Pages

Selasa, 27 Juli 2010

Chapter 05 Side Story: The First Debut

Pagi hari. Kediaman Bangsawan Il Myung Min
“hoahmm..” Zhi Youn melangkah keluar dari kamarnya sambil merenggangkan badannya. “haiik…” terdengar seruan beberapa orang laki-laki dan bunyi besi yang beradu dari halaman belakang. Zhi Yeon mengintip dari balik tembok. “sedang apa mereka?” pikirnya. Karena sulit untuk melihat, ia pun melangkah lebih dekat lagi dan mengumpat dari balik semak. Dilihatnya 6 orang laki-laki sedang memukul logam panas dengan palu besi. ”apakah mereka sedang menempa?” pikirnya. Ketika sedang sibuk berpikir, tiba-tiba seseorang menepuk bahu Zhi Yeon. “waaa…” teriak Zhi Yeon kaget hingga ia jatuh terjerembab ke semak-semak. Zhi Yeon menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang telah membuatnya kaget setengah mati. “bibi..” sergahnya. Bibinya, Lee Yoo Seon hanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku keponakannya itu. “tak kuduga kau akan sekaget itu..” Lalu ia membantu keponakannya itu untuk bangun. “kau sedang apa di sini?” tanyanya. “aku hanya penasaran bi..sedang apa mereka di sini..” jawab Zhi Yeon sambil membersihkan pakaiannya dari daun-daun yang menempel di bajunya Bibinya hanya menghela napas tersenyum “seperti biasa kau selalu penasaran dengan hal-hal baru..” “apa yang sedang mereka lakukan bi?” tanya Zhi Yeon penasaran. “kau tahu kan kalau pamanmu itu seorang pedagang dan ia juga tertarik dengan pedang sama sepertimu?” tanya Bibi. Zhi Yeon mengangguk. “nah..belum lama ini pamanmu itu berhasil memperoleh pedang dari Baekje…dan sekarang pamanmu itu sedang meneliti yakni perbandingan antara pedang Baekje, pedang Tang, dan pedang Shilla..manakah yang paling unggul…pamanmu sedang mempelajarinya..” “ooh..jadi paman sedang meneliti pedang..” jawab Zhi Yeon sambil mengangguk-anggukkan kepala. “ya sudah sekarang kau mandi…bibi sudah membuatkan sarapan untukmu dan ayahmu sudah menunggu di ruang makan…cepatlah..” pinta Bibi Yoo Seon. “baik bi..” jawab Zhi Yeon lalu pergi cepat-cepat menuju kamarnya. “ada-ada saja anak itu..” pikir Yoo Seon sambil tersenyum.
Ruang Makan.
“selamat makan…” seru Zhi Yeon sambil mengambil mangkuk nasinya. “adik dimanakah suamimu..aku tidak melihatnya dari tadi..” tanya Seolju pada Yoo Seon. “dia sedang berada di halaman belakang bersama dengan para pekerja…” jawab Yoo Seon. “apakah Paman tidak sarapan bi?” tanya Zhi Yeon. “hmm..pamanmu itu kalau sudah asyik dengan pedangnya pasti tak mau diganggu..nanti bibi akan bawakan sarapannya ke belakang..” jawab Yoo Seon sambil mengambilkan lauk untuk kakaknya. “oh ya kurasa aku harus memberitahu kalian bahwa nanti siang aku akan berangkat ke Myeonghwal sanseong..” “kenapa ayah pulang begitu cepat?” tanya Zhi Yeon. Seolju menghela napas “kan ayah sudah bilang ayah hanya sebentar berada di sini lagipula ayah harus cepat pulang..banyak pekerjaan yang harus ayah selesaikan..” lalu ia menatap adiknya “adik..kutitipkan putriku Zhi Yeon padamu selama ia berada di sini..jika ia nakal atau berulah segera kau kabari aku..” “ayah..aku kan sudah berjanji tidak akan membuat ulah..” protes Zhi Yeon. Yoo Seon hanya tersenyum mengangguk “baik kak..” jawabnya. “Zhi Yeon, bukankah hari ini kau ada janji untuk belajar dengan Pejabat Kim Yong Chun?” tanya Seolju. “iya ayah..setelah sarapan aku akan pergi ke kediamannya” jawab Zhi Yeon. Seolju meminum teh yang disuguhkan adiknya “kalau begitu ayah akan mengantarmu ke sana sekaligus pamit dengannya..” “baik ayah..”

Kediamana Bangsawan Kim Yong Chun.
“Tuan…Tuan Kepala Pengawal Istana ingin bertemu dengan Tuan..katanya hal yang penting dan mendesak…” lapor seorang pelayan kepada Kim Yong Chun yang sedang menikmati tehnya. “persilahkan ia menunggu di ruang tamu..” kata Kim Yong Chun “ada apa gerangan?” pikirnya . Alcheon berjalan memasuki ruang tamu kemudian memberi hormat kepada Kim Yong Chun. “Tuan ada hal gawat…” lapornya.

“ingat Zhi Youn..kau harus mematuhi aturan di sini..jangan sampaikau berbuat ulah di sini..” Seolju mengingatkan putrinya itu. “iya ayah..Zhi Youn ingat…ayah tak perlu khawatir..” jawab Zhi Youn santai “justru kamu yang paling mengkhawatirkan..” pikir Seolju.
“lho?..ayah kenapa Paman Yong Chun pergi tergesa-gesa begitu?..apakah ia lupa dengan janjinya bertemu dengan kita?” tanya Zhi Yeon yang melihat Kim Yong Chun berjalan tergesa-gesa bersama Alcheon. “Pejabat Yong Chun..” Seolju berjalan menghampiri temannya itu. Zhi Yeon memberi hormat kepadanya dan Alcheon. “apakah ada masalah di istana?” tanya Seolju. “gudang persediaan pangan prajurit dekat Goguryeo, wilayah Dosal Seong diserang dan dibakar oleh pasuka Goguryeo..” jawab Alcheon. Seolju dan Zhi Yeon sama-sama kaget mendengarnya. “kerusakannya cukup besar…tapi kita tak perlu panik..karena Panglima Yushin sedang melakukan serangan balik…yang sekarang perlu kulakukan adalah mengatur pembangunan kembali, mengatur ulang pendistribusian pangan, dan mencegah agar kabar ini tidak sampai menurunkan semangat rakyat…oleh karena itu aku harus pergi sekarang...” jawab Kim Yong Chun. Seolju mengangguk mengerti. lalu ia membalikkan badannya dan pergi diikuti Alcheon. “pembangunan..konstruksi..” pikir Zhi Youn. “ayo kita pulang Zhi Youn…dan berdoa semoga masalah ini bisa selesaikan..” ujar Seolju. “ya..aku tahu..” seru Zhi Youn. Lalau bukannya ia berjalan mengikuti ayahnya tapi ia malah berlari mengejar rombongan Kim Yong Chun. “kau kemana Zhi Youn?” teriak ayahnya. “aku tahu solusinya ayah..”seru Zhi Youn lalu ia berlari mengejar Kim Yong Chun dan Alcheon. “paman..paman..tunggu” panggilnya. Kim Yong Chun menoleh dan berhenti berjalan. “Zhi Youn?” “maafkan kami nona, tapi kami harus segera pergi..tolong jangan ganggu kami” ujar Alcheon. “aku bukannya mau mengganggu tapi…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar