Pages

Jumat, 23 Juli 2010

Chapter 38: The Day After

Keesokan paginya.
Deok Man berdiri membantu suaminya mengenakan pakaian sangdaedeungnya "sabukmu kurang rapi.." komentarnya lalu memasangkan tali sabuk Bi Dam. Bi Dam hanya bisa berdiri pasrah menatap istrinya. "nah sekarang sudah rapi.." ujar Deok Man tersenyum senang. Deok Man menatap suaminya yang sedang terdiam "Bi Dam.." panggilnya. Bi Dam tersadar dari lamunannya "hm ya?" "jangan bilang kau berpikir untuk melanggar janjimu kemarin?" tanya Deok Man penuh selidik sambil menatap mata suaminya dalam-dalam. "ti..tidak..tentu saja tidak.." jawab Bi Dam. "lantas apa yang sedang kau pikirkan tadi?" tanya Deok Man. Bi Dam menghela napas "aku..aku hanya sedikit khawatir..itu saja.." lalu mengalihkan perhatian dengan mengenakan topinya. Kedua tangan Deok Man memegang kedua pipi Bi Dam agar ia bisa menatap mata suaminya. "aku baik-baik saja Bi Dam..tak ada yang perlu kau khawatirkan di sini.." ujar Deok Man. "kau yakin ini yang terbaik?Yang Mulia Raja telah memberiku izin untuk bekerja di rum.." jawab Bi Dam. Deok Man memegang kedua tangan suaminya "ini yang terbaik Bi Dam..percayalah padaku.." Bi Dam tak bisa berkata apa apa lagi, ia hanya menganggukan kepalanya. Kemudian ia menggandeng tangan istrinyanya dan berjalan bersama menuju gerbang depan. Sesampainya di depan tandu, Bi Dam mengecup kening istrinya "aku berangkat..". "hati-hati ya.." jawab Deok Man. "Soo Hye..jaga Tuan Putri baik-baik..bila ada apa-apa segera beritahu aku.." kata Bi Dam kepada Soo Hye yang baru saja datang di samping Deok Man. "siap Tuan.." jawab Soo Hye dengan posisi siap ala prajurit. "baiklah..kalo begitu aku berangkat.." ujar Bi Dam tersenyum. Kemudian ia masuk ke dalam tandunya dan pergi menuju Istana. "apakah Han Hye Jin sudah datang?" tanya Deok Man. "belum Tuan Putri..mungkin sebentar lagi.." jawab Soo Hye. "hmm..baiklah aku akan menunggunya di gazebo..dan tolong siapkan obatku Soo Hye.." "baik Tuan Putri.." jawab Soo Hye.
Ruang Kerja Perdana Menteri. Istana.
"Perdana Menteri memasukki ruangan.." seru penjaga pintu. Para pejabat di ruangan itu berdiri memberi hormat. Bi Dam berjalan masuk dan duduk di tempat duduknya. "bagaimana perkembangan terakhir di perbatasan?" tanya Bi Dam sambil membaca gulungan laporan di mejanya. "belum ada pergerakan lebih lanjut" jawab salah seorang pejabat. "hmm..rupanya Panglima Yushin berhasil mendiamkan mereka..lalu bagaimana dengan kondisi dalam negeri, apakah ada masalah?" "ada sedikit gejolak di masyarakat karena berita terbakarnya gudang persediaan pangan namun sudah berhasil diredakan.." jawab pejabat yang lain. Bi Dam menutup laporan yang selesai dibacanya "bagus..jaga harga bahan pangan di pasaran agar tetap stabil..dan pacu semangat rakyat dengan berita kemenangan Panglima Yushin.." Tak lam kemudian seorang kasim tergopoh-gopoh masuk dan memberi hormat kepada Bi Dam. “Tuan Panglima sudah kembali..” katanya. “benarkah?dimana ia sekarang” tanya Bi Dam. “Tuan Panglima sedang berjalan menuju Istana Ingang..“ Bi Dam bangun dari duduknya “aku akan meyambutnya..”katanya sambil tersenyum lalu berjalan keluar.
Pelataran Istana. Siang hari.
Panglima Kim Yushin diikuti Jenderal Baek Eui, Wolya, dan Pil Dan serta Kolonel Go Do berjalan memasuki lorong pelataran istana. Di ujung lorong, Bi Dam sudah menantinya. “Panglima Kim Yushin..” sapanya. Yushin menjabat tangan Bi Dam lalu memeluknya. Tidak sama seperti dulu, pelukan kali ini penuh ketulusan, tak ada kecuirgaan atau perselisihan di antara mereka “Bi Dam..” sapa Yushin. “kuucapkan selamat atas kemenangan kalian..kau memang seorang Panglima yang hebat..” Yushin menepuk bahu Bi Dam “ini juga berkatmu..kalau ka tak meberikan buku itu belum tentu kita bisa menang..” Bi Dam tersenyum. “oh ya mungkin besok atau lusa aku akan berkunjung ke kediamanmu..sudah lama aku tak mengunjungimu..apakah kau mengizinkan..” Bi Dam tertawa “tentu saja kami akan mneyambut kunjunganmu..” Lalu mereka berdua berjalan menuju Istana Ingang untuk menghadap Raja.
Sore hari. Kediaman Perdana Menteri Bi Dam
"aku pulang.." seru Bi Dam selepas turun dari tandunya. Namun tak ada jawaban, yang ada hanya seorang pelayan datang memberi hormat kepadanya. "maaf Tuan, Nyonya sedang beristirahat di kamarnya.." "hmm..baiklah.." jawab Bi Dam. Bi Dam kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya menuju kamarnya. Dengan pelan-pelan, ia membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Deok Man tertidur lelap di atas pembaringannya. Bi Dam kemudian duduk di kursi yang ada di samping istrinya itu. Ia tersenyum melihat wajah Deok Man yang tertidur begitu damai. Melihat peluh yang bermunculan di kening istrinya, Ia mengambil sapu tangannya dan menghapus peluhnya pelan-pelan. "kau pasti sangat lelah ya hari ini.." pikir Bi Dam. Lalu ia membungkuk dan mengecup kening istrinya. "tidurlah yang nyenyak.. Deok Man.." gumamnya. Setelah itu ia membalikan badannya dan berjalan keluar kamar.
"Bi Dam..." langkah Bi Dam terhenti di depan pintu kamarnya mendengar Deok Man memanggil namanya. Bi Dam menoleh, Deok Man sudah terbangun dari tidurnya dan sekarang sedang menatap ke arahnya. "Bi Dam.." panggil Deok Man sambil tersenyum. Bi Dam kemudian berjalan menghampirinya lalu duduk kembali di tempatnya tadi. "aku di sini Deok Man.." jawab Bi Dam lalu mengecup tangan Deok Man yang ia genggam. Deok Man tersenyum mengangguk. Lalu ia berusaha bangun untuk duduk. Bi Dam menahan punggungnya membantunya untuk duduk. Karena perutnya yang semakin membesar, ia agak kesulitan untuk bangun sendiri. "aduh.." keluh Deok Man sambil memegang pinggangnya. Bi Dam pun panik melihatnya "kau kenapa?apakah ada yang sakit?akan segera kupanggilkan tabib.." Melihat kepanikan suaminya, Deok Man malah tertawa. "suamiku..suamiku.."tawanya. Bi Dam jadi bingung melihatnya. "pinggangku hanya nyeri, Bi Dam..jadi kau tak perlu panik seperti itu.." jelas Deok Man. "pinggangmu nyeri?" tanya Bi Dam. Deok Man mengangguk "kata Han Hye Jin rasa nyeri ini adalah hal yang wajar untuk wanita yang sedang hamil sepertiku.."
Lalu Bi Dam duduk di belakang istrinya. "Bi Dam?" tanya Deok man. "apakah bagian ini yang sakit?" tanya Bi Dam sambil menekankan jarinya pada bagian yang ditunjuknya. "ya bagian itu dan di sekitarnya..tunggu Bi Dam apa yang akan kau lakukan?" jawab Deok Man. Tanpa disuruh, Bi Dam mulai memijat pinggang istrinya itu. "apakah terasa agak lebih baik?" tanya Bi Dam. "sangat.." jawab Deok Man yang sedang menikmati pijatan suaminya itu. Setelah dipijat cukup lama "kurasa cukup Bi Dam..nyerinya sudah tidak terasa lagi.." kata Deok Man sambil menarik kedua tangan Bi Dam dan meletakkanya di atas perutnya. Bi Dam meletakkan dagunya di atas bahu kanan istrinya "jika terasa nyeri lagi, panggil aku dan nanti akan kupijat.." "ya..terima kasih ya suamiku.." jawab Deok Man setengah bercanda lalu mengecup pipi kiri suaminya. Bi Dam tersenyum kemudian membisikkan sesuatu di telinga istrinya "bolehkah aku meminta hadiah lebih?". Wajah Deok Man memerah malu mendengarnya. Melihat wajah istrinya, Bi Dam tertawa "istriku..istriku..itu hanya bercanda..kena kau.." Deok Man mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Bi Dam. Wajahnya nampak sebal sekali. "aku marah.." katanya sambil berdiri lalu berjalan meninggalkan tempat tidurnya. "tunggu Deok Man.." Bi Dam mengejarnya dan berhasil memeluknya dari belakang. "maafkan aku..aku tak bermaksud..." kata Bi Dam. Deok Man menoleh menatapnya kemudian menciumnya tiba-tiba. Bi Dam pun terkejut dan ia mendekap erat Deok Man dalam pelukannya. "kena kau.." canda Deok Man setelahnya. Bi Dam tersenyum mengalah "baiklah Tuan Putri aku mengaku kalah.." candanya sambil memeluk Deok Man. Deok Man pun tertawa bahagia dalam pelukannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar