Pages

Selasa, 20 Juli 2010

Chapter 36

Keesokan paginya.
Karena memikirkan kondisi Deok Man, Bi Dam semalaman tak bisa tidur hingga pagi. Perlahan Deok Man membuka matanya, bangun dari tidurnya "selamat pagi, Bi Dam.." Bi Dam menoleh menatap lembut istrinya. "selamat pagi Deok Man.." Tampak lingkaran hitam di bawah kedua mata Bi Dam. "kau tidak tidur semalaman ya?" tanya Deok Man. Bi Dam menggelengkan kepalanya "aku tidur..hanya saja bangun lebih awal tadi tadi.." "kau bohong Bi Dam..ada lingkaran hitam di bawah matamu..kau kenapa?" "hah?iya?" Bi Dam memijat-mijat matanya. "oh ya apa yang ingin kau lakukan hari ini, Deok Man?aku akan menemanimu seharian.." Bi Dam berusaha mengalihkan pertanyaan. "jawab pertanyaanku dulu Bi Dam..tidak biasanya kau tidak tidur semalaman seperti ini?" "a..aku tidur hanya saja pas tengah malam aku terbangun karena lapar..dan aku jadi susah mau tidur lagi..nah makanya sekarang ayo kita sarapan..aku sudah sangat lapar.."elak Bi Dam sambil bangun dari tidurnya lalu mengulurkan tangannya ke arah Deok Man. Deok Man hanya menghela napas lalu ia meraih tangan Bi Dam dan bangun dari tidurnya kemudian mereka keluar dari kamar mereka menuju ruang makan. "ia pasti memikirkan penyakitku semalaman..Bi Dam.." pikir Deok Man.
Siang Hari. Istana.
Han Hye Jin sedang memeriksa buku catatan kesehatan Deok Man dari tabib Istana yang pernah merawatnya. Pada umumnya, tabib Istana pasti memiliki buku riwayat kesehatan setiap anggota kerajaan yang disimpan sebagai arsip Kerajaan. "benar dugaanku.. dan ini adalah gejala kronisnya.."pikir Han Hye Jin. Lalu ia mengembalikan buku itu ke tempatnya semula dan pergi.
Siang hari. Kediaman Perdana Menteri Bi Dam.
Deok Man sedang memainkan lagu Barramggoc dengan sitarnya di gazebo ditemani Bi Dam. Di akhir permainan, Bi Dam tersenyum dan memberikan applaus untuknya. "bagaimana menurutmu Bi Dam?"tanya Deok Man. "sangat indah..kau benar-benar belajar ya selama aku pergi?"puji Bi Dam. Deok Man tersenyum mengangguk "sekarang mainkan serulingmu..kita bermain bersama.."Bi Dam mengambil serulingnya lalu mulai meniupnya dan Deok Man mengiringinya. "ternyata memang lebih indah dimainkan berdua"ujar Bi Dam tersenyum. Deok Man mengangguk setuju.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri mereka, menunduk memberi hormat "maaf Tuan, Nyonya, Tabib Han Hye Jin datang berkunjung kemari.." "persilahkan dia duduk menunggu di ruang tamu..kami akan segera ke sana.."jawab Bi Dam. "baik Tuan.." pelayan itu menunduk lalu pergi. Bi Dam beranjak dari tempat duduknya lalu mengulurkan tangannya kepada Deok Man "kita ke ruang tamu, Deok Man.." Deok Man tersenyum mengangguk meraih tangan Bi Dam lalu bangun dari tempat duduknya dan berjalan bersama suaminya menuju ruang tamu.
Sraak. Han Hye Jin berdiri menunduk memberi hormat. Deok Man tersenyum "duduklah..". Lalu mereka bertiga duduk. Kemudian Han Hye Jin mengeluarkan kotak yang dibungkus kain berwarna emas dan meletakkannya di atas meja "ini obat yang sudah saya racik..Tuan Putri harus meminumnya.. di pagi dan malam hari setelah makan..setiap hari.." "terima kasih Tabib Han Hye Jin.."jawab Deok Man. "kapan kau bisa mulai melakukan pengobatan untuk istriku?" tanya Bi Dam. "besok pagi bisa dimulai..akupuntur akan dilakukan setiap 2 hari sekali..bagaimana Tuan Putri?" "baik..besok pagi.."jawab Deok Man semangat. Lalu Deok Man beranjak dari tempat duduknya. "mau kemana?"tanya Bi Dam. "sudah hampir waktunya makan siang..aku harus menyiapkan makan siang..tabib Han Hye Jin kau ikutlah makan siang bersama kami.."
"terima kasih Tuan Putri..tetapi maaf saya tidak bisa karena harus mengambil ramuan obat yang dikirim dari Tang siang ini di Pelabuhan.."jawab Han Hye Jin. "sayang sekali.."ujar Deok Man. "aku akan ikut membantu.."ujar Bi Dam ikut berdiri. Deok Man menggelengkan kepalanya "aku bisa sendiri Bi Dam lagipula sudah ada Soo Hye yang membantuku..aku tinggal dulu ya.." "ya Tuan Putri.."jawab Han Hye Jin. Lalu Deok Man berjalan keluar, meninggalkan Bi Dam dan Han Hye Jin berdua saja di ruang tamu. "Tuan Putri sangat tegar menghadapi semua ini.."ujar Han Hye Jin. "ya..kau tahu sampai sekarang aku sendiri tak tahu harus bersikap apa padanya..aku sangat senang melihat ia bahagia karena bayi kami kembar tapi di saat yang bersamaan berita mengenai penyakitnya membuatku hancur berkeping-keping..ia wanita paling mandiri, tegar, dan kuat yang pernah kutemui..namun bagiku sekarang ia sangat rapuh..penyakit itu bisa membuatnya jatuh setiap saat tanpa bisa kucegah..adakah yang kubisa lakukan untuknya agar ia bisa sembuh?agar aku saja yang menderita penyakit itu bukan dirinya? akulah yang menyebabkan dirinya jatuh sakit..seandainya aku tidak melakukan kebodohan itu.." jawab Bi Dam frustasi. Matanya berkaca-kaca. Han Hye Jin hanya bisa terdiam. Ia dapat mengerti perasaan cinta Bi Dam yang begitu besar untuk istrinya. "Bi Dam.." gumam Deok Man yang berdiri di balik pintu mendengarkan pembicaraan mereka.
Ruang Makan.
Setelah Han Hye Jin pergi, Bi Dam berjalan menuju ruang makan. Tentu saja, ia sudah menghapus raut wajahnya yang muram. Ia tahu ia pasti Deok Man tak akan suka jika tahu mengenai ketakutannya dan kekhawatirannya. "yang dibutuhkannya sekarang adalah aku yang kuat dan mendukungnya.."pikir Bi Dam sambil mengepalkan tangannya lalu berjalan masuk ke dalam ruang makan dan duduk menunggu istrinya.
"Tabib Han Hye Jin sudah pulang?" tanya Deok Man yang tak lama kemudian masuk. Bi Dam mengangguk "nah mari makan.." serunya penuh semangat sambil mengambil lauknya. Deok Man tersenyum melihat suaminya itu. "ada yang aneh ya?" tanya Bi Dam sambil mengemut sumpitnya. Deok Man menggeleng "tidak..aku hanya senang..senang melihatmu melahap masakanku.." Bi Dam tersenyum menghela napas lalu mengambilkan lauk untuk istrinya "kau juga harus makan Deok Man.." Deok Man mengangguk dan mengambil sumpitnya "selamat makan.."ujarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar