Pages

Kamis, 08 Juli 2010

Chapter 33: What is The Meaning of Power If I Can't be with You

Pagi hari. Istana. Kamar Raja dan Permaisuri.
Raja dan Permaisuri sedang bersiap-siap untuk berangkat ke tempat upacara pemakaman. "Kepala Pengawal Raja memasuki ruangan"seru penjaga pintu. Alcheon berjalan masuk lalu menunduk memberi hormat Raja menoleh "ada apa Alcheon?mengapa kau belum mengenakan pakaian kabungmu?bukankah kau seharusnya bersiap-siap untuk upacara?"tanyanya. "maaf Yang Mulia, ada berita penting yang harus saya sampaikan"jawab Alcheon. Lalu ia menceritakan kejadian yang dilihatnya semalam. Raja dan Permaisuri terkejut mendengarnya "Perdana Menteri masih hidup?benarkah itu?apa kau sudah memberitahukannya kepada pejabat lain?" "itu benar Yang Mulia, saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri.. baru Bangsawan Kim Seo Hyun dan Putri Man Myeong yang saya beritahu tadi pagi, lalu saya sudah ke kediaman Panglima Yushin dan Bangsawan Kim Yong Chun, tetapi mereka sudah pergi.." "baiklah kita segera langsung ke tempat upacara saja..lalu kita beritahukan kabar ini"kata Raja. Alcheon menunduk "baik Yang Mulia"
Tempat upacara pemakaman Bi Dam.
Banyak pejabat yang berpakaian kabung sudah berdatangan untuk mengikuti upacara pemakaman
"mengapa Putri Deok Man belum datang?dimana beliau?Yang Mulia Raja dan Permaisuri juga belum.." tanya salah seorang pejabat. "mungkin Tuan Putri masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Perdana Menteri Bi Dam sudah tiada..pasti berat baginya menghadapi ini semua" kata pejabat yang berdiri di sebelahnya. Kim Yong Chun yang juga hadir di sana juga memikirkan hal yang sama seperti para pejabat lain. Namun di tengah semua hiruk pikuk itu, Yushin memilih untuk berkonsentrasi berdoa di depan altar tempat papan nama dan lukisan wajah Bi Dam terpampang "aku tahu ini semua salahku Bi Dam..seandainya saja aku tidak lemah sehingga ditawan musuh.. kau pasti masih hidup..dan Tuan Putri tidak perlu sedih kehilangan dirimu..maafkan aku" gumamnya.
Pelataran Istana.
Raja, Permaisuri diikuti para dayangnya dan Alcheon berjalan melewati pelataran Istana cukup cepat. Mereka sadar kalau mereka sudah terlambat untuk menghadiri upacara, tapi tentu saja ada hal yang lebih penting dari itu. Alcheon melihat ke arah halaman dan berhenti, matanya menyipit "maaf Yang Mulia, itu Tuan Putri dan Perdana Menteri baru saja tiba"katanya. Mendengar itu Raja dan Permaisuri juga menghentikan langkah mereka dan melihat ke arah lapangan. "dia..benar-benar masih..hidup.." gumam Raja terkejut.
Halaman Istana.
Bi Dam dan Deok Man keluar dari tandu mereka. Bi Dam melihat sekeliling "sepi sekali di sini.." "mungkin mereka sedang mengikuti upacara..seharusnya upacara sudah mula sejak tadi.."kata Deok Man seraya merapikan pakaiannya. " apa mungkin sebaiknya kita langsung ke sana saja ya.." "kurasa tak perlu..Yang Mulia Raja, Permaisuri, dan Alcheon sedang berjalan ke sini..berbaliklah "jawab Deok Man. Bi Dam membalikkan badannya. Raja, Permaisuri, dan Alcheon berjalan menghampiri mereka. Bi Dam dan Deok Man menunduk memberi hormat, Alcheon pun juga demikian. Raja dan Permaisuri tampak senang menyambut Bi Dam "selamat datang kembali Perdana Menteri..sungguh berita kepulanganmu adalah berita yang sangat mengejutkan dan menggembirakan bagiku.."kata Raja. Bi Dam menundukkan kepala "terima kasih Yang Mulia"
"maafkan saya Perdana Menteri, karena kemarin hari sudah larut malam, saya baru sempat memberitahukan berita ini tadi pagi, dan baru Bangsawan Kim Seo Hyun dan Yang Mulia saja yang mengetahuinya" kata Alcheon yang berdiri di samping Permaisuri.
"sudahlah, yang penting bagaimana jika kita segera ke sana, mereka pasti sedang menunggu kita.."ujar Permaisuri. Mereka semua mengangguk dan kembali berjalan ke tempat upacara.
Tempat Upacara Pemakaman Bi Dam.
Kim Seo Hyun ditemani istrinya berjalan memasuki tempat upacara. Dan semua pejabat di sana memandang heran. "mengapa Bangsawan Kim Seo Hyun dan Putri Man Myeong tidak mengenakan pakaian kabung?apa mereka lupa bahwa hari ada upacara pemakaman?tanya salah seorang pejabat. Kim Seo Hyun tetap berjalan tanpa mempedulikan hiruk pikuk itu, menghampiri Kim Yong Chun yang juga heran melihatnya. "ada apa denganmu?mengapa tidak mengenakan pakaian kabung?" Lalu Kim Seo Hyun membisikkan kabar yang disampaikan Alcheon kepadanya tadi pagi. Mata Kim Yong Chun terbelalak mendengarnya "kau yakin?"tanyanya. Kim Seo Hyun mengangguk. Yushin yang baru saja selesai berdoa, berjalan menghampiri ayah dan ibunya "mengapa ayah tak mengenakan pakaian kabung?"tanyanya.
"lihat Yang Mulia Raja dan Permaisuri sudah tiba.."seru salah seorang pejabat. Semua pejabat berdiri untuk memberi hormat dan mereka tercengang begitu melihat dua orang yang berjalan di belakang Raja dan Permaisuri. "i..itu..Per..dan..a..Men.tri..Bi..Dam" mereka semua terkejut seperti melihat hantu dari kubur. Yushin juga tercengang melihatnya "Bi..Dam.."gumamnya. Lalu Raja dan Bi Dam berjalan ke depan, berdiri di hadapan para pejabat sedangkan Deok Man, Permaisuri, dan Alcheon berdiri di sebelah Yushin dan Kim Yong Chun.
"harap tenang semuanya" seru Kim Yong Chun meredakan hiruk pikuk. Semua pejabat diam. Lalu Raja mulai berbicara
"aku tahu kalian semua pasti kaget melihat orang yang berdiri di sampingku ini..tapi akan aku pertegas satu hal bahwa dia memang benar-benar Perdana Menteri Bi Dam.."katanya. Lalu Raja mempersilahkan Bi Dam berbicara "ya..seperti yang kalian lihat, saya masih hidup dan berdiri di sini...bagaimana ceritanya saya bisa selamat, saya rasa itu bisa diceritakan nanti saja.. terima kasih"kata Bi Dam sambil menundukkan kepala. Seperti yang telah diumumkan, bahwa Bi Dam masih hidup, Raja meminta Kim Yong Chun untuk membatalkan upacara dan membubarkan para pejabat. Para pejabat kemudian beriringan meninggalkan tempat upacara sambil membahas hal yang baru saja mereka lihat. Hanya tinggal Bi Dam, Deok Man, dan Yushin. Yushin masih merasa takjub melihat Bi Dam berdiri di depannya. Bi Dam tertawa melihat tampang Yushin yang tercengang "hei..ada apa denganmu Panglima?"tanyanya. Yushin menggelengkan kepalanya dan tersenyum "rasanya aneh..baru saja tadi aku berdoa di depan altarmu..sekarang aku melihatmu berdiri di depanku..kau ada dimana selama ini?aku mencarimu kemana-mana..tapi aku sangat senang melihatmu Bi Dam"katanya sambil berjabat tangan erat dengan Bi Dam. "ceritanya panjang Yushin dan aku juga senang melihatmu..syukurlah kau bisa sehat kembali setelah apa yang kau alami.." Yushin mengangguk "hmm..baiklah kita akan membahas ini nanti..karena aku harus kembali ke markas sekarang.." Yushin menunduk memberi hormat lalu berjalan keluar. Sekarang hanya tinggal Bi Dam dan Deok Man. Lalu mereka berjalan meninggalkan tempat upacara. Bi Dam berhenti melihat altar pemakamannya "rasanya aneh melihat altarku sendiri dan semua orang berpakaian putih sedangkan pakaianku berwarna hitam dan kau oranye.."
Deok Man juga memandangi altar itu "jika kau tidak kembali kemarin, mungkin sekarang, aku sendiri sudah berpakaian putih dan berdoa di depan altarmu.."katanya Bi Dam menoleh menggenggam erat tangan Deok Man "kau mengiraku sudah meninggal ya?" Deok Man menatap wajah Bi Dam "sampai kemarin pun, aku belum bisa menerima bahwa kau sudah meninggal..bahkan aku sampai lupa mengenakan pakaian kabung..tapi kenyataan bahwa kau jatuh dan hilang di laut itu terus menghantuiku..aku takut suatu saat Yushin atau Godo menemukanmu sudah membujur kaku di lautan sana.." meskipun sudah mencoba untuk menahannya namun air matanya tetap menetes. “ah..kenapa aku jadi gampang menagis seperti ini..” gumam Deok Man sambil berusaha menghapus air matanya. Bi Dam menghapus air mata istrinya itu dan memeluknya erat "maafkan aku..."gumamnya. Deok Man tersenyum mengangguk dalam pelukannya. Setelah Deok Man menghapus air matanya, mereka kembali berjalan. "ada tempat yang aku kunjungi sebentar.."kata Deok Man. "ke mana?"tanya Bi Dam. Namun Deok Man hanya tersenyum dan meminta Bi Dam ikut saja.
Tak lama kemudian, mereka tiba di tempat yang dituju.
"i..ini kan..altar ibuku..maksudku Mi Shil"kata Bi Dam tercengang. "ya..kau tahu..ibumu lah yang memberitahuku bahwa kau masih hidup dan akan pulang.."jawab Deok Man. "memberitahumu?bagaimana bisa?"tanya Bi Dam penasaran. Lalu Deok Man menceritakan tentang mimpinya bertemu Mi Shil. Bi Dam kaget tak percaya mendengarnya "benarkah ibu bilang begitu?di mimpi itu ia menyebutku sebagai anaknya?” Deok Man tersenyum mengiyakan. Mata Bi Dam berkaca-kaca karena bahagia. Perasaan bahagia karena akhirnya dirinya diakui sebagai seorang anak. Deok Man mengangguk "oleh karena itu aku ingin berterima kasih padanya.."
Lalu mereka duduk sebelah menyebelah dan berdoa bersama.
Setelah selesai berdoa, Bi Dam menoleh ke arah Deok Man "sudah selesai?"tanyanya. Deok Man mengangguk. Lalu Bi Dam membantu istrinya untuk berdiri. Bi Dam menatap lukisan wajah ibunya sambil menggenggam erat tangan Deok Man "aku sudah menemukan hal yang lebih berharga dibandingkan nama yang dikenal sepanjang masa.. hal yang paling berharga dalam hidupku..dan sekarang ia berdiri di sampingku.." Deok Man menoleh menatap suaminya "Bi Dam.." Bi Dam menatap Deok Man "apalah artinya nama besar dan kekuasaan jika aku tak bisa bersamamu.." Deok Man tersenyum mengangguk. Dan mereka berjalan meninggalkan kuil Mi Shil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar