Pages

Selasa, 20 Juli 2010

Chapter 38: Heart to Heart

Malam hari.
Di pelataran rumahnya, Bi Dam berdiri dengan tangan bersila di depan dada sambil menyandarkan badannya pada salah satu tiang kayu rumahnya. Menatap kolam koi di halaman rumahnya dengan pandangan hampa.
"sraaat" pintu menuju ruang baca terbuka. Bi Dam menoleh melihatnya. Dari balik pintu, Deok Man berdiri di hadapannya. "ada yang perlu kita bicarakan.." ujar Deok Man yang kemudian berjalan menuju gazebo. Dan Bi Dam pun mengikutinya. Lalu mereka berdua duduk di kursi panjang yang ada di dalam gazebo tersebut. "masalah di istana dan gudang pangan sudah kau selesaikan?" Deok Man memulai pembicaraan tanpa menatap Bi Dam. "sudah..gudang pangan sedang dibangun kembali..paling lambat besok sudah selesai..dan pendistribusian sudah diatur.." jawab Bi Dam. Lalu mereka terdiam kembali "Deok Man..aku.." Bi Dam berusaha memecahkan kebekuan. "aku marah padamu Bi Dam.." ujar Deok Man. "ya..aku sudah menduganya..tapi kau harus mengerti kulakukan itu semua juga demi kebaikanmu..dan tentu aku juga tidak melupakan tanggung jawabku kepada negara.." "itu semua berlebihan Bi Dam..kau tahu aku paling tidak suka kau menjadikanku sebagai alasan..kau harus jujur padaku apa yang kau sembunyikan dariku selama ini.."
Bi Dam tetap menatap ke depan "kau dan anak kita adalah alasanku untuk hidup.. apakah itu juga tidak boleh?" "...tetapi kau menggunakannya untuk berbohong kepadaku..untuk menutupi sesuatu dariku..." "tapi aku melakukannya demi kebaikanmu dan juga anak kita.. aku takut terjadi apa-apa di saat aku tidak ada... mungkin memang aku tak bisa mencegah dan mengetahui kapan penyakit itu akan menyerang..aku hanya bisa mendukungmu dan merawatmu..aku memang tak berguna..akan tetapi ku harap kau mengerti.. bahwa aku bukanlah orang berdarah dingin yang bisa lebih mengutamakan kepentingan negara di saat orang yang kucintai membutuhkanku.." Deok Man sejenak terdiam mendengarnya. " aku memang membutuhkanmu..namun bukan seperti ini yang kuinginkan..saat ini Yang Mulia Raja sedang berusaha melanjutkan penyatuan 3 negara..impianku..impian semua orang...Raja-raja terdahulu mewariskan impian ini kepada kita..ku harap kau tetap fokus Bi Dam..dengan tanggung jawabmu sebagai Perdana Menteri...tak perlu kau mengkhawatirkanku berlebihan seperti ini..aku akan baik-baik saja" ujar Deok Man. Mendengar jawaban itu, Bi Dam beranjak dari duduknya "hari sudah mulai larut..kau perlu beristirahat, Deok Man..meskipun kau belum mengerti..setidaknya kau tahu perasaan dan alasanku yang sebenarnya.." Deok Man tetap duduk dan menatap ke depan "mengenai masalah perasaan.. Bi Dam tahukah kau perasaanku sendiri bagaimana? aku sendiri juga takut.." meskipun suaranya penuh ketegaran namun kedua matanya mulai berkaca-kaca. "takut jika tiba-tiba nanti jantung ini benar-benar berhenti..dan harus meninggalkanmu..aku sedih melihatmu menyalahkan diri sendiri dan yang paling utama dari semuanya..aku juga ingin selalu bersamamu, mendapat dukungan darimu..tahukah kau?" ujar Deok Man. Air mata mengalir membasahi pipinya. Mendengar itu Bi Dam segera memeluk istrinya dari belakang "oleh karena itu aku melakukannya..aku ingin selalu bersamamu dan memberimu dukungan, melakukan apa saja asalkan kau sembuh..meskipun itu semua belum cukup menebus kesalahanku.." Deok Man menarik tangan Bi Dam yang memeluknya, memintanya duduk kembali di sisinya. Bi Dam perlahan menghapus air mata istrinya dengan jemarinya "lagi-lagi aku membuatmu menangis..aku memang suami tak bergu.." "penyakit ini bukan salahmu Bi Dam..aku yang salah..aku yang lupa akan kesehatanku sendiri.."Deok Man menggenggam erat tangan Bi Dam. "dan penyakit itu semakin parah karena ulahku..kau pasti sangat bekerja keras sampai-sampai kau jatuh sakit parah..jika bisa, aku akan meminta Han Hye Jin menukar jantung kita berdua.." "jangan bodoh Bi Dam..itu tak akan mungkin bisa..dan jika seandainya bisa pun aku juga tak akan mau karena nanti kau yang akan sakit..lagipula masih ada harapan untuk sembuh kan?" jawab Deok Man tersenyum optimis. "Deok Man..." gumam Bi Dam. Sekilas dalam pikirannya muncul bayangan ketika Han Hye Jin menyampaikan pada Bi Dam bahwa penyakit Deok Man belum ada obat yang bisa benar-benar menyembuhkannya. "oleh karena itu berjanjilah padaku untuk tidak melakukan hal seperti tadi lagi...aku ingin kau lakukan tanggung jawabmu seperti biasa Bi Dam..sama seperti dulu..berjanjilah.." "tetapi Deok Man.." sergah Bi Dam "dan aku juga akan berjanji padamu bahwa aku akan selalu menjaga kesehatanku dan anak-anak kita.." janji Deok Man sambil meletakkan telapak tangan Bi Dam di atas perutnya. Bi Dam terdiam sejenak mempertimbangkannya "tetapi setidaknya Soo Hye atau pelayan lain harus bersamamu setiap saat aku tidak ada.." katanya Deok Man menganggukan kepalanya "..aku terima permintaanmu..tetapi kau harus fokus penuh pada tanggung jawabmu pada kerajaan?" Bi Dam diam sejenak mempertimbangkan kembali semuanya dalam-dalam lalu menatap Deok Man sambil tersenyum "hmm..baiklah Tuan Putri..saya berjanji.." "aku pegang janjimu..Bi Dam.." jawab Deok Man. "kuharap kau juga tidak melupakan janjimu tadi Deok Man.." Deok Man tersenyum mengangguk "kau bisa pegang janjiku..aku janji.." Lalu Deok Man menyandarkan kepalanya di bahu kiri suaminya. Bi Dam melingkarkan tangan kirinya di pinggang istrinya dan mendekapnya erat. "Bi Dam..aku masih punya 1 permintaan lagi.." gumam Deok Man. "apa itu?" tanya Bi Dam. "kumohon kau jangan menyalahkan dirimu lagi.. penyakit ini bukan salahmu.." jawab Deok Man. Bi Dam hanya terdiam. "anggaplah ini sebagai cobaan yang harus kulewati.." lanjut Deok Man "kita lewati.. tak kan kubiarkan kau menanggung ini sendirian..kita akan melaluinya bersama-sama.." sahut Bi Dam. "ya.. kita bersama-sama.. oleh karena itu kau jangan menyalahkan dirimu lagi Bi Dam..sangat menyakitkan bagiku melihatmu menyalahkan dirimu terus menerus.." kata Deok Man sambil menatap mata suaminya dalam-dalam lalu mengalihkan pandangannya ke bawah. Bi Dam mendekap erat istrinya lalu mengecup keningnya "aku berjanji aku tak melakukan hal yang menyakitimu lagi Deok Man.. atau itu akan menjadi hal yang paling kusesali seumur hidupku.." Deok Man mengangguk tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar