Pages

Jumat, 09 Juli 2010

Chapter 34 part. 01: Good News or.....

Pelataran Istana.
Bi Dam dan Deok Man berjalan berdampingan melewati pelataran Istana. DUG. Deok Man menghentikan langkahnya "Ya Tuhan..kenapa rasa sakit ini kembali lagi.." pikirnya sambil memegang dadanya. Peluhnya bercucuran dari wajahnya. Bi Dam melihatnya segera menghentikan langkahnya dan menatap istrinya "keringatmu bercucuran..kau baik-baik saja Deok Man?apa kau kelelahan?aku akan mengantarmu pulang.." tanyanya khawatir sambil berusaha memapahnya. Deok Man menggelengkan kepala menolaknya "aku baik-baik saja..mungkin karena pengaruh panasnya cuaca.." Setelah meyakinkan suaminya bahwa ia baik-baik saja, Deok Man meminta Bi Dam untuk berjalan kembali. Baru berjalan beberapa langkah, Ia merasakan napasnya semakin sesak. Langkahnya terhenti lalu memegang dadanya sebelah kiri. Napasnya tersenggal-senggal menahan sakit yang tiba-tiba menyerang dadanya itu.
"Deok Man? wajahmu pucat sekali..kali ini aku akan benar-benar mengantarmu pulang dan memanggil tabib.."ujar Bi Dam menatap wajah Deok Man khawatir. Sangat khawatir. Deok Man menggelengkan kepalanya tersenyum lemah "ya mungkin aku agak sedikit kelelahan..tapi aku baik-ba.." "DEOKMAN" seru Bi Dam sambil menahan tubuh istrinya yang tiba-tiba jatuh pingsan kemudian menggendongnya.
siang hari.Istana. Kamar Putri Deok Man
Bi Dam duduk di sisi tempat tidur, memandangi wajah Deok Man yang masih belum sadar sambil menggenggam tangan istrinya itu kemudian menyalahkan dirinya karena tidak menyadari kondisi istrinya. "sraak" terdengar suara pintu digeser. Bi Dam menoleh. Tabib Han Hye Jin berjalan cepat-cepat memasuki kamar Deok Man. Ia terkejut melihat Bi Dam menatap ke arahnya. "aku bukan hantu, Tabib Han Hye Jin..aku masih hidup"ujar Bi Dam. "maafkan saya Tuan Perdana Menteri.."Han Hye Jin menunduk memberi hormat dan kembali fokus pada pasiennya. "apa yang terjadi Tuan Perdana Menteri?" kemudian ia segera memeriksa Deok Man. "tadi kami sedang berjalan..tiba-tiba ia memegang dadanya..wajahnya menjadi pucat..lalu pingsan..apakah ia dan bayi kami baik-baik saja?"jawab Bi Dam. "memegang dadanya?maaf tapi dada yang sebelah mana?" tanya Han Hye Jin sambil memeriksa denyut nadinya "denyutnya lemah sekali.." "kiri..apakah ia sakit?ini semua salahku..harusnya aku segera mengantarnya pulang beristirahat tadi.." Bi Dam menyalahkan dirinya. "kiri?" Kemudian ia segera mengeluarkan peralatan akupunturnya dan memasang jarum-jarum akupuntur di telapak kaki kiri Deok Man. Perlahan mata Deok Man mulai membuka "Bi Dam?" panggilnya lemah. Bi Dam segera menggenggam tangan Deok Man erat-erat "ya..aku di sini Deok Man..tabib Han Hye Jin sedang memeriksamu" "maaf Tuan Putri, apakah dada kiri anda tadi merasa sesak atau terhimpit?" Deok Man mengangguk lemah "apakah bayiku baik-baik saja?tolong periksa dia dulu.." Han Hye Jin segera memeriksa perut Deok Man dengan kedua tangannya. Tiba-tiba matanya terbelalak. "kau juga merasakannya?" tanya Deok Man. Han Hye Jin mengangguk. Ia masih kaget dengan apa yang dirasakan kedua telapak tangannya tadi "astaga jangan-jangan bayinya..." gumamnya "ada apa dengan bayinya?ia baik-baik saja bukan?"sergah Bi Dam. "kembar?.."tanya Deok Man. Han Hye Jin mengangguk. Air mata mengalir membasahi pipi Deok Man. Ia mengusap perutnya lalu menatap Bi Dam yang masih kebingungan "sudah kuduga..anak kita kembar Bi Dam.." "kembar?maksudmu kita akan memiliki 2 bayi?"
Deok Man tersenyum mengangguk "belum lama ini aku merasakan 2 tendangan bersamaan di tempat yang berbeda ..ku kira itu hanya perasaanku saja karena setelahnya aku tidak merasakannya lagi..tapi ternyata tadi bukan hanya aku yang merasakan hal itu.." Deok Man menarik tangan Bi Dam dan meletakkannya di atas perutnya "anak kita kembar.."gumam Bi Dam sambil mengusap perut istrinya. Tatapan matanya penuh dengan kebahagiaan yang membuncah. Deok Man tersenyum mengangguk.Deok Man menatap Han Hye Jin yang berdiri di hadapannya. Tampak kekhawatiran di wajah tabibnya itu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar