah kau pernah belajar ilmu pedang?” tanya Alcheon. Zhi Yeon mengangguk dan tersenyum ketika ia mengingat masa kecilnya. “saya mempelajarinya dari latihan yang ayah berikan kepada prajurit..tentu saja ayah awalnya tidak mengetahui ini..tapi lama-lama ketahuan juga..awalnya ayah tidak mau mengajari..tapi akhirnya setelah ayah pun mau juga mengajari saya..katanya agar saya bisa menjaga diri..tapi bagaimana Tuan tahu?jangan-jangan…” Alcheon mengangguk “aku sempat mengintip ketika kau sedang memainkan pedangku…dan kupikir kau pasti sering berlatih pedang karena gerakanmu mencerminkan kau bukanlah orang awam…” Zhi Youn tersenyum mendengarnya “saya juga tahu Tuan pasti sangat menyayangi pedang Tuan..meskipun pedang itu sudah lama..” ”bagaimana kau bisa tahu?” “boleh kupinjam pedangnya?” tanya Zhi Yeon. Alcheon memberikan pedangnya padanya. “gagang pedang ini kelihatan sudah lama…tampak bekas genggaman tangan di sini..” tunjuk Zhi Yeon. Lalu ia menghunuskan pedangnya. “dan mata pedangnya nampak bersih berkilau dan tajam..itu berarti pedang ini sangat dirawat oleh pemiliknya..”lalu memberikan pedang itu kepada pemiliknya. Alcheon memandangi pedangnya “meskipun aku memiliki pedang baru tapi aku tak bisa melepas pedang ini…ini sudah menemaniku sejak aku menjadi nangdo, lalu hwarang, mengawal Tuan Putri Cheon Myeong, membantu Tuan Putri Deok Man, mengawal Yang Mulia Ratu dan sekarang Yang Mulia Raja…aku tak bisa melepasnya begitu saja..” “ membantu Tuan Putri Deok Man?ya ampun jangan-jangan Tuan itu salah satu dari 3 orang yang setia kepada Tuan Putri yang selalu di sisinya sejak awal..” Alcheon tertawa kecil mendengarnya “salah satu dari 3 orang yang setia?darimana ada julukan seperti itu?” “saya mendengarnya dari orang-orang..dari pengawal..saya penasaran seperti apa Tuan Putri itu..bagaimana ia bisa kembali ke istana sebagai putri..kata ayah yang memantau kabar dari ibukota, Tuan Putri memiliki 3 orang kepercayaan yang selalu setia bersamanya sampai sekarang..ayah hanya tahu Tuan Kim Yushin namun ayah tidak tahu siapa nama yang dua lainnya..tapi yang jelas ketiganya selalu setia bersamanya dari awal…dan ketika Tuan Putri naik takhta, mereka tetap bersama Tuan putri dan duduk di jabatannya masing-masing…yang ayah tahu salah satunya menjadi Panglima besar yakni Tuan Kim Yushin..” Alcheon tertawa lagi mendengarnya “Panglima Yushin dan Perdana Menteri Bi Dam adalah kedua tangan Tuan Putri…aku hanya memerankan peran kecil saja..jujur aku sangat kaget ketika Yang Mulia Ratu memilihku sebagai kepala pengawalnya…dan kurasa pengabdianku bagi Tuan Putri selama ini belum cukup membantu pengabdian Tuan Putri bagi negara ini apalagi membayar hutangku pada beliau.. ” “jadi ketiga orang yang dimaksud adalah Tuan Panglima Kim Yushin, Tuan Perdana Menteri Bi Dam dan Tuan sendiri..waah hebat…” Zhi Youn terkagum-kagum. “tetapi kontribusi yang lain jangan dilupakan..banyak juga oran lain selain kami yang ikut berjuang bersama Tuan Putri..seperti Yang Mulia Raja, Kolonel Go Do, Penasihat Juk Bang, Pejabat Kim Yong Chun, dan masih banyak lagi..” “aku dan ayah juga..ah maaf maksudnya saya dan ayah..maafkan saya” kata Zhi Youn sambil menunduk meminta maaf Alcheon lagi tersenyum “dulu mungkin aku akan menegur jika ada yang berbicara kurang sopan, dulu aku tidak mengerti kenapa Tuan Putri dulu yang mengizinkan Tuan Bi Dam memanggilnya namanya saja dan berbicara seakan-akan mereka adalah orang yang sederajat bukan sebagai Tuan Putri dan pengawalnya.. tapi setelah kuamati sekian lama aku bisa melihat Tuan Putri lebih bahagia dengan itu..dan sekarang aku bisa memahaminya..jadi kau tidak perlu meminta maaf kali ini..” Zhi Yeon mengangguk. “jadi ayahmu dan kau juga mendukung Tuan Putri?” Zhi Youn mengepalkan tinjunya dengan semangat “tentu saja..aku dan ayah mendukung Tuan Putri..ayah sangat setuju dengan kebijakan Tuan Putri mengenai pajak tanah dan penyediaan lahan dan peralatan seperti yang dilakukan di Bneteng Angang..tetapi ayah sempat ragu-ragu..” “ayahmu sempat ragu-ragu?” tanya Alcheon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar